CINTAMU MEMBAWAKU PULANG

CINTAMU MEMBAWAKU PULANG
Eps.63


__ADS_3

Pertemuan dicafe tersebut antara kami bertiga berakhir ketika siang telah menjelang malam,aku segera pulang kerumah ternyata dengan keluar rumah dan bertemu teman - teman bisa membuatku Happy.


Setibanya aku dihalaman rumah aku sudah melihat mobil Reza yang terparkir dihalaman rumah.


"Mengapa dia harus kembali" ujarku dalam hati.


Entah mengapa kehadiran Reza kembali dirumah membuat suasana hatiku tidak nyaman,aku telah memaafkan semua perlakuannya selama ini namun untuk kembali mencintainya begitu sulit buatku,telah berulang kali aku mencobanya namun aku selalu gagal.


"Dari mana aja kamu baru pulang"


"Ada urusan pekerjaan"


"Jadi selama aku tidak berada dirumah kamu sering keluyuran diluar rumah Ja****!"


"Re tolong jangan membentakku dan tolong jangan sebut aku dengan panggilan tersebut, ini baru pukul 7 malam,aku sedang tidak ingin berdebat denganmu Re aku tak pernah melarang dan ingin tau masalah pribadimu jadi kamu tak perlu mengurusi kehidupanku"


"Tapi kamu masih istriku!"


Aku tidak menanggapi ucapan Reza dan segera masuk kedalam kamar mandi,percuma saja jika aku menanggapi kata - kata Reza, aku hanya sebagai istrinya diatas sebuah kertas selama ini Reza tak pernah memberi hak terhadapku sebagai seorang istri.


Rasa sakit yang begitu dalam tak bisa kutahan hingga akhirnya aku menangis menumpahkan semua kekesalanku.


Setelah menyelesaikan ritual mandi dan mengganti pakaianku aku segera menuju kekamar tidur kedua putriku.


"Bunda sudah selesai mandinya?" ucap Rara putri keduaku


"Ayuk kalau gitu kita makan malam bareng bunda"


"Bunda tidak lapar sayang,kalian aja ya makan Bunda mau langsung istirahat,gapapa kan sayang?"

__ADS_1


"Gapapa kok bunda" ujar sisulung, akupun berlalu masuk kedalam kamar sedangkan Reza menatapku dengan raut wajah marah.


"Lin aku mau bicara" ujar Reza saat anak - anak telah meninggalkan kami berdua diruang tengah.


"Malam ini aku benar - benar lelah Re,jadi besok saja kita bicaranya "


Aku membaringkan tubuhku diatas ranjang dan aku tidak ingin berlama - lama berhadapan dengan Reza karena pastinya cuma akan menjadi pertengkaran untuk itu aku memilih memejamkan mata dan segera tidur.


Aku terbangun langit tertutup awan kelabu,kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, Reza masih terlelap tidur aku merasa bersyukur dengan begitu setidaknya pagi ini tidak ada pertengkaran karena beberapa hari ini ku lalui dengan perasaan hati gundah.


Menjelang pukul 6 pagi aku mengantar anak - anak kesekolah aku memacu laju motorku karena takut sebentar lagi bakal turun hujan dan benar saja hujan di pagi ini turun begitu deras untung saja anak - anak telah sampai disekolah mereka,aku terpaksa berteduh disebuah halte.


Riuh air hujan yang menghempas jalanan ber aspal terdengar rapat,aku tidak menyukai hujan namun untuk kali ini aku sangat senang dengan turunnya hujan di pagi ini,aku tersenyum pada setiap tetes air hujan aku ingin mengucapkan terimakasih pada hujan karena hujan pagi ini telah menyelamatkanku dari Reza yang pastinya telah menunggu dirumah lengkap dengan sejuta kata yang akan membuat aku menjadi orang yang paling bersalah dimuka bumi ini.


Aku benar - benar menikmati hujan hingga aku tak menyadari seseorang pemuda turun dari sepeda motor besarnya duduk disampingku dan menyapa.


"Iya saya lagi bertanya pada Mbak" mbak tampak tersenyum sendiri,apakah mbak menyukai hujan? ujar pemuda tadi masih berteriak.


"Saya menyukai hujan untuk hari ini saja" jawab ku juga berteriak,pemuda tersebut mengernyitkan dahi aku tahu pemuda tersebut tidak tahu maksud dari ucapanku aku hanya tersenyum menanggapi rasa heran pemuda itu sesaat lalu aku kembali menatap pada hujan yang turun semangkin deras,sesaat tiada percakapan yang terjadi aku semangkin asik dengan pikiranku sendiri sambil menatap kendaraan yang terkesan terburu - buru lalu lalang didepanku, mereka sepertinya tidak menyukai hujan.


"Mbak Lina mengapa sih suka dengan hujan?"


Kini giliran aku mengernyitkan kening aku merasa heran pada pemuda tersebut mengapa dia bisa tahu namaku.


"Yealah biasa aja mbak,apa mbak sudah tidak mengenaliku?"


Aku hanya diam karena aku lebih tertarik mendengarkan suara hujan ketimbang suara pemuda yang duduk disampingku saat ini dan entah mengapa ia bisa tahu namaku,tapi lagi -.lagi pemuda tersebut kembali berteriak kali ini dengan suara yang lebih keras semangkin dekat di gendang telingaku.


"Baru saja semalam kita berkenalan dicafe,mbak sudah lupa padaku,aku Fahri mbak"

__ADS_1


"Owh maklum faktor u,jadi wajar jika mbak lupa" ucapku santai


"Tapi mbak masih terlihat sangat cantik"


"Benar kalau dilihat dari sedotan"


"Aku serius mbak,mbak masih sangat begitu cantik"


"Maaf dek mbak lagi tidak punya uang kecil.


"Kalau begitu uang besar saja mbak nanti ditukar ditoko itu" ujar Fahri sambil menunjuk toko yang tepat berada seberang jalan.


"Kamu gimana sih uang kecil aja mbak nggak punya apalagi uang besar logika aja dek"


Aku dan Fahri secara bersamaan tertawa lepas.


Hujan yang bertahan cukup lama akhirnya membuat aku dan Fahri terlibat suatu obrolan tentang hujan.


Fahri menceritakan tentang pengalaman hidup yang membuat ia sangat membenci turunnya hujan karena hujan lah yang membuat Fahri harus kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya,hujan telah merampas ibu kandungnya semasa Fahri masih kanak - kanak,ketika itu Fahri masih berusia 9 tahun ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat sebuah mobil menabrak tubuh ibunya,saat itu ibu Fahri hendak menjemput Fahri dari sekolah, karena saat itu hujan turun sangat lebat sehingga ibu Fahri tidak melihat sebuah mobil yang tengah melintas dengan kecepatan tinggi dan akhirnya ibu Fahri harus kehilangan nyawanya dengan cara tragis.


Fahri sangat bersedih kala itu diusia kanak - kanak ia harus kehilangan ibunda tercinta,Fahri sempat depresi berat karena sang ayah juga malah menuduh penyebab semua musibah itu adalah karena Fahri.


Sejak kepergian ibundanya merupakan awal sebuah penderitaan yang berkepanjangan bagi Fahri belum genap setahun ayah kandung Fahri memutuskan untuk menikah kembali,saat itu Fahri berharap dengan hadirnya seorang ibu sambung bagi Fahri bisa membawa kebahagiaan yang hilang,namun ternyata harapan Fahri tak seindah yang ia bayangkan,ibu tiri Fahri memperlakukan Fahri begitu kejam tidak hanya ibu tirinya Ayah Fahri bahkan semangkin berubah kepada Fahri,tak jarang Fahri sering mendapatkan cacian,hinaan bahkan sekaligus pukulan.


Karena tidak sanggup mendapat perlakuan buruk dari ayah kandung dan ibu tirinya itu,Fahri memutuskan untuk pergi dari rumah,Fahri akhirnya tinggal bersama kakek dan neneknya.


Sejak saat itulah Fahri sangat membenci hujan karena hujan telah mengubah kehidupannya yang dulunya sangat bahagia namun berubah menjadi kesedihan yang hingga kini masih membekas rapi di ingatannya..


Cerita sedih Fahri berakhir saat hujan mulai reda aku begitu larut dalam kisah Fahri yang sangat menyedihkan itu hingga tampa kusadari hujan pagi ini berlangsung cukup lama kurang lebih hampir 4 jam.

__ADS_1


__ADS_2