
Sikap ibu mertuaku membuat aku menjauhinya, aku ingin segera pindah ke kontrakan.
Sore ini aku tak sabar menunggu Reza pulang kerja aku ingin tau apakah Reza sudah berbicara pada mamanya tentang niat kami yang ingin segera pindah,jam terasa berputar begitu lambat hari ini,aku bosan dengan rutinitas sehari - hari ku yang hanya berdiam diri dirumah dan mendengar ibu mertuaku bercerita tentang mantan - mantan Reza.
Mungkinkah ibu mertuaku kecewa karena Reza lebih memilih menikahi ku ketimbang mantannya,sementara ibu mertuaku terobsesi mendapat menantu yang kaya yang lebih segalanya dari diriku sehingga sengaja membuatku sakit hati.
Aku memikirkan tentang sikap ibu mertuaku terhadapku hingga aku tak menyadari kehadiran Reza.
Aku terkejut mendengar Reza memanggilku dengan sedikit keras.
"Sayang kamu melamun, tolong siapkan beberapa pakaianku" ujar Reza yang langsung segera masuk kedalam kamar mandi.
Aku yang tak sempat menjawab pertanyaan Reza memilih menyiapkan beberapa baju buat Reza.
"Kamu mau kemana Re?" tanyaku melihat Reza yang baru keluar dari kamar mandi.
"Aku ada pekerjaan mendadak sayang,aku akan pergi keluar kota selama tiga hari,kamu baik - baik ya dirumah" ujar Reza
"Re" antar kan aku kerumah ibu aku ingin menginap disana"
"Aku buru - buru sayang nggak bisa" jawab Reza mengecup keningku dan segera pergi.
Pekerjaan Reza diluar kota menunda rencana ku untuk segera pindah dari rumah mertuaku,lagi - lagi aku harus berhadapan dengan ibu mertuaku yang menyebalkan,aku sedikit beruntung karna sikap baik dari ayah mertua padaku,sikapnya berbanding terbalik dengan ibu mertuaku,ayah mertuaku itu sangat sayang denganku.
Ayah mertuaku menghampiriku dengan kursi rodanya saat aku sedang sibuk merawat bunga dihalaman rumah,ibu mertuaku sedang tidak berada dirumah saat itu.
(Ayah mertuaku mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu yang mengakibatkan kelumpuhan jauh sebelum Aku menikah dengan Reza ) next.........
"Lin bisa papa bicara nak?" tanya ayah mertuaku aku segera mendekati ayah mertuaku itu
"Papa mau bicara apa pa"
__ADS_1
"Maafkan papa nak karena keadaan papa membuat Reza harus menanggung semuanya" ujar ayah itu aku tampak mata ayah mertuaku berkaca - kaca.
"Papa ngomong apa sih pa" ucapku sambil mengusap punggung telapak tangannya.
Mendengar semua kata - kata yang terucap dari ayah mertuaku membuatku sadar bahwa aku terlalu ego. karena aku mementingkan diriku sendiri.
Untuk masalah adik ipar ku yang menjadi tanggungan suamiku memang harus diselesaikan dengan bijaksana bukan aku yang harus melakukannya tapi suamiku.
Malam belum terlalu larut dari dalam kamar aku mendengar suara keributan aku melangkah keluar kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Diruang makan aku melihat Farhan sedang membentak - bentak ibu mertuaku sesaat kemudian Farhan meninggalkan ibu mertuaku yang sedang menangis aku mencoba mendekat namun aku mengurungkan niat ku ketika melihat ibu mertuaku sedang menelepon seseorang,aku jadi penasaran apa yang terjadi dengan Farhan dan siapa yang sedang ditelpon ibu mertuaku itu,dengan rasa penasaran akhirnya akupun berniat untuk menguping pembicaraan ibu mertuaku.
Dan ternyata Ibu mertuaku sedang menelepon Reza,Farhan membutuhkan uang ibu meminta agar Reza membantu adiknya dan Rezapun menyanggupi akan memberikan uang pada Farhan,setelah mendengar semua pembicaraan ibu mertuaku dan Reza aku kembali kedalam kamar.
Pagi ini aku sedang ingin sarapan nasi uduk setelah mandi aku berjalan ke warung nasi uduk yang berada diujung gang,aku memesan tiga bungkus nasi uduk dan segera pulang,setelah menghidangkan nasi uduk dimeja aku memanggil ayah mertuaku yang sedang berjemur dihalaman belakang rumah bersama ibu mertuaku untuk sarapan pagi,lagi - lagi ibu mertuaku mulai mengkritik.
"Kamu kok beli sarapan sih Lin"
"Seharusnya kamu ngomong sama mama,mama bisa buatin kalau kamu malas"
"Sudahlah ma dimakan aja" timpal ayah mertuaku.
"Iya pa mama cuma mau kasih tau Lina,selain boros makanan diluar sana belum tentu bersih,apa lagi Lina sedang hamil kalau ada apa - apa bagaimana,jadi repot kan kasihan Reza"
"Sudah - sudah ma kok malah merambat kemana - mana" ujar ayah mertuaku.
Aku langsung meninggalkan meja makan dan masuk kedalam kamar,kuhempaskan tubuhku keatas ranjang ku tumpahkan semua kekesalanku dengan menangis aku sudah tidak tahan dengan sikap ibu mertuaku.
Mataku tertuju pada sebuah koper akupun mengambilnya aku membereskan pakaianku dan kumasukkan kedalam koper.
Aku berniat pulang ke kontrakan,aku sudah tak memikirkan jika Reza bakal marah padaku nantinya,aku kembali menangis mengingat kejadian tadi malam.
__ADS_1
Setelah puas menangis aku keluar kamar,aku tak melihat ibu mertuaku berada dirumah "syukurlah" bathinku dan segera kembali kekamar untuk mengambil koper lalu ku hampiri ayah mertuaku dan akupun berpamitan padanya.
Tak butuh waktu lama aku telah sampai di kontrakan kerebahkan tubuhku diatas ranjang aku merenungi nasibku,aku berpikir setelah menikah semua permasalahan selesai tapi ternyata kenyataannya tak seperti yang aku pikirkan,sungguh benar - benar melelahkan hingga tak sadar akupun tertidur.
Hari sudah siang saat aku terbangun,perutku terasa perih tak mau menahan lapar aku membeli mie instan di warung depan dan menyiapkan makan siang saat sedang makan siang Reza meneleponku awalnya aku takut untuk mengangkat aku berpikir pasti ibu mertuaku telah memberi tau Reza kalau aku kabur dari rumah mertuaku.
Reza kembali meneleponku,dengan sedikit keberanian akhirnya aku mengangkat telepon dari Reza.
"Hallo Sayang, kamu lagi ngapain sih kok lama angkatnya" ujar Reza bertanya padaku
"A....aku ti.....tidur tadi dan terbangun saat mendengar suara telepon" jawabku sedikit gugup.
Dari pertanyaan reza aku menyimpulkan bahwa Reza tidak mengetahui kalau saat ini aku sudah berada dikontrakkan,aku bersyukur dalam hati ibu mertuaku tidak memberi tahu Reza setidaknya tidak mengganggu konsentrasi Reza, Reza mengatakan bahwa hari ini Reza akan pulang.
Setelah makan siang aku mulai beres - beres membersihkan rumah.
Badanku terasa begitu lelah, selesai membersihkan rumah aku segera mandi dan beristirahat.
Ponselku berdering aku mengira pasti Reza yang telepon akupun meraih ponselku ternyata bukan Reza tetapi Murni yang menelepon,aku tersenyum Murni benar - benar sahabatku yang paling dekat denganku saat aku sedang bermasalah dia akan ada untukku.
Akupun mengangkat telepon dari Murni aku ingin menceritakan kesedihanku padanya namun sebelum aku sempat menceritakannya aku mendengar suara murni yang tidak seperti biasanya.
Murni mengatakan bahwa dirinya akan pindah kekota lain untuk membuka cabang usaha kulinernya diapun berpesan padaku agar selalu menjaga kesehatan,tak berapa lama setelah berpamitan denganku Murni pun menutup teleponnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 wib
aku masih bersedih mengingat Murni yang akan pindah.
Ponsel ku kembali berdering Reza meneleponku Reza menanyakan keberadaan ku saat ini dengan nada tinggi,akupun memberitahu pada Reza bahwa aku berada d ikontrakan tak berapa lama Reza telah sampai didepan rumah kami.
Kubuka pintu rumah Reza segera masuk dan memelukku sikapnya Reza sangat berbeda ketika ditelepon,ada perasaan lain di hatiku saat Reza memelukku bukan kesal seperti sebelum - sebelumnya,aku merasa nyaman saat ini berada dalam pelukan Reza,apakah aku sudah jatuh cinta pada Reza? entahlah.......dan saat Reza mulai mencium ku aku membalasnya dengan mesra dan berlanjut didalam kamar kami saling melepas kangen seolah - olah sudah lama tak bertemu.
__ADS_1