
Dimata orang lain mungkin aku bersalah karena telah membiarkan Bagas masuk kedalam pernikahanku dengan Reza.
Tapi sudah 15 tahun aku memberi kesempatan pada Reza dengan berusaha membuka hatiku untuknya,belasan tahun juga Reza tidak pernah benar - benar mencintaiku Reza tidak pernah merencanakan masa depan denganku seperti pada umumnya rumah tangga lain,Reza lebih sibuk dengan urusan diluar dan lebih mementingkan mama dan adik nya.
Aku hanya di perlukan saat dia butuh untuk pelampiasan nafsunya sikap Reza sesaat bisa berubah - ubah, mengingat semua itu sungguh menyakitkan bagiku aku benar - benar telah lelah.
Aku kembali berjalan menyusuri tepian pantai dari kejauhan tampak anak - anakku sedang menikmati senja hari di tepian pantai sambil Bermain membuat istana pasir di tepian pantai,gelak tawa dan canda acap kali terdengar sampai ketelingaku.
Aku menghentikan langkahku, disalah satu bangku dan memandangi anak - anak ku dari tempat dudukku, sesekali tersenyum saat mereka melambaikan tangan kearahku,hatiku sendiri diterpa kebimbangan kehadiran Bagas pada waktu yang tidak tepat membuatku menjadi serba salah karena pada saat ini aku sudah menjadi seorang ibu dan istri orang sedangkan disisi lain aku tidak mampu menghindari pesona seorang Bagas,harus kah aku menikmati pertemuan ku dengan Bagas ataukah aku harus menghindarinya apakah aku mampu untuk menghindarinya,oh tuhan mengapa pertemuan ini baru terjadi sekarang setelah belasan tahun aku mengharap kan Bagas dan saat aku sudah ber status istri orang hatiku semangkin berkecamuk.
Apakah Bagas juga mempunyai perasaan yang sama seperti ku tuhan ampuni lah aku,tampa ku sadari butiran bening jatuh membasahi pipi.
Bunyi dering ponselku membuyarkan lamunan ku,ku usap butiran air mata yang sempat tumpah di pipiku "Bagas" ucapku lirih baru saja aku memikirkan dirinya,kini Bagas sudah meneleponku akupun segera menerima panggilan telepon Bagas.
"Yankkamu lagi dimana ni?" tanya Bagas
"Lagi di pantai emang kenapa yank"
"Hmmm dengan ayah anak - anak kah?" baiklah maaf menganggu."
"Nggak kok, cuma sama anak - anak" jawabku
"Owh kirain lagi bermesraan dengan ayahnya anak - anak, jadi lupa denganku"
"kok gitu sih kata - katamu yank"
"karena dari tadi whatsapp mu tidak aktif yank jadi aku mengira begitu dan emang iyakan kalau aku nggak mungkin kamu rindukan" ucap Bagas dengan nada kesal
"kalau bicara jangan suka ngasal donk"
"Aku nggak ngasal ya, kalau dibandingkan dengan suamimu jelas aku tidak sebanding"
"Kok bicaramu ngelantur kemana - mana sih" jawabku kesal.
__ADS_1
"Bukti nya kamu lebih memilih keluar bersama nya dan membatalkan janji ketemuan denganku kemarin"
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Kok kamu marah yank, kamu sendiri marah saat aku sedang bersama istri ku"
"Please jangan bahas itu lain kali kita atur waktu untuk ketemuan yank"
"Emang kamu masih berharap kita bisa ketemuan" jawab Bagas
Dari kejauhan tampak anak - anakku sedang berjalan menuju kearahku.
"Yank udah dulu ya ada anak - anakku"
"Ok deh sampai nanti yank" ucap Bagas mengakhiri pembicaraan.
Beberapa orang tampak mulai meninggalkan suasana pantai senja tampak menghilang tergantikan oleh gelapnya malam,lampu - lampu jalan mulai menerangi menghiasi kota,aku bersama kedua buah hatiku beranjak pergi meninggalkan tepian pantai
Namun kami tidak segera langsung pulang kerumah,terlebih dulu kami singgah di warung bakso tempat langganan keluargaku.
Reza menelepon saat kami tengah menikmati bakso favorit kedua buah hatiku.
"Halo assalamualaikum"
"waalaikumsalam" jawabku
"Bagaimana dengan keadaan Rumah dan anak - anak.
"Baik - baik saja"
"Syukurlah" jawab Reza singkat
"Bun mau bicara sama ayah" timpal putriku
__ADS_1
Aku memberi ponselku pada anakku,kedua buah hatiku saling berebut ponsel mereka sama - sama menginginkan bisa ngobrol dengan ayah mereka dan akhirnya sikakak mengalah.
"Ayah kapan pulang?
"Nanti ayah pulang jika tak sibuk"
"Yah kapan - kapan kalau ayah ada waktu kita jalan - jalan ya sama Bunda juga Kakak yah"
"Lain kali ayah coba usahakan,belajar yang rajin dan bantu Bunda Kakak juga"
"Oke deh yah assamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Reza singkat mengakhiri pembicaraan
Begitulah Reza setiap kali menelepon hanya sekedar menanyakan kabarku dengan kedua anak kami, Reza selalu mempunyai kesibukan yang begitu padat namun aku tidak pernah tau berapa penghasilan yang ia dapatkan dan Reza tidak pernah memberitahuku Reza tidak pernah berubah tetap seperti dulu tidak pernah memberikan uang bulanan padaku.
Suasana malam belum begitu sepi,hiruk - pikuk suara mesin - mesin kendaraan yang melintas dijalanan masih terdengar memecah kesunyian malam seolah tak pernah berhenti.
Pukul 10 malam aku bersama anak - anakku baru pulang kerumah karena aku harus mampir terlebih dahulu kesupermarket untuk berbelanja, hari ini sengaja aku meluangkan waktu untuk membawa kedua buah hatiku itu untuk berjalan - jalan menikmati hari libur mereka,agar tidak merasa bosan berdiam diri dirumah.
Karena kesibukanku selain mengurus urusan rumah tangga aku harus bekerja hal itu yang kadang menjadikan aku tidak punya waktu cukup buat anak - anakku,mereka jarang sekali merasakan liburan seperti anak - anak lain yang sering menikmati hari libur mereka dengan menghabiskan waktu diluar bersama kedua orang tua mereka.
Pernah suatu hari anakku mengalami kejadian yang tidak menguntungkan,waktu itu putriku si adik mewakili sekolahnya untuk mengikuti perlombaan mengarang antar sekolah tentang pengalaman mereka saat liburan,sebagai juara kelas putriku memang sering kali terpilih mewakili sekolahnya saat - saat ada perlombaan antar sekolah.
Namun saat itu kegiatan tersebut tidak menguntungkan buat anakku bagaimana ia bisa menulis membuat suatu cerita yang menarik akhirnya putriku tidak berhasil menjadi pemenang dalam perlombaan tersebut.
Akan tetapi aku merasa bangga terhadap putriku iya saat itu tidak kecewa sama sekali atau bersedih mengingat dirinya tidak mempunyai banyak cerita tentang pengalaman saat berlibur sekolah bersama kedua orangnya.
Seolah ia benar - benar memahami mengapa kami sebagai orang tua tidak pernah ada waktu untuknya menikmati liburan secara bersama - sama.
Kejujuran sifat putriku pula membuatku semangkin terharu saat perlombaan berlangsung putriku tidak melakukan kecurangan sedikitpun dengan mengarang cerita yang sama sekali tidak pernah terjadi dalam hidupnya untuk menghasilkan suatu karangan yang menarik meski aku yakin putriku pasti mampu melakukannya.
Aku benar - benar sangat bersyukur atas sifat dan sikap kedua buah hatiku itu,bahkan mereka selalu membantuku mengurus pekerjaan rumah tangga,sikap mandiri kedua putriku sudah terlihat sejak usia dini, banyak hal yang sering mereka lakukan dengan sendiri dari mulai hal - hal kecil.kini sesudah beranjak dewasa akhirnya membuat mereka menjadi terbiasa......sama seperti ibuku dulu aku juga tidak pernah memaksa anak - anakku untuk menjadi apa kuinginkan.
__ADS_1
aku merasa sangat beruntung dengan aku yang sering sekali tidak mempunyai waktu lebih dalam mendidik buah hatiku namun tidak menjadikan anak - anak menjadi anak broken home hingga bergaul bebas sementara aku jarang dirumah.
Anak - anakku selalu menghabiskan waktu dirumah belajar dan menyelesaikan pekerjaanku dirumah setelah menjalani aktivitasnya disekolah.