
Usai makan malam kami segera menuju ke mobil untuk sesaat kami menikmati suasana malam setelah habis hujan,kami menyempatkan untuk mengobrol malam ini.
Kupandangi wajah Bagas,senyumannya masih seperti dulu saat pertama awal aku mengenalnya,Bagas mengambil dan meremas jemari tanganku dengan lembut.
"Oiya yank gimana keadaan ibu"
"Alhamdulilah sudah mulai membaik"
"Syukurlah aku ikut senang mendengarnya"
"Kamu berapa hari disini?"
"Besok aku harus pulang,karena lusanya aku harus berangkat"
Aku mendadak merasa sedih begitu singkat waktuku bersama Bagas,ini memang bukan kali pertama aku dan Bagas menjalani LDR namun untuk kali ini aku terasa tak sanggup bila lama harus berpisah dengan Bagas sentuhan tangan Bagas membelai rambutku membuyarkan lamunanku,Bagas menyadari akan perasaanku saat ini Bagas merengkuhku dan membawaku dalam peluknya.
"Haruskah dirimu pulang besok?" tanyaku pada Bagas lirih hampir tak terdengar air mataku sudah tak terbendung bahkan aku telah menguatkan diri untuk tidak menangis tapi aku tetap gagal,aku bakal kembali melewati hari - hari dengan sebuah rasa yang disebut sepi dan hati yang rapuh, Bagas mengusap air mataku.
"Hey jangan menangis sayang kita masih bisa telepon - telepon seperti biasanya.
Hatiku semangkin pilu aku sungguh tak mengerti sejuta pertanyaan muncul dibenak ku......mengapa harus kepadanya ku jatuh cinta,mengapa semua yang ada hanya tentangnya ,bukan waktu singkat aku mengenalnya namun rasa cinta yang ku punya untuknya bagai awal pertama aku mengenalnya.
Aku merasa kesal aku kalah oleh waktu,sungguh aku tak bisa melewatinya melewati rasa rindu di hati yang selalu muncul dan siap mencabik - cabikku dengan beringas tak pernah memberiku kesempatan untuk bernafas.
__ADS_1
Air mataku menetes Bagas memberikan pundaknya untuk ku bersandar lalu ia mengenggam erat jemariku seolah memberikan kekuatan padaku,tidak ada lagi percakapan yang keluar dari masing - masing kami.
Cinta ini terlalu syahdu hingga sangat berat menerima kenyataan ini.namun aku tidak bisa berbuat apa - apa.
Sementara malam semangkin larut kami harus berpisah,Bagas kembali mencium ku, aku membiarkan beberapa saat,mungkin saja ini ciuman terakhir darinya lalu aku segera turun dari mobil Bagas melangkah gontai menuju rumahku aku enggan untuk berbalik karena akan membuatku semangkin berat untuk berpisah,pikiranku terasa kosong aku tak tahu akan berbuat apa yang kuinginkan malam ini hanyalah segera tidur kemudian keesokan harinya terbangun berharap semuanya hanya mimpi.
Perasaan bukanlah sebuah mainan lalu bisa untuk kita lupakan begitu saja,ia akan tetap abadi untuk selamanya dan bersemi didalam diri,Bagas sudah menjadi candu bagiku aku sepertinya sudah terikat pada hubungan satu arah hingga tak bercelah.
Sudah seminggu kami tak saling kontak apa memang karna kesibukannya disana atau memang rasa itu sebenarnya hanya sesaat baginya,aku menarik nafas panjang aku telah kehilangan hari - hari ceriaku aku tak mampu untuk menciptakan bahagiaku sendiri.
Aku kini ditemani semilir angin malam dan rintik hujan yang kembali membasahi bumi dingin malam ini seakan meremukkan tulang - tulang ku,pesan yang kukirim tak satupun Ia balas kembali teringat kenangan seminggu yang lalu bersamanya aku lewati malam yang berteman angin dan hujan hatiku semangkin meronta rindu semangkin menyesak didada.
"Mbak......mbak!"
"Habis belanja ya mbak" tanya Fahri kepadaku aku mengangguk padanya.
"Kenapa sih mbak nggak mau lagi angkat teleponku dan tak pernah membalas chat ku mbak,aku ada salah ya mbak"
"Akhir - akhir ini mbak kurang enak badan Fahri,maaf ya"
"Hmmm ya gapapa mbak seharusnya aku yang meminta maaf pada mbak udah ganggu mbak"
"Oke Fahri mbak duluan ya"
__ADS_1
"Mbak kita baru aja ketemu mbak udah mau pergi aja,apakah kita udah tidak bisa berteman lagi?"
Aku merasa bersalah melihat wajah memelas Fahri tapi mau bagaimana lagi,aku untuk saat ini memang ingin sendiri.
"Maaf Fahri mbak buru - buru mau jemput anak - anak"
"Ok lah mbak tapi lain kali kita bisa kan kayak dulu ngobrol"
Aku tak memberikan jawaban apapun karena aku sendiri tidak yakin dan sengaja aku tak ingin untuk berjanji.
Aku kembali menyalakan motorku dan beranjak pergi dari areal parkiran untuk menjemput kedua putriku akupun mempercepat laju motorku tiba - tiba muncul perasaan cemas bercampur takut dan khawatir"ada apa denganku"bathinku.
Sesampainya disekolah putriku perasaanku semangkin memuncak tak karuan sementara kedua putriku baik - baik saja,setelah itu aku segera pulang kerumah,namun perasaan cemas tak kunjung hilang aku melangkah menuju kamarku untuk beristirahat,mungkin saja akhir - akhir ini aku kurang istirahat kurebahkan tubuh keatas ranjang saat mataku hampir terlelap tiba - tiba dering suara ponselku berbunyi dengan malas kuraih ponselku jantungku mendadak berdebar lebih cepat tampa berpikir lagi segera kuangkat telepon dari mbak Eva dan tubuhnya menjadi lemas badanku tak bertenaga aku gemetaran mbak Eva memberi kabar bahwa kondisi ibu secara tiba - tiba memburuk ibu terkena serangan stroke secara mendadak.
Sungguh sama sekali aku tak menyangka kerena sebelumnya ibu tampak membaik.
Sedih,nyesek sakit semua campur jadi satu,singkat cerita ibu dilarikan ke IGD rumah sakit terdekat,berdasarkan keterangan dokter ternyata ada pembuluh darah diotak ibu yang pecah dokter menyarankan untuk segera dilakukan operasi,hatiku sangat hancur hari ini adalah hari terberat buat kami.
Tepat Pukul 8 malam ibu memasuki ruang operasi kami begitu cemas saat ini kami hanya bisa berdoa dan Alhamdulillah operasi berjalan lancar setelah operasi ibu harus dirawat diruang ICU tidak ada yang diperbolehkan mengunjungi ibu,termasuk kami anak - anaknya saat jam besuk kami hanya bisa melihat ibu dari jendela.
Aku benar - benar terpuruk,air mataku berlinang saat melihat ibu dari jendela begitu juga dengan kakak dan abangku,kami pagi dan malam secara bergantian mendampingi ibu secara bergantian hampir seminggu ibu mengalami koma,kondisi ibu semangkin memburuk karena komplikasi penyakit yang dialaminya kondisi ibu.
Ternyata takdir berkata lain derai tangis kami pecah memenuhi ruangan rumah sakit sekitar pukul 7 pagi dengan tiga kali hentakan napas ibuku tercinta telah menghadap pada sang pencipta,aku tak akan lagi merasakan usapan tangan yang penuh kasih sayang mengenangnya hatiku begitu remuk aku belum bisa membahagiakan ibu sepenuhnya banyak yang belum sempat aku lakukan buat ibu, kini ibu telah tiada.saat itu tiba - tiba napas ku ikut berhenti mataku berkunang - kunang seluruh ruangan berputar tubuhku terasa bagai tak berpijak dan setelah itu aku sama sekali tak mengingat apapun.
__ADS_1