
"Yank masih marah?"
"Hmmm"
"Udah dong marahnya"
"Siapa yang marah?"
Bagas lalu menghubungiku setelah sebelumnya ia menyapaku melalui pesan WhatsApp,malam ini kendati kami ngobrol tidak terlalu lama namun aku sangat bahagia dan membuat mood ku membaik,rasa kangen yang berapa bulan terobati sudah,Bagas memintaku untuk bersabar atas ujian cinta yang sedang kami lalui sejujurnya sulit bagiku untuk menjalaninya namun aku tidak bisa berbuat apa - apa selain pasrah akan keadaan.
Malam ini kupanjatkan ribuan doa agar alam kembali menyatukan kami dalam ikatan sebuah pernikahan.
Hari - hari berlalu dan seperti biasa aku melewati malam sepi berselimutkan kehampaan,namun telepon dari Bagas mampu mengusir rasa rinduku.
"Aku mencintaimu Bagas "
"Aku juga sama sepertimu sayang tapi aku tidak bisa untuk hidup bersamamu"
"Lantas bagaimana tentang impian kita selama ini"
"Maafkan aku aku tidak mungkin menduakan istriku"
"Bagas mengecup keningku dan melepaskan genggaman tangannya,segera berlalu pergi meninggalkan diriku seorang diri sedikitpun Bagas sama sekali tidak menghiraukan diriku
Aku tidak ingin kehilangan Bagas aku mengejar Bagas dan mencoba menghalangi Bagas.
"Lupakan semua yang sudah terjadi diantara kita"
"Aku tidak akan mampu sayang jangan tinggalkan aku,kumohon"
"Tidak,aku tidak bisa!" kali ini Bagas membentakku dan mendorong tubuhku segera berlalu pergi dan tiba - tiba
Bruk...........
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh Bagas, aku menoleh ke kanan dan kekiri jalananan cukup sepi kemudian akupun segera berlari menghampiri Bagas yang telah bersembah darah.
"Bagas!"
Aku terbangun dari tidurku jantungku berdebar - debat cukup hebat dan aku mengeluarkan keringat dingin,kuusap air mata yang keluar membasahi kedua belah pipiku saat aku mengalami mimpi barusan.
"Sial mengapa aku selalu bermimpi tentang hal buruk?" umpatku "apakah karena aku selalu kepikiran Bagas"bathinku
__ADS_1
Aku menoleh kearah jam dinding, waktu menunjukkan pukul 3 pagi,aku bangkit dari tempat tidur lalu menuju dapur.
Ku teguk segelas air putih dengan cepat,jantungku masih berdebar pikiranku kini diambang gelisah,mimpi yang sama selalu hadir disetiap tidur malamku,aku kemudian duduk memikirkan semua mimpi itu.
Kuteguk kembali sisa air yang masih ada didalam gelas tersebut kemudian aku kembali masuk kedalam kamar dan mencoba meyakinkan diri sendiri.
Aku enggan untuk tertidur kembali,kantukku hilang karena mengalami mimpi tentang Bagas entah mengapa akhir - akhir ini aku selalu saja bermimpi tentang Bagas,didalam setiap mimpi itu aku dan Bagas selalu tidak bisa bersatu apakah ini hanya sekedar bunga tidur ataukah ini suatu pertanda......entahlah aku sendiri tidak tahu harus memilih yang mana antara dua kalimat tersebut.
Kepalaku terasa pusing memikirkan tentang hubunganku dengan Bagas,aku memilih untuk mandi sekedar menyegarkan badan dan pikiranku,guyuran air shower membuat kepalaku menjadi ringan dan tubuh terasa sedikit agak segar,tak lama kemudian terdengar suara anak - anak dari luar kamarku ternyata mereka sudah pun bangun.
Kusandarkan tubuhku di sofa,lalu pikiranku kembali terbang melayang,ini semua salahku dari awal aku sudah mengetahui bahwa Bagas dan aku bukanlah lagi manusia lajang kami sudah punya pasangan masing - masing,dan aku tetap saja maju mendekati Bagas dan kini aku merasakan sakit dengan kondisi semua ini akhirnya cinta merusak hidupku aku menjadi tidak tenang menjalani semua ini.
Aku banyak mengenal pria dan mereka tak akan menolakku aku yakin akan hal itu,namun aku tak pernah bisa untuk jatuh cinta pada mereka seperti mana aku jatuh cinta pada Bagas.
Kututup wajah dengan kedua tanganku,aku sudah benar - benar tak sanggup untuk menjalani kehidupan ini tidak hanya memikirkan masalah Bagas,masalahku dengan Reza juga bertambah rumit kendati kini Reza sudah menikah namun ia tetap saja tidak mau melepaskan aku,ditambah dengan keinginan ibuku yang berharap agar aku tetap hidup bersama Reza,aku ingin mati saja rasanya.
siang ini aku benar - benar suntuk jiwaku merasa sepi aku mendambakan kehadiran seorang laki - laki yang selalu ada di sisiku,dan pastinya yang mencintai aku dan hidup berumah tangga seperti orang lain,hidup penuh dengan kebahagiaan.
Aku melangkah masuk kedalam sebuah cafe dan memilih tempat duduk paling sudut ruangan,hari ini hari libur pengunjung cafe lumayan banyak,aku merasa sangat risih, semua diantara mereka tampak berpasang - pasangan sementara aku hanya datang seorang diri,sedetik kemudian aku mencoba menghubungi teman lamaku Risa aku berharap dia mau menemaniku saat ini.
"Hallo Ris apa kabar?"
"Kabar baik Lin" tumben telepon,kamu lagi dimana sekarang?"
"Nggak Lin emang kenapa?"
"Aku lagi dicafe brother, tempat kita nongkrong dulu,aku kangen Ris,kamu bisa nggak kemari Ris?'
"Owh oke aku hubungi yang lain dulu Lin,sebentar lagi aku bakal kesana oke"
"Wait Ris!" kita berdua aja Ris lain kali baru kita ngumpul bareng yang lain,oke Ris"
"Oke kalau begitu siip" ujar Risa
Aku sengaja melarang Risa untuk menghubungi sahabatku yang lain sudah pasti nanti akan ada Amel aku tak ingin kehadiran Amel malah membuat suasana hatiku semangkin buruk,aku sendiri tidak tahu mengapa Amel kini seolah membenci diriku.
"Sendirian nih mbak?" bolehkah saya temani duduk disini?
Seorang pria muda berumur sekitar 26 tahun tiba - tiba menyapaku,aku berpikir tidak salah jika aku memperbolehkan pria muda ini menemaniku sampai Risa datang,agar semua mata ditempat ini tidak memandangiku dengan pandangan aneh toh setelah ini aku tak akan pernah berjumpa dengan anak muda ini.
"Silakan" jawabku tersenyum padanya.
__ADS_1
"Terimakasih mbak" ucap anak muda tersebut.
Kami ngobrol setelah saling berkenalan terlebih dahulu,
"Mbak lagi nungguin teman ya"
"Iya,kamu lagi nungguin teman juga kah?"
"Nggak mbak,saya emang lagi sendirian aja,biasa mbak lagi suntuk" Oiya mbak apa kira - kira nanti saya tidak mengganggu mbak sama teman mbak,kalau saya duduk disini" ujar Fahri
Aku segera melambaikan tangan pada Risa,kemudian Risa berjalan menuju ke arahku
"Nah itu teman mbak baru nyampai"
"Maaf Lin,lama nungguin nya"
"Santai aja Ris,oiya kenalin ni Fahri"
Risma menatap kearah ku dan akhirnya menyambut uluran tangan Fahri
"Kamu katanya lagi sendirian Lin,ini kok...."
"Aku juga sama sepertimu Ris,aku baru kenal Fahri beberapa detik setelah aku menelepon mu" aku tersenyum sedangkan Fahri salah tingkah lalu tersenyum,malu - malu.
"Gila Lin,ne berondong cakep bener" bisik Risa
"Kamu mau,ambil ja aku lagi baik" balasku berbisik
"Kamu nyakin nggak mau sama ni berondong"
"Bukan seleraku Ris"
"Kok jadi bisik - bisik sih mbak,apa akunya ganggu kalian mo ngobrol ya" ujar Fahri
"Owh tidak - tidak" ujar aku dan Risa serempak dan akhirnya kami saling pandang lalu tertawa kecil.
Siang hingga sore kami ngobrol sesuatu hal yang tidak penting namun mampu membuat perasaanku sedikit membaik aku sesaat melupakan semua masalahku termasuk masalah hubunganku dengan Bagas,disela - sela obrolan kami sore itu Risa juga menyinggung tentang perubahan sikap Amel kepadaku itu semua karena dulunya Amel sangat menyukai Reza sebelum Reza mengenalku dan memutuskan untuk menikahiku dan mereka berdua pernah menjalin hubungan namun dalam hal tersebut ternyata Reza tidak serius pada Amel yang jelas - jelas sangat mencintai Reza.
Sebenarnya dari dulu aku telah menduga dari awal bahwa telah terjadi sesuatu antara Amel dan Reza dan aku sama sekali tidak terkejut mendengar penjelasan Risa.
#istrahat dulu mo lanjutin pekerjaan ☺️☺️☺️#
__ADS_1
"terimakasih buat semua yang telah mampir keceritaku maaf kalau Upnya lamban,karena ada kegiatan lainnya"