Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 10 : Berita duka


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Dewi sibuk dengan aktivitas nya sehari-hari, walaupun melelahkan tapi ia tetap menikmatinya.


Dewi juga tidak pernah mengeluh, apalagi menyerah, ia masih ingat dengan kedua orangtuanya, karena dari hasil kerjanya ia bisa mendapatkan uang, itupun dari hasil ia mengambil shift bekerja di minimarket dan menemani Gusti kemanapun walau ada persyaratan.


Dewi juga sudah mulai mengenal sebagian isi kota, termasuk daerah di sekitaran kosannya.


Setiap malam Dewi selalu penasaran dengan temannya, yaitu Eni, kamar Eni selalu terkunci dari luar dan itu terjadi setiap malam.


Saat bertanya saja dengan Eni, Eni selalu mengalihkan pembicaraan tersebut dengan pembahasan lain, ia menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tidak perlu Dewi ketahui.


"Eni, selama di luar setiap malam, kenapa kamu tidak ada di kamar? " tanya Dewi.


"Eh, disebelah kosan kita ada tempat makan street food baru, nanti sore kita kesana yuk? " ajak Eni.


Dewi juga hanya menganggukan kepala saja, ia cukup disini saja untuk kepo dengan urusan temannya sendiri, bisa saja Eni tidak nyaman dengan dirinya.


"Terimakasih sudah belanja, semoga kembali lagi... "


Dewi kali ini sibuk melayani pelanggan di minimarket, jumlah pelanggan di minimarket hari ini cukup banyak, mungkin salah satu produk yang terus terusan ia lihat sepanjang melayani pelanggan, sepertinya produk tersebut sedang laku dalam penjualan.


"Baru dikeluarin dua kotak udah habis aja, laris manis tuh produk. " ucap Farel.


"Tidak dikeluarkan lagi produknya, Farel? " tanya Dewi.


"Kalo hari ini segitu aja dulu, kalau dikeluarin ntar produk dalam gudang gak ada lagi, soalnya restock barang itu setiap dua sampai tiga minggu sekali. " jawab Mita.


"Ternyata seperti itu, saya baru tahu. " ucap Dewi.


Selesai bekerja pun, Dewi akan mendapat bagian bersih bersih, karena ia memang mengejar bonus saat gajian tiba, itu bisa menjadi tambahannya nanti ketika kebutuhan ngekost lainnya perlu di penuhi.


Dewi melakukan aktivitas nya dengan sangat baik, bahkan kuliahnya juga dapat ia imbangi, karena ia sudah sibuk dengan urusan nya sendiri.


Dewi masih memenuhi panggilan dari Gusti, ia masih membutuhkan uang yang lebih dari laki-laki itu.


"Eni sepertinya pergi lagi tengah malam begini. "


Lagi lagi pintu kamar Eni terkunci dari luar dan digembok, Eni lagi lagi keluar pada malam hari, entah kemana hingga semalaman tidak ada tanda tanda Eni pulang saat malam hari, dan esok hari ia akan bertemu dengan Eni.


......................


"Ini kak, silahkan diminum. "


"Oke, thankyou, boy. " ucap salah satu wanita.


Di sebuah club malam, gemerlap lampu diskotik dan pencahayaan yang remang remang, beberapa wanita muda mendekati salah satu gadis yang berbeda dari penampilan mereka.


"Kak Eni, kami pamit untuk pulang dulu ya. "


Wanita yang dimaksud adalah Eni, ia merupakan mucikari di salah satu bar, dan juga ia dapat merayu anak gadis, apalagi perantauan maupun pelajar dan mahasiswi, dengan berupa iming-iming pekerjaan yang meyakinkan kehidupan mereka kedepannya.


Manusia memang buta akan harta, semua akan dihalalkan demi uang, apalagi dengan berupa iming-iming yang menjanjikan dan tidak mencurigakan.


"Ya, hati hati, anak anak. " ucap Eni.


"Kak, kata kakak kemarin, salah satu anak di kosan tempat kakak tinggal itu juga bagian dari kami, kenapa dia nggak ikutan kesini juga barengan sama kami? Bukannya dia harus gabung sama kita semua? " tanya salah satu gadis.


Eni menganggukan kepalanya, ia meminum minuman yang telah diantar oleh bartender club.

__ADS_1


"Biarkan salah satu bagian kalian menjalani tahap tahap nya dengan perlahan, toh nanti konsumen kakak bakal gubris dia. " jawab Eni dengan santai.


......................


Keesokan harinya, Dewi terbangun karena dering ponselnya menganggu, alhasil ia terbangun dan mengangkat telpon tersebut.


"Halo... "


'Wi, bukain pintu kamar kamu dong, aku lagi lagi ketinggalan kunci kamar aku, pliss... '


Dewi beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju ke pintu untuk menyuruh Eni masuk ke kamarnya.


"Makasih ya, Wi, aku lagi lagi ketinggalan kunci kamarku, mana rasanya ngantuk juga. " ucap Eni sambil membereskan barang yang ia bawa.


"Boleh nggak numpang tidur disini, buat seharian aja, nanti malam aku bakalan balik ke tempat kerja aku buat ngambil kunci kamar aku. Boleh kan, Wi? " sambung Eni dan bertanya.


"Baik, silahkan masuk. " ucap Dewi.


Tak butuh waktu lama, Eni langsung merebahkan tubuhnya di kasur milik Dewi, ia kemudian tertidur saking lelahnya, karena semalam ia tidak tidur sama sekali.


"Eni, kalau begitu saya pergi dulu ya, soalnya mau ke kampus. "


Tidak ada jawaban sama sekali dari Eni, ia sudah tertidur lelap dan tidak merespon ucapan Dewi sama sekali, Dewi menutup pintu kamarnya dan pergi menuju ke kampus.


Suasana kota seperti biasanya, Dewi kali ini diajak untuk pulang bersama Gusti, ia menjadi teman makan siang Gusti sebelum nanti sore ia kembali bekerja di minimarket.


"Terimakasih sudah mengajak saya makan siang, om, saya suka dengan pesanan om kali ini. " ucap Dewi.


"Yes baby, silahkan dinikmati makanannya. " ucap Gusti.


Dewi kembali menikmati makanannya, kemudian Gusti menatapnya.


"Bagaimana kuliahnya, manis? " tanya Gusti.


Di benak hati Gusti masih menyimpan sesuatu ketika melihat Dewi, tampaknya ada sesuatu yang belum ia dapatkan dari Dewi, gadis desa itu belum sempat ia nikmati.


"Kamu tidak betah di kota, Dewi? " tanya Gusti.


"Saya betah, apalagi saya bertemu dengan om, om baik bagi saya, hanya menemani om saja saya bisa dapat bayaran. " jawab Dewi.


"Kalau begitu, tinggal saja di kota, saya yakin kamu pulang dari kota untuk ke desa sudah lain suasananya. Kamu kan tahu sendiri, banyak gadis gadis dari desa yang merantau disini, termasuk kamu sendiri. " ucap Gusti.


"Bagaimana jika nanti saya sudah lulus, kembali dari desa saya kembali lagi ke kota? Bukankah itu hal yang bagus, om? " tanya Dewi.


Gusti hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ada ada saja ide dari Dewi itu untuk menjadi alasan.


Dewi berpamitan, ia meminta Gusti untuk tidak usah mengantarkan nya, karena ia ingin merepotkan Gusti hanya dengan mengantarkan nya ke minimarket.


"Baru nyampe nih anak baru? "


Suaranya sangat familiar, Dewi menatap ke arah meja kasir, itu adalah sosok yang sebelumnya sangat disyukuri telah pergi oleh karyawan lainnya, Novi.


"Kakak kembali bekerja lagi disini? " tanya Dewi.


"Ya, ngapa memangnya? Nggak seneng kamu? " tanya Novi.


Dewi hanya diam, ia berjalan ke arah ruang karyawan, ia segera mengganti bajunya dan segera bekerja.


Sepanjang melayani pelanggan, tatapan Novi seakan sinis ke arah Dewi, bahkan Dewi merasa tidak nyaman ketika dipantau seperti itu, seperti tatapan musuh.


Dewi merasa tidak nyaman saja, ia tidak melakukan masalah saja sudah dimusuhi, ia memilih fokus dengan pekerjaannya terlebih dahulu.

__ADS_1


......................


Jam pergantian shift akhirnya tiba, hanya tersisa Novi saja yang berada di meja kasir bersama karyawan pergantian shift lainnya, bersama karyawan lain yang waktu shift nya habis Dewi mulai mengganti bajunya.


"Kak Novi memangnya tidak capek ya? Perutnya kan sudah membesar seperti itu, bukannya orang hamil tidak boleh banyak bekerja? " tanya Dewi.


"Udahlah Wi, ngapain ngurusin orang kek gitu? Dia aja nggak berubah sama sekali, gimana bisa peduli sama orang kayak gitu? Bikin pusing kepala adanya. " ucap Mita.


"Iya juga, diemin aja, tabiat orang nggak bisa diubah soalnya. " ucap Farel.


"Sepertinya benar juga, saya lebih baik menjaga jarak dari orang seperti kak Novi itu. " ucap Dewi.


Ponsel milik Dewi berdering, Dewi mengambil ponselnya dan mengangkat telpon, bapaknya yang sedang menelponnya.


"Halo pak, ada apa menelpon Dewi? " tanya Dewi.


'Wi, paman sepupu kamu di desa meninggal. '


Dewi terkejut, kerabat dekatnya yang berada di desa mendapatkan berita duka, apalagi itu adalah paman sepupu bapaknya.


'Kalau bisa, pulanglah nak, bibi kamu memerlukan kamu untuk datang ke sini. '


"Iya pak, Dewi akan berangkat malam ini ke desa, bapak tunggu Dewi di perbatasan ya. " ucap Dewi.


Dewi menaruh ponselnya ke dalam tas, ia terburu-buru untuk segera pulang, ada beberapa barang barang yang perlu ia bawa dan susun.


Dewi ingat, bahwa ia tidak mengunci pintu kamar nya, di dalam kamarnya terlihat Eni yang masih tertidur, tidur temannya sangat awet, karena hampir seharian posisinya tidak berubah saat tidur.


"Dewi? "


Dewi yang sedang membereskan barang barangnya menatap ke arah Eni, Eni menatapnya dengan tatapan heran.


"Kamu mau kemana sama barang barang kamu? " tanya Eni.


"Malam ini saya mau pulang ke desa. " ucap Dewi.


"Memangnya kenapa, Dewi? " tanya Eni.


"Paman sepupu saya meninggal, terpaksa saya harus pulang ke desa. Nanti saya akan pamit dengan om Gusti. " jawab Dewi.


"Begitu ya? Turut berdukacita ya, Wi. "


"Baik, kalau begitu, saya pamit dahulu ya, Ni. "


Dewi dan Eni keluar dari kamar, Dewi mengunci pintu kamar kosannya, Eni melambaikan tangannya dan Dewi mengangkut barang-barang nya untuk pulang ke desa.


"Mau kemana, neng? " tanya satpam.


"Ingin kembali ke desa, pak, kerabat saya ada musibah di desa, salah satu anggota keluarga kami meninggal. " jawab Dewi.


"Begitu ya, turut berduka cita. "


"Kalau begitu, saya pergi dulu. " pamit Dewi.


Di depan kosan, terlihat salah satu mobil yang tidak asing, seperti mobil Gusti yang terparkir di depan kosan.


"Dewina, kamu mau kemana? "


Benar dugaan Dewi, bahwa itu adalah Gusti, dengan barang barangnya ia menaikkannya lagi ke bahu.


"Om, untuk sementara ini Dewi pamit dulu, Dewi dapat kabar dari desa, kalau ada musibah di sana. " pamit Dewi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2