
"Dewina, bantu saya untuk bercerai. "
Dewi terkejut, seorang yang sedang mabuk meminta bantuan dengannya, namun permintaan tersebut sangat mengejutkan, bahwa Gusti meminta bantuannya untuk bercerai dari Bella.
"Apa kamu mau, Dewina? " tanya Gusti.
Dewi tidak menanggapinya dengan serius, karena ia tahu bahwa ucapan tersebut tidak terlalu harus ditanggapi dengan serius, siapa yang ingin mempercayai ucapan orang yang sedang mabuk seperti Gusti sekarang.
"Om, sekarang om istirahat dahulu, saya tahu om sedang lelah karena habis mabuk. " ucap Dewi.
"Dewina, bantu saya untuk bercerai, saya akan menjadikanmu istri saya nanti. "
Dewi hanya diam, ia melepaskan perlahan pelukan Gusti, kemudian membantu Gusti untuk kembali tidur, namun Gusti tetap saja bergumam dan melirih dengan ucapannya barusan dengan Dewi.
"Dewina, bantu saya... "
"Nanti saja om, saya akan pikirkan dahulu. " ucap Dewi.
Tak lama berselang, akhirnya Gusti tertidur, sedangkan Dewi hanya menatap Gusti dengan tatapan sedih, ia tahu bahwa laki laki itu tengah stress, entah karena tekanan, masalah, ataupun memang Gusti tidak lagi ingin bersama dengan Bella.
Dewi menepuk pipinya, terlalu jauh ia berpikir, ia menyelimuti Gusti yang tengah tertidur, dan melihat wajah Gusti yang sedang tidur, Dewi tersenyum melihat laki laki itu.
"Apakah anakku bisa setampan om Gusti ini? Aku sangat berharap jika anakku benar benar laki laki, bukan perempuan. "
Dewi teringat, kemudian ia menggelengkan kepalanya, wanita itu memilih untuk segera tidur, karena udara hujan mulai menusuk kulitnya dan ia dapat merasakan udara dingin malam hari itu.
"Jelly, kamu tidur dengan om Gusti saja, temani dia untuk semalam saja. " ucap Dewi pada Jelly.
Jelly tanpa menggonggong ia segera menaiki sofa, anjing tersebut mencari tempat yang nyaman untuk ia tidur, Jelly memilih tidur di dekat lengan Gusti dan bersandar di dada laki laki itu, Gusti sedikit bergerak dan mencari tempat nyaman kemudian kembali tidur bersama dengan Jelly.
Dewi berjalan ke kamarnya, sebelumnya ia mematikan lampu kamarnya dan menghidupkan lampu tidur yang ada di samping meja ranjangnya, kemudian ia menyibakkan selimut dan bergulung di dalam selimut tersebut.
Saat berbaring, Dewi mencoba untuk memejamkan matanya, mulutnya yang menguap seakan tanda bahwa ia bersiap untuk tidur, namun ia masih teringat sesuatu yang membuatnya batal untuk tidur.
'Dewina, bantu saya untuk bercerai, saya akan menjadikanmu istri saya nanti. '
Kalimat itu seakan bergema di telinga Dewi, bayangnya mulai menjauh dan kacau, ia seakanmelayang pada bayangan ucapan dari seorang pemabuk, berimingkan jika akan membantunya, maka ia akan menjadi ratunya.
Dewi memang sebelumnya menyatakan pada Gusti, bahwa ia terbawa perasaan dengan laki laki itu, sehingga ia menyatakan bahwa ia memang mencintai Gusti yang selalu perhatian dan melakukan hubungan gelap bersamanya, namun Dewi ditolak mentah mentah oleh Gusti, karena Gusti tidak juga mencintainya.
Masa masa itu akan selalu Dewi ingat, saat penolakan itu, Dewi mencoba menjauh dari Gusti, tapi seakan godaan uang milik Gusti yang selalu membuatnya tergiur untuk selalu melayani laki laki itu, mau lari bagaimanapun caranya, Gusti tidak akan melepaskannya sehingga ia pernah dijebak dan dikurung di sebuah kamar hotel, dan berakhir sekarang ia sedang hamil anak dari Gusti.
Hal yang tak dapat Dewi lupakan, ketika Gusti yang diberitahu oleh temannya Eni, bahwa ia hamil, rencana ia dan Gusti akan pergi ke luar negeri untuk ab*rsi, namun kebusukan tersebut dapat tercium oleh Bella, sehingga sekarang ia terjebak kembali pada lingkup kehidupan bersama dengan Gusti.
Tak berhenti sampai disana, kehidupannya memang sendirian dan menumpang di apartemen milik Gusti, namun hidupnya juga diselimuti oleh ketakutan, karena ancaman dari Bella yang selalu menghantuinya, nafasnya terasa akan sesak dengan ancaman yang selalu menghantuinya.
Sekarang, Dewi hanya terfokus dengan anaknya, setiap hari ia selalu membayangkan, jika ia akan melahirkan seorang bayi laki laki untuk bisa dibawa oleh Gusti dan Bella, karena ia tidak ingin jika suatu hari ia melahirkan seorang bayi perempuan, maka Dewi dan bayinya akan dipenjarakan dengan pasal pasal yang dibuat oleh Bella, namun itu membuatnya selalu ketakutan.
"Sebenarnya, terlalu banyak pikiran sangat tidak sehat untuk janin, maafkan ibu ya nak. "
Dewi memejamkan matanya, mungkin karena mengantuk dan lelah, akhirnya ia tertidur juga setelah sempat beradu dengan batinnya yang seakan terasa sakit.
.
'Guk! '
Gusti terbangun dari tidurnya, dengan pandangan yang masih buram, ia menatap ke atas, wajah seekor anjing yang menatapnya dari bawah, sehingga ia terkejut ketika ada anjing di dekatnya, Gusti langsung bangkit dari sofa dan memegang dadanya.
"Dasar binatang, kamu mengagetkan saya! " umpat Gusti.
Jelly menjauh dari Gusti, sementara Gusti bangkit dari sofa untuk mengambil air minum.
Kepala Gusti terasa sangat berat, jalannya yang sempoyongan, tanda tanda bahwa ia saat ini sedang mencoba sadar setelah malam tadi ia sempat terlalu banyak minum dan kini sedang berada di kamar apartemen miliknya.
Gusti berjalan ke arah dapur, dengan gelas yang ia pegang, ia mendekat ke dispenser air dan mengambil air untuk ia minum, Gusti meneguk airnya hingga tandas, dan mengeluarkan suara lega setelah meminum air.
"Lega sekali... "
Saat menatap ke seluruh ruangan, Gusti baru teringat dengan seseorang, ia melupakan Dewi, Gusti baru ingat bahwa ia memasuki kamar apartemen itu dalam keadaan mabuk, hal tersebut tentu saja bisa membahayakan Dewi yang sedang hamil.
"Dewi, Dewina... "
Gusti mencari keberadaan Dewi, ia khawatir jika sesuatu terjadi dengan gadis itu saat ia sedang mabuk, karena bisa saja saat ia tidak sadar, ia telah melukai Dewi secara tidak sengaja.
Tidak ada sahutan yang terdengar dari kamar apartemen tersebut, Gusti berjalan ke arah ke ruang utama, bersamaan dengan Dewi yang ingin menuju ke belakang, keduanya hampir bertabrakan dan Gusti memegang bahu Dewi.
"Dewina, ternyata ini kamu. " ucap Gusti.
"Om, ada apa memanggil saya pagi pagi begini? Apa kepalanya masih sakit? " tanya Dewi.
"Tidak, saya hanya mencari keberadaanmu, ya, kamu tahu sendiri bahwa saya hanya ingin mengetahui keadaanmu saat saya mabuk. Apakah saya sempat menyakitimu, Dewina? "
Dewi menggelengkan kepalanya, karena keadaan malam tadi berbeda dengan apa yang diucapkan oleh Gusti barusan.
"Tidak, om hanya meminta untuk istirahat saja, setelah itu Jelly menemani om tidur. " jawab Dewi.
Dewi mengelus perutnya, dengan ekspresinya yang terlihat sendu, Gusti menyadari ekspresi wajah tersebut terlihat bahwa Dewi sedang memikirkan sesuatu yang mengkhawatirkan diri sendiri.
"Dewina, kamu sedang memikirkan sesuatu? " tanya Gusti.
Dewi hanya diam.
"Ya, saya sering memikirkan kandungan saya, om, ternyata sudah hampir 7 bulan usia kehamilan saya, saya sangat mengkhawatirkan kondisi anak saya nantinya. "
Gusti ikut diam, ia hanya menganggukkan kepalanya, dan memegang bahu Dewi kembali.
"Semakin dipikirkan, maka akan semakin mengkhawatirkan. " ucap Gusti.
__ADS_1
Dewi tersadar atas ucapan tersebut, ia mengelus perutnya dan menganggukkan kepalanya, ia baru ingat bahwa semakin ia mengkhawatirkan dirinya dan calon anaknya, maka ia akan semakin buruk perasaannya.
"Mungkin nanti saya tidak akan bisa menemani kamu untuk periksa, karena saya ada perjalanan bisnis ke luar kota hari ini, dan lusa saya akan berangkat ke luar negeri. Jadi, saya minta untuk kamu bisa pergi sendiri tanpa saya, bisa kan? " tanya Gusti.
Dewi memang tidak ingin merepotkan Gusti, dan juga masalah memeriksakan kandungan hal tersebut sangat mudah dan bisa ia pergi sendirian tanpa Gusti, Dewi menganggukkan kepalanya.
"Iya om, tidak apa apa, saya bisa sendiri untuk periksa kandungan. Hati hati dijalan ya, om. " jawab Dewi.
Gusti mengambil jasnya yang ada di sofa, dengan barang barang lain miliknya, Gusti membawanya keluar dan berpamitan dengan Dewi.
"Saya pergi dulu, jaga dirimu baik baik. " ucap Gusti.
Dewi menunggu dari luar pintu, laki laki itu berjalan menjauh dari depan kamar apartemennya, kemudian dengan wajah sendu ia menatap langkah tersebut menjauh.
'Selain memikirkan calon anak saya, saya juga masih memikirkan ucapan om tadi malam, saya selalu terngiang. '
Dewi menutup pintu kamarnya, ia mengunci pintu kamar apartemen tersebut dan merencana untuk bersiap siap untuk pergi ke spesialis kandungan.
.
"Saya sudah ada janji temu dengan dokter Pandu. "
Dewi sekarang sudah berada di rumah sakit, ia sebelumnya sudah ada janji temu dengan dokter kandungan yang sebelumnya sudah ada janji temu dengannya, dari sebelumnya ia sudah meminta dokter kandungannya untuk mengambil waktu untuk bisa memeriksakan kandungannya.
"Dokter Pandu sudah ada di ruangannya, ibu bisa langsung ke sana menjumpai dokter Pandu di ruangannya. " ucap perawat yang ada di meja resepsionis tersebut.
"Baik, terimakasih. "
Dewi berjalan menuju ke ruangan tempat dokter kandungannya berada, menyusuri lorong, dan akhirnya ia telah sampai di ruangan tersebut, kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
Dewi memeriksakan kandungannya sendirian hari ini, karena Gusti memiliki urusan di luar kota tadi pagi, membuatnya harus pergi memeriksakan kandungannya sendirian di rumah sakit.
"Permisi dok. "
Dewi masuk, di dalam ruangan tersebut ia berjumpa dengan dokter yang ia cari sebelumnya, Dewi kemudian dipersilahkan untuk duduk oleh dokter kandungannya itu.
"Periksa kandungan lagi ya? " tanya dokter Pandu.
"Iya dok, ini buku pemeriksaan saya. " jawab Dewi.
Dewi menyerahkan buku panduan pemeriksaan itu kepada dokter, dokter Pandu melihat buku pemeriksaan tersebut, dan mencatat sesuatu di buku pemeriksaan itu.
"Sudah timbang berat badan? " tanya dokter Pandu.
"Belum dok, saya belum sempat memeriksakan berat badan saya. " jawab Dewi.
Dewi dipandu oleh dokter kandungannya untuk memeriksakan berat badannya terlebih dahulu, ia juga diperiksa lingkar perutnya, dan sekarang Dewi akan melakukan USG pada kandungannya.
Dokter Pandu mengoleskan gel di perut Dewi, ia menempelkan alat USG tersebut di perut Dewi, kemudian memeriksa keadaan janin Dewi dan menganalisanya.
"Sejauh ini, kondisinya sangat baik, tinggal nantinya jika sudah masuk usia kehamilan 8 bulan, harap pola makannya dijaga, agar bayi beratnya normal. " jelas dokter Pandu.
"Selama ini, masih sering minum susu dan vitamin nya? " tanya dokter Pandu.
"Masih dok, walaupun kadang saya sering terlewat jadwal minumnya. " jawab Dewi.
"Tetap diminum saja keduanya. "
Selesai memeriksa kandungan, dokter Pandu kemudian mencatat kembali isi buku pemeriksaan tersebut, Dewi menerima buku tersebut dan menaruhnya di dalam tasnya, kemudian pamit untuk pergi dari ruangan tersebut.
"Rasanya lapar, aku ingin makan sesuatu, tapi apa ya? "
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit, Dewi berjalan di trotoar, ia melihat sepanjang jalan penuh dengan orang orang yang menjual berbagai makanan, hingga akhirnya Dewi tertarik dengan makanan yang pastinya dibakar dan dipanggang.
"Saya ingin pesan sosisnya 1, jangan lupa dumplingnya juga. " ucap Dewi.
"Baik, sebentar, dipanggang dulu ya. "
Dewi melihat sosis dan dumpling yang dipesannya kemudian diolesi bumbu, dan kemudian keduanya dipanggang, Dewi melihat makanan yang ia pesan itu sangat menggugah selera, namun dibalik nikmatnya makanan tersebut, pikiran lain Dewi sangat liar, terutama saat ia melihat sosis yang sedang dipanggang.
'Kalau bisa dipikir lagi, ukuran sosis ini setara seperti milik om Gusti, tapi milik om Gusti lebih daripada sosis ini. '
Pikiran jorok itu menghasut isi kepala Dewi, Dewi terhipnotis dalam khayalannya ketika membayangkan Gusti dalam pikiran joroknya, ia kemudian tersadar dan menepuk pipinya dengan kasar, sehingga penjual tersebut melihatnya dengan heran.
"Ada apa, mbak? " tanya penjual tersebut.
"Tidak, saya merasa seperti ada serangga yang menggigit pipi saya. " jawab Dewi sambil tersenyum.
"Begitu ya? "
Dewi hanya tersenyum, kemudian ia berpikir kembali, ia sepertinya sudah gila, masih sempat sempatnya saat melihat makanan, ia terpikir oleh salah satu anggota tubuh milik Gusti yang membuatnya berpikiran kotor seperti itu.
.
Dengan menggunakan taksi, Dewi akhirnya sampai di apartemennya, ia mengambil kartu aksesnya, kemudian akan membuka pintu kamarnya.
Saat membuka pintu, Dewi melihat sesuatu di dalam kotak suratnya, ia melihat kertas yang berisi pemberitahuan, ia mengambilnya bersamaan dengan ia memasuki kamar apartemennya, dan mengunci pintu kamar apartemen tersebut.
Jelly menyambut kedatangan Dewi, anjing itu terbiasa menyambut kedatangan Dewi ketika majikannya itu pulang dari luar, apalagi saat sebuah bau makanan tercium di congor tajamnya itu.
"Sabar ya, Jelly, aku akan membagikannya untukmu juga. " ucap Dewi.
Dewi bersama dengan Jelly berjalan ke dapur, Dewi meletakkan kertas pemberitahuan tersebut di atas meja makan, ia berencana untuk makan siang bersama dengan anjing peliharaannya.
Seharian di dalam kamar apartemen, Dewi hanya menghabiskan waktunya bersantai, terkadang ia juga mengambil makanan di dapur, pandangannya juga teralihkan oleh kertas pemberitahuan yang ia ambil dari kotak surat.
Dewi penasaran, ia mendekat ke meja makan dan mengambil kertas pemberitahuan tersebut, kemudian membacanya sambil memakan makanannya.
__ADS_1
"Maka malam ini sampai esok pagi, sambungan listrik akan dipadamkan karena perbaikan aliran listrik gedung apartemen ini, terimakasih atas perhatiannya. "
Dewi membaca kertas pemberitahuan tersebut, namun bukan ditanggapi dengan serius, rasa malas Dewi membuatnya tidak ingin menyiapkan persediaan lebih awal, Dewi memilih untuk menghabiskan waktu sore harinya dengan bersantai sejenak, dan jika petang hari tiba, ia akan menyiapkan semuanya.
Dewi memilih bersantai, dan ia menonton film yang ada di ponselnya, terlalu sepele baginya sehingga ia memilih untuk bersantai ketimbang menyiapkan persediaan sebelum listrik yang ada di gedung apartemen itu akan dipadamkan, karena terlalu menghayati film yang sedang ditonton, Dewi akhirnya tertidur di sofa.
.
Suara riuh angin, bersamaan dengan gelapnya langit sore hari itu, Dewi yang berada di ruang utama itu terbangun dari tidurnya, keadaan ruang utamanya sangat gelap karena ia yang tidak menghidupkan lampu ruangan tersebut.
"Gelapnya, oh. "
Dewi mencoba sadar dari tidurnya, kemudian ia mencoba tersadar, karena mengingat sesuatu, hal yang melekat pada pikirannya yang akhirnya membuatnya benar benar tersadar dan akhirnya bangkit dari sofa.
"Pakaianku! "
Dewi berlari tergopoh gopoh, di luar balkon terlihat bahwa angin sangat kencang, bersamaan dengan udara yang mulai dingin karena terlihat hari akan turun hujan.
Sebagian baju milik Dewi mulai basah, tanpa terlalu memperhatikan bagaimana kondisi bajunya, Dewi lebih memilih untuk menyelamatkan bajunya terlebih dahulu sebelum hujan benar benar mengguyur seluruh bajunya.
Dewi masuk ke dalam ruang utama, ia menaruh keranjang yang berisi baju tersebut di samping sofa, kemudian ia menutup jendela pintu kaca balkon dan duduk di sofa untuk mengambil nafas karena kelelahan sehabis berlari.
"Jelly, saat sedang hamil seperti ini, rasanya berat badan dua kali lipat dari biasanya... "
Rintik hujan terdengar dari luar, sambil menghela nafas, Dewi juga bersyukur ia dapat menyelamatkan pakaiannya dari balkon saat akan terasa turun hujan.
Saat sedang mendengar rintik hujan dari luar balkon, secara tiba tiba lampu langsung padam, bersamaan dengan kilat dari luar kamar apartemen, membuat Jelly terkejut dan berlari ke arah Dewi, kemudian melolong ketakutan.
"Jelly, kemari. " ucap Dewi.
Jelly dengan pelan mendekat ke arah Dewi, Dewi mencari ponselnya, ia melihat baterai ponselnya yang mulai habis karena ia yang membiarkan ponselnya yang tidak ia matikan saat sedang tertidur.
Dewi dan Jelly berjalan ke dalam kamar, Dewi memilih untuk mengunci pintu kamarnya, sementara bersama dengan anjing peliharaannya, ia naik ke ranjang tempat tidurnya dan diikuti oleh anjingnya.
"Jelly, kalau boleh jujur, aku juga takut dengan suasana mati lampu seperti ini... " lirih Dewi.
Dewi memeluk anjing peliharaannya, mereka berdua mengurung diri di dalam kamar, tak lupa juga Dewi mengunci pintu kamarnya, karena ia merasa takut saat mati lampu saat ini jika membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar.
Dengan penerangan sebatas layar ponsel, Dewi juga harus pintar pintar mengatur waktunya untuk menghemat daya baterai ponselnya, sebelumnya ia lupa mengisi daya baterai ponselnya yang sudah hampir habis, cerobohnya ia yang masih bersantai santai di ruang utama dengan menonton film, sedangkan sebelumnya sudah diberitahukan oleh penjaga apartemen untuk bersedia lampu, baterai ponsel dan air untuk persediaan selama listrik gedung apartemen itu akan diperbaiki hingga esok hari.
Dewi makin merasa ketakutan, apalagi kemarin malam ia mendengar dari tetangga apartemennya bahwa di lantai 3 ditemukan jenazah yang sudah hampir terlihat tengkoraknya, ia terpikir akan arwah yang menjumpai setiap penghuni apartemen, apalagi dengan suasana padam listrik seperti sekarang.
"Jelly, paksakan lagi untuk tertidur ya. "
Saat mencoba untuk tidur, tiba tiba suara akses pintu kamar yang terbuka, tepatnya kamar apartemen yang Dewi tempati, ia terkejut ketika mendengar pintu tersebut terbuka, sementara ia yang sedang mengurung diri di dalam kamarnya karena merasa ketakutan.
Jelly mengambil posisi sigap, ia terlihat ingin menggonggong, namun Dewi sudah mengatasinya dengan mencoba menenangkan Jelly dan menutup mulut anjing peliharaannya tersebut.
'Jelly, jangan menggonggong. ' bisik Dewi.
Langkah kaki terdengar di dalam ruang apartemen tersebut, suara langkahnya semakin mendekat, dan terasa tepat sekali langkah kaki itu akhirnya berhenti di depan kamar, dengan sorot lampu yang ada di sela sela bawah pintu kamarnya, Dewi ketakutan, ia merasa seseorang memasuki kamarnya dan mengetahui keberadaannya di dalam kamarnya.
Ketakutan tambah menjadi ketika pintu kamarnya diketuk dari luar, Dewi menggigil ketakutan, kaki sampai kepalanya terasa berkeringat, ia benar benar ketakutan.
'Dewi, apa kamu berada di kamar? '
Suara tersebut sangat familiar di telinga Dewi, suara laki laki yang tak lain itu adalah suara Gusti, Jelly kemudian turun dari kasur dan menggonggong di depan pintu kamar, Dewi merasa terselamatkan saat itu dan ia turun dari kasurnya.
.
Lampu cas menyinari ruang utama, Dewi berjalan dengan membawa segelas air untuk ia suguhkan pada Gusti, Gusti menatapnya dengan tatapan serius, Dewi sadar bahwa laki laki itu akan menginterogasi dirinya.
"Silahkan diminum, om. "
Dewi meletakkan air minum tersebut di meja, sementara Gusti menghela nafasnya dan meraih gelas tersebut untuk ia minum airnya.
"Om, bukannya tadi pagi om mengatakan pada saya, bahwa om akan pergi ke luar kota? " tanya Dewi.
Dengan meneguk air minumnya, Gusti kemudian menaruh gelas tersebut di meja dan menatap ke arah Dewi.
"Saya tidak membuang waktu saya untuk berlama lama di luar kota, dan sekarang saya harus mengurus gedung apartemen ini yang sedang perbaikan listrik. " jawab Gusti.
Dewi menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan tersebut.
"Kamu lagi lagi ceroboh, kan? " tanya Gusti.
Dewi cengengesan, ia hanya bisa tersenyum dan menggarukkan kepalanya yang tidak terasa gatal itu, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Lainkali jangan bertele tele, kalau seperti ini, kamu yang akan merasa rugi sendiri. " ucap Gusti.
"Baik om, saya ceroboh, maaf. " ucap Dewi.
Gusti menatap ke sekitar ruang utama, sementara Dewi hanya diam.
"Bawalah lampu ini ke dalam kamarmu, saya sengaja membawakannya untukmu. " ucap Gusti.
"Bagaimana dengan om? " tanya Dewi.
"Saya bisa dengan ponsel saya. Kembalilah tidur di kamarmu, saya akan temani kamu sampai besok pagi. " ucap Gusti.
Dewi meraih lampu tersebut, ia menatap lampu tersebut sambil memikirkan sesuatu, kemudian ia membawanya, namun ia memilih menaruh lampu tersebut di atas meja belajar yang berada diantara ruang tamu dan pintu kamarnya.
"Kenapa? " tanya Gusti.
"Saya akan letakkan disini saja, om, agar kita bisa sama sama diterangi lampu. " jawab Dewi.
Gusti menganggukkan kepalanya, kemudian Dewi masuk ke dalam kamarnya, dan sengaja tidak menutup pintunya karena sorot lampu yang ada di meja belajarnya, keduanya akhirnya beristirahat di ruangan masing masing untuk menunggu esok hari tiba ketika listrik hidup.
__ADS_1
********