
...Happy reading š§”...
......................
Dewi bersama dengan Gusti mengobrol sepanjang perjalanan, rute yang sebelumnya menuju ke kosan berubah ke jalur yang lainnya, Dewi menyadarinya dan menatap ke arah Gusti.
"Om, bahkan rutenya saja salah, bisakah kita memutar lagi? " tanya Dewi.
Gusti menatap ke arah Dewi, ia menaikkan bibirnya dan tersenyum.
"Sebelum kamu pulang, saya akan mengajakmu ke suatu tempat, saya merindukan momen ini bersama kamu. " ucap Gusti.
Dewi terkejut, ia menggelengkan kepalanya dan menolak ucapan Gusti barusan.
"Om, tapi.... "
"Kamu memikirkan apa, Dewina? Saya ingin mengajakmu untuk jalan jalan di mall, sekedar berbelanja atau apapun itu. " ucap Gusti.
Dewi belum sepenuhnya percaya, namun Gusti berusaha meyakinkannya untuk percaya dengan ucapannya, entah itu kata kata manis yang akhirnya membuat Dewi akhirnya mempercayainya.
"Baik, kalau sekedar hanya berbelanja, saya mau om. " ucap Dewi.
Gusti tersenyum, ia mengelus rambut Dewi, kemudian ia fokus mengendarai mobilnya.
Suasana malam hari tak berbeda dari malam sebelumnya, suasana malam perkotaan yang ramai dan gedung gedung tinggi yang berkilau karena sinar lampu yang berwarna.
"Terimakasih om, karena om telah membelikan saya barang barang ini. "
"Ya sama sama, Dewina, ini sebagai janji saya tadi saat dimobil. " ucap Gusti.
Kedua lawan jenis itu pergi dari tempat perbelanjaan, Gusti sebelumnya mengajak Dewi ke suatu tempat, dengan alasan untuk mengajak Dewi makan malam bersama.
"Kamu tahu bahwa saya ingin mengajak kamu makan di tempat baru, apakah kamu mau? " tawar Gusti.
Dewi menatap ke arah Gusti. "Tempat makan baru? Apakah itu tempat makan yang berbeda dari sebelumnya? " tanya Dewi.
"Yap, apakah kamu mau? " tanya Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya, akhirnya mereka menuju ke restoran yang dimaksud.
Tempat restoran tersebut tak lain dari tempat karaoke, Gusti dan Dewi memasuki ruangan, keduanya menikmati suasana karaoke dan keduanya bernyanyi bersama.
"Dewi, kamu ingin memulai permainan bersama saya? "
"Permainan? Permainan apa, om? " tanya Dewi.
Gusti mengambil botol berisi minuman, ia menuangkan minuman tersebut di gelas yang ada di atas meja, tetapi Dewi langsung menghindar dan menggelengkan kepalanya.
"Om, saya tidak mau meminumnya. " ucap Dewi.
"Tidak ingin meminumnya atau kamu takut kalah bermain dengan saya, Dewina? " tanya Gusti.
Dewi merasa tertantang, ia akhirnya menghela nafas dan menganggukan kepalanya, akhirnya permainan dimulai dengan lomba bernyanyi.
Dewi selalu terlewat lagunya, dan hukuman dengan meminum minuman yang ada di atas meja, Dewi meneguknya walaupun ia ingin merasakan muntah.
Permainan itu terus terusan dimainkan, hingga dari suara Dewi saja tidak beraturan, Dewi tepar hingga ia tidak menghiraukan Gusti.
"Dewi, Dewina? " panggil Gusti.
Dewi menatap sayu ke arah Gusti, ia dengan agresif bergelayut di pangkuan Gusti, ia memeluk leher Gusti dan menenggelamkan kepalanya di tengkuk leher Gusti.
"Om, saya kalah... " lirih Dewi.
Gusti pastinya terpancing, ia tidak menyangka bahwa Dewi benar benar mabuk, hingga menggodanya dengan suara Dewi yang terkesan manja dan menggoda.
"Apa kamu ingin bersama saya, Dewina? " bisik Gusti.
"Iyahh, kemanapun saya ikut... " ucap Dewi.
Gusti tersenyum, ia menggendong Dewi yang tidak sadarkan diri, rencananya berhasil dan sekarang ia ingin membawa Dewi ke tempat biasa ia dan Dewi sering bermain, yaitu apartemen miliknya yang tak jauh dari karaoke tersebut, tetapi ia masih tetap menaiki mobilnya untuk menuju ke apartemen miliknya.
Sesampainya di apartemen, Gusti mengangkat Dewi menuju ke dalam seperti karung goni menuju ke dalam, semua pelayan ataupun resepsionis apartemen tidak bisa berkutik, karena yang masuk dengan menggendong seorang gadis yang mabuk adalah pemilik apartemen tersebut.
Menuju ke kamar yang biasa menjadi tempat Gusti, Gusti menghampiri kamarnya, membuka pintu dengan kartu akses, kemudian masuk dan menutup pintu kamarnya.
Gusti merobohkan Dewi ke kasur, ia menatap Dewi, tak lama mata sayu Dewi mengarah padanya dan Dewi melingkarkan tangannya di leher Gusti, jarak mereka begitu dekat hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Om, apa om ingin meninggalkan saya? " tanya Dewi dengan nada suara serak.
Gusti tersenyum dan tangannya menyentuh bibir Dewi. "Tidak manis, saya akan tetap disini bersamamu, saya ingin kita melanjutkan permainan selanjutnya... "
Perlahan namun pasti, Gusti benar benar mengambil kendali, ia memegang kendali untuk permainan ini dan dengan perlahan Dewi ikut dalam irama permainannya, bahkan Dewi menikmatinya dengan halus.
Baru kali ini akhirnya Dewi menuruti irama permainannya, bahkan Dewi meraung raung tanda bahwa ia menikmatinya.
"Saya cinta kamu, Dewi... "
__ADS_1
"Saya juga mencintai om.... "
****** ***** memenuhi diri Dewi, perasaan yang belum pernah dirasakan oleh Dewi, sehingga membuatnya melemas dengan cara baru tersebut.
Gusti menatap Dewi, ia mencium Dewi kemudian tidur disampingnya, Dewi terlebih dahulu tertidur.
"Good night, honey... "
......................
Keesokan harinya Dewi terbangun dari tidurnya, seluruh tubuhnya merasakan pegal dan remuk, entah kegiatan apa yang membuatnya menjadi merasa lelah.
Dewi menyentuh badannya, ia merasa bahwa ada yang aneh, ia melihat di dalam selimut dan terkejut, baru ia sadari bahwa ia sekarang sedang berada di dalam ruangan lain yang tidak asing, yaitu apartemen.
Ponselnya berdering, Dewi menatap ke sekitar, tasnya berada di kursi panjang, Dewi menarik selimut sebagai penutup tubuhnya dan berjalan ke arah kursi untuk menyambut ponselnya.
Dewi mengambil ponselnya yang berada di tas, kemudian mengangkat teleponnya untuk segera ia hubungkan dengan percakapan.
"Halo, ada apa, pak, bu? " tanya Dewi.
'Nak, berita bagus untukmu, kami akan segera datang ke kota untuk menghampiri kamu disana. Kami harap kamu tidak terlalu lama menanti kedatangan kami. '
"Bapak sama ibu nyusul ke kota? " tanya Dewi.
'Iya, kami sangat merindukan kamu, Dewi. Kami harap ketika kami sampai di sana, kamu masih melanjutkan kuliahmu, nak. ' jawab Warsita dari telpon.
Dewi melotot, bahkan ia berkeringat, karena secara tiba tiba kedua orangtuanya akan menghampirinya ke kosannya.
"Kapan kalian akan sampai? Ingin Dewi jemput? " tanya Dewi.
'Boleh nak, sekalian kami langsung mengetahui tempat kamu tinggal sementara, bapak dan ibu akan senang jika secara langsung dapat dijemput oleh kamu. '
Basa basi dari Dewi ditanggapi serius oleh kedua orangtuanya, tanpa menolak keduanya menyetujui basa basi tersebut, tentu saja Dewi kelabakan untuk segera menuju ke terminal bus untuk menjemput kedua orangtuanya yang akan datang ke kota.
"Yasudah, kalau begitu, Dewi akan bersiap siap terlebih dahulu, kalian beritahu saja jika sudah sampai, akan Dewi hampiri kalian berdua di terminal. " ucap Dewi.
'Baik nak, kami akan memberitahukanmu. ' ucap kedua orangtua Dewi.
Panggilan tersebut berakhir, tak lama suara pintu terbuka, Gusti yang tampak selesai mandi kemudian menghampiri Dewi.
Dewi masa kebingungan
"Ada apa, Dewina? " tanya Gusti.
Dewi merasa bahwa hal tersebut sangat bagus untuk dimanfaatkan, ia berdiri dengan selimut yang masih membaluti tubuhnya.
Gusti menaikkan salah satu alisnya. "Membantumu dalam hal apa? " tanya Gusti.
Entah iseng atau benar benar dikejar waktu, Dewi menarik handuk yang melilit di pinggang Gusti, tentu saja Gusti kaget dan menarik selimut yang sebelumnya digunakan oleh Dewi untuk menutupi tubuhnya yang terekspos.
"Dewina! " teriak Gusti.
Dewi tidak meladeni Gusti sama sekali, ia hanya diam dan mengucapkan ucapan maaf saat sedang berada di kamar mandi.
Dewi mandi dengan hitungan beberapa menit, akhirnya ia selesai dan mulai berkemas, kamar terlihat senggang dan kosong, karena Gusti yang kemungkinan sudah pergi bekerja.
"Intinya segera pulang dan ganti baju, bau baju ini sudah tercemar oleh parfum milik om Gusti, bisa bahaya kalau bapak dan ibu menciumnya. "
Dewi membereskan barang barangnya, ia keluar dari kamar, mengunci pintu kamar apartemen tersebut dan bergegas pergi dengan barang barang yang sudah ia bawa.
"Bu, buah buahan dan sayur dari desa sudah dibawa kan? Tidak ada yang tertinggal? " tanya Taufik.
Di dalam angkutan umum, Taufik dan Warsita memeriksa barang barang bawaan mereka, bersamaan dengan kiriman buah dan sayuran yang nantinya akan menjadi oleh oleh untuk anak mereka yang ada di kota.
"Sudah pak, ini sudah ibu bawakan untuk Dewi, biar Dewi tidak terus terusan membeli makanan di luar, karena ibu tahu, makanan di kota begitu mahal. " jawab Warsita.
Kedua pasangan yang sudah tidak lagi muda itu sama sama tersenyum, mereka tampaknya sama sama memikirkan sesuatu yang membuat keduanya senang.
"Bapak tidak menyangka, bahwa kita bisa menyekolahkan anak kita sampai kuliah, semoga saja anak kkita Dewi bisa mendapat gelar sarjana dan menjadi dokter. " ucap Taufik sambil berdoa.
"Iya pak, semoga anak kita sukses dengan apa yang dia kerjakan. "
......................
"Terimakasih om, kalau begitu saya akan masuk ke dalam. "
Dewi berlari ke dalam kosannya, sedangkan Gusti pergi dengan mobilnya, di depan gerbang, satpam melihat Dewi yang tengah berlari ke dalam.
"Neng, abis dari mana? " tanya satpam tersebut.
Dewi menatap ke arah satpam tersebut, ia berhenti untuk menyapa satpam yang tengah berjaga di gerbang kosan.
"Saya habis dari rumah bibi saya, kebetulan hari ini saya baru pulang, makanya pagi hari ini bapak baru melihat saya. " ucap Dewi.
Alasan Dewi tampaknya diterima dengan baik oleh satpam tersebut, Dewi menganggukan kepalanya kemudian ia berlari menuju ke atas, tepatnya menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian yang sebelumnya ia pakai.
Dewi baru ingat, bahwa ia menitipkan anjing peliharaannya di kamar Eni, Dewi berjalan menuju ke kamar temannya untuk melihat keadaan Jelly yang sedang berada di kamar temannya itu.
__ADS_1
Dewi mengetuk pintu kamar Eni, dari dalam terdengar suara yang menyahutinya, Eni keluar setelahnya dan menyapa Dewi.
"Halo, kamu darimana aja semalaman, Wi? " tanya Eni.
Dewi mengingatnya. "Saya barusaja pulang dari pesta anak om Gusti, maaf jika sampai malam tidak ada kabar sama sekali. " jawab Dewi.
Eni mengerti, ia hanya tersenyum dengan ucapan Dewi barusan.
"Begitu ya? Nggak papa deh, yang penting sekarang udah pulang ke kosan. Selamat datang, Dewi." ucap Eni.
Dewi menyambut ucapan tersebut, ia tersenyum dan tampak mencari sesuatu.
"Sebelumnya, dimana Jelly? " tanya Dewi.
Eni menunjukkan keberadaan Jelly, tampak anjing kuning berbulu lebat tersebut tengah tertidur lelap di kasur milik Eni, ingin sekali Dewi mengganggunya, tetapi ia tidak tega membiarkan anjing tersebut terbangun karenanya, ditambah lagi kedua orangtuanya yang akan datang ke kosan.
"Eni, nanti saya titip Jelly di kamar kamu lagi saja ya? "
Eni mengerutkan keningnya. "Loh kenapa? Kamu nggak mau melihara Jelly lagi, Wi? " tanya Eni.
"Jadi begini, kedua orangtua saya tiba tiba ingin datang ke kosan, jadi saya minta tolong sekali lagi untuk menjaga Jelly, soalnya bapak sama ibu saya secara mendadak akan mampir kesini, mereka juga tidak suka anjing ada di dalam rumah, apalagi Jelly tinggal dengan saya selama ini, bisa bisa Jelly diminta untuk diusir dari kosan karena mereka tidak suka dengan anjing. "
Eni mengerti, ia menganggukan kepalanya, akhirnya Eni mengizinkan Dewi untuk menitipkan Jelly sekali lagi.
"Oke, kamu boleh nitip Jelly sekali lagi, tapi ingat, pakan Jelly jangan lupa dibeliin lagi, soalnya pakan dia tadi malam udah habis. " ucap Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, ia berencana untuk segera pergi ke kamarnya untuk mengganti baju dan sebagainya, barulah ia berangkat untuk segera pergi ke terminal.
Dengan menggunakan taksi, Dewi turun dan menyambut kedua orangtuanya, sementara ia menyambutnya tetapi kedua orangtuanya duluan yang menyambutnya.
"Anakku yang sangat kami rindukan... "
Dewi memeluk kedua orangtuanya, tampak mereka bertiga sangat gembira, karena sekian lama akhirnya dipertemukan.
"Dewi kira kalian akan bermain main, ternyata kalian benar benar datang ke kota. " ucap Dewi.
"Tentu saja, kami sangat merindukanmu, nak, hanya saja kita tidak bertemu sekian lama. " ucap Warsita.
Dewi mengajak kedua orangtuanya untuk pergi ke kosannya, dengan barang barang yang telah dibawa mungkin akan membutuhkan ruang ekstra dan itu juga butuh waktu untuk mengakalinya.
Sesampainya di kosan, Dewi mengajak kedua orangtuanya untuk masuk, di dalam kamarnya sungguh berbeda dan kedua orangtua Dewi kagum melihat isi di dalamnya.
"Berbeda sekali kamu di kota sekarang ya, nak? Kami baru kali ini melihat suasana kosan yang kamu tempati. "
"Iya pak, bu, kalau begitu kalian istirahat dulu, Dewi akan ambilkan minuman. " ucap Dewi.
Dewi menuju ke belakang, ia mengambil minum dan makanan kecil untuk kedua orangtuanya, ketiganya tampak menikmati waktu bersama dan mengobrol bersama.
"Anakku Dewina... " panggil Warsita.
Dewi merespon panggilan tersebut. "Ya, ada apa, bu? "
"Jangan aneh aneh dikota ya, nak, kami akan kembali ke desa lusa hari, jaga diri kamu baik baik. " ucap Warsita.
Dewi hanya menganggukan kepalanya, ia berpikir, bagaimana bisa nasehat itu ia ingat dan jaga, sementara saja ia sudah dinikmati oleh Gusti.
Dewi sekarang berbeda, awalnya ia tidak terlalu menyukai Gusti karena ia hanya berpikir bahwa ia adalah teman, tetapi seiring berjalannya waktu, Dewi menyimpan perasaan, ia menyukai laki-laki yang masih beristri itu, apalagi saat ia sama sama menikmati waktu berdua, menatapnya dari dekat sudah membuat Dewi senang, karena laki-laki itu sangat menikmatinya.
Gusti tidak bisa dikatakan tua, karena ia saja sangat berkharisma, wajahnya masih terbilang tampan walaupun anak anaknya sudah remaja.
......................
Kedua orangtua Dewi memutuskan untuk pulang, mereka akan menginap di rumah saudara yang ada di kota, sedangkan Dewi hanya bisa mengantarkannya ke depan gerbang dan mencari taksi.
Dewi bergegas ke atas, ia menghampiri kamar Eni, kebetulan kamarnya terbuka dan berlari ke dalam.
"Eni! " teriak Dewi.
"Ya, ada apa, Wi? " tanya Eni yang sedang mengelus kepala Jelly.
Dewi ingin menceritakan sesuatu yang ia alami, Eni mendengarkannya dan menelaah obrolan tersebut.
"Yang bener aja Wi?! " teriak Eni.
"Saya tidak tahu pasti, yang jelas perasaan aneh, itu rasa yang baru pertama kali bersama om Gusti setelah beberapa kali bersama dia, saya merasa ada sesuatu yang dimasukkan di tubuh saya. " jelas Dewi.
Eni terkejut, ia tidak menyangka, bahkan ia sendiri yang terkesan lebih panik.
"Pil, pil kemarin, nggak kamu minum? " tanya Eni.
"Pil? Apakah sebelumnya saya menerima pil dari kamu? " tanya Dewi.
Eni menggelengkan kepalanya. "Lupakan saja. "
Hal tersebut membuat Dewi penasaran, lagi lagi Dewi merengek ingin diberitahu apa yang diucapkan oleh Eni barusan.
...***********...
__ADS_1