Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
76: Tes


__ADS_3

"Galuh sebenarnya adalah anak saya. "


Gita melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dewi padanya, di saat Dewi mengatakan bahwa adik bungsunya itu adalah anak dari Dewi.


"Jangan bercanda, tante Dewi, saya-- "


"Kalau kamu mencari jawaban mengenai adikmu, maka saya yang akan menjawabnya. Galuh itu anak saya, sayalah ibunya. " potong Dewi.


Gita tidak bisa percaya, nafasnya menjadi tidak beraturan, ia sendiri masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Dewi padanya, namun ia menjadi semangat untuk mengorek lagi masa lalu adiknya.


"Kalau begitu, bagaimana bisa saya yakin bahwa Galuh itu anaknya tante Dewi? Bukankah sebelumnya tante Dewi ini adalah mahasiswi yang kebetulan bekerja dengan papa saya? Lagipula umur Galuh itu sudah 6 tahun, sedangkan tante sendiri baru mengabdi menjadi dokter. Apa anda ingin mengarang cerita, tante Dewi? " tanya Gita.


Dewi tersenyum, ia tahu bahwa gadis yang di depannya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.


"Ya, saat menjadi mahasiswi, saya sempat hamil. Dan kamu tahu siapa ayahnya Galuh, sehingga Galuh berada pada keluarga kamu? " tanya Dewi.


Ritme jantung Gita berdetak tidak karuan, ditambah rasa penasaran itu yang membuatnya ingin semakin tahu, ia juga berusaha berjaga jaga dan mengumpulkan informasi mengenai adik asuhnya itu.


"Siapa? " tanya Gita.


Dewi tersenyum sendu. "Ya, papamu sendirilah ayahnya Galuh, Khairul Gustiawan. "


Gita terbelalak, ia menggebrak meja, sehingga Dewi menjadi sedikit tertegun dengan reaksi Gita.


"Tante Dewi, ini tidak lucu ya, saya tahu papa saya tidak akan berbuat hal seperti itu! Saya tahu keluarga saya, tepatnya kedua orangtua saya yang memang tidak harmonis, tapi saya tahu bahwa papa saya adalah workaholic, mustahil akan berbuat seperti itu, apalagi kepada anda! " bantah Gita.


"Kalau kamu kurang yakin, mari kita lakukan tes saja kepada Galuh. "


Dewi menjawab pertanyaan itu dengan santai, sementara Gita sendiri akhirnya kebingungan, diantara ia masih tidak percaya apa yang sebenarnya terjadi, dan juga perlakuan ayahnya yang main gila di belakang keluarga.


"Tes? " tanya Gita.


"Ya, saya ingin hal itu, Gita. Kamu tahu, insting dan ikatan batin saya kepada Galuh tidak pernah bisa terlepas, jadi saya mohon, bantu saya, kembalikan Galuh kepada saya, bagaimanapun sayalah ibu kandungnya. "


Dewi bermohon kepada Gita, agar gadis itu bisa membantunya untuk melakukan tes kepada Galuh, dengan mengatakan berbagai kata kata lainnya kepada Gita.


"Saya masih belum yakin mengenai hal yang baru diucapkan tante Dewi kepada saya, tapi karena saya mencari asal usul adik saya, maka saya akan setujui ajakan tante mengenai tes kepada adik saya, Galuh. " ucap Gita.


"Gita, terima-- "


"Namun dengan satu syarat, jika tes yang akan dilakukan nantinya menyatakan negatif, saya tidak segan untuk memenjarakan tante, atas pencemaran nama baik kepada papa saya dan percobaan penculikan kepada adik saya. " ucap Gita.


Dewi tanpa ragu menyetujui persyaratan Gita, keduanya berjabatan tangan, karena dari kedua pihak sudah menyetujuinya.


.................


Beberapa hari berlalu, Gita melancarkan aksinya, sekarang ia lebih fokus untuk mengambil beberapa bagian penting pada Gusti.


Gita melakukan langkah awal, yaitu ia yang mengambil beberapa potongan kuku milik Gusti yang berada di asbak rokok, memasukkannya beberapa potong di dalam plastik kecil, dan meninggalkan beberapa potongan lainnya di asbak.


Sekarang, beberapa bagian lagi yang perlu diambil oleh Gita, tentu saja membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkan apa yang sudah ditunjuk oleh Dewi padanya.


"Gita, apakah kamu ingin mengambil dokumen ini? Papa membutuhkan hasil yang sudah kamu temukan, kemudian berikan pada papa jika sudah selesai. "


Gusti mendatangi ruangan milik Gita, Gita mengambil dokumen yang telah diberikan kepada ayahnya itu padanya, ia melihat dokumen yang diberikan.


"Nanti Gita minta softfile ini sama Ruben, setelahnya akan Gita kirimkan kepada papa. " ucap Gita.


"Baik, papa akan kembali. " ucap Gusti.


Sebelum Gusti keluar dari ruangannya, Gita bangkit dari tempat duduknya, kemudian mencabut beberapa helai rambut Gusti, hingga Gusti langsung meringis sakit dan menatap ke belakang.


"Gita, apa yang kamu lakukan, sayang? " tanya Gusti.


"Ah, maaf pah, Gita mencabut beberapa helai rambut papa, sekedar jahil saja. " jawab Gita.

__ADS_1


Gusti tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ia menganggap anaknya itu sedang jahil dengannya, kemudian ia keluar dari ruangan kerja anaknya.


Yang tidak Gusti tahu, bahwa anaknya, yaitu Gita, mengumpulkan beberapa macam anggota tubuhnya yang diperlukan untuk tes DNA.


"Syukur saja papa tidak curiga. Memang aku pintar, bisa berbohong. " gumam Gita.


Beberapa hari setelahnya, kali ini Gita mendapatkan hal yang begitu sulit ia dapatkan, yaitu Dewi yang meminta sampel darah milik Gusti.


Gita sendiri tidak tahu harus bagaimana ia mengambil sampel darah, sementara bisa dilihat bahwa ayahnya itu tidak pernah periksa darah maupun memiliki riwayat sakit yang mengharuskan mengambil darah, karena Gusti meskipun umurnya sudah hampir menginjak 50 tahun, namun dirinya masih sangat bugar.


"Dimana caranya untuk bisa mendapatkan darah papa? " gumam Gita.


Gita turun ke bawah, ia melihat adiknya, Gina dan Galuh, terlihat tengah duduk bersama di ruang utama, ia senang ketika melihat kedua saudaranya itu tengah mengerjakan tugas bersama.


"Hei, apa yang kalian lakukan? "


Gita menyapa kedua adiknya, Gina dan Galuh melihat ke arahnya.


"Kak Gina lagi bantu Galuh mengerjakan tugas, kak Gita, Galuh senang sekali bisa dibantu sama kakak Gina. " jawab Galuh.


Sorot mata Gita menjadi sendu, ia mendekat dan mencium kepala adik bungsunya itu.


"Belajar yang pintar ya, biar nanti kamu bisa jadi seperti papa. " ucap Gita.


Senyuman lebar Galuh mengalihkan rasa sedih Gita, bocah itu seketika sumringah dengan ucapannya, ia tahu bahwa do'a itu sangat baik untuknya.


"Kakak kembali bekerja ya, kamu belajar yang giat, sayang kan sama kakak? " tanya Gita.


"Galuh sangat sayang sama kakak, Galuh akan berusaha untuk dapat juara, biar kakak senang! " jawab Galuh semangat.


Gita tersenyum, ia berjalan kembali menuju ke ruangan lain, karena ia sedang berniat untuk membaca di ruang perpustakaan di rumahnya.


Ruang perpustakaan tersebut tidak tertutup, alhasil Gita dengan cepat langsung masuk ke dalam ruangannya, ia tahu mungkin asisten rumah lupa menutup pintu, sehingga dibiarkan terbuka begitu saja.


"Papa kebiasaan, jika bukunya rusak, yang disalahkan biasanya asisten yang selalu membereskan perpustakaan. " cibir Gita.


Gita meraih buku yang terjatuh, kemudian ia meletakkannya lagi di atas meja nakas.


Disaat tengah memperhatikan Gusti, sorot mata Gita terarahkan pada lengan Gusti yang tengah digigit oleh nyamuk, terlihat bahwa serangga kecil itu menyedot darahnya hingga tubuh serangga itu gemuk.


Ide cemerlang terlintas di pikiran Gita, dengan perlahan ia mendekat, bahkan sempat menahan nafasnya untuk bisa menyentuh nyamuk tersebut.


Satu tangkapan dari jari Gita akhirnya dapat menangkap nyamuk tersebut tanpa membasminya, gadis itu berhasil mendapatkan darah dari ayahnya untuk persyaratan terakhir tes yang akan dilakukan, tinggal sekarang hanyalah membawa semua yang diperlukan untuk tes itu pada Dewi.


Keesokan harinya, Gita merancang rencananya, kebetulan bahwa hari tersebut adalah hari libur sekolah, Gita bisa membawa adiknya, Galuh, untuk ikut bersamanya dengan membujuk bocah laki-laki itu untuk pergi ke Timezone.


"Kakak, Galuh belum ujian, kenapa kakak membawa Galuh ke Timezone? Bukannya kakak janji kalau bawa Galuh ke sana kalau nilai Galuh sudah bagus? " tanya Galuh.


"Kakak mau ajak Galuh kesana karena Galuh selama ini selalu jadi anak yang baik, jadi kakak mau ajak kamu kesana. " jawab Gita.


Tentu saja hal kecil itu membuat Galuh bahagia, bocah laki-laki itu melompat kegirangan, Gita membantu baby sitter adiknya untuk menyiapkan keperluan Galuh.


Tak lupa juga Gita menyelipkan bahan bahan untuk tes DNA itu di dalam tas mahalnya, kemudian menutupnya dan membawa pergi dengan menjinjing tasnya itu menuju keluar rumah.


Semua yang sudah direncanakan oleh Gita berjalan dengan lancar, tidak ada yang bertanya padanya sekarang, ditambah lagi dengan mamanya, Bella, yang sedang berada di luar negeri karena urusan bisnis selama hampir sebulan, hanya tersisa Gusti saja yang lama lama akan seperti Bella.


"Apa yang kamu lakukan dengan Galuh sekarang, Gita? "


Gusti menyadari tindakan Gita yang kini gerak geriknya mulai aneh, Gita sekarang bisa berakting seolah tidak terjadi apa apa, ia meyakinkan Gusti bahwa tidak ada yang aneh padanya.


"Tidak ada, hanya saja Galuh senang ikut Gita untuk jalan jalan di luar. Apalagi sebentar lagi hari wisuda Gita, Gita mengajak Galuh untuk berjalan jalan dan berbelanja. " jawab Gita.


Gusti menganggukkan kepalanya, kemudian dengan lancar saja Gita dan Galuh pergi dari rumah, tahapan awal baru saja dijalaninya untuk sebagian rencana yang sudah dibuat.


                ................

__ADS_1


Ditengah jalan, setelah mengikuti arus jalan, akhirnya mereka telah datang ke rumah sakit, tentu saja anak kecil seperti Galuh akan merasa ketakutan den merengek ketakutan.


"Kakak, Galuh tidak nakal, jangan bawa Galuh disuntik dokter ya? " mohon Galuh.


"Tidak, Galuh anak baik, kakak hanya ingin membawa Galuh bertemu dengan seseorang. Tapi janji ya, Galuh nggak boleh merengek, kita ketemu dokter yang baik. " ucap Gita.


Melewati lorong rumah sakit, keduanya berjalan menuju ke ruangan tempat Dewi berada.


"Permisi."


Dewi yang tengah menyiapkan sesuatu kemudian pandangannya teralihkan pada anak kecil yang dibawa oleh Gita, akhirnya baru kali itu setelah sekian lama ia bertemu dengan Galuh.


Bayi kecil yang dulu terpisah, dan sekarang sudah 6 tahun lamanya akhirnya dipertemukan, Dewi rasanya ingin langsung memeluk Galuh, namun karena itu baru awalan, ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk memperhatikan Galuh dari jauh saja.


"Ini, yang tante butuhkan untuk tesnya. " ucap Gita.


"Baik, kalau begitu, saya akan ambil dari Galuh sekarang. " ucap Dewi.


Dewi yang sedang mengambil hal yang dibutuhkan untuk tes DNA, mulai dari rambut, darah, air liur dan kuku milik Galuh, itu juga sebagai pembuktian darinya untuk ditunjukkan pada Gita, karena sebelumnya ia telah mengaku pada gadis itu bahwa Galuh adalah anaknya.


"Tangan Galuh sakit... " keluh Galuh.


Dewi menenangkan Galuh, ia tersenyum dan mengelus rambut bocah laki laki itu, tak lupa juga ia melihat wajah Galuh, ia tidak menyangka anak yang terpisah setelah dilahirkan kini berjumpa kembali dengannya, dan sekarang anaknya itu sudah besar serta sekarang menjalani tes DNA.


"Maaf ya, Galuh, ibu dokter tidak tahu kalau bikin Galuh sakit. " ucap Dewi.


                  .....................


"Kamu jangan sedih ya, dek, kakak nggak sengaja. " ucap Gita.


"Iya, Galuh tidak apa apa. Kakak jangan ajak Galuh kesana lagi ya, Galuh tidak akan jadi anak yang nakal. " ucap Galuh.


"Iya dek, kakak tahu. " ucap Gita.


Sepulangnya mereka, Gita membujuk Galuh dengan membelikan beberapa mainan, alhasil itulah yang membuat Galuh akhirnya tidak lagi menangis, dan sekarang menerima hadiah dari kakaknya.


"Kemana kamu ajak Galuh? "


Gita sekarang berhadapan dengan Gusti, ayahnya yang sekarang curiga dengan gerak geriknya kini secara terang-terangan bertanya langsung kepadanya.


Gita mencari jalan keluar, ia memasang wajah datarnya, kemudian menjawab pertanyaan ayahnya itu.


"Tumben papa bertanya tentang Galuh, ada apa pah? " tanya Gita balik.


"Tidak, hanya saja memastikannya ada di rumah. " jawab Gusti.


Gita hanya ber oh ria, dengan membawa Galuh menuju ke atas, beberapa asisten rumah membawa barang yang dibawa sebelumnya oleh Gita menuju ke atas.


"Gita, jangan sampai papa tahu apa yang kamu lakukan dibelakang papa. "


Ucapan Gusti membuat langkah Gita terhenti, Gita berbalik dan membuat Galuh menatapnya, sebelumnya Gita menyuruh beberapa asisten serta baby sitter adiknya untuk membawa Galuh ke atas.


"Kenapa papa menuduh Gita seperti itu? " tanya Gita balik.


"Hanya memastikan, dan ingatlah, papa akan selangkah lebih maju dari kamu, jika sesuatu hal kamu berusaha sembunyikan kepada papa, Gita. " ucap Gusti.


Kali ini Gita harus mengatur strategi kembali, tampaknya langkah awalnya sudah diperhatikan oleh Gusti, dan sekarang ia harus mencari cara lagi.


"Tidak perlu, pah, Gita tahu bahwa papa sangat pandai, tidak ada sesuatu yang Gita sembunyikan dari papa. " ucap Gita.


Gita melangkah kembali menuju ke atas, sementara Gusti diam, laki laki itu masih setengah belum yakin akan ucapan anaknya.


Namun sebagai seorang workaholic, Gusti mengalihkannya kepada pekerjaan, dan sekarang ia kembali bekerja kemudian meninggalkan obrolannya kepada anaknya.


****************

__ADS_1


__ADS_2