Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 53: Sudah muak


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Sepertinya makanan kamu sudah habis, bagaimana kalau kita ke minimarket terlebih dahulu? "


Dewi berjalan menuju ke minimarket yang tak jauh dari apartemen tempat ia tinggal, bersamaan dengan Jelly yang menggonggong sebagai tanda setuju, akhirnya keduanya berjalan menuju ke minimarket.


Jelly berjalan lebih cepat dari Dewi, terlihat bahwa pengalaman baru untuk anjing tersebut bisa masuk ke minimarket, setelah beberapa lama ia jarang diajak untuk pergi ke minimarket oleh Dewi.


"Mau naik ke sini tidak, Jelly? " tawar Dewi.


Dewi dengan trolinya, ia menawarkan Jelly untuk duduk di dudukan troli, namun Dewi mengurungkan niatnya tersebut.


"Jangan ya, nanti diprotes orang. " ucap Dewi.


Dewi dan Jelly berjalan ke arah tempat makan peliharaan, mereka berjalan bersama menuju ke tempat tersebut, tujuan awal keduanya memang untuk membeli makanan anjing, mungkin ada beberapa makanan yang mungkin akan diinginkan untuk Dewi beli.


Saat melewati bagian daging, Dewi melihat Jelly yang mengarah di bagian daging tersebut, ia mengerti dan mendekat ke etalase tersebut.


Dewi berpikir, sepertinya bagus untuk dia membeli daging tersebut, karena sudah lama ia tidak mau makan daging, jadi baginya bagus untuk membeli daging tersebut untuk lauknya.


"Kamu suka yang mana? " tanya Dewi.


Jelly menggonggong ke arah daging yang berbentuk seperti tulang, kemudian Dewi mengerti, itu adalah sebuah tulang iga yang dipilih oleh jelly.


"Dewi! "


Dewi mengarah ke belakang, dia melihat temannya, ternyata itu adalah teman Dewi saat di minimarket, yaitu Mita dan Farel.


"Ternyata kalian, ada apa di sini? " tanya Dewi.


Mita dan Farel tersenyum. "Tidak, kami hanya berjalan-jalan saja di minimarket ini, lumayan kan kalau bisa mengambil waktu untuk kabur dari pekerjaan kami seharian, rasanya lelah jika terus-terusan di minimarket yang satu itu." jawab keduanya.


Dewi menganggukan kepalanya seraya ber oh ria.


"Tidak akan disanksi dengan pak bos? " tanya Dewi.


"Masalah itu aman, kita punya alasannya sendiri kok, nggak perlu khawatir kalau ditanya kemana, soalnya alasannya makan siang sih. " jawab Farel.


"Nakal bukan? Jangan ditiru, hanya untuk profesional. " ucap Mita.


Dewi tersenyum, ia menggelengkan kepalanya, kedua teman nya itu sangat pintar mencari cara untuk kabur dari pekerjaan yang mereka miliki.


"Wah, sekarang Dewi udah tambah gemukan, keren kamu, Wi. " ucap Farel.


Dewi menatap kaget, ia menatap ke arah perutnya, kemudian sedikit menutupi perutnya yang membuncit itu, ia merasa malu ketika orang lain yang memperhatikan perutnya yang mulai membesar itu.


"Besar ya? Maaf kalau terlalu menonjol. " ucap Dewi dengan malu malu.


Mita menyenggol lengan Farel, dengan tatapan kesal mengarah dengan Farel, tentu saja ucapannya salah dan ia ditegur oleh Mita karena ucapannya.


"Bodoh, kamu mengucapkan kalimat yang keramat, jika kamu mengatakan hal tersebut, maka hal buruk terjadi padamu! " bisik Mita.


Farel menutup mulutnya, ternyata ucapannya barusan salah, ia mendekati Dewi dan memegang kedua tangan gadis tersebut, kemudian mengucapkan minta maaf.


"Maafin aku, Wi, nggak ngira kalau sampai bikin kamu tersinggung kayak gini. " ucap Farel.


"Iya, tidak apa apa, memang saya mulai gendut sekarang, karena banyak makan. " ucap Dewi dengan senyumnya.


"Mampus kamu, kalau Dewi kayak gitu, berarti dia udah doain kamu buat celaka, Farel! " ancam Mita.


Tentu saja Farel merasa takut, karena sebelumnya ada beberapa korban yang terkena doa sumpah serapah dari Dewi, itu membuatnya menjadi takut karena Dewi yang terlihat baik baik saja.


"Jangan seperti itu, saya tidak sejahat itu dengan orang lain, apalagi seperti kalian teman teman saya. " ucap Dewi.


"Sekali lagi maafin Farel ya, Wi, nih anak tau sendiri kayak gimana mulutnya. " ucap Mita.


"Maaf ya Wi, nggak ada maksud tadi mau nyinggung kamu, sekali lagi maaf ya. "


"Iya, tidak apa. " ucap Dewi.


"Kalo gitu, kita mau pergi dulu ya, udah mau selesai juga jam makan siangnya, bahaya nanti kalau terlambat balik ke minimarket lagi, sampai jumpa lagi, Dewi. "


"Ya, hati hati dijalan. " ucap Dewi.


Mita dan Farel berjalan jauh dari Dewi, Dewi melihat kedua orang tersebut dari belakang, dan ia menatap dengan senyumnya yang mendalam.


'Melihat mereka berdua, jadi rindu di masa sebelum merasakan tekanan seperti ini. Andai saja dulu cuma jadi orang yang biasa biasa saja tak terpengaruh dengan uang, mungkin saja aku masih merasakan masa muda yang indah bersama teman teman lainnya. ' ucap Dewi dalam hati.


Jelly menggonggong, Dewi tersadar dari lamunannya dan menatap anjing peliharannya.


"Maaf membuat kamu menunggu lama, Jelly. " ucap Dewi.


Dewi mengajak Jelly untuk pergi dari tempat tersebut, mereka melanjutkan belanja mereka menuju ke tempat lainnya.


......................


Sesampainya di lantai tempat kamar apartemen berada, Dewi dan Jelly berjalan menuju ke kamar, sebelumnya Dewi mencari kunci kamarnya dan mulai membuka pintu kamarnya, bersamaan dengan Jelly keduanya masuk dan Dewi kembali mengunci pintu kamar apartemennya.


"Kamu makan siang dulu, ini makanannya. " ucap Dewi.


Dewi dan Jelly berjalan menuju ke belakang, keduanya menuju ke dapur untuk makan siang, Dewi membeli makanan instan yang ada di minimarket, karena penasaran dan juga ia ditawarkan untuk membeli produk tersebut, karena rasa penasarannya itu yang membuatnya ingin mencoba produk tersebut.


"Ini makanan untuk kamu, Jelly. "


Dewi memberikan mangkuk makanan milik Jelly, Jelly memakan makanan yang diberikan oleh Dewi, Dewi kembali ke mejanya dan mencoba memakan makanan yang baru saja ia beli dari minimarket yang tak jauh dari apartemen.


Kesan pertama memakan makanan tersebut, Dewi merasa biasa saja, ia tidak benar benar menikmati makanan tersebut, ia menjauhkannya dari meja dan meminum minuman kemasan kotak yang ia beli dari minimarket, Dewi benar benar tidak suka, rasanya ia ingin mual.


"Makanannya tidak enak, seperti rasa pengawet. " ucap Dewi.


Rasa mual tersebut ternyata bukan hanya perasaan, Dewi berlari ke arah wastafel dan mengeluarkan isi begah di perutnya, Jelly menatap ke arah Dewi dan ia menghentikan makannya.


Dewi menarik nafasnya, ia mencoba untuk bernafas, rasa lega dan sakit di tenggorokannya membuatnya menjadi lemas, Dewi kembali ke mejanya, tak lama pintu kamarnya terdengar seperti ada seseorang yang tengah membunyikan bel kamarnya, membuat Dewi segera berjalan ke arah pintu kamarnya.


Sebelumnya Dewi melihat siapa yang berada di depan pintunya, ternyata itu adalah Gusti, Dewi membuka kunci pintu apartemen nya dan menyambut Gusti yang datang.

__ADS_1


"Selamat siang, om, silahkan masuk. " ucap Dewi.


Gusti masuk, ia melepas sepatunya, sebelumnya ia melihat kondisi wajah Dewi yang pucat, ia tahu bahwa gadis tersebut baru saja habis muntah.


"Mual lagi kamu? " tanya Gusti.


Dewi menganggukan kepalanya. "Ya, saya muntah barusan, om, ini karena saya memakan makanan yang tidak cocok untuk saya. "


Mendengar kata makanan, Gusti menatap Dewi dengan tatapan tajam, ia beranjak pergi ke dapur.


Dewi ceroboh, ia memberitahukan kebodohannya sendiri dengan Gusti, itu sama saja memberikan dirinya sebagai umpan untuk peliharaan buas.


"Apa apaan ini? Kamu beli makanan instan?! "


Dewi ketahuan, ia tidak bisa menyangkalnya, bahwa Gusti benar benar seperti pemikirannya, ia akan dimarahi habis habisan oleh laki laki tersebut.


"Maaf om, itu kebetulan saya berbelanja dengan Jelly di minimarket, makanya saya tertarik untuk membelinya, saya tidak tahu bahwa makanannya terasa pengawetnya kuat. " jawab Dewi gemetaran.


Gusti merasakan makanan tersebut, ia merasa aneh dan membuang makanan tersebut, kemudian menatap tajam lagi ke arah Dewi, layaknya ia sedang menakuti anak kecil.


"Jangan lakukan seperti ini lagi, jika kamu tidak ingin saya membuang semua makananmu. " ucap Gusti.


Dewi menganggukan kepalanya, tak lama suara nada dering panggilan terdengar, Gusti mengambil ponselnya yang berada di dalam kantongnya, kemudian ia mengangkat telepon tersebut.


"Halo, ada apa menelpon saya? "


'Mengapa anda tidak pergi ke rumah sakit sekarang? Apa anda sengaja? '


Gusti melihat kamera pengawas yang berada di ruang makan, ia melihat lensa kamera tersebut menyala berwarna merah, ia dipantau oleh Bella dari kamera pengawas tersebut.


"Kamu memantau saya? Kurang ajar! "


'Berhentilah mengumpat saya! Anda sengaja memperlambat keadaan karena ingin di kamar gadis desa itu kan? Jangan mengambil tindakan nekat, tuan Gustiawan! '


Gusti malas meladeni istrinya tersebut, ia mematikan ponselnya dan panggilan tersebut terputus, Dewi yang menyimak obrolan tersebut kemudian sedikit menjauh dari Gusti.


Gusti menyadari tindakan Dewi barusan, jelas bahwa gadis tersebut menguping pembicaraannya, alhasil Gusti meletakkan ponselnya di atas meja makan dan mendekat ke arah Dewi, gadis tersebut terlihat pendek dari dirinya.


"Kamu menguping pembicaraan saya barusan, Dewina? " tanya Gusti.


Dewi menggelengkan kepalanya, kemudian ia sedikit menjauh dari Gusti.


"Tidak, saya tidak sama sekali menguping pembicaraan om. " jawab Dewi.


"Baik, saya lapar sekarang, apa kamu membeli bahan makanan untuk dimasak? " tanya Gusti.


"Iya om, barusan saya dari minimarket bersama dengan Jelly, saya membeli daging iga, tetapi saya tidak tahu ingin mengolah dagingnya menjadi masakan apa. " ucap Dewi.


"Bagus, saya akan menjadikannya sebagai iga bakar, kamu bantu saya untuk menyiapkan bahan bahannya. " ucap Gusti.


Dewi menganggukan kepalanya, di dapur, kedua lawan jenis beda usia tersebut memasak makanan bersama, tentu saja dengan bahan bahan yang tidak sembarang Gusti pilih, ia mulai memasak makanan yang ia inginkan.


Banyak drama dari memasak makanan tersebut, tetapi walaupun begitu, akhirnya masakan tersebut selesai dan keduanya sangat puas melihat makanan tersebut.


"Sekarang, kamu rasakan masakan saya. "


"Enak sekali, saya suka... " ucap Dewi.


Gusti tersenyum, ia senang ketika masakannya dipuji dan dinikmati oleh orang, keduanya makan masakan tersebut bersama, walaupun akhirnya Dewi memutuskan untuk makan di ruang utama, Gusti mengacakkan pinggangnya ketika melihat gadis tersebut makan di ruang utama.


"Guna meja makan untuk apa jika kamu makan di sana? " tanya Gusti.


"Sini saja, om, saya ingin makan sambil nonton. " ucap Dewi.


Gusti menggelengkan kepalanya, ia dengan minumannya berjalan ke arah Dewi, kemudian ia memilih mengambil jus yang ia ambil di dalam kulkas, duduk bersampingan dengan Dewi dan menyenderkan tubuhnya di kursi sofa.


"Jangan sampai ada yang tercecer sedikitpun, kamu akan membuat kekacauan jika melakukannya. "


"Baik om, saya akan berhati hati. " ucap Dewi.


Dewi dan Gusti fokus dengan siaran yang sedang tampil di layar televisi tersebut, keduanya sampai tidak ingat apa yang terjadi di ruang utama tersebut, bahwa kamera pengawas ruang utama tampak hidup dan memantau aktivitas keduanya.


"Om, boleh saya meminta sesuatu? "


Gusti yang sedang meminum jusnya menatap ke arah Dewi.


"Katakan, apa yang kamu minta. "


"Bisakah om tidak memaksa saya untuk mengikuti perintah bu Bella untuk selalu memeriksakan kandungan? Sudah hampir beberapa kali saya harus memeriksakan kandungan saya setiap minggu, sedangkan radiasi dari USG sangat tidak baik untuk kandungan saya yang masih berusia dua bulan. " jelas Dewi.


Gusti menghentikan minumnya, ia menaruh gelas jus tersebut dan kembali menyenderkan tubuhnya, ia menghela nafasnya dan menatap Dewi.


"Ya, saya tahu itu, dan ini juga bukan keinginan saya, Dewina. " ucap Gusti.


Dewi mengerti, ia menganggukan kepalanya, ia tahu bahwa hal tersebut bukanlah keinginan dari laki laki tersebut untuk selalu memeriksakan kandungan, tetapi itu adalah perintah dari istrinya Gusti itu sendiri, yaitu Bella.


"Jika terus seperti ini, mungkin saja suatu hari nanti Bella akan bertindak macam macam dengan kamu, Dewina. " ucap Gusti.


Dewi menyenderkan kepalanya di bahu Gusti, sedangkan Gusti menatapnya dan memalingkan wajahnya.


"Singkirkan kepalamu dari bahuku, Dewina. "


Dewi menegakkan kepalanya, kemudian menatap Gusti dengan mengerutkan keningnya.


"Om? "


"Kamu tidak ingat, bahwa di apartemen ini Bella menyelipkan kamera pengawas? " tanya Gusti.


Dewi baru teringat, kemudian ia menyingkir sedikit dari Gusti, keduanya menatap ke kamera pengawas yang berada di ruang utama tersebut, dan menunjukkan bahwa lampu merah terlihat di kamera pengawas tersebut.


......................


"Ruben! Ruben! "


Suara menggelegar dari ruang kerja, Bella yang memanggil keberadaan asisten suaminya itu, karena ia tahu bahwa asisten Gusti tidak mengikuti Gusti sama sekali.


"Ya, ada apa, nyonya? " tanya Ruben.

__ADS_1


"Segera antarkan saya ke apartemen tempat suami saya berada, dan jangan sampai saya mengetahui bahwa kamu sengaja melindungi suami saya, akan saya habisi kamu jika berani seperti itu! " perintah Bella.


Ruben menganggukan kepalanya, bersamaan dengan Bella, keduanya turun menuju ke mobil, Ruben membuka pintu untuk Bella dan menutupnya, kemudian ia menuju ke kursi pengendara.


Di perjalanan, tak henti hentinya Bella terus menerus mengumpat Dewi dan Gusti, ia benar benar akan memberi pelajaran untuk suaminya dan simpanan suaminya itu.


"Jika sampai Bella menghajarmu, kamu harus menghindar! "


Tak lama suara bel pintu terdengar, Dewi melihat dari kaca yang ada di pintu, betul dugaan, ternyata yang berada di depan pintu tersebut adalah Bella.


"Minggir, biar saya yang buka, kamu mundur. " ucap Gusti.


Dewi mundur, tak lama Gusti membuka pintu tersebut, dorongan dari luar membuat Gusti terdorong, Bella berjalan ke arah Dewi dan menampar Dewi dengan tamparan keras.


"Bella, apa yang kamu lakukan! " tegas Gusti.


"Diam! Saya tidak sedang berbicara dengan anda, tuan Gustiawan! " tegas Bella.


Bella menatap ke arah Dewi, Dewi memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan tersebut.


"Jangan mengambil kesempatan, dikala saya sedang lengah! Bukan berarti saya mengizinkan suami saya untuk bisa terus bersama kamu, saya menyuruhnya melihat keadaan kamu, bukan berarti saya ingin membaginya dengan kamu! " tegas Bella.


"Hentikan! Saya yang datang sendiri ke sini, dan kamulah yang menyuruh saya untuk mengunjungi Dewi. Mengapa sekarang kamu menyalahkan saya dan Dewina?! "


Bella hilang akal pikirannya, tanpa menjawab, ia mendorong Dewi hingga membuat Dewi hampir tersungkur, Gusti melihat hal tersebut langsung mendorong Bella untuk menjauh dari Dewi.


"Apa yang anda lakukan demi simpanan anda, Gustiawan?! "


"Kamu tahu bahwa Dewina sedang hamil! Jika kamu berbuat bodoh seperti ini, maka kamu sama saja seperti pembunuh! Kamu sendiri yang menyuruh Dewina mempertahankan kandungannya, dan sekarang kamu ingin berbuat celaka untuknya, memang dasar kamu sudah seperti orang gila! " bentak Gusti.


Bella tidak terima, ia menatap Dewi dan mendekat, mengarahkan pandangan sinisnya pada Dewi dan menunjuk gadis tersebut.


"Jangan anggap saya benar benar membantumu, j*lang! " tegas Bella.


Dewi merasa kesal, ia ingin memukul Bella dari belakang, tetapi Gusti menahan tindakan tersebut dan menutup mulut Dewi untuk tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.


Bella keluar dari kamar tersebut, Dewi mencakar tangan Gusti, hingga terasa bahwa kulit tangan Gusti seperti tembus di tangannya, Gusti melepaskan tangannya dari Dewi.


"Kenapa om menahan saya untuk menghajar istri om?! Saya sudah kesal terus menerus diperlakukan seperti ini, om! Om juga seringnya datang selalu menekan saya, kadang saya bisa stress karena perlakuan om dan istrinya om sendiri! " lawan Dewi.


Gusti terkejut dengan Dewi yang tegas dengannya, ia tidak ingin kalah, dan memilih untuk melawan Dewi.


"Baik, jika kamu yang tidak ingin saya lindungi, pergi dari apartemen saya! "


Dewi terdiam, sedangkan Gusti pergi berjalan keluar kamar apartemen tersebut, pintu ditutup dari luar hingga suara gedoran pintu tersebut.


Dewi terasa muak, hatinya panas, seringnya ketika bertemu seperti hari ini Dewi selalu ditindas oleh Bella, padahal itu karena Gusti sendirilah yang sering mengunjunginya.


Dewi memutuskan untuk membereskan barang barang miliknya, dengan perasaan kesal ia ungkapkan saat tengah membereskan barang barang miliknya.


"Kalau mereka bisa menindasku, aku juga bisa kabur dari mereka! "


Dewi membereskan barang barangnya, ia mengelus perutnya dan rasanya ingin menangis, bahwa tinggal di apartemen itu bukannya menemukan jalan keluar, malah membuatnya semakin tertekan.


Dewi tidak meninggalkan surat sedikitpun, karena ia ingin menghilang secara langsung tanpa siapa yang mencarinya.


"Kita pergi dari sini, biar mereka tahu, bahwa kamu dan aku bisa hidup tanpa bantuan mereka! " ucap Dewi pada anjing peliharaannya.


Jelly hanya mengikuti perintah dari Dewi, keduanya pergi meninggalkan apartemen tersebut, entah kemana mereka akan pergi.


......................


Sehari berlalu, sudah hampir sehari yang lalu keributan tersebut terjadi, dan sekarang kondisinya lebih bagus dari sebelumnya.


Gusti berpikir, ia merasa sedikit bersalah, karena telah memarahi gadis tersebut.


Saat menuju ke kamar apartemen, tidak ada tanda tanda suara Dewi ataupun Jelly di kamar tersebut, Gusti mencoba untuk terus memanggil Dewi.


"Dewi, Dewina... "


Gusti terus terusan menekan bel kamar tersebut, ia merasa tidak lucu, kemudian mulai menggedor pintu kamar tersebut.


"Dewina, ini tidak lucu, buka pintunya. "


Gusti mencoba untuk masuk ke kamar tersebut, dengan kunci kamar yang ia miliki, kemudian Gusti membuka kunci kamar tersebut.


Saat membuka pintu kamar tersebut, tidak ada tanda tanda seseorang yang berada di kamar tersebut, kemudian Gusti memeriksa kamar apartemen tersebut, tidak ada Dewi maupun Jelly.


Gusti menyadarinya, karena melihat keadaan kamar ataupun hal lainnya yang sebelumnya ada, Gusti sadar bahwa Dewi kabur dari kamar apartemen tersebut.


"Tidak mungkin, tidak mungkin! "


Gusti berbalik arah, kemudian ia berpapasan dengan Bella, dan menatap Bella dengan tatapan tidak senang.


"Ada apa? Dimana gadis yang bernama Dewina itu? " tanya Bella.


"Sepertinya dia kabur. " jawab Gusti.


"Bagaimana bisa kabur?! "


"Mana saya tahu, yang jelas sebagian barangnya sudah ia bawa, dan tidak tersisa apapun lagi di dalam kamar itu. " jawab Gusti.


Bella menggeram, ia menatap Gusti dan menunjuk suaminya.


"Jangan jangan ini akal akalan anda, Gustiawan! Bisa secepat itu saya percaya dengan anda, bahwa Dewi kabur dari kamar! " tuduh Bella.


Gusti terkejut, ia tidak terima dengan tuduhan tersebut dan melawan Bella.


"Kenapa saya yang kamu tuduh?! Bukankah ini semua salahmu kemarin, yang membentaknya sehingga ia kabur seperti sekarang?! Sadari itu, kalau dia kemarin kesal karena kamu yang membentaknya sampai dia kabur dari kamarnya, hanya saja kemarin saya tidak membiarkan dia menghajar kamu dari belakang! " tegas Gusti.


"Perlu saya untuk membentaknya, secara dia tidak ada hubungan apapun dengan anda, sehingga lancang bersikap manja dengan anda! "


"Kekanak-kanakan! Sudah, saya akan cari keberadaan Dewina, jangan sampai gadis yang tengah hamil itu mencelakai diri nya sendiri. "


Gusti meninggalkan Bella yang berada di kamar tersebut, ia memilih untuk melihat kamera pengawas apartemen dan akan menemukan Dewi yang sengaja lari dari apartemen.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2