Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 29: Dihargai


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Dan sepatu ini, tidak berguna sama sekali! "


Dewi membuang sepatu heels yang sebelumnya ia pakai, karena ia tidak nyaman dengan keadaan kakinya yang menggunakan sepatu tinggi seperti itu.


Dewi merasa lelah, tangisan dan nafasnya menyatu, ia lelah dengan semua yang telah ia hadapi, terutama dirinya yang masuk ke dunia hitam dan mengenal laki-laki tua seperti Gusti, dan akhirnya Dewi memilih untuk duduk dan mengatur nafasnya sambil mengusap air matanya.


"Lelah sekali, Tuhan... " keluh Dewi.


Dewi menatap ke langit malam, sinar bulan yang cerah menyoroti gelapnya suasana malam, Dewi melihat sinarnya yang sangat cerah itu dan meneteskan air matanya.


"Aku ini sepertinya bodoh, kenapa bisa sampai seperti ini? "


Secara tiba-tiba ada sesuatu yang berlari dari kejauhan, suara lonceng kecil terdengar dan suaranya semakin lama semakin mendekat, Dewi menatap ke arah suara tersebut dan terkejut, seekor anjing yang berlari tampak berlari dan menggonggong.


Dewi terkejut, ia mulai berdiri dan berlari dari anjing yang berlari dengan kencang ke arahnya kemudian mengejarnya.


Anjing tersebut menggonggong, tentu saja Dewi menjadi takut, karena anjing tersebut mengejarnya.


"Tolong...! Tolong...! " teriak Dewi sambil berlari.


Karena fokus berlari, kaki Dewi tersandung, membuatnya terjatuh dan kakinya beserta lengannya lecet, Dewi jatuh tersungkur.


"Ahhhh, sakitnya... " lirih Dewi sambil menangis.


Anjing tersebut menghampiri Dewi, Dewi takut dan menjauh dari anjing tersebut, tetapi ada yang ganjil dengan anjing tersebut, tampak anjing tersebut menggigit sesuatu.


"Guk, apa yang sedang kamu gigit? " tanya Dewi.


Anjing tersebut melepaskan benda yang di gigitnya dan itu adalah dompet, Dewi mengenal dompet tersebut dan melihat dompet tersebut.


Dewi merogoh tasnya, ia menyadari bahwa dompetnya yang hilang, kemudian untuk memastikannya, Dewi mengambil dompet tersebut dan memeriksanya, hasilnya benar, dompet tersebut adalah miliknya.


"Guk, kamu mengambil dompet milik saya? " tanya Dewi.


Anjing tersebut sepertinya mengerti, ia menjawab dengan menggonggong, Dewi mengucapkan terimakasih dan mengelus anjing tersebut.


"Terimakasih ya, guguk, kamu sudah membantu saya saat dompet saya jatuh. " ucap Dewi.


Dewi berusaha bangkit, ia meringis kesakitan, saat melihat lututnya ia terkejut, karena goresan lukanya cukup panjang sehingga membuat lututnya mengeluarkan darah.


"Duh, mana lukanya sampai separah ini, harus terburu-buru ke minimarket di sekitar ini. "


Jalan Dewi tidak stabil, karena salah satu kakinya tepatnya pada lututnya tengah mengeluarkan darah karena terluka, di belakangnya, anjing yang mengejarnya kemudian mengikutinya dari belakang.


"Kenapa guk? Pergilah, aku ingin pulang, pulanglah sana, majikanmu menunggumu. " usir Dewi.


Dewi melanjutkan jalannya, kemudian ia dengan bertatih tatih langkahnya menuju ke minimarket untuk membeli obat dan plester luka.


Tampaknya anjing yang membantu Dewi barusan tetap mengikuti Dewi dari belakang, bahkan mencoba untuk membantu Dewi yang tengah kesakitan itu menuju ke minimarket.


Sesampainya di minimarket, Dewi membeli obat dan beberapa plester luka, penampilannya sungguh kacau malam itu, kemudian ia ingin membayar beberapa barang yang ia beli.


Sebelumnya Dewi melihat ke luar, terlihat anjing yang membantunya duduk di depan minimarket, Dewi terenyuh dengan hewan tersebut, karena terlihat bahwa anjing tersebut seperti sedang menunggunya sampai ia keluar dari salam minimarket.


"Boleh saya menambah satu barang lagi? "


Selesai berbelanja, Dewi keluar dari minimarket, di tangannya terlihat makanan hewan, ia memanggil anjing tersebut dengan sebutan gonggongan anjing dengan pelan.


"Guk, guguk... " panggil Dewi.


Anjing tersebut merespon panggilan Dewi, ia mendekat dan menghampiri Dewi, Dewi mengambil wadah dari kertas bekas yang berada di atas meja dan meletakkannya di bawah lantai.


"Ayo kemari, kamu mendapat hadiah dari aku, karena sudah membantuku mengembalikan dompet. " ucap Dewi.


Saat Dewi memberikan makanan anjing, tampak anjing tersebut mengucapkan terimakasih kemudian memakan makanan anjing tersebut dengan lahap, Dewi senang ketika melihat anjing tersebut makan dengan lahap sesuai dengan keinginannya.


Perlahan Dewi mengelus kepala anjing tersebut, tak lama tangannya dielus manja dengan anjing tersebut, Dewi gemas ketika melihat anabul tersebut sangat penurut dan menjadi anjing yang baik.


Dewi melihat jam, ternyata sudah hampir tengah malam, perlahan ia bangkit dan berusaha menahan rasa sakitnya, ia melihat anjing tersebut masih memakan makanannya dengan lahap.


"Guk, kalau begitu aku pulang dulu ya, terimakasih sudah membantuku menemukan dompetku, semoga kamu suka dengan makanannya. "


Dewi berjalan bertatih tatih, tak lama anjing yang sudah membantunya menggonggong dan berlari padanya, Dewi terkejut melihat anjing tersebut berlari ke arahnya.


"Guk, kenapa kamu menyusul ku? Bukankah aku sudah memberikan makanan anjing untukmu? " tanya Dewi.


Anjing tersebut menggonggong dan mengelus kakinya dengan kuat, seperti tidak ingin membiarkan Dewi pergi tanpanya.


"Guk, aku tidak bisa membawamu, nanti pemilikmu mencari keberadaanmu. " jelas Dewi.


Taksi berhenti di depan Dewi, saat membuka pintu, kemudian anjing tersebut langsung masuk ke taksi hingga membuat supir taksi tersebut ingin mengusir anjing tersebut keluar dari mobilnya.


"Mbak, anjingnya disuruh dibawah saja, nanti joknya kotor. "


"Maaf pak, saya pindahkan dahulu. " ucap Dewi.


Dewi membujuk anjing tersebut untuk turun dari jok, syukurlah anjing tersebut menurut dan duduk di bawah, dan akhirnya Dewi masuk kemudian taksi berjalan menuju tujuan yang sudah dipesan oleh Dewi.


Di tengah perjalanan, anjing tersebut naik ke atas pangkuan Dewi, badan besar anjing tersebut hampir menutupi wajahnya kemudian ia duduk di pangkuan Dewi, Dewi mengelus anjing tersebut hingga sampai tujuan.


......................


Sesampainya di kosan, Dewi membayar biaya taksi dan membawa anjing tersebut keluar dari taksi.


Sebelum masuk ke dalam kosan, Dewi meminta anjing tersebut untuk diam dan tidak bersuara, karena ia tidak ingin membuat suara gonggongan anjing terdengar di kosan, dan beruntungnya, tidak ada satpam yang tengah berjaga di gerbang, memudahkannya untuk menyelinap ke dalam dan memasuki kamar kosannya.


Tetapi entah mengapa seketika Dewi merasakan perasaan kesal kembali, Dewi pulang ke kamarnya, dirinya masih kesal dan ingin melampiaskan kekesalannya.


Saat membuka pintu kamarnya, dengan penuh emosi ia buka kamarnya dan masuk kedalam, kemudian menutup pintunya dengan kuat, hingga Eni yang tengah tidur di kasurnya terkejut dan mencari sumber suara tersebut.


"Astaga, ternyata kamu, Wi, kukira siapa masuk ke kamar. " ucap Eni dengan suaranya yang serak.


Dewi menaruh tasnya dengan kasar, Eni menyadari bahwa sesuatu yang tidak beres terjadi pada temannya, kemudian Eni bangkit dan mulai bertanya apa yang terjadi.


"Wi, ada apa? " tanya Eni.


"Saya ingin hidup seperti biasa, dan itu tanpa gangguan dari om Gusti untuk seterusnya. "

__ADS_1


Eni terkejut, secara mendadak Dewi mengatakan hal tersebut dengan lantang, ia mencoba membujuk Dewi, agar Dewi bisa menuruti Gusti saja, tetapi tidak bisa, Dewi sudah terlanjur sakit hati.


"Saya ingin hidup normal, agar om Gusti tahu, bahwa saya bisa berdiri sendiri tanpa bantuan atau campur tangannya. Saya benci saat diri saya di hina, memangnya saya tidak butuh dihargai? " tanya Dewi penuh kesal.


"Ya, tapi kan nggak kayak gitu juga, Wi, kamu sendiri yang ngomong kalau beberapa hari ini om Gusti lagi nggak stabil emosinya, dan juga, ngapain juga bawa anjing ke dalam kosan? Ntar yang ada kotorannya bikin kamar kosan kamu bau. " tanya Eni.


Dewi mengelus anjing yang ia temukan, dan menggelengkan kepalanya.


"Bahkan anjing bisa menghargai manusia, sedangkan manusia tidak bisa menghargai orang layaknya seekor anjing. " ucap Dewi.


Eni tercengang dengan ucapan dari Dewi, Dewi lebih memuji anjing ketimbang manusia, sepertinya Dewi benar benar kecewa dengan apa yang terjadi.


"Yaudah sih, kalau gitu aku balik ke kamarku lagi lah ya, makasih udah kasih tumpangan kamarnya. " ucap Eni.


Eni juga tak lupa mengelus anjing yang ditemukan oleh Dewi, ia menutup pintu kamar Dewi.


Dewi menghela nafasnya, ia berbaring di kasurnya, sempat lupa dengan luka yang berada di kakinya hingga membuatnya meringis kesakitan, Dewi lupa dengan luka lecet akibat terjatuh.


Di pojokan, terlihat anjing yang ditemukan oleh Dewi sedang duduk menatapnya, Dewi melupakan hewan tersebut karena ia yang sempat kesal dan melampiaskannya kepada barang barang yang ada di kamarnya, Dewi menghampiri anjing tersebut dan mengelus kepalanya.


"Maaf ya, guk, aku melupakan kamu karena kesal. Oh ya, tempat tidur. "


Dewi berlari ke belakang, ia mengambil beberapa kain bekas yang cukup lebar untuk menjadi tempat tidur anjing yang ia temukan.


Selesai mengambil beberapa kain yang ada, Dewi menumpuk kain kain tersebut dan membentuk tempat tidur kecil yang cocok untuk menjadi tempat tidur anjing tersebut.


"Sudah jadi, mari guguk, kamu tidur disini sementara ya. "


Anjing tersebut sangat penurut, bahkan ia tidur di tumpukan kain tersebut dengan nyenyak, itu menjadi waktu Dewi untuk ikut beristirahat, Dewi berjalan ke tempat tidur dan menaruh kakinya dengan perlahan, ia memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas.


......................


Pagi hari telah tiba, Dewi terbangun dari tidurnya, ia merasakan ada sesuatu yang cukup berat sedang berada di bawah kakinya, Dewi perlahan bangun dan melihat siapa yang tidur di bawah kakinya.


"Guguk? "


Anjing tersebut merespon ucapan Dewi, ia menggonggong dan mendekati Dewi, anjing tersebut mencoba untuk memeluk Dewi.


"Guguk, jangan seperti ini... "


Dewi tertawa, ia memeluk anjing tersebut dengan mengelus kepala anjing tersebut, ia meminta anjing tersebut berhenti dan memintanya untuk bangkit dari tempat tidur.


Dewi tidak melupakan sesuatu, ia memberikan makanan anjing untuk anjingnya, dengan lahap anjing tersebut memakan makanan tersebut.


"Kamu begitu menggemaskan, guguk... "


Dewi tersenyum, ia menatap anjing tersebut dengan tatapan riang, ia berjongkok dan mengelus anjing tersebut dengan pelan.


"Rasanya kurang afdol jika terus terusan memanggilmu guguk, mari kita cari nama yang bagus untukmu. "


Dewi bergumam dan mulutnya komat kamit, karena ia sedang mencari nama yang cocok untuk anjingnya tersebut.


"Bagaimana dengan Jelly?! " tanya Dewi spontan.


Tentu saja anjing tersebut langsung menyahuti nama tersebut, tampak senang karena sebuah nama di dapatkannya dari seseorang.


"Kelihatannya kamu suka dengan nama tersebut, baik sekarang nama kamu Jelly ya. "


Selesai membereskan dan memberi makan Jelly, Dewi mengajak Jelly untuk keluar kamar, karena ia tidak ingin Jelly membuat kerusuhan di dalam kamar tanpanya.


Saat menuju ke gerbang, satpam yang tengah berjaga tampak memperhatikan siapa yang mengiringi Dewi dari belakang, bahkan sempat berdiri di depan gerbang.


"Wah, ini anjing punya siapa, neng? " tanya satpam yang sedang berjaga.


"Saya bertemu dengan guguk ini di dekat kampus, pak, awalnya saya kira dia ingin menggigit saya, tapi ternyata dia membantu saya mengambil dompet saya yang terjatuh. Karena kasihan, saya membawanya ke kosan, tapi tenang saja, guguk ini tidak sembarangan buang air besar dan kecilnya di kamar mandi, dia cukup mengerti, pak. " jelas Dewi.


Satpam tersebut menganggukan kepalanya, kemudian menatap ke arah anjing tersebut.


"Terus, eneng mau ke kampus bawa anjingnya? " tanya pak satpam.


Dewi baru terpikir, ia menatap ke arah anjing yang ia temukan, kemudian berpikir kembali.


"Bagaimana ya? Di kampus, tidak ada tempat menitip hewan, pak, kalau saja saya membiarkannya di sekitaran kampus, yang ada malah guguk ini diganggu anak anak di kampus. " jawab Dewi kebingungan.


"Kalau begitu, titipkan saja anjingnya eneng sama saya. " tawar satpam tersebut.


Mendengar hal tersebut tentunya membuat Dewi terbantu, karena ia merasa aman ketika ada seseorang yang cukup ia kenal untuk menjaga peliharaan barunya.


"Benarkah? Bapak ingin menjaga anjing peliharaan saya?! " tanya Dewi meyakinkan.


"Tentu saja, saya juga suka sama anjing, neng, apalagi anjing kayak punya eneng ini, pastinya saya tambah seneng. " jawab satpam tersebut.


Dewi akhirnya terbantu, dengan beberapa makanan anjing ia berikan pada satpam tersebut, ia juga mencoba mengatur jadwal Jelly sementara ia akan berkuliah hari ini.


"Terimakasih, terimakasih banyak pak, bapak sudah membantu saya hari ini, semoga gaji bapak seluas kebaikan hati bapak. " ucap Dewi.


"Iya neng, yasudah, eneng cepat cepat berangkat sana, biar anjingnya saya yang jaga. " ucap satpam tersebut.


"Yasudah, kalau begitu Jelly, nurut sama pak satpam ya, aku mau perrgi kuliah, nanti malam akan pulang. "


Dewi pamit dengan Jelly, sementara Jelly terus terusan menggonggong ke arahnya, Dewi melambaikan tangannya sambil berlari menuju ke halte.


Bus telah sampai, Dewi mendapat bagian di dekat jendela, ia duduk dan menyenderkan tubuhnya di kursi penumpang.


Perlu setengah jam akhirnya Dewi sampai, dengan beberapa mahasiswa mahasiswi lainnya yang ikut berlari ke luar, sebelumnya Dewi membayar biaya tumpangannya dan segera pergi dari bus yang ia tumpangi.


Dewi berlari begitu cepat, hingga ia membuat para mahasiswa menyingkir dan melihatnya yang berlari begitu cepat, Dewi memasuki ruangannya dan segera duduk di kursinya, ia bersyukur dosen belum ada di ruangan tersebut.


......................


Waktu yang begitu panjang, akhirnya Dewi seselesai dengan perkuliahannya, ia menghela nafasnya dan merenggangkan tubuhnya yang terasa lelah itu.


Namun ada yang tidak disadari oleh Dewi, ia menjatuhkan kartu tanda pengenalnya dan tidak ia sadari sama sekali bahwa kartunya terjatuh.


Dewi berjalan menuju ke luar kampus, ia melihat di sekeliling dan mencari bus atau taksi, kebetulan pada hari itu restoran libur, karena pemilik restoran yang mempunyai acara di luar kegiatan.


"Dewi! "


Dewi merespon panggilan tersebut, ia menoleh ke belakang dan melihat siapa yang memanggilnya, seorang laki laki muda yang memanggilnya dari belakang dengan membawa sesuatu di tangannya.


Laki laki tersebut ngos ngosan, ia sedikit membungkuk dan mencoba mengambil nafas, sementara Dewi menatap heran ke arah pria tersebut.

__ADS_1


"Mahasiswi jurusan kedokteran, kan? " tanya laki laki tersebut dengan Dewi.


Dewi menganggukan kepalanya, ia mendekat ke arah laki-laki tersebut.


"Iya, saya Dewi. Maaf sebelumnya, ada apa memanggil saya? " tanya Dewi.


Laki laki tersebut memberikan sebuah barang kepada Dewi. "Kartu tanda pengenalmu jatuh di lorong, aku lari ngejar kamu buat balikin ini. "


Dewi terkejut, ternyata kartu pengenalnya terjatuh, ia benar benar ceroboh hingga kartu pengenalnya terjatuh, syukurlah ada orang baik yang mengembalikan kartu pengenalnya tersebut tanpa ada kekurangan sedikitpun.


"Sebelumnya, saya sangat sangat berterimakasih, karena kamu rela berlari mengejar saya hanya karena kartu tanda pengenal milik saya terjatuh. " ucap Dewi.


Laki laki itu tersenyum. "Ya, sama sama. "


Tak lama laki laki tersebut menyodorkan tangannya, Dewi menatap tangan tersebut.


"Perkenalkan, namaku Daniel, jurusan hukum tepatnya. "


Dewi ngeh, ia menjabat tangan laki laki tersebut, dengan menebarkan senyuman, mereka berdua saling membalas senyum dan berkenalan.


"Daniel? Salam kenal, saya Dewina, saya harap kita bisa berteman dengan baik. " ucap Dewi.


Keduanya senyum, tapi ada perbedaan dari keduanya, bahwa Dewi menatap Daniel dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


"Kamu mau nggak makan siang bareng aku? " tawar Daniel.


Entah mengapa, jantung Dewi berdegup tak karuan, laki laki yang bernama Daniel itu mengajaknya makan bersama.


"Nggak papa, nanti aku traktir, hitung hitung kenalan pertama kita. " ucap Daniel.


Dewi diam, sementara Daniel tetap mengajaknya untuk makan siang bersama.


"Kalau kamu tidak keberatan, boleh saja. "


Baru kali itu Dewi menerima tawaran dari orang yang baru ia kenal, Dewi mengikuti Daniel menuju ke arah parkiran.


......................


Sepanjang perjalanan, Dewi dan Daniel mengobrol bersama, baru berkenalan saja mereka bisa akrab bahkan mengobrol saja mereka sefrekuensi dan nyambung.


Daniel mengajak Dewi makan siang di salah satu saung, tempat makan dengan taman rekreasi dan kolam yang berada di pertengahan pondok, membuat tempat tersebut sangat khas dari tempat makan lainnya.


"Duduk di meja itu ya, kak. "


Daniel dan Dewi diarahkan di salah satu pondok, spot tempat makan mereka yang lebih bagus, karena tak jauh dari tempat rekreasi yang ada.


Pelayan menghampiri mereka berdua, Daniel dan Dewi diberikan papan menu, kemudian Daniel memilih salah satu makanan yang ada di papan menu tersebut, beda hal dengan Dewi, tampak ia sedang memilih makanan, entah karena selera ataupun melihat harga yang tertera di papan menu tersebut.


"Pilih yang mana kamu mau, Dewi, tenang, aku yang bayarin. " ucap Daniel.


Pilihan Dewi tak lain dari nasi goreng seafood, ia tertarik dengan makanan tersebut karena ada beberapa makanan laut yang tercampur dengan nasi tersebut.


"Dewi, cuma itu aja? " tanya Daniel.


Dewi hanya menganggukan kepalanya, sedangkan Daniel melihat papan menu lagi, ia memesan tambahan makanan untuk Dewi.


"Kamu memesan makanan lagi, Daniel? " tanya Dewi.


"Yap, itu untuk kamu. " jawab Daniel.


Dewi terkejut, ia sama sekali tidak ingin memberatkan biaya traktiran Daniel untuknya.


"Sebelumnya, terimakasih, saya akan ingat hal ini. " ucap Dewi.


Menunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang telah dipesan sampai ke meja, Dewi dan Daniel menyantap makanan yang mereka pesan dan mengobrol bersama.


Tibalah saat bercanda bersama, Daniel menatap ke arah Dewi.


"Sebentar, kamu diam dulu. " ucap Daniel.


Dewi diam, sementara Daniel mengusap pinggir bibir Dewi yang sedikit belepotan, tentu saja hal tersebut membuat Dewi salah tingkah.


"Walaupun ini pertemuan pertama kali, saya jujur, kamu cantik. "


Hati wanita mana yang tidak menjadi salah tingkah, Dewi benar-benar salah tingkah dengan ucapan Daniel, baru kali itu ia benar benar dipuji dengan seetulus hati, walaupun itu pertemuan pertama mereka, tetapi Daniel memperlakukannya seperti seorang yang sudah lama kenal.


Butuh beberapa menit akhirnya keduanya selesai makan, Dewi dan Daniel menghabiskan minuman pesanan mereka, kemudian mereka duduk sebentar sebelum berdiri meninggalkan meja tempat mereka makan.


Saat turun dari saung, Daniel mengambil sepatu yang digunakan oleh Dewi, tentu saja Dewi merasa senang, ia merasa seperti dihargai oleh laki-laki, apalagi itu adalah Daniel, cowok jurusan hukum itu yang bersikap manis padanya.


"Terimakasih. " ucap Dewi.


"Sama sama, Dewi. " jawab Daniel.


......................


Menempuh waktu perjalanan yang cukup jauh, Dewi dan Daniel telah sampai di kosan, Dewi turun dari motor dan melepas helm cadangan milik Daniel.


"Saya berterimakasih hari ini dengan kamu, Daniel, saya sangat senang bisa mengenalmu. " ucap Dewi.


Daniel tersenyum. "Sama sama, tak perlu sungkan kalau sama aku ya, kalau bisa kita kenalannya lebih dekat ya, nggak sabar bisa kenalan dekat sama gadis cantik kayak kamu. "


Dewi menjadi salah tingkah, bahkan wajahnya tak dapat disembunyikan, tampak bahwa ia benar benar terbawa perasaan dengan ucapan Daniel barusan.


"Kalo gitu, aku pergi dulu ya. Sampai jumpa, manis. "


"Ya, hati hati dijalan. " ucap Dewi gugup.


Daniel menghidupkan motornya, kemudian ia menjalankan motornya dan menambah kecepatan motornya, sementara Dewi tersenyum malu malu saat ia mengingat Daniel.


Suara gonggongan anjing terdengar dari kejauhan, Dewi menatap ke belakang dan melihat anjing peliharaanya, Jelly dengan cepat berlari ke arahnya dan meloncat ke arahnya, Dewi memeluk Jelly yang bersikap manja dengannya.


"Pak, bagaimana dengan Jelly? Dia tidak nakal selama bersama bapak kan? " tanya Dewi.


"Iya neng, Jeli nya tidak nakal selama dengan saya. " jawab satpam tersebut.


Dewi memeluk Jelly, ia mengangkat Jelly dan mengajak Jelly ke atas, sebelumnya ia berterimakasih dengan satpam yang menjaga anjingnya.


"Jelly, akhirnya aku merasakan menjadi wanita yang dihargai. "


...***********...

__ADS_1


__ADS_2