
...Happy reading š§”...
......................
Keesokan harinya, secara tiba-tiba seekor ayam memanjat jendela kamar Dewi dan berkokok dengan suara yang lantang, hal tersebut membuat Dewi terkejut.
"Dewi, sudah bangun kamu, nak? "
Dewi membuka matanya, ia menatap ibunya yang sedang berdiri di depan kamarnya, membawa sebuah kain yang terlihat seperti songket.
"Bu, ibu ingin ke mana dengan songket yang ibu bawa? " tanya Dewi.
Warsita menunjukkan songketnya, ia menunjukkannya ke arah Dewi, kemudian menaruhnya di dekat meja tempat Dewi menaruh ponselnya.
"Dipakai ya, nak, nanti siang kita akan ke acara pernikahan orang di desa ini. " ucap Warsita.
Dewi beranjak dari tempat tidur, ia melihat songket tersebut dan menaruhnya lagi di meja yang tak jauh dari tempatnya berada, ia beranjak dari tempat tidur dan mencoba untuk merenggangkan tubuhnya yang sehabis bangun tidur.
"Kamu cuci muka dulu di belakang, sehabis itu langsung sarapan, ibu baru saja selesai memasak makanan. " ucap Warsita.
Dewi menganggukan kepalanya, ia beranjak menuju ke kamar mandi, tak lama ia juga merasakan mual, sehingga dengan terburu buru ia berlari ke kamar mandi untuk segera membuang rasa mualnya tersebut.
Dewi mengunci pintu kamar mandi, ia mengeluarkan isi begah perutnya, hingga suaranya terdengar hingga ke luar.
Selesai mengeluarkan isi begah di perutnya, Dewi bersandar di dinding bak kamar mandinya, ia mengambil nafas dan menghela nafasnya, karena ia merasa lega dengan selesai mengeluarkan perutnya yang begah.
"Sudah ingin dua bulan, kenapa sering mual mual terus ya? " tanya Dewi pada dirinya.
Dewi bertanya pada dirinya, dan sekarang ia bangkit dari tempatnya dan membersihkan bekas muntahnya yang hampir berceceran.
Dewi keluar, saat membuka pintu kamar mandi tersebut, ia melihat ibunya yang sedang berdiri dengan ekspresi wajah yang terlihat khawatir, ia terkejut melihatnya.
"Bu, sejak kapan disini? " tanya Dewi.
"Nak, kamu masuk angin? " tanya Warsita.
Tanpa perlu untuk berbohong, Dewi langsung menganggukkan kepalanya, walaupun perasaannya masih panik, hampir saja ia ketahuan.
"Sepertinya karena kamu baru pertama di sini, makanya kamu sampai muntah seperti ini. Maaf kalau ibu tidak memberi kamu selimut tambahan tadi malam. " ucap Warsita.
Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, bu, hanya sekali saja, nanti malam Dewi akan minta selimut tambahan pada ibu, agar tengah malam Dewi tidak merasa kedinginan karena cuaca malam. "
"Baik nak, ingatkan saja ibu untuk memberikan selimut tambahan untukmu. " ucap Warsita.
Warsita mengajak anaknya untuk makan terlebih dahulu, sedangkan ia bersiap siap untuk pergi ke ladang untuk bekerja.
"Ibu pergi ke ladang dulu ya nak, kalau kamu ingin menyusul, datang saja saat hari sudah mulai siang. Jangan lupa bawakan rantang makanan untuk makan bapak nanti siang, dia belum sempat sarapan tadi. " pesan Warsita.
"Baik bu, nanti akan Dewi bawakan. " ucap Dewi.
Dengan membawa keranjang yang berisi golok dan arit, Warsita pergi ke ladang, sedangkan Dewi melanjutkan makan paginya, ia sangat menikmati masakan tersebut, karena makanan buatan ibunya adalah makanan yang sangat ia rindukan selama di kota.
Saat memakan masakan tersebut, Dewi mengingat sesuatu, ia sering merasa bersalah ketika mengingat kondisinya sekarang yang sedang hamil, Dewi seperti sedang menghadiahkan seorang cucu untuk kedua orangtuanya, tetapi ini begitu mengecewakan jika kedua orangtuanya tahu bahwa dirinya sekarang hamil.
Dewi merasa bersalah, ia diembankan tanggungjawab kepada kedua orangtuanya yang mempercayai dirinya, tetapi sayang, ia tidak mengindahkan tanggungjawab tersebut karena tergiur akan uang yang akhirnya membuatnya hancur seperti sekarang.
"Kalau saja ibu dan bapak tahu, mungkin mereka sangat kecewa padaku, anak satu satunya mereka berani menjual harga diri demi uang saat berada di kota. " gumam Dewi.
Dewi beranjak dari tempat makan, kemudian ia mencuci piring yang ada di kamar mandi, ia mencuci piring piring tersebut dengan santai, dan menikmati segarnya air pegunungan yang mengalir di bak mandi yang berada tak jauh darinya.
"Selesai juga, tinggal mandi lagi. "
Dewi membersihkan diri, sebelum ia pergi ke sawah, ia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum pergi ke ladang.
Hanya dengan baju gaun biasa yang ia gunakan, Dewi mengenakan pakaian tersebut, ia melihat ke arah kaca dan terfokus ke arah perutnya, terlihat bahwa perutnya yang sedikit besar dari sebelumnya, akan membahayakan dirinya jika ia bersandar dan langsung menunjuk pada perutnya yang terlihat sedikit besar itu.
"Sepertinya pakai sweater lebih bagus. " ucap Dewi.
Dewi mencari sweaternya yang ada di dalam lemari, kemudian ia menemukan sweaternya, memakainya dan melihat tubuhnya, ia merasa aman untuk sekarang.
"Aman, sekarang tinggal pergi. "
Dewi keluar dari kamarnya, ia mengambil rantang makanan yang sudah diisi makanan untuk kedua orangtuanya, kemudian ia membawanya dan pergi dari rumah.
......................
Sepanjang perjalanan menuju ke ladang, ia melihat hamparan padi yang hijau di sawah yang ada di sekitarnya, tak lupa juga dengan anak anak yang sedang bermain di sungai.
Entah mengapa ketika ia melihat anak anak yang berada di sungai jiwanya terasa beda, seperti ia yang ingin mengatakan bahwa nanti calon anaknya bisa bermain seperti anak anak yang ada di sungai tersebut.
'Semoga calon anak ini bisa segembira itu jika ia sudah lahir. '
Dewi menggelengkan kepalanya, pikirannya terlalu jauh, dan sekarang ia harus segera ke pondok tempat kedua orangtuanya bekerja di ladang.
"Dewina! "
Dewi menatap ke arah pondok, terlihat bahwa kedua orangtuanya tengah duduk bersama dengan petani lainnya, ia berjalan menuju ke pondok tersebut dan segera menghampiri kedua orangtuanya yang berada di sana.
__ADS_1
"Anak gadis ternyata baru pulang, duh jadi tambah cantik dia. " ucap petani lainnya.
Dewi tersenyum, kemudian ia duduk bersama dengan kedua orangtuanya dan menyerahkan rantang makanan yang sudah ia bawa untuk kedua orangtuanya.
"Dewi, sekarang tengah libur kuliah ya? " tanya petani lainnya.
Dewi menggelengkan kepalanya. "Belum, saya belum libur kuliah, hanya kembali ke desa untuk melepas rindu di desa, sudah hampir 5 bulan lebih saya jarang pulang ke desa, bapak dan ibu saya juga sangat merindukan kembalinya saya ke desa. " jelas Dewi.
"Iya, kami sangat merindukan anak kami satu satunya. Tidak ada lagi selain Dewina, jadi tidak heran jika kami sangat merindukan Dewi yang sedang berkuliah di kota. " ucap Taufik.
"Tentu saja merindukan anak, apalagi satu satunya kan, perempuan juga, tidak heran kalian merindukannya. "
"Kalau saja ada tempat kuliah disini, mungkin Dewi tidak perlu jauh jauh untuk pergi ke kota. " ucap Taufik.
Semua orang yang berada di pondok tersebut tertawa, lain halnya dengan Dewi, ia tidak mengerti sama sekali apa yang ditertawakan oleh orang orang tersebut, ia hanya bisa tersenyum karena menghargai obrolan yang sedang dilakukan oleh semua orang yang ada di pondok.
"Dewi, di kota sudah ada pasangannya belum? Eh, apa nama sebutannya itu? "
"Pacar maksudnya? " tanya salah satu petani yang ada di pondok tersebut.
"Nah iya, Dewi sudah punya belum? "
Dewi bingung, ia menggelengkan kepalanya, kemudian ekspresi orang orang yang berada di pondok tersebut menunjukkan ekspresi lega, mereka tampak puas dengan jawaban tersebut.
"Bagus kalau belum, kan lumayan kami bisa menjadi calon mertua kamu, Wi. "
Dewi terkejut dengan ucapan tersebut, yang tadi merasa lega karena ucapan tersebut yang mengkhawatirkannya, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah jodoh menjodohkan.
"Andaikan saja anak saya laki laki, mungkin bisa dijodohkan dengan Dewi. " ucap salah satu petani.
"Dewi, kan kamu sebelumnya jadi teman anaknya ibu, mau tidak kalau kamu ibu jadikan calon menantu? Kan lumayan kalau bisa jadi menantunya ibu, anak ibu kan pegawai bank di luar kota. " tawar salah satu petani.
"Eneng Wiwi, gimana kalau jadi menantunya bapak? Anaknya bapak tuh suka sama kamu, dia kan punya usaha di kota, kan lumayan kamu bisa jadi menantu bapak, iya kan? "
Dewi menjadi bingung ingin menjawabnya, sedangkan kedua orangtuanya juga ikut bingung, karena para petani yang berada di pondok tersebut memperebutkan Dewi.
"Saya duluan yang menjodohkannya dengan anak saya, kenapa ikut memaksa juga? "
Akhirnya perdebatan tersebut mengundang keributan, mereka terlihat tidak ingin kalah, bahkan menunjukkan keunggulan anak anak mereka untuk dicocokan dengan Dewi, Dewi sangat membenci keributan tersebut dan mencari jawaban untuk ia jawab kepada orang orang tua yang sedang adu debat tersebut.
"Maaf, Dewi tidak bisa memilih pilihan semuanya, Dewi ingin kuliah terlebih dahulu, karena Dewi ingin jadi dokter. " ucap Dewi.
Akhirnya semua orangtua yang sedang berdebat terhenti, wajah mereka kembali menunjukkan perasaan kecewa, karena Dewi yang menolak tawaran tersebut, Dewi sebenarnya tidak enak ketika mengucapkan alasan menolak semuanya, tetapi ia tidak mungkin mengambil kesempatan saat orang orang yang sedang berdebat.
"Sudah tengah hari, kita siap siap pergi ke tempatnya bu Sri. "
Semua petani kemudian turun dari pondok, termasuk dengan Taufik dan Warsita yang ikut turun dari pondok, Dewi bingung dengan ajakan tersebut.
Dewi tidak mencerna ucapan tersebut, setelah beberapa lama berpikir, ternyata ia baru sadar, Dewi terkejut dengan ucapan ibunya barusan.
"Si Ayu nikah, bu? " tanya Dewi.
"Iya, jodohnya cepat sampai, makanya dia menikah sekarang. " jawab Warsita.
"Hah, maksudnya? " tanya Dewi.
"Ayu ketahuan berbuat tidak senonoh di dekat sungai dengan pacarnya, seminggu yang lalu ketahuan, dan sekarang akan dinikahkan. " jelas petani lainnya.
Dewi menatap tidak percaya, bahwa anak tetangganya yang menjadi musuhnya sekarang menikah karena skandal, dan sekarang semuanya akan berencana mendatangi acara pernikahan tersebut.
"Ayo nak, kita pulang, bapak dan ibu ingin membersihkan diri sebelum pergi ke acara nikahannya si Ayu. " ajak Warsita.
Dewi mengikuti kedua orangtuanya, ia berjalan bersama dengan kedua orangtuanya menuju ke rumah, dengan cuaca yang terik, tetapi mereka masih merasakan sejuk di desa tersebut.
......................
Suara lagu yang sangat besar, terlihat tenda dan panggung pelaminan berada di sebuah rumah, semua penduduk desa mendatangi acara pernikahan tersebut.
Dewi beserta kedua orangtuanya menghadiri acara pernikahan tersebut, ketiganya disambut baik oleh penduduk lain, termasuk dengan Dewi yang terus menjadi langganan selalu digoda ataupun dipuja oleh pemuda pemuda yang ada di acara tersebut, tetapi Dewi tetap merespon dengan baik pemuda pemuda yang tengah menyapanya.
Dari sudut lain, terlihat di atas panggung, ekpresi bu Sri dan Ayu yang berada di sana sangat tidak senang, Dewi adalah orang yang sangat mereka tidak sukai di desa, tanpa berbuat apapun Dewi masih tetap dibenci oleh keduanya, kadang Dewi sendiri bingung alasan mengapa ia dibenci oleh kedua orang tersebut.
"Kenapa yang jadi sorotannya terbalik ya? Harusnya anak bu Sri yang jadi sorotan hari ini, kini malah anaknya bu Warsita yang jadi sorotan orang orang? " tanya salah satu tamu.
"Saya tidak tahu, tapi saya senang ketika anak saya diperhatikan oleh orang, tinggal Dewi saja yang akan merespon sorotan tersebut. " jawab Warsita sambil tersenyum.
"Duh, tidak mustahil lagi, anaknya bu Warsita kan cantik, anggun, dan anaknya tidak banyak ulah, lain hal sama yang situ, ketahuan digerebek. "
Ajang pujian tersebut berubah menjadi sindir menyindir, memang sedari tadi para tamu, terutama kaum perempuan yang berada di acara tersebut, mereka lebih banyak menyindir acara pernikahan Ayu, karena mereka juga yang tidak menyukai keluarga bu Sri, ditambah lagi mereka yang banyak tertawa dan mengumpat Ayu sebagai anak yang bermasalah.
"Dewi kapan nyusul seperti ini? 'Kan umur Dewi sudah termasuk umur legal, beda halnya sama si anu itu. " tanya salah satu tamu.
Dewi tersenyum, ia menggelengkan kepalanya.
"Dewi sepertinya belum, karena Dewi ingin berkuliah terlebih dahulu, kasihan jika Dewi tidak kuliah, karena itu keinginannya bapak sama ibunya Dewi untuk bisa kuliah dan menemukan nasib yang baik untuk keduanya. " jawab Dewi.
"Aduhai, indah sekali bahasanya. Bagus, nak, memang pendidikan itu penting, tidak heran dari beberapa dari kami ingin kamu menjadi calon menantu kami, pemikiran kamu luas dan cerdas. "
__ADS_1
"Iya nak Dewi, terus semangatkan lagi peluang kamu untuk berkuliah, agar nanti bisa bantu kedua orangtua kamu, itu yang selalu mereka ucapkan kepada kami. "
Berbagai nasehat Dewi terima, bahkan do'a baik ia terima, ia merasa beruntung dapat memuaskan hati kedua orangtuanya.
Tetapi walaupun begitu, Dewi merasa berbagai nasehat dan sebagainya itu seperti nasehat yang tak berarti, karena ia saja sudah diam diam membuat kedua orangtuanya kecewa walaupun belum ketahuan sama sekali, ia merasa berdosa membuat semua orang tertipu dengan dirinya, jika saja mereka tahu yang sebenarnya, maka nasibnya akan sama seperti Ayu, mencoreng nama baik keluarganya sendiri di depan orang lain.
Setelah selesai makan atau semacamnya, sebagian tamu undangan mulai ingin bersalaman, mereka mulai berbaris mengantri untuk bersalaman dengan keluarganya bu Sri.
Raut wajah yang tidak bersahabat, ditambah lagi dengan para tamu undangan yang cipika cipiki mengeluarkan kata sindiran, membuat keluarga bu Sri tidak bersemangat, mereka menjadi bahan leluconan para warga sekitar, dan mereka secara halus dipermalukan oleh penduduk desa yang menghadiri pernikahan Ayu, termasuk keluarga besanan mereka juga.
"Bapak dan ibu duluan saja, Dewi biarkan di belakang kalian. " ucap Dewi.
Kini tibalah saat keluarga Dewi bersalaman, entah apa yang terjadi, dari semuanya tidak ada yang ingin bersalaman dengan keluarga Dewi, bahkan Dewipun tidak disambut ramah dengan keluarga bu Sri, alhasil Dewi menjadi kesal, ia menarik tangan Ayu dan membisikkan sesuatu kepada Ayu.
"Dengar, katakan pada ibu kamu, jika terus terusan seperti ini, saya akan bertindak lain untuk keluarga kalian! " ancam Dewi.
Ayu terlonjak kaget, kemudian Dewi meninggalkannya dan menarik tangan kedua orangtuanya untuk turun ke bawah.
"Nak, apa yang kamu lakukan? Kita ingin bersalaman dengan mereka. " tanya Taufik.
Dewi yang berjalan pergi keluar dari acara pernikahan tersebut dengan menghentakkan kakinya, ia berbalik arah dan melihat ayahnya yang menahannya, kemudian Dewi meminta Taufik untuk melepaskannya.
"Pak, bu, kalian tidak lihat apa yang dilakukan oleh mereka kepada kalian berdua? Dewi sakit hati melihat kalian yang dianggap seolah olah tidak ada, seperti kita sangat memerlukan mereka saja! " tegas Dewi.
"Nak, tapi jangan menunjukkan ekspresi seperti ini, dengan kita seperti ini, maka mereka akan senang untuk menindas kita. " ucap Warsita.
Dewi menunjukkan senyum kecewa. "Bahkan dengan kita tidak melakukan seperti ini, mereka tetap tidak akan berubah, bapak. "
Dewi pergi meninggalkan kedua orangtuanya, gejolak hatinya mewakili sikapnya, ia benar benar merasa panas ketika kedua orangtuanya diperlakukan seperti tadi, bahkan ia benar benar mengucapkan puji syukur karena Ayu yang terkena karma dari keluarga bu Sri yang suka semena mena memperlakukan oranglain.
......................
Waktu malam telah tiba, terlihat Dewi yang selesai mandi, ia merasa segar setelah tidak sempat untuk mandi sore, ia mencari pakaian tidurnya dan mengeringkan rambutnya dengan melilitkan handuk di kepalanya.
Tak lama setelahnya, ponsel milik Dewi berdering, Dewi mengambil ponselnya yang berada di dekat meja, ia melihat siapa yang tengah menelponnya dan nomor tersebut adalah nomor Gusti kemudian Dewi mengangkat telepon tersebut.
"Halo om, ada apa? " tanya Dewi.
'Kapan pulang? ' tanya Gusti.
Tanpa basa basi terlebih dahulu, Gusti langsung menanyakan pertanyaan yang membuatnya berhenti berbasa basi.
"Saya tidak tahu akan pulang hari apa, tapi akan saya usahakan untuk secepatnya pulang ke kota. " jawab Dewi.
'Bagaimana dengan keadaanmu di sana? Apa sekarang masih mual? ' tanya Gusti.
"Ya, sekarang masih, mungkin karena udara disini kurang cocok saat kondisi saya sekarang seperti sekarang, malam saja kadang suhu tubuh saya panas dingin mendadak. " ucap Dewi.
'Usahakan untuk pulang secepatnya, saya tunggu. ' ucap Gusti.
Dewi menghela nafasnya. "Baik, saya usahakan. "
'Dewi, ayo kita makan malam, nak. '
Suara Warsita memanggilnya dari luar, Dewi membalas sahutan tersebut, kemudian ingin mengakhiri panggilan telepon tersebut.
"Om, orangtua saya memanggil saya, nanti saya akan kabari kapan rencananya saya akan pulang. "
'Baik, saya mengerti. '
Dewi mematikan telepon tersebut, kemudian ia meletakkan kembali ponselnya dan sekarang berjalan menuju ke luar kamar untuk menuju ke dapur.
Terlihat kedua orangtuanya yang sedang makan bersama, Dewi tersenyum melihat keduanya, kemudian Warsita mengajaknya makan bersama, Dewi diambilkan nasi beserta lauk pauk yang sudah dibuatkan oleh Warsita, ia merasa sangat dimanja oleh kedua orangtuanya.
"Makan yang banyak ya, nak, kalau ingin lagi, tambah lagi. " ucap Warsita.
Dewi menikmati makan malam bersama kedua orangtuanya, mereka saling berbagi cerita dan tertawa bersama, tak lama Dewi mengingat sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada kedua orangtuanya.
"Ibu, bapak, lusa Dewi pulang ke kota ya. "
Warsita menghentikan makannya, bersamaan dengan Taufik yang berhenti memakan makanannya, Dewi terkejut melihat reaksi tersebut.
"Kenapa bapak dan ibu berhenti makan? " tanya Dewi.
Wajah tidak rela terpancar di keduanya, Taufik dan Warsita menatap Dewi dengan tatapan tersebut, mereka tidak rela jika secepat itu anaknya kembali lagi ke kota.
"Waktu begitu cepat ternyata, kamu sudah ingin pulang lagi ke kota, nak. " ucap Taufik.
Dewi merasa bersalah. "Maaf jika Dewi membuat kalian sedih, tapi ini karena Dewi yang masih kuliah di sana, maaf sudah membuat kalian sedih. "
"Tidak nak, kami tidak sedih, kami hanya merasa rindu akan kehadiran kamu di rumah ini. Tetapi karena ini demi pendidikan, kami siap melepaskan kamu, jaga diri mu baik baik disana ya, nak. " ucap Warsita.
Dewi menganggukan kepalanya. "Terimakasih, bu. "
Taufik dan Warsita melanjutkan makannya, sedangkan Dewi masih merasa bersalah, karena ia yang ingin kembali ke kota.
Dewi juga sebenarnya bimbang, ia merasa bimbang, ia ingin berada di desa, tetapi kandungannya akan terus berkembang, tidak mungkin ia membuat malu kedua orangtuanya.
__ADS_1
Dewi merasa, bahwa semua itu adalah tanggungjawabnya, ia akan menanggung semuanya tanpa membuat kedua orangtuanya malu dengan apa yang terjadi pada dirinya, walaupun berbagai nasehat yang tak berarti untuknya.
...****************...