
Hari berkabung untuk Dewi sekarang, ia kehilangan anjingnya untuk selamanya, Dewi membenarkan kain yang sebelumnya hanya setengah membalut tubuh Jelly, Gusti mengikat kain tersebut agar sempurna sebelum dikuburkan.
Hati Dewi benar benar hancur, bagaimana tidak, kemarin ia masih melihat anjing peliharaannya yang masih terbaring di sampingnya dengan kondisi yang lemah, dan ia sekarang sudah berpisah dengan anjing peliharaannya yang sudah menemaninya selama hampir setahun.
Kenangan yang begitu indah masih terbayang di benak Dewi, Jelly yang selalu menemaninya ternyata adalah anjing tua yang umurnya tidak lama lagi, ditambah lagi ternyata sebelumnya Jelly memiliki riwayat penyakit, namun Jelly tak menunjukkan bahwa ia memiliki penyakit, karena Jelly terkenal anjing yang riang dan sangat aktif.
Gusti mencoba menenangkan Dewi, ia membujuk wanita itu dengan penuh kasih sayang, karena Gusti tidak ingin jika Dewi terlalu lama bersedih, bisa bisa akan berdampak buruk bagi perkembangan janin Dewi sendiri.
"Jelly, cepat sekali kamu meninggalkan diriku... " lirih Dewi.
Gusti kemudian mendekat, ia mengelus punggung Dewi dengan perlahan.
"Kalau kamu ingin Jelly tak jauh dari kamu, saya akan minta asisten saya untuk menguburkannya di tanaman balkon apartemen ini. " ucap Gusti.
Dewi yang tengah menangis memeluk mayat anjing peliharaannya yang terbungkus kain kemudian menatap ke arah Gusti, ia dengan matanya yang membengkak hanya diam, Gusti tahu bahwa Dewi masih merasa sedih karena wanita iru baru saja kehilangan anjing peliharaannya.
"Apakah itu diperbolehkan, om? " tanya Dewi.
"Ya, saya akan mengizinkannya demi kamu, Dewina. " jawab Gusti.
Dewi menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, saya mau, om. "
Gusti kemudian berdiri, ia menelpon seseorang untuk datang ke apartemennya, disamping itu, ia berusaha menenangkan Dewi yang sedang menangis.
"Datanglah kemari, saya membutuhkan kamu sekarang. " ucap Gusti.
Panggilan tersebut berakhir, Gusti menaruh kembali ponselnya, kemudian ia kembali melihat Dewi yang sedang memegang mayat anjing peliharaan tersebut.
"Dewi, jangan disentuh, kamu bisa tertular sesuatu dari mayat anjing peliharaanmu. " ucap Gusti.
Setelah menunggu kedatangan asisten Gusti, Ruben, segera Ruben mengikuti perintah Gusti untuk memakai sarung tangan, ia diperintah untuk menguburkan anjing peliharaan Dewi yang sudah mati itu dikuburkan di dalam pot bunga.
Ruben mengangkat mayat anjing tersebut, di pot bunga besar yang kosong itu perlahan Ruben menaruhnya, kemudian dengan tanah dari pot bunga lainnya Ruben mulai menguburkannya, Dewi hanya bisa menangis ketika perlahan tubuh anjing peliharaannya itu terkubur oleh tanah dan diletakkan bunga hias di atas tanah tersebut.
"Sudah tuan, pot ini diletakkan dimana? " tanya Ruben.
"Letakkan saja di dekat pagar, agar bau dari bangkainya tidak masuk sampai ke dalam. " jawab Gusti.
Ruben menggeserkan pot bunga tersebut sesuai perintah Gusti, setelah selesai membereskan balkon, Ruben melepas sarung tangannya dan mencuci tangannya di dekat wastafel balkon, kemudian ia mendekat ke arah Gusti.
"Tuan, hari ini tuan ada pertemuan dengan perusahaan di seberang kota, jam 11 sudah harus berada di sana. " ucap Ruben.
Gusti menganggukkan kepalanya, di depan Dewi, ia menatap gadis itu dan memegang kedua tangan Dewi.
"Dewina, jika kamu merindukan Jelly, siram saja pot itu. Jika bunganya mekar, anggap saja Jelly hidup dalam bunga tersebut. " ucap Gusti.
Dewi menganggukkan kepalanya. "Baik om, terimakasih sudah membantu saya menguburkan Jelly. "
Gusti dan Ruben kemudian meninggalkan apartemen, sedangkan Dewi mendekat ke arah pot bunga tempat Jelly dikuburkan, ia duduk di samping pot bunga tersebut dan menyentuh tanah yang belum kering itu, Dewi mengelus permukaan tanah tersebut sambil tersenyum.
"Jelly, semoga kamu tumbuh subur di tanah ini ya. "
Dewi beranjak dari balkon, ia memasuki kamar apartemennya dan menutup pintu kaca balkon tersebut untuk menuju ke dalam ruangannya.
.
Di dapur, Dewi mulai satu persatu membereskan semua peralatan yang menyangkut pada Jelly, rencananya ia akan menjualnya dengan harga murah di sosial media, bisa tawar menawar untuk orang yang berminat membeli peralatan milik Jelly.
Sengaja Dewi menjual peralatan milik Jelly, mulai dari mangkuk makan, mainan, dan lain sebagainya agar ia tidak terus terusan merasa sedih karena kepergian anjing peliharaannya itu, lebih tepatnya Dewi tidak ingin larut dalam kesedihan.
Ponsel Dewi kemudian berdering, Dewi berdiri dan mengambil ponselnya yang berada di atas meja, ia mengusap air matanya dan mengangkat telepon tersebut.
"Halo, dengan saya Dewina disini. "
Dewi menelpon seseorang, yaitu orang yang berminat untuk membeli peralatan anjing milik Dewi, dengan cepat peralatan anjing tersebut bisa laku setelah beberapa menit ia mempostingnya di sosial media.
"Bisa, saya akan antarkan lewat kurir ke sana, pembayaran bisa lewat transaksi saja ya. "
__ADS_1
"Baik, terimakasih sudah membeli barang saya. " sambung Dewi.
Dewi mematikan telepon tersebut dan meletakkan ponselnya kembali di sampingnya, ia melanjutkan untuk menyusun peralatan tersebut di dalam kotak kardus, kemudian merekatkannya dengan lem.
Dewi kembali melihat kotak tersebut, ia akan menjualnya kepada orang lain, dan semua kenangan yang ada di peralatan tersebut akan dibeli oleh pemilik baru, ia berharap barang barang milik anjingnya itu bisa berguna untuk anjing peliharaan lainnya.
"Terimakasih. "
Dewi menutup pintu apartemennya setelah ia memberikan paket berisi peralatan anjing untuk diantarkan pada pembelinya.
Suasana apartemen sangat sunyi, Dewi duduk di atas sofa, ia menyenderkan tubuhnya di sofa dan mengelus perutnya yang sedang mengandung itu, pikirannya tak jauh dari kehilangan anjing peliharaan yang sangat ia sayangi.
.
Beberapa hari berlalu, setelah kepergian Jelly, Dewi tampak murung dan tidak terlihat bersemangat, hal tersebut terlihat dari kamera pengawas di apartemen, dan Bella tengah memantau gadis tersebut dengan ekspresi wajahnya yang terlihat berpikir keras.
"Kenapa dia banyak diam saja? " tanya Bella.
"Maaf sebelumnya, nyonya, dia habis kehilangan anjing peliharaannya, makanya sekarang terlihat selalu murung dan jarang beraktivitas sama sekali. " jawab asisten Bella.
"Apa Gustiawan sudah tahu? " tanya Bella.
"Sudah nyonya, sebelumnya tuan Gusti dan Ruben datang ke sana untuk melihat Dewi disana, untuk menguburkan anjing peliharaannya, nyonya. " jawab asisten Bella.
Bella terus memantau pergerakan Dewi yang daritadi tidak berubah sama sekali, tak lama setelahnya Bella pergi dari ruang pengawas CCTV tersebut.
Bella menghampiri ruang kerja milik Gusti, terlihat di dalam ruangan tersebut adalah suaminya dan sang asisten, Bella berjalan menghampiri Gusti dan tanpa berpikir panjang ia menarik lengan Gusti, Gusti yang sedang duduk di kursi meja kerjanya terkejut melihat Bella yang menarik lengannya dan ia mengikuti Bella yang menariknya menuju ke luar.
"Lepaskan lengan saya. "
Gusti melepaskan lengannya dari tangan Bella, ia melipat kedua tangannya dan menatap Bella dengan tatapan ketus.
"Ada apa? Kamu ingin mengajak saya ribut lagi? " tanya Gusti.
"Tidak untuk kali ini, namun saat ini anda perlu tahu tentang keadaan simpanan anda, Gustiawan. "
"Kamu memantau Dewina dari kamera pengawas? " tanya Gusti dengan tatapan tak percaya.
Gusti berdecak, sedangkan Bella menghela nafasnya.
"Cukup, saya akan menjelaskan intinya saja, apa sekarang anda melihat keadaan simpanan anda yang sedang hamil itu di apartemen milik anda? "
"Belum sama sekali, saya sibuk. " jawab Gusti.
"Dasar laki laki pecundang, sudah menghamili anak orang, sekarang tidak tahu malu ingin lari dengan alasan sibuk, sampai lupa dengan kondisi gadis yang sedang mengandung anaknya kini seperti orang yang tidak memiliki gairah hidup. " sindir Bella.
Gusti terpacu emosinya, ia memukul dinding dan menatap dengan tatapan kesal ke arah Bella.
"Kalau begitu, katakan, apa maumu? " tanya Gusti.
"Kesadaran diri andalah yang perlu anda tanyakan. " jawab Bella dengan singkat.
"Oh, tampaknya kamu sangat peduli dengan Dewina, ada apa sehingga kamu terlihat peduli dengan selingkuhan saya? " tanya Gusti dengan nada menantang.
"Women's feelings, you must know, right? " tanya Bella.
Gusti menghela nafasnya, ia menganggukkan kepalanya.
"Ya, i see, madam. " jawab Gusti.
"Kalau begitu, silahkan, saya akan memantau anda dari kamera pengawas, Gustiawan. " ucap Bella.
Tanpa berpikir panjang, akhirnya Gusti memutuskan untuk pergi dari rumahnya, ia hanya berpergian sendiri tanpa ada asistennya yang mengikutinya untuk segera pergi menghampiri Dewi yang berada di apartemennya.
"Rasanya sangat susah untuk menelan makanan ini. "
Dewi melepehkan makanan yang ia makan, keinginan ia untuk makan sekarang mulai mengurang, ia masih memikirkan peliharaannya yang sudah tiada tanpa memikirkan kondisinya sekarang.
__ADS_1
Pintu kamar apartemen Dewi kemudian berbunyi, Dewi yang berada di dapur kemudian beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri ruang utama untuk melihat siapa yang membuka kamar apartemennya dengan kartu akses dari luar.
Saat berjalan ke ruang utama, Dewi menghampiri orang yang masuk ke kamar apartemennya, ia melihat Gusti yang membawa sesuatu dan keduanya saling berhadapan.
"Om Gusti, ada apa? " tanya Dewi.
"Tidak, saya hanya mengunjungimu saja. " jawab Gusti.
Gusti memberikan tas kantong kertas tersebut pada Dewi, sekilas ia melihat mata Dewi yang sembam, Gusti menahan lengan Dewi dan ia menyentuh wajah Dewi.
"Kamu habis menangis? " tanya Gusti.
"Ah, apa saya terlihat habis menangis? "
"Anak kecil saja bisa tahu kalau mata sembam itu berarti menangis. Kenapa, kamu masih mengingat Jelly lagi? " tanya Gusti lagi.
Dewi menganggukkan kepalanya.
"Sudah, jangan banyak menangis, sekarang, kamu siap siap untuk ikut saya ke suatu tempat. " ucap Gusti.
"Kita ingin kemana, om? " tanya Dewi.
"Saya akan membawa kamu ke toko hewan. " jawab Gusti.
Dewi kembali murung, Gusti memegang bahu Dewi.
"Saya ingin menghiburmu, Dewina. Sekarang kamu bersiap siaplah, kita akan kesana untuk menyembuhkan rasa sedihmu. " ucap Gusti.
Dewi menuruti ucapan Gusti, wanita itu bersiap siap untuk diajak menuju ke toko hewan untuk melihat hewan peliharaan yang ada di toko hewan yang akan dituju oleh Gusti dan Dewi.
Suara gonggongan hingga mengeong terdengar di toko hewan yang sedang dikunjungi, Dewi dan Gusti melihat bermacam macam hewan peliharaan yang ada, selain anjing dan kucing, mereka juga melihat peliharaan berupa unggas dan reptil yang berada di toko hewan tersebut.
"Kamu bisa lihat anjing anjing yang ada di toko ini, Dewina. " ucap Gusti.
Gusti mengajak Dewi untuk melihat anjing anjing yang dijual di toko hewan, ia melakukannya karena tidak ingin Dewi kembali bersedih.
Sepanjang menatap hewan peliharaan yang ada, tatapan Dewi terlihat sedih, terkadang ia melihat anjing yang hampir mirip dengan Jelly, namun ia memilih untuk menunduk dan terus berjalan.
"Dari sekian banyaknya anjing peliharaan yang ada disini, bagi saya tidak ada yang bisa menggantikan Jelly, om. "
Perasaan Dewi kembali kalut, Gusti mencoba menenangkan gadis tersebut, ia tidak ingin jika Dewi terus terusan menangis karena mengingat Jelly terus menerus, dan mencari cara lainnya untuk bisa menenangkan Dewi.
.
"Dewina, maaf jika saya tidak bisa menemanimu untuk jangka waktu yang lama disini. "
Gusti mengantarkan Dewi sampai di lobby gedung apartemen, sementara Dewi dengan barang barang dan makanan yang dibawanya ia menunjukkan ekspresi yang masih sedih, Gusti saja sampai bingung bagaimana cara untuk ia bisa menghibur gadis tersebut.
Gusti mengambil sesuatu di bagasi dalam mobilnya, sebuah kalung anjing berwarna merah ia berikan kepada Dewi, Dewi yang melihat hal tersebut kemudian melihat Gusti yang memberikannya sebuah kalung anjing yang ia kenal, bahwa kalung tersebut milik anjing peliharaannya, Jelly.
"Dewina, mungkin ini tidak bisa menghiburmu terlalu banyak, namun saya menemukan kalung anjing ini ketika Bella meminta pekerja pindahan mengangkut semua barang barangmu ke apartemen ini. Kamu bisa simpan ini, saya tidak bisa menemani kamu terlalu lama, karena masih ada pekerjaan yang harus saya urus. "
Gusti memberikan kalung anjing yang sebelumnya dimiliki oleh Jelly, Dewi menerima kalung tersebut, sementara Gusti berjalan menjauh dari Dewi menuju ke luar gedung apartemen tersebut.
Air mata Dewi kembali menetes, dengan membawa barang barang yang dibawanya, Dewi kemudian berjalan menuju ke lift untuk segera pergi ke kamar apartemennya.
Lampu hias malam menghiasi sebuah ruang gelap, seorang gadis dengan membawa beberapa makanan kemudian memasuki ruangan tersebut, sebelumnya Dewi sudah menetapkan ruang kerja milik Gusti itu ia gunakan sementara untuk menjadi tempat ia mengenang Jelly dengan proyektor yang ada di ruangan tersebut.
Dewi menghidupkan proyektor yang ada di ruang kerja apartemen milik Gusti, ia menyambungkan kabel data tersebut ke proyektor, dan membenarkan posisi pencahayaan dari proyektor tersebut.
Sebuah video diputar, merupakan video yang diedit oleh Dewi menjadi satu, hingga membentuk sebuah video kompilasi tentang Jelly dan dirinya.
Sepanjang video itu diputar, banyak peristiwa yang dialami selama hampir setahun Jelly bersamanya, dimulai dengan Jelly yang bermain saat ia berada di kosannya yang lama, Jelly mengenal ruang apartemen saat pertama kali Dewi tinggal di apartemen saat ia sedang hamil muda, Jelly yang riang diajak berpergian, hingga seminggu yang lalu Jelly melakukan tindakan konyol.
Semua kompilasi video itu membuat Dewi tersenyum dan tertawa, namun saat di akhir, ia kembali meneteskan air matanya, kenangan terakhir itu membuatnya kembali menangis, karena ia sekarang harus menerima kenyataan bahwa anjingnya itu sudah mati.
"Jelly, hanya kenangan ini yang aku punya, terimakasih sebelumnya sudah ingin menemaniku hingga sebentar lagi anakku akan lahir, semoga nanti kita bisa bertemu ya. "
__ADS_1
Dewi mematikan proyektor tersebut, ia merapikan ruang kerja milik Gusti, mematikan lampu kemudian menutup pintu ruangan tersebut.
*********