Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
72: Berbeda


__ADS_3

4 tahun berlalu, bayi yang dulu masih kecil dan mungil itu telah beranjak menjadi anak anak, Galuh kini sudah berusia 6 tahun itu mulai mengerti dengan bermain dan berinteraksi, terlebih lagi ia lebih banyak mengenal baby sitternya saja.


"Mbak Arin, Galuh perginya sama kakak Gita dan kakak Gina ya? " tanya Galuh.


Arin yang membantu Galuh untuk memasangkan seragam kemudian menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum ia menyiapkan keperluan tuan mudanya itu untuk berangkat ke sekolah, tahun ini Galuh akhirnya masuk taman kanak kanak, hal tersebut membuat Arin sebagai baby sitternya tidak menyangka sudah hampir 6 tahun ia mengabdi dan merawat Galuh layaknya seperti anaknya.


"Sudah, sekarang dek Galuh ke bawah untuk sarapan ya, sebelum pergi ke sekolah, Galuh harus sarapan dulu. " ucap Arin.


Galuh menganggukkan kepalanya, ia keluar dari kamarnya bersamaan dengan baby sitternya, Arin membawa tas milik Galuh bersamaan ia berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamar Galuh.


Galuh sangat senang ketika hari pertama sekolahnya, apalagi saat ia mendengar bahwa akan ada teman teman baru yang ada di TK, membuatnya begitu bersemangat untuk pergi ke sekolah.


Menuju ke meja makan keluarga, terlihat keluarga Gusti sedang menikmati sarapan mereka, Gita yang sedang makan kemudian menatap ke arah Galuh.


"Galuh, hari pertama bersekolah ya? " tanya Gita.


"Iya kakak, Galuh sekolah hari ini, Galuh akan bertemu teman teman nantinya. " jawab Galuh.


Galuh berusaha menaiki kursinya, dibantu oleh baby sitternya, akhirnya Galuh mendapatkan posisi yang bagus untuknya duduk di kursi meja makan, dan sudah disediakan sarapan untuknya.


"Dek Galuh, makannya yang rapi ya. " ucap Arin.


Di meja makan keluarga, terlihat kelima anggota keluarga, yaitu Gusti, Bella, Gita, Gina dan Galuh duduk di satu meja yang sama, mereka tampak menikmati sarapan pagi bersama.


"Kakak Gita, kakak sama seperti Galuh tidak? "


Galuh memulai obrolan, Gita yang namanya dipanggil itu kemudian menoleh ke arah adik bungsunya itu.


"Memang apa bedanya, dek? " tanya Gita.


"Kakak suka sayur, kalau Galuh suka sosis goreng. " jawab Galuh.


Gita tersenyum, ia menghargai hiburan dari adik bungsunya itu, kemudian Gina ikut nimbrung dalam obrolan tersebut.


"Kakak suka dumpling juga sama kayak Galuh, apa kakak Gina bisa jadi temannya kakak? " tanya Gina.


"Boleh, Galuh senang berteman dengan kakak. " jawab Galuh.


Arin yang membantu Galuh memakan makanannya kemudian menatap ke arah kedua majikannya, terlihat bahwa Bella sangat membenci Galuh yang sedaritadi mengobrol, ia mengerti bahwa nyonya nya itu tidak suka dengan momen tersebut.


"Dek Galuh, makannya jangan sambil berbicara ya, tidak baik kalau makan sambil berbicara. " ucap Arin.


"Baik, mbak Arin. " ucap Galuh.


Selesai memakan sarapan, Gita, Gina dan Galuh akhirnya berangkat ke tujuan mereka masing masing, walaupun ketiganya pergi bersama dengan satu mobil.


Hari pertama Galuh bersekolah ia ditemani oleh Gita untuk diantar ke para guru guru yang menunggu kedatangan anak anak murid di gerbang, Galuh mengenggam tangan Gita dan ia berjumpa dengan gurunya.


"Halo bu guru, perkenalkan adik saya Galuh. " ucap Gita.


Galuh melepas tangannya, ia bersalaman dengan guru gurunya dan mengenalkan dirinya di depan para guru guru TK yang menyambutnya dari gerbang.


"Selamat pagi, bu guru. " sapa Galuh.


"Selamat pagi, Galuh. Wah, Galuh benar benar hebat, masuk sekolah dengan gembira seperti ini. " puji salah satu guru.


Setelah menyapa, Galuh diarahkan ke dalam kelas, sebelumnya ia berpamitan dengan Gita dan tak lupa mencium pipi kakaknya itu, Gita melihat adik bungsunya itu berlari ke dalam kelasnya dengan riang, ia menatapnya dengan tatapan bahagia.


"Cepat sekali kamu besar ya, Galuh. " gumam Gita.


Gita kembali ke dalam mobilnya, pintu mobil tertutup otomatis, dan sekarang pergi dari halaman taman kanak kanak tersebut.


"Kak, nanti setelah pulang ke kampus, kakak akan mengerjakan pekerjaan lagi? "


Gina memulai obrolannya, Gita yang sedang melihat suasana hilir kota dari kaca mobilnya kemudian menatap ke arah adiknya itu.


"Rasanya kakak tidak ingin kerja dulu hari ini, kakak ingin menghabiskan waktu beristirahat, sesekali kakak akan bermain dengan Galuh atau pergi berbelanja dengan kamu, Gina. " jawab Gita.


"Masalah berbelanja itu saat hari libur bisa, lagipula setelah pulang sekolah, aku juga ingin segera beristirahat, lelah rasanya untuk melakukan aktivitas lain. " ucap Gina.


Gita kembali merenung, Gina yang melihat kakaknya itu tidak seperti biasanya kemudian menegurnya, Gita tersadar dan melihat ke arah Gina.


"Ada apa, kak? " tanya Gina.


"Tidak, kakak hanya terpikir dengan Galuh, rasanya cepat sekali dia besar, padahal kemarin kakak masih ingat dia selalu menyambut kakak kalau kakak habis pulang dari kampus. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. " jelas Gita.


Gina mengerti, ia menganggukkan kepalanya.


"Ya, memang cepat tumbuh kembangnya. Tadi saja tingginya sudah sebatas pinggangku, mungkin kalau sudah remaja, Galuh lebih tinggi daripada kita, kak. "


"Iya, semoga juga dia menjadi anak yang sehat dan cerdas. " ucap Gita.


.


"Konsepnya tolong diperhatikan. "


"Pita, saya minta pita nya berwarna peach, sesuai dengan warna kesukaan anak saya. "


Di halaman belakang rumah, tampak Bella sedang melakukan sesuatu di belakang rumah, dengan beberapa orang yang tampak sedang mendekor setengah halaman tersebut dengan sesuatu, tepatnya panggung mini untuk acara ulangtahun Gita nantinya.


Dari dekorasi yang sudah ditentukan oleh Bella begitu indah, ia tidak ingin melewatkan momen ulang tahun disaat anak sulungnya itu akan berusia 22 tahun, dan juga akan segera lulus dari dunia perkuliahan, membuatnya sebagai seorang ibu ingin mengabadikan momen tersebut dengan indah serta ia akan membuat kejutan untuk anak sulungnya itu.


"Nyonya, suvenir dan semacamnya akan diletakkan dimana? " tanya salah satu asisten.


"Taruh saja di dekat meja prasmanan, jika ada tamu yang datang nantinya, berikan. " jawab Bella.


Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang, bahkan sekarang Bella bisa meninggalkan halaman belakang itu tanpa memperhitungkan sama sekali kebutuhan lainnya, ia ingin segera kembali bekerja, dan akan kembali melihat hasilnya jika pekerjaannya sudah selesai.


Saat berjalan ke arah tangga, dari kejauhan asisten rumah berlari ke arah Bella, dengan berteriak memanggil nama nyonya di rumah yang sangat luas itu, Bella menatap ke arah asisten yang tadi memanggilnya.


"Nyonya, tunggu sebentar. "


"Ya, ada apa? " tanya Bella.


"Ini nyonya, ada kiriman pesanan milik nona Gina, baju yang sudah dijahit sebelumnya untuk persiapan ulangtahun nona Gita nanti malam, ditujukan untuk nyonya saja sekarang sembari nona Gita sedang bersekolah. " jelas asisten tersebut.


Bella langsung mengambil totebag besar yang berisi baju baju pesanan anak keduanya, rencananya itu adalah baju couple sekeluarga saat tengah merayakan acara ulangtahun anak sulungnya yang senada dengan tema dekorasi, Bella tidak sabar melihat baju yang sudah dipesan dari toko kepercayaan keluarga mereka.


"Saya akan ke atas membawanya, kamu kembali bekerja sekarang. " ucap Bella.

__ADS_1


"Baik nyonya. "


Bella membawa totebag itu menuju ke atas, di ruang tas miliknya, ia meletakkan totebag tersebut di atas meja, ia duduk di kursi sambil membuka satu persatu baju serba peach yang ada di dalam totebag tersebut, ia meraih sebuah jas dan kemeja berwarna peach untuk Gusti, Long-dress untuknya, Bell-sleeve dress untuk Gita, Midi-dress untuk Gina, ia mampu membayangkan bagaimana bagusnya pakaian yang akan dikenakan nanti malam untuk sekeluarga.


Saat tengah asyik melihat keempat pakaian yang ada, Bella berencana untuk menaruh semua bajunya kembali dan memanggil asistennya, namun saat tangannya meraih ke dalam totebag tersebut, Bella menyentuh sebuah baju yang ada, ia merasa heran kemudian mengambilnya dari dalam totebag tersebut.


Tangan Bella meraih sebuah satu set pakaian jas untuk anak kecil beserta dasi kupu kupu berwarna hitam di dalamnya, melihat itu ia baru ingat akan sesuatu, namun saat mengingatnya, raut wajahnya langsung berubah, ia sangat benci jika sesuatu yang ia lihat dan pegang itu berkaitan dengan Galuh, tampaknya kedua anaknya juga tak melupakan bocah laki laki satu itu.


"Kenapa Gina harus membeli baju untuk anak itu juga?! "


Bella ingin membuang set pakaian jas itu, saat tangannya meraih pakaian itu, ia mengurungkan niatnya, dan memilih menaruhnya lagi di dalam totebag itu, tentu saja di tempat semula.


"Aku tidak ingin menghancurkan hari ulangtahun anak sulungku, kali ini kamu selamat, anak sialan. " umpat Bella.


Asisten Bella akhirnya datang, mereka diperintahkan untuk segera membereskan pakaian yang ada di dalam totebag tersebut, dan kembali meninggalkannya untuk segera berangkat kerja.


Malam hari telah tiba, semua orang sudah datang menghadiri acara ulangtahun Gita, mulai dari keluarga, teman teman sekolah dan kuliah Gita, serta rekan kerja Gusti dan Bella ikut memenuhi undangan tersebut.


Sosok utama, yaitu Gita, bersama dengan keluarganya kemudian merayakan ulangtahun dengan meriah, tepuk riuh serta ucapan selamat dilontarkan kepada gadis yang bernama Anggita itu di pesta ulangtahunnya.


"Selamat ulangtahun, Gita. "


Sorak bahagia di halaman belakang rumah, dengan berbagai ornamen dan hiasan ulangtahun yang begitu mewah dan indah membuat hari ulangtahun Gita begitu berharga, tak lupa juga teman teman dan rekan kerja orangtuanya yang menghadiri acara ulangtahun tersebut.


Galuh yang berada tak jauh dari keluarga juga ikut merayakannya, Gina yang mengambil alih menggendong Galuh dari Arin, karena ia ingin adiknya yang kebetulan memakai pakaian yang senada malam ini juga ikut bersama dengan keluarga mereka juga.


Sesi pemotongan kue selesai, para tamu dipersilahkan untuk masing masing dapat menikmati makanan yang telah disediakan, sementara Gita menerima ucapan selamat dari tamu tamu yang hadir.


"Kakak, Galuh mau turun. "


Gina menatap ke arah Galuh.


"Galuh mau turun? Sudah capek digendongnya? " tanya Gina.


"Tidak, Galuh mau seperti yang lain, mengucapkan selamat ulang tahun untuk kakak Gita. " jawab Galuh.


Gina mengerti, ia membujuk Galuh untuk tetap digendongan nya sampai berjumpa dengan kakak mereka, Gina membawa Galuh menuju ke panggung untuk mendekat ke arah Gita.


"Sekarang boleh turun, kakak tinggal ya, Galuh langsung hampiri saja kak Gitanya. " ucap Gina.


"Baik kak, terimakasih. "


Galuh perlahan berjalan ke arah Gita, badannya yang tidak kecil itu tidak membuatnya tenggelam dalam kumpulan orang dewasa, dan ia segera menangkap pinggul Gita kemudian memeluknya.


Gita yang awalnya menyambut orang orang kemudian terkejut ketika pinggulnya dipeluk, namun bukan dari sebuah tangan, namun pelukan dari bawah tubuhnya, ia menatap ke bawah dan melihat adiknya yang tengah memeluk pinggulnya sambil tersenyum.


"Kakak, selamat ulang tahun. " ucap Galuh.


Gita yang melihat hal tersebut kemudian tersenyum, ia langsung menggendong adiknya Galuh yang berumur 6 tahun itu dalam pangkuannya, tak lupa juga ia mencium pipi adiknya dengan lembut.


"Iya, sama sama, terimakasih sudah mengucapkannya untuk kakak. "


Di saat kedua saudara dengan jarak umur yang jauh itu bersama, teman teman Gita menghampiri mereka, mereka melihat Gita sambil mengucapkan selamat untuk Gita, kemudian pandangan mereka beralih ke arah Galuh.


"Ini adik kamu, Gita? " tanya salah satu teman Gita.


"Iya, kenalin namanya ya, dek. " jawab Gita sambil meminta Galuh mengenalkan dirinya.


Galuh begitu menarik perhatian, teman teman Gita tersenyum ketika melihat bocah laki laki itu menyambut mereka dengan ramah, serta mengenalkan nama di depan mereka.


"Imutnya. " puji teman teman Gita.


"Gita, adiknya boleh kami gendong? Pengen gendong aku. " tanya salah satu gadis.


Gita menatap ke arah Galuh.


"Bagaimana? Galuh mau digendong teman temannya kakak? " tanya Gita.


Galuh menganggukkan kepalanya.


"Boleh, kalau Galuh nggak bikin berat badan temannya kakak. " jawab Galuh.


Jawaban Galuh membuat hati teman teman Gita meronta ronta kesenangan, mereka berebut ingin menggendong bocah laki laki yang berumur 6 tahun itu dalam gendongan mereka, sedangkan Galuh begitu antusias ketika orang orang baru begitu senang mengajaknya berinteraksi sembari mengobrol asyik, Gita juga senang ketika adiknya itu dapat berinteraksi dengan baik kepada semua orang.


.


Beberapa hari berlalu, setelah perayaan ulangtahun Gita diadakan, Galuh selalu bermain dengan kalendernya, entah mengapa kalender menjadi sebuah daya tariknya sekarang untuk melihat suatu tanggal yang menjadi momen yang ditunggu.


"Dek Galuh, sedang lihat apa? "


Baby sitter Arin menghampiri Galuh yang terlihat sangat asyik melihat kalender, Galuh berbalik dan tersenyum ketika ia melihat baby sitternya yang bertanya kepadanya, Galuh tidak menyembunyikannya dan langsung menunjukkan sebuah kalender yang selalu menjadi daya tariknya kepada baby sitternya itu.


"Galuh menunggu hari ulangtahun punya Galuh, mbak Arin, Galuh tidak sabar untuk merayakannya seperti kakak Gita kemarin. " jawab Galuh.


Arin mengerti, ia menganggukkan kepalanya seraya sambil tersenyum menatap bocah itu.


"Mbak juga ingin merayakan hari ulangtahun dek Galuh yang ke 6 tahun, pasti semua teman teman adek Galuh diundang untuk merayakan ulangtahun. " ucap Arin.


"Iya, Galuh ingin merayakannya dengan teman teman Galuh, pasti lebih meriah. " ucap Galuh.


"Sudah, kalau begitu, adek Galuh harus berbuat baik kepada semuanya, biar mama dan papa adek Galuh bisa merayakannya untuk dek Galuh. " ucap Arin.


"Baik, Galuh akan jadi anak baik, biar mama dan papa bisa merayakan ulangtahun Galuh. "


Galuh begitu bersemangat dan sangat berantusias menanti ulangtahunnya, baby sitternya juga ikut menyenangkan hati bocah laki laki itu, karena merayakan sebuah ulangtahun adalah impian anak anak seumuran Galuh saat ini.


Tiba saat yang dinanti nanti akhirnya tiba, Galuh selalu tersenyum untuk hari itu, karena ia tidak sabar jika papa dan mamanya akan membuat kejutan persis seperti Gita kemarin, dan juga akan memberitahukan teman teman di sekolahnya jika hari ini adalah hari ulangtahunnya.


"Mbak Arin, apa undangannya nanti papa dan mama sebarkan untuk teman teman Galuh nanti? " tanya Galuh.


"Semoga papa dan mama dek Galuh mengundang semua teman teman, agar ulangtahun dek Galuh meriah. " jawab Arin.


Galuh berangkat ke sekolah seperti biasa, bersama kedua kakaknya, kemudian terpisah dan masuk ke kelasnya, saat waktu istirahat tiba, Galuh berkumpul bersama teman temannya untuk menikmati bekal yang mereka bawa bersama dari rumah masing masing.


"Teman teman, hari ini Galuh ulangtahun loh, kalian mau tidak rayakan ulangtahun Galuh? " tanya Galuh.


"Wah, Galuh mau ulangtahun? "


"Asyik, kami mau ke ulangtahun Galuh, boleh? "

__ADS_1


"Boleh, Galuh senang kalau kalian datang. " jawab Galuh.


"Undangannya ada, Galuh? "


Galuh kebingungan, ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada, undangannya belum ada, mama sama papa Galuh belum buat undangannya. " jawab Galuh.


"Yahh, kalau begitu, nanti saja memberitahukannya kepada kami, Galuh. "


"Iya, nanti Galuh beritahu kalau undangannya ada. " ucap Galuh.


.


Sepanjang hari ini Galuh menunggu, wajahnya tak luput dari senyuman, ia tidak sabar nanti malam akan dirayakan ulangtahun, dan sekarang ia baru terbangun dari tidurnya untuk menunggu waktunya tiba saat ia akan merayakan ulangtahun nya.


Menunggu hingga malam tiba, Galuh akhirnya merasakan keanehan, terlihat dari ruang makan keluarga hanya ada Gusti dan Bella tengah memakan makan malam mereka dengan tenang, kedua orangtuanya tidak sama sekali menyiapkan pesta ulang tahun seperti sebelumnya merayakannya untuk kakaknya.


Di meja makan, hanya Galuh, Gusti dan Bella saja, kedua kakaknya entah kemana, mungkin saja Gita sang kakak tengah sibuk berkuliah, sedangkan Gina kakak keduanya tengah les piano di ruang lantai tiga rumah tersebut.


Galuh merasa kedua orangtuanya menatapnya dengan tatapan tidak senang, Galuh juga tidak berani untuk bertanya kepada papa dan mamanya itu, terutama dengan Bella, ia begitu takut untuk bertanya dengan ibunya itu, apalagi mengajaknya mengobrol.


Beberapa menit berlalu, tidak ada obrolan sama sekali, Gusti dan Bella meninggalkan meja makan, sedangkan Galuh masih memakan beberapa suap makanan lagi ke dalam mulutnya, ia merasakan kejanggalan kali ini, memang akhirnya ulangtahun nya tidak dirayakan sama sekali.


"Dek Galuh, makannya sudah selesai? Mbak mau menaruh piring kotornya di lantai bawah untuk dicuci. " tanya asisten tersebut.


Hati Galuh sebenarnya sedih, segera ia menyelesaikan makannya untuk segera menuju ke atas, ia ingin segera menghampiri baby sitter nya yang berada di atas.


Saat Galuh menaiki tangga, Arin dan asisten Gina yang ingin menuruni tangga kemudian menghampiri anak majikannya itu.


"Dek Galuh, sudah selesai makannya? " tanya Arin.


Arin melihat wajah Galuh, terlihat raut wajah bocah laki laki itu tampak sedih, kemudian Galuh mendekati baby sitternya dengan wajah yang memelas kasihan.


"Dek Galuh, ada apa? " tanya Arin.


"Mbak Arin, kenapa Galuh tidak dirayakan ulangtahun setelah kakak Gita? "


Pertanyaan tersebut membuat Arin menjadi terenyuh, ia tahu perbedaan anak laki laki itu dengan anak sulung perempuan majikannya, Galuh begitu tidak dianggap, namun sebagai baby sitter ia hanya bisa menyembunyikan kesedihan hati nya dan mencoba menghibur Galuh.


"Dek Galuh ingin kemana? " tanya Arin.


"Galuh ingin tidur saja, mbak Arin. " jawab Galuh.


Galuh naik ke atas, menuju ke kamarnya, bocah laki laki itu masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya, sedangkan Arin ingin segera menyusul Galuh.


Dari lantai 3, Gina turun menuju ke lantai kedua, ia melihat Arin yang berdiri di depan kamar Gina, sedangkan terlihat Gita yang menaiki lantai 2 melihat secara bersamaan, terutama sang baby sitter yang terlihat khawatir.


"Ada apa, mbak Arin? " tanya Gita.


Arin kemudian mendekat ke arah kedua anak majikannya, ia mulai menceritakan apa yang terjadi kepada Galuh.


"Tampaknya adek Galuh sedih karena hari ini adalah hari ulangtahunnya, nona Gita dan nona Gina. " jawab Arin.


Gita dan Gina melebarkan mata mereka, mereka akhirnya mengetahui apa yang terjadi, ternyata adik mereka tengah bersedih ketika harus menerima kenyataan bahwa ulangtahunnya sama sekali tidak dirayakan.


"Mbak Arin, kenapa tidak sama sekali menyiapkan acara ulangtahun Galuh? " tanya Gina.


"Maaf, nona Gina, saya tidak tahu mengapa tuan Gusti dan nyonya Bella tidak sama sekali menyiapkannya, saya juga tidak bisa bertindak sendiri bersama dengan asisten Ella dan asisten Gina. " jawab Arin.


Gita menggelengkan kepalanya, Gina merasakan apa yang dirasakan oleh Galuh sekarang, begitu nekat rasa benci kedua orangtuanya sekarang kepada adik angkatnya itu, bahkan kedua gadis itu saja bingung kenapa kedua orangtuanya sangat membenci adiknya yang sama sekali tidak berbuat sesuatu kepada mereka.


"Gina, ikut kakak sebentar. "


Gina menganggukkan kepalanya, keduanya berjalan menjauh dari baby sitter, di dekat tangga, keduanya bersandar di dekat pembatas tangga dan menyepakati sesuatu.


"Kamu tahu kan tempat makan favorit kita, Gina? " tanya Gita.


"Iya, mungkin bagus untuk mengajak Galuh ke sana, nanti sekalian kita pesan kue ulangtahunnya di sana juga. " jawab Gina.


"Kalau begitu, kita sepakat ke sana. " ucap Gita.


"Baik, sebelumnya kita siap siap dahulu. "


Gita dan Gina berjalan menuju ke kamarnya masing masing, mereka sebelumnya meminta Arin untuk mempersiapkan Galuh, dan juga mengatakan yang sebenarnya tentang rencana mereka sebelumnya.


.


"Kakak, kita mau kemana? "


Galuh yang sedang dipangku oleh Gita kemudian bertanya, Gina tersenyum melihat adiknya itu bertanya kemana tujuannya bersama dengan kakaknya.


"Kita ke restoran ya, kamu juga kesana bareng kakak. " jawab Gita.


"Ke restoran?! Galuh ke sana sama kakak?! " tanya Galuh penuh semangat.


"Benar, dan juga kakak Gita dan kakak Gina mau rayain ulangtahun kamu, Galuh. " jawab Gina.


Galuh tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya, apalagi yang ditunggu tunggu olehnya selama ini akan dikabulkan lewat kakaknya.


"Benarkah?! Ulangtahun untuk Galuh, kak?! " tanya Galuh sekali lagi.


Gita dan Gina tersenyum, kemudian mereka menganggukkan kepala, Galuh yang mendengar itu bertambah senang dan berteriak kegirangan ketika ulangtahunnya dirayakan, walaupun tidak bersama dengan kedua orangtuanya.


Di restoran, sebelumnya sudah dipersiapkan beberapa jam yang lalu oleh Gita untuk memesan tempat ulangtahun yang disediakan oleh restoran, dengan berbagai hiasan yang ada, dan juga Gita sudah membayar keseluruhannya menggunakan uang yang ada di rekening pribadinya.


Kue, balon, ucapan dan badut ulangtahun sudah disiapkan, Galuh yang menjadi bintang utama acara ulangtahun itu, bersama dengan kedua kakaknya dan beberapa karyawan restoran juga ikut merayakan ulangtahun Galuh, Galuh meniup lilin ulangtahunnya dan merayakannya dengan riang gembira, kemudian memotong kuenya dan menyuapkannya kepada kedua kakaknya dengan pelan.


Gita memesankan makanan untuk Galuh, pesanan yang sudah dipesan untuk dimakan oleh ketiga saudara itu sampai, mereka memakannya dengan lahap, terutama dengan Galuh yang sangat senang karena hari itu adalah hari ulangtahunnya.


"Kakak. " panggil Galuh.


Gita melihat ke arah Galuh, Galuh berdiri dari kursinya dan mencium pipi Gita, tak lupa juga ia berlari ke arah Gina untuk mencium pipi kakak keduanya.


"Kakak, terimakasih. " ucap Galuh.


Gita dan Gina tersenyum, misi mereka kali ini berhasil, karena mereka bisa menyenangkan hati adik mereka, dan juga setidaknya ia bisa menghibur Galuh yang sama sekali hari kelahirannya tidak diingat oleh kedua orangtua mereka.


'Dek, kalau saja kamu mengerti, mungkin kamu bisa menyesal berada bersama orangtuanya kakak, kakak tidak tega melihat kamu begitu diasingkan dengan kedua orangtua kakak. ' ucap Gita dalam hati.

__ADS_1


**********


__ADS_2