
Gita memasuki kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan kencang, sehingga beberapa barang yang berada di dekat pintu terjatuh ke bawah.
Air mata Gita tak berhenti mengalir, rasa kecewa di dalam hatinya kini terasa, ia merasa kecewa dengan Gusti yang selama ini berpura pura menjadi seorang ayah yang sangat ideal bagi keluarganya, namun menyimpan rahasia gelap yang selama ini disembunyikan dari keluarga.
"Kalau sudah menghasilkan, kenapa hasilnya selalu dibuat menderita? " gumam Gita.
Ponsel Gita berdering, ia meraih ponselnya dan melihat siapa yang tengah menelponnya, itu adalah pacarnya yang menghubunginya, mau tak mau Gita mengangkat teleponnya dan menghapus air matanya.
"Ya, ada apa, Rico? " tanya Gita.
'Sayang, bagaimana dengan rencana lamarannya? Apa kamu ingin secepat mungkin? '
Gita berdecak, isak tangisnya dapat terdengar dari telepon tersebut.
'Gita, kamu nangis? ' tanya Rico.
"Iya, aku lagi ada masalah di rumah, tolong jangan bahas ini dulu ya, aku mau nenangin diri dulu. " jawab Gita.
'Baik sayang, kamu tenangkan diri kamu dulu, baru kita akan bahas kembali rencana ini ya. '
Panggilan berakhir, Gita meletakkan ponselnya di sebelahnya, air matanya tidak berhenti mengalir seiring ia masih mengingat rahasia yang terbongkar itu terjadi, rasa kecewanya tidak akan pernah bisa ia lupakan sampai kapanpun.
Pintu kamar Gita terbuka dari luar, pemilik kamar tersebut menoleh ke arah pintu kamarnya yang dibuka, seorang yang tidak ingin Gita lihat kini tengah menghampirinya, yaitu Gusti.
"Anggita. " panggil Gusti.
Gita memalingkan wajahnya, sementara Gusti masuk ke dalam kamarnya.
Gusti duduk di samping Gita, sementara Gita menjauh dengan isak tangisnya yang terdengar memilukan.
"Gita, maafkan papa. "
Gita menatap ke arah Gusti, dengan air matanya yang terus mengalir dan raut wajahnya yang kesal.
"Maaf, Gita nggak bisa maafin apa yang papa buat selama ini di belakang keluarga ini. " ucap Gita.
Gusti terdiam, ucapan maafnya tidak begitu berarti bagi putri sulungnya itu, Gita memang benar benar kecewa dengan dirinya dan masa lalu yang sudah ia perbuat.
"Gita berpikir, lebih baik mama dahulu daripada papa, setidaknya mama tidak membawa satu makhluk tidak berdosa yang sekarang berada di keluarga ini, papa tahu itu. "
"Gita, perselingkuhan tidak ada yang bisa diwajarkan, termasuk dengan apa yang mama kamu lakukan dahulu. " ucap Gusti.
Gita tersenyum remeh, ia melebarkan senyumnya sembari menggelengkan kepalanya, begitu tidak sadar diri Gusti itu sendiri, ucapan yang seharusnya juga menjadi sebuah kesadaran itu tidak sama sekali dirasakannya, hanya bisa menyalahkan satu pihak yang sama dengannya.
"Ternyata benar ya kata tante Dewi, papa dan mama itu pasangan egois dan arogan, tidak heran sampai sekarang masih saja begini. " ucap Gita.
Gusti tidak bisa menolak fakta yang diucapkan oleh anaknya, sedangkan Gita memalingkan wajahnya, Gusti menghela nafasnya dan memegang kedua bahu putri sulungnya itu.
"Gita, papa benar benar minta maaf, papa bisa mengecewakan kamu setelah kejadian 6 tahun itu berlalu, ucapan kamu benar, papa adalah laki laki brengsek. " ucap Gusti.
Isak tangis Gita semakin menjadi, antara rasa kecewa dan rasa iba terhadap Gusti menyatu di dalam hatinya, di lain sisi ia kecewa kepada ayahnya yang sudah berselingkuh bahkan memiliki anak dari hasil perselingkuhan, namun ia juga merasa iba dengan ayahnya yang sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik di depannya dan Gina, ia tahu bahwa ayahnya itu tersesat di jalan yang sudah diperbuat oleh ayahnya itu sendiri, secara Gusti memang tidak pandai untuk berselingkuh.
"Sekali lagi, papa minta maaf sayang, papa memang laki laki arogan dan egois, namun papa tidak ingin menjadi seorang ayah yang menyakiti perasaan anak yang dirinya sayangi. Papa minta maaf, i'm sorry for u, honey. "
Gita berbalik, ia langsung memeluk Gusti, Gusti membalas pelukan anaknya, di rangkulan pelukannya itu ia memeluk putri sulungnya dengan erat, sementara Gita menangis semakin menjadi jadi.
"Papa, Gita tahu papa tidak pandai berselingkuh. Tapi mengapa dari perselingkuhan itu papa bisa membawa Galuh ada di dunia ini, dan papa juga bisa membuat Galuh menderita? Apakah papa tidak kasihan dengannya? Apakah papa tidak pernah berpikir bahwa Gita, Gina dan Galuh adalah satu saudara dari darah papa yang mengalir di tubuh kami? "
Pertanyaan itu menohok di perasaan Gusti, bahkan ia melupakan hal yang diucapkan oleh anaknya, bahwa masih ada ikatan darah dirinya kepada Galuh yang selama ini tertutupi dengan perasaan gengsi dan malu karena kehadiran bocah laki laki itu.
"Maafkan papa, papa melupakannya. Papa lupa, bahwa Galuh juga adalah anak papa. Papa sebenarnya ingin menyayanginya, namun ada perasaan yang membuat papa menolak kehadirannya, papa tidak tahu bagaimana ingin mengungkapkan perasaan yang menolaknya itu. " jelas Gusti.
Gita bangkit dari pelukannya kepada Gusti, ia duduk tegap, dan sedikit menjauh dari Gusti.
"Itu adalah rasa bersalah. Papa menolak kehadiran Galuh karena rasa bersalah masih melekat di dalam pikiran dan hati papa, papa merasa bersalah, karena papa dan tante Dewi melakukan hal diluar pernikahan yang membuat Galuh ada hingga rasa bersalah itu yang membuat papa menolak Galuh. " ucap Gita.
Gusti menganggukkan kepalanya, sedangkan Gita menundukkan kepalanya, Gusti menatap ke arah putrinya, kemudian memegang tangan Gita, Gita menoleh ke arah Gusti kemudian tangannya diangkat.
__ADS_1
"Gita, setidaknya ini kesempatan terakhir untuk papa. Katakan, apa yang bisa membuat kamu untuk bisa memaafkan papa? Papa tidak ingin kamu membenci papa, karena papa sangat menyayangi kamu. " tanya Gusti.
Gita dapat melihat keinginan tulus dari Gusti, ia juga ikut merasakan ketulusan yang tidak pernah ia lihat, Gita menghela nafasnya.
"Gita ingin Galuh untuk dikembalikan pada tante Dewi, karena tante Dewi ingin Galuh bersamanya, dan Gita tidak ingin Galuh tersiksa terus dirumah ini. " ucap Gita.
Gusti awalnya merasa bimbang, namun Gita yang menyadarkan lamunan ayahnya itu, Gusti menghela nafas dan menganggukkan kepalanya.
"Baik, jika itu bisa membuat kamu memaafkan papa dan jalan yang baik untuk Galuh, papa akan menuruti keinginan kamu. " ucap Gusti.
"Dimana anak sialan itu?! "
Bella mencari keberadaan Galuh, tampak ia memiliki dendam dengan bocah laki-laki itu.
Tanpa ada yang menjawab, Bella langsung berlari ke atas untuk mencari keberadaan Galuh, sementara para asisten lainnya terlihat panik ketika nyonya mereka murka dan sepertinya akan melampiaskan emosinya kepada Galuh.
"Galuh! Dimana kamu, anak haram! "
Suara lantang itu membuat pemilik nama tersebut menjadi takut, Arin sudah menyiapkan ancang-ancang untuk melindungi Galuh, sementara Galuh hanya bisa memeluk baby sitternya untuk berlindung dari Bella.
"Arin! " bentak Bella.
Bella mendekat ke arah Arin dan Galuh, Arin menggelengkan kepalanya sambil bermohon kepada nyonya nya itu untuk tidak menyakiti anak yang di asuhnya.
"Berikan anak itu kepadaku, Arin! " perintah Bella.
Arin menggelengkan kepalanya.
"Jangan nyonya, dek Galuh tidak bersalah, jangan sakiti dek Galuh. " mohon Arin.
Dikala emosi sudah naik ke atas kepala, maka tubuh tidak bisa mengontrolnya, dengan arogan Bella menarik rambut Arin, kemudian menyingkirkan Arin dari Galuh yang dihalanginya dengan memukul dada dan pinggang baby sitter itu.
Tangan Bella mencengkram lengan Galuh, ekspresi wajah Galuh sangat ketakutan melihat Bella yang mendapatkannya.
"Anak sialan! "
Bella seketika langsung memukuli Galuh seraya menampar anak itu, Galuh yang langsung berteriak kesakitan, itu membuat Bella semakin menjadi jadi untuk memukulinya, serta tak lama setelahnya Bella mencekik lehernya.
"Saya bukan ibumu, anak haram! Kamu adalah hasil perselingkuhan dari suami saya dan ****** yang sudah melahirkan kamu! Hadirnya kamu dirumah ini bukan membuat suami saya lebih merasa bersalah atas hasil yang ia perbuat, tapi menimbulkan bencana untuk keluarga saya! " bentak Bella.
Galuh mengeluarkan air matanya, nafasnya yang tersengal sengal berusaha meminta Bella untuk melepaskan cekikan tersebut.
"Mama, Galuh minta maaf... " lirih Galuh.
"Saya pikir, lebih baik kamu mati saja dulu saat saya ingin rasanya membunuh ibumu! Tapi sialnya, kamu masih hidup! Saya akan buat mati kamu! " bentak Bella.
Setelah mencekik Galuh, Bella mulai memukuli Galuh, suara tangis pedih dari Galuh terdengar keras, sementara Arin tidak bisa bangkit, karena dada dan pinggangnya sebelumnya ditendang oleh Bella.
"Bella! "
Bella menoleh ke belakang, satu tamparan mendarat ke pipinya, alhasil dirinya tersungkur dan cengkraman tangannya yang sebelumnya mencekik Galuh akhirnya terlepas.
"Galuh! "
Gusti dan Gita datang ke dalam kamar Galuh, Gita mendekat ke arah Galuh dan memeluk adiknya yang sudah terlihat babak belur akibat kekerasan dari Bella, dan Gusti yang menampar Bella hingga wanita itu tersungkur dan terjatuh.
"Gustiawan... "
"Beraninya kamu menyiksa anak saya! Apa maksudmu ingin membunuh Galuh?! "
"Anakmu? Huh, anda sadar juga akhirnya, Gustiawan... " sindir Bella.
"Saya tidak pernah berbuat nekat, bahkan menyiksanya seperti apa yang kamu lakukan! Sekejam apapun saya padanya, saya tidak pernah berniat ingin membunuhnya! Walaupun kata umpatanmu mengarah padanya, tapi darah saya masih mengalir di tubuhnya, dan itu artinya sama saja kamu menyakiti Gita dan Gina di depan saya! " bentak Gusti.
"Tidak pernah ingin membunuhnya? Anda lupa dahulu anda ingin membawa simpanan anda itu ke luar negeri untuk membunuh anak sialan itu saat dia masih di dalam kandungan si ****** itu? Anda lupa rencana ab*rsi anda bersama dengan simpanan anda itu dapat saya ketahui, Gustiawan? " tanya Bella dengan nada meninggi.
Gita terbelalak, bahkan Arin yang tersungkur itu juga tidak percaya dengan apa yang diucapkan majikannya, mereka akhirnya mengetahui apa yang terjadi sebenarnya kepada Galuh di masa lalu.
__ADS_1
"Tutup mulutmu! Kamu sendiri yang menyuruh Dewina mempertahankan kandungannya disaat saya memilih jalan terakhir itu! Dan ketika Galuh lahir, sempat sempatnya kamu ingin membunuh dia yang masih bayi! Dasar orang gila! " umpat Gusti.
"Oh ya? Itu karena saya ingin menyiksa batin anda, bahwa perselingkuhan anda membawa hasil! Dan bisa membuktikan, bahwa anda adalah laki laki pengecut dan brengsek yang pernah ada! "
Perkelahian tersebut akhirnya menjadi sebuah kekerasan, Gusti yang ingin berbuat kasar kepada Bella, sementara Bella mengambil vas bunga yang berada di meja, kemudian memukul kepala Gusti dengan vas bunga tersebut hingga pecah, dan membuat Gusti tersungkur kemudian terjatuh dengan kepalanya yang terluka.
"Papa! " teriak Gita.
Gusti yang tersungkur kemudian dengan daya tubuhnya yang melemah menatap ke arah Gita.
"Bawa Galuh pergi, Gita... " lirih Gusti.
Gita menganggukkan kepalanya, ia mengikuti perintah Gusti, ia juga merasa bahwa suasana di kamar itu tidak stabil, dengan membantu Arin berdiri dan keluar dari kamar Galuh, ketiganya keluar untuk menjauh dari suasana tersebut.
................
Suara tangisan Galuh terdengar keras di kamar Gita, Gita kembali mengeluarkan air matanya, ia kasihan dengan kondisi adiknya yang babak belur karena ulah Bella, sungguh keterlaluan sekali ibunya itu menyiksa adiknya yang tidak sama sekali bersalah atas kesalahan yang sudah terbongkar.
"Wajah Galuh sakit kak...! "
Galuh merengek dan menangis, sedangkan Arin dan Gita membersihkan luka yang dialami oleh Galuh, sesekali Galuh ingin memeluk dan mengadu pada Gita.
"Kakak, sakit...! " rengek Galuh.
"Sabar ya, dek, sebentar lagi lukanya selesai buat dibersihkan. " ucap Gita.
Galuh semakin merengek, Gita langsung memeluk adiknya itu, sesekali mengelus rambut adik bungsunya itu sampai akhirnya Galuh sedikit mereda rengekannya.
"Galuh, Galuh tinggal sama ibu dokter yang kemarin itu saja ya? "
Galuh menatap langsung ke arah Gita. "Kakak tidak sayang Galuh lagi? "
Gita menggelengkan kepalanya, kemudian mencium kening adiknya.
"Kakak sayang sekali dengan Galuh, dan juga kakak mau kasih tau sama Galuh, kalau ibu dokter yang kemarin itu adalah ibu kandungnya Galuh yang sebenarnya. " jawab Gita.
Galuh hanya terdiam, tampak bahwa bocah kecil itu kebingungan dengan jawaban dari kakaknya.
"Mama dan papa? " tanya Galuh.
"Hanya papa ayah kandungnya Galuh, mama bukan ibu kandungnya Galuh, ibu dokter yang kemarin itu adalah ibu kandungnya Galuh yang sebenarnya. " jawab Gita.
Raut wajah Galuh berubah, tak lama setelahnya ia menangis, Gita kembali memeluk adiknya itu, ia tahu betapa beratnya anak kecil yang berumur 6 tahun itu diberitahukan dirinya yang sebenarnya, namun Gita terus meyakinkan adiknya itu bahwa hal yang dijelaskannya sesuai dengan kenyataannya.
Arin ikut menangis, disaat ia tengah membereskan barang barang milik Galuh karena perintah dari Gita, baginya Galuh seperti anaknya sendiri, karena selama 6 tahun mengabdi menjadi baby sitter, Galuh memang benar benar berada dalam asuhannya.
Gita menidurkan Galuh hingga pulas, selesainya membuat Galuh tertidur, ia mendekat ke arah Arin, dan melihat apa saja yang diperlukan oleh Galuh nantinya.
"Sudah semua? " tanya Gita.
Arin menganggukkan kepalanya. "Sudah semua, nona Gita, saya sudah membereskan barang barangnya dek Galuh. "
Gita mengelus pundak baby sitternya itu, ia tahu begitu berat Arin dapat melepaskan Galuh kembali pada pelukan Dewi, namun Gita memikirkan nasib Galuh selanjutnya, ia tidak ingin Galuh tidak merasakan kasih sayang yang tulus dari kecil, karena akan berdampak pada masa remaja dan dewasa adiknya itu nanti.
"Saya tahu hal ini berat untuk mbak Arin, tapi ini adalah jalan yang terbaik untuk Galuh. Saya tidak mau Galuh yang masih kecil dan polos itu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, saya ingin Galuh bahagia, mbak Arin. " ucap Gita.
Arin menganggukkan kepalanya, ia mengerti apa yang terbaik untuk Galuh, Gita sengaja ingin melindungi adiknya itu karena Gita sangat menyayangi Galuh.
"Saya mengerti, nona Gita, semoga nantinya dek Galuh bisa terus bahagia ya bersama ibu kandungnya. " ucap Arin.
Gita menganggukkan kepalanya. "Itu pasti, mbak Arin. "
"Nona Gita, sebelum perpisahan nantinya, boleh saya menemani dek Galuh untuk tidur di kamarnya? " tanya Arin.
"Tentu saja, mbak Arin, mbak boleh menemani Galuh, karena nantinya kita akan merindukan Galuh. " jawab Gita.
Arin menganggukkan kepalanya, baby sitter itu kemudian berjalan ke arah ranjang tempat tidur Galuh, sementara Gita memutuskan untuk beristirahat setelah drama yang terjadi sebelumnya di rumah itu.
__ADS_1
'Kakak memang belum rela kamu pergi, dek, tapi ini adalah jalan yang terbaik untuk kamu, karena kakak ingin masa kecil kamu akan diberikan kasih sayang oleh ibu kamu yang sebenarnya, yaitu tante Dewi. '
************