
...Happy reading ð§¡...
......................
Sebulan berlalu, Dewi melewati masa masanya dengan biasa, ia dengan peliharaannya hanya menghabiskan waktu di dalam kamar.
Dewi juga merasa kurang percaya diri, perutnya terlihat mulai berisi, tampaknya ia terlalu dimanjakan dengan makanan sehat nan enak yang selalu dibuatkan oleh Gusti untuk nya.
"Sial, beratku bertambah. "
Dewi paling benci untuk menimbang badannya, tetapi ia harus terus untuk seminggu sekali menimbang badannya, karena ia juga harus mengontrol makannya agar berat badannya menuju trimester ke dua tidak terlalu berat.
Dewi banyak menyalahkan mulut dan keinginannya untuk terus makan, padahal ia sendiri yang tidak bisa mengontrol pola makannya sendiri, alhasil dirinya sendiri yang kena imbasnya.
"Kalau diingat ingat juga, makanku lumayan banyak untuk sekarang, walaupun masih sering merasa mual mual. " ucap Dewi.
Dewi menyingkirkan timbangan tersebut ke bawah ranjangnya, ia beranjak menuju ke luar kamarnya untuk menuju ke dapur, rencananya sehabis menyalahkan berat badannya, ia akan mengisi energinya kembali dengan memakan makanan yang tersedia di lemari makanannya.
"Sehabis menyalahkan berat badanmu, dan sekarang kamu makan kembali dengan santai, Dewina? "
Dewi terkejut, ia menatap ke belakang, ternyata Gusti yang sedang berdiri di belakangnya dengan melipat kedua tangannya.
"Om, kapan sampai ke sini? " tanya Dewi.
Dewi tidak berhenti mengunyah, ia terus terusan memakan makanan yang sedang ia makan, tanpa memperdulikan Gusti yang menatap tidak percaya padanya.
"Hentikan, atau kamu tidak akan bisa mengeluarkan anakmu dengan mudah. " ucap Gusti.
Gusti mengambil makanan yang tengah dimakan oleh Dewi, Dewi sebenarnya kesal, tetapi ia hanya bisa mengungkapkannya lewat perasaannya.
"Kamu kuliah hari ini? " tanya Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya. "Ya, saya kuliah hari ini om, soalnya ingin mengirim tugas dengan teman saya, setelah jam kuliah sudah selesai, saya akan pulang ke apartemen. "
Gusti menganggukan kepalanya.
"Seharian kamu cuma menghabiskan waktu di kamar saja? "
"Ummm, ya, saya hanya menghabiskan waktu saya di dalam apartemen saja, tidak kemana mana selain menghabiskan waktu untuk bersantai di dalam sini. " jawab Dewi.
"Biasakan dirimu untuk berjemur di balkon, saya lihat balkon kamar ini tidak pernah dibersihkan sama sekali, dan juga terlihat posisi bangku di balkon tidak berubah sama sekali. Apa kamu ingin menjadi mayat hidup di kamar ini, tanpa berjemur dan mendapatkan vitamin dari sinar matahari pagi? " tanya Gusti.
"Saya selalu bangun agak terlambat, makanya tidak sempat untuk bangun awal. " ucap Dewi.
Gusti menggelengkan kepalanya, kebiasaan buruk gadis tersebut membuatnya menggelengkan kepalanya.
"Jelly, jika Dewi terlihat terlalu santai di pagi hari, kamu boleh menggigit kakinya, kalau perlu tajamkan saja taringmu, agar dia tahu diperlakukan secara kasar. " ucap Gusti.
Jelly menggonggong, sedangkan Dewi menggeleng kepalanya, begitu mudah peliharaannya terhasut perintah jahat dari Gusti.
"Jangan, kamu tidak boleh menggigit sembarangan, bukan Jelly yang kukenal manis jika berbuat jahat seperti itu. " ucap Dewi.
"Hidup disiplin sangat diperlukan, Dewina. "
"Baik om, tanpa kekerasan saya mohon. " ucap Dewi.
"Sudah, saya akan ke kantor, kali ini saya tidak bisa mengantarmu untuk pulang, karena saya ada pekerjaan sore hari nanti. " ucap Gusti.
"Iya om, tidak apa, Dewi mengerti. "
Gusti mengambil jasnya, kemudian berjalan menuju ke luar, Dewi menutup pintu apartemennya dan melanjutkan makannya yang terhenti, karena Gusti yang melarangnya untuk makan terlebih dahulu, baginya aneh jika seseorang melarang orang hamil yang ingin makan.
"Sepertinya lebih bagus jika aku terus makan, lagipula kandunganku juga sangat membutuhkan makan untuk sekarang. " ucap Dewi.
......................
Siang hari yang lumayan terik, Dewi mengipas kipaskan wajahnya, terasa bahwa wajahnya yang terbakar akibat sinar matahari siang yang panas, ia ingin mencari tempat minuman, tetapi ia mengurungkan niatnya terlebih dahulu, karena ia mudah sekali terserang batuk dan flu apabila meminum minuman dingin.
Dewi berteduh, ia melihat tugasnya yang baru saja ia bawa, melihat tugas tersebut ia mengingat waktunya bersama dengan Eni, dimana harus mengerjakan tugas larut malam bersama, hari tersebut sangatlah berkesan baginya, karena ia dapat merasakan perjuangan bersama sama untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya tertolak.
"Melihat tugas ini, aku jadi merindukan Eni. Sudah sebulan berlalu, aku berkunjung ke penjara untuk menjenguk Eni yang berada di sana. " ucap Dewi.
Dewi memeluk tugasnya, sebagai tanda rindunya dengan temannya, ia selalu mendo'akan Eni agar Eni selalu baik baik saja di dalam jeruji besi.
Tak lama ponselnya berdering, Dewi merogoh tasnya, ia mencari keberadaan ponselnya yang terkubur di dalam tas tersebut beserta barang barang lainnya.
Dewi melihat siapa yang menelponnya, dan ternyata itu adalah kedua orangtuanya, Dewi segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo, pak, bu, ada apa menelpon Dewi? " tanya Dewi.
'Nak, akhirnya kamu mengangkat telepon kami. Kami ingin memberitahukan kamu sesuatu, kami akan berangkat ke kota. '
Dewi terkejut, setelah hampir beberapa lama tidak menelpon, dan sekarang secara tiba tiba kedua orangtuanya sekarang akan berangkat ke kota tanpa memberikan kabar.
"Bapak sama ibu mau ke kota? Untuk apa? " tanya Dewi.
'Kami merindukanmu, nak, pemuda di desa ini terus terusan saja mengunjungi rumah, yang ada malah membuat kami semakin merindukan kamu. Kami akan jemput kamu, kita pulang di desa, lagipula bapak sama ibu tau bahwa kamu sedang berlibur seminggu di sana. ' jawab Taufik.
Dewi mengerutkan keningnya, secara ia tidak sama sekali sedang berlibur, karena waktu libur juga masih menunggu 4 bulan selanjutnya maka ia akan libur semesteran.
__ADS_1
Dewi juga merasa, bahwa anak tetangganya di desa tersebut berkunjung ke kota bukan untuk berkuliah, melainkan hanya bekerja saja di kota, sebab jika anak tetangganya tersebut kuliah, maka sekarang akan seperti Dewi.
"Beritahu saja Dewi jika kalian sudah sampai, Dewi akan jemput kalian. "
Dewi mematikan panggilan tersebut, ia menaruh ponselnya di dalam tas dan beranjak pulang.
Dewi terburu buru, menuju ke kamar apartemennya hanya untuk membereskan kamar apartemen terseebut tidak mungkin ia tidak akan membereskan ruangan kamar apartemennya.
"Taksi, taksi. " panggil Dewi.
Salah satu taksi berhenti di depan Dewi, ia menaiki taksi tersebut dan berjalan menuju ke apartemen.
......................
Butuh waktu yang lumayan lama baginya untuk segera sampai di apartemen, ia sampai di depan apartemen dan segera membayar taksi yang ia tumpangi, kemudian ia berjalan menuju ke dalam apartemen.
Mengambil kunci dan kartu akses kamarnya, Dewi merogoh tasnya, ia mengambil kartunya dan menunggu lift sampai ke lantai tempat kamar Dewi berada.
Sesampainya di lantai tempat ia tinggal, Dewi mulai memasangkan kartu akses kamarnya, ia berhasil dan kemudian ia masuk ke dalam.
Dewi disambut kedatangannya oleh Jelly, Jelly menggonggong ke arahnya dan menatap Dewi, Dewi dengan terburu buru segera ke dapur untuk memberikan Jelly makan siang terlebih dahulu.
Selesai memberi makan Jelly, Dewi beranjak membersihkan kamar apartemennya tersebut, dengan sebagian barang yang ia miliki ia segera membereskannya.
"Jangan lupa, baju dan sebagainya. "
Selesai membereskan seluruh ruangan tersebut, ia juga membereskan baju baju yang akan ia bawa beserta barang barang lainnya yang ia butuhkan.
Dewi memilih barang barang yang ia perlukan, tidak perlu terlalu banyak karena hanya berlibur sebentar di desa, sekedar melepas rindu dengan kedua orangtuanya.
Tak lama ponsel milik Dewi berdering kembali, ia langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo pak, bu, apa kalian sudah sampai? " tanya Dewi.
'Sebentar lagi, nak, kami sudah menuju ke kosan tempat kamu tinggal, tunggu kami disana. '
Dewi baru ingat, ia telah pindah dari kosan tersebut dan sekarang ia tinggal di apartemen yang diberikan oleh Gusti untuk menjadi tempat tinggal sementara nya.
"Bisa suruh supirnya untuk mengantarkan bapak dan ibu ke taman kota? Disana tidak jauh dari gedung apartemen, kalian bisa menunggu Dewi di sana. " ucap Dewi.
'Kenapa neng Wiwi? Cari saya ya? '
Dari telepon terdengar suara Firdaus, ia meminta ibunya untuk memberikan ponselnya kepada sepupunya tersebut, kemudian terdengar suara obrolan dari telepon.
"Firdaus? Kamu yang jemput mereka? " tanya Dewi.
"Baik, saya minta tolong sebelumnya dengan kamu, tolong berhenti di sekitaran taman kota dan gedung apartemen di sana, di sana tempat saya tinggal sekarang. " ucap Dewi.
'Loh, neng Dewi pindah ke apartemen? Saya baru tahu. ' tanya Firdaus.
"Nanti akan saya ceritakan. " jawab Dewi.
Keduanya saling setuju, dan Dewi akan menunggu kedatangan kedua orangtuanya ke kamar apartemen tempat ia berada sekarang.
Jelly menggonggong, Dewi berbalik, ia akhirnya mengingat sesuatu hal lainnya, dimana ia akan menitipkan Jelly, peliharannya yang ditinggalkan di kota, sementara ia harus pulang.
"Jelly, aku akan kembali ke desa, mungkin aku akan menitipkan kamu di tempat penitipan hewan peliharaan, maaf aku tidak bisa membawa kamu. " ucap Dewi.
Ekspresi Jelly terlihat tidak senang, ia terlihat sedih, karena Dewi akan meninggalkannya lagi dengan orang lain, sedangkan Dewi akan pergi lagi.
......................
"Selamat datang. "
Dewi menyambut kedatangan kedua orangtuanya, mereka saling berpelukan, Dewi melepas rindunya dengan kedua orangtuanya.
"Dewi, bapak dan ibu sangat merindukan kamu, akhirnya kita bisa bertemu di sini. " ucap Taufik.
"Iya, Dewi sangat merindukan kalian, dan sekarang Dewi akan pulang bersama kalian ke desa. "
Firdaus membantu Dewi untuk mengangkat barang barang milik Dewi, ia menaruh barang Dewi di belakang, sedangkan mereka akan duduk di depan.
Taufik dan Warsita memilih untuk langsung pulang bersama dengan Dewi, mereka tidak sabar untuk menjemput anak mereka untuk pulang ke desa.
Dewi juga sudah menulis sepucuk surat di pintu kamarnya dan meminta izin untuk pulang ke desa dari pesan grup kuliahnya, ia merasa bahwa semuanya sudah ia selesaikan.
"Ayo nak, kamu naik duluan ke dalam. " ucap Warsita.
Dewi menaiki mobil Firdaus, kemudian dengan memberi jarak untuk menyuruh ibunya ikut naik, semuanya telah naik ke mobil dan berjalan menuju ke desa.
Sepanjang perjalanan Dewi terus ditanya oleh kedua orangtuanya dan saudara sepupunya tentang keadaannya, Dewi juga pandai beralasan, bahwa ia baik baik saja di kota dan sangat menikmatinya, padahal yang sebenarnya jika kedua orangtuanya tahu bahwa ia sedang hamil, mungkin saja hal buruk akan terjadi, maka dari itu Dewi berusaha menyembunyikannya.
Butuh waktu semalaman untuk menuju ke desa, akhirnya mereka sampai ke desa, di depan rumah kedua orangtua Dewi terlihat para pemuda yang sedang duduk di depan rumah kedua orangtuanya, mereka mendekat dan ingin membantu Dewi.
"Neng Dewi, akhirnya eneng pulang juga. "
Dewi digoda goda oleh pemuda, Taufik dan Firdaus mengantisipasi para pemuda tersebut untuk tidak mengganggunya, karena Dewi juga merasa bahwa para pemuda tersebut selalu mengganggunya, Dewi dapat merasa risih untuk sekarang.
"Sudah, kalian pulang saja terlebih dahulu, biarkan Dewina beristirahat di rumah ini, besok saja jika ingin menyapa anak saya. " ucap Taufik.
__ADS_1
Cara tersebut ternyata sangat ampuh, semua pemuda yang tengah berkunjung untuk melihat Dewi akhirnya menuruti perintah dari Taufik, meminta mereka semua untuk pulang terlebih dahulu dan akan berjumpa esok harinya, karena Dewi ingin beristirahat terlebih dahulu.
"Sudah malam seperti ini, saya pulang dahulu, paman, bibi. " ucap Firdaus.
"Oh iya, terimakasih ya nak sudah mengantarkan kami ke kota untuk menjemput Dewi. Kirim salam untuk ibu kamu ya. " ucap Warsita.
Firdaus menaiki mobilnya, kemudian menjalankan mobilnya untuk menuju ke rumahnya.
"Sudah, ayo masuk, kita langsung istirahat. " ajak Taufik.
Warsita dan Dewi masuk ke dalam, sedangkan Taufik mengangkat barang barang milik Dewi ke dalam, mereka bertiga di dalam rumah dan mengunci pintu rumah.
Dewi mengusap usap kedua lengannya, ia merasa dingin, padahal saat sebelumnya ia sebelum hamil, ia sangat menikmati udara dingin di desa tempatnya berasal.
"Kenapa nak? Kamu kedinginan? " tanya Taufik.
"Iya pak, rasanya Dewi ingin segera ke kamar untuk berselimut, disini dingin sekali. " jawab Dewi.
"Yasudah nak, kamu langsung saja ke kamar, ibu akan bawakan teh untuk kamu minum. " ucap Warsita.
Dewi menganggukan kepalanya, ia berjalan menuju ke kamarnya, lantai dan udara yang ada di desa tersebut sangat dingin, sehingga membuat Dewi gemetaran dengan udara dingin tersebut.
Saat memasuki kamarnya, seperti biasa akan terlihat rapi dan terlihat bahwa tidak ditempati, karena tidak ada satupun yang memasuki kamarnya itu, Dewi berbaring dan ia dapat merasakan sprai dingin yang tak tersentuh beberapa lama itu, ia merasa lega dapat membaringkan seluruh tubuhnya yang terasa lelah.
Tak lama berselang, Warsita membawa sebuah nampan kecil berisi segelas teh hangat untuk anaknya, ia mendekat dan menaruh nampan tersebut di samping meja.
"Ini nak, silahkan diminum. "
Dewi mengambil gelas tersebut. "Terimakasih tehnya, bu. " ucap Dewi.
Dewi meminum teh tersebut dengan pelan, teh tersebut masuk ke tenggorokannya dengan lancar, ia merasa hangat ketika meminum teh tersebut.
"Hangat sekali, Dewi sangat suka. " ucap Dewi.
Warsita tersenyum, kemudian ia ingin bertanya dengan anaknya tersebut.
"Dewi, boleh ibu bertanya dengan kamu? "
Dewi menatap ke arah Warsita. "Ibu ingin bertanya apa? " tanya Dewi.
"Dewi rindu tidak dengan keadaan desa? " tanya Warsita.
Dewi hanya menggelengkan kepalanya, Warsita mendengus.
"Sudah ibu duga, kamu akan betah berada di kota. " ucap Warsita.
"Tidak salah lagi, bu, Dewi sangat merindukan desa, hanya saja Dewi tidak terbiasa dengan udara dingin, mungkin karena Dewi jarang pulang, makanya udaranya sangat menyengat. " ucap Dewi.
Warsita tersenyum. "Baguslah, nak, jika kamu merindukan tanah kelahiranmu, itu sama seperti kamu yang sangat merindukan kami berdua. " ucap Warsita.
Dewi meminum teh hangat tersebut, kemudian Warsita berdiri.
"Sudah malam, ibu dan bapak ingin beristirahat dulu, selamat malam, nak. " ucap Warsita.
"Iya bu, selamat malam. "
Warsita keluar dari kamar Dewi dan menutup pintu kamar tersebut, sedangkan Dewi meminum teh tersebut hingga tandas, ia menaruh gelas kosong tersebut di samping meja, kemudian berencana untuk segera tidur.
Saat ingin memejamkan mata, secara tiba tiba ponsel miliknya berdering, Dewi tersentak dan terbangun dari tidurnya, ia mengambil ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.
"Halo, ada yang bisa dibantu? " tanya Dewi.
'Kemana saja? Kenapa kamu tidak ada di apartemen? '
Dewi terbangun, ia langsung duduk dan menggaruk kepalanya.
"Maaf, saya pulang ke desa sekarang, om. " jawab Dewi.
'Apa? Kamu di desa? Sejak kapan berada di sana? ' tanya Gusti.
"Tadi siang, om, sekarang saya berada di desa, maaf jika hal ini mendadak. " ucap Dewi.
Setelah hening beberapa saat, Gusti berdeham, kemudian ia memulai pembicaraan.
'Apa kedua orangtua kamu sudah tahu? ' tanya Gusti.
"Tidak, belum sama sekali, mereka tidak mengetahuinya, om. " jawab dewi.
'Sembunyikan, bagaimanapun kamu harus pintar menyembunyikan hal ini dari kedua orang tuamu, saya tidak ingin jika mereka mengetahuinya, mengerti? ' ucap Gusti.
"Baik om, saya mengerti. " jawab Dewi.
Panggilan berakhir, Dewi menaruh ponselnya kembali di meja dan kembali membaringkan tubuhnya, tak lama ia melamun menatap langit langit kamarnya.
'Bagaimana kalau bapak dan ibu tahu, bahwa sekarang aku sedang mengandung tanpa suami? Aku sama saja seperti akan menghancurkan harapan mereka. '
Dewi merasa bersalah, tak lama ia termenung, ia kemudian memejamkan matanya dan tertidur, karena tubuhnya sudah merasa lelah karena seharian berada di dalam mobil milih Firdaus.
...****************...
__ADS_1