Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 09 : Laptop dan keperawanan


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Mau makan nggak? " tanya Eni.


Dewi yang sedang berfokus ke laptop mengarahkan pandangannya ke arah Eni, ia bertanya sekali lagi.


"Kenapa, Eni? " tanya Dewi balik.


"Kamu mau makan nggak? " ulang Eni.


Dewi menganggukkan kepalanya, ia juga merasa lapar dan butuh makan untuk sekarang.


Dewi masih meminjam laptop milik Eni, ia terus saja lupa karena semua uang yang diterima sudah sebagian masuk tabungan ataupun disisihkan untuk biaya keperluan lainnya, seperti kosmetik ataupun baju.


"Belum ada panggilan dari om Gusti, Wi? " tanya Eni.


"Belum sepertinya, tapi saya akan menunggu nya memanggil saya. " jawab Dewi.


"Dari uang itu nanti, kamu mau beli apa? " tanya Eni.


"Saya ingin membeli laptop sesuai arahan kamu kemarin, Eni. "


"Terus, di mana semua uang yang udah kamu kumpulin kemarin? Kamu nggak jadi belinya pake uang yang udah dikumpulin itu? " tanya Eni.


"Saya sudah tabungkan di celengan saya, gunanya untuk dana darurat saja. Nanti kalau sudah terkumpul, akan saya gunakan untuk keperluan saya dan sebagiannya akan saya kirimkan kepada kedua orangtua saya. " jawab Dewi.


"Ohh, it's okay, itu pilihan kamu sendiri. " ucap Eni.


Dewi menyelesaikan belajarnya menggunakan laptop, matanya terasa pedih karena hampir seharian ia menatap laptop milik Eni.


"Loh, tumben udahan belajar laptopnya? " tanya Eni.


"Istirahat sejenak, mata saya rasanya pedih. " jawab Dewi sambil mengucek matanya.


Dewi duduk dan minum air yang ada di dekatnya, ia bermain handphone nya dan satu pesan masuk lewat chatnya.


Dewi membuka isi pesan tersebut, ia membaca isi pesan tersebut, pesan dari Gusti pastinya.


"Siapa, Wi? " tanya Eni.


"Om Gusti, Ni, sepertinya malam ini saya akan menemaninya lagi untuk bertemu seseorang di pesta. " jawab Dewi.


Tak lama suara ketukan pintu terdengar di depan kamar, tak jauh dari kamar Eni tepatnya, Dewi merasa sepertinya itu berasal dari kamarnya atau kamar sebelah Eni.


"Buka dulu lah. "


Dewi beranjak dari tempat duduk, ia membuka pintu kamar Eni, dan ia menemukan seseorang sedang membawa totebag, berdiri di depan kamarnya.


"Permisi, ada apa ya di kamar ini? " tanya Dewi.


"Atas nama Dewi, apa betul kamarnya disini? " tanya orang tersebut.


"Benar, saya Dewi. " jawab Dewi.


Orang tersebut memberikan totebag tersebut, ia mengatakan bahwa totebag tersebut merupakan titipan baju pesta dari seseorang, ditujukan untuk Dewi gunakan.


"Tidak ada sama sekali nama pengirimannya? " tanya Dewi.


"Tidak, sebelumnya terimakasih. "


Dewi memasuki kamar Eni, ia melihat ponselnya yang notifikasinya berbunyi, kemudian melihat isi pesan tersebut, ternyata Gusti memberikannya sebuah baju pesta untuk nanti malam.


"Diajak ke pesta nih ceritanya? " tanya Eni.


"Iya, saya diajak ke pesta sama om Gusti. Mungkin bisa jadi kesempatan saya akan membelikan laptop yang dari kemarin saya inginkan. " jawab Dewi.


"Gitu ya? Semoga sukses deh acaranya, biar bisa beli laptop yang kamu pengenin itu. " ucap Eni.


"Eni, kamu bisa merias saya sesuai dengan acara pesta? " tanya Dewi.


"Bisa, nanti malem datang ke kamar aku, aku bakal bantu kamu buat make-up. "


Dewi menganggukkan kepalanya, tak lama pintu kamar Eni diketuk, pesanan makanan yang telah di pesan oleh Eni akhirnya telah sampai, Eni mengajak Dewi makan bersama.


......................

__ADS_1


Malam hari telah tiba, Dewi sudah sedaritadi bersiap siap, dengan gaun pesta dan tas yang sudah dipilih oleh Eni membuatnya cocok, tinggal ia akan menunggu Gusti di depan gerbang kosannya.


"Waduh neng Dewi, mau kemana? "


Baru kali itu Dewi disapa oleh satpam, sekian lama ia hanya bertegur sapa lewat senyuman, sekarang Dewi benar-benar ditegur oleh satpam yang ada di kosan.


"Oh, saya ada acara di luar, pak, maka dari itu saya agak berbeda malam ini. " jawab Dewi.


"Begitu ya neng? Yaudah, hati hati di jalan neng, pulangnya jangan maleman, soalnya gerbang bakalan ditutup lewat dari jam 11 malam. " ingat satpam tersebut.


"Baik Pak, kalau begitu saya pergi dulu. "


Dewi berjalan ke luar gerbang, mobil Gusti tak jauh dari kosannya, ia melihat mobil yang terparkir di depan gerbang dan menaikinya. Gusti melihat ke arah Dewi, tatapannya tak lepas dari pesona Dewi, gadis itu terlihat menawan di matanya.


"Wow, kamu begitu menawan, manis... " puji Gusti.


Dewi tersenyum, kemudian ia mengucapkan terimakasih dengan pujian tersebut, tak lama dagunya dicolek oleh Gusti, mereka akhirnya berangkat menuju ke tempat pesta yang dituju oleh Gusti.


......................


Suasana ramai tak lepas dari kemewahan, bermacam-macam orang-orang penting ada di acara pesta tersebut, ternyata pesta tersebut adalah pesta pernikahan.


Sepanjang sekitaran gedung, Dewi melihat orang-orang yang penampilan atas dan bawahnya sangat glamour, sesuai dengan acara malam ini.


"Akhirnya anda datang, Gustiawan. "


Gusti disambut oleh seseorang, lelaki tua yang sekitaran umurnya 50 tahunan, gaya tampilannya saja berbeda dari lainnya.


"Lihat, siapa yang anda bawa sekarang, Gusti. "


Pria tua tersebut menunjuk ke arah Dewi, Dewi sedikit bersembunyi di belakang Gusti, ia tidak menyangka jika ia juga disorot oleh laki-laki tua tersebut.


"Ternyata disini, aku kira kamu kemana. "


Gadis muda yang langsung merangkul lengan pria tua tersebut, gaun pengantin yang terurai panjang, ia seperti sedang bergelayut di lengan pria tua tersebut.


"Perkenalkan, dia istri saya. "


Dewi tersentak, ternyata pemilik acara ini adalah pria tua dan gadis tersebut, mereka mengadakan pesta setelah meresmikan pernikahan.


"Ya, semoga anda berbahagia dengan istri anda, Rio. " ucap Gusti.


Gusti berjabat tangan dengan pria tua tersebut, diikuti oleh Dewi, tak lama saat bersalaman tangannya dijabat dan dielus-elus, ia terkejut dan menjauhkan tangannya, Gusti tersentak dan sedikit melotot ke arah Dewi.


"Selamat berbahagia, saya permisi. "


Dewi meninggalkan kedua mempelai, diikuti oleh Gusti dari belakang dan meminta maaf dengan perlakuan Dewi tadi.


"Dewi, apa apaan tadi? " tanya Gusti.


"Tangan saya dijabat, kemudian tangan saya dielus-elus, bagaimana bisa ia melakukannya seperti itu dengan saya di saat acara sakral seperti itu, om. " jawab Dewi.


Gusti mengerti, ia mengajak Dewi untuk pulang, suasana pesta sekarang sepertinya tidak bagus jika berada lama lama di tempat tersebut.


Dewi dan Gusti duduk di dekat kursi yang tak jauh dari gedung pernikahan tersebut, mereka duduk dan menyenderkan badan di kursi taman tersebut sambil menghirup udara malam yang sejuk nan dingin.


"Dewina, saya boleh meminta sesuatu dari kamu? "


Dewi menatap ke arah Gusti. "Ya, apa itu, om? " tanya Dewi.


Gusti mendekat, ia menatap Dewi, kemudian jempolnya mencolek bibir dan turun ke dagu Dewi.


"Saya ingin cium kamu untuk pertama kali, tapi saya akan bayar kamu lebih. "


Dewi masih ragu, tetapi karena ia mengingat sesuatu, ia menginginkan biaya untuk membeli laptop dan perlengkapan lainnya untuk kuliah, maka ia harus menuruti keinginan dari Gustiawan tersebut.


"Tapi, saya malu jika disini, om... "


Gusti mengerti, ia menarik tangan Dewi, Dewi mengikutinya hingga berhenti di sebuah pohon, Gusti mendorong Dewi ke pohon kemudian mengunci pergerakan Dewi dengan kedua lengannya.


Gusti memegang dagu Dewi, kemudian tangan satunya mengelus wajah Dewi.


"Manis sekali... "


Gusti langsung mencium Dewi, Dewi terkejut, ia mengiringi gerakan Gusti, tangan Gusti telah menggerayang ke pahanya, diikuti dengan nafas keduanya yang mulai sesak.


"Hah... "

__ADS_1


Dewi menutup mulutnya, kemudian mengambil nafas.


"Permen mint... " gumam Dewi.


"Ya, saya kurang percaya diri jika mencium saat hawa nafas saya tidak sedap, saya suka menyelipkan permen mint untuk saya makan. " ucap Gusti.


"Baunya harum, saya sangat suka... " puji Dewi.


Gusti tersenyum, ia menarik tangan Dewi dan menepuk-nepuk belakang baju Dewi yang terdapat serat serat kulit pohon yang menempel.


"Katakan, apa mau kamu untuk ini semua, Dewi? " tanya Gusti.


"Saya ingin laptop, om, untuk peralatan saya berkuliah, om. " jawab Dewi.


Gusti menganggukkan kepalanya. "Baik, akan saya belikan. Esok hari saya akan kirimkan orang untuk mengantarkannya ke kosan kamu. "


Dewi tersenyum, ia menganggukan kepalanya dan berterimakasih.


Dewi diajak pulang oleh Gusti, sebelumnya mereka makan malam bersama sebelum Dewi dihantar pulang ke kosannya.


Menunjukkan pukul 10 malam, Dewi membawa berbagai macam totebag pemberian Gusti, sebelumnya ia akan memakai jaket miliknya, karena tidak akan mungkin ia terpampang jelas menggunakan gaun pesta yang seksi itu.


Dewi bersyukur, ternyata di depan gerbang tidak ada yang berjaga, sepertinya satpam yang tengah berjaga sedang berpatroli di sekitar kosan.


Dewi segera naik ke atas, ia menuju ke kamarnya dan mengambil kunci kamarnya, Dewi menatap ke kamar sebelahnya, lagi lagi kamar Eni terkunci, sepertinya Eni pergi lagi saat malam hari.


Dewi juga merasa mengantuk, ia akan segera tidur, karena jam tidurnya sudah lewat.


......................


Keesokan harinya Dewi terbangun, ia terbangun karena ketukan pintu kamarnya yang mengganggunya sedang tidur.


"Sebentar... "


Dewi beranjak bangun dari tidur, ia membuka pintunya dan melihat Eni memegang sesuatu.


"Titipan dari orang, Wi, buat kamu katanya. " ucap Eni.


Dewi mengambil kotak besar tersebut, sebelumnya ia mempersilahkan Eni untuk masuk dan membantu nya membuka isi kotak tersebut, tak lama terlihat bahwa barang barang tersebut berisi alat elektronik, tak lain itu laptop beserta peralatan lainnya.


"Wah, laptop! " heboh Dewi.


Eni menatap isi kardus tersebut, isinya sangat lengkap, bahkan ia bersorak.


"Lengkap banget, Wi, beruntung banget kamu dibeliin ini sama om Gusti. " ucap Eni.


"Kayaknya ada persyaratannya deh tadi malam, pasti ada kan? " tanya Eni.


"Ya, saya menerima om Gusti mencium saya, dan saya meminta laptop untuk kebutuhan kuliah saya, jadi saya mendapatkan nya pagi hari ini. " jawab Dewi.


"Wah, hebat dong, berarti kamu bisa bikin om Gusti seneng, alhasil dibeliin kayak gini sama dia. " ucap Eni.


"Tapi ini pertama kalinya, jadi cukup membuat kaget. " jawab Dewi.


"Baru tahap pertengahan ini, Wi, kamu bakalan lewatin tahap berikutnya, ya walaupun itu kamu harus terima badan kamu jadi taruhannya. " ucap Eni.


"Tahap pertengahan? Terima badanku yang jadi taruhan? Maksudnya kamu mau saya jadi pelacur? " tanya Dewi.


"Wi, jadi ani ani itu rata rata nggak mungkin masih perawan, kamu kalau mau bayaran lebih, kamu harus berkorban sendiri, kamu memangnya mau om Gusti bosen terus kamu nggak dapat bayaran, sementara biaya kuliah kamu aja dari desa selalu tersendat-sendat? " tanya Eni.


Dewi masih ragu, ia tidak menjawab pertanyaan Eni barusan.


"Saya masih ragu, Ni, kalau sekedar menemani mungkin saya mau, tapi kalau memberikan keperawanan saya, rasanya saya baik mundur saja. " ucap Dewi.


Eni menggelengkan kepalanya, ia merenggangkan tubuhnya dan berdiri. "Aku balik ke kamarku dulu ya, mau lanjut tidur. "


"Memangnya kamu masih mengantuk, Eni? Kamu pulang jam berapa? " tanya Dewi.


"Ya, jam 4 lah, makanya sekarang tuh masih ngantuk gitu. Udah, aku mau balik ke kamar dulu. " ucap Eni.


Eni berdiri dan beranjak pergi dari kamar Dewi, ia menutup pintu kamar Dewi, dan Dewi menutup erat pintunya lagi.


Dewi memikirkan ucapan Eni tadi, bahwa simpanan rata rata biasanya tidak ada lagi yang perawan, dan ia sendiri harus mengikuti ucapan temannya tadi.


'Menurut ku, om Gusti pastinya tidak akan mungkin seperti itu, ini saja sudah sebulan lebih aku hanya menjadi temannya saat kemana saja. Eni ada ada saja idenya. '


...****************...

__ADS_1


__ADS_2