
Di ruangan lainnya, terlihat Dewi tengah menimang anaknya yang telah lahir, wajah bahagianya terpancar saat ia menimang anak yang dilahirkannya, ia saja sampai melupakan rasa sakitnya ketika telah berhasil melahirkan anaknya.
"Galuh, anakku sayang. "
Dewi mencium pipi bayinya itu, pipi merah nan lembut itu ia kecup dengan lembut, kemudian mengelusnya dengan perlahan.
"Nona Dewina, silahkan. "
Asisten Gina kemudian memasuki ruangan tempat Dewi berada, bukan sebuah makanan atau apapun itu, namun sebuah surat yang berisikan materai, Dewi yang sedang memangku Galuh menatap tidak percaya, bahwa yang berada di depannya adalah sebuah surat kesepakatan yang sebelumnya sudah dibuat.
"Asisten Gina, ini-- "
"Tandatangani itu segera. "
Suara yang datang dari luar ruangan, dari pintu ruangan tersebut seorang wanita masuk, tanpa rasa bersalah atau apapun itu, Bella dengan santai masuk ke dalam ruangan tersebut dengan gayanya yang elegan.
"Bu Bella, saya baru saja melahirkan anak ini, kenapa harus secepat ini? " tanya Dewi.
"Kenapa? Tidak suka kamu? " tanya Bella menantang.
Dewi memeluk Galuh, ia menggelengkan kepalanya.
"Saya mohon, jangan secepat ini, bu Bella. " mohon Dewi.
"Hei, kamu kira ini setimpal dengan apa yang terjadi dengan suami saya sekarang? "
Bella mendekat, tangannya mencekam wajah Dewi, sedangkan Dewi hanya bisa pasrah dan menunjukkan wajah cemasnya kepada wanita itu.
"Sekarang dia berada di ruangan lain, semua ini terjadi karena riwayat panggilannya mengarah kepada asistennya sendiri! Lebih tepatnya semua ini terjadi karena kamu, kamu yang terlalu menuntut suami saya untuk segera menemuimu hingga mobilnya terbalik dan dia mengalami kecelakaan. Jika sesuatu terjadi pada suami saya, siap siap saja kamu akan saya sekap dan saya siksa habis habisan! " tegas Bella.
Air mata Dewi kemudian menetes, ia menggelengkan kepalanya.
"Saya benar benar tidak tahu harus jadi seperti ini, bu, saya juga mengkhawatirkan om Gusti yang kecelakaan beberapa jam yang lalu, saya tidak menginginkan hal ini terjadi... " lirih Dewi.
"Persetan dengan wajah menyedihkanmu itu! Berhenti bertindak seolah kamu terlihat sangat menyakitkan! Saya memang sangat membenci kehadiranmu ketika suami saya mengenalkan anda secara langsung kepada saya, dengan alasan bahwa kamu partner kerjanya, padahal kamu wanita ****** simpanan suami saya! " umpat Bella.
Dewi hanya menangis, ia memegang anaknya dengan erat, namun akhirnya Bella mengambil Galuh dari pangkuannya dan memberikannya kepada asisten Ella yang sudah berada di samping Bella.
"Bu, jangan ambil anak saya... " lirih Dewi.
"Jangan ambil? Saya tidak peduli! "
Bella mengambil kertas berisi surat perjanjian tersebut, ia melemparkan surat tersebut ke wajah Dewi, dan juga ia melempar pena ke arah Dewi.
"Jangan habiskan waktu saya untuk meladeni kamu disini, karena saya masih perlu melihat keadaan suami saya sekarang! Cepat, tanda tangani surat perjanjian itu, jangan membuat saya bertindak kasar dengan sikap kamu yang bertele tele seperti ini! " ancam Bella.
Dewi meraih surat perjanjian tersebut, dengan tangannya yang gemetaran, Dewi dengan berat hati menandatangani surat perjanjian itu yang sudah memiliki materai diatasnya.
"Ini bu. " ucap Dewi gemetaran.
__ADS_1
Bella langsung meraih surat tersebut, ia tersenyum miring dan membawa surat tersebut bersama dengan Galuh yang digendong oleh asisten Ella, Dewi menangis ketika anaknya diambil paksa oleh wanita lain, ia ingin menyusul anaknya yang telah diambil, namun tubuhnya masih terasa sangat lemas sehingga ia tidak berdaya dan hanya bisa menangis saja.
Keadaan di ruangan lain, tepatnya sebuah ruangan khusus, terlihat seorang pria dewasa yang terbaring di atas kasur.
Gusti terbaring di atas kasur rumah sakit itu, dengan kondisinya yang tidak terlalu parah karena kecelakaan yang dialaminya walaupun sempat mobilnya terbalik.
Perlahan, mata Gusti sedikit terbuka, ia tersadar dari pingsannya, kepalanya terasa sangat sakit dan tubuhnya terasa sangat susah digerakkan, ia menyentuh kepalanya yang sempat diperban akibat serpihan kaca mobil yang membuat ubun ubun kepalanya berdarah.
"Sudah sadar, tuan Gustiawan? "
Gusti menatap ke arah lainnya, di ruangan tempat ia dirawat, Gusti melihat sosok Bella yang duduk di sofa dengan menyilangkan kedua kakinya, dan juga ia melihat seorang bayi yang sedang dipangku oleh istrinya itu.
"Bayi, bayi siapa yang kamu ambil itu?! " tanya Gusti.
Gusti menguras tenaganya karena bertanya dengan nada yang tegas, alhasil ia melenguh kesakitan pada kepalanya, Bella dengan senyum miringnya kemudian menatap ke arah Gusti.
"Siapa lagi kalau bukan anak anda sendiri, Gustiawan. Anda tahu, bahwa selingkuhan anda yang bernama Dewina itu sudah melahirkan anak ini, paling membuat saya ingin tertawa karena ia yang ingin mempertahankan anak ini dari perjanjian sebelumnya. " jelas Bella.
Gusti mengingat hal tersebut, di benak hatinya seperti tidak terima ketika anak dari Dewi telah lahir, namun hal tersebut menjadi kesempatan untuk Bella membuatnya kesal.
"Hai nak, sapa papamu sekarang, lihat, dia sedang terbaring tidak berdaya, sama seperti wanita yang tadi habis melahirkanmu. "
Bella dengan nada mengejek kemudian menunjukkan Galuh kepada Gusti, Gusti memalingkan wajahnya, ia tidak ingin melihat wajah bayi itu, sementara Bella terus terusan mendekatkan Galuh pada suaminya itu.
"Bella, hentikan! Jauhkan bayi itu dari saya, atau saya akan lempar bayi itu ke wajahmu! " bentak Gusti.
Gusti kembali memegang kepalanya, sedangkan Bella tertawa melihat Gusti yang lagi lagi meringis kesakitan, tak lama setelahnya Galuh akhirnya menangis karena suara kegaduhan itu yang mengganggu tidurnya.
Bella memberikan Galuh yang tengah menangis itu kepada asistennya, asisten Ella berusaha menenangkan Galuh yang menangis, ia hanya bisa diam menggendong bayi itu sementara kedua majikannya saling adu jotos.
'Anak ini sebenarnya sangat kasihan nasibnya, memang diambil dan dijaga, namun apakah Galuh ini bisa sekuat ini dengan kedua majikanku yang sebenarnya tidak menginginkannya? ' ucap asisten Ella dalam hati.
.
Keesokan harinya, akhirnya hari itu Dewi dipersilahkan untuk pulang, karena waktunya berada di rumah sakit sudah selesai, dan ia bisa melewati masa pemulihan mandiri di rumah.
Kali ini asisten Gina mendapat tugas dari Gusti dan Bella, mereka memerintahkan asisten Gina untuk menemani masa pemulihan Dewi, dan juga meminta setelah dua minggu pemulihan, asisten Gina akan membantu Dewi untuk keluar dari apartemen tersebut.
"Nona Dewina, kita kembali ke apartemen lagi ya? " tanya asisten Gina.
Dewi menganggukkan kepalanya, sekarang dirinya hanya bisa berpihak kepada asisten Gina, karena hanya asisten itulah yang kini bisa membantunya dan melayaninya selama masa nifasnya, walaupun itu hanya akan berlangsung selama 2 minggu saja.
"Baik, saya mau. " jawab Dewi.
Dengan menggunakan taksi, kedua wanita itu akhirnya memutuskan untuk pulang, Dewi menatap ke arah hilir jalan perkotaan itu, hatinya terasa sangat sakit dan sedih ketika harus berpisah dengan anaknya.
Asisten Gina menyadari hal tersebut, ia menenangkan Dewi yang kini merasa kehilangan, Dewi menghargai tindakan asisten Gina yang berusaha menenangkannya.
Perlu perjalanan setengah jam untuk kembali ke apartemen, akhirnya mobil taksi tersebut berhenti di depan lobby gedung apartemen, dari arah parkiran, entah itu sebuah kebetulan, Dewi melihat mobil milik Gusti yang terparkir di parkiran gedung apartemen tersebut, hal itu membuat Dewi langsung berjalan ke dalam gedung apartemen tersebut, asisten Gina terkejut melihat Dewi yang pergi secara tiba tiba kemudian ia menyusulnya ke dalam.
__ADS_1
Langkah Dewi untuk segera menyusul ke kamar apartemennya terlalu cepat, membuat asisten Gina lumayan menguras tenaga karena terus mengikuti Dewi, hingga akhirnya mereka telah tiba di kamar apartemen tersebut.
"Galuh! "
Gusti dan Bella yang berada di dalam kamar apartemen tersebut menatap ke arah luar, Dewi yang berjalan mendekat kemudian dihadang oleh Gusti, sedangkan Bella memberikan Galuh kembali pada asisten dan baby sitter yang terlihat baru berada bersama kedua pasangan tersebut, Dewi merintih sambil mengeluarkan air matanya ketika ingin melihat Galuh.
Namun apalah daya Dewi, ia tidak bisa menerobos pertahanan Gusti yang terus saja menghalaunya, Dewi akhirnya menyerah dan akhirnya memilih untuk bersujud kepada Gusti sambil memohon untuk bertemu dengan anaknya.
"Om, izinkan saya bertemu anak saya, saya ibunya... " lirih Dewi memohon pada Gusti.
Gusti tampak tidak peduli dengan permohonan Dewi, tatapannya seakan kosong mengarah pada Dewi, Dewi yang masih merasa lemas itu hanya bisa terkaku melihat Gusti tak bergeming atas permohonannya.
"Kamu sudah menyepakati perjanjian sebelumnya dengan Bella, maka sekarang saya minta, setelah kamu pulih selama dua minggu disini, kamu bisa pergi membereskan meninggalkan apartemen ini tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Kita putus hubungan, urusan kita selesai sampai disini. "
Ucapan tersebut membuat Dewi membeku, hatinya teriris ketika mendengar pernyataan tersebut, ia tidak bisa menuntut keinginannya tersebut kepada Gusti, karena kesepakatan sebelumnya, Dewi berhasil melahirkan anak laki laki, maka persyaratannya dianggap lunas dan ia akan putus hubungan dengan Gusti, namun naluri ibu tak bisa lepas dari anaknya, Dewi merasa tidak ingin jauh dari anaknya yang telah ia lahirkan kemarin.
Gusti dan Bella pergi dari apartemen tersebut dengan membawa Galuh, hal nekat yang dilakukan oleh Dewi adalah ingin mengejar kedua pasangan itu, walaupun ia susah untuk berdiri, Dewi memaksakan tubuhnya untuk ikut bergerak agar bisa bertemu dengan anaknya.
"Galuh! Galuh anakku! "
Dewi ingin mengejar Gusti dan Bella yang membawa Galuh pergi, namun ia tertinggal dengan lift yang sudah ditempati oleh kedua pasangan tersebut, Dewi tidak habis pikir, ia memilih salah satu lift yang tak jauh dari lorong untuk mengejar kedua pasangan yang membawa anaknya pergi darinya.
"Nona Dewi, jangan lari! "
Asisten Gina benar benar menjaga Dewi, ia mengikuti Dewi yang baru saja melahirkan itu, karena wanita itu sangat nekat ingin mengejar kedua majikannya, ia tahu bahwa Dewi tidak akan bisa mengejar kedua majikannya itu.
"Asisten Gina, saya ingin anak saya... "
Dewi terus saja merengek di dalam lift tersebut, asisten Gina tidak bisa berbuat banyak, karena ia sendiri bingung untuk bisa membantu Dewi, bagaimana caranya ia bisa mengambil Galuh dari kedua majikannya, sedangkan ia sendiri merupakan pesuruh kedua pasangan itu.
Saat tiba di lobby gedung apartemen, Dewi melihat ke arah luar, terlihat mobil Gusti yang sudah ingin pergi, Dewi tidak tinggal diam, ia dengan cepat ingin menyusul mobil tersebut, kalau bisa ia mencoba berlari.
"Galuh! Jangan bawa Galuh! "
Dewi tampak mengejar mobil Gusti, di dalam mobil tersebut terdapat kedua pasangan, yaitu Gusti, Bella dan seorang baby sitter yang menjaga Galuh, Dewi yang langkahnya masih terbata bata itu berusaha mengejar mobil, hingga akhirnya ia tersungkur dan terjatuh dari langkahnya, asisten yang diperintahkan untuk menjaga Dewi kemudian membantu Dewi untuk berdiri, sedangkan Dewi memberontak ingin anaknya dapat dikembalikan.
"Nona Dewina, anda kembali ke apartemen saja, kondisi anda belum pulih sempurna, " ucap asisten Gina.
"Anakku, aku ingin anakku... "
Tangisan yang amat pedih itu pecah, Dewi menangis sejadi jadinya ketika ia harus terpisah dengan anaknya, sedangkan asisten Gina hanya bisa menolong Dewi sebatas membantu merawat Dewi yang sedang masa pemulihan.
Asisten Gina membantu merawat Dewi, seharian itu adalah hari yang sangat buruk bagi Dewi, air matanya tak berhenti mengalir ketika ia dipisahkan oleh anaknya, sepanjang waktu itu Dewi hanya merenung ke arah balkon apartemen tersebut.
Dewi menatap kosong ke arah perutnya, ia perlahan mengelus perutnya, tak lama air matanya menetes, ia sangat merindukan anaknya yang sekarang sudah jatuh ditangan Gusti dan Bella.
"Galuh, bunda sangat menyayangimu... "
Asisten Gina mengelus pundak Dewi, kali ini ia mendengar isak tangis Dewi yang pedih itu, Dewi hanya bisa menangis mengingat anaknya sudah diambil, dan sekarang ia tidak bisa berbuat apa apa selain merelakan anaknya diambil oleh Gusti dan Bella.
__ADS_1
*************