Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 08: Pekerjaanmu apa, nak?


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Temani saya beli handphone, om. " ucap Dewi.


"Loh, kenapa kamu meminta handphone lagi? Apa handphone yang kamu gunakan sekarang rusak? " tanya Gusti.


"Tidak, tidak rusak kok om, hanya saja saya ingin membeli handphone untuk kedua orangtua saya, mereka sangat membutuhkan handphone untuk menelpon saya. " jawab Dewi.


Gusti mengganggukan kepalanya, kemudian mencolek dagu Dewi sambil tersenyum.


"Oke manis, saya akan turuti kemauan kamu. Tuangkan lagi minuman saya, kamu tidak mau pesan jus? " tawar Gusti.


"Tidak om, air putih saja. " tolak Dewi.


Dewi mengambil minuman yang telah ditunjuk oleh Gusti, ia menuangkan minuman tersebut.


Reaksi dari Gusti hanya biasa saja, bahkan Dewi sempat heran, bagaimana bisa Gusti tidak mabuk sama sekali, bahkan masih bisa menanggapi ucapan Dewi yang menginginkan handphone.


Selesai meminum minuman yang telah terletak di atas meja, Gusti berdiri, ia menyodorkan tangannya untuk mengangkat Dewi.


Tampaknya Dewi sudah mengantuk, mungkin suasana malam dan Dewi termasuk tidak sering begadang, makanya ia cepat mengantuk ketika sedang menunggu Gusti mengobrol dan meminum minumannya.


"Om, jangan sampai roboh ya. " ucap Dewi.


Gusti mengerutkan keningnya, ia menatap ke arah Dewi dengan penuh tanda tanya.


"Roboh maksudnya apa ya? " tanya Gusti balik.


"Begini, om sudah minum terlalu banyak minuman, jadi saya takut jika om sampai roboh karena mabuk. Saya hanya berjaga-jaga saja, agar om tidak roboh. " jawab Dewi.


Gusti tersenyum, ternyata itu adalah alasan Dewi untuk berjaga-jaga kalau ia habis meminum minuman.


"Saya sama sekali tidak meminum alkohol, Dewi, itu hanyalah jus perisa anggur. Saya tahu, bahwa saya akan bertemu dirimu, tidak mungkin saya tidak akan membantu kamu memilih handphone, sementara saya dalam keadaan mabuk untuk membantu memilih handphone yang baru untukmu. " ucap Gusti.


Dewi akhirnya mengerti, ia mengganggukan kepalanya.


Udara malam yang dingin, Dewi mengusap usap lengannya, mengikuti Gusti ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil.


Kali ini mobil yang digunakan Gusti pun sudah berbeda dari sebelumnya, sudah wajar jika orang seperti Gusti mempunyai bermacam mobil, itu sudah menjadi kebiasaan Gusti sendiri.


"Jenis apa yang kamu mau? "


Dewi menolehkan kepalanya. "Saya tidak mengerti jenisnya, tapi saya ingin bisa digunakan oleh orangtua pada umumnya saja, om. " ucap Dewi.


"Banyak jenis handphone yang bisa di gunakan oleh orangtua pada umumnya, bahkan tipe handphone seperti kamu saja juga menjadi handphone yang bisa digunakan orangtua pada umumnya. " jawab Gusti.


Dewi menjadi bingung, namun Gusti malah tertawa, gadis itu terlalu polos untuk ia kerjai.


"Polos sekali kamu, manis? Bahkan kamu tidak tahu bahwa saya mengerjaimu? " tanya Gusti.


"Saya benar-benar tidak tahu, om, saya akan minta bimbingan om sendiri saja. " ucap Dewi.


Gusti mengganggukan kepalanya, ia menambah laju kendaraannya untuk menuju ke store handphone.


......................


"Bagaimana dengan yang ini? "


Dewi melihat handphone yang ditunjukkan itu, ia melihatnya dengan jelas, namun sama sekali tidak mengerti.


"Sepertinya bagus. " ucap Dewi.


Gusti mengeluarkan kartu kreditnya, bentuk dan warna kartu itupun berbeda dari biasanya, bahkan seller yang melayaninya saja pelayanannya sudah berbeda, sebatas kartu saja bisa mengubah pandangan sosial.


"Ini handphone nya, terimakasih sudah berkunjung. "


Dewi membawa totebag mini berisi handphone, ia membawanya dan mengikuti Gusti.


"Terimakasih om sudah belikan saya handphone ini. "

__ADS_1


"Ya, sama sama, manis. " balas Gusti.


"Apakah kamu ingin jalan jalan lagi di mall ini? " tawar Gusti.


"Tidak om, tujuan saya hanya ini saja. Saya sangat sangat berterimakasih karena ini. " ucap Dewi.


Gusti mengganggukan kepalanya, ia bersama Dewi berjalan ke eskavator untuk turun ke bawah.


"Om." panggil Dewi.


"Ya, ada apa, Dewina? " tanya Gusti.


Dewi mengurungkan niatnya, ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak jadi, om. " jawab Dewi.


Dewi berpikir, ia tidak ingin merepotkan Gusti soal mengirim handphone ke desa, akan ia tanyakan pada Eni bagaimana caranya untuk mengirim handphone ke desa.


Sepulangnya dari luar, Dewi masuk ke dalam kosan, ia melihat di pos penjaga, terlihat satpam yang tengah tertidur, mungkin kelelahan saat berjaga malam.


Melihat ke arah kamar Eni, terlihat kamarnya terkunci dari luar, sepertinya Eni sedang pergi ke luar dan tidak ada tanda tanda ada orang di dalam kamar.


Dewi mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan pada Eni, ia memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu, esok hari ia akan menemui Eni.


"Semoga dengan handphone ini, ibu dan bapak di desa bisa memakainya, agar mereka tidak lagi meminjam handphone milik bu Sri lagi. "


Dewi menaruh handphone tersebut di dalam lemari, ia kemudian memutuskan untuk langsung tidur, karena ia memang dari club sudah hampir tertidur karena mengantuk.


......................


Keesokan harinya, Dewi keluar dari kamarnya untuk memantau kamar Eni dari luar, saat keluar, ia kembali melihat bahwa kamar Eni masih terkunci dari luar, jarang jarang sekali temannya itu tidak ada di kamarnya, apalagi sudah semalaman tidak berada di kamar.


"Eni kenapa tidak ada di kamar, ya? Tidak biasanya dia tidak ada di kamar. " gumam Dewi.


Dewi masuk kembali ke kamarnya, ia berencana untuk langsung berangkat ke kampus, karena sekarang saja ia hampir terlambat untuk masuk kuliah.


Dewi melaksanakan aktivitas nya dengan sangat baik untuk hari ini, selesai kuliah ia akan langsung berangkat ke minimarket, kebetulan hari tersebut adalah hari yang ditunggu oleh para karyawan karyawati di kantor, apalagi kalau yang namanya gajian.


"Terimakasih, pakbos! " ucap karyawan lainnya.


"Ini bayaran untuk kamu, kamu cukup bagus untuk menerima gaji selama bekerja di sini. Ini, bonus untuk kamu, karena kamu termasuk pegawai paling rajin di minimarket selain Randi. " puji bos tersebut.


"Terimakasih pak, kalau begitu saya permisi. "


Dewi keluar dari kantor, ia langsung memasukkan amplop tersebut ke dalam tasnya, ia memutuskan untuk pulang.


Dewi membeli beberapa makanan yang ada di minimarket tempat ia bekerja, ia ingin mentraktir temannya, karena kebetulan hari tersebut adalah hari ia gajian, ia ingin berbagi kesenangan bersama temannya, Eni.


Saat telah sampai di kosan, Dewi akhirnya bertemu dengan Eni, itu sebuah kebahagiaan baginya, karena ia bisa bertemu dengan temannya itu.


"Eni! "


Dewi bergegas berlari ke atas, ia menghampiri Eni yang sedang membuka pintu kamar kosan.


"Eni, semalaman kamu tidak pulang ke kosan, kamu kemana saja? " tanya Dewi.


"Maaf ya, aku ada urusan di luar, soalnya mendadak juga sih, jadinya nggak sempet mau ngasih tau kamu. " jawab Eni.


"Ini, ayo kita makan sama sama. " ajak Dewi.


"Kamu beliin aku makanan, Wi? " tanya Eni.


"Ya, kebetulan saya mendapat gaji, maka hari ini saya ingin mentraktir kamu dengan makanan yang sudah saya beli. Maaf jika salah satunya nggak enak kalau dimakan. " jawab Dewi.


Eni mengajak Dewi untuk masuk, Eni menutup pintunya kemudian duduk di atas karpet bersama dengan Dewi.


"Lumayan, kamu tau salah satu snack kesukaan ku, Wi. "


"Benarkah? Saya merasa lega jika kamu suka salah satu snack yang saya bawa. " ucap Dewi lega.


Eni menikmati makanan yang dibawa oleh Dewi, kemudian Dewi teringat sesuatu.


"Eni, bagaimana cara mengirim handphone ke desa? Saya mau langsung kirim saja handphone yang sudah dibeli malam tadi. " tanya Dewi.

__ADS_1


"Udah beli kamu? " tanya Eni.


Dewi menganggukan kepalanya. "Kirim aja lewat ekspedisi, tinggal kamu cantumin lokasi tempat kedua orangtua kamu tinggal. Nanti aku temenin kamu ke kantor ekspedisi. " ucap Eni.


Dewi berterimakasih terus menerus pada Eni, Eni adalah penyelamat nya, bahkan Eni mau membantunya untuk mengirimkan barang berupa handphone.


Dewi membuka tasnya, ia mengambil amplop gajinya, Eni menatapnya dengan tatapan penasaran dan mendekat.


"Baru gajian ya? Pantesan aja nraktir aku. " tanya Eni.


"Iya, saya baru saja gajian, makanya saya membelikan ini untuk dimakan bersama. " jawab Dewi.


Eni melihat Dewi membuka amplop tersebut, kemudian Dewi melihat beberapa lembar uang kertas dari amplop nya, Eni menatap isi amplop tersebut dengan tatapan menyedihkan.


"Gajinya kecil banget, Wi. " ucap Eni.


"Namanya kerja di minimarket, Ni, jadi wajar saja gajinya hanya sebanyak ini. Tapi tidak apa, bagi saya ini cukup. " ucap Dewi.


Eni menggelengkan kepalanya.


"Yaudah, yok siap siap, kita antar ke ekspedisi dulu handphone nya. " ajak Eni.


Dengan bantuan Eni, Dewi akhirnya mengerti cara mengirimkan barang, caranya tidak terlalu susah dan hanya menunggu konfirmasi selanjutnya.


Dewi sebelumnya sudah menyelipkan surat dan sedikit uang untuk orang tuanya, ia berharap bapak dan ibunya di desa bisa bahagia ketika mendapatkan handphone.


......................


Jangka waktu pengiriman prakiraan sekitar 3 atau 5 hari, Dewi tinggal menunggu kabar dari orang tuanya.


"Eni, kenapa tidak ada kabar sama sekali ya? " tanya Dewi.


Sedaritadi di kamar Eni, Dewi hanya menatap handphone nya terus menerus, berharap ia mendapatkan panggilan dari kedua orangtua nya.


"Ngirim barang elektronik lewat ekspedisi memang kayak gitu, Wi, kadang juga barang tiba-tiba hilang di jalan, entah itu kurir dirampok atau paketmu ditukar. "


Mendengar ucapan Eni, Dewi menjadi panik, ia hampir saja menangis ketika handphone yang dikirim lewat ekspedisi memiliki resiko saat pengiriman.


"Eni, jangan seperti itu... " lirih Dewi.


Eni menenangkan Dewi, ia minta maaf karena telah membuat Dewi menjadi panik karena ucapannya.


Tak lama handphone Dewi berdering, ia melihat siapa yang menelpon nya, ternyata itu nomor yang sudah terdaftar di kontaknya, nomor ibu dan bapaknya tertera di nomor tersebut.


'Halo nak, ini kami... '


"Bapak, ibu, akhirnya paket yang Dewi kirimkan sudah sampai di tangan kalian. Hampir tiga hari Dewi khawatir dengan pengirimannya, takut jika barang tidak sampai tujuan. " isak tangis Dewi.


'Terimakasih ya nak, kamu sudah repot repot membelikan kami handphone, sementara uang kosan kamu bapak sama ibuk lambat buat bayarnya. ' ucap kedua orangtua Dewi.


"Iya Pak, bu, sama sama, Dewi tahu sekarang belum musim panen, tidak apa apa, Dewi bisa bekerja disini dengan uang Dewi bekerja, bu. " ucap Dewi.


'Oh ya nak, memangnya kamu bekerja apa di kota? ' tanya Taufik.


Eni yang berada di kamar Dewi menulis sesuatu, menyuruh Dewi untuk mengatakan bekerja di minimarket, jangan menyuruhnya untuk mengakui bahwa ia adalah simpanan.


"Dewi kerjanya di minimarket, pak, bu, di sana gajinya lumayan, hingga Dewi bisa belikan bapak dan ibu handphone. Dijaga ya, pak, bu. " ucap Dewi.


'Baik nak, sekali lagi kami terimakasih untuk handphone nya, akhirnya kami bisa menghubungi kamu kapanpun kami merindukanmu di sana. ' ucap Warsita dari telepon.


Panggilan video tersebut berakhir, Dewi meletakkan handphone nya dan bertanya soal pekerjaannya yang tidak boleh diberitahukan oleh Eni.


"Kenapa saya tidak boleh menyebutkan pekerjaan saya, Eni? " tanya Dewi.


"Kalau kamu kasih tau kerjaan kamu sama kedua orangtua kamu, mau kamu tetangga kamu ikutan iri sama kamu, Wi, terus dia bisa nyakitin kedua orangtua kamu? " tanya Eni.


Dewi tertegun, ia menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin jika kedua orangtuanya disakiti oleh para tetangganya.


"Tidak, saya akan mengatakan bahwa saya bekerja di minimarket, demi kebaikan bapak dan ibu saya di desa. " ucap Dewi.


Eni merasa lega, baginya bahaya jika Dewi mengatakan yang sebenarnya, kalau Dewi ia jadikan sugar baby untuk para laki-laki tua seperti Gusti.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2