
...Happy reading š§”...
......................
Beberapa bulan berlalu, tak disangka bahwa Dewi sudah merasa perutnya sudah mulai membesar, ia saja sampai bingung ingin mencari ukuran pakaian yang cukup longgar yang bisa ia pakai, karena tidak akan mungkin jika ia pergi ke kampus dengan perutnya yang sebesar itu, dan lagipula waktu libur akan berjalan lama, mungkin sebulan lagi baru semester pertama akan berakhir.
Bel kamar apartemen Dewi berbunyi, ia berjalan dari kamar mandi menuju ke pintu luar, ia membuka pintu kamar apartemennya, ternyata itu adalah pengantar paket yang mengantarkan pakaiannya yang ia pesan lewat online, Dewi mengambilnya dan berterimakasih dengan pengantar paket tersebut.
Dewi menutup pintu kamar apartemennya, kemudian ia berjalan menuju ke dalam, bersama dengan Jelly, ia membuka paket yang ia pesan dan melihat pesanannya, ia merasa puas ketika melihat pesanannya yang sesuai dengan keinginannya.
Beberapa potong baju dress berukuran lebar, cukup ia pakai dan terasa longgar di badannya, tetapi itulah yang ia inginkan, setidaknya badannya terasa bahwa tertutupi dengan baju tersebut, dan ia juga merasa bahwa baju tersebut sangat bagus untuk ia pakai saat pergi berkuliah.
Dewi membereskan semua barang barang yang ia akan bawa saat pergi ke kampus, dan ia mengambil ponsel beserta dompetnya yang berada di kamar.
Dewi melihat sebuah kartu yang tergeletak di atas meja dekat kasurnya, ia mendekati meja tersebut dan melihat sebuah kartu debit dan secarik kertas dibawahnya, dengan tulisan yang terkesan rapi itu tertuju padanya.
'Saya tahu bahwa kamu membutuhkan uang selama berada di apartemen milik saya, kamu sekarang bisa memakai kartu ini kembali, karena saya tahu, kebutuhan dan keinginanmu banyak. Jangan sampai dengan kartu ini, kamu akan mencoba untuk kabur lagi. Tertanda, Gustiawan. '
Dewi membacanya dengan lucu dalam hatinya, laki laki tersebut terlihat sangat perhatian walaupun terkesan kasar, tetapi baginya itu tidak terlalu berpengaruh, hanya saja ia akan mencoba untuk tidak mengambil hati dengan ucapan laki laki tersebut.
"Om Gusti kadang terasa lucu, aku sampai tidak bisa berkata apa apa dengannya. " ucap Dewi.
Dewi mengambil kartu tersebut, kemudian ia menaruhnya di dalam dompetnya, Dewi bersiap siap untuk segera pergi menuju ke kampus.
"Jelly, aku pergi, jaga apartemen ini dengan baik, oke? "
Jelly menggonggong, kemudian ia duduk di sofa menatap Dewi yang akan pergi, ia tidur dengan pulas, sedangkan Dewi pergi dan menutup pintu kamar apartemen miliknya.
.
"Semesteran ini akan berakhir sebulan lagi, siapkan diri kalian untuk menghadapi semester selanjutnya lagi. "
Semua mahasiswa jurusan kedokteran tersebut membereskan barang barang mereka masing masing, dan juga kelas yang selesai, mereka keluar dan pulang.
Secara tiba tiba ponsel milik Dewi berdering, Dewi merogoh tasnya dan ia mengambil ponselnya, dilihatnya siapa yang tengah menelponnya, dan ternyata itu adalah Gusti.
"Om Gusti menelpon? Bukannya kalau siang hari dia akan sibuk di kantor? " gumam Dewi bertanya.
Dewi mengangkat telponnya, sambil berjalan ke lorong ia mengangkat telepon tersebut.
"Halo, ada apa om? " tanya Dewi.
'Sekarang kamu berada di mana? Saya akan mengajak kamu makan siang, sekalian saya akan menjemput kamu. ' tanya Gusti.
"Saya sedang di kampus, dan juga saya sudah keluar dari kelas, jika om ingin menjemput saya, saya akan menunggu di lorong kampus. " jawab Dewi.
'Tunggu di sana, saya akan segera tiba. '
"Baik, saya akan tunggu kedatangan om. " ucap Dewi.
Panggilan berakhir, Dewi menaruh lagi ponselnya di dalam tasnya, kemudian ia berjalan kembali, tak lama ia sedang berjalan, ia melihat Daniel dari kejauhan, membuatnya mulai mengejar laki laki yang sedang berjalan menuju ke ruangan lainnya.
"Pak Daniel! "
Laki laki yang dimaksud oleh Dewi menoleh, beberapa mahasiswi yang sedang mengobrol di lorong memberikan tatapan mengejek ke arah Daniel, Daniel yang mendengar nama panggilannya itu saja merasa malu, dan ia tidak sama sekali bergeming ingin menyapa Dewi, hanya gadis itu saja yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Maaf sebelumnya mengganggu, saya--"
"Dewi, bisa kita ngobrol di sebelah sana? " potong Daniel.
Dewi yang ucapannya terpotong kemudian mendengarkan perintah dari Daniel, dan juga ia menganggukan kepalanya kemudian mengikuti Daniel menuju ke dekat papan mading.
"Kenapa kamu memanggil saya dengan sebutan bapak? Hanya di perusahaan saya saja kamu boleh memanggil saya dengan sebutan itu, mengerti? " tanya Daniel.
Dewi bingung. "Bukankah sebelumnya kamu menyuruh saya memanggil kamu dengan sebutan pak Daniel? " tanya Dewi.
Daniel berdecak, sesekali ia menghela nafasnya dengan kasar, ia tidak tahu ingin menjelaskannya secara baik dengan gadis yang berada di depannya itu.
"Gini aja, kamu kalau di luar perusahaan punya aku, jangan sebut aku dengan panggilan bapak, itu hanya diberlakukan saat kamu berada di perusahaan punya aku. Jadi, termasuk di kampus inipun, jangan panggil aku dengan sebutan itu, kamu tidak lihat tadi mahasiswi menertawakan panggilan kamu ke aku? " ingat Daniel.
Dewi terkejut dengan peringatan tersebut, ia menutup mulutnya seraya tidak percaya dengan barusan diucapkan, ternyata ia membuat malu bosnya sendiri di depan para mahasiswi yang tengah mengobrol.
"Maafkan saya, saya tidak tahu jika seperti itu kejadiannya, dan juga tujuan saya ingin memberikan laporan kunjungan halaman milik perusahaan dengan bapak. "
Daniel berdecak dan menatap Dewi dengan mengerutkan keningnya.
"Maaf, Daniel... " ucap Dewi dengan pelan.
Daniel mengambil laporan yang dimaksudkan oleh Dewi, ia melihatnya dan menatapnya satu persatu, senyum puas terpancar di bibir Daniel, ia tampak senang dengan laporan tersebut.
"Bagus, ternyata persentase halaman dan media perusahaan yang kamu pegang berkembang dengan baik, saya sangat puas melihatnya. " ucap Daniel.
"Benarkah? Saya sangat senang mendengarnya, Daniel. " ucap Dewi.
Daniel menutup buku laporan tersebut.
"Karena kamu berhasil membuat persentase halaman dan media perusahaan meningkat dengan baik, katakan, kamu ingin apa untuk perusahaan memberimu sesuatu? " tanya Daniel.
Dewi mendengar hal tersebut kemudian memikirkan sesuatu yang sebelumnya ia lihat, sebuah korset yang bagus untuk digunakan saat hamil, membuatnya tertarik untuk memilikinya.
"Katakan saja, maka perusahaan akan memberikannya. " ucap Daniel.
"Korset... "
Daniel merasa tidak percaya dengan keinginan dari Dewi, karena keinginan gadis tersebut hanya sebuah barang yang terkenal untuk diletakkan di perut, dan mengapa Dewi menginginkannya.
"Korset, hanya itu saja? " tanya Daniel.
Dewi menganggukan kepalanya, kemudian Danielpun ikut menganggukan kepalanya.
"Korset untuk perut itu kan? Untuk menurunkan berat badan? " tanya Daniel sambil melihat layar ponselnya.
"Korset kehamilan. " jawab Dewi.
Daniel terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya, ia mencoba menelaah ucapan Dewi barusan, gadis tersebut tiba tiba saja meminta sebuah korset, tetapi kali ini lain, korset yang diinginkannya untuk kehamilan.
"Kenapa tiba tiba meminta benda aneh itu? Siapa yang sedang hamil, sehingga meminta korset untuk kehamilan itu? " tanya Daniel tidak percaya.
Dewi gelagapan, ia mencari alasan untuk pertanyaan tersebut.
"Teman saya yang sedang hamil, sebelumnya ia meminta sebuah korset untuk dia yang sedang hamil, saya juga kebetulan ingin menghadiahkannya, tapi harganya lumayan mahal. " jawab Dewi penuh keyakinan.
Daniel menggelengkan kepalanya, kemudian ia mengantongi kembali ponselnya, dan melipat kedua tangannya.
"Permintaan yang aneh, orang hamil memang boleh menggunakan korset, tapi kamu ingin menjamin keselamatan teman kamu dan calon bayinya jika teman kamu menggunakannya tanpa bimbingan dari dokter kandungannya? " tanya Daniel.
Pertanyaan tersebut membuat Dewi bingung, sudahlah berbohong, ia juga tidak bisa menjawabnya, hanya menggelengkan kepala saja ia memberi jawaban kepada Daniel.
__ADS_1
"Sudah, kalau kamu menggelengkan kepala berarti kamu masih ragu dengan pilihan kamu, aku akan mengirimkan kamu barang yang sudah aku pilih, dan kamu bisa menerimanya. Jika kamu ingin menghadiahkan sesuatu dengan teman kamu yang sedang hamil, aku akan memberikan vitamin dan keperluan kehamilan juga untuknya. " ucap Daniel.
Dewi menganggukan kepalanya.
"Punya temanmu mau langsung aku kirimkan langsung ke alamatnya? " tanya Daniel.
Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, titipkan saja dengan saya, saya akan memberikannya langsung dengannya, Daniel. " jawab Dewi.
Daniel menganggukkan kepalanya, ia merogoh kembali ponselnya dan melihat sesuatu di layar ponselnya, kemudian ia menaruh kembali ponselnya di dalam kantongnya.
"Yap, karena mungkin urusan sudah selesai juga, aku-- "
Tiba tiba suara dering ponsel berbunyi, Dewi menyadari bahwa suara tersebut berasal dari ponselnya, ia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya.
"Sepertinya sibuk, kita berpisah sampai disini dahulu, terimakasih laporannya. " ucap Daniel.
"Sama sama, Daniel. " ucap Dewi.
Daniel dan Dewi berpisah, keduanya pergi dari lorong tersebut, sedangkan Dewi berjalan menuju ke luar kampus untuk bertemu dengan Gusti.
'Dimana kamu sekarang? Saya sudah menunggu kamu di luar, kenapa kamu tidak ada? '
"Maaf om, saya akan segera menghampiri om segera, tunggu saja di sana. " ucap Dewi.
Dewi mematikan ponselnya, ia berjalan cepat untuk segera menghampiri Gusti, tak lama ia berjalan keluar dan akhirnya menghampiri Gusti yang sedang berdiri di dekat mobil.
"Darimana saja? " tanya Gusti.
"Tidak om, saya ada urusan sebentar dengan teman saya, makanya sekarang sampai terlambat menghampiri om di sini. " jawab Dewi.
Gusti menganggukan kepalanya, kemudian ia tersorot dengan pakaian yang dikenakan oleh Dewi.
"Kamu membeli baju baru? " tanya Gusti.
Dewi melihat dress yang sedang ia kenakan, ia menunjukkan ke arah Gusti.
"Iya om, bagaimana, apakah terlihat bagus ketika saya kenakan? " tanya Dewi.
Gusti menganggukan kepalanya sambil melihat dress tersebut. "Lumayan, setidaknya dress itu cukup menutupi badan kamu, Dewina. "
Dewi tersenyum. "Terimakasih, om. "
"Sudah, kamu tidak ada urusan lagi di lingkungan kampus? " tanya Gusti.
"Tidak, sudah selesai. " jawab Dewi.
"Baik, sekarang naiklah. "
Dewi menganggukan kepalanya, keduanya menaiki mobil tersebut, kemudian pergi meninggalkan lingkungan kampus.
.
Perjalanan yang cukup jauh, keduanya terhenti di sebuah restoran, kali ini Gusti juga memiliki kepentingan lain di restoran tersebut, maka dari itu sebelumnya Gusti meminta agar Dewi masih tetap makan siang bersamanya, hanya saja nanti Dewi akan terpisah untuk makan siang bersamanya.
"Kamu bisa pesan apapun yang kamu mau, saya yang akan bayarkan selama saya akan bertemu dengan klien saya. " ucap Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya. "Baik om, saya akan pilih meja yang tidak jauh dari tempat om bertemu dengan klien. "
Gusti menganggukan kepalanya, kemudian ia meninggalkan Dewi, Dewi masuk ke dalam restoran tersebut dan melihat di sekelilingnya, ia dapat melihat sebuah meja besar yang terlihat khusus untuk sebuah pertemuan, mungkin saja itu sebuah meja tempat pertemuan Gusti sebelumnya.
"Permisi, ada yang bisa dibantu? "
"Silahkan dibaca terlebih dahulu menu yang akan dipesan. "
Dewi melihat papan menu tersebut, matanya tersorot ke arah sebuah nasi kari, ia juga menatap ke arah minuman yang terlihat cerah dimatanya, bahkan ia sendiri tidak tahu bahwa minuman tersebut mengandung alkohol.
"Saya ingin pesan nasi kari dan minumannya yang ini. " ucap Dewi menunjuk ke arah makanan yang ia pesan.
Pelayan tersebut mencatat apa yang akan dipesan oleh Dewi, ia membawa papan menu tersebut dan meninggalkan Dewi yang tengah menatap ke arah meja khusus tersebut.
Dewi melihat Gusti yang sedang berjumpa dengan klien yang dimaksud, ia tidak mendengar sambutan dan obrolan dari perkumpulan tersebut, hanya saja ia melihat orang orang penting tersebut yang akan duduk dan mendiskusikan sesuatu.
'Begitu ya kalau jadi orang penting, bukan pakaiannya saja yang terlihat penting, namun mejanya juga! ' ucap Dewi dalam hati.
Dewi hanya menatap perkumpulan tersebut, tanpa melihat ponsel saja ia memperhatikan sekumpulan pebisnis penting yang sedang bertemu dengan Gusti, ia tertarik melihat para pebisnis tersebut yang terlihat serius itu saling mendiskusikan sesuatu, walaupun ia tidak begitu mengerti apa yang pastinya sedang diobrolkan oleh orang orang tersebut.
"Pesanannya kak, silahkan. "
Dewi melihat pelayan yang mengantarkan makanan tersebut dengan troli makanan, kemudian ia melihat makanan yang tengah disajikan, dengan minuman yang menarik matanya untuk meminumnya, namun ia tidak tahu apa nama dari minuman tersebut, yang jelas baginya sangat menarik perhatiannya.
"Terimakasih, sebelumnya, apa boleh tahu nama minuman ini apa? Tampak menarik sekali bagi saya. " tanya Dewi.
"Nama minuman ini cocktail kak, dengan campuranĀ gin, brandy, whisky, tequila, dan rum. Ditambahkan dengan anggur, bitters, vermouth, atau sari buah-buahan lainnya, rasanya sangat cocok untuk kakak minum. " jelas pelayan tersebut.
Dewi tidak mengerti arti campuran tersebut, ia hanya tahu minuman tersebut ada campuran sari buah, dan juga tampilannya sangat menyegarkan, itulah yang membuat Dewi jadi tertarik ingin meminumnya.
"Ada tambahan cheesecake untuk kakaknya, selamat menikmati. "
"Wah, terimakasih banyak. " ucap Dewi.
"Sebelumnya, terimakasih untuk kehadiran anda, Gustiawan, sangat senang bisa merencanakan bisnis ini dengan anda, semoga proyek selanjutnya akan berjalan sempurna seperti proyek proyek sebelumnya. "
"Baik, sama sama, senang bisa berbisnis dengan anda. " ucap Gusti.
Perkumpulan para pebisnis tersebut akhirnya selesai, Gusti menyambut baik kliennya, kemudian matanya terarah ke wanita yang berada di pojok, namun siapa sangka, ia tersorot dengan sebuah minuman yang berada di meja tersebut.
"Gila, sepertinya aku lupa memesan makanannya agar tidak terlalu pedas, ini susah untuk dinikmati. "
Dewi tersedak rasa pedas yang ia nikmati, ia mengambil segelas cocktail yang ada di mejanya, kemudian ia berencana untuk meminumnya.
Tak lama sebuah tangan mengambil segelas cocktail tersebut, Dewi terkejut ketika gelas yang sedang ia pegang tiba tiba direbut oleh seseorang, membuatnya menatap ke arah samping, ternyata itu adalah Gusti yang sedang membuang minuman tersebut.
"Om, kenapa minuman saya dibuang? "
Gusti menghentakkan gelas tersebut dan menatap kesal ke arah Dewi.
"Kenapa kamu ingin meminum minuman ini saat hamil, hah?! "
Dewi terkejut, secara tiba tiba saja Gusti mendatanginya dengan tiba tiba dan sekarang laki laki itu tengah memarahinya, ia tidak tahu mengapa laki laki itu langsung memarahinya yang sedang tersedak.
"Om, saya tidak mengerti kenapa om membuang minuman saya, bukankah itu buang buang minuman? " tanya Dewi.
Gusti berdecak dan menghela nafasnya dengan kasar, kemudian ia mengambil gelas tersebut dan menunjukkannya kepada Dewi.
"Asal kamu tahu, minuman ini beralkohol, jika kamu meminumnya, maka kamu akan membahayakan calon anakmu. " jelas Gusti.
Dewi terkejut, ternyata minuman semenarik itu merupakan minuman yang hampir mencelakainya dan kandungannya, syukur saja dapat diketahui oleh Gusti.
__ADS_1
"Mengapa kamu ingin berbuat nekat seperti ini, Dewina? " tanya Gusti.
Dewi merasa bersalah dengan pertanyaan Gusti barusan.
"Saya hanya tidak tahu saja, om, menurut saya karena menarik saja, makanya saya sampai tidak tahu minuman ini berbahaya untuk saya. " jawab Dewi dengan lirih.
Gusti menatap sorot mata Dewi, gadis itu tampak menyesal, membuatnya menghela nafasnya lagi, gadis yang berada di depannya hari ini hanya bisa membuatnya membuang nafas saja, apalagi gadis tersebut sedang mengandung anaknya.
"Dengan pelayan mana yang melayani kamu untuk memesan ini barusan? " tanya Gusti.
"Om ingin meminta bosnya untuk memecatnya? Apa om tidak kasihan? " tanya Dewi dengan lirih.
"Pintar sekali kamu menilai saya seperti itu, saya hanya ingin bertemu dengannya saja, bukan berarti saya akan bertindak kejam seperti itu. Katakan, mana dia? " tanya Gusti sekali lagi.
Dewi menunjuk ke arah pelayan yang tengah berdiri dengan tatapan ketakutan mengarah ke arahnya, Gusti menatap pelayan muda tersebut, tampak sekali bahwa pelayan tersebut ketakutan.
Gusti menghela nafasnya, memejamkan matanya, dan menggelengkan kepalanya, kemudian ia mengangkat tangannya sebagai isyarat memanggil pelayan di restoran tersebut, kali ini dilayani oleh pelayan muda yang melayani Dewi barusan.
"Maafkan saya, tuan, jika saya mengantarkan minuman yang beralkohol untuk wanita hamil. " ucap pelayan tersebut.
Gusti menganggukkan kepalanya.
"Baik, saya mengerti, terbilang kalau saya lihat kamu sepertinya pelayan baru di restoran ini. Tidak apa, namanya awal, dan saya mengerti. " ucap Gusti.
"Maaf sebelumnya, tuan, jika pelayan kami membuat fasilitas dan sebagainya yang anda nikmati jadi terganggu karena kesalahan kecil ini. Kami memohon maaf. " ucap pemilik restoran tersebut.
Gusti menganggukkan kepalanya, kemudian ia merogoh kantongnya dan mengambil dompetnya, ia ingin segera membayar makanan yang dipesan oleh Dewi barusan, kemudian ia menyerahkan kartu debit miliknya.
"Baiklah, ayo kita pulang, makan siang sudah selesai, bukan? " tanya Gusti.
Dewi hanya menganggukan kepalanya, kemudian ia mengikuti Gusti dari belakang, entah apa yang akan diucapkan oleh laki laki itu ketika berada di dalam mobil.
Sesampainya di mobil, Dewi dan Gusti duduk bersampingan, Gusti mengingatkan Dewi untuk memakai sabuk pengaman sebelum keduanya pergi.
"Om, apa om marah dengan saya? " tanya Dewi.
"Kamu kira semudah itu saya mengeluarkan emosi? " tanya Gusti balik.
Dewi menggelengkan kepalanya, ia memilih untuk diam, sementara mobil berjalan menuju ke apartemen.
Sepanjang perjalanan, Dewi menginginkan sesuatu yang nikmat, terasa gurih, bahkan rasanya hangat, ia menginginkan makanan yang biasa ia makan sebelumnya.
"Om, saya mengidamkan sesuatu. " ucap Dewi.
Gusti yang sedang mengendarai mobilnya kemudian menatap ke arah Dewi.
"Kamu ingin apa? " tanya Gusti.
Dewi merasa ragu dengan keinginannya, ia menginginkan makanan yang mungkin akan dilarang oleh Gusti, sedangkan laki laki itu menunggu apa yang ia inginkan.
"Tapi makanan ini terbilang akan om larang. "
"Apa berbahaya untuk kandunganmu? Lebih baik saya akan melarangnya, saya tidak ingin kamu memesan makanan yang hampir sama seperti di restoran tadi. " ucap Gusti.
Dewi ragu ragu mengatakan makanan yang ia inginkan, karena Gusti saja sudah cepat menilai apa yang ia inginkan sekarang.
"Saya ingin hotpot, om. " jawab Dewi.
Suasana hening, sedangkan Dewi sudah bersiap siap menebalkan telinganya, mungkin ia akan dilarang oleh laki laki tersebut dan berujung pada nasehat kehidupan kembali.
"Baik, saya akan belikan, kamu tunggu saja pesanan kamu akan diantarkan ke kamar kamu. " ucap Gusti.
Dewi melongo. "Om tidak melarang saya untuk memakannya? " tanya Dewi.
"Kalau termasuk masa ngidam, saya akan turuti keinginan kamu, tapi hanya sekali ini saja kamu akan memakan makanan tersebut, bukan berarti kamu boleh memakannya keseringan. " jawab Gusti.
Dewi tersenyum, ia merasa senang, tak dapat ia bendung perasaan senang tersebut, kemudian ia langsung mencium pipi Gusti sebagai tanda terimakasih, hal tersebut membuat Gusti terkejut.
"Terimakasih sudah ingin memenuhi keinginan saya, om. " ucap Dewi.
"Ya, sama sama. " ucap Gusti.
.
Butuh waktu sejam untuk sampai ke apartemen, Dewi turun dan mengambil barang barangnya, ia mengucapkan terimakasih kepada Gusti, kemudian Gusti pergi dari halaman gedung apartemen tersebut.
Sebelumnya Dewi masih mengingat sesuatu, bahwa Gusti akan memesankan hotpot yang ia inginkan, itu merupakan keinginan dan rasa ngidam nya yang tiba tiba muncul begitu saja, sehingga ia menginginkan makanan tersebut untuk di makan.
Suasana apartemen seperti biasa, terasa sunyi dan tak ada aktivitas, karena rata rata penghuni apartemen di gedung apartemen tersebut merupakan pekerja dan pebisnis, itulah yang membuat suasana lorong maupun lobby apartemen sunyi tak berpenghuni.
Dewi menaiki lift, ia menuju ke kamarnya, tak sabar rasanya ia ingin segera sampai di kamarnya, bersantai, lalu menikmati hotpot yang akan dibelikan oleh Gusti untuknya.
Sesampainya di lantai kamar tempat ia berada, Dewi berjalan menuju ke kamarnya, kemudian ia melihat sebuah kotak, tak perlu menebakpun Dewi sudah tahu, bahwa kotak tersebut berisi set makanan hotpot kesukaannya, tak lupa juga ia melihat secarik surat kecil di kantong plastik hotpot tersebut.
'Saya tahu kamu suka dengan hotpot, saya sudah pesankan makanan kesukaan kamu ini, tapi ingat, saya tidak meletakkan level kepedasan yang biasa kamu pesan, pedasnya sudah saya atur. Terakhir, selamat menikmati makanan yang kamu inginkan. '
Secarik surat tersebut Dewi simpan, karena surat tersebut sangat berarti untuknya, dan juga ia akan menikmati makanan yang sudah dipesankan.
"Jelly, kalau aku makan, kamu juga harus makan. "
Dewi memberikan makanan anjing untuk peliharaannya, kemudian ia berjalan ke arah mejanya, tak sabar rasanya ia ingin memakan hotpot yang dipesankan, segera ia menyajikannya dan memakannya dengan lahap.
Rasa laparnya terlampiaskan, karena di restoran tadi ia tidak bisa memakan nasi kari yang ia pesan, hal tersebut membuatnya menjadi lapar dan sekarang kekenyangan karena hotpot yang telah dipesankan oleh Gusti untuknya.
"Makanannya nikmat sekali, baru sekarang akhirnya bisa menikmati makanan. "
Dewi mengelus perutnya, tak lama ia merasakan sesuatu yang bergejolak di perutnya, Dewi terkejut ketika tangannya terasa bahwa tendangan tersebut menyentuh perutnya.
"Barusan, barusan aku merasakan ada yang menendang perutku, apa itu bayiku? "
Dewi mencoba mengelus perutnya, namun tendangan tersebut tidak terasa kembali, dan juga ia berusaha membuat kandungannya untuk menendang lagi, tetapi ia menyerah, mungkin itu sebagai sapaan padanya.
Dewi membereskan makannya, makanan yang dibeli oleh Gusti terasa enak baginya, mungkin juga karena ia mengidamkan sesuatu yang ia inginkan, sehingga terasa bahwa makanan yang ia konsumsi terasa sangat nikmat.
Selesai membereskan peralatan makan, Dewi berencana untuk duduk menonton televisi bersama peliharaannya, Jelly pastinya menyenderkan kepalanya di paha Dewi, Dewi mengelus kepala anjingnya dan mencari siaran yang bagus untuk ia tonton, mungkin ia akan menonton kartun bersama dengan peliharaannya.
Entah mengapa Dewi sangat menyukai kartun, terkadang hanya itu siaran yang paling ia cari, jika tidak ada kartun, maka ia akan mencarinya di ponselnya.
"Jangan kesana. "
Dewi tertawa, tak lama dengan Jelly yang ikut menyaksikan acara kartun tersebut, secara tiba tiba Dewi merasakan tendangan dari dalam perutnya, alhasil hal tersebut membuat Jelly langsung berdiri dan menatap ke arah perut Dewi, ia merasakan sesuatu menendang kepalanya.
"Jelly, adik bayinya nendang lagi! " ucap Dewi penuh antusias.
Jelly mendekat, kemudian ia mengendus perut Dewi, tak disangka tendangannya terasa kembali, Dewi menaruh jarinya di atas perutnya dan merasakan bahwa bayinya menendang kembali, tentu saja secara spontan ia merasa senang.
"Sehat sehat di perutku ya, adik bayi. " ucap Dewi dengan pelan.
__ADS_1
Dewi mengelus perutnya, sudah terhitung 4 bulan lamanya ia sudah mengandung anaknya, dan sekarang calon anaknya sudah bisa menendang, tanpa disadari, bahwa Dewi mulai membuka hatinya untuk menerima calon anaknya yang sekarang sudah mulai membesar di perutnya itu.
*