Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 34: Gusti cemburu


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Dewi selalu tersenyum sendiri, karena ia masih mengingat malam malam yang menyenangkan bersama Daniel, tidak ada n*fsu sedikitpun diantara mereka, walaupun disela kebersamaan mereka memiliki waktu untuk bisa menikmati waktu bersama.


"Jelly, kalau boleh tahu, beginikah rasa menikmati waktu yang biasa seperti biasa? " tanya Dewi.


Jelly seperti biasanya hanya menggonggong, ia mengelus kaki Dewi yang sedang duduk di kursi meja makan, sementara Dewi yang tersenyum sambil melamun, karena ia sedang merasakan perasaan yang baru.


"Sudah memikirkan hal yang tidak mungkin, Jelly, apa sekarang kamu mau makan? " tanya Dewi pada anjingnya.


Jelly hanya menggonggong, Dewi menganggapnya sebagai setuju, ia bangkit dari tempat duduknya dan mengambil makanan anjing untuk Jelly, menaruhnya di dalam mangkuk makanan Jelly kemudian Jelly memakannya.


"Dimakan ya, Jelly. " ucap Dewi.


Dewi berdiri, ia berencana untuk mengerjakan makalahnya yang sebelumnya ia buat, hanya saja sekarang ia harus melanjutkan makalahnya itu sebelum waktu pengumpulannya diajukan.


Disamping kamarnya, Dewi mendengar lagu yang diputar cukup kuat, cukup menganggu pendengaran penghuni kosan yang ada, terutama Dewi, ia merasa bahwa jarang sekali Eni bersikap seperti itu, apalagi sampai menganggu ketenangan di dalam kosan.


"Eni ada apa ya sekarang? Kenapa hari ini dia menganggu ketenangan kosan? " gumam Dewi.


Dewi penasaran, ia mencoba bertanya dengan temannya lewat pesan, ia bertanya tentang apa yang terjadi dengan Eni hari ini, sehingga memasang lagu yang menganggu penghuni kosan.


Dewi menatap layar ponselnya untuk menunggu kepastian, tak lama notifikasi ponselnya berbunyi, Dewi melihat layar ponselnya dan ekspresi wajahnya berbeda, bukanĀ  yang ia inginkan, yaitu Gusti yang mengirimkan pesan padanya.


Hal yang ditunggu membuatnya menjadi tidak berniat lagi untuk menatapnya, Dewi memilih mematikan ponselnya tanpa membaca ataupun menerima panggilan dari Gusti.


"Om Gusti masih saja ingin menelponku... "


Tak lama notifikasi dari ponselnya terdengar lagi, disela sela ia melihat pesan yang penuh dengan pesan Gusti, Dewi melihat pesan dari Eni dan segera membaca isi pesan tersebut.


'Aku nggak sama sekali ngidupin lagu, posisi aku sekarang di luar kosan, kali aja salah denger karena anak lorong ujung yang hidupin lagunya sampai kenceng banget. '


Dewi tercengang dengan isi pesan tersebut, dugaannya salah, syukur saja ia tidak menghampiri Eni, karena temannya saja sedang tidak berada di dalam kosan.


Secara tiba tiba Jelly menggonggong, Dewi menatap ke arah belakang dan mellihat peliharaannya yang tengah berjalan mendekatinya kemudian duduk disampingnya.


"Selesai makannya? Hebat, Jelly.... " puji Dewi pada peliharaannya.


Dewi melanjutkan tugasnya, kemudian ia bersiap siap untuk pergi ke restoran, kebetulan di hari libur tersebut restoran mendadak banyak pengunjung sehingga ia akan bekerja pada hari tersebut.


Dewi kali ini akan mengajak Jelly untuk berjalan jalan sebentar di sekitar taman, dan juga ia ingin jika anjingnya memiliki waktu bersamanya.


"Ayo Jelly, kita jalan jalan. "


Rutinitas Dewi tak jauh dari Jelly, ia seperti induk untuk Jelly yang badannya besar, ia terkadang kerepotan saat memandikan Jelly yang sangat lincah itu dengan air yang selalu dipercikkan dari bulu Jelly.


Jelly selalu mendapat sambutan dari penghuni kosan yang ada, mereka sudah kenal Jelly dan selalu menyapa Jelly yang kebetulan hari tersebut diajak jalan jalan oleh Dewi, jarang sekali Dewi mengajak Jelly berjalan jalan kecuali pada hari libur barulah Dewi akan mengajak anjingnya tersebut jalan jalan di sekitaran taman.


Udara yang cukup panas bagi Dewi, tetapi ia sangat penasaran dengan anjing peliharaannya itu, sangat lincah walaupun udara panas menyengat kulit dan ubun ubun.


"Jelly, aku ingin beristirahat sejenak. " ucap Dewi.


Dewi duduk di trotoar jalan, ia merenggangkan kakinya yang terasa lelah kemudian meminum air yang ia bawa.


Jelly yang menyadari bahwa Dewi tidak mengikutinya, ia berencana untuk segera mendekati Dewi yang tengah duduk.


Dewi menghampiri anjingnya, Jelly duduk disampingnya dengan tegap sambil menatap di sekitarnya.


"Habis olahraga, Jelly? "


Dewi menatap ke belakang, ternyata itu adalah Daniel.


Melihat laki laki yang sangat ia kagumi berada di dekatnya, Dewi memperbaiki penampilannya dan berdiri menghadap Daniel.


"Daniel, kamu juga berada di taman ini? Sangat beruntung bisa bertemu. " ucap Dewi.


Daniel tersenyum. "Ya, saya sedang berolahraga untuk hari ini, kebetulan cuaca tengah baik seperti sekarang bagusnya jalan jalan seperti ini. "

__ADS_1


Jelly menggonggong, tentu saja suaranya menarik perhatian, Daniel mendekati anjing tersebut, Jelly mengendus tubuh Daniel dengan gembira dan meloncat loncat bahagia dengan Daniel.


"Ingin jalan jalan bersama? " tawar Daniel.


Tentu saja hal tersebut sangat dinantikan oleh Dewi, ia mengambil tawaran dari Daniel, kemudian keduanya menganggukan kepalanya, tak lama Jelly yang mendahului Dewi dan Daniel.


"Jelly yang mewakilkan kita ternyata, anjing pintar. " ucap Daniel.


Dewi dan Daniel berjalan mengelilingi taman, yang pastinya sepenuhnya kegiatan jalan jalan tersebut hanya mengikuti Jelly yang asyik berkeliling sana sini, sungguh Jelly seperti anak kecil yang sedang masa masa tidak bisa berdiam diri.


..............


Waktu berjalan begitu cepat, hingga akhirnya Dewi dan Jelly diantar hingga ke minimarket yang tak jauh dari kosannya, Dewi dan Daniel sebelumnya membeli minuman dan sedikit makanan ringan.


"Daniel, terimakasih sudah mengajak saya jalan jalan pagi, ya walaupun sebentar lagi akan siang, tetapi saya senang untuk hari ini. " ucap Dewi.


"Seharusnya kamu tuh makasihnya sama Jelly, dia tuh yang paling aktif ngajak kita jalan jalan, tau gitu dia aja yang disuruh dari belakang buat nggak ngejar ngejar dia. " ucap Daniel.


Dewi membungkukkan tubuhnya kemudian mengelus kepala Jelly, seraya memuji dan memanja manjakan peliharaannya.


"Kalau begitu, aku langsung pulang ya, soalnya mau pergi kerja juga. " pamit Daniel.


"Oh iya, hati hati dijalan, Daniel. "


Daniel menjauh dari kosan Dewi, kemudian Dewi dan Jelly berjalan menuju ke atas untuk kembali ke kamarnya, karena Dewi sebentar lagi akan pergi bekerja di restoran.


"Kupakai ini dan itu, dan semuanya berubah... "


Dewi bergumam dan bernyanyi, ia bersiap siap dengan penampilan yang sesuai untuk ia bekerja di restoran, tidak ada satupun yang terlewat bagi Dewi, diikuti oleh Jelly yang mengekorinya keluar kamar.


"Jelly, kali ini kamu dengan pak Danu lagi ya, soalnya aku akan bekerja hari ini. " ucap Dewi.


Jelly cepat mengerti, tanpa diberikan oleh satpam pun ia sudah berlari terlebih dahulu, Jelly menghampiri pak Danu yang tengah duduk melihat sekitaran kosan.


"Jeli oh Jeli, langganan saya dalam bermain. " ucap pak Danu.


Jelly bergonggong, sementara Dewi mendekat dan menghampiri pak Danu.


"Tidak apa, neng, kemari makanan untuk Jeli nya. " ucap pak Danu.


Terlihat bahwa Jelly yang tampak senang bersama dengan pak Danu, tentu saja hal tersebut sangatlah berarti.


"Yasudah, Jelly, aku berangkat dahulu ya, jangan jadi anjing nakal, oke? " ucap Dewi.


Jelly menggonggong, kemudian Dewi pergi meninggalkan Jelly yang dititipkan oleh pak Danu, dengan menggunakan angkutan umum Dewi menaiki angkot tersebut untuk segera ke restoran.


...................


Butuh waktu setengah jam untuk sampai di restoran, Dewi turun dari angkot dan membayar biaya angkot yang telah ia naiki, berjalan menuju ke belakang dapur restoran untuk segera bekerja.


"Halo, tampaknya lagi sibuk nih elo. "


Dewi mengenal suara tersebut, ternyata itu adalah Cantika.


"Cantika? Tentu saja, banyak sekali peralatan masak yang harus dibersihkan, dan itu secepatnya. "


Dewi memakai celemeknya, ia beranjak menuju ke ruang cuci piring untuk mencuci piring dan peralatan masak yang kotor.


Disaat tengah membereskan piring piring, seketika salah satu karyawan lainnya memanggil Dewi yang berada di ruangan belakang.


"Dewina, apa disini ada yang namanya Dewina? " tanya salah satu pekerja.


Dewi menyadari bahwa namanya dipanggil, ia beranjak dari tempat duduk kecil untuk ia pergi menuju ke luar.


Dewi mengena nafas secara terus menerus, ia menyiapkan nafasnya denngan berbicara kepada seseorang yang tengah mencarinya.


Sebenarnya firasat Dewi sudah menunjukkan bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan, Dewi merasakan bahwa hal buruk akan menimpanya.


"Silahkan, pak. "

__ADS_1


Dewi baru sadar siapa yang mencarinya, tak lain itu adalah Gusti, laki laki itu tampak benar benar mencari keberadaannya yang sudah beberapa hari tanpa kabar, Dewi layaknya seperti seorang buronan.


"Dewina, akhirnya saya bertemu kembali dengan kamu. "


Dewi menolehkan tubuhnya dan berjalan cepat menuju ke luar, Gusti mengikuti Dewi dari belakang dengan sedikit mengejar Dewi.


Hingga sampai di dekat parkiran, Dewi terus saja mencoba menjauh dari Gusti, sayangnya Gusti berhasil menangkapnya dan ia menahan tangan Dewi.


"Om, lepas! "


"Tidak akan, saya tidak ingin melepaskan kamu. " lawan Gusti.


Perdebatan keduanya membuahkan keributan, Dewi menolak Gusti yang terus terusan menahannya, dengan tolakan tersebut membuat Dewi meledak.


"Lepaskan saya! "


Dewi melepaskan genggaman Gusti, tangan Gusti ditepis dengan kuat hingga Gusti hampir terdorong dengan Dewi yang menepis tangannya.


"Dengar om, jangan membuat hati saya kembali runtuh dan sakit lagi, cukup kemarin saja om sudah menghancurkan perasaan saya. "


"Bagaimana bisa? Saya tidak sama sekali menyakitimu dalam segi apapun , tetapi mengapa kamu mengatakan halĀ  seperti itu? " tanya Gusti.


"Saya mengakui perasaan saya dan saya hancur karena perasaan itu. Maka dari ini saya mohon pada om, lepaskan saya, saya ingin menikmati hidup yang normal tanpa ada gangguan apapun lagi. Saya sudah punya pasangan. " jawab Dewi.


Gusti hanya terdiam, apalagi saat Dewi yang mengaku ingin hidup normal dan mempunyai pasangan, itu yang membuatnya menjadi terdiam tak bergeming.


"Cukup disini saja, om, saya sudah tidak tahan lagi.


Hari itu akhirnya Dewi dan Gusti benar benar berpisah, keduanya sibuk dengan urusan masing masing, tetapi yang paling merasa resah karena tidak adanya Dewi lagi.


................


Setelah kejadian beberapa hari yang lalu terjadi, Dewi benar benar hilang bak ditelan bumi, jarang sekali ia menemukan Dewi sama sekali, bahkan tidak menghiraukan Gusti sama sekali.


Sudah lama Dewi tidak bersama dengan Gusti, bahkan Gusti sampai resah dan menelponnya terus menerus, sayang, Dewi mengabaikan nya, ia memilih bersama dengan Daniel, laki laki yang mampu membuatnya damai dan tenang.


Di diskotik, tempat para kaum muda dan tua bergabung, mengikuti dentuman lagu beserta tarian dari gadis gadis yang menawan, membuat suasananya sangat ramai.


Di pojok sofa, tepatnya berada di pinggir dekat meja bartender, Gusti dengan gadis gadis diskotik tengah bersama, Gusti menghabisi waktunya untuk berada di diskotik.


"Gusti! "


Gusti menoleh ke arah samping, Eni yang datang dengan senyumnya, tak pernah pudar senyuman tersebut untuk para kostumernya.


"Bagaimana Gusti, apakah semua baik baik saja? " tanya Eni.


Gusti yang sedang meminum minumannya melihatnya dengan senyum miring.


"Dewina kenapa sekarang tidak bisa dihubungi, Eni? " tanya Gusti.


Eni menjadi panik, karena sebelumnya Dewi sudah mengungkapkan yang sebenarnya, bahwa ia sudah nyaman berada dengan laki-laki lain, dan memilih ingin menjalani hidup yang normal.


"Akan panjang dengan apa yang kuceritakan untukmu, Gustiawan. "


Satu persatu Eni menjelaskan semua yang terjadi, walaupun ia merasa panik dengan keadaan tersebut, bahwa Dewi memilih jalan hidup yang baru.


Penjelasan tersebut tentunya membuat Gusti murka, bagaimana wanita simpanannya itu memutuskan untuk hidup normal, sementara ia masih belum puas menjamah gadis desa itu.


Gusti seakan terpikat, bahkan ia cemburu, karena gadis desa seperti Dewi bisa memutuskan untuk meninggalkan nya.


"Katakan, siapa laki laki yang membuat Dewi menjauhi saya? " tanya Gusti.


Eni memikirkan keselamatannya, bahwa sekarang Gusti tidak bercanda sama sekali, terlihat dari sorot matanya yang begitu tajam membuat nyalinya ciut.


"Daniel, mahasiswa satu kampus dengan Dewi, dia mahasiswa jurusan hukum dan sekarang begitu akrab dengan Dewi. " jawab Eni.


Gusti duduk tegap, kemudian isyarat tangannya menunjukkan kode kode yang tak bisa dimengerti, dan hanya asisten Gusti saja yang mengerti dengan semuanya.


Semua penjaga dikumpulkan, bersamaan dengan Gusti yang menatap para penjaganya yang sedang berbaris di depannya, kemudian ia berhenti dan menyenderkan telapak tangannya di atas meja dengan menatap penjaga maupun bodyguardnya.

__ADS_1


"Cari nama mahasiswa atas nama Daniel, saya ingin dia menjauh dari Dewina, bagaimanapun itu caranya, dapatkan mahasiswa itu. " perintah Gusti.


...**************...


__ADS_2