
...Happy reading š§”...
......................
Sudah hampir sebulan Dewi tinggal di kamar apartemen tersebut, tidak ada kegiatan lainnya yang dapat ia kerjakan, selain kuliah dan kerja secara kabur kaburan.
Dewi juga merasa bersyukur dengan kandungannya, bahwa ia tidak pernah mengeluh atau merasa apapun selain tubuhnya yang merasa cepat lelah, mungkin saja ia yang sengaja menguatkan diri agar tidak merasa cepat lelah.
'Ingat, jangan bekerja, saya tidak ingin jika Bella menuntut saya terus terusan karena ulahmu yang merugikan saya juga! '
"Baik om, saya mengerti. "
Dewi hanya bisa mengalah, ia tidak bisa melawan perintah dari Gusti, jangankan melawan, dimarahi saja ia tidak berani, Dewi selalu menuruti apa yang diucapkan oleh Gusti.
Panggilan berakhir, Dewi menaruh kembali ponselnya di dalam tasnya, ia kembali berjalan menuju ke dalam kafe, Dewi tidak peduli dengan ucapan Gusti, ia saja melanggarnya dan bersikeras untuk kembali bekerja di kafe.
Suasana kafe yang ramai pengunjung, Dewi langsung berjalan menuju ke belakang, ia menaruh tasnya, kemudian memakai celemeknya, tak lupa juga ia mengikat rambutnya hingga membentuk kuncir kuda poni, penampilan baru yang Dewi lakukan sekarang.
Dewi mengambil alih pekerjaannya, ia mengerjakan pekerjaannya dengan baik, mulai dari melayani pelanggan, hingga membuat minuman pesanan dari pelanggan yang datang.
Juno menyadari keberadaan Dewi, ia tidak ingin memecah fokus Dewi yang tengah bekerja itu, dan memilih untuk memperhatikan Dewi dari jauh sambil ia juga yang ikut bekerja, ia tersenyum ketika melihat Dewi yang begitu serius untuk bekerja.
"Terimakasih, selamat menikmati minumannya. "
Juno mendekat, ia memberikan sebotol air minum untuk Dewi, dengan menempelkan air botol yang dingin itu di pipi Dewi, hingga membuat Dewi terkejut.
"Juno? Ternyata kamu yang memberikan minuman dengan saya? " tanya Dewi.
Juno tersenyum, kemudian memberikan air minum tersebut dengan Dewi, Dewi meminum air minumnya dan menatap ke pelanggan yang datang dengan membawa ponsel.
"Selamat datang, ada yang bisa dibantu? " tanya Dewi.
"Kak, bisa minta foto bareng sama nomor telponnya? Pengen kenalan dekat sama kakaknya. "
Juno menyadari modus dari laki laki tersebut, ia menggandeng bahu Dewi.
"Sorry for you, bro, this is my gurl, don't distrub her or... "
Laki laki tersebut menjauh dari Dewi dan Juno, Dewi melongo karena pelanggannya seketika langsung pergi dari meja kasir tersebut.
"Jun, kenapa pelanggan tadi langsung kabur? Bukankah dia meminta nomor telepon saya? " tanya Dewi.
Juno menggelengkan kepalanya, ia mengandeng kembali bahu Dewi.
"Dengerin ini ya, manis, nomor telepon sama wajah kamu tuh privasi. Sebenarnya wajah kamu nggak terlalu untuk ditutupi, tapi nomor telepon kamu, jika kamu kasih nomor kamu sama orang asing, nanti modus kayak hipnotis lewat panggilan. Ya, bisa dibilang kalau ini overthinking, tapi baiknya mencegah bukan daripada terjadi apa apa sama cewek kayak kamu? " tanya Juno.
Dewi mengerti maksud dari Juno, ia menganggukan kepalanya, hidupnya terselamatkan karena Juno yang mengambil kesimpulan untuk memberikan nomor teleponnya dengan orang lain.
"Terimakasih, kamu telah menyelamatkan hidup saya, setidaknya saya terselamatkan oleh orang asing. " ucap Dewi.
Juno tersenyum dan menganggukan kepalanya, ia beranjak dari meja barista, sambil mengelus dan memainkan rambut kuncir Dewi, laki laki itu iseng dan membuat Dewi menjadi terusik.
"Juno, kamu iseng! "
Juno berlari kecil menuju ke ruang belakang sambil tertawa, sedangkan Dewi menggeram kesal di depan meja barista, keduanya sekarang begitu dekat sehingga bisa terlihat akrab seperti sekarang.
......................
Waktu kerja sudah berakhir, sekarang Dewi harus mengejar waktunya untuk pergi dari kafe dan mencoba untuk cepat pulang ke apartemen.
Sebenarnya Dewi merasa bahwa ia yang paling duluan untuk pulang, tetapi bosnya mengerti kondisi Dewi, karena Dewi sebelumnya menjelaskan untuk bisa pulang lebih awal dikarenakan ia beralasan bahwa takut jika kemalaman dijalan, sedangkan perjalanannya menuju ke tempat tinggalnya cukup jauh, alasan tersebut diterima dan ia diizinkan untuk bisa pulang awal, padahal yang sebenarnya karena ia takut jika Gusti tahu bahwa ia yang sedang hamil muda masih bekerja.
"Taksi kemana lagi ini? Jangan sampai aku terlambat pulang ke apartemen, bisa bisa aku yang terlambat karena om Gusti yang duluan sudah pulang ke apartemen. "
Dewi merasa resah, karena ia yang belum menemukan taksi untuk perjalanan pulang, perlu menunggu setengah jam akhirnya ia menemukan taksi, dengan segera ia menaiki taksi tersebut menuju ke apartemen.
Diperjalanan menuju ke apartemen, Dewi terpaksa menunggu sementara, karena ia yang terjebak kemacetan, di dalam taksi ia melihat jam dan alih alih memantau pesan, jangan sampai satu pesan atau telepon yang diterimanya berasal dari Gusti.
"Pak, ini macetnya lumayan lama tidak? " tanya Dewi.
"15 menit lagi, neng, nanti kita akan keluar dari kemacetan ini. " jawab supir taksi tersebut.
Dewi sedikit lega, karena tidak butuh waktu yang lama untuknya bisa pulang ke apartemen, sesuai yang diucapkan oleh supir taksi barusan, bahwa taksi akan terbebas dari kemacetan tak butuh waktu yang lama.
20 menit berlalu, akhirnya Dewi sampai di depan apartemennya, ia memantau ke arah parkiran, tidak ada tanda tanda bahwa mobil Gusti terparkir di parkiran yang ada di apartemen, segera ia turun dan membayar biaya taksi yang ia tumpangi.
Dewi berjalan sangat cepat, menuju ke lift saja tak butuh waktu yang lama, karena ia ingin segera sampai menuju ke kamar apartemennya, untung saja keadaan lift sedang sepi, hal tersebut memudahkan Dewi untuk segera ke kamarnya.
Dewi melihat ponselnya kembali, alih alih ia juga ingin mengambil kartu akses kamarnya, ia merogoh tasnya, lift terbuka dan ia berjalan cepat sambil mencari kartunya dan akhirnya ia menemukannya.
"Cepat, ayo cepat... "
Dewi memasang kartu aksesnya, dan ia membuka pintunya, ia lega ketika melihat ruangannya yang masih gelap dan belum tampak kehadiran Gusti di kamar apartemen tersebut, ia bernafas lega seraya melepaskan sepatu dan tasnya.
"Baru pulang kamu sekarang, Dewina? "
Jantung Dewi rasanya ingin copot, di remang remang pencahayaan, terlihat siluet seseorang yang Dewi kenal, suaranya juga terdengar familiar, Dewi menghidupkan lampu ruangannya dan ia terkejut bukan main, Gusti duduk di sofa dengan tatapan tajam mengarah ke arahnya.
"Om? Om sejak kapan berada di ruang apartemen ini? "
Suara Dewi sudah gemetaran, sedangkan Gusti berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke arah Dewi, ia menatap Dewi dengan tatapan menginterogasi dan menyudutkan Dewi hingga ke dinding.
"Darimana saja kamu, Dewina? Kamu pulang malam begini karena bekerja? " tanya Gusti.
Nada bicara Gusti sudah terdengar seperti sedang menginterogasi, Dewi terkaku dan terdiam, sedangkan Gusti menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jawab! "
Dewi cepat tersentuh, ia dengan air mata yang sudah menggenang di matanya kemudian menganggukan kepalanya, ia tidak bisa berbohong, karena ia tidak bisa menemukan alasan jika ia sedang terdesak seperti yang ia alami pada saat ini.
__ADS_1
"I-iya om... " jawab Dewi terbata bata.
Gusti mengusap wajahnya dengan kasar, helaan nafasnya sudah terdengar bahwa ia menggeram kesal, Dewi takut dengan apa yang dilakukan oleh Gusti selanjutnya.
"Kamu ini dasar batu! Saya sudah bilang, berhenti untuk bekerja saat kamu sedang hamil seperti sekarang! Kamu sengaja membuat saya marah dulu, kemudian baru berhenti?! " bentak Gusti.
"Tidak om, maafkan saya.... "
Dewi dengan suaranya yang gemetaran ia menjawab pertanyaan tersebut, ia akhirnya menangis ketika Gusti yang membentaknya.
Gusti benar benar marah dengan Dewi, ia tidak peduli saat Dewi menangis saat ia sedang memarahi gadis tersebut, dipikirannya hanya ingin menginterogasi Dewi, agar gadis itu mengerti dengan apa yang ia larang.
"Maafkan saya, om, saya bekerja untuk mencari kegiatan lainnya, saya tidak bermaksud untuk mencelakai calon anak saya sendiri... "
"Tidak mencelakai bagaimana?! Dokter sudah mengingatkan kamu, kalau berhenti banyak beraktivitas di saat kandungan kamu masih berumur 5 minggu lebih! Memang kalau sudah keras kepala, susah untuk bisa mendengarkan ucapan orang lain! " bentak Gusti.
Dewi hanya menangis, sementara Gusti mendengus dengan nafas kasar, kemudian ia menunjuk ke arah Dewi yang sedang menangis.
"Sekali lagi kamu kembali ke kafe itu untuk bekerja, akan saya bakar kafe itu, agar kamu tahu bahwa saya benar benar serius dengan ucapan saya! " ancam Gusti.
Dewi dengan cepat menanggapi ancaman tersebut, ia menangis dan meminta Gusti untuk tidak mengambil tindakan tersebut.
"Jangan, jangan om! Saya janji, setelah ini saya keluar dari kamar hanya untuk kuliah dan berbelanja saja, saya tidak ingin jika om menyakiti teman teman kerja saya yang berada di kafe, mereka orang orang baik... " mohon Dewi.
Dewi memohon dengan Gusti, ia sampai berlutut dengan laki laki dewasa itu, dengan memohon agar Gusti tidak berbuat senekat apa yang dikatakan laki laki itu barusan.
"Berdirilah. "
Dewi mendengar perintah tersebut, ia dengan isak tangisnya kemudian mengusap air matanya.
"Jika kamu tidak ingin saya berbuat nekat atau semacamnya, maka turutilah apa yang saya larang. " ucap Gusti.
"Baik om, saya akan mengingatnya... "
"Satu lagi, saya juga ingin kamu berhenti bekerja dari kafe itu, saya tidak ingin jika anak buah saya melapor dengan saya, bahwa dia melihat kamu yang sedang bekerja di sana. Atau, kamu akan lihat apa yang saya katakan tadi itu akan jadi kenyataan, mengerti? "
Dewi menganggukan kepalanya. "Ba-baik om, saya mengerti... " jawab Dewi dengan nada lirih.
Gusti menjauh dari Dewi, kemudian ia kembali ke sofa dan mengambil jasnya, ia memakainya dan merapikan pakaiannya.
"Ingat, bahwa saya memantau kamu dari kejauhan, bagaimanapun itu caranya. Jangan sesekali kamu melanggar sekali lagi, atau kamu akan menyesal dengan apa yang saya lakukan. " ancam Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya, ia tidak menjawab apa yang diucapkan Gusti barusan, kemudian laki laki itu meninggalkannya di kamar apartemen tersebut.
Dewi beranjak dari tempatnya, ia berjalan ke arah mejanya dan mengambil secarik kertas, ia ingin menangis di meja tersebut, karena ia akan membuat surat pengunduran diri dari tempat ia bekerja.
Satu pesan masuk ke notifikasi di ponselnya, Dewi melihat pesan tersebut, ternyata pesan tersebut dari Juno, rekan kerjanya di kafe, ia penasaran dengan apa yang dikirimkan oleh Juno padanya.
Saat membuka pesan chat, Dewi melihat sebuah foto yang dikirim oleh Juno, foto tersebut menunjukkan sebuah boneka beruang cokelat yang difoto oleh Juno, dengan isi pesan yang sangat menyentuh.
'Dewi, aku baru aja dapat hadiah dari main game lempar bola di acara festival. Kamu mau nggak aku kasih aja bonekanya buat kamu? Soalnya nggak mungkin kan aku yang megang boneka beruang XD '
Dewi membalas pesan tersebut, dengan nada lawakan dan canda ria, ia juga menutupi kesedihannya yang akan berpisah dengan teman teman dan bosnya yang berada di kafe.
Dewi juga melihat pesan grup, sepanjang isi pesannya sangat menyenangkan, dan juga tak lupa Juno yang mengirimkan foto boneka, semua isi pesan berisi pesan positif, tidak ada satupun cibiran ataupun kata kata kotor di setiap pesan yang terkirim, mereka juga mendukung Juno yang akan memberikan boneka beruang cokelat tersebut untuk Dewi, Dewi hanya bisa menyimak dan menangis ketika melihat semua isi pesan dari teman temannya.
Satu persatu pesan tersebut dibaca dan dibuka, Dewi menatap pesan pesan tersebut dengan berlinang air mata, ia tidak bisa membayangkan jika ia keluar dari tempat bekerja, otomatis ia juga akan meninggalkan pesan grup tersebut, ia tidak rela ketika meninggalkan teman teman kerjanya.
......................
Keesokan harinya Dewi terbangun karena suara alarm ponselnya, ternyata ia ketiduran saat berada di kasurnya, entah siapa yang memindahkannya ke kasur, padahal sebelumnya ia berada di mejanya.
"Sudah bangun kamu? "
Dewi menatap ke arah pintu kamarnya, ia melihat Gusti yang sudah lengkap dengan setelan baju dan jasnya, terlihat bahwa laki laki itu akan pergi bekerja, ia langsung terkejut ketika Gusti yang berdiri di depan kamarnya.
"Om, sejak kapan berada di kamar? " tanya Dewi.
"Sejak saya melihat kamu tadi malam tertidur di meja tempat kamu biasa mengerjakan tugas, apa kamu mencoba untuk tidur larut malam dengan ponsel yang masih hidup? " tanya Gusti.
Dewi baru teringat dengan yang terjadi tadi malam, bahwa ia membuka pesan grupnya, ia juga memastikan agar Gusti tidak membaca keseluruhan chatnya, rupanya ia aman, Gusti tidak membuka sama sekali pesan grupnya.
"Siapa Juno? "
Dewi terkejut, ia ditanya siapa temannya oleh Gusti.
"Om tahu dari mana nama temannya Dewi? " tanya Dewi.
"Ya, semalam dia menelpon kamu, tapi saya katakan kalau kamu sedang istirahat. " jawab Gusti.
Dewi menghela nafas lega, ternyata Gusti tidak melihat privasi yang ada di ponselnya.
"Tetapi surat pengunduran diri kamu tidak rapi sama sekali, bagaimana saat tugas kuliah jika surat pengunduran diri saja kamu tidak bisa? " tanya Gusti.
Dewi menjadi malu, baru kali itu ia akhirnya dikritik oleh orang lain.
"Akan saya perbaiki, om. Besok akan saya antarkan surat pengunduran diri ini. " ucap Dewi.
"Ya, saya akan pergi dahulu. Ingat pesan saya malam tadi, jika kamu ingin apa yang kamu sayangi aman dari ancaman saya. "
Dewi menganggukan kepalanya, ia beranjak dari tempat tidurnya, kemudian ia mengantarkan Gusti sebatas pintu kamarnya.
Keseharian Dewi hanya berada di kamarnya, ia tidak tahu ingin melakukan aktivitas apapun lagi di kamarnya, selain menonton televisi dan tidak melakukan apa apa di kamar apartemen milik Gusti, kadang ia bosan dengan kegiatannya yang seperti itu saja, sedangkan di hari libur biasanya ia akan pergi ke taman bersama temannya, Eni.
Dewi terkadang merindukan temannya, tetapi selama kandungannya belum berumur 12 minggu, ia tidak diperkenankan untuk mengunjungi Eni, entah apa maksud dari Bella yang menyuruhnya menunggu selama itu.
"Daripada seperti ini, lebih baik aku masak saja di dapur. "
Dewi beranjak dari sofa, ia menuju ke dapur, rencananya ia ingin memasak makanan yang sebelumnya pernah ia buat bersama Eni, itu sebagai tanda rindunya dengan temannya.
__ADS_1
Saat sedang memasak, Dewi mendengar suara ketukan pintu dari kamar apartemennya, ia menduga sepertinya itu adalah Gusti, tapi mustahil sekali jika sepagi itu Gusti akan pulang, karena ia tahu bahwa laki-laki dewasa itu sangat sibuk dengan pekerjaannya.
"Sebentar."
Dewi membuka pintu kamarnya, tak lama seekor anjing menggonggong ke arahnya, ia menyadari siapa yang berdiri di depan pintu kamar apartemennya.
"Jelly?! "
Anjing yang dipanggil oleh Dewi mendekat, Jelly menggonggong senang dan ingin memeluk Dewi, Dewi berlutut dan memeluk Jelly.
"Jelly, kamu rindu aku ya? Pak Danu yang anterin kamu ke sini ya? " tanya Dewi.
Jelly hanya menggonggong, terdengar dari suara anjing tersebut sangat tulus merindukan Dewi.
"Neng, sudah hampir sebulan eneng nggak mampir ke kosan karena pindah, saya pikir neng Dewi memberikan Jeli untuk saya, ternyata dia sangat rindu sama eneng. Syukur saja om eneng kemarin tidak pelit memberikan alamat baru eneng. " ucap pak Danu.
"Terimakasih pak Danu, saya merepotkan bapak saja untuk mengantarkan Jelly ke sini. " ucap Dewi.
Jelly badannya sudah sangat besar dan kekar, karena anjing tersebut selalu rutin diberikan makanan dan vitamin beserta vaksinasi oleh pemilik kos, terbilang Jelly juga menjadi anabul kesayangan pemilik kos dan satpam kosan Dewi dulu.
"Kalau begitu, saya pulang dulu ya, neng, lainkali mampir ke kosan ya neng, ajak Jeli ke sana. " ucap pak Danu.
"Baik pak, terimakasih. "
Pak Danu pergi dari apartemen, sementara Jelly mengelus kaki Dewi, sebagai tanda rindu setelah lama tidak berjumpa padanya.
"Jelly, aku sangat merindukanmu, akhirnya kita bisa bertemu lagi. "
Dewi memeluk anjingnya, ia mengingat sesuatu, bahwa ia tidak menyimpan makanan khusus anjing di apartemen.
"Jelly, bagaimana jika kita berjalan jalan ke luar, tepatnya ke minimarket? Aku akan membelikan kamu makanan terlebih dahulu. " ajak Dewi.
Jelly menggonggong, sebagai tanda setuju atas ajakan tersebut, keduanya akhirnya memutuskan untuk pergi ke minimarket, sebelumnya Dewi mengambil tasnya dan segera berangkat menuju ke minimarket.
......................
"Tidak usah cerewet! Saya tidak sama sekali berniat untuk pulang menjumpai kamu! "
Tampak seseorang yang sedang berdebat, Gusti mematikan ponselnya dan mengakhiri telepon tersebut, karena ia yang terbiasa berdebat dengan istrinya itu sendiri di saat Bella sedang kumat.
Entah apa yang diinginkan oleh istrinya itu, kadang menyuruhnya untuk pergi melihat Dewi, dan juga terkadang marah jika Gusti yang sedang sibuk di luar, padahal sudah jelas bahwa Gusti bekerja, itu menjadi alasan mengapa Gusti jarang pulang ke rumahnya sendiri.
Gusti mengambil kartu akses yang ia miliki, kemudian ia membuka pintu kamar apartemennya dan masuk ke dalam kamar apartemen tersebut.
"Dewina. " panggil Gusti.
Bukannya suara Dewi yang menyambut nya, dari dalam kamar apartemen tersebut terdengar suara gonggongan anjing, ia mencoba mendengar suara gonggongan tersebut, dan suaranya bertambah lebih besar.
Gusti terkejut, karena seekor anjing secara tiba-tiba melompat ke arahnya dan membuatnya tersungkur, tak lama Jelly menggigit sepatu Gusti hingga Gusti berteriak meminta tolong.
"Dewi, tolong saya! " teriak Gusti.
Dewi dari dapur kemudian berlari ke arah Gusti dan Jelly, ia menyuruh Jelly untuk menjauh dari Gusti, dan membantu Gusti untuk berdiri.
"Om, Jelly nya gigit sepatu om. " ucap Dewi.
"Dewina, kamu tahu bahwa kamu sekarang sedang hamil, kenapa sampai bawa anjing ke dalam apartemen?! Kamu tahu sendiri, bahwa bulu anjing sangat bahaya untuk wanita hamil! " tegas Gusti.
Jelly menganggap bahwa Gusti adalah orang jahat, ia menggeram menatap Gusti dengan tatapan tajam, Gusti melihat anjing tersebut sudah berubah reaksinya, dan tak lama Jelly mengejarnya.
Gusti terkejut, ia berlari ke kamar mandi yang ada di kamar tersebut dan menutup pintu kamar mandi, sementara Jelly menggonggong dengan kuat seperti sedang marah.
"Jelly, jangan ganggu om Gusti, sudah, dianganya terkejut ada kamu di sini. " ucap Dewi.
Jelly menjauh dari pintu kamar mandi tersebut, sedangkan Dewi menyuruhnya untuk tenang, ia membujuk anjingnya untuk kembali makan, sementara ia menyuruh Gusti untuk keluar dari kamar mandi.
"Om, Jelly sudah pergi. " ucap Dewi.
Perlahan Gusti membuka pintu kamar mandi tersebut, ia melihat ke arah luar, tidak ada tanda tanda bahwa Jelly berada di luar.
"Maaf ya om, ini terlalu mendadak dan mengejutkan om, saya tidak tahu bahwa respon Jelly akan seperti itu dengan om. " ucap Dewi.
Gusti langsung memegang kedua bahu Dewi, Dewi terkejut dengan tindakan Gusti yang tiba tiba itu.
"Sejak kapan kamu memelihara anjing? Saya tidak tahu bahwa kamu memelihara anjing, dan kamu tahu bahwa saya tidak suka peliharaan dalam rumah. " tanya Gusti menginterogasi.
Dewi menatap Gusti, ia merasa bersalah ketika membuat Gusti tidak menyukai peliharaan di dalam rumah.
"Sejak saya dan om habis menghadiri pesta, dan saya meninggalkan om di gedung dansa saya bertemu dengan Jelly. Awalnya saya tidak ingin memeliharanya, tetapi karena Jelly anjingnya penurut dan sudah membantu saya, akhirnya saya mengadopsi Jelly. " jelas Dewi.
Gusti mengusap wajahnya, ia melepaskan genggaman tersebut dan meminta Dewi untuk menjelaskannya.
"Lanjutkan. "
"Saya sangat senang memelihara Jelly, hingga saat ini saya senang. Dan juga, saya merasa sendirian di kamar ini, saya harap om Gusti memberikan izin agar Jelly menemani saya selama di apartemen ini. " ucap Dewi.
Gusti tidak punya pilihan, akhirnya ia menyetujuinya, karena ia baru sadar bahwa Dewi memang sendirian di kamar tersebut, tidak salah jika ada peliharaan yang menemani gadis tersebut.
"Baik, tapi besok saya akan panggil dokter hewan untuk memeriksa keadaan anjingmu ini, jangan sampai anjingmu ini membuat penyakit menular ditengah kamu sedang hamil seperti sekarang. "
Mendengar bahwa Jelly diizinkan untuk dipelihara, Dewi menjadi senang, entah bagaimana mengekspresikan kesenangan tersebut selain bersorak gembira, Gusti terkejut dengan respon secepat itu.
"Terimakasih om, saya sangat senang om mengizinkan saya memelihara Jelly di kamar. "
Satu kecupan mendarat di pipi Gusti, Dewi mencium laki laki tersebut dan berlari menuju ke belakang, sementara Gusti terkaku ketika ia dicium oleh Dewi, Gusti memegang pipinya yang dicium oleh Dewi dan ia menghela nafasnya, ia masih terkejut dengan respon tersebut.
"Om, kemarilah, saya sudah memasakan makanan untuk makan malam. " panggil Gusti.
Gusti membalas panggilan tersebut, kemudian ia melepaskan jasnya dan berjalan menuju ke dapur untuk makan malam bersama dengan Dewi.
__ADS_1
...****************...