Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
75: Pertemuan Dewi


__ADS_3

Setelah penentangan yang beberapa hari berlalu, Gita tampaknya benar benar mengambil serius ucapan tersebut, ia ingin mengetahui apa yang terjadi pada adiknya.


Sekarang, Gita sering memantau aktivitas Gusti, walaupun Gusti tak sadar apa yang dilakukan oleh putri sulungnya itu, hal tersebut membuat peluang untuk Gita untuk bisa mendalami rasa penasarannya itu kepada papanya itu sendiri.


"Mbak Arin, selama 6 tahun mengurus Galuh, apa mbak tahu kisah Galuh? " tanya Gita.


Arin yang sedang membereskan pakaian milik Galuh menatap ke arah Gita, ia menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak tahu juga, nona. Saya mulai mengurus Galuh semenjak tuan Gusti dan nyonya Bella mengatakan bahwa dek Galuh baru dilahirkan 2 hari setelahnya, kalau cerita awalnya saya tidak tahu, nona Gita. " jelas Arin.


Tampak jawaban dari Arin kurang bisa menjadi bukti, namun Gita tetap menyimpan informasi tersebut, karena ia merasa bahwa penjelasan singkat itu bisa menjadi bukti lainnya untuk kecurigaan yang sudah Gita rasakan.


"Asisten rumah tidak tahu tentang Galuh, begitu juga mbak Arin sebagai baby sitter Galuh. "


Di ruang kerjanya, Gita melamun mencoba untuk mencari cara lainnya lagi untuk mengetahui hal tersebut secepatnya, karena ia tidak ingin begitu saja lepas dari bukti yang sudah dikumpulkannya.


"Gita. "


Dalam lamunannya, Gita akhirnya tersadar, ia melihat ke arah pintu, dan seseorang yang tengah ia curigai sekarang berada di ruangannya, Gusti yang memasuki ruangannya.


"Ah, iya, ada apa, pah? " tanya Gita.


"Kamu melamun? " tanya Gusti.


Gita menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Sepertinya tidak, hanya mengingat sesuatu saja. " jawab Gita.


Gusti masuk ke dalam, ia mengampiri Gita dengan membawa beberapa dokumen yang sudah ia miliki, dan sekarang meletakkannya diatas meja kerja Gita.


"Papa minta kamu bisa untuk menandatangani ini, karena ini adalah tawaran bagus untuk kerjasama kita kepada klien lainnya, Gita. " jelas Gusti.


Gita mengambil lembaran dokumen tersebut, ia melihat lembaran tersebut dengan membaca satu persatu penjelasan yang ada di tawaran tersebut.


"Ini bukannya mama yang biasanya mengambil tawaran ini, kenapa tidak mama saja, pah? " tanya Gita.


"Sudah cukup dengan mama mu itu, papa bisa darah tinggi jika harus menjadi partner kerjanya. Kamu sendiri tahu bagaimana papa dan mamamu sekarang, kan? " tanya Gusti.


Gita berdecak.


"Masalah rumahtangga dan pekerjaan tidak ada sangkut pautnya, pah. Papa sendiri yang meminta Gita untuk profesional dalam menghadapi pekerjaan dan urusan pribadi. Berhentilah berdebat, lakukan semuanya sesuai yang sudah tersedia, pah. " ucap Gita.


Gusti akhirnya berdecak.


"Tampaknya kamu terlalu mendalami ilmu bisnisku, Anggita. No problem, papa bangga dengan kamu. " puji Gusti.


Gusti mengacak acak rambut Gita, laki laki itu mengambil dokumen yang sebelumnya diberikan kepada putrinya, kemudian melenggang pergi dari ruang kerja milik Gita.


Seperginya Gusti dari ruang kerja, Gita kembali mengumpulkan bukti yang sudah ia kumpulkan, bersamaan dengan mencari bukti lainnya dari berbagai orang yang merupakan tangan kanan di kediaman keluarga Gustiawan.


"Ah, aku melupakan asisten Gina, secara dia adalah tangan kanannya papa. " gumam Gita.


Gita beranjak dari tempat duduknya, sembari meninggalkan berkas lainnya di atas meja kerjanya, ia pergi menuju ke luar ruang kerjanya untuk menghampiri asisten papanya tersebut.


"Dari ruang depan, anda akan menemukan tuan Gusti disana. "


Asisten Gina tampak sedang memandu client tuannya, sembari menyelesaikan tugasnya pergi ke perpustakaan dengan memegang dokumen yang diberikan oleh Gusti padanya untuk diletakkan di sana.


"Asisten Gina. " panggil Gita.


Asisten Gina berbalik, ia menghentikan langkahnya sembari kembali berbalik untuk melayani anak tuannya itu.


"Ya, ada apa, nona Gita? " tanya asisten Gina.


"Kelihatannya sibuk, apa saya mengganggu waktunya asisten Gina sekarang? " tanya Gita.


"Tidak nona, saya tidak begitu sibuk, nona bisa langsung bertanya dengan saya, saya akan melayani nona. " jawab asisten Gina.


"Asisten Gina, selama ini saya tahu bahwa anda adalah tangan kanan papa saya selama hampir 10 tahun mengabdi. Disini saya ingin bertanya kepada asisten Gina. "


"Katakan nona, saya akan mendengarkannya. " ucap asisten Gina.

__ADS_1


"Apa asisten Gina tahu masa lalu adik saya, Galuh? " tanya Gita.


Sorot ekspresi wajah asisten Gina sekarang berubah, rasa takut dan jantungnya berdebar sekarang, bagaimanapun itu adalah rahasia masa lalu tuannya yang diamanahkan untuk tidak boleh diketahui oleh nona mudanya itu, karena Gusti berpesan untuk tidak membocorkan masa lalu Galuh kepada anak anak.


"Asisten Gina? " tegur Gita.


"Ah, saya kurang tahu dengan masa lalu Galuh, nona Gita, secara saya hanyalah tangan kanan tuan Gusti saja dalam soal pekerjaan. Masalah adik anda, nona Gita, saya kurang tahu sama sekali. " jawab asisten Gina.


"Kurang tahu? Berarti ada sedikit tentang Galuh yang asisten Gina ketahui, bukan? " tanya Gita meyakinkan.


Asisten Gina mati kutu, ia sendiri tidak tahu ingin menjawab apalagi kepada rasa penasaran nona mudanya itu, ia memilih tetap menggelengkan kepalanya.


"Maaf nona, walaupun begitu, saya hanya tahu bahwa tuan dan nyonya mengadopsi Galuh saja, itu saja. " ucap asisten Gina.


Gita akhirnya menyerah, ia menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan asisten Gina untuk melanjutkan pekerjaannya sendiri.


"Pilihan terakhir, ajak partner kerja lainnya. "


Gita berjalan ke arah tangga, ia memilih untuk kembali menyelidiki kecurigaannya tersebut.


Saat tengah menaiki tangga, terlihat di lantai dua, Galuh dan Gina saling bergenggaman tangan, Galuh menatap ke arah Gita yang baru saja naik dan menyambutnya dengan wajah sumringah.


"Kakak Gita, ayo main. " ajak Galuh.


"Galuh, kakak Gita mungkin sibuk, kamu main sama kakak aja ya? " ajak Gina.


"Tidak, kakak nggak sibuk, ayo kita main sama sama. " ucap Gita.


Galuh tentu saja merasa senang, Gita melangkah lagi untuk ikut mengenggam tangan kedua adiknya, ketiganya berjalan bersama menuju ke ruang playground.


Galuh tampak asyik hanyut dari khayalannya, ditambah lagi Gita dan Gina yang ikut bermain bersama, alhasil mereka bertiga sama sama bermain dengan seru dan menyenangkan.


Gita izin untuk beristirahat, sementara Galuh dan Gina masih asyik bermain, Gita hanya melihat kedua adiknya itu bermain tanpa merasa lelah seperti dirinya.


"Gina. "


Di saat Galuh tengah menyiapkan sesuatu, Gita memanggil Gina untuk mendekat, alhasil Gina menoleh dan menatap ke arah kakaknya, kemudian memilih mendekat ketika Gita melambaikan tangan untuk mendekat.


"Ya, ada apa? " tanya Gina.


"Mau ngobrol apaan, kak? " tanya Gina.


"Gina, selama ini kakak curiga dengan papa. " ucap Gita.


Gina yang sedang bermain dengan Galuh kemudian menatap ke arah Gita, ia berdiri dan mengajak kakaknya itu untuk mengobrol di depan, sedangkan bocah laki laki itu langsung menatap kedua gadis itu yang ingin keluar dari ruang bermain.


"Kak, mau kemana? " tanya Galuh.


"Kakak sama kak Gita mau keluar sebentar, kamu main dulu sendiri di dalam, nanti kakak akan kesini lagi. " jawab Gina.


Galuh mengangguk paham, ia melanjutkan bermainnya, sedangkan Gita dan Gina keluar dari ruangannya.


"Kak, sebentar lagi hari kelulusan SMA-ku dan juga hari wisuda kakak, tapi bukannya membongkar rahasia Galuh itu butuh waktu? " tanya Gina.


"Kakak lebih terarah dengan papa, entah kenapa papa kadang terlihat kesal kadang memperhatikan Galuh begitu mendalam, seperti ada yang papa sembunyikan ketika kakak bertanya padanya tentang Galuh. " jelas Gita.


Gina menggelengkan kepalanya.


"Kak, aku tidak bisa ikut sepertinya, karena papa dan mama begitu rapat menyembunyikan sesuatu yang mereka alami di belakang kita. Jika saja kakak mencoba membongkarnya, itu membutuhkan waktu yang sangat lama, saran Gina, kakak jangan terlalu penasaran dengan rahasia papa, karena papa begitu pintar menyembunyikan sesuatu yang tidak perlu kita korek. " ucap Gina.


Gita mengerti, ia tahu bahwa adiknya itu tidak ingin ikutcampur dalam penyelidikan tentang kecurigaannya selama ini, alhasil kali ini ia sendirilah yang harus mengorek tentang masa lalu adik bungsunya itu sendiri.


                                                         .............


Beberapa hari berlalu, Gita sudah tampak menyibukkan dirinya untuk bekerja, karena selama beberapa hari sebelumnya, ia banyak membiarkan pekerjaannya terbengkalai karena dirinya yang sibuk mengorek kecurigaannya terhadap Gusti.


"Gita, mungkin nanti setelah kelulusanmu, kamu bisa meneruskan usaha papa yang ada di luar kota. Bagusnya jika kamu menempati resort yang ada di sana, papa yakin kamu bisa. " ucap Gusti.


Gita menganggukkan kepalanya, sebelumnya ia mencatat dokumen yang diberikan oleh Gusti, walaupun ia kuliah tetap saja ia ikut mengurus usaha milik Gusti, namun sebentar lagi adalah hari kelulusannya, maka dari itu ia dapat meneruskan usaha lainnya milik Gusti.


"Kak, kakak Gita. "

__ADS_1


Gita mendengar Galuh memanggilnya dari luar ruang kerja Gusti, ekspresi wajah Gusti sudah berubah, Gita bangkit dari kursinya dan berjalan keluar untuk menghampiri adiknya.


"Ada apa, Galuh? " tanya Gita.


"Kakak, Galuh menemukan ponsel kakak. " jawab Galuh.


"Wah, dimana kamu menemukannya, dek? " tanya Gita.


"Tidak sengaja tadi terselip di mobil mobilan milik Galuh, kak, ini ponselnya. " jelas Galuh.


"Terimakasih ya, Galuh, kakak kembali ke dalam ya? Kamu jangan ikut kakak, ada papa di dalam. " ucap Gita.


Galuh menganggukkan kepalanya, Gita mengelus rambut adiknya, Galuh berlari lagi menuju ke ruang bermainnya, sedangkan Gita masuk lagi ke dalam ruang kerja Gusti untuk menyelesaikan dokumen yang belum selesai ia kerjakan.


Saat memasuki ruangan, Gita teringat sesuatu, bahwasannya ia harus kontrol kesehatannya di rumah sakit, karena beberapa hari kedepannya, ia akan digempur oleh aktivitas berat, seperti bekerja dan mengurus Yudisium sebelum hari kelulusannya tiba.


"Aku lupa. "


Gita memasuki ruang kerja milik papanya, ia masuk dan kembali mengambil dokumennya, Gusti yang tengah duduk di kursi meja kerjanya menyadari bahwa Gita yang tengah mengambil dokumen-dokumen yang berada di atas meja.


"Ada apa? " tanya Gusti.


"Gita mau ke rumah sakit untuk kontrol kesehatan. Papa tahu sendiri, sebelum hari kelulusan, Gita ingin suntik vitamin, sudah lama Gita tidak suntik vitamin, takut nanti Gita drop saat hari wisuda. Apalagi sekarang ditambah bekerja. " jawab Gita.


Gusti menganggukkan kepalanya, kemudian mempersilahkan Gita untuk pergi check-up kesehatan di rumah sakit.


                                                    ............


"Obatnya lumayan banyak ternyata, sepertinya efek jarang ke rumah sakit. "


Gita dengan membawa obat obatan dan vitamin kemudian berjalan menuju ke lorong, baru sekarang akhirnya ia merasakan rasa lelahnya, karena efeknya mulai terasa sekarang.


Saat berjalan, tak sengaja Gita yang sibuk menghitung obat obatnya menabrak seseorang, alhasil kantong yang berisi obat obatan tersebut jatuh ke bawah, sehingga membuat Gita langsung meraih kembali obatnya.


"Maafkan saya, obatnya jadi jatuh semua. "


Gita beserta orang yang ditabraknya kemudian memungut obat yang jatuh, kemudian Gita berterimakasih dan menatap orang yang membantunya, namun ia baru sadar siapa yang menolongnya barusan.


"Ini bukannya tante Dewina? "


Pertemuan Dewi dan Gita di rumah sakit, Dewi mengingat siapa gadis yang baru saja menabraknya, dan ia membantu gadis bernama Gita itu mengambil obat yang terjatuh.


"Kamu anaknya Khairul Gustiawan, bukan? " tanya Dewi.


"Benar, saya Anggita, kita dahulu pernah bertemu. " jawab Gita.


Keduanya tampak asyik mengobrol, sehingga Dewi mengidekan kepada Gita, untuk mengajak gadis itu untuk sekedar minum dan mengobrol di kantin rumah sakit.


Setelah berada di kantin rumah sakit, keduanya duduk berhadapan, dengan minuman yang telah dipesan, mereka juga mengobrol dengan santai.


"Gita, boleh saya bertanya? "


Gita yang tengah meminum minumannya kemudian menaruh gelasnya ke meja kembali.


"Ya, ingin bertanya apa, tante Dewi? " tanya Gita.


"Seputar adikmu, namanya Galuh bukan? Apa kabar dia sekarang? Apakah dia baik baik saja disana? " tanya Dewi.


Gita mengerutkan keningnya, bagaimana Dewi bisa mengetahui adiknya, baik nama ataupun bertanya kabar soal adiknya itu padanya.


"Sebenarnya saya tidak sengaja bertemu dengan tante, tetapi tante Dewi lebih memperhatikan adik asuh saya, memangnya kenapa? Darimana tante tahu tentang Galuh, adik saya? " tanya Gita.


Dewi diam, ia mengambil jusnya dan meminumnya, sambil menghela nafasnya, ia memperbaiki posisi duduknya dengan menyilangkan kedua kakinya dan menyenderkan punggungnya di kursi.


"Boleh saya mengungkapkan semuanya, Gita? " tanya Dewi.


Rasa penasaran Gita menggebu gebu, ditambah lagi Dewi yang mengetahui soal Galuh, diawal ia berpikir bahwa Dewi sepertinya mengetahui tentang adiknya, secara Dewi juga adalah seorang dokter.


"Ya, katakan saja, tante Dewi. " jawab Gita.


Dewi menghela nafasnya untuk bersiap siap mengungkapkannya.

__ADS_1


"Galuh itu anak saya. "


                                                          ****************


__ADS_2