Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 30: Ulangtahun Gita


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Baik, kita akan atur pertemuan nantinya. "


Seminggu berlalu, akhirnya Gusti kembali seperti semula, bahkan emosinya stabil dan ia dapat menikmati waktunya bersama anak anaknya lagi walaupun pekerjaan yang selalu menantinya.


"Tuan, ini berkas dari pihak tuan Sandi. "


Gusti mengambil berkasnya, ia melihat isi berkas tersebut dan mulai berkutat dengan pekerjaanya.


Gusti hari ini menghabiskan waktunya di rumah, ia memilih bekerja di rumah untuk beberapa hari dan akan kembali ke kantor ketika emosinya sudah stabil, karena moodnya yang sering berubah sebelumnya.


Jika Gusti yang emosinya tidak stabil dan nekat pergi bekerja dengan pekerjaan, maka ia akan mengacaukan perusahaannya.


"Pah, papa... "


Gusti menatap ke arah pintu, terlihat bahwa anaknya yang menunjukkan kepala di depan pintu, Gusti menyuruh anak anaknya untuk masuk dan bertanya apa yang terjadi.


"Ada apa, nak? " tanya Gusti.


"Tentu saja urusan penting, dan ini harus dibicarakan secara empat mata saja. " jawab Gita dengan nada bicara yang serius.


Gusti tersenyum dan memutar matanya, kemudian mempersilahkan kedua anaknya untuk duduk menghadapnya.


"Sekarang, katakan, apa yang membuat percakapan ini begitu penting? " tanya Gusti.


Gita dan Gina tersenyum, kemudian mereka mendekatkan pandangannya ke arah Gusti.


"Ulang tahun... "


Gusti menganggukan kepalanya. "Dan, siapa yang sedang berulangtahun? "


"Wha? What wrong with you, papa? My birthday, this my birthday, why you forgot my birthday? " tanya Gita dengan nada kecewa.


Gusti tercengang, bagaimana ia melupakan hari ulangtahun anaknya, dan sekarang ia membuat anak sulungnya menjadi kecewa karena ia melupakannya.


"Well, my dear, tell papa, what do you want for you birthday? " tanya Gusti kembali.


Gita mendekat. "Rayakan ulangtahunku, papa. "


Gusti menaikkan bibirnya, sementara kedua anaknya masih menunggu jawaban darinya.


"Papa, aku ingin ulangtahun ku dirayakan seperti 2 tahun sebelumnya. Papa banyak sibuk diluar, sampai ulangtahun Gita aja sampai lupa. " protes Gita.


Gusti ingin berbicara, sayangnya Gina menyela pembicaraannya.


"Gina juga udah nungguin papa buat rayain ulangtahun kakak loh, pah, papa jarang merayakan ulangtahun kakak setelah 2 tahun yang lalu. Papa sekarang banyak marah di rumah, apalagi sama mama. "


"Baik, papa akan rayakan ulangtahun kamu, Gita, tidak usah khawatir, kamu boleh undang teman teman kamu, dan papa akan undang teman teman kerja papa. Sepakat? "


Gusti membuat kesepakatan dengan kedua anak gadisnya, mereka saling sepakat dengan perundingan barusan.


Gita dan Gina bersorak gembira, akhirnya ulangtahun yang ditunggu sebelumnya akan dikabulkan oleh Gusti, papa mereka telah berjanji merayakan ulangtahun tersebut bersama teman dan kolega lainnya.


"Come on, my dear. Give me hug. "


Gita dan Gina bangkit dari tempat duduk mereka, kemudian mendekat ke Gusti dan memeluk ayah mereka itu sendiri.


"Sayang sayangku, papa sangat mencintai kalian. "


......................


"Jelly, kamu sangat pintar. "


Dewi yang tengah memasak dikamarnya sekarang sedang bersama Jelly, anjing tersebut setia menemaninya bahkan membantunya mengambil barang barang yang diperlukan untuk memasak, kecuali bahan makanan.


Dewi mencicipi masakannya, terasa sangat nikmat dan ia mematikan kompornya kemudian segera memakan masakannya.


"Jelly, apakah kamu mau mencicipi masakanku? "


Jelly tentu saja menggonggong, ia mengerti tawaran dari Dewi, Dewi tersenyum dan mengambil mangkuk piring milik Jelly dan menaruh sedikit masakan yang sudah ia buat sebelumnya.


"Silahkan. "


Jelly memakan masakan yang dibuat oleh Dewi, sementara Dewi ikut makan bersama, ia menatap ponselnya dan melihat video video yang ada di sosial media.


Tak lama pintu kamar Dewi diketuk dari luar, Dewi yang tengah menikmati makanannya kemudian berdiri dan beranjak menuju ke pintu kamarnya, sementara Jelly memantaunya dari dapur.


"Sebentar... "


Dewi membuka pintu kamarnya, terlihat Eni yang berdiri dan mengendus endus sesuatu, kemudian Eni menatapnya dengan tatapan menyelidik.


"Wi, kamu masak apaan sampai baunya ke kamar aku? " tanya Eni.


Dewi tersenyum. "Masakan yang saya di sosial media, saya tidak menyangka bahwa baunya bisa sewangi ini, Eni. "


"Sekiranya, boleh nggak nyicipin masakannya? " tanya Eni.


Dewi menganggukan kepalanya, ia mempersilahkan Eni untuk masuk ke kamarnya untuk mencicipi masakan yang sudah ia buat sebelumnya.


"Anjing kamu lagi makan apaan tuh? " tanya Eni.


"Oh Jelly, dia sedang mencicipi masakan saya, saya tidak menyangka bahwa dia sangat menikmati masakan yang saya masak, saya kira dia tidak menikmatinya karena ini pertama kali saya memasak makanan dari internet. " jawab Dewi.


Eni menganggukan kepalanya, kemudian ia mengelus kepala anjing tersebut.


"Udah punya nama dia sekarang, Wi? " tanya Eni.


"Ya, saya memberikannya nama, kasihan saja kalau saya terus terusan memanggilnya dengan panggilan guguk. Bukankah namanya bagus dengan panggilannya Jelly? " tanya Dewi.


"Sesuai nama dan badannya yang lumayan besar, semoga lemak tubuhnya menjadikan namanya lebih sempurna sesuat kebutuhan badannya. " ucap Eni.


"Semoga saja, tetapi lebih bagus ketika Jelly bisa menjadi anjing penurut dan mengerti dengan apa yang kita ucapkan. " ucap Dewi.


Dewi menyendokkan masakannya ke piring, kemudian memberikannya kepada Eni untuk Eni cicipi, tentu saja Eni tidak sabar menikmati masakan tersebut dan mengambil sendok dan garpu untuk memenuhi kebutuhannya memakan masakan tersebut.


"Enak banget, masak banyak nggak kamu? " tanya Eni.


"Sepertinya sedikit, tapi lainkali akan saya masak lebih banyak. " jawab Dewi.


Jelly mendekat dan duduk di bawah meja, sedangkan Eni melihat Jelly yang tengah duduk di bawah dan menatap anjing tersebut.


"Si Jelly ini udah dimandiin belum? " tanya Eni.


Dewi menggelengkan kepalanya.


"Belum, saya tidak tahu bagaimana cara memandikan anjing, apalagi mengeringkan tubuhnya. " jawab Dewi.


"Baru pertama kali ya melihara hewan kayak gini? " tanya Eni.


"Iya, ini pertama kali saya mempunyai peliharaan, Ni. Ini saja memberi makannya dengan makanan di minimarket dekat kosan ini. " jawab Dewi.

__ADS_1


"Masalah makanannya aja mah nggak papa, tapi cara mandiin si Jelly yang aku tanyain, Wi. Kalau nggak bisa, aku bakalan bantuin kamu mandiin Jelly. " tawar Eni.


Tentu saja hal tersebut dapat membantu Dewi, Dewi menganggukan kepalanya dan menerima tawaran tersebut.


"Boleh Ni, saya sangat terbantu, sekaligus juga dapat menambah pengalaman saya untuk merawat Jelly. " ucap Dewi.


"Oke, tapi nanti aku mau balik ke kamarku dulu buat ngambil hairdryer di kamar, biar nggak kerepotan pas ngeringin si Jelly. " ucap Eni.


Eni memakan masakan Dewi dengan nikmat, ia bahkan menambah porsi makanannya, jarang sekali Eni bisa menikmati makanan selahap itu.


Selesai makan, Dewi membereskan peralatan makan yang sebelumnya digunakan, sedangkan Eni kembali ke kamarnya untuk mengambil hairdryer yang ada di kamarnya, Jelly melihat pergerakan Dewi terus menerus, kemudian Dewi menghampiri anjingnya tersebut dan mengelus anjingnya sambil mencubit manja lemak yang ada di pipi Jelly.


"Kamu sangat menggemaskan, Jelly. " puji Dewi.


"I'm back again! "


Eni membawa hairdryer miliknya, kemudian ia meminta Dewi untuk membujuk Jelly untuk mandi, Jelly tidak susah dibujuk dan ia mengerti kemudian mengikuti Dewi dan Eni dari belakang.


Di dalam kamar mandi, Jelly menunggu apa yang akan terjadi, Dewi mengambil sabun cairnya untuk menjadi sabun mandi Jelly, kemudian ia mengambil ember untuk menjadi tempat Jelly mandi.


Sepanjang memandikan Jelly, Jelly terus terusan menggonggong dan memercikkan air bekas mandinya, Dewi berteriak, sementara Eni hanya tertawa sambil memandikan Jelly, ketiga makhluk itu tampak bersenang senang di dalam kamar mandi.


"Akhirnya selesai juga. "


Tak lama Jelly mulai menyibakkan bulu bulunya yang basah, tentu saja bulu dari Jelly membuat percikan air yang begitu banyak, sehingga mengenai Dewi dan Eni yang sedang berdiri menatap Jelly, kedua gadis tersebut berteriak ketika terkena percikan air.


"Jelly, kamu usil juga ternyata. " ucap Dewi.


Jelly hanya menggonggong, kemudian Eni menyambut Jelly dengan handuk bekas miliknya, ia mengeringkan sedikit bulu anjing tersebut dan membawanya menuju ke dapur.


Dewi melanjutkan mengeringkan badan Jelly, sementara Eni mencolokkan hairdryer miliknya di colokan yang tak jauh dari dapur.


Eni menghidupkan hairdryer miliknya, ia mulai mengeringkan tubuh anjing tersebut, sementara Jelly terus terusan bergerak dengan lincah layaknya senang jika tubuhnya diangin anginkan oleh hairdryer yang tengah digunakan oleh Eni untuk mengeringkan badannya.


"Hei, diamlah dahulu. " ucap Eni.


Saat bulu Jelly kering, terlihat bulu anjing tersebut lebih mengembang, Dewi tertawa melihat Jelly yang bulunya mulai mengembang karena efek dari pengering tersebut mengeringkan bulunya, Dewi mengabadikan momen tersebut dengan memotret anjingnya yang bulunya mengembang seperti permen kapas berwarna kuning muda.


"Wi, biar peliharaan tuh nggak bosen, ajak dia jalan jalan gih, mumpung lagi libur juga kan? " tanya Eni.


Dewi menaikkan bibir bawahnya dan berpikir, kemudian menganggukan kepalanya.


"Iya juga, lagipula setiap akhir pekan, saya berangkat ke restoran saat sore hari. Boleh juga, saya akan ajak Jelly jalan jalan ke taman untuk hari ini. " jawab Dewi.


"Yaudah, punya nggak kalung anjing atau rantai kayak gitu? " tanya Eni.


"Eni, kamu tahu sendiri bahwa saya tidak mengerti peliharaan, apalagi ini adalah kali pertama saya memelihara anjing di dalam kosan. " ucap Dewi.


"Oh ya, aku hampir aja lupa... " ucap Eni dengan senyum dan cengirannya.


"Yaudah, kalau gitu ajak aja dia jalan jalan kayak biasa aja, nanti kalau dia mau nyasar, panggil aja namanya, bakalan nurut dia. " ucap Eni.


Dewi menganggukan kepalanya, ia mulai bersiap siap untuk keluar kamar, dan pastinya Eni tidak akan ikut, karena gadis tersebut akan bersantai di dalam kamarnya ketimbang membuat lelah saat keluar kamar untuk berjalan jalan.


"Jelly, kemari, ikuti aku. "


Jelly begitu pintar, ia menuruti perintah Dewi, walaupun mereka bertemu beberapa hari yang lalu, tetapi dengan cepat Jelly menuruti ucapan Dewi, terlihat bahwa Jelly ingin menjadi anjing peliharaan.


Saat menuruni tangga, Dewi dan Jelly bertemu dengan anak anak kosan dan satpam, terlihat mereka tengah bermain piring terbang alias frisbee.


Tentu saja anjing tertarik dengan permainan tersebut, Jelly berlari dan mengejar piring terbang tersebut, Dewi saja sampai terkejut ketika melihat anjingnya berlari ke arah atas untuk mengejar piring terbang tersebut.


"Yah, piringnya kelempar ke lantai dua lagi, males banget mau ngambilnya. " ucap salah satu penghuni kosan tersebut.


Jelly berlari melewati Dewi, dengan frisbee yang ia gigit, kemudian berlari ke arah satpam dengan frisbee yang ia ambil dari lantai dua.


"Loh, ini anjing siapa? " tanya salah satu penghuni kosan.


"Jeli? Bagaimana kamu bisa keluar dari kamar? " tanya satpam.


Dewi menghampiri ketiga orang yang tengah menatap ke arah Jelly, Jelly menggonggong ke arahnya dan berputar di kaki satpam tersebut.


"Eneng Dewi ternyata, saya kira si Jeli nya keluar sendiri dari kamar. " ucap satpam tersebut.


"Maaf ya pak, kalau anjing peliharaan saya mengganggu kalian semua saat bermain. " ucap Dewi.


"Loh, bukannya di kosan nggak boleh bawa peliharaan ya? " tanya salah satu orang.


Dewi menatap kaget, baru tahu bahwa ada larangan membawa hewan peliharaan di kamar kosan, tetapi satpam yang berada di sana berusaha menenangkan suasana.


"Dia cuma anjing yang malang, Dewi menemukannya saat Dewi berlari karena mengiranya ingin mengejar Dewi, ternyata dia hanya ingin mengembalikan dompet Dewi yang jatuh, dan sekarang dia meminta Dewi untuk menjaganya. Maaf kalau Jelly dan Dewi mengganggu kalian, apalagi Jelly termasuk anjing yang aktif. " jelas Dewi.


Kedua orang penghuni kosan tersebut merasa kasihan, karena Dewi yang menjelaskan tentang keadaan Jelly, kemudian kedua orang tersebut jongkok dan mengelus kepala anjing tersebut.


"Namanya Jelly? Nama yang sangat bagus, anjing lucu... " puji kedua orang tersebut.


Jelly mendapat perhatian lebih, bahkan ia bersyukur ketika Jelly dapat diterima di kosan tersebut, walaupun Jelly sering menunjukkan atraksi di depan orang orang yang ada.


Seketika ponsel miliknya berdering, Dewi merogoh kantongnya dan melihat ponselnya, sekarang yang menelponnya adalah Gusti, sebuah kejutan yang tidak ingin ia nantikan.


Semakin Dewi mengabaikan Gusti, maka akan terus terusan Gusti menerornya lewat telepon, sampai sampai penghuni kosan yang tengah bermain dengan Jelly menatap ke arah Dewi, Dewi merasa bahwa telepon itu mengganggu suasana bermain tersebut, dan akhirnya Dewi menyerah kemudian mengangkat teleponnya.


"Halo, ada apa? "


Nada suara Dewi agak berbeda dari sebelumnya, menjadi ketus, bahkan ia tidak menganggap serius panggilan tersebut.


'Dewina, saya ingin merencanakan pertemuan denganmu, bisakah kita bertemu? ' tanya Gusti.


Dewi menghela nafasnya, ia tidak perlu berpikir dan langsung menyetujui permintaan tersebut.


"Baik, kita bertemu dimana, om? " tanya Dewi.


......................


Di taman kota tepatnya, menjadi pertemuan Gusti dan Dewi disana, mereka duduk di satu kursi yang sama, walaupun Dewi menjaga jarak.


Tak ada percakapan antara keduanya, dan akhirnya dimulai dengan Gusti yang berdeham.


"Kenapa om? Sedang sakit tenggorokan? " tanya Dewi.


Gusti menggelengkan kepalanya.


"Terus? Ada apa yang sebenarnya? " tanya Dewi.


"Saya minta maaf. "


Dewi mengerutkan keningnya. "Meminta maaf untuk apa? "


"Dewina, jangan pura pura tidak tahu dengan masalah sebelumnya, saya tahu bahwa kemarin saya bersalah sudah memperlakukanmu dengan buruk. "


Dewi memutar mata malasnya, kemudian menghela nafasnya.


"Kenapa? Bukannya saya meminta agar saya dibebaskan, saya sudah bilang sebelumnya kan, om? " tanya Dewi.

__ADS_1


"Tidak, saya tidak ingin kamu membebaskan dirimu dari saya, karena kamu sepenuhnya sudah menjadi milik saya, dan saya meminta maaf dengan semua kesalahan saya sebelumnya. " ucap Gusti.


"Saya tahu, om seperti ini karena ada sesuatu, bukan? " tanya Dewi.


Gusti menghela nafasnya, ia menganggukan kepalanya.


"Saya ingin kamu menghadiri acara ulangtahun anak saya. "


"Anak om sedang berulang tahun? " tanya Dewi.


"Ya, tepatnya si sulung yang sedang berulangtahun, dan saya dituntut dengan anak saya untuk merayakannya dan kami sepakat untuk membawa teman teman atau kolega, perlu persyaratan untuk bisa memenuhinya. " jawab Gusti.


"Manis sekali, om tampaknya sangat menyayangi anak anak om. " puji Dewi.


"Tentu saja, walaupun saya tidak peduli dengan istri saya, setidaknya jangan sampai saya mencampakkan kedua anak saya. " ucap Gusti.


Dewi berpikir terlebih dahulu, kemudian ia menatap Gusti.


"Jadi, dengan mengundang saya, apakah ini bisa menjadi ucapan minta maaf? " tanya Dewi.


"Kamu berkata seperti itu, maka jawabannya iya. " jawab Gusti.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia menyodorkan tangannya, Gusti mengerti dan menjabat tangan Dewi, akhirnya keduanya berbaikan dan tidak ada kesalahpahaman lagi.


"Tetapi saya harus tetap menjaga jarak dari om sendiri. "


"Baik, jika itu maumu. " ucap Gusti.


Keduanya membuat kesepakatan, dan akhirnya menyetujui kesepakat tersebut.


......................


Dewi berjalan menuju ke kosannya, ia hanya meminta Gusti mengantarkannya hanya sebatas minimarket, karena ia tidak ingin Gusti memantaunya masuk sementara ia harus berjumpa dengan satpam dan Jelly.


Saat memasuki gerbang, Dewi melihat ketiga orang tersebut masih berkumpul di halaman kosan, tampak bersama dengan Jelly yang tengah duduk di antara ketiga orang tersebut.


"Apakah kalian masih di halaman ini dari sejam yang lalu? " tanya Dewi.


Ketiga orang tersebut menatap ke Dewi, sementara Jelly menyapanya dan berkeliling di kakinya.


"Kami berempat kecapekan habis main, eh si Jelly juga ikutan capek, jadinya kami duduk dulu ngobrol. "


Dewi tersenyum, ia mengelus Jelly dan ingin kembali ke kamar, sebelumnya Dewi mengucapkan terimakasih dengan dua orang penghuni kosan dan satpam, karena telah menjaga Jelly selama ia mempunyai kesibukan saat di luar kosan.


"Jelly, kamu tadi habis bermain dengan mereka ya? Apakah menyenangkan bisa bermain dengan penghuni kosan ini? " tanya Dewi.


Jelly menggonggong, Dewi tersenyum dan mengelus kepala anjing peliharaannya.


"Baru pulang, Wi? "


Eni yang sedang membuang sampah bertemu dengan Dewi, Dewi mendekati eni bersama dengan Jelly yang mengikutinya.


"Eni? Ya, saya barusaja pulang dari taman, sehabis bertemu dengan om Gusti. " jawab Dewi.


Eni terkejut, itu seperti sebuah kejutan baginya, sepenuhnya Eni seperti sedang mendukungnya, saking gembiranya ia bahkan melompat bersama dengan Jelly, anjing peliharaan Dewi.


"Berita bagus, apa kata om Gusti? " tanya Eni.


"Menghadiri acara ulangtahun anaknya, sepertinya akan menyenangkan. " ucap Dewi.


"Bagus! Kalau ada apa apa, kasih tau aku aja ya, nanti aku bantuin, demi kamu bisa menikmati acara ulangtahun anaknya om Gusti! " ucap Eni dengan gembira.


Karena kegembiraan yang tak terbendung, Eni langsung memeluk Dewi, sedangkan Dewi bingung mengapa Eni sampai sesenang itu.


"Kenapa kamu yang paling heboh, Eni? "


......................


Hari yang ditunggu akhirnya telah tiba, Dewi menghadiri hari ulangtahun anak pertama Gusti, sambutan luar biasa dapat ia rasakan di pesta tersebut, walaupun acara ulangtahun anak remaja, namun acara yang ditampilkan sangat meriah dan mewah, seperti sedang ada di acara pernikahan di luar ruangan.


Tamu tamu yang datang sangatlah berkelas, walaupun dari kalangan atas, namun tidak ada satupun paparazi yang menghampiri acara tersebut, acaranya benar-benar tertutup, mungkin inilah orang kaya yang sebenarnya.


"Selamat ulang tahun, dan bahagia... "


Acara berjalan dengan baik, anak pertama Gusti, Gita, tampak memeriahkan acara tersebut dengan baik hingga saat pesta masih berjalan dengan baik.


Dewi menikmati makanan dari acara ulangtahun tersebut, makanan yang benar-benar berbeda di kampungnya saat anak anak berulang tahun, namun ini sangat mewah, dari segi makanan maupun acara yang ditampilkan.


"Apakah kamu Dewina? "


Dewi menoleh ke belakang, ternyata itu istrinya Gusti, Bella.


"Kamu menghadiri acara ulangtahun anak saya? Bagus, saya sangat senang asisten suami saya menghadiri hari ulangtahun anak saya ini. " ucap Bella.


Dewi tersenyum. "Ya, saya mendapatkan undangan dari tuan Gusti, bahwa akan ada acara ulangtahun anak tuan dan nyonya sekalian. Sebuah kehormatan bagi saya bisa menghadiri acara ini. " ucap Dewi.


Bella tersenyum, kemudian meminum minumannya.


"Dewina, bolehkah saya bertanya? " tanya Bella.


Dewi menanggapi pertanyaan tersebut. "Ya, pertanyaan seperti apa, nyonya? " tanya Dewi.


"Kamu tahu siapa simpanan Gustiawan, Dewina? " tanya Bella.


Dewi tersedak, sedangkan Bella menatapnya saja, Dewi terkejut dengan pertanyaan Bella yang langsung menuju ke pertanyaan siapa wanita dibalik layar.


"Saya tidak tahu, saya sekedar teman kerja Gusti saja, bu. " jelas Dewi.


Bella menganggukkan kepalanya, kemudian Dewi permisi untuk pergi ke meja, entah ia akan pergi kemana.


Dewi mencoba bersembunyi, ia menemukan tempat bersembunyi, ia menyenderkan tubuhnya di dinding, tak lama sebuah tangan memegang bahunya.


"Ini saya, Dewina... "


Dewi menatap ke belakang, ia bernafas lega, ternyata ia adalah Gusti.


"Ada apa sampai membuatmu seperti ini, Dewina? " tanya Gusti.


Dewi menjelaskan apa yang terjadi, kemudian Gusti mendengarkan obrolan tersebut dan menyimaknya.


"Ternyata seperti itu... " ucap Gusti.


"Saya sempat diinterogasi sama istri om tadi, saya gugup sepanjang acara. "


Keduanya tertawa, kemudian bangkit bersama dari tempat duduk tersebut.


"Ya sudah, apakah kamu ingin segera pulang? " tanya Gusti.


Dewi merasa lelah dan menganggukkan kepalanya. "Boleh juga, ayo kita pulang, om. " ucap Gusti.


Gusti menganggukan kepalanya, kemudian ia mengajak Dewi untuk berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.


Dewi tidak tahu, bahwa arti kata 'kita pulang' itu merupakan kode, bahwa Gusti ingin bermain lagi dengannya, yang pastinya di apartemen yang biasa menjadi tempatnya menikmati malam bersama Dewi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2