Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 49: Jenguk


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Bella langsung bertemu dengan kliennya, ia menunggu kedatangan Gusti yang sebelumnya keluar dari kantor dan sekarang tidak tahu kemana keberadaannya, ia mencoba menelpon beberapa kali dan meminta kliennya untuk bisa menunggu sebentar.


"Tunggu sebentar, sepertinya akan sebentar lagi suami saya akan datang. " ucap Bella.


"Baik, kami menunggu. "


Bella merasa resah, ia menunggu kedatangan Gusti. setidaknya membalas teleponnya, sayang sekali sudah beberapa kali tidak menjawab panggilan sama sekali.


"Gustiawan, angkatlah segera...! "


Di lain tempat, Gusti terbangun ketika bunyi ponselnya berdering, ia merasa bahwa sesuatu menindih kakinya, Gusti menatap ke bawah, ternyata Jelly yang tengah tidur di bawah kakinya.


Gusti meraih ponselnya, ia terkejut ketika melihat jam dan siapa yang tengah menelponnya, dengan segera ia beranjak dari sofa dan mencoba berdiri, sayang ia tersandung dengan meja yang berada di sofa, membuat Gusti terjatuh dan terjadi kerusuhan di ruang utama tersebut.


Dewi yang tengah tertidur di kamar ikut terkejut, ia beranjak dari tempat tidur dan berlari ke arah ruang utama, ia melihat Gusti yang terjatuh, dengan meja yang sudah terbalik bersama dengan Gusti.


"Om, kenapa bisa terjatuh seperti ini? "


Dewi membantu Gusti untuk berdiri, ia menyuruh Gusti untuk duduk dan mengembalikan semula posisi mejanya kembali.


"Kaki saya kesemutan, bangun terlalu terburu buru, alhasil saya sampai terjatuh bersamaan dengan meja. " jawab Gusti.


Dewi menatap ke arah kaki, kemudian Gusti memegang bahunya.


"Katakan, kenapa kamu tidak membangunkan saya? Bahkan sudah beberapa kali panggilan tak terjawab, apa kamu tidak tahu bahwa saya akan ada pertemuan dengan klien bersama dnegan istri saya? " tanya Gusti.


"Saya tidak tahu om, kalau sudah tahu dari sebelumnya, saya bisa membangunkan om juga. " jawab Dewi.


Gusti menghela nafasnya, ia berdiri dan mulai membereskan dirinya, kemudian memakai jasnya dan berjalan ke arah luar.


"Saya ada pertemuan dengan klien bersama dengan istri saya, tidak apa, saya akan pergi secepatnya. " ucap Gusti.


Gusti membuka pintu kamar apartemen tersebut, kemudian menutup pintu tersebut, Dewi terkejut dengan reaksi tersebut dan menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa secepat itu laki laki tersebut berubah pikiran dan tindakan, seperti sekarang yang ia alami.


"Om Gusti memang seperti itu ya? Jika bangun tidur, dia akan spontan bersikap seperti itu? "


Dewi bertanya dengan dirinya sendiri, kemudian ia mengelus kepala anjing peliharaannya.


......................


"Apakah bisa hanya anda saja yang mewakili pertemuan ini? Karena saya masih ada pekerjaan lainnya. "


Bella menyerah, ia menganggukan kepalanya, kemudian ia menyuruh asisten Gusti untuk menyiapkan pertemuan tersebut.


"Maaf, apakah saya terlambat? "


Bella berbalik arah, ia melihat ke belakangnya, ternyata Gusti berjalan menuju ke arah Bella dengan berjalan santai dan terlihat profesional, tak lupa juga ia berjabat tangan dengan klien yang ia temui, Bella duduk dengan tenang, walaupun hatinya merasa kesal.


Akhirnya pertemuan tersebut berjalan dengan baik, walaupun sebelumnya klien Gusti dan Bella ingin mempercepat pertemuan, akhirnya bisa diselesaikan dengan berdua.


"Terimakasih sudah hadir di pertemuan ini, ke depannya akan kita atur bagaimana lebih baiknya, hingga kita mendapat keuntungan. "


Gusti berjabat tangan, kemudian Bella berjabat tangan dengan klien mereka, pertemuan tersebut selesai dengan baik, walaupun masih ada pertemuan selanjutnya lagi.


"Kemana saja anda? Anda tahu, bahwa saya menahan klien agar mereka tidak merasa kesal karena menunggu anda? " tanya Bella.


"Bisakah jangan ribut di sini? Masih ada pertemuan lainnya. Jika kamu memulai keributan, maka saya akan membuat pertemuan selanjutnya akan memalukan dirimu, mengerti? "


Bella merasa kesal, tetapi ia berpikir terlebih dahulu, bahwa ia memilih untuk mengalah ketimbang harus ribut, hatinya sebenarnya meringis karena perlakuan suaminya yang semena mena dengan pertemuan yang sebelumnya sudah dilakukan.


"Baik, setelah pertemuan, saya akan bertanya dengan anda, jangan lupakan hal tersebut. " ucap Bella.


Gusti berdecak, ia meninggalkan Bella yang sedang menunjuk ke arahnya, ia tidak peduli dengan apa yang akan diinginkan oleh istrinya tersebut, sedangkan Bella menggeram kesal dengan sikap suaminya yang seolah olah cuek dengan apa yang ia ingin katakan.


Bella menyusul Gusti, keduanya menaiki mobil milik Gusti dan menuju ke tempat kerja lainnya.


Di dalam mobil, hanya sunyi yang dapat dirasakan, terutama Bella, ia tidak pernah merasa seperti ini, bisa berdua dengan suaminya, jarang sekali ia bisa bersama dengan suaminya seperti sekarang.


Saat Bella ingin mengatakan sesuatu, Gusti sudah mengantisipasi kata kata yang akan keluar dari mulut istrinya, ia menutup mulut istrinya tersebut.


"Ada apa? Kenapa anda menutup mulut saya? " tanya Bella.


"Saya tidak ingin sepatah kata pun terucapkan di mulut kamu, saya yakin bahwa kamu membuat keributan kembali lagi dengan saya, ingat kata saya saat di gedung barusan. " ucap Gusti.


Bella menjauhkan tangan Gusti, ia merasa kesal ketika suaminya yang tidak menyuruhnya untuk mengatakan sesuatu padanya, ia seperti tidak dihargai sekarang.


"Kenapa anda seperti ini sekarang? Anda sangat tidak menghargai saya sebagai partner kerja anda, saya sangat senang bisa bekerjasama dengan anda, tetapi saat saya ingin berbicara dengan anda, anda selalu membuat saya bungkam. " tanya Bella.


"Karena saya tidak butuh pendapat dari kamu, dan saya bisa melakukannya sendiri tanpa mendengar pendapat kamu yang bagi saya tidak penting itu. " jawab Gusti.


Bella akhirnya merasa sedih, ia sedih karena ia yang benar benar diacuhkan oleh Gusti, padahal keduanya masih bersama dan belum ada status perceraian antara keduanya.


"Anda membenci saya seperti itu, apakah anda akan terus seperti ini dengan saya? " tanya Bella.


Suara Bella yang gemetaran, tampak wanita itu ingin menangis, hal tersebut membuat Gusti tertarik dan tersenyum miring dengan Bella yang sekarang seperti itu.


"Akhirnya kamu bisa menangis juga, saya kira kamu akan kuat melawan saya. " ejek Gusti.


"Anda kira saya selama ini memang benar benar seperti yang anda katakan barusan? Saya menahannya agar saya terlihat bisa melawan anda, hanya saja anda yang terus terusan membuat luka di hati saya. Untuk apa seperti ini? Hanya untuk Gita dan Gina saja, sedangkan saya tidak dipedulikan begitu? " tanya Bella.


"Dengar, saya tidak peduli dengan perasaan anda, dan anda ingat sendiri, bahwa saya membenci anda karena perselingkuhan anda sebelumnya, dan juga saya seperti ini untuk kedua anak anak saya. Jangan sampai mereka menderita seperti saya sebelumnya, cukup hanya melihat tingkahmu saja mereka tidak akan pernah memaafkan sikap kamu yang sebelumnya, jangan berharap lebih untuk kamu bisa memperbaiki seperti semula. " ucap Gusti.


Bella ingin menangis, tetapi ia harus bisa menahan bulir air matanya yang begitu berharga, ia tidak ingin benar benar terlihat lemah di depan suaminya itu.

__ADS_1


"Baik, saya akan terus menerimanya. " ucap Bella.


......................


'Dewi, kamu nggak kangen sama aku? Kamu benci ya sama aku? '


Dewi melihat Eni, kemudian ia berteriak hingga ia terbangun dari tidurnya, bahwa ia baru saja bertemu dengan temannya, ia mengusap wajahnya dan merasa mustahil bahwa ia benar benar bertemu dengan temannya yang sekarang tengah mendekam di penjara.


"Mimpi apa aku barusan? Terasa sekali mimpinya begitu nyata. "


Dewi melihat jam yang berada di dinding kamarnya, menunjukkan pukul 2 malam, ia terbangun dan berencana ke dapur untuk mengambil air minum, karena ia merasa haus.


Saat keluar dari kamar, Dewi melihat Jelly yang tertidur nyenyak di sofa, ia tidak tega untuk membiarkan Jelly tidur sendirian di sofa tersebut dan ingin membawanya ke kamar, sayangnya Gusti tidak mengizinkannya untuk mengajak Jelly tidur di kasur tersebut.


Dewi berjalan menuju ke dapur, mengambil air, kemudian meminumnya, ia merasa lega dan merasa bahwa kepalanya pusing, ia tidak bisa tidur terlalu larut untuk sekarang.


Dewi melamun, ia masih teringat dengan mimpinya tadi, bahwa ia yang melihat temannya yang terjebak di suatu tempat yang gelap, dan ia jauh dari Eni, tidak bisa membantu temannya untuk bebas dari tempat tersebut, sedangkan Eni yang terus terusan mengatakan bahwa Dewi yang membenci dirinya.


"Eni, apakah kamu merindukan aku, sampai sampai kamu datang ke mimpiku hanya untuk menanyakan apakah aku merindukanmu dan membencimu? "


Dewi menatap ke arah jendela, langit malam yang berhamparan bintang di gelap malam, suara dari kesibukan kota yang bising, membuat suasana tengah malam tersebut tidak terlalu sunyi.


"Sepertinya besok aku harus bertanya dengan om Gusti dan bu Bella, apakah boleh untuk menjenguk Eni yang sedang berada di penjara. "


Dewi memutuskan untuk kembali tidur, ia sebelumnya memegang perutnya yang terasa ingin mual, tetapi mual tersebut menghilang, ia merasa bahwa baiknya ia tidur terlebih dahulu.


Di lain tempat, terlihat Gusti dan Bella pulang dari pertemuan mereka di restoran, makan tengah malam di restoran tersebut membuat keduanya pulang larut malam.


"Kenapa kamu mengatakan pada mereka bahwa proyek tersebut sudah diambil sebelumnya? Apa kamu tidak tahu, bahwa itu sudah saya persiapkan dari sebelumnya? " tanya Gusti.


Bella hanya diam, ia hanya merasakan kantuk, karena sampai larut malam ia menghabiskan waktu bersama dengan klien.


"Saya hanya mengantisipasi saja, bahwa proyek tersebut sudah dicontek oleh perusahaan lain dan sudah di hakpatenkan oleh pihak tersebut. Jika saya menyetujuinya, maka kita akan terkena imbasnya. " jawab Bella.


"Apa? Siapa yang mampu berbuat seperti itu? Sialan! " umpat Gusti.


"Bagaimana tidak bocor, jika anda saja lebih menyibukkan aktivitas lainnya daripada perusahaan anda sendiri, selama ini anda lebih sibuk untuk Dewi saja, bukan? " tanya Bella.


Gusti menggeram. "Aggrrh! Kamu selalu saja seperti ini! Kalau tidak membuat keributan, selalu saja membuat saya marah! Apa kamu tidak bosan jika terus terusan bertanya seperti itu dengan saya?! " tegas Gusti.


Bella tersentak, ia yang awalnya mengantuk sekarang menjadi sedih, karena Gusti yang tidak bisa bertutur kata yang lembut padanya, hanya emosi yang ia dapatkan sedaritadi.


"Baik, saya selalu salah di depan anda! Anda saja terus terusan emosi dengan saya, bisakah semuanya anda tanggapi dengan lembut?! Saya sudah muak, saya muak dengan perilaku kasar anda, anda seperti menjadikan saya seperti orang asing saja, sedangkan Dewina anda perlakukan dengan baik sekali. " keluh Bella.


"Berhenti sampai disini, atau saya akan meninggalkan kamu sendiri di restoran ini dengan keadaan mata kamu yang sekarang sudah mengantur, mengerti?! "


Gusti meninggalkan restoran tersebut, Bella mengikutinya dari belakang, kemudian ia menaiki mobil milik Gusti, keduanya akhirnya menjalan kan mobilnya menuju ke kediaman mereka sebelumnya.


......................


"Jelly, kamu selalu bangun lebih awal daripada saya, kamu memang anjing yang rajin. " ucap Dewi.


Keduanya beranjak menuju ke ruangan lain, tak disangka, seseorang sedang tertidur di sofa tersebut, itu adalah Gusti yang sedang tertidur di sofa dengan selimut yang hanya sebatas pinggang, Dewi meraih selimut tersebut dan beralih sampai ke batas bahu Gusti.


Gusti membuat gerakan tiba tiba, ia terbangun dan mencekam tangan milik Dewi, gadis tersebut ikut terkejut atas aksi tersebut.


"Ternyata kamu, Dewina. " ucap Gusti.


Gusti melepaskan cengkaman tersebut, kemudian ia bangun dari tidurnya dan duduk di sofa.


"Sejak kapan om ada di sini? Saya tidak tahu bahwa om pulang ke sini. " tanya Dewi.


"Ya, saya pulang pukul tiga pagi, dan sekarang saya terbangun dari tidur saya. " jawab Gusti.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia mengingat sesuatu yang ingin ia sampaikan sebelumnya.


"Om. " panggil Dewi.


Gusti mengarah padanya dan bertanya. "Ya, ada apa? " tanya Gusti.


"Bolehkah saya menghampiri Eni? Saya rasa sekarang dia perlu dijenguk, om. " tanya Dewi.


Gusti menggelengkan kepalanya, sementara Dewi menatapnya dengan tatapan seolah bertanya.


"Kenapa? Eni teman saya om, saya yakin dia juga jauh dari keluarga, dan juga dia belum tentu bisa melewati hukuman lima tahun itu, om? " tanya Dewi.


"Jika kamu ingin temanmu menderita, kamu lakukan saja, istri saya bisa bertindak lebih dengan temanmu itu, Dewina. " jawab Gusti.


Dewi terkejut, bagaimana bisa sesulit itu untuk bertemu dengan temannya, sedangkan tujuannya hanya ingin menjenguk temannya yang sedang berada di penjara.


"Om, bisakah jangan separah itu? Cukup penjarakan saja dia, jangan sampai ikut membuatnya menderita. Saya juga merindukannya, semalam ia datang ke mimpi saya dan bertanya, apakah saya merindukannya dan membencinya? " jelas Dewi.


Gusti tidak dapat menjawab apapun lagi, karena ia sedang menghadapi wanita yang sekeras batu itu seperti Dewi, ingin diberitahu bagaimanapun Dewi tidak akan mendengarkan ucapan dan larangannya.


"Kalau begitu, kamu jumpai saja istri saya, minta izin padanya untuk bertemu dengan Eni. Kalau berhasil, berarti kamu beruntung bisa membuat istri saya mengizinkan kamu. " ucap Gusti.


Dewi merasa bahwa ucapan tersebut adalah jalan keluarnya, ia menganggukan kepalanya, kemudian segera berberes untuk sebelum bertemu dengan Bella.


.


Beberapa waktu berlalu, sebelumnya Dewi sudah merencanakan sesuatu sebelum berjumpa dengan Bella, ia meminta waktu luang untuk bisa bertemu dengan wanita tersebut di kediaman milik Gusti dan Bella.


Walaupun waktunya akan sebentar, tetapi tujuannya hanya meminta izin untuk bisa berjumpa dengan temannya, ia yang pergi sendiri tanpa ditemani oleh Gusti, karena Gusti yang berangkat dari awal untuk bekerja.


"Sebelumnya, saya sangat berterimakasih kepada ibu, karena ibu yang meluangkan waktunya untuk bisa bertemu dengan saya. " ucap Dewi.


Bella tersenyum singkat.

__ADS_1


"Katakan, apa yang membuat kamu ingin berjumpa dengan saya? " tanya Bella.


Dewi akhirnya ditanya, benar kata Gusti sebelumnya, bahwa Bella tidak suka waktunya terbuang sia sia, kecuali jika memang sangat memerlukannya.


"Bu, bolehkah saya berkunjung ke penjara untuk menjenguk teman saya? " tanya Dewi.


Ekspresi Bella terlihat tidak bersahabat, Dewi tahu, bahwa Bella tidak menyukai permohonannya barusan, tetapi ia seperti tekad di awal, bahwa ia ingin bertemu dengan Eni.


"Bu, saya mohon, ini teman saya orang jauh, saya yakin jika dia tidak memberitahukan kondisi dia dengan keluarganya, saya mohon, izinkan saya untuk menghampiri nya. " mohon Dewi.


Bella tersenyum miring, ia menaruh cangkir tehnya di meja sambil mengatakan sesuatu kepada Dewi.


"Bahkan kamu tidak tahu bahwa dia adalah anak yang hampir sama sepertimu, bedanya kamu dan dia, kamu masih punya orangtua yang lengkap dengan latar belakang kamu sebagai anak baik. " ucap Bella.


Dewi terkejut, ia baru mengetahui masa lalu temannya, ternyata Eni adalah sebatang kara, pantas saja selama ini Eni tidak pernah membahas tentang keluarga.


Sebenarnya perasaan bimbang dirasakan oleh Dewi sekarang, sementara Bella hanya tersenyum remeh kepadanya.


"Jika dia yang tidak mempunyai keluarga, izinkan saya untuk menjadi keluarganya hari ini, bu. "


Bella terkejut, Dewi terlalu cepat mengambil kesimpulan, sehingga ia ingin tertawa dengan pernyataan dari gadis tersebut.


"Kamu serius? Ingin menjadikannya sebagai keluargamu? " tanya Bella dengan nada remeh.


"Saya serius, demi teman saya dan keluarga baru saya, Eni. " jawab Dewi.


Bella tersenyum. "Pantas saja kamu sangat mudah dibodohi, karena orang baik seperti kamu mudah untuk dimanfaatkan.


Dewi hanya diam, ia akhirnya disetujui atas permohonannya tersebut, walaupun sebelumnya ia hanya mendengar ucapan Bella yang kurang mengenakkan baginya.


Butuh waktu beberapa menit untuk sampai di kantor kepolisian, kali ini Dewi diantar dengan supir pribadi Bella, ia akan ke dalam sendirian untuk menjenguk temannya yang berada di tahanan tersebut.


"Selamat datang, sedang mencari siapa? "


Dewi disambut oleh penjaga pos, ia ditanya oleh salah satu polisi yang ada.


"Saya ingin menjenguk teman saya, atas nama Eni Haniyani. " ucap Dewi.


Polisi tersebut mencari daftar tahanan, kemudian menemukan nama dari Eni, ia diiring menuju ke ruangan khusus bertemu dengan tahanan.


Dewi duduk di kursi tempat ia akan berjumpa dengan Eni, ia melihat di sekitar ruangan tersebut, begitu hampanya tempat tersebut.


"Dewi? "


Dewi terarah ke depan, ia melihat Eni yang diiring ke depan, dengan tangan yang diborgol kemudian ia diiring ke meja.


Tangan tersebut diborgol satu, dan satunya disangkutkan di meja, sekarang Eni duduk berhadapan dengan Dewi, dan keduanya saling melepas rindu satu sama lainnya.


"Waktu jenguk lima menit. "


"Baik pak, terimakasih. " ucap Dewi.


Dewi dan Eni yang hanya tersisa di ruangan tersebut, keduanya saling bertatapan dan saling melepas rindu dengan berpelukan.


"Eni, bagaimana kabar kamu? Kamu baik baik saja 'kan di sini? " tanya Dewi.


Eni menganggukan kepalanya. "Kayak yang kamu lihat di depan kamu sekarang, aku baik baik aja. " ucap Eni.


"Baguslah, ini, saya bawakan makanan untuk kita makan sama sama, semoga kamu suka. "


Eni tersenyum. "Makasih, kamu memang yang terbaik. " ucap Eni.


Kedua gadis tersebut makan bersama, Dewi menatap ke arah Eni, ia melihat temannya tersebut makan dengan lahap, sepertinya sedang kelaparan, melihat hal tersebut, ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi.


"Eni. "


"Ya, ada apa, Wi? " tanya Eni.


"Maafkan saya, saya sudah membawa kamu kepada kesulitan ini, karena kehamilan ini yang membuat kamu seperti ini, Eni.... " ucap Dewi.


Saat mendengar ucapan tersebut, Eni menggelengkan kepalanya, ia tersenyum ke arah Dewi.


"Nggak, ini bukan salah kamu, memang aku yang salah, kamu yang sebenarnya menderita disini, Dewi. " ucap Eni.


Dewi menangis saat Eni menjelaskan semuanya, memang iya, dirinya sendiri yang sekarang sedang dalam kesusahan, jauh dari orangtua, pergaulan yang bebas, dijual bahkan sekarang hamil tanpa suami.


"Tapi, saya yang ceroboh, hingga akhirnya saya juga ikut membuat kamu terjebak dalam masalah ini, Eni. Andaikan saja saya mendengar ucapan kamu yang sebelumnya tentang tidak terus terusan meneror om Gusti. " ucap Dewi.


Eni menggelengkan kepalanya, kemudian ia memegang punggung tangan Dewi.


"Dari awal aku memang yang salah, menempatkan kamu di posisi kayak sekarang, harusnya kita nggak saling ketemu Wi, aku udah ngehancurin masa depan kamu dengan terjebak hal kayak ginian. " ucap Eni.


"Eni, tapi- "


"Waktu jenguk sudah habis, tahanan akan kembali ke selnya. "


Polisi datang dan kembali membawa Eni, sedangkan Dewi ingin menahan Eni, sayangnya Eni melepasnya seolah ia tidak ingin ditahan oleh Dewi.


"Relakan aja aku disini, Dewi, kamu harus hidup bahagia tanpa pengaruh buruk dari aku. Bahagia ya sama calon anak kamu, aku selalu berdo'a agar kandungan kamu sehat sehat aja. " ucap Eni.


Jarak keduanya terpisah, Dewi hanya bisa melihat Eni yang dibawa kembali menuju ke sel, ia kemudian menangis ketika mengingat ucapan temannya, bahwa Eni benar benar merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan sebelumnya kepada Dewi.


Dewi menangis, ia akan kehilangan orang yang ia sayangi, termasuk temannya, hidupnya benar benar akan tersorot dengan bertanggungjawab menjaga kandungannya.


Waktu yang tidak dapat diulang, dan sekarang hanya tersisa penyesalan, akhirnya Dewi hanya bisa seperti Eni sebelumnya, berdo'a dan menjalani kehidupannya dengan normal.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2