
...Happy reading 🧡...
......................
Sinar yang menyoroti suatu ruangan, tampak kedua pasangan tengah terlelap, terlebih dahulu yang terbangun dari tidurnya adalah Dewi.
Dewi mengusap wajahnya, ia mengangkat sedikit selimutnya, ia baru ingat bahwa semalam sudah melakukan sesuatu dengan seseorang.
Dewi membalikkan tubuhnya, terlihat lelaki yang ia kenal, adalah Gusti, tampak tertidur pulas, aktivitas semalam ternyata membuatnya kelelahan.
Dewi penasaran, ia mengarahkan jari telunjuknya di bawah hidung Gusti, tangannya meleset hingga hampir menusuk lubang hidung Gusti. Gusti terbangun, ia membuka matanya, dan memegang tangan orang yang mengganggunya tidur.
"Om! " tegur Dewi.
"Ternyata kamu, Dewina... "
Gusti melepaskan tangan Dewi, ia bangkit dan menghela nafas, seketika melihat ke arah Dewi dengan tatapan menggoda, tak lama ia merobohkan Dewi kembali.
"Apakah boleh sekali lagi? " tanya Gusti.
Apalagi selain menganggukkan kepala, Dewi hanya menurutinya saja, lagi lagi mereka mengulanginya sampai Gusti benar-benar merasa puas.
Selesai bermain, Gusti dan Dewi bangkit dari tempat tidurnya, sedangkan Dewi masih duduk di atas ranjang dengan kimono, setiap pergerakan Gusti ia perhatikan secara rinci, kalau ia menunggu bayaran dari Gusti.
"Om, bayaran saya? " tanya Dewi.
Gusti membalikkan badan, ia yang mengeringkan rambutnya seketika menatap Dewi.
"Kamu terlalu tergesa-gesa, manis, memangnya ada apa sampai tergesa-gesa seperti itu? " tanya Gusti.
"Saya butuh uang untuk sekarang, om, saya baru saja di pecat dari pekerjaan saya, sedangkan kebutuhan saya sehari-hari dan biaya kosan yang jatuh tempo butuh dibayar sekarang. "
Dewi menjelaskannya dengan nyali yang penuh, ia sebenarnya malu untuk mengakuinya, tetapi memang itu kenyataannya, bahwa ia membutuhkan uang disaat waktu yang mendesaknya. "Begitu ternyata. " ucap Gusti.
Dewi menganggukkan kepalanya, kemudian Gusti berlutut di depannya.
"Tidak apa, kamu bisa menjadi simpanan saya mulai dari sekarang, masalah bayaran kamu tau sendiri kan mulai sekarang? Lakukan apa yang saya inginkan, dan saya akan membayar kamu berapapun kamu mau. " ucap Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya, Gusti tersenyum, ia berdiri dan mengelus rambut Dewi.
"Good girl! "
Gusti mengelus rambut Dewi, kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
"Om, boleh saya menenangkan diri di sini? Saya cukup merasa nyaman berada di sini untuk sementara waktu. " tanya Dewi.
"Tentu saja, saya akan beri kartu akses apartemen ini untuk kamu, ingin tinggal di sini saja saya izinkan hanya untuk kamu. " jawab Gusti.
"Tidak, saya ingin menumpang sebentar saja disini, om, terimakasih. " ucap Dewi.
Dewi beranjak dari tempat tidur, ia berganti membersihkan diri setelah Gusti, kemudian Gusti bersiap siap untuk pergi, entah bekerja atau pulang ke rumah sebentar.
Dewi membersihkan diri sambil bersenandung, selesainya mandi ia kemudian keluar, tak lama pelayan tiba tiba masuk ke dalam kamarnya dengan membawa troli makanan.
"Permisi, ini makanan pesanan tuan Gusti, apa tuan Gusti ada? " tanya pelayan tersebut.
"Tidak, sepertinya dengan saya sendiri di ruangan ini. " jawab Dewi.
Pelayan tersebut menganggukan kepalanya, menyerahkan beberapa makanan yang ada di troli tersebut di atas meja, memberikan sebuah surat di dekat makanan dan menatap Dewi dari kepala hingga kaki, tatapannya seketika berubah menjadi sinis.
Dewi hanya diam, ia merasa bahwa dirinya diperhatikan oleh pelayan tersebut, kemudian pelayan tersebut keluar dari kamarnya.
__ADS_1
.............
"Saya akan pergi ke kantor, nanti siang akan saya arahkan jadwal. "
Gusti menuruni tangga rumahnya, di bawah terlihat seorang wanita yang memantau lelaki itu turun ke bawah, seperti ia tidak senang.
"Gustiawan, sepertinya kamu banyak sibuk di luar rumah. Ada apa di luar, hingga kau lupa untuk pulang ke rumah? " tanya wanita tersebut.
"Seperti biasa, pekerjaan saya terlalu banyak, kamu sendiri pastinya mengerti, Bella. " jawab Gusti.
Bella, wanita tersebut adalah istri dari Gusti, wanita berumur 36 tahun namun wajahnya masih terlihat berumur 20 tahunan, ia berpenampilan glamour walaupun gayanya terlihat biasa saja. Bella yang sedang membuka tas pesanannya bertanya kepada Gusti, mengapa suaminya itu tidak pulang semalaman, dan alasan Gusti adalah pekerjaan.
"Tapi, kalau saya lihat beberapa hari ini, anda tampaknya sering tidak pulang ke rumah, tidak biasanya anda seperti ini dan mencari anak anak di rumah. " ucap Bella.
Gusti berdecak, ia paling malas jika berhadapan dengan Bella, baginya Bella seperti wanita tua yang cerewet, hampir mirip seperti ibu tiri nya.
"Rumah saya banyak, bahkan mansion dan apartemenpun saya punya, tak perlu hiraukan saya ingin kembali ke mana, saya bisa pilih salah satu dari properti saya untuk saya tinggali. Masalah Gita dan Gina, bukankah mereka sudah besar, saya rasa mereka sudah mulai melakukan aktivitas mereka sendiri, seperti halnya melakukan tugas para remaja. " ucap Gusti.
"Saya masih memantau anda, Gustiawan. "
"Terserah dirimu, Bella. " balas Gusti.
Gusti malas berdebat, ia memilih untuk pergi dari rumah, pekerjaannya sudah menunggunya.
............
Seharian Dewi hanya berbaring di atas kasur, dengan televisi yang menyala dan menampilkan channel makanan, ia melihat makanan yang sedang dimasak tersebut dengan tatapan mengunggah selera, ingin ia memasak tetapi bahan bahan yang digunakan tidak terlalu ia mengerti, mungkin karena bahasa yang digunakan dalam menamai bahan tersebut tidak Dewi mengerti sama sekali. Tak lama ponselnya berdering, Dewi mengambil ponselnya dan mengangkat telepon.
"Ya, ada apa, Ni? " tanya Dewi.
'Hei, semalaman kemana aja kamu Wi? Kamu nggak ada di kamar semalaman? '
"Iya, maaf ya Ni, saya tidak ada di kamar semalaman, karena saya ada urusan sama om Gusti. " jawab Dewi.
"Terpaksa, saya membutuhkan biaya sekarang, Ni, karena saya tidak tahu ingin berbuat apa lagi untuk membayar kosan saya hari ini, dari uang gaji terakhir sepertinya hanya cukup untuk uang jajan saja. " ucap Dewi.
'Gak papa kalik, bisa layanin om Gusti tuh malah lebih bagus, soalnya bayarannya kan banyak tuh, kamu kan suka sama uang. ' ucap Eni.
"Semua butuh uang, Ni, saya juga terpaksa melakukannya demi uang. " jawab Dewi.
'Terserahlah apa itu, yang penting terus puasin om Gusti aja udah cukup. Selamat menikmati hidup yang menyenangkan, Dewi. '
Eni mematikan telepon, Dewi menaruh ponselnya dan berbaring kembali, ia menatap langit langit kamar apartemen tersebut, memikirkan bagaimana rasanya menjadi Gusti, orang kaya yang murni memiliki apartemen yang termasuk mewah ini, entah berapa lagi properti yang murni dimiliki oleh Gusti itu sendiri.
"Jadi om Gusti sepertinya enak, uangnya banyak, pasti kalau ingin itu ini bisa dibeli. Ingin rasanya tukaran posisi. " gumam Dewi.
Dewi menepuk keningnya, haluannya terlalu tinggi untuk mencapainya, jika ingin menjadi orang kaya pasti usahanya tidak sedikit dan pastinya akan sibuk.
"Pikiranku terlalu tinggi, nanti bisa gila kalau terlalu jauh kepikiran seperti itu. " gumam Dewi menepuk keningnya.
Rencananya Dewi sepenuhnya akan memuaskan Gusti, itu karena ia ingin mendapatkan bayaran yang lebih, sebagian uangnya akan ia berikan kepada kedua orangtuanya dan sebagiannya lagi akan ia gunakan untuk membayar kosan, sisanya menjadi uang jajan nya.
Tidak ada yang dilakukan selain makan dan tidur tiduran, Dewi tidak ada kelas untuk hari sabtu dan minggu, itu menjadi alasannya mengapa tidak pergi ke kampus hari ini.
...........
Hingga malam hari tiba, Dewi merasa kesepian, karena di dalam kamar apartemen yang lumayan besar itu ia hanya sendirian, kartu akses yang ia gunakan itulah yang diberikan oleh Gusti untuk ia keluar dan masuk kamar apartemen yang sedang ia tempati.
"Om Gusti sepertinya tidak pulang ke apartemen ya? Sepertinya saya sendirian sampai malam ini. " ucap Dewi bertanya pada dirinya sendiri.
Tak lama pintu kamar berbunyi, seperti ada yang membuka kamar tersebut, Dewi berdiri dan melihat siapa yang membuka pintu kamar apartemen.
__ADS_1
"Om, sudah pulang? " tanya Dewi.
Gusti melepas sepatunya dan memakai sandal rumah kemudian mendekati Dewi, ia duduk di pinggir ranjang tak jauh dari tempat Dewi duduk.
"Pijat saya, Dewina. " perintah Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya, ia mendekati Gusti dan Gusti membelakangi nya, ia mulai memijat punggung Gusti dengan perlahan, Gusti sangat menikmati pijatan tersebut.
"Enak sekali, tangan tangan seperti ini sangat enak ketika memijit. " puji Gusti.
"Terimakasih om, padahal ini pertama kali bagi saya memijat punggung orang lain. " ucap Dewi.
Gusti mengelus tangan Dewi yang memijat punggungnya, rasanya sangat lembut seperti tangan wanita biasanya. "Dewina, nama yang indah untuk mu, manis. " puji Gusti.
"Terimakasih om, memang nama itu di berikan oleh bapak saya, karena katanya saya lahir, saya sudah kelihatan seperti dewi. " sanjung Dewi.
Dewi asyik memijat punggung Gusti, kemudian Gusti mengeluarkan beberapa uang dari amplop, tampak sudah ia sediakan untuk membayar Dewi.
"Bonus untuk kamu sudah saya tambahkan sekalian dengan bayaran tadi malam. Terimakasih sudah bisa memuaskan saya semalam, saya sangat menyukai kamu dan segala erangan nafasmu untuk semalam. " bisik Gusti menggoda. Dewi menerima uang tersebut, kemudian ia menghitungnya, sebelumnya ia menatap ke arah Gusti. "Om tidak ingin lagi? " tawar Dewi.
"Sekarang sepertinya belum dulu, Dewina, saya ingin beristirahat untuk malam ini. Terimakasih sudah bisa memuaskan saya semalam. " ucap Gusti.
Dewi hanya tersenyum, ia menerima uang yang diberikan oleh Gusti, kemudian pamit undur diri.
"Saya pamit dulu, om, sudah hampir malam hari. " pamit Dewi.
"Kamu pulang sama saya saja, akan saya antarkan kamu sampai di kosan, malam hari tidak baik jika gadis sepertimu berjalan sendirian di luar, bisa saja begal menodongmu di tengah jalan. " ucap Gusti.
Dewi hanya menganggukan kepalanya, ia mengambil beberapa barangnya dan mengikuti Gusti, sudah sehari semalam ia berada di kamar apartemen milik Gusti, dan sekarang ia memilih untuk pulang.
...........
Sebelum kembali ke kosan, Gusti selalu memanjakan Dewi dengan berbagai barang barang baru yang pastinya terlihat sangat mahal, ia memberi itu semua karena sebagai penghargaan Dewi yang sudah memuaskan nya semalam, hanya dengan memuaskan nya maka Gusti akan memanjakan gadis tersebut.
Sesampainya di kosan, Dewi beserta barang barang lainnya diangkut kemudian Dewi bawa hingga ke atas tepatnya kamar kosannya.
Di depan kamar Dewi, di pintu kamarnya terdapat tempelan kertas, kertas tagihan tersebut ia lihat dan ternyata menagih uang bulanan kosan.
Dewi mencabik kertas tersebut, ia akan membayarnya secara langsung kepada pemilik kosannya itu.
"Wi, baru pulang? "
Dewi tertegun, kemudian ia melihat di samping nya, ternyata itu adalah Eni yang keluar dari kamar dan menghampirinya.
"Iya Eni, saya baru saja pulang, sepertinya saya kemalaman, bukan? " tanya Dewi.
"Ah, soal itu biasa aja. Wah, kayaknya barang baru nih, bonus ya Wi? " tanya Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, ia mengajak Eni untuk masuk ke kamarnya, rencananya ia akan membuka barang barang tersebut bersama dengan Eni dan sambil bercerita.
Begitu girangnya Eni, karena ia diajak untuk membuka barang secara bersama sama, Dewi melihat barang yang diberikan dan menyuruh Eni ikut mencoba memakainya.
"Keren Wi, kalau kayak gini tuh, berarti om Gusti puas sama pelayanan kamu selama ini, Wi. " ucap Eni.
"Saya sudah cukup menikmatinya, saya harap om Gusti tidak mengulangi nya hanya karena ia merasa bosan. " ucap Dewi.
"Wi, laki-laki itu beda dari perempuan, kamu bisa berhenti, sedangkan laki-laki tidak. Aku yakin, om Gusti itu pasti tidak merasa bosan ketika bersama kamu, contohnya saja dia selalu mengejarmu. " ucap Eni.
"Terserahlah, saya akan turuti saja perintah om Gusti. " balas Dewi.
Eni mengangkat bahunya, kemudian melanjutkan membuka barang barang, kedua gadis tersebut tampak girang ketika bermacam-macam barang yang dibuka terlalu bagus.
__ADS_1
...****************...