
Beberapa hari setelahnya, hari kelulusan telah tiba.
Para mahasiswa dan mahasiswi yang sudah berjuang sampai akhir kini menghadiri hari kelulusannya, terpancar wajah bahagia dari para mahasiswa dan mahasiswi itu.
Hari yang sangat dibanggakan oleh Gusti, karena putri sulungnya itu lulus dengan pujian, semakin bahagia pula dirinya, karena bisa menjadikan putrinya itu menjadi yang terbaik di antara yang lainnya.
"Kakak, kakak hebat bisa jadi lulusan dengan pujian, semoga aku juga bisa seperti kakak. " ucap Gina.
"Rajinlah belajar, Gina, kakak yakin kamu juga bisa jadi seperti kakak. " ucap Gita.
Gita disambut baik oleh teman temannya, tak lupa juga pacarnya yang ikut memberikan hadiah untuknya, ia dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
"Kakak, selamat ya, Galuh belum mengerti kelulusannya kakak, tapi kakak hebat. " ucap Galuh.
"Makasih sayang, tidak apa, nanti kamu juga mengerti kok. " ucap Gita.
Saat tengah melihat Galuh, Gita baru teringat dengan tes yang hampir seminggu sudah dijalaninya bersama dengan Dewi, dan juga akan keluar hasilnya ketika 2 hari setelahnya.
Gita tidak lepas begitu saja, ia menyewa orang kepercayaan yang bukan dari pihak keluarganya, untuk memantau perkembangan tes yang sudah diadakan, karena ia masih kurang percaya dengan Dewi, bisa saja ungkapan sebelumnya itu menjadi alibi dari Dewi untuk mengambil adiknya.
Gita juga ingin tes yang dilakukan itu murni sesuai hasil, ia tidak ingin ada sabotase maupun campur tangan dari beberapa pihak untuk mengambil Galuh darinya, karena cukup sulit baginya mengumpulkan berbagai macam hal yang dibutuhkan untuk tes itu dari orang yang menurutnya sangat berpengaruh dan pandai, yaitu Gusti.
"Congrats, my honey, papa sangat bangga dengan kamu. Kamu dapat membuktikan kepada kampus ini, bahwa donatur terbesarnya bisa membuktikan bahwa penerusnya lulus dengan pujian. " ucap Gusti.
Gita membalasnya dengan senyuman, tak lupa juga ia memeluk Gusti, Gusti mencium kening anaknya dengan bangga bahkan ingin menggendongnya.
"Papa, please stop, Gita takut jatuh...! " pekik Gita sambil tertawa.
"Papa terlalu bahagia, kak, makanya sampai angkat kakak seperti itu. " ucap Gina.
Gusti menurunkan Gita, beberapa pihak kampus mendekat ke arah Gusti, berupa jabat tangan dan obrolan, Gusti menjauh dari keluarganya untuk mengobrol dengan pihak kampus tersebut.
"Mama, Gita hebat kan? " tanya Gita.
"Of course, my sweetie, mama bangga dengan kamu. " jawab Bella.
Gita berpelukan dengan Bella, tak lupa juga mencium pipi Bella.
Galuh terlihat sangat senang ketika semua teman teman Gita masih menyapanya bahkan berebutan ingin menggendong bocah kecil itu, Galuh juga terlihat sangat bahagia dapat diperhatikan oleh orang lain, ia dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari orang lain.
"Kakak Galuh hebat, kan? " puji Galuh.
"Iya, kakaknya Galuh memang hebat, kami saja senang berteman dengan kakaknya Galuh. " jawab teman Gita.
Gita tersenyum melihat adiknya, namun seketika perasaannya berubah menjadi kalut, ia masih teringat akan hasil nantinya soal tes yang sudah dilakukannya bersama dengan Dewi.
'Galuh, kakak berharap bukan tante Dewi sebagai ibumu, karena kakak masih belum rela kamu akan kembali pada ibu kandungmu yang sebenarnya, kakak sayang sekali sama kamu. '
......................
"Kakak, Galuh akan ikut lomba sepakbola. "
Beberapa hari setelahnya, Galuh tidak terlepas dari Gita, karena Gita yang meminta adik bungsunya itu selalu dekat dengannya, bahkan baby sitter Arin hanya bisa melihat kedekatan kedua kakak adik itu saja.
"Hebat, kapan? " tanya Gita.
Galuh menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum dan menampakkan hasil gambarnya kepada Gita, Gita meraih kertas tersebut dan melihat gambar ala ala anak taman kanak kanak itu.
"Ini gambar siapa? " tanya Gita.
Galuh yang sedang menyusun crayon dan pensil warna kemudian mendekat, ia melihat gambarnya kembali, dan menunjuk satu persatu ke gambar yang sudah dibuatnya.
"Ini gambar papa, mama, kakak, kakak Gina dan Galuh, tapi yang megang pialanya papa. " jawab Galuh.
"Kenapa papa yang pegang pialanya? " tanya Gita.
Galuh tersenyum.
"Galuh mau seperti kakak, kalau Galuh menang, mungkin papa akan senang pegang piala punya Galuh, nanti Galuh bisa dicium dan digendong seperti kakak. " jawab Galuh.
Jawaban Galuh membuat hati Gita terenyuh, adiknya begitu mudah menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sederhana, bahkan membuatnya menjadi sedih.
Gita tahu, permintaan Galuh begitu sederhana, namun maknanya sangat mendalam, ia tahu bahwa selama 6 tahun bersama, Gusti tidak pernah sama sekali menampakkan dirinya peduli dengan adiknya, apalagi Bella, hanya sebatas memanggil nama, selebihnya kedua orangtuanya akan membentak bahkan melontarkan kata kata kasar pada adiknya.
Gita merasa kasihan dengan Galuh, adiknya itu hanyalah bocah kecil yang polos, namun membutuhkan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
Gita terkadang berpikir, apa yang sudah didapatkannya, mulai dari kasih sayang bahkan perhatian, itu tidak pernah didapatkan oleh adiknya, Gita menjadi sedih atas nasib adiknya.
"Kemari, kakak mau peluk Galuh. " ucap Gita.
Galuh mendekat, kemudian Gita memeluk Galuh dengan erat, pelukan tulus yang ia berikan kepada adiknya itu, dan air matanya mengalir.
"Kakak, kakak kenapa menangis? " tanya Galuh.
Gita menggelengkan kepalanya.
"Tidak kok, kakak hanya bangga dengan Galuh. Galuh anak yang baik, bahkan Galuh mau seperti kakak. Kakak jadi bangga sama kamu. " jawab Gita.
Galuh mengusap air mata Gita, Gita tersenyum dan mengelus rambut adiknya, kemudian mencium kening Galuh, tak lama setelahnya, ia mulai mengganggu Galuh dengan menggelitik badan adiknya.
__ADS_1
"Kakak, geli! " ucap Galuh sambil tertawa.
"Dasar kamu, kamu menggemaskan sekali, dek!" ucap Gita ikut tertawa.
Tawa riang terdengar di ruang bermain, kedua saudara itu saling bermain bersama, kemudian Gita membantu Galuh untuk kembali mewarnai gambar yang sudah dibuatnya.
"Kakak, Galuh bosan. "
"Yasudah, kita jalan jalan saja, mau? " tawar Gita.
Sorot mata Galuh berbinar binar, dengan penuh harap ia menatap ke arah kakaknya dengan beberapa pertanyaan.
"Benarkah? Kita jalan jalan, kakak? " tanya Galuh.
"Yes, kakak bakal ajak Galuh jalan jalan. Katanya tadi bosan, kan? " tanya Gita.
"Iya, Galuh mau! " jawab Galuh.
Galuh bangkit dari tempat duduknya, sementara Gita membereskan mainan adiknya, namun dihentikan oleh Arin, karena biarkan ia yang menyusun mainan milik Galuh, dan Gita langsung menyusul Galuh saja.
"Wah, air mancurnya keluar! "
Kali ini Gita membawa Galuh jalan jalan, Galuh begitu sangat memperhatikan pemandangan di luar mobil, Gita tersenyum melihat adiknya yang sangat senang itu.
"Galuh lihat gedung tempat papa kerja! "
Galuh menunjuk ke arah gedung pencakar langit yang berada di seberang, Gita menganggukkan kepalanya, ia juga meminta supir mobilnya memelankan laju kendaraan, agar saat berhenti mendadak tidak akan membuat Galuh terjatuh.
"Yey! Galuh senang! " ucap Galuh.
Di saat sedang menikmati pemandangan kota, ponsel Gita berdering, Gita meminta Galuh untuk tidak mengeluarkan tangan dan kepala di jendela mobil, sementara ia merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
Panggilan dari Dewi, jantung Gita berdetak kembali dengan kencang, alhasil supir pribadi Gita menyadari bahwa ekspresi nonanya yang berubah.
"Ada apa, nona Gita? " tanya supir.
"Tidak ada, lanjutkan saja. " jawab Gita.
Gita mengangkat panggilan tersebut, tangannya seketika gemetaran ketika mengangkat panggilan dari Dewi.
"Halo, ada apa, tante Dewi? " tanya Gita.
'Kemarilah, Gita, hasil yang sudah ditunggu sebelumnya kini sudah keluar. '
Jawaban dari Dewi membuat Gita akhirnya bertambah takut, sekarang ia harus menghampiri Dewi yang sudah menunggunya di rumah sakit yang berada di seberang kota, ia yang terus terusan dituntut untuk langsung pergi ke sana kemudian meminta supirnya untuk segera pergi menuju ke rumah sakit yang akan dituju.
"Tunggu saya untuk 20 menit kedepan. " ucap Gita.
Memakan waktu 15 menit, akhirnya tujuan Gita sebelumnya sudah sampai, Gita turun bersama dengan Galuh, namun Galuh terlihat kembali ketakutan ketika melihat rumah sakit, bahkan bocah laki laki itu mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.
"Galuh, ada apa? " tanya Gita.
"Kakak ingin mengerjai Galuh ya? Kakak bilang sebelumnya ingin mengajak Galuh jalan jalan, kenapa ke rumah sakit lagi? Galuh nakal ya? "
Gita ditodong oleh beberapa pertanyaan dari adiknya, namun Gita meyakinkan adiknya itu untuk tidak langsung menuduhnya, dan juga Gita beralasan bahwa ia ingin berjumpa saja dengan temannya, alhasil Galuh akhirnya percaya dan mengikuti Gita.
Setiap langkah Gita menuju ke lorong rumah sakit itu setara dengan detak jantungnya yang tidak beraturan, Gita sendiri menjadi takut melihat hasil tes DNA milik adiknya.
"Gita, akhirnya kamu datang. "
Dewi menyambut Gita dengan baik, sementara senyuman kaku Gita lemparkan pada Dewi, kedua wanita itu berdiri di depan pintu ruang labor untuk melihat hasil tes yang sudah ditunggu.
Tak lama setelahnya, ahli forensik yang berada di labor membawa sebuah amplop, Dewi dan Gita berdiri di depan dokter forensik itu, mereka mendengarkan penjelasan dari dokter forensik, dan sepakat untuk membuka hasil tersebut bersama sama.
Perlahan dan satu persatu hasil yang ditunjukkan itu dibaca oleh Dewi dan Gita, hasil yang membuat keduanya tidak percaya.
"99,9999% hasil ini menunjukkan positif. "
Tentu saja dari hasil yang ditunjukkan itu, respon dari keduanya juga ikut berubah, Dewi yang seketika bahagia dengan hasil tersebut kemudian mendekat ke arah Galuh, sementara Gita membiarkan Dewi memeluk adiknya.
Dewi benar benar bersyukur, ia memeluk Galuh, karena tes yang sebelumnya ia ajukan ke labor menunjukkan bahwa positif.
"Bu dokter, kenapa memeluk Galuh? "
Galuh yang kebingungan itu bertanya kepada Dewi, Dewi tanpa menjawab kemudian mencium kening Galuh, Dewi tahu bahwa Galuh sekarang kebingungan dengan ucapannya barusan.
"Galuh, kamu sebenarnya adalah anak bu dokter. " jawab Dewi.
Galuh menjadi bertambah bingung, sementara Dewi kembali memeluk Galuh dan mencium kening Galuh hingga beberapa kali.
Gita masih syok dengan hasil yang ditunjukkan, ternyata keraguan dan kecurigaannya terbayar sudah dengan pernyataan yang membuatnya terkejut, ia tidak pernah menyangka bahwa hasil itu berkaitan dengan Gusti, bahwa selama ini Galuh bukanlah anak adopsi, melainkan adik tirinya.
"Gita, apa kamu baik baik saja? " tanya Dewi meyakinkan.
Gita yang diam kemudian pingsan, dirinya ingin terjatuh ke bawah, Dewi yang menahan Gita dari belakang, karena gadis itu pingsan setelah syok dengan hasil pemeriksaan DNA yang sudah diajukan.
"Dokter, tolong! "
Teriakan Dewi membuat dokter yang berada di dekat ruang labor keluar, mereka membantu Gita untuk ke ruangan yang bisa ditempati, Galuh ikut para dokter yang membawa kakaknya pergi.
__ADS_1
"Gita, ayo bangun... "
Dewi mengusap usap telapak tangan Gita, ia berusaha terus terusan mengusap telapak tangan Gita dan sesekali memanggil nama Gita, agar gadis itu terbangun dari pingsannya.
"Kakak, kakak ayo bangun, jangan tinggalkan Galuh sendirian disini... "
Tak lama setelahnya, mata Gita perlahan terbuka, Dewi dan Galuh akhirnya melihat Gita terbangun dari pingsannya, namun mereka belum melontarkan pertanyaan terlebih dahulu kepada Gita.
Tanpa disadari, air mata Gita akhirnya keluar, sementara Dewi terus mengusap usap telapak tangan Gita.
"Gita... "
Gita akhirnya menangis terisak isak, tangisnya semakin menjadi, dirinya masih teringat dengan hasil yang ditunjukkan oleh surat yang diberikan oleh ahli forensik kepadanya dan Dewi, ia masih belum percaya dengan hasil tersebut.
"Gita... " panggil Dewi sekali lagi.
"Saya masih belum percaya, saya masih tidak percaya, bahwa papa saya berani main serong, hingga membuat masa depan wanita lain rusak... Saya bodoh... "
Isak tangis Gita semakin menjadi jadi, ia mer*mas kerah bajunya sendiri dikala isakan tangisnya menyakitkan alur nafas dan kerongkongannya, hatinya terasa sakit ketika menerima kenyataan bahwa papanya, Gusti, berselingkuh hingga menghasilkan seorang anak yang kini menjadi adiknya.
"Papa, kenapa papa sebrengsek ini... "
Dewi menenangkan Gita, sementara Gita langsung meraih pelukan Dewi, gadis itu menangis di pelukan Dewi.
....................
"Saya akan kembali ke sana lagi. "
Bella tengah menelpon seseorang, ia dengan beberapa berkasnya kemudian berjumpa dengan Gusti, tampak keduanya saling tidak peduli dan memilih untuk kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan masing masing.
Derap langkah kaki terdengar dari ruangan utama, Gita dengan mengenggam tangan Galuh kemudian berjalan menghampiri kedua orangtua mereka, Gusti dan Bella menatap ke arah Gita yang baru saja pulang.
"Darimana saja kamu, Gita? " tanya Bella.
"Iya, darimana saja kamu, sayang? " tanya Gusti.
Panggilan tersebut membuat Gita ingin muntah, kata manis yang keluar dari mulut Gusti tak sepadan dengan kelakuan yang sebenarnya, Gita menghampiri kedua orangtuanya, dan ekspresi keduanya berubah ketika Galuh berada di dekat mereka.
"Kamu bawa kemana dia? " tanya Gusti.
"Hanya mengajaknya berjalan jalan saja. Tumben papa sering bertanya soal Galuh sekarang? " tanya Gita.
"Papa hanya bertanya, mungkin Arin akan mencari anak ini nantinya. " jawab Gusti.
Gita tersenyum miring dengan jawaban yang dilontarkan oleh ayahnya itu.
"Anak ini atau anak papa? " tanya Gita.
Gusti mengerutkan keningnya.
"Apa maksud kamu? " tanya Gusti.
Gita memiringkan senyumannya.
"Papa masih berpura pura seolah tidak terjadi apa apa? " tanya Gita.
Gita mengeluarkan kertas yang ada di dalam tasnya, ia melemparkan surat tersebut di atas meja, Gusti yang melihat kertas yang terpisah dari tempatnya.
Gusti membaca surat tersebut, matanya seketika terbelalak, kertas tersebut adalah tes yang berisikan kecocokan dirinya dan Galuh.
"Ternyata bualan 6 tahun itu adalah kebenaran yang disembunyikan ya, pah? " tanya Gita.
Nada suara Gita seketika gemetar, ia menahan air matanya, selain kecewa, ia tidak menyangka bahwa Gusti yang dikenalnya sebagai ayah yang baik dan ideal itu ternyata berselingkuh setelah 6 tahun berjalan, hingga akhirnya Galuh lahir dan dijaga oleh keluarganya.
"Gita, kapan kamu mengambil semua ini? Sejak kapan kamu mengambil tes ini? " tanya Gusti.
"Tepatnya saat papa yang menentang Gita untuk tidak akan tahu latar belakang Galuh, disana saat Gita mulai curiga, dan sekarang Gita dapat jawabannya sendiri. " jawab Gita.
"Gita-- "
"Papa brengsek! " teriak Gita.
Satu tamparan mendarat di pipi Gusti, Gita benar benar sudah marah dengan apa yang selama ini disembunyikan dari keluarganya.
"Gita mengira bahwa papa akan berbeda dari mama, tapi ternyata tidak, kalian memang pasangan yang serasi, pasangan egois dan munafik! "
Gusti memegang pipinya yang ditampar oleh anak sulungnya, ia juga tidak menyangka ketika anaknya itu melakukan tes secara diam diam, ternyata selama ini Gita sudah mencurigainya.
Tentu saja hal tersebut tidak membuat Bella berdiam diri, ia langsung membalas tamparan tersebut kepada anaknya itu.
"Untuk apa kamu berperilaku seperti ini?! Setelah kamu tahu, kamu berani melawan kami! Sebelumnya sudah aku katakan pada kamu Gita, tidak usah kamu mengetahui rahasia kami! Jangan kira aku tidak akan diam ketika kamu kurang ajar, Anggita! " bentak Bella.
Gita memegang pipinya yang memerah, air matanya kembali menetes, namun dengan senyuman ia balaskan kepada kedua orangtuanya.
"Setidaknya hal ini membuat kalian sadar, bahwa Gita bisa selangkah lebih maju daripada kalian. Terimakasih atas peristiwa ini, setidaknya ini sebagai hadiah yang paling berkesan setelah kelulusan Gita. " ucap Gita lirih.
Gita meninggalkan kedua orangtuanya bersama dengan Galuh, ia membawa adiknya menuju ke atas.
Suasana rumah telah berubah, dan sekarang akan bertambah runyam karena Gita yang membongkar rahasia Gusti dan Bella yang selama ini disembunyikan.
__ADS_1
****************