
...Happy reading š§”...
......................
"Ya, nanti akan saya lampirkan laporan bulan ini. "
Dewi masih bekerja, bahkan ia bisa menyembunyikan pekerjaan yang ia kerjakan sebelumnya, ia yakin ia bisa menyembunyikan pekerjaannya dari Gusti.
'Masalah hadiah yang akan saya berikan nanti akan dikirim sekitar siang atau sore hari, kamu bisa kirim alamat kamu untuk saya antarkan hadiah sebelumnya. '
"Baik, saya akan memberikan alamat tempat tinggal saya, terimakasih. " ucap Dewi.
Dewi memeriksa ponselnya, memberikan alamatnya, kemudian ia mengirimkannya kepada Daniel.
"Pekerjaan ini sungguh melelahkan. "
Dewi menatap jam dinding, menunjukkan pukul 8 pagi, jadwal Dewi untuk pergi ke kampus akan segera tiba, Dewi beranjak dari tempat duduknya, merenggangkan badannya, kemudian ia mulaiĀ bersiap siap untuk membereskan dirinya untuk pergi ke kampus.
"Jelly, jaga kamar dengan baik ya. "
Dewi mengelus kepala Jelly, kemudian dia menenteng tas nya untuk segera pergi ke kampus, saat membuka pintu, ia dikejutkan dengan tetangga sebelah kamarnya yang berdiri di depan pintu kamar apartemennya, dan membawa sebuah keranjang berisi buah.
"Bu Tania? Apa kabar, bu? " tanya Dewi.
"Baik nak Dewi, ini, saya ada buah untuk kamu. " jawab bu Tania.
Dewi menerimanya dengan baik, ia mengambil keranjang tersebut dan melihat buah buahan yang telah disediakan di dalam keranjang tersebut, buah buahan tersebut sangat memikat pengelihatannya, ia sangat menyukai buah buahan yang begitu bervariasi di matanya.
"Bu, saya sangat berterimakasih atas buah buahannya, sepertinya sangat nikmat untuk dimakan saat siang hari. " ucap Dewi.
"Ya, sama sama nak. " ucap bu Tania.
Bu Tania kemudian menatap ke arah perut Dewi.
"Kamu lumayan gendutan sekarang ya? Saya baru lihat sekarang, ah, efek tinggal di luar negeri dua bulan yang lalu, makanya sekarang baru lihat. " ucap bu Tania.
Dewi terkejut, ia sedikit menutup perutnya dengan memundurkan tubuhnya.
"Ah benarkah? Saya baru sadar, mungkin karena makanan di kota yang sangat enak, makanya sampai berisi seperti ini. " ucap Dewi dengan gelagapan.
"Bagus berarti, tidak apa nak, berisi tidak masalah untuk tubuh, itu membuat kita terlihat semakin bugar bukan? Hahahaha! "
Dewi tersenyum dan tertawa kecil, tawa tersebut merupakan tawa yang terpaksa, karena ia tidak mengerti apa yang membuat tetangganya itu tertawa, untuk menghargainya maka ia ikut tertawa.
"Yasudah, sepertinya kamu ingin berangkat ke kampus ya? " tanya bu Tania.
"Iya, saya ingin ke kampus, sebelumnya terimakasih ya bu, karena sudah memberikan saya buah, saya yakin harganya mahal. " jawab Dewi.
"Sama sama nak, tidak apa, hitung hitung buah tangan. "
"Baik bu, saya permisi ke kampus, terimakasih buah tangannya. " ucap Dewi.
Dewi dan bu Tania akhirnya berpisah, Dewi masuk ke dalam kamarnya dan menaruh keranjang buah yang diberikan oleh bu Tania untuknya, dan sekarang ia bersiap siap untuk pergi ke kampus.
.
"Kamu dapat menunggu saya menemukan berkasmu, dan mungkin juga saya akan melakukan pertemuan dengan klienmu saat malam hari. "
Gusti menaruh ponselnya di atas meja, sedangkan asistennya, Ruben, menyusun berkas yang hampir berantakan di atas meja tuannya.
"Dimana berkas milik Bella? Baru saja dia menghubungi saya untuk melihat berkasnya. " tanya Gusti dengan Ruben.
"Sebentar tuan, saya akan carikan untuk tuan. " jawab Ruben.
Ruben keluar dari ruangannya, sementara Gusti melihat bermacam macam berkas yang ada di atas mejanya, tak lama pintu ruang kerjanya diketuk dari luar, Gusti menoleh ke arah pintu dan melihat anak gadis sulungnya, Gita.
"Permisi, apa papa sibuk? " tanya Gita.
Gusti menorehkan tangannya ke arah kursi. "Silahkan masuk. "
Gita masuk ke dalam ruang kerja Gusti, ia menghampiri papanya dan duduk di kursi depan meja kerja Gusti.
"Ada apa, sayang? " tanya Gusti.
"Pah, bisakah untuk siang ini papa bisa menghadiri acara seminar di sekolah Gita? Gita ingin meminta mama menemani Gita, tapi Gita baru ingat bahwa mama tadi pagi baru saja berangkat ke Thailand. " jawab Gita.
Gusti menaruh kedua tangannya di atas meja, dan menatap anaknya dengan serius.
"Kapan papa akan menemanimu? " tanya Gusti.
Gita tersenyum. "Mungkin saat siang hari nanti, papa bisa datang langsung ke gedung aula sekolah Gita, Gita akan menghampiri papa jika papa sudah sampai. " jawab Gita.
"That is it? Nothing else? " tanya Gusti.
Gita ikut melipat kedua tangannya di atas meja kerja ayahnya, dan menatap langsung ke arah Gusti.
"Gita want lunch with you, papa. " jawab Gita.
Gusti tersenyum, ia mencolek hidung anaknya dan ikut tertawa bersama anaknya.
"Kamu selalu membuat papa tertawa, sayang, hampir seperti mamamu dulu. " ucap Gusti.
"Ya, karena darah kalian mengalir pada darah Gita. " ucap Gita.
Gusti menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Adikmu, apa dia ingin ikut makan siang dengan kita? " tanya Gusti.
"Gina akan ikut les biola dan ballet setelah dia pulang sekolah, mungkin dia tidak ingin ikut kita makan siang, papa. " jawab Gita.
Gusti menganggukan kepalanya. "Baik, sekarang bersiaplah, papa akan datang ke sekolahmu saat siang hari, apa kamu tidak terlambat untuk pergi ke sekolah? " tanya Gusti.
"Sebentar lagi Gita akan berangkat ke sekolah, papa bisa menyusul Gita, Gita waiting you, papa. " ucap Gita.
Gusti menganggukan kepalanya. "Baik sayang. "
Gita berjalan dengan riang ke luar ruang kerja ayahnya, sedangkan Gusti mengingat sesuatu, ia akan memberitahukan terlebih dahulu kepada Dewi, karena sebelumnya ia akan menjemput gadis tersebut, tetapi hari ini ia tidak bisa disebabkan urusan anaknya.
.
"Selamat berlibur, sampai jumpa di semester baru selanjutnya. "
Dewi membereskan barang barangnya, kemudian ia mulai berjalan ke luar kelas, sebelumnya Dewi merasa bahwa ia baru saja mendapatkan pesan dari ponselnya, hal itu membuatnya merogoh tasnya dan mengambil ponselnya di dalam tasnya.
__ADS_1
Dewi menghidupkan ponselnya, kemudian ia melihat pesan yang berasal dari Gusti, ia melihat pesan tersebut dan membacanya.
'Dewina, maaf jika ini terlalu mendadak, saya ingin memberitahukan dengan kamu, mungkin saya tidak bisa menjemputmu, karena kebetulan anak saya meminta saya untuk menemaninya siang ini. Saya minta kamu untuk pulang sendiri. '
Dewi membacanya, ia menganggukan kepalanya, kali ini ia tidak akan dijemput oleh Gusti, karena laki laki itu sedang bersama anaknya, hal tersebut tidak membuat Dewi pusing, ia juga akan pergi ke perusahaan Daniel untuk mengirimkan laporan dan absen kehadiran.
"Oh ya, laporanku, jangan sampai lupa. "
Dewi berjalan sambil merogoh tasnya, ia mencari berkas yang akan ia berikan kepada Daniel, dan juga ia akan sekalian pergi ke perusahaan Daniel untuk memberikan laporan tersebut.
Secara tidak sengaja, Dewi dan Daniel saling bertemu, terlihat bahwa laki laki itu tengah membawa kardus berisi bermacam macam kertas yang digulung, tampak sepertinya akan ada urusan lainnya yang akan dilakukan laki laki tersebut.
"Daniel. "
Daniel menaruh kardus yang ia bawa, kemudian menghampiri Dewi yang memanggilnya.
"Ya, ada apa? Apa masalah hadiah yang akan saya berikan untuk kamu? " tanya Daniel.
Dewi menggelengkan kepalanya, kemudian ia memberikan sebuah kertas laporan dengan Daniel, Daniel mengambilnya dan memeriksa laporan tersebut.
"Banyak yang minta ide baru untuk produknya ya? " tanya Daniel.
"Ya, tadi malam sudah hampir beberapa akun yang menghubungi halaman perusahaan, dan meminta ide baru untuk produk yang tengah disajikan. Sebenarnya banyak yang suka dengan produk lama, tetapi meminta varian baru untuk produknya, makanya sekarang saya memberikan laporan ini denganmu. " jawab Dewi.
Daniel menganggukan kepalanya, kemudian menyatukan laporan tersebut dengan kardus yang berisi bermacam macam kertas yang ia bawa.
"Baik, perusahaan akan menimbang keinginan konsumen, terimakasih sudah memberikan laporan bagus lagi dengan perusahaan ini. " ucap Daniel.
Dewi tersenyum dan menundukkan kepalanya seperti memberi hormat.
"Sama sama, Daniel. " ucap Dewi.
Daniel menganggukan kepalanya, tak lama sorot matanya mengarah ke arah baju yang dikenakan oleh Dewi, baginya merasa aneh, karena sudah beberapa kali terlihat Dewi lebih sering menggunakan baju yang melebihi ukuran badan gadis tersebut, padahal sebelumnya tidak sama sekali gadis tersebut menggunakan baju yang melebihi ukurannya.
"Kenapa sekarang suka memakai baju yang lebih besar daripada ukuran badanmu? " tanya Daniel.
Dewi mencari alasan, ia gugup untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Ya, saya tahu bahwa baju yang melebihi ukuran badan kita sedang dibicarakan hangat oleh mahasiswi kampus, tidak heran jika saya ingin ikut mencobanya. " jawab Dewi.
Daniel menerima jawaban itu, dan ia menganggukan kepalanya seraya memegang dagunya.
"Hmmm, trend oversize? Ya, aku tau. " ucap Daniel.
Dewi bernafas lega.
"Sayangnya, di kampus ini kalau baju udah melebihi ukuran badan, dan lebih tepatnya selalu digunakan untuk setiap hari, yakinlah, ada masalah yang disembunyikan oleh mahasiswi nya. "
Dewi tercekik dengan ucapan tersebut, Daniel tidak salah menebak, bahwa ada masalah dengan diri seseorang saat memakai baju yang oversize.
"Ya, sebenarnya ada alasannya tersendiri saja mengapa saya menggunakan baju yang melebihi ukuran. " ucap Dewi.
"Apa saja? "
"Ya, karena badan saya mulai gendut sekarang. " jawab Dewi.
Daniel tercengang dengan alasan tersebut, ia menutup wajahnya dan tertawa kecil, Dewi mengerutkan keningnya ketika melihat laki laki itu tertawa kecil sambil menutup wajahnya.
Daniel membuka wajahnya, dengan senyumnya yang terlihat mengejek, ia membuat kesal Dewi.
"Lucu saja, gendut bukan halangan untuk kamu menutupi jati dirimu, tapi ya sudahlah, itu juga pilihanmu. " jawab Daniel.
Dewi berdecak kesal, sedangkan Daniel mengangkut kardus yang ia bawa, ia menatap Dewi dengan tatapan santai.
"Jika barangnya sudah sampai, beritahu aku. "
Dewi menganggukkan kepalanya, kemudian keduanya terpisah, Dewi dan Daniel berjalan menuju ke tempat mereka masing masing.
"Kali ini aku pulang sendirian, karena om Gusti sedang bersama anaknya. " gumam Dewi.
Dewi berjalan menuju ke luar kampus, ia segera ingin menemukan taksi dan pulang, karena ia sudah merasa lelah dengan punggungnya yang terasa pegal.
'Sudah hampir masuk 5 bulan, cepat sekali pegal pinggang ini. ' keluh Dewi dalam hati.
Tak lama kemudian, taksi akhirnya berhenti tepat di depan trotoar tempat Dewi menunggu, ia menaiki taksi tersebut dan menuju ke arah apartemen tempat tinggalnya berada.
.
"Rasa makanannya sangat nikmat, papa sangat tahu tempat makan yang nikmat. " puji Gita.
Gusti tersenyum ketika anaknya memujinya, karena jarang sekali ia makan siang bersama anaknya, kebetulan itu adalah waktu bersama anaknya untuk menikmati waktu makan siang bersama.
"Ya, papa tahu lidahmu sangat menyukai makanan sejenis ini, bukan? "
"Ya, benar sekali, pah. " jawab Gita.
Gita kembali menikmati makanannya, kemudian ia mengingat sesuatu untuk ia tanyakan dengan ayahnya.
"Pah, boleh Gita bertanya dengan papa? " tanya Gita.
Gusti menoleh ke arah Gita. "Ya, apa yang ingin kamu tanyakan dengan papa? "
"Pah, mengapa papa jarang banget pulang ke rumah? "
Gusti menghentikan makannya, ia yang ingin mengambil suapan makannya kemudian meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang diatas piring makannya, kemudian menatap ke arah Gita.
"Siapa yang menyuruh kamu bertanya seperti ini, sayang? " tanya Gusti.
Gita menaikkan bibirnya dan menggeleng kepalanya.
"Tidak ada yang menyuruhnya, Gita bertanya secara langsung sama papa. " jawab Gita dengan santai.
Gusti menatap cuek ke anaknya.
"Seharusnya kamu tidak perlu bertanya seperti ini dengan papa, Gita, kamu tahu sendiri bahwa papa punya urusan lain di luar. " ucap Gusti.
Gita menatap kecewa kearah Gusti, tatapannya begitu mendalam sehingga membuat Gusti mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berdeham.
"Pah, Gita nanya kayak gini karena Gita kangen sama papa yang selalu berada di rumah, papa nggak rindu sama kami bertiga di rumah? Papa jarang sekali meluangkan waktu untuk kami, nggak seperti dulu. " ucap Gita.
Gusti memilih diam, sementara tatapan Gita masih mengarah ke arahnya.
"Seenggaknya dulu walaupun papa sibuk, tapi kami sama sekali nggak pernah kekurangan sedikitpun. " ucap Gita.
__ADS_1
"Selama ini kamu merasa kekurangan dengan apa yang papa usahakan untuk kamu, Gita? " tanya Gusti dengan serius.
"Ya, sepertinya begitu. " jawab Gita.
Gusti menghela nafasnya dengan kasar, kemudian ia menatap ke arah anaknya.
"Pah, kembalilah seperti dulu, kami merindukan papa yang selalu bersama kami, kami tidak peduli papa yang sibuk atau apapun itu, kami hanya merindukan papa saja. Apa papa bisa mengabulkan itu? " tanya Gita.
Gusti diam, ia menganggukkan kepalanya.
"Hanya itu saja? " tanya Gusti meyakinkan.
Gita menganggukan kepalanya sekilas. "Ya, hanya itu. "
Gusti diam dan menganggukkan kepalanya, ia kemudian melanjutkan makannya, diikuti oleh Gita yang melanjutkan makannya bersama dengan ayahnya, tidak ada pembicaraan lagi selain menyendokkan makanan ke mulut masing masing.
'Andai saja simpanan papa tidak hamil, mungkin banyak waktu luang yang akan papa berikan padamu, sayang. Sekarang waktu papa terbagi untukmu, apalagi ini menyangkut pada calon adikmu dari wanita simpanan papa. ' ucap Gusti dalam hati.
"Pah, Gita ingin shortcake, Gita pesan 1 saja. " ucap Gita.
Gusti menganggukan kepalanya, ia mempersilahkan anaknya memesan makanan yang diinginkan.
"Pesan saja, sayang. " ucap Gusti.
Di lain tempat, Dewi tengah membersihkan kamar mandinya, ia merasa lantai kamar mandinya licin, bisa bisa membahayakan dirinya jika sampai ia tergelincir di kamar mandi.
Jelly seperti biasa, ia akan diam sambil menatap ke arah Dewi, mau bagaimanapun itu caranya, ia akan memilih diam dan menyaksikan majikannya melakukan sesuatu.
Selesai membersihkan kamar mandinya, Dewi berusaha berdiri, ia merasakan pinggangnya seketika remuk, ia meringis dan mengeluh lelah dengan pekerjaan yang ia lakukan.
"Baru begini saja sudah sakit pinggang, bagaimana jika sudah besar? " keluh Dewi bertanya pada dirinya sendiri.
Suara dering ponsel terdengar dari luar kamar mandi, Jelly menggonggong mencari sumber suara tersebut, sedangkan Dewi keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya.
Dewi melihat nomor yang tidak dikenal, kemudian ia mengangkatnya dan mendekatkannya kearah telinganya.
'Halo, maaf mengganggu sebelumnya, ini saya dari kurir ekspedisi ingin mengantarkan paket berupa hadiah dari perusahaan Daniel, bisa tahu dimana kamarnya? '
"Halo, oh iya, saya akan susul ke depan kamar apartemen saya, tunggu sebentar. "
Dewi segera keluar dari kamar apartemennya, ia menyusul pada kurir yang mengantarkan barang berupa hadiah dari perusahaan tempat ia bekerja, tak lama akhirnya ia menemukan kurir yang mengantarkan hadiahnya.
"Dengan nama penerima Dewina Ayunda Ningsih? " tanya kurir tersebut.
"Ya, saya Dewina. " jawab Dewi.
"Tanda tangan penerimanya ya kak. "
Dewi menandatangani surat penerimaan kiriman barang berupa hadiah, ia membawanya ke dalam kamarnya, barang yang diberikan itu tidak terlalu berat, sehingga Dewi bisa mengangkatnya hingga ke dalam kamarnya.
Jelly mengekor jalan Dewi, ia mengikuti arah jalan Dewi, dan mengikuti Dewi yang tengah membuka kardus yang berisi hadiah yang diberikan oleh Daniel.
"Kebanyakan makanan dari perusahaan, tapi tidak apa, makanan dari perusahaan tempat aku bekerja sangat enak. " ucap Dewi.
Dewi mengeluarkan makanan, dan juga sebagian barang yang kebanyakan untuk memasak, ia sangat senang ketika membuka barang barang sejenis itu, hitung hitung menjadi kenangan, karena ia punya firasat bahwa Gusti akan mengetahui bahwa ia diam diam bekerja.
Tak lama setelahnya, ponsel milik Dewi berdering, Dewi mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya, ternyata itu adalah kedua orangtuanya yang menelponnya.
"Halo bu, pak, ada apa? " tanya Dewi.
'Syukurlah kamu mengangkat telepon kami, maaf ya nak kalau kami mengganggu, cuma ingin memberitahukan bahwa kami ingin ke kota. '
Dewi terkejut ketika kedua orangtuanya mengatakan bahwa mereka akan ke kota, secara otomatis mereka akan menjumpai Dewi.
"Ibu dan bapak ingin ke kota untuk bertemu dengan Dewi? Ada apa? "
'Loh, kok ditanya kenapa? Ya jelas kami ingin bertemu dengan kamu, nak, sudah hampir 2 bulan kami tidak sempat ke kota bertemu dengan kamu, kami akan beritahu kalau sudah sampai. ' ucap Warsita dari telepon.
Sekujur tubuh Dewi gemetaran, mustahil jika kedua orangtuanya akan melihatnya dengan keadaannya seperti itu, apalagi jika ditanya apa yang terjadi dengan dirinya, tidak akan mungkin jika ia menjawab kalau dia sedang mengandung.
"Bu, pak, boleh Dewi beritahu dengan kalian? " tanya Dewi.
'Ada apa, nak? ' tanya Warsita.
Dewi mencoba mencari alasan, dan akhirnya ia mengingat pekerjaan yang ia ingat sebelumnya, mungkin agak mengarang bagus untuk ia lakukan.
"Bu, pak, Dewi sedang di luar kota karena pekerjaan, kalian tidak usah datang ke kota, nanti kalian mau kemana jika Dewi tidak ada di kota? " tanya Dewi.
'Kamu tidak ada di kota? '
"Iya bu, maaf kalau Dewi baru memberitahu kalian, lagian juga Dewi mendadak pergi, jadi begitulah. " jawab Dewi sambil tertawa kecil.
'Baik nak, jaga diri di luar kota, kami akan datang lainkali. ' ucap Warsita.
"Iya bu, Dewi tunggu kedatangan kalian. " ucap Dewi.
Panggilan berakhir, kemudian Dewi menaruh ponsel miliknya di sampingnya, Dewi baru berteriak cemas dan menghela nafas berkali kali karena cemas yang ia rasakan, hampir saja.
Dewi menatap ke arah Jelly, kemudian ia memegang wajah anjingnya dengan nafasnya yang tidak beraturan, ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang, sehingga ia merasakan cemas.
"Jelly, hampir saja, kalau ketahuan bisa bahaya semua kita, syukurlah... "
Dewi mencoba menenangkan dirinya, kemudian ia berdiri dan menaruh beberapa barang yang baru saja ia bongkar, menyusunnya ke tempat yang sudah ditentukan.
Selesai membereskan bermacam macam barang yang ia susun, Dewi berencana untuk membeli bahan makanan, karena ia mulai kehabisan bahan makanan di dalam kulkas.
"Rasanya malas sekali untuk keluar, sekalinya keluar cuaca panas sekali. " keluh Dewi.
Dewi berjalan ke arah balkon apartemen, ia melihat ke arah jalan, ia melihat sebuah mobil pick up yang terparkir di dekat trotoar, terlihat sekali mobil tersebut menjual buah buah serta sayur sayuran, membuat Dewi tertarik untuk segera turun membeli sayur mayur di mobil pick up tersebut.
"Jelly, ayo cepat, nanti mobilnya pergi. "
Dewi telah sampai di depan lobby apartemen, kemudian ia berjalan menuju ke luar, cuaca panas tak menghalanginya untuk membeli sayuran-sayuran yang ada di mobil pick up tersebut.
"Sayurnya, saya ingin seikat. "
"Baik, sebentar saya ambilkan. "
Dewi melihat bermacam macam buah yang ada, tak lama penjual tersebut memberikan sayuran yang telah dipilih oleh Dewi, tak disangka bahwa ia akan bertemu dengan Firdaus.
"Neng Dewi? "
*
__ADS_1