Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 38: Pesan dan Kecurigaan


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Butuh waktu sejam lebih Dewi beristirahat, ia terbangun dari tidurnya, di sebelah tangannya terasa berat, seperti ada yang menimbun tangannya.


"Jelly? Ternyata kamu yang tidur disampingku. "


Dewi mengelus kepala peliharaannya, ia melihat di sekelilingnya, bahwa ia sudah di kmaar yang ia kenal, yaitu kamar temannya sendiri.


"Udah bangun, Wi? "


Dewi melihat ke arah samping, Eni dengan makanan yang dibawa berjalan menuju ke Dewi, Jelly turun dari kasur dan menghampiri Eni yang tengah membawa makanan.


"Sabar ya, Jelly, kita kasih makanan untuk Dewi dulu, nanti aku kasih makanan kamu. " ucap Eni.


"Memangnya saya seperti Jelly, Eni? Saya dibilangin kasih makan saja. " tanya Dewi.


"Kamu ini, Wi, habis pulang dari luar yang ada tambah sensitif aja. " jawab Eni.


Eni membantu Dewi untuk bangun dari kasur, disertai dengan menaruh meja di dekatnya, Dewi duduk dan mulai memakan makanannya.


"Sini, ayo kesini, Jelly. " panggil Eni.


Jelly mengikuti Eni hingga ke belakang, sementara Dewi memakan makanan yang sudah dibuat oleh Eni, tetapi lebih tepatnya itu merupakan makanan yang dibeli oleh Eni.


"Gimana Wi? Enak nggak makanannya? " tanya Eni.


"Seperti biasa, rasanya enak, saya yakin ini pasti beli. " jawab Dewi.


Eni menaikkan bibirnya. "Apa coba? Bukannya makasih, malah kayak ngomongin aku yang serba suka pesan pesan makanan, ugh! "


Dewi tersenyum, kali ini ia dapat mengolok olok temannya, sambil memakan makanannya ia sambil mengelus lehernya yang masih terasa sakit.


"Wi, kamu nggak ada apa apa kan? "


Dewi yang sedang makan kemudian menggelengkan kepalanya, tentu saja ia tidak merasa baik baik saja, yang jelas tubuhnya meninggalkan banyak bekas lebam dan luka, tampak Gusti yang bermain ganas pada malam itu.


"Kalau tahu seperti ini, mungkin saya tidak akan pergi bekerja untuk hari itu, karena hari itu menjadi hari kesialan untuk saya. Teman yang menjauh karena mengetahui saya yang sebenarnya, rekan kerja yang menyimpang, dan saya yang diculik seperti ini. Ini tidak lucu sama sekali, saya seperti terjebak. " jelas Dewi.


Eni mengelus punggung Dewi, ia berusaha menenangkan temannya yang sehabis cemas itu, karena yang sudah terkurung hingga beberapa hari di dalam kamar hotel.


"Wi, kalau ada apa apa, kamu jangan diam aja ya, kasih tau aku secepatnya. " ucap Eni.


Dewi mengerutkan keningnya. "Memang seperti apa, Eni? " tanya Dewi.


"Kalau terjadi apa apa, kasih tau aku, aku bakalan bertindak untuk kamu, Wi. " jawab Eni.


Dewi tidak mengerti apa maksud dari temannya, ia memilih untuk menganggukan kepalanya saja, karena ia saja tidak mengerti maksud dari temannya itu sendiri.


"Baik, saya akan memberitahukannya dengan kamu, Eni. " ucap Dewi.


Eni menganggukan kepalanya, Dewi melanjutkan makannya hingga habis, dan Jelly menghampiri Dewi yang sedang makan.


"Sebelumnya, saya berterimakasih dengan kamu, Ni, maaf saya merepotkan kamu dengan keadaan saya yang sekarang sedang kacau. " ucap Dewi.


"Loh, terus sekarang kamu mau kemana? " tanya Eni.


"Saya ingin berkuliah, saya yakin jika saya sudah beberapa hari ini saya bolos absen, bisa saja nanti nilai saya akan berpengaruh. " jawab Dewi.


"Wi. " panggil Eni.

__ADS_1


Dewi membalikkan badannya, ia melihat ke arah temannya lagi.


"Ada apa? " tanya Dewi.


"Nanti kalau udah mau pergi ke kampus, langsung datang ke kamar aku, aku bakal bantu kamu buat tutupin merah merah di leher kamu itu. " jawab Eni.


Dewi memegang lehernya, ia menganggukan kepalanya, bersama dengan Jelly ke luar kamar ia menuju ke kamarnya sendiri, Dewi sudah yakin kamar itu sudah dua hari tidak berpenghuni.


Dewi membuka pintu kamarnya, ia melihat kamarnya yang mulai berdebu tampak ingin dibersihkan, ia juga melihat bahwa penanak nasinya yang sudah dua hari masih tetap hidup, ia yakin bahwa nasinya sudah basi ketika hampir dua hari hidup.


Dewi mematikan penanak nasinya, ia membuka penanak nasinya dan aromanya sudah tidak enak lagi, sudah menandakan bahwa sudah basi.


"Nanti akan kumasak lagi. "


Dewi merenggangkan tubuhnya, ia masih merasakan kebas pada tubuhnya, tetapi ia harus berkuliah untuk sekarang, dan berencana untuk berhenti bekerja dari restoran.


"Jelly, kamu sama pak Danu atau Eni lagi ya? Soalnya saya tidak bisa membawa kamu ke kampus. " ucap Dewi.


Raut wajah Jelly saja sudah menunjukkan bahwa ia tidak rela jika Dewi lagi lagi pergi meninggalkannya, tetapi Dewi mencoba meyakinkan Jelly untuk bisa ditinggal lagi.


"Jelly, mohon ya, soalnya aku juga punya kesibukan lainnya, kamu tahu sendiri bukan? " tanya Dewi.


Jelly hanya mendengus dan mengeluarkan suara yang tidak menginginkan Dewi pergi lagi, tetapi Dewi tidak mampu berbuat apa apa, ia membersihkan diri dan berkemas untuk segera pergi ke kampus.


Dewi tidak ingin merepotkan Eni, ia tahu bahwa Eni ingin membantunya menutupi bekas luka merah di lehernya, tetapi ia tidak kehabisan akal, yaitu menutupinya hanya dengan bedak dan foundation yang ia miliki.


"Akhirnya, tidak terlihat lagi. " ucap Dewi.


Dewi meraih tasnya, ia bergegas untuk pergi, tetapi Jelly yang terus terusan susah dibujuk untuk keluar, membuatnya susah untuk berangkat ke kampus karena ingin membujuk Jelly yang susah untuk diajak bekerjasama di hari pertama ia bebas.


"Jelly, kalau kamu tidak sama sekali ingin keluar dengan saya, saya akan tinggalkan kamu dikamar ini sampai malam hari, mengerti?! " tegas Dewi.


Baru kali itu akhirnya Dewi memarahi Jelly, mungkin karena mood nya yang belum stabil karena ia baru saja bebas dari tekanan, dan hari itu ia terpaksa harus mengikuti berbagai aktivitas yang harus ia kerjakan hari ini, hal itulah yang membuat Dewi menjadi kesal dan akhirnya meledak.


Dewi bersamaan dengan Jelly turun ke bawah, di bawah ia bertemu dengan satpam yang tengah berjaga, dan ia menyapa Dewi.


"Halo neng, neng Dewi darimana saja? Saya sudah hampir dua hari tidak melihat keberadaan eneng di kosan ini. Eneng Dewi memangnya kemana saja? " tanya pak Danu.


"Ceritanya panjang, pak, mungkin saya tidak bisa menjelaskannya satu persatu. Oh iya pak, saya titip Jelly lagi ya pak, saya ingin kuliah hari ini. " jawab Dewi.


Pak Danu menganggukkan kepalanya, akhirnya Jelly bersama dengannya, sedangkan Dewi berjalan keluar gerbang kosan, tak lama sebuah taksi datang dan Dewi memberhentikannya, kemudian Dewi menaikinya dan mobil taksi itu berjalan menuju ke kampus.


......................


Kehidupan kampus Dewi berjalan seperti biasanya, hanya saja ia menyendiri untuk sekarang, tidak ada teman sama sekali kecuali Eni, itupun Eni memiliki jadwal perkuliahan yang berbeda darinya.


Dewi melihat jam di ponselnya, ia melihat jam yang menunjukkan waktu sudah tengah hari, sudah waktunya Dewi akan ke restoran dan mulai bekerja.


Sayangnya itu hanya ucapan, Dewi berencana untuk segera berhenti dari tempat tersebut, karena ia merasa tidak cocok di tempat kerja tersebut, entah itu suasana tempat kerjanya, maupun orang orang yang terlibat di restoran tersebut yang membuatnya menjadi tidak nyaman.


Hanya butuh berjalan saja dari kampus menuju ke restoran, Dewi berjalan dan tak butuh waktu lama akhirnya ia sampai di restoran, tetapi ada hal yang menarik di depan restoran tersebut.


Dewi mengenali seseorang yang berada di mobil pickup tersebut, tidak asing lagi bahwa itu adalah sepupunya sendiri, Firdaus, dengan beberapa barang yang terlihat diangkut dan dimasukkan menuju ke ruang belakang.


"Firdaus? " tegur Dewi.


Laki laki yang sedang mengatur borongan itu membalikkan badannya, dengan senyuman sumringahnya ia menyapa Dewi dari atas mobil pickup tersebut.


"Neng Wiwi? Wah, bagus ketemu disini nih. " sapa Firdaus.


"Kamu lagi antar antar borongan, Firdaus? " tanya Dewi.

__ADS_1


"Kebetulan ketemu sama eneng Wiwi, saya ke kota buat kirim suplai sayur dari desa. Kan eneng tahu sendiri, setiap minggu saya dari desa datang ke kota untuk mengantarkan borongan. " ucap Firdaus.


Dewi ber oh ria, ia juga menganggukan kepalanya.


"Ternyata seperti itu. " ucap Dewi.


"Eh iya, omong omong kenapa neng Wiwi ada di sini? " tanya Firdaus.


"Saya bekerja disini, Fir, makanya saya berada di sini dan bertemu dengan kamu. " jawab Dewi.


Firdaus menganggukkan kepalanya, ia kemudian mengingat sesuatu, bahwa ia diberikan titipan oleh kedua orangtua Dewi.


"Neng, ini saya ada titipan dari desa, tepatnya dari bapak dan ibu eneng di desa, mereka menyuruh saya untuk memberikannya pada neng Wiwi. " ucap Firdaus.


Dewi melihat secarik surat yang diberikan padanya, Dewi menerimanya dan berterimakasih dengan Firdaus karena sudah menyampaikan amanah dari kedua orangtuanya di desa untuknya.


"Kalau seperti itu, saya pergi dahulu. "


Dewi dan Firdaus akhirnya terpisah, sekarang aman dengan pantauan orang lain, dan sekarang ia mencoba membaca isi dari surat tersebut.


Di dalam surat tersebut terdapat secarik surat beserta uang untuk dirinya, Dewi mencoba membaca isi surat tersebut dan ia melihat keseluruhan yang ditaruh di dalam kertas.


Isi surat tersebut membuat Dewi menangis, tulisan tersebut berisi harapan dari kedua orangtuanya dan do'a terbaik untuknya, itu yang akhirnya membuat Dewi menangis.


Surat tersebut dipeluk oleh Dewi, ia merasa sangat bersalah, karena ia lebih memilih untuk uang dan kehormatannya hanya untuk mendapatkan uang di kota besar.


'Pak, bu, Dewi sudah terlanjur mengecewakan kalian, bahkan Dewi sudah memberikan harta berharga Dewi. Dewi akan tetap bersalah dimata kalian nantinya. '


Dewi mengusap air matanya, ia masuk ke kantor dengan surat yang sudah ia bawa, Dewi merogoh tasnya dan mencari sebuah surat pengajuan mengundurkan diri, itupun ia buat saat selesai pembelajaran.


Dewi sengaja menghindari Cantika, karena ia tidak ingin rekan kerjanya yang menyimpang itu akan menjadikannya seperti berpacaran.


"Permisi. "


Dewi mengetok pintu ruang pemilik restoran, pemilik restoran tersebut merespon ucapan tersebut, Dewi mendekat dengan surat yang telah dipersilahkan.


Tanpa basa basi, Dewi memberikan surat pengunduran diri, dengan berbagai alasan sudah tercakup di surat tersebut.


"Saya ingin mengajukan surat pengunduran diri, pak. " ucap Dewi.


Pemilik restoran hanya mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu ingin berhenti bekerja? Bukankah performa kamu bekerja sangat bagus disini? "


"Saya tetap ingin mengundurkan diri, pak, mohon bantuannya. " ucap Dewi.


Tak ada yang bisa dilakukan selain menyetujuinya, akhirnya hari itu Dewi resmi berhenti dari pekerjaan tersebut, dan sekarang ia akan mencari pekerjaan kembali, entah itu ia akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mencari pekerjaan baru lagi.


......................


"Dewi itu rekan kerja saya! Untuk apa kamu terus terusan selalu menuduh saya berselingkuh dengan Dewi, Bella?! " teriak Gusti.


Tiada hari tanpa pertengkaran, Gusti dan Bella lagi lagi ribut, keduanya sangatlah cocok, satu orang yang berusaha menyembunyikan perselingkuhan, satunya lagi suka memancing keributan demi mendapatkan sebuah bukti.


"Saya melihat hubungan anda dengan Dewi tidak seperti rekan kerja, ayolah, katakan yang sebenarnya saja, Gusti. " ucap Bella santai.


Gusti menjadi kesal, ia sudah dicurigai oleh Bella, daripada memperpanjang masalah, ia memilih untuk diam dan pergi dari hadapan Bella.


"Jika kamu masih terus terusan seperti ini, saya akan biarkan kamu menggila sendiri, karena kamu tidak sama sekali memiliki bukti apapun, mengerti?! " tegas Gusti.


Gusti meninggalkan Bella yang tengah terdiam, setelah perginya Gusti, Bella menghela nafasnya karena ia mencoba untuk tenang walaupun ia ingin menangis.


"Kamu akan menyesal, Gustiawan! "

__ADS_1


...****************...


__ADS_2