Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 37: Efek


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Hah! "


Gusti mengakhiri permainannya, sedangkan Dewi menghela nafasnya dalam dalam, ia hampir mati dibuat oleh Gusti, semalam itu Gusti berubah menjadi monster yang seketika menerkam Dewi dengan lahap.


Dewi menatap langit langit hotel itu dengan tatapan sayu, antara lelah dan ingin pingsan dapat ia rasakan, ditambah lagi rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Secara tiba tiba tangan Gusti menghantam perut Dewi, Dewi tersentak dan akhirnya ia kembali terpejam, ia pingsan untuk kedua kalinya.


Di luar ruangan, terlihat asisten Gusti yang sedang menelpon seseorang, memberi laporan sebelumnya dengan seseorang bahwa obat yang diberikan telah bereaksi, entah apa lagi yang dilakukan di dalam, sehingga Ruben tidak ingin mengetahuinya sama sekali.


"Baik nyonya, saya paham. "


Ruben mematikan ponselnya, ia berencana untuk segera pulang dan mengembalikan kembali obat yang sebelumnya diberikan oleh nyonya nya tersebut kepadanya.


'Tuan, maafkan saya untuk sekali mengkhianati tuan. ' gumam Ruben dalam hati.


......................


Sorot cahaya sinar matahari mengenai celah ujung jendela, di atas kasur terlihat kedua lawan jenis yang tengah berbaring di atasnya, dengan alasan tertentu mereka berada di sana bersama.


Dewi menatap di sekelilingnya, ia yang baru tersadar dari pingsannya kemudian susah sekali baginya untuk memejamkan kedua matanya, karena seluruh tubuhnya merasakan sakit akibat Gusti yang bermain dengan kasar.


Di sebelahnya, terlihat Gusti yang tertidur setelah selesai bermain dengannya, tidak ada terbesit sesuatu perasaan apapun dengan laki-laki itu, hanya tertidur pulas tanpa rasa bersalah.


Dewi juga merasakan hal lain di tubuhnya, selain Gusti yang bermain terlalu kasar, ia juga seperti merasakan hal lain masuk di tubuhnya, namun ia tidak mengetahui apa yang memasuki nya.


Tak lama Gusti terbangun, Dewi menatap ke arah Gusti dengan tatapan kesal.


"Apa yang terjadi, Dewina? " tanya Gusti.


Dewi menatap tidak percaya, bagaimana bisa ia melupakan kejadian semalam, sedangkan ia yang masih mengingat kejadian malam hari itu sebelumnya, dan sekarang sempat bertanya tentang apa yang terjadi.


"Om melupakannya? " tanya Dewi.


Gusti mengerdipkan matanya, ia mengarah ke arah Dewi, melihat Dewi dengan tatapan sehabis terbangun dari tidur, dan sekarang ia baru tersadar apa yang terjadi, Gusti bangkit dari tempat tidurnya, kemudian ia melihat dirinya dan merogoh isi dalam selimut Dewi, kemudian memeriksanya.


Dewi terkejut, ia menjauhkan dirinya dan berusaha untuk berdiri dari kasur tersebut.


Gusti seperti memegang sesuatu di tangannya, dan wajahnya seketika memerah, karena ia ingat bahwa ia sudah bermain dengan Dewi, dan malam itu ia melakukan kesalahan yang kemudian bisa berakibat fatal.


"Sial, saya tidak sengaja menumpahkan nya. " ucap Gusti.


"Apa yang om tumpahkan? " tanya Dewi.


Gusti dengan wajah panik hanya bisa diam, ia menggelengkan kepalanya dan berdiri menuju ke kamar mandi, sedangkan Dewi hanya menatap laki-laki itu berjalan dan meninggalkan nya sendiri di atas kasur.


Dewi mengambil kesempatan tersebut, ia memilih untuk segera kabur sebelum Gusti keluar dari kamar mandi, dengan cepat Dewi mengemasi dirinya dan memastikan tidak ada satupun barang barangnya yang tertinggal di hotel tersebut.


Syukur saja Gusti tidak sama sekali melepaskan kunci kamar hotel tersebut, karena dengan hal itulah dapat mendukungnya untuk segera kabur dari kamar siksaan tersebut.


Tampaknya dari kamar mandi, Gusti menyadari bahwa Dewi yang berencana melarikan diri, terdengar dari suara langkah kaki beserta pintu kamar yang kunci.


"Dewina, kamu mencoba kabur ternyata. " gumam Gusti.


Gusti melanjutkan mandinya, kemudian ia berencana untuk segera pergi dari hotel, di kasur yang terletak tak jauh dari kamar mandi, kasur yang kacau beserta semua peralatan yang sudah kacau balau di lantai.


Di trotoar tepatnya di halte bus, terlihat Dewi yang sedang menunggu kedatangan bus yang datang menghampirinya.


Dewi berusaha untuk berdiri dan berjalan dengan baik, sayangnya itupun hanya sedikit, walaupun terlihat susah.


Tak lama menunggu, salah satu taksi lewat dan menghampirinya, akhirnya ia berhasil untuk pulang menuju ke kosannya.


Dewi tidak sabar untuk segera tidur dan menyembuhkan dirinya di dalam kosan, ia merasa bahwa tubuhnya benar benar sakit hari ini, ditambah lagi tidak ada bayaran sama sekali, hanya dilakukan sesuka hatinya saja.


Ditambah lagi peliharaan Dewi, anjing tersebut pastinya mencarinya dan pastinya sudah hampir dua hari ia tidak memberikan makan anjingnya karena Dewi yang disekap.


......................

__ADS_1


'Balikkin Dewi nggak? Ini nggak lucu sama sekali, Gusti! '


"Saya sendiri saja tidak tahu keberadaannya di mana, dia saja kabur dari saya. Jelas, bahwa ini bukan tanggungjawab saya lagi dalam memantaunya, ia pergi entah ke mana! " tegas Gusti.


'Aku nggak peduli! Balikin Dewi pokoknya, jangan sampai aku bertindak lanjut! ' tegas Eni dari telepon.


"Keras kepala! Sudah saya bilang, Dewi sedang tidak bersama dengan saya! "


Gusti mematikan ponselnya, di dalam mobil ia sama sekali tidak ingin terlihat bahwa ia sedang habis melakukan sesuatu, apalagi jika ia bertemu dengan istrinya tersebut.


"Hanya menghindar, jangan tatap Bella. " gumam Gusti.


Gusti keluar dari mobilnya, di depan rumahnya sudah disambut oleh para pelayan rumahnya.


"Selamat datang, tuan. " sambut para pelayan kepada Gusti.


Gusti membalas senyum, sebelumnya ia berusaha untuk tidak ingin menatap istrinya.


Pulang ke rumah saja Gusti tidak ingin bertatap muka dengan Bella, karena sorot mata istrinya terus mengarah padanya, ia merasa diawasi setiap pergerakannya oleh Bella itu sendiri.


"Gustiawan. " panggil Bella.


Langkah Gusti terhenti, ia dihampiri oleh istrinya, Bella menatapnya dengan senyuman dan mendekat ke arahnya.


"Ada apa kamu memanggil saya? " tanya Gusti.


"Tidak ada, apa salahnya saya menghampiri suami saya sendiri? Bukankah itu hal yang lumrah, sayang? " tanya Bella.


Gusti terkaku, sedangkan Bella memegang wajahnya dan mencium pipinya, Gusti hanya bisa terdiam karena tingkah istrinya yang berubah sekejap mata.


"Anda suami saya yang sangat tampan, tidak heran saya sampai cemburu jika anda tidak pulang ke rumah. " goda Bella sambil memeluk nya.


Gusti melepaskan pelukan tersebut, ia menggenggam kedua bahu Bella dan menatap wanita itu.


"Jangan paksa saya untuk kembali mencintai kamu, sangat sulit bagi saya untuk melupakan kesalahan kamu sebelumnya. "


Bella menatap kesal dengan Gusti, ia melepaskan genggaman bahu dari Gusti, dan menunjuk ke arah Gusti.


Gusti menggelengkan kepalanya. "Berhenti untuk berbicara seperti itu, dan saya sengaja mempertahankan kamu hanya karena Gita dan Gina. Saya tidak ingin mereka bernasib seperti saya, cukup sampai disini saja semua penderitaan itu saya alami. "


Baru kali itu akhirnya Bella mengeluarkan air matanya, tepat di depan suaminya sendiri ia menangis.


"Demi anak? Kamu melanggar sumpah pernikahan, kita disatukan untuk saling menyayangi dan melengkapi sampai tua, anak adalah bonus. " tanya Bella.


"Kamu bilang saya melanggar sumpah pernikahan? Bagaimana dengan kelakuan kamu sebelumnya, Bella? " tanya Gusti.


"Anda masih mengingatnya? Sebesar itu kesalahan saya dengan anda? "


"Tentu saja, bagaimana bisa saya melupakan pengkhianatan tersebut, di depan anak anak dan saya lebih tepatnya. " jawab Gusti.


"Baik, lagi lagi anda mengungkit kesalahan saya yang anda anggap tidak akan dimaafkan. Tapi saya akan balikkan dengan anda, jika benar anda berselingkuh, atas saksi Tuhan, anda akan dapat balasannya, Gustiawan! "


Ucapan Bella membuat Gusti menjadi takut, istrinya mengeluarkan sumpah di depannya, Gusti memilih untuk segera meninggalkan Bella yang tengah menangis di ruang utama.


Dari lantai atas, Gita dan Gina mengintip kedua orang tuanya dari sela sela pembatas, mereka melihat kedua orangtuanya yang berdebat di lantai bawah, mereka hanya bisa melihat perdebatan itu saja dan tidak bisa bertindak.


"Kak, keluarga kita hancur ya? " tanya Gina.


Gita menguatkan dirinya, ia menenangkan adiknya yang ingin menangis, kemudian memeluk adiknya.


"Nggak, papa dan mama cuma ribut kecil aja kok, nggak sampai bikin keluarga kita hancur... " jawab Gita.


Gita memeluk tubuh kecil Gina, ia berusaha saling menguatkan diri bersama saudaranya, hanya keduanya yang bisa saling menguatkan ditengah hancurnya keluarga mereka sendiri.


......................


"Ini nggak lucu ya, semua lagi nyariin Dewi, Gustiawan! "


Eni mengirimkan pesan suara ke nomor Gusti, ia masih kesal karena Gusti yang tidak ingin mengembalikan Dewi, dan beralasan bahwa Dewi tidak ada dengannya.


"Jelly, kamu yang sabar ya, yakin aja Dewi pasti balik. " ucap Eni.

__ADS_1


Eni mengelus kepala Jelly, tak lama pintu kamarnya diketuk dari luar, Eni bangkit dari tempat tidurnya dan ia berjalan menuju ke pintu kamarnya.


"Sebentar... "


Eni membuka pintu kamarnya, terlihat Dewi yang berdiri di depan kamarnya, dengan penampilan yang kacau dan ia dapat mencium bau laki laki di tubuh Dewi, ia yakin bahwa Gusti sudah berbuat macam macam dengan Dewi.


"Wi? "


Dewi langsung roboh, Eni menyambut Dewi yang langsung pingsan, ia menggapai tubuh Dewi dan ia ikut terjatuh karena menahan Dewi.


Jelly mendekat, ia menggosok gosok kepalanya dan menggonggong kepada Dewi, tampak bahwa Jelly mengkhawatirkan kondisi Dewi.


"Jelly, kamu ambil tasnya Dewi. " perintah Eni.


Eni menyeret Dewi ke dalam secara perlahan, diikuti oleh Jelly yang mengambil tas milik Dewi, entah apa yang membuat Dewi menjadi lemas seperti sekarang.


"Wi, Dewi... "


Eni menggosok gosok telapak tangan Dewi, ia juga memeriksa denyut nadi Dewi, ia cemas dengan keadaan Dewi.


"Wi, kamu lemas banget, selama dua hari ini kamu nggak dikasih makan apa sama si Gusti? " tanya Eni sambil mengusap usap telapak tangan Dewi.


"Gustiawan, kalau terjadi apa apa sama Dewi, bakal kuhajar kamu habis habisan! " umpat Eni.


Tak lama Dewi terbangun dari pingsannya, ia perlahan membuka matanya dan bersuara walaupun terdengar serak.


"Eni.... "


"Dewi?! Bentar, aku ambilin minum, kamu tunggu sebentar disini ya? "


Eni berlari menuju ke dapur, ia mengambil air minum untuk Dewi minum, sementara Jelly duduk di samping Dewi dan merebahkan kepalanya diatas lengan Dewi.


"Wi, diminum dulu airnya. "


Eni memberikan air minum dengan Dewi, ia membantu Dewi untuk duduk dan membantu Dewi untuk minum.


Seluruh tubuh Dewi terasa sakit, bahkan ia sampai gemetaran, wajahnya pucat dengan beberapa tanda tanda merah di badannya yang terlihat jelas dan sebagiannya sampai terlihat terluka, Eni yakin, bahwa semalam Gusti memang bermain dan menyiksa temannya itu sampai sakit seperti sekarang.


"Wi, kamu udah makan belum? " tanya Eni.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Saya tidak n*fsu makan, makanan yang disajikan di hotel semua saya buang, tidak ada satupun yang dapat saya lakukan kecuali diam dan menangis di dalam kamar hotel itu, Eni. " jelas Dewi.


Eni mengelus belakang punggung Dewi, ia memperhatikan beberapa lebam dan luka di badan temannya, ia dapat merasakan bahwa tubuh Dewi yang gemetaran.


"Aku pesenin makanan ya? " tawar Eni.


Dewi langsung roboh, ia meringkuk kesakitan dengan keadaan tubuhnya sekarang, Eni langsung mendekat panik karena keadaan temannya.


"Eni, izinkan saya untuk beristirahat disini.... " lirih Dewi.


Eni menganggukan kepalanya, tidak ada hal yang dapat ia lakukan selain menyuruh temannya beristirahat, sementara ia memesankan makanan untuk Dewi makan.


Dewi meringkuk di atas kasur milik Eni, badannya terasa tidak enak, ditambah lagi lebam dan rasa nyeri ditubuhnya yang membuatnya menjadi meriang, semalam seperti ia tidak sedang melakukan hal tersebut bersama dengan Gusti.


"Wi, ini ada obat pereda nyeri, nanti kamu minum ya sesudah makan. " ucap Eni.


"Baik, nanti akan saya minum. Terimakasih ya Eni sudah membantu saya, maaf jika saya merepotkan kamu. " ucap Dewi.


"Iya Wi, nggak papa, kamu tuh temen aku, ditambah lagi badan kamu yang sakit sakitan kayak gini, nanti makanan kalau makanannya sudah sampai, kamu makan ya. "


Dewi hanya menganggukan kepalanya, ia mencoba mencari posisi nyaman untuk ia rebahkan seluruh tubuhnya, sedangkan Eni mengambil obat lebam dan mengoleskannya di sekujur tubuh Dewi yang terlihat luka lebam maupun merah merah.


"Saya ingin beristirahat, tolong bangunkan saya ketika kamu ingin berpergian, Eni. " ucap Dewi.


Eni menganggukan kepalanya, ia hanya bisa menuruti keinginan temannya itu, yang tidak sama sekali tidak ingin melakukan apa apa selain hanya beristirahat.


'Kalau ada apa apa dengan Dewi, bisa bahaya dengan aku! ' ucap Eni dalam hati.


Eni menatap ke arah Dewi dan Jelly yang sedang tertidur bersama, keduanya tampak lelap sehingga tidak sadar bahwa Eni keluar dari kamar, entah ingin berpergian ke mana.


...************...

__ADS_1


__ADS_2