
...Happy reading 🧡...
......................
Dewi terbangun dari tidurnya, sebagian tubuhnya terasa sangat sakit, seperti ia habis menyakiti dirinya sendiri.
Matanya terbuka, hamparan langit langit yang sebelumnya tidak pernah ia lihat sama sekali, kemudian meraba tubuhnya dan melotot karena terkejut.
Dewi membuka sedikit selimut yang menyelimuti nya, tidak ada satupun yang menutupinya selain selimut itu.
Dewi mengingat seseorang yang bersamanya malam tadi, ia melihat ke sekitar ruangan tersebut dan melihat seseorang yang berdiri di depan jendela, dengan secangkir kopi menatap sesuatu yang ada di jendela.
"Om, apa yang om lakukan semalam sama saya? " tanya Dewi.
Gusti menatap ke arah Dewi, ia menaruh cangkir kopi tersebut di atas meja yang ada di dekatnya.
"Kamu semalam mabuk, dan kamu merintih kepanasan, saya membantumu untuk meredakan rasa panasnya. Sekarang, sudah mendingan, bukan? " tanya Gusti.
Dewi merasakan hal yang berbeda, ia menyadari bahwa tubuhnya sudah habis habisan digerayangi oleh Gusti.
"Om, saya masih perawan... "
Gusti menganggukan kepalanya, kemudian ia menyodorkan beberapa lembar uang dengan nominal yang begitu banyak.
"Saya mengerti, Dewi, sebelumnya terimakasih sudah memberikan apa yang kamu miliki. Memang, ini sudah saya inginkan dari sebelumnya. Saya yakin, Eni sudah memberitahukan sebelumnya, bahwa menjadi simpanan itu tidak sama sekali hanya bisa menerima apa yang saya berikan, tetapi kamu juga harus bisa memberikan apa yang kamu miliki untuk saya nikmati, termasuk keperawanan kamu sendiri, manis. " jelas Gusti.
"Padahal sebelumnya om hanya bilang sama saya, bahwa om hanya ingin menjadikan saya teman saja, kenapa om membuka perawan saya? " tanya Dewi kecewa.
"Ada barang, ada harga. "
Dewi mengigit bibir bawahnya, ia menatap kecewa dan meneteskan air matanya.
"Saya kecewa dengan semua ini om, ternyata semuanya butuh bayaran seperti ini, saya tidak percaya harus disentuh seperti ini sama om. " ucap Dewi.
"Maafkan saya, manis, tapi semua laki laki memang seperti ini, kebetulan kamu bisa membantu saya dan saya juga membantu kamu. Kita tidak dirugikan untuk ini, tetapi kita saling menguntungkan kali ini. " ucap Gusti.
Gusti berjalan ke kamar mandi, sementara Dewi hanya terdiam di kasur.
Dewi berusaha bangkit, rasa kecewanya tidak sebanding dengan sakit yang tengah ia rasakan, ia berusaha untuk kabur saat Gusti kembali memasuki kamar mandi.
Dewi memakai semua pakaiannya, ia mengambil barang barang miliknya dan keluar dari kamar, jalannya luntang-lantung tidak jelas karena masih terasa sakit.
Tak lama setelah membersihkan diri, Gusti keluar, ia selesai mandi dan melihat ke arah kasur, Dewi tidak ada lagi di atas kasur, seperti nya sudah kabur dari kamar yang sebelumnya ditempati.
"Gadis itu pergi... "
Gusti mengambil pakaian yang ada di dalam lemari, ia memilih untuk pergi dari ruangan tersebut, karena ia akan bekerja kembali.
......................
Dewi turun dari taksi, dengan jalannya yang tidak stabil ia berjalan ke dalam gerbang kosan, sebelumnya Dewi menatap ke pos penjaga, tidak ada sama sekali satpam di dalamnya.
Dewi berjalan menaiki tangga, ia merogoh tasnya dan mengambil kunci kamarnya, Dewi masuk dan berbaring di kasurnya, Dewi menangis karena masih merasa sakit.
"Aku sudah sepenuhnya menjadi pelacur, aku pelacur... " umpat Dewi.
Dewi membodoh bodohi dirinya, ia merasa hancur ketika keperawanannya sudah hilang. Hatinya terasa memanas, apalagi ketika laki-laki yang sudah menjamah nya dengan santai menjawab pertanyaannya, ia merasa benci dengan laki-laki tersebut, Gusti.
Dewi bangkit dari tidurnya, ia merenung, tak lama pintu kamarnya diketuk dari luar, ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke pintu kamar kosannya.
"Eni, ternyata kamu. "
"Wi, kayaknya kamu habis nangis, ada apa? " tanya Eni.
Dewi merasa itu adalah kesempatan nya untuk memberitahukan yang sebenarnya terjadi padanya, ia mempersilahkan Eni masuk ke kamarnya.
"Ada apa sih, Wi? " tanya Eni.
__ADS_1
"Saya boleh bagi cerita sama kamu, Ni? " tanya Dewi.
Eni melotot kan matanya, ia tampak begitu bersemangat dengan Dewi yang ingin berbagi cerita padanya, mereka duduk dan Dewi mulai menceritakan apa yang ingin ia ceritakan sebelumnya.
"Seriusan? Om Gusti udah perawanin kamu, Wi?! " tanya Eni heboh.
"Apakah saya harus bangga? Bukankah saya sudah menjadi wanita yang kotor? " tanya Dewi kecewa.
Eni merangkul bahu Dewi, ia menepuk-nepuk bahu temannya dengan senyumannya mengarah pada Dewi, sedangkan Dewi menangis kecewa.
"Cup cup cup, jangan nangis dong, Wi, biasa aja dong, banyak kok yang udah kayak kamu. " ucap Eni.
"Tapi, tapi ini menyangkut harga diri saya, Ni, jika saya kembali ke desa dan saya menikah dengan orang di desa, kemudian orang itu tahu kalau saya tidak perawan lagi, bagaimana nasib saya Ni? Saya bisa bisa dipermalukan oleh orang orang satu desa. " tanya Dewi penuh kekhawatiran.
Eni berdecak, ia meremehkan apa yang sedang terjadi dengan Dewi, baginya hal sekecil itu tidak terlalu penting baginya, apalagi sekarang Dewi adalah simpanannya Gusti.
"Wi, cuma orang-orang yang pikirannya kolot aja yang percaya akan keperawanan. Kamu tuh kuliah jurusan kedokteran beneran atau nggak sih? Istilah dalam dunia medis, nggak ada yang namanya keperawanan, tapi selaput dara, gitu aja nggak ngerti. " remeh Eni.
"Tapi sama saja, itu bagian terpenting bagi saya, bagian itu yang membuktikan bahwa saya adalah wanita yang masih suci. Sekarang saya sudah tidak suci lagi, itu semua karena om Gusti yang sudah menodai saya. " ucap Dewi.
Eni menghela nafas kasar, sambil memanyunkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya, ia merasa bahwa Dewi terlalu berlebihan sekarang.
"Yaudah, kalo gitu aku balik ke kamarku ya, kalau ada apa apa samperin aja aku ke kamar. Btw, kamu kuliah kan hari ini? " tanya Eni.
"Saya hampir lupa, saya akan bersiap siap dulu, saya ada kelas hari ini. " ucap Dewi.
Eni kembali ke kamarnya, ia menutup pintu kamar Dewi, kemudian berjalan ke dalam kamarnya.
Eni tersenyum puas, ia juga ingin tertawa, karena ia berhasil membuat pelanggannya puas dengan keinginannya, ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi dengan Dewi selain hanya bisa mengawasi Dewi, agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan, seperti kebobolan alias hamil.
Dewi keluar dari kamar, ia mengunci pintu kamarnya dan berjalan menuju ke bawah.
Cara jalannya masih sama, tampaknya berendam di dalam air belum bisa meredakan nyerinya, tidak ada pilihan lain selain hanya bisa menahan rasa sakit tersebut.
Jarang jarang sekali Dewi naik taksi, hari itu ia memakai taksi untuk dua kali, karena ia tidak ingin menaiki angkot yang biasa menjadi moda transportasi nya menuju ke kampus, ia tidak ingin jika beramai-ramai dan terlihat cara jalannya yang aneh, bisa bisa ia ditertawakan oleh penumpang lainnya.
......................
'Aku ingin cepat pulang... ' ucap Dewi dalam hati.
"Dewina, apa yang sedang terjadi? Apa kamu sedang sakit? "
Ternyata gerak gerik Dewi diperhatikan oleh dosen yang sedang mengajar, Dewi tegap dan menggelengkan kepalanya, ia merasa seolah sedang tidak terjadi apa apa.
"Tidak pak, maaf sebelumnya sudah mengganggu. " jawab Dewi.
Dosen tersebut menganggukkan kepalanya dan melanjutkan pembelajaran, Dewi berusaha untuk tidak terlihat kesakitan sampai waktu pembelajaran habis.
Sepulang dari kuliah, Dewi kembali ke kosan lagi lagi menggunakan taksi, biaya transportasi nya kali ini 3 kali lipat dari biasanya, itu hanya untuk kenyamanannya saja ia menggunakan jasa taksi.
"Neng, kok jalannya sekarang aneh ya? " tanya satpam.
Dewi terkejut, ia hanya senyum senyum saja dan menggelengkan kepalanya, ia berusaha untuk segera ganti baju dan pergi ke minimarket sekarang.
Saat menuju ke kamarnya, Dewi tidak langsung menyapa lagi Eni yang berada di kamar sebelahnya, ia memilih untuk segera berangkat ke minimarket untuk bekerja hari ini.
Dewi mengganti bajunya, ia mengambil beberapa barang yang ia perlukan dan pergi dari kamarnya.
......................
Di minimarket, lagi lagi pelanggan begitu banyak, alasannya adalah barang barang dan makanan baru yang sedang trending dibicarakan di sosial media, Dewi dan karyawan lainnya ikut membantu dan melayani pelanggan yang ada, mereka kelabakan melayani para pelanggan yang banyak mengantri untuk membayar.
"Terimakasih, silahkan belanja kembali. "
Dewi dan Mutia mendapat giliran membersihkan bagian depan minimarket, dari gaya jalan Dewi dinotis oleh Novi, gerakannya begitu senjang bahkan kaku.
"Jalan lo aneh banget sih, bisa nggak jalan kayak orang normal aja nggak sih? " tanya Novi.
__ADS_1
Karyawan-karyawan lainnya hanya diam ketika Novi berbicara, dan salah satu dari mereka nyeletuk mulai bercerita.
"Iya, sedaritadi liatin Dewi, baru sadar kalau jalannya aneh. " ucap Randi.
"Yeee, giliran Dewi aja baru lu semangat, gitu amat naksir sama—"
Randi langsung menutup mulut Farel, sedangkan Farel bergumam untuk minta dilepaskan mulutnya.
"Kayaknya si Dewi nyoba olahraga yang baru itu nggak sih? Memang, kalau nggak terbiasa, bagian bawah perut tuh nyeri gitu. " ucap Mutia.
"Bisa jadi sih. Dewi, kalau cara aku sih buat redain nyerinya cukup mandi pake air hangat tapi sambil berendam gitu, biar rasa nyerinya kurang. " saran Mita.
"Benarkah? Kalau benar berhasil, saya akan coba. Sebelumnya, terimakasih sudah memberi saran. " ucap Dewi.
Karyawan-karyawan lainnya menganggukan kepalanya, sementara Novi menatapnya dengan sinis, seperti biasa ia selalu sinis ketika menatap Dewi.
......................
Selesai bekerja, Dewi kembali ke kosannya, ia berjalan dengan cepat menuju ke kamarnya dan segera mandi.
Sebelumnya ia memasak air panas untuk mandi, ia mengikuti saran dari Mita untuk meredakan rasa nyeri dengan mandi air hangat.
"Semoga aja bisa reda. "
Selesai mandi, Dewi merasa lega, jarang sekali ia mandi air hangat dan kebetulan ia mandi hanya untuk meredakan rasa nyerinya.
"Rasanya lumayan lega. "
Tak lama pintunya kembali diketuk, Dewi membuka pintu kamarnya, ia berjalan ke arah pintu kamarnya dan membuka pintu kamarnya.
"Eni, ada apa? " tanya Dewi.
"Nggak, numpang tidur tiduran di kamar kamu, boleh kan? " tanya balik Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, ternyata Eni membawa makanan, Eni mempersilahkan Dewi untuk memakan makanannya bersama dengannya.
Kedua gadis tersebut duduk dan mengobrol, kemudian dikejutkan dengan handphone Dewi yang berdering.
Dewi melihat siapa yang menelponnya, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut, ternyata yang menelponnya adalah Gusti.
"Loh, kok nggak diangkat telponnya, Wi? " tanya Eni.
"Saya tidak ingin berbicara dengan om Gusti dulu, Ni, saya ingin menenangkan diri sejenak. " jawab Dewi.
Dewi akhirnya melamun, tatapannya kosong, ia masih terpikir Gusti yang sudah menggerayangi tubuhnya.
Kembali handphone milik Dewi lagi lagi berbunyi, notifikasi handphone nya cukup mengganggu, ia sampai tidak tahan dan menyuruh Eni yang melihat pesan yang dikirim oleh Gusti.
Eni melihat pesan dari Gusti, wajahnya menunjukkan tanda bahagia, bahwa ia seakan melihat hal yang bagus.
"Wi, lihat nih, om Gusti memberikan tiket liburan ke Tokyo! Kesempatan bagus ini, Wi! " girang Eni.
Dewi menutup kedua telinganya, ia tidak ingin mendengar ucapan Eni yang terus terusan mendesaknya.
"Ayo Wi, ini kesempatan sekali lagi! Lihat tuh, om Gusti udah kasih bayaran lebih lagi buat kamu! "
Eni terus terusan mendesaknya, Dewi ingin menangis, hatinya bercampur aduk hingga timbul rasa marah dan kesal di hatinya.
"Sudahlah, Ni, saya tidak ingin bertemu dengan om Gusti! "
Baru kali itu Dewi memberontak, ia merasa bahwa Eni ingin dirinya kembali digerayangi oleh Gusti.
Ucapan dari Dewi sepertinya membuat Eni kesal, bahkan tersinggung, Eni langsung meninggalkan Dewi.
Dewi merenung, ia mengingat sesuatu yang dibawanya dan berencana untuk mengambilnya.
Dewi mengambil sebuah kotak berisi jam tangan, ia membukanya kemudian ia menangis, karena jam tangan itulah yang akhirnya membuat ia harus kehilangan keperawanannya.
__ADS_1
Dewi kembali ke jendela balkon kamarnya, ia menatap kotak jam tersebut dan membuang jam tangan yang di berikan oleh Gusti malam itu.
...****************...