Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 35: Menjauhlah dari Dewi


__ADS_3

...Happy reading 🧡...


......................


"Cari nama mahasiswa atas nama Daniel, saya ingin dia menjauh dari Dewina, bagaimanapun itu caranya, dapatkan mahasiswa itu. "


Perintah Gusti membuat bodyguard dan asistennya melaksanakan perintah dari bosnya, Eni hanya bisa melotot melihat Gusti yang mengambil tindakan seperti itu, tampaknya Dewi membuat masalah yang besar hingga Gusti berani bertindak seperti itu.


"Eni, saya akan pergi. Beritahu Dewi, bahwa saya tidak akan tinggal diam. "


Eni menganggukkan kepalanya, Gusti berjalan menjauh dari tempat duduk sebelumnya, sementara Eni yang duduk dan meminum minumannya dengan ekspresi tidak percaya.


"Wi, kamu udah bikin Gusti marah karena sikap kamu sama dia. " gumam Eni.


......................


"Bapak sama ibu sudah kamu antarkan sampai ke desa kan, Fir? "


Dewi menelpon sepupunya, dengan bantuan sepupunya ia bisa tenang, karena kedua orangtuanya pulang bersama sepupunya menuju ke desa.


'Iya, mereka sudah pulang bersama saya. Kamu tidak usah khawatir, kami sudah sampai di desa hari ini. ' ucap Firdaus.


"Begitu ya? Terimakasih sudah membantu saya untuk mengantarkan kedua orangtua saya. "


'Ya Wi, sama sama, kalau begitu saya matikan teleponnya, soalnya borongan baru saja masuk gudang. ' ucap Firdaus.


"Ah ya, baik, kalau begitu sampai jumpa. "


Panggilan berakhir, Dewi menaruh ponselnya kembali di atas meja dan berencana untuk segera tidur, tak lama ponselnya berdering lagi, Dewi mengurungkan niatnya dan melihat siapa yang menelponnya.


Dewi terkejut, ternyata Daniel yang sedang menelponnya, ia bahkan serasa sesak nafas dan seluruh tubuhnya terasa panas, karena ia grogi akan berbicara dengan Daniel.


"Bisa, kamu bisa, Dewi... " ucap Dewi pada dirinya sendiri.


Dewi mengangkat teleponnya, ia sambil memejam matanya menunggu suara keluar dari telepon tersebut.


'Halo Wi, maaf ganggu malem malem. '


Jantung Dewi berdegup lebih kencang, suaranya hampir tidak ada karena ia yang grogi menjawab panggilan dari Daniel.


"Halo juga, Daniel, tidak apa apa kok, kamu tidak menganggu sama sekali... " jawab Dewi.


'Oh gitu, baguslah, lumayan malam malam gini denger suara kamu, candu. '


Daniel seperti menggodanya, sehingga membuat Dewi salah tingkah, Dewi menggigit bantalnya untuk menahannya tidak berteriak.


"Kamu benar-benar suka dengan suara saya? " tanya Dewi.


'Tentu saja, suara lembut seperti kamu siapa yang nggak suka? Mustahil, Dewina. ' jawab Daniel.


Dewi tersenyum, ia seperti orang yang tengah dimabuk asmara, karena ia sedang menelpon laki laki yang sangat ia kagumi, bahkan ketika baru mendengar suaranya saja Dewi sudah ragu ragu ingin mengobrol dengan laki laki itu.


'Jelly mana, Dewi? ' tanya Daniel.


Dewi mengelus kepala peliharaannya yang tengah tertidur.


"Jelly sedang tidur di samping saya, tidurnya pulas sekali sehingga dia tidak menghiraukan saya yang sedang menelpon dengan kamu, Daniel. " ucap Dewi.


'Gitu ya? Yaudah, besok aja aku ketemu sama Jelly nya, kasihan ganggu dia tidur. ' ucap Daniel.


Dewi mengerutkan keningnya. "Memangnya kamu mau apa sampai besok ingin ke kosan? " tanya Dewi.


'Besok ada acara nggak? Kalau nggak, aku mau ngajak kamu jalan jalan nih, mau nggak? '


Dewi melotot tidak percaya, jarang sekali ada yang mengajaknya untuk berjalan jalan, dan itu hanya berdua saja beda jenis.


"Benarkah? Kamu serius kali ini? " tanya Dewi.


'Iya dong, manis. Pokoknya siap siap aja besok, sehabis pulang kuliah kita langsung berangkat, aku tunggu. ' jawab Daniel.


Dewi tambah salah tingkah, sebutan manis dari Daniel membuatnya semakin salah tingkah, ia merasakan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Baik, saya mau. "


'Good, kalo gitu aku matiin ya telponnya, good night, manis. '


Jantung Dewi rasanya ingin lepas, ia tidak bisa berkata apapun lagi selain berteriak kesenangan, hingga membuat Jelly yang tengah tertidur menjadi terbangun akibat teriakan tersebut.


'Dewi, kamu ada apa disana? ' tanya Daniel.


"Ti--tidak, hanya tindakan spontan saja yang membuat saya barusan berteriak, maaf... " ucap Dewi sambil tersenyum.


'Gitu ya, yaudah, aku matiin dulu ya telponnya, soalnya udah ngantuk juga. Sampai jumpa, Dewina. '


"Sampai jumpa, Daniel. "


Telepon berakhir, Dewi melemparkan ponselnya ke kasurnya kemudian mendekat ke arah Jelly, tak lama ia memegang tangan Jelly dan melompat bersama anjing peliharaannya.


"Akhirnya, hore, yey! "


Dewi bersorak gembira, ditambah lagi ia tidak sabar menanti hari esok, karena ia akan berdua saja bersama Daniel untuk jalan jalan.


"Jelly, maaf sudah menganggu tidurnya, ayo, sekarang kita tidur lagi ya, maaf tadi aku mengganggu tidurnya. "


Dewi memeluk anjing peliharaannya dan mereka tidur bersama, keduanya tidur dengan nyenyak karena keduanya kelelahan.


Satu notifikasi pesan muncul di taskbar ponsel Dewi, itu adalah pesan dari Gusti, tetapi pesan tersebut hanya tertimbun oleh  pesan pesan lainnya, seperti dari pesan sepupu, grup kuliah maupun Daniel.


'Kamu tampak ingin bermain main dengan saya, maka kamu akan dapat permainan dari saya, Dewina. '


......................


Keesokan harinya, Jelly tampak membawa sesuatu, Dewi sampai terbangun ketika suara berisik terdengar di belakang, Dewi mengedip kedipkan matanya dan beranjak dari tempat tidur.


"Jelly, apa yang sedang kamu lakukan di belakang? "


Secara tiba tiba Dewi menendang sesuatu, ia melihat di bawah kakinya yaitu mangkuk makanan milik Jelly yang tergeletak di bawah, ia juga melihat Jelly yang duduk di depan mangkuk yang barusan diinjak oleh Dewi.


"Oh, maafkan aku, kamu ingin makan bukan? "


Dewi beranjak menuju ke lemari, kemudian ia mengambil makanan untuk Jelly, anjing kesayangannya yang sekarang tengah lapar dan menagih makanan padanya.


"Ini, dimakan ya. " ucap Dewi.


Dewi menaruh mangkuk makanan milik Jelly, kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk segera bersiap siap menuju ke kampus.


Butuh waktu setengah jam untuk Dewi bersiap siap, karena ia akan ke kampus pagi hari untuk bisa bertemu dengan Daniel, Dewi merasa bahwa Daniel selalu bangun pagi dan suasana pagi tersebut mungkin sangat cocok untuk ia berjumpa sapa dengan Daniel.


"Pak, seperti biasa ya. " ucap Dewi.


"Iya neng, saya kan nggak keberatan kalau neng titipin Jeli nya disini, lumayan kan saya ada teman. "


Dewi pamit dengan peliharaannya, tak lama sebuah motor lewat di depan gerbang kosan, Dewi melihat siapa yang berhenti di depan gerbang kemudian melepaskan helmnya.


"Daniel? " tanya Dewi.


Daniel tersenyum, kemudian memberikan helm cadangan untuk Dewi gunakan.


"Daniel, tumben kamu jemput saya pagi pagi seperti ini? " tanya Dewi.


"Of course, karena aku kangen sama kamu, Wi. Suara tadi malam tuh kurang cukup, tau? "


Dewi tersipu malu. "Bisa saja kamu, Daniel. "


"Yaudah, yok naik, kita langsung berangkat. " ajak Daniel.


Dewi memakai helm cadangan milik Daniel, menaiki motornya dan mengatur duduknya, Daniel menghidpukan motornya kemudian mereka berangkat menuju ke kampus.


Keduanya memang berbeda jurusan, namun entah hal apa yang membuat mereka akhirnya bisa saling berhubungan seperti sekarang, bahkan terlihat bahwa hubungan keduanya begitu dekat.


Daniel yang begitu peduli dengan Dewi bahkan membuat teman temannya menatap heran, bagaimana bisa Daniel yang notabenenya mahasiswa yang cuek bisa berdekatan secara tiba tiba dengan mahasiswi jurusan kedokteran seperti Dewi.


Walaupun kedekatan mereka sekarang sedang diperbincangkan, namun keduanya masih tetap santai dan memilih untuk sibuk dengan urusan perkuliahan mereka masing masing.


"Wi, sebelum jalan jalan, mau nggak kamu nemenin aku buat pergi ke acara nikahan? Acaranya mendadak dan aku jadi tamunya. " tanya Daniel.


Dewi terlalu cepat bertindak, ia langsung mengiyakan ajakan tersebut, tentu saja hatinya sangat terpaut dengan ajakan Daniel, ia ingin menghadiri acara tersebut bersama dengan Daniel.


"Tentu, saya mau, Daniel. " jawab Dewi.


"Oke, sekarang kita langsung aja ke sana, kita langsung datang ke acaranya. " ucap Daniel.


"Eh, tapi-- "


"Baju? Tenang, disana ada baju, kita bisa sewa baju disana, aku yakin kalau kita bisa langsung sewa dan rias. Aku yang tanggung semuanya. " ucap Daniel.

__ADS_1


Dewi hanya bisa diam, ia menganggukan kepalanya dan menyetujui apa yang disusun oleh Daniel.


"Yok, kita siap siap. " ucap Daniel.


Dewi bengong dan memakai helmnya, ia menaiki motor Daniel, kemudian keduanya pergi menuju ke acara pernikahan.


......................


Sebuah gedung yang sudah berhiaskan ornamen bunga dan semacamnya, semua tamu maupun penjaga pesta hadir di acara tersebut, termasuk Daniel dan Dewi, keduanya sudah berbeda dengan penampilan yang sebelumnya, Dewi dengan baju pesta berwarna ungu muda, dengan rambut blonde beserta hiasan bunga kecil ungu terletak di rambutnya beserta riasan natural dipoles di wajahnya, membuat Dewi terlihat cantik dengan hiasan tersebut.


"Kalau dilihat disini, rata rata tamu undangan menggunakan pakaian serba ungu, sangat menarik. " ucap Dewi kagum.


"Ya, soalnya disini tuh semua tamu undangan diharuskan pakai baju warna ungu, sesuai sama ornamen dan hiasan nikahannya, makanya disini semua harus serba ungu. " jelas Daniel.


Dewi masih menatap kagum, hingga Daniel menyodorkan lengannya denngan Dewi, Dewi menyadarinya kemudian ia menatap ke arah Daniel.


"Ayo, kamu gandeng lengan aku. " ucap Daniel.


Dewi baru ngeh, kemudian ia mengandeng lengan Daniel, keduanya tampak serasi dengan gaya yang sesuai untuk hari ini.


Dewi tersipu malu, akhirnya ia bisa bersama dengan Daniel, ditambah lagi mereka seperti pasangan, tetapi Daniel tetap percaya diri dan sesekali mengelus tangan Dewi.


"Selamat datang! Kirain nggak bakalan datang. "


Daniel dan Dewi disambut oleh salah satu laki-laki, kedua laki-laki tersebut saling bertegur sapa dan bersalaman.


"Mana adikmu? Aku datang ke sini ingin melihat adikmu yang jadi sorotan acara ini. " tanya Daniel.


"Yaampun, makan dulu sana, ntar aja nyamperin adikku, tuh panggung diatas penuh, nanti aja ketemu sama mereka di sana. " ucap laki-laki tersebut.


Daniel dan Dewi tersenyum, keduanya menuju ke prasmanan untuk mengambil makanan.


"Pegang tanganku, kamu ngikut aku aja, nanti biar aku yang ambilin makanan. " ucap Daniel.


Ditengah banyaknya tamu yang sedang mengambil makanan, Daniel juga memegang tangan Dewi, Dewi hanya bisa mengikuti Daniel yang sedaritadi mengenggam tangannya.


"Kenapa cuma satu? " bisik Dewi.


"Porsinya aku lebihin, ini buat kita berdua, sepiring berdua aja ceritanya sekarang. " balas Daniel.


Dewi salah tingkah, selesainya mengambil makanan, keduanya berjalan menuju ke meja makan.


Satu piring dengan porsi yang banyak tertera di atas meja, Daniel dan Dewi memakan makanan mereka bersama-sama sambil bercerita dan bercanda gurau, keduanya terlihat sangat akrab hingga keduanya menjadi pusat perhatian tamu undangan yang ada.


"Buka mulutnya, Wi. "


Daniel memberikan satu suapan untuk Dewi, tentu saja Dewi langsung terkejut dan tersipu, secara tiba-tiba Daniel yang ingin menyuapi makanan untuk Dewi.


Dewi hanya menurutinya, ia membuka mulutnya dan makanan disuapkan di mulutnya, Dewi mengunyahnya dengan rasa malu.


"Enak? " tanya Daniel.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Enak, saya sangat suka dengan makanannya. "


"Makanannya atau suapannya? " tanya Daniel sambil menggoda Dewi.


Dewi tersenyum. "Keduanya. " jawab Dewi.


"Yaudah, sini aku suapin lagi. "


Dewi dan Daniel menikmati makanan mereka, selesainya memakan makanan mereka, keduanya berdiri dan berjalan menuju panggung pelaminan, tujuannya untuk mengucapkan selamat dan pamit untuk pulang dari acara tersebut.


"Bang Daniel?! Kok nggak langsung nyapa aku disini? "


"Nggak, mau makan dulu, kakakmu yang nyuruh abang buat makan dulu. " jawab Daniel.


"Wah, siapa tuh yang lagi digandeng, pacarnya abang ya? "


"Step by step, maunya langsung aja sih, tapi sekarang deketan dulu, jangan terburu buru aja. " jawab Daniel dengan percaya diri.


Dewi benar benar tidak menyangka, bahwa Daniel mengatakan akan bertahap untuk bisa berdekatan dengannya, ia tidak menyangka bahwa Daniel punya perasaan yang sama dengannya.


"Doain aja pokoknya, nanti bakalan nyusul kayak kamu juga. " ucap Daniel.


"Iya deh, semoga cepat nyusul. Yok, kita foto foto dulu. "


Daniel dan Dewi bersama pengantin acara tersebut mengambil foto, mereka mengambil momen yang bagus untuk diabadikan sebagai kenangan, selesainya berfoto keduanya pamit untuk meninggalkan acara pernikahan, karena sebelumnya mereka memiliki janji untuk jalan jalan sehabis menghadiri acara pernikahan.


"Daniel, apa yang kamu katakan barusan tadi, apa itu benar? " tanya Dewi penasaran.


Daniel membalikkan pandangannya, kemudian ia tersenyum.


Dewi terbelalak, wajahnya memerah, tak lama Daniel mendekat dan mencium kening Dewi, hal itu membuat Dewi tidak tahan dan mendramatisirkan ingin serasa pingsan.


"Wi, nggak papa? " tanya Daniel.


Dewi tersenyum malu, kemudian ia menganggukan kepalanya. "Saya baik baik saja, saya tidak menyangka bahwa rasanya berbalas seperti ini, terimakasih. " ucap Dewi.


"Beneran? Berarti kita tuh cocok, iya nggak? " tanya Daniel.


Dewi hanya menganggukan kepalanya, kemudian Daniel menunjukkan jari kelingking dengan Dewi.


"Kita pendekatan dulu yuk, mau? " tawar Daniel.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia mengaitkan jari kelingkingnya dengan Daniel, keduanya resmi sebagai pendekatan sebelum akhirnya memutuskan tahapan yang lebih serius.


"Jalan sekarang yok? "


"Oke, ayo. " jawab Dewi.


Dewi dan Daniel berencana untuk segera pergi, sayangnya Dewi melupakan sesuatu, yaitu makanan anjing untuk Jelly, karena sebelumnya ia lupa memberikan makanan untuk Jelly pada satpam yang tengah menjaga anjing peliharaanya.


"Boleh saya pulang ke kosan dahulu? Karena anjing peliharaan saya belum diberi makanan untuk hari ini. " tanya Dewi.


"Boleh, sekalian juga mau ketemu sama Jelly, pengen lihat tuh tumpukan lemak di kosan kamu. " jawab Daniel.


Akhirnya Dewi dan Daniel memutuskan untuk pergi ke kosan terlebih dahulu, keduanya menaiki motor dan menuju ke kosan.


......................


Butuh setengah jam untuk sampai di kosan, Dewi turun dari motor, kemudian secara tiba tiba Jelly berlari ke arahnya dan menyambutnya dengan meminta Dewi mengelus kepalanya dan memeluknya.


"Jelly, anjing pintar, selama dengan pak Danu, kamu tidak nakal kan? " tanya Dewi.


Jelly menggonggong senang, kemudian Dewi berdiri dan berjalan menuju ke atas, sebelumnya ia meminta Daniel dan Jelly menunggunya di bawah untuk mengambil makanan untuk Jelly.


Daniel dan pak Danu mengobrol bersama, diikuti oleh Jelly yang menyimak keduanya yang tengah mengobrol, tampak ketiga makhluk tersebut sedang berkomunikasi bersama.


Tak lama sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang kosan, Daniel dan pak Danu menatap ke arah mobil tersebut, dari dalam mobil keluar beberapa orang dengan badan yang besar beserta pakaian serba hitam menghampiri Daniel dan pak Danu.


"Apa benar nama kamu Daniel? " tanya orang tersebut.


Daniel menganggukan kepalanya, beberapa orang tersebut saling bertatapan, tak lama dari arah samping salah satu orang orang berbadan besar tersebut melayangkan tinju ke arah Daniel, hingga Daniel tersungkur tak sadarkan diri.


Pak Danu tidak tinggal diam, ditambah Jelly yang menggonggong, karena itu sebuah ancaman bagi mereka yang berada di pos jaga, sayang, pak Danu dipukul hingga pingsan, sedangkan Jelly ditendang hingga membentur dinding, kedua orang tersebut tidak sadarkan diri, Daniel diangkat ke dalam mobil kemudian mobil tersebut melaju dengan kecepatan penuh kemudian menjauh dari kosan.


"Maaf kalau lama-- "


Dewi terkejut, ia melihat pak Danu yang tergeletak tak sadarkan diri di tanah, sementara Jelly yang berdiri dengan tubuhnya yang gemetaran, Dewi menghampiri keduanya dan yang paling utama ia mendekati pak Danu untuk membantunya sadarkan diri.


"Pak, pak Danu...! "


Dewi mencoba menyadarkan satpam yang pingsan, tak lama pak Danu membuka matanya, ia meringis kesakitan dan mencoba untuk bangun.


"Ini pak, diminum dulu. "


Pak Danu meminum air yang diberikan oleh Dewi, Dewi mengelus tubuh Jelly yang terlihat seperti ditendang, dengan suara kesakitan.


"Pak, apa yang sebenarnya terjadi? Dimana Daniel? " tanya Dewi.


Satpam tersebut menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, sepertinya teman eneng tadi pergi, saya tidak tahu terakhir kali temen eneng Dewi perginya kemana. "


Dewi merasa resah, sekarang yang tertinggal hanya motor Daniel saja, Dewi tidak percaya jika Daniel pergi begitu saja entah kemana, ditambah lagi meninggalkan kendaraan kesayangan milik laki laki itu.


Di lain tempat, tepatnya ruangan tertutup dengan cahaya remang remang, Daniel yang tidak sadarkan diri kemudian menatap ke arah sekitarnya, Daniel meringis kesakitan dengan kepalanya yang masih terasa pusing.


"Namamu Daniel, bukan? "


Dari kegelapan suara menggema, Daniel tertuju ke arah suara tersebut dan melihat siapa yang sedang melangkahkan kaki dari kegelapan, ia melihat seorang laki lakii yang berjalan ke arahnya.


"Kamu, kamu siapa?! " teriak Daniel.


Laki laki tersebut adalah Gusti, sengaja ia menyekap Daniel di ruangan gelap tersebut untuk ia interogasi.


"Tak perlu bertanya lebih banyak, anak muda, saya tidak suka anak muda yang cerewet. " ucap Gusti.

__ADS_1


"Kenapa aku disekap? Salah apa aku?! " teriak Daniel.


"Salahmu? Kamu mau tau dimana letak kesalahanmu? "


Satu layangan tinju mendarat di wajah Daniel, Daniel terdorong hingga kebelakang, ia tidak bisa membalasnya karena kaki dan tangannya yang sudah diikat.


"Hentikan! Hentikan! " teriak Daniel.


Bukannya berhenti, Gusti malah memukuli Daniel hingga hidung Daniel mengeluarkan darah segar.


Gusti menghentikan tinjuannya, kemudian ia berdiri di depan Daniel.


"Kamu tahu Dewina? " tanya Gusti.


Daniel menatap dengan tatapan tajam. "Kenapa kamu bertanya soal Dewina? Dewina itu pacarku. " jawab Daniel.


Gusti melayangkan tinjuannya ke wajah Daniel, hingga Daniel terhempas ke samping, Gusti mencekam wajah Daniel dan menatap wajah Daniel dengan tatapan menantang.


"Dengar, gadis yang kamu dekati, Dewina, gadis itu adalah simpanan saya. "


Daniel terkejut, bahkan ia menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya dengan ucapan Gusti, baginya mustahil untuk dipercayai.


"Tidak, tidak mungkin... Nggak, semuanya bohong... " ucap Daniel.


"Kalau begitu, apa kamu tahu lekuk tubuh dan setiap inci keseluruhan Dewina? " tanya Gusti.


"Untuk apa aku tahu? Aku sama sekali tidak tahu, aku tidak pernah menyentuh Dewi, karena Dewi adalah wanita suci! "


Gusti tertawa terbahak bahak, selesainya ia tertawa kemudian ia merogoh kantongnya, satu foto dilemparkan ke arah Daniel dan menunjukkan Dewi yang sama sekali tidak menggunakan apa apa.


Daniel terkejut ketika melihat foto tersebut, bagaimana mungkin gadis polos itu bisa menjadi simpanan, dan juga menjadi mainan untuk laki laki parubaya seperti Gusti.


"Jika kamu tidak bisa menyentuh dan merasakan apa yang ada di tubuhnya, hanya saja sekarang kamu penasaran. Kamu tidak bisa menyentuhnya ataupun menjamahnya, kamu bukanlah laki-laki yang bisa meraih Dewi, bahkan saya sudah menjamah nya. Jadi, jika kamu tidak ingin hidupmu berakhir disini, jangan dekati Dewina lagi, Dewina sudah saya beli! " tegas Gusti.


Gusti menepuk nepuk pipi Daniel yang tengah melotot tidak percaya, kemudian ia berdiri dan memerintahkan anak buahnya untuk membereskan Daniel, Daniel dilepaskan dan ia tidak sadarkan diri saat ia dilepaskan.


......................


Dewi menunggu sekian lama, sayangnya tidak ada tanda tanda Daniel akan datang seperti janji Daniel sebelumnya, akan mengajaknya ketika selesai dari acara pernikahan.


"Neng, daritadi udah nunggu disini terus? " tanya pak Danu.


Dewi yang sedang merenung kemudian menatap ke arah pak Danu, ia menghela nafasnya dan menganggukan kepalanya.


"Iya pak, soalnya jarang sekali teman saya meninggalkan kendaraannya sendiri di tempat lain, apalagi sampai malam begini dia meninggalkan motornya di kosan ini. " jawab Dewi.


"Yasudah neng, yang penting motornya sudah ada di sini, lebih baik eneng balik ke kamar saja dulu. "


Dewi tidak punya pilihan lain, ia mengajak Jelly untuk kembali ke kamar, tak lama salah satu taksi berhenti di depan gerbang kosan dan Dewi melihatnya, Daniel yang keluar dari taksi dengan kondisi yang sudah babak belur.


"Daniel, kamu dari mana saja? Ada apa dengan wajahmu?! " tanya Dewi panik.


Saat Dewi menyodorkan tangannya untuk melihat kondisi Daniel, Daniel menepis tanga Dewi yang ingin meraih wajahnya, kemudian menatap Dewi dengan tatapan benci.


"Wi, kayaknya kita nggak bisa berteman lagi ya, maaf. "


Ucapan tersebut terlalu mendadak bagi Dewi, apalagi Daniel yang memutuskan tidak ingin berhubungan lagi dengan Dewi, itu merupakan mimpi buruk bagi Dewi, padahal sebelumnya Daniel ingin sedang masa pendekatan dengan Dewi.


"Tapi, tapi kenapa? Bukankah kita sebelumnya sudah berjanji ingin meneruskan pendekatan ini, kenapa tiba tiba mendadak kita harus mengakhirinya? " tanya Dewi.


"Maaf, tapi cukup sampai sini saja, jangan diteruskan. "


Dewi menahan Daniel yang ingin pergi meninggalkannya, kemudian ia memegang lengan Daniel, tetapi Daniel menepisnya dan melepaskan tangan Dewi yang ingin menahannya, hingga pilihan lainnya adalah Dewi yang menahan laju kendaraan Daniel dengan menghadang pergerakan motor Daniel.


"Minggir, Dewi. " ucap Daniel.


"Tidak, sampai kamu menjelaskan apa yang terjadi dengan kamu, sehingga kita menjadi terpencar seperti ini! " tegas Dewi.


Daniel mematikan motornya, ia melepaskan helmnya dan turun dari motornya, Daniel berjalan dan menghampiri Dewi, dengan berdiri di depan Dewi.


"Kamu mau tau apa penyebabnya? " tanya Daniel.


Daniel mengambil sesuatu di kantongnya, kemudian ia melemparkan sebuah foto di wajah Dewi, Dewi terkejut melihat foto yang dilemparkan dan ia melotot tidak percaya, bagaimana sebuah foto dirinya yang tidak menggunakan apapun bisa jatuh di tangan Daniel.


"Aku kira kamu cewek baik, Wi, dari suara dan sikap kamu yang buat aku yakin sebelumnya, sayangnya aku terkecoh, kamu nggak jauh dari cewek cewek dikampus, murahan! " teriak Daniel.


Dewi terkaku, ia tidak percaya bahwa Daniel secara lantang menyebutnya dengan sebutan murahan.


"Cukup sampai disini, jangan sampai kamu ketemu sama aku lagi atau apapun itu, aku nggak sudi kenal sama pel*cur kayak kamu! "


Daniel meninggalkan Dewi yang berdiri tak bergeming, ia memutuskan untuk pergi tanpa menghiraukan Dewi yang diam karena ucapannya.


Dewi tersungkur, ia tidak percaya, bahwa kedok aslilnya terbongkar karena sebuah bukti yang menunjukkan bahwa ia yang sebenarnya, Dewi dihancurkan oleh kebodohannya sendiri.


......................


Beberapa hari berlalu, Dewi merasa bahwa ia benar benar sendiri, Eni yang tidak tahu dimana, sedangkan Daniel laki laki yang ia kagumi sekarang menjauh darinya karena sebuah bukti, tidak ada hari indah untuknya.


Disaat Dewi ingin bertegur sapa dengan Daniel, Daniel acuh, ia memalingkan wajahnya, Dewi benar benar dianggap menjijikan untuk Daniel, hal itu membuat Dewi sedih, karena orang yang ia kagumi sekarang pergi meninggalkannya.


Bahkan pekerjaan Dewi tidak sebagus sebelumnya, Dewi terlarut dalam pikirannya, sambil bekerja saja ia melamun karena pikirannya yang sudah menelannya.


"Wi, Dewi! "


Dewi tersadar, ia menatap ke arah sampingnya, ternyata Cantika yang mengagetkannya.


"Cantika, kamu mengagetkan saya saja. " ucap Dewi.


"Hahahahaha, maaf. " ucap Cantika.


Dewi menggelengkan kepalanya, ia mencuci tangannya dan mengeringkan tangannya, rencananya ia akan segera menyusun piring.


"Wi, boleh ngaku nggak sih gua sama elo? " tanya Cantika.


Dewi yang sedang mencuci piring dan peralatan dapur lainnya menatap ke arah Cantika, ia bahkan menghentikan pekerjaannya yang sebelumnya dan menanyakan kembali pertanyaan dari temannya itu.


"Nanya apa, Can? " tanya Dewi.


Cantika mendekat, ia mengambil kedua tangan Dewi dan menciumnya, Dewi terkejut namun ia hanya bisa terdiam walaupun ekspresi nya tidak dapat berbohong.


"Gua suka sama lo, Wi, dari awal ketemuan sorot mata gua nggak lepas dari lo sendiri, Wi. " puji Cantika.


"Maksudnya? " tanya Dewi.


Cantika mengangkat tangan Dewi dengan tegas, kemudian menciumnya lebih dalam.


"Lo mau jadi pasangan gua, Wi? " tanya Cantika.


Dewi terdiam, ia tidak bisa melakukan apa apa selain diam, sedangkan Cantika langsung mencium bibir Dewi dengan singkat, Dewi mundur dan menjauh dari Cantika.


"Kamu gila, Can, bagaimana bisa kamu suka dengan saya? Saya masih normal, kakmu harus tahu itu! " tegas Dewi.


Dewi meninggalkan Cantika yang terdiam, sementara Cantika menggeram kesal dengan Dewi yang menolaknya.


......................


Waktu kerja sudah habis, Dewi berencana ingin segera pulang, ia menjauh dari halte agar tidak bertemu dengan Cantika, karena ia takut dengan wanita tidak normal seperti Cantika.


Dewi duduk di trotoar, ia kemudian merenungi apa yang terjadi padanya.


Saat tengah merenung, secara tiba tiba seseorang menutup mulut dan hidung Dewi dari belakang, Dewi memberontak untuk dilepaskan, sayangnya mungkin ada efek obat pada kain, membuat Dewi akhirnya pingsan, pandangannya seketika menghitam.


Samar samar suara lagu terdengar di telinga Dewi, Dewi mendengar bahwa lagu tersebut membangunkannya hingga ia terbangun dari tidurnya.


"Sudah bangun, manis? "


Dewi kenal dengan suara tersebut, ia berusaha membuka matanya yang kabur kemudian tak lama pandangannya kembali jernih, Dewi tersadar dari pingsannya.


"Om, kenapa saya ada disini?! "


"Kenapa ada disini? Karena saya yang berkehendak, Dewina. " jawab Gusti.


Dewi disekap, ternyata semuanya adalah ulah dari Gusti yang tidak ingin melepaskannya dengan semudah itu, sekarang ia terkurung di dalam hotel, tempat baru yang belum sama sekali ia tempati.


"Om, kenapa om tidak ingin sedikitpun melepaskan saya? " tanya Dewi dengan lirih meminta iba.


Gusti tersenyum. "Because you it's mine, and you it's my b*tch. "


Dewi tidak mengerti sama sekali, bahkan Gusti memutar matanya dan tangannya langsung mencekam dagu Dewi.


"Artinya kau adalah milikku, dan kau adalah pel*curku. " jelas Gusti.


Dewi terkejut, kemudian Gusti melepaskan cekaman tersebut dan meninggalkannya, Dewi tak menyangka bahwa ia akan serendah itu dimata Gusti, ditambah lagi ia yang secara langsung dikatakan pel*cur oleh Gusti, Dewi dikurung di hotel tersebut dengan pintu yang terkunci dari luar.


"Serendah itukah diriku? "

__ADS_1


Dewi menangis, tak ada satupun cara yang dapat ia lakukan selain menangis di ruang yang terasa hampa tersebut.


...****************...


__ADS_2