Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
71: Kakak


__ADS_3

Suara tawa anak kecil terdengar di ruangan, Arin yang sedang menjaga Galuh berusaha mengejar anak asuhnya itu, karena Galuh sangat lincah dan aktif, sehingga hampir pergerakan bocah laki laki itu susah untuk digapai.


Tawa riang Galuh menggema ke seluruh ruangan, hingga akhirnya ia berlari ke luar kamar, baby sitter Arin mengejar Galuh yang berlari ke luar kamarnya.


"Dek Galuh, jangan berlari ke sana. "


Baby sitter yang menjaga Galuh terus saja merasa kelelahan, karena masa masa menginjak usia 2 tahun, Galuh sangat aktif, perlu tenaga ekstra untuk bisa menjaga anak yang terbilang hiperaktif itu.


Kali ini Galuh tertarik di sebuah ruangan yang berbeda, dari luar saja terlihat susunan tas tas mewah yang tersusun rapi di dalam lemari kaca, tepat sekali Galuh ingin memasuki ruangan tempat koleksi tas tas mewah milik Bella.


"Dek Galuh, tunggu mbak. "


Galuh berlari kecil memasuki ruangan milik Bella, di dalam ruangan tersebut ia mengintip siapa yang berada di ruangan tersebut, dan Galuh kecil itu melihat Bella bersama beberapa asistennya sedang membereskan tas tas yang ada.


"Ma, mama... " panggil Galuh.


Bella terkejut ketika melihat Galuh yang tiba tiba memasuki ruangan tersebut, ia juga menatap kesal ke arah anak berusia 2 tahun itu memasuki ruangannya, dan juga ia merasa kesal ketika Galuh masuk ke ruangannya.


"Jangan berada di ruangan saya! " ancam Bella.


Tidak ada kasih cinta yang dapat dirasakan oleh Galuh, walaupun anak berumur 2 tahun itu belum mengerti, tetapi ia menunjukkan wajah ketakutannya ketika Bella mengancamnya.


Baby sitter Arin memasuki ruang tas milik Bella, ia langsung memegang Galuh yang berusaha berjalan mundur, ia yakin bahwa tuan mudanya itu terlihat sudah dimarahi oleh Bella.


"Arin, kamu tidak bisa menjaga anak ini? Saya tidak suka ya kalau dia masuk ke ruangan saya sembarangan, saya benci hal itu! " tegas Bella.


Arin menggendong Galuh, sedangkan Galuh memeluk baby sitternya itu dan melihat ke arah Bella dengan tatapan ketakutan, namun Arin tahu bagaimana cara mencairkan suasana.


"Maaf ya, mama, Galuhnya nggak sengaja masuk ke dalam ruangan mama. " ucap Arin mewakilkan Galuh.


"Sudah, ajak dia keluar, saya sibuk sekarang. " perintah Bella.


Arin menganggukkan kepalanya, dengan membawa Galuh ke luar, mereka keluar dari ruangan tersebut.


"Mbarin, itu... " tunjuk Galuh.


"Iya, dek Galuh main lagi ya di ruangannya. " ucap Arin.


Galuh menganggukkan kepalanya, ia dibawa ke ruang playground dan diturunkan, ekspresi wajahnya kembali ceria dan bermain kembali dengan asyik.


"Dek Galuh sambil makan ya? Mbak Arin ambilkan di bawah. " tanya Arin.


"Socis, Aluh mau socis... " ucap Galuh.


Arin menganggukkan kepalanya, sebelumnya ia menaruh Galuh di tempat yang aman untuk ditinggal bermain sendiri, sementara baby sitter itu keluar dari ruang playground untuk mengambil makanan Galuh.


.


"Nanti saya akan ke sana, tunggu ya. "


Terlihat seorang gadis yang sedang berjalan menuju ke tangga dengan menelpon seseorang. dia adalah Gita, anak kuliahan itu baru saja pulang dari kampusnya, dan sekarang mendapat telpon lainnya, seperti ada janji bertemu di suatu tempat.


Gita menghela nafasnya, ia tampak lelah dengan hari yang ia hadapi sekarang, dan juga rencananya ingin segera beristirahat saja di kamarnya.


"Kak.... Kakak... "


Suara halus itu memanggil ke arah Gita, gadis yang baru saja pulang dari kampus kemudian menghentikan langkahnya, ia menatap ke belakang dan melihat seorang anak kecil laki laki itu berjalan kecil ke arahnya, kemudian memeluk kakinya.


"Kakak... Kak... " panggil Galuh.


Panggilan tersebut membuat gadis itu luluh, Gita langsung berlutut dan menadahkan kedua tangannya untuk meraih bocah laki laki itu yang memeluk kakinya, dan mengendongnya ke pangkuannya.


"Galuh, habis bermain sama mbak Arin? " tanya Gita.


"Aluh mam socis, enak kak. " jawab Galuh.


"Sudah makan ya? Sekarang mau ngapain? " tanya Gita.

__ADS_1


Galuh meminta untuk dilepaskan, Gita menurunkan Galuh, kemudian tangannya ditarik oleh Galuh, Gita mengikuti adiknya itu dan mereka berjalan menuju ke ruang playground.


"Kakak lihat Galuh main saja ya, habisnya kakak capek dari kampus. " ucap Gita.


Bukannya merengek dan menangis, Galuh begitu mengerti, sambil mengambil mainannya, ia berlari ke belakang punggung Gita dan mendorong punggung Gita dengan lembut layaknya sedang memijat.


"Aluh pijat, kakak capek. " ucap Galuh.


Gita dan Arin tersenyum kemudian tertawa, sementara Galuh masih fokus memijat punggung Gita, cukup lama Galuh memijat punggung Gita, Galuh juga mencium punggung kakaknya itu.


"Kakak sembuh ya, capeknya ilang ya. "


Gita merasa gemas melihat perlakuan adiknya, ia berbalik dan memeluk Galuh kemudian mencium pipi adiknya itu, Galuh tertawa ketika pipinya dicium oleh Gita.


"Mau makan puding dengan kakak? Kemarin kakak beli puding, masih ada setengah karena belum habis. " tawar Gita.


"Mau, aluh mau! " jawab Galuh dengan semangat.


"Tapi serius, Galuh sudah makan kan? " tanya Gita meyakinkan.


"Dek Galuh sudah makan dengan mbak, nona Gita, syukurlah makannya lahap. " jawab Arin.


"Bagus, kalau begitu Galuh boleh makan puding sama kakak. Ayo, sini kakak gendong. " ucap Gita.


Galuh langsung menadahkan tangannya, Gita meraih tubuh kecil itu kemudian membawanya menuju keluar kamar, sepanjang Gita menggendong Galuh, ia selalu mendengar ocehan adiknya itu yang menceritakan berbagai macam imajinasi kanak kanaknya.


"Nona Gita, selamat sore. " sambut asisten lainnya.


"Selamat sore, oh iya mbak, boleh saya minta tolong untuk ambilkan puding di dalam kulkas lantai bawah? Saya dan adik saya ingin memakannya. " mohon Gita.


"Baik nona, akan saya ambilkan. "


Gita menaruh Galuh di kursi meja makan, bocah laki laki itu terus tersenyum menatap Gita, sambil menunggu puding yang sudah dijanjikan itu dibawa oleh asisten mereka.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya puding yang diminta telah tiba, Gita mengambilnya dan memberikannya kepada Galuh, keduanya memakan puding itu, Gita menikmati pudingnya dan mendengar celotehan adiknya itu yang sangat menghiburnya dikala ia lelah pulang dari kampus.


.


Gita yang sedang berbaring di kasur yang ada di ruang playground kemudian membuka matanya, dirinya terasa berat untuk mengajak adiknya bermain.


"Iya, kakak ngantuk, boleh kakak tidur disini? " tanya Gita.


Galuh menganggukkan kepalanya, tangan kecilnya meraih wajah Gita, kemudian mengelus wajah Gita dengan pelan.


"Kakak bobok ya, Aluh main dulu. " ucap Galuh.


Galuh meninggalkan Gita yang sedang tertidur, bocah laki laki itu kembali ke tempat bermainnya dengan ditemani oleh baby sitternya.


"Mbarin juga mau bobok sama kakak? " tanya Galuh sambil menunjuk ke arah Gita.


"Tidak, mbak mau temani dek Galuh main dulu. " jawab Arin.


Galuh kembali bermain, dengan riang dan asyik sendiri, ia bermain dengan imajinasi yang ada di pikirannya itu.


"Dimana Anggita? "


Di ruang kerja milik Gusti, Gusti mencari keberadaan anak sulungnya, ia bertanya dengan asistennya tentang keberadaan Gita.


"Setahu saya, nona Gita ada di ruangan playground bersama adik Galuh, sebelumnya tadi nona Gita dan adik Galuh di bawah, sepertinya sekarang mereka berada di ruang playground lagi. " jelas Ruben.


Mendengar hal yang berhubungan dengan Galuh, Gusti langsung kesal, tanpa berpikir panjang pria dewasa itu beranjak dari kursi meja kerjanya.


"Tuan, tuan Gusti. " panggil Ruben.


Gusti berjalan menuju ke ruang bermain, tak lama setelahnya ia bertemu dengan Bella yang baru saja keluar dari ruangannya.


"Ada apa? " tanya Bella.

__ADS_1


"Saya ingin menyusul ke ruang playground, tampaknya Gita ada di sana. " jawab Gusti.


Bella juga tidak tinggal diam, tampak sekali mereka sangat benci mendengar hal yang berkaitan dengan Galuh, kedua pasangan itu segera menyusul ke arah ruang playground.


Saat keduanya menyusul ke ruangan tersebut, dari pintu ruangan tersebut mereka melihat anak sulungnya yang sedang terbaring, tentu saja itu langsung menyulut emosi keduanya.


"Anggita! "


Pemilik nama tersebut langsung membuka matanya, bersamaan dengan baby sitter dan bocah laki laki yang berada di ruangan tersebut juga terkejut, karena secara tiba tiba seseorang berteriak di ruangan tersebut.


Bella langsung masuk, Gita yang melihat ibunya itu yang berjalan tergesa gesa ke arahnya, dan Bella menarik tangan anak sulungnya itu.


"Mama, kakak mau bobok... " ucap Galuh.


"Diam, ini bukan urusan kamu, anak sialan! " bentak Bella.


Baru kali itu akhirnya Galuh benar benar ketakutan, bocah laki laki itu langsung berlari memeluk baby sitternya, sementara Gita dibawa oleh Bella keluar ruangan tersebut.


"Mah, lepaskan Gita! "


Gita memberontak, ia mencoba melepaskan tangannya dari cengkaman Bella, mereka bertiga akhirnya memulai perdebatan di lorong rumah.


"Mama dan papa sebelumnya kenapa sih? Kalian tidak lihat kalau Galuh sampai ketakutan karena dibentak? " protes Gita.


"Untuk apa kamu mengajaknya bermain? Bukankah sudah mama bilang, jauhi anak itu. " ucap Bella.


Gita terkejut ketika Bella mengatakan hal tersebut, baginya sangat kejam ketika ucapan itu seolah sedang menghasutnya untuk tidak sama sekali bermain bersama adiknya.


"Mama sangat tega kepada Galuh, memang apa kesalahan yang Galuh perbuat dengan mama? Bukankah dia cuma bayi berumur 2 tahun yang ingin bersama dengan kita sebagai keluarganya? " tanya Gita.


"Dia hanya anak adopsi, kami mengambilnya karena kami hanya mengasihani kehidupan ibunya yang tidak jelas! Jika saja bukan karena itu, tidak mungkin anak itu tinggal di rumah kita! " bentak Bella.


Setelah membentak Gita, Bella langsung meninggalkan kedua orang yang ada di lorong tersebut, Gita mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya. kemudian ia melihat ke arah Gusti.


"Papa, jika mama membenci Galuh, apakah papa demikian juga seperti itu? " tanya Gita.


Gusti hanya diam, ia menggelengkan kepalanya, ia meninggalkan Gita yang mengajaknya untuk berdebat, hal tersebut membuat Gita menjadi sedih karena tindakan dari kedua orangtuanya yang terlihat acuh dengan Galuh, adik angkatnya itu.


Gita memilih kembali ke ruang bermain, ia melihat Galuh yang sedang berpelukan dengan baby sitter, gadis itu berjalan mendekat untuk meraih adiknya itu.


"Galuh. " panggil Gita.


Galuh berbalik, kemudian Gita meraih tubuh kecil itu, dan Galuh langsung memeluk Gita dengan erat.


"Galuh takut? " tanya Gita.


"Mama marah, Aluh takut... " jawab Galuh.


Gita mengelus rambut adiknya.


"Tidak apa apa ya, mama sedang pusing, kamu main lagi ya, kakak temani Galuh main. " ajak Gita.


Galuh menganggukkan kepalanya, ia melepas pelukannya, kemudian kembali bermain, Gita kali ini menemani adiknya bermain dan mencoba menghibur Galuh yang terlihat masih syok karena di bentak.


Tak lama bermain, Galuh terlihat mengucek kedua matanya, Arin menyuruh Gita untuk diam, karena itu adalah tanda tanda Galuh mengantuk dan ingin segera tidur.


"Mbarin, Aluh ngantuk... " lirih Galuh.


Arin meraih tubuh Galuh, ia menggendong Galuh, Galuh menyenderkan kepalanya di bahu baby sitternya kemudian tertidur.


"Nona Gita, saya bawa adek Galuhnya ke kamarnya dulu ya. " ucap Arin.


Gita menganggukkan kepalanya, kemudian Arin membawa Galuh keluar dari ruang bermain, bersamaan dengan Gita yang keluar dari ruang bermain tersebut untuk kembali ke kamarnya.


Saat berjalan menuju ke kamarnya, pikiran Gita mengarah kepada Galuh, ia merasa kasihan ketika mengingat nasib adiknya itu, begitu tidak beruntungnya nasib adik angkatnya selama 2 tahun berada di rumahnya, masih sekecil itu saja Galuh harus menanggung kebencian dari kedua orangtuanya, bahkan ia berpikir lebih baik Galuh diberikan lagi dengan ibunya daripada harus tinggal bersama kedua orangtuanya.


'Galuh, kalau saja kakak tahu nasib kamu seperti ini, kakak akan kembalikan lagi kamu kepada ibumu, karena kamu hanya anak kecil yang tidak tahu apa apa harus menghadapi keluarga kakak yang bermasalah. '

__ADS_1


***************


__ADS_2