Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
74: Celah


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


"Huftt, melelahkan. "


Terlihat seorang gadis dengan wajahnya yang terlihat lelah, Gita barusaja pulang dari kantor perusahaan yang tengah ia pegang sekarang, ketika selesai mengurusi berbagai macam keperluan sebelum hari wisudanya tiba.


"Selamat datang, nona Gita. " sambut asisten rumah.


Gita membalas sambutan itu dengan senyuman, dari tangga terlihat baby sitter Arin turun dari tangga, Gita menyadari bahwa ada yang kurang dengan baby sitter itu, tanpa ada Galuh yang bersamanya, apalagi kondisi saat itu masih belum malam larut.


"Mbak Arin. " panggil Gita.


Arin menoleh ke arah Gita, baby sitter itu kemudian menghampiri Gita yang barusaja terlihat pulang dari luar rumah.


"Iya nona Gita, ada yang bisa saya bantu? " tanya Arin.


"Eummm, dimana Galuh? Nggak biasanya dia tidak terlihat bersama dengan mbak Arin? " tanya Gita.


"Dek Galuh tiba tiba terserang demam, nona Gita, sekarang saya menunggu dokter anak untuk datang kemari. " jawab Arin.


Gita sedikit membelalakkan matanya.


"Demam? Dimana dia sekarang? " tanya Gita.


"Dek Galuh ada di kamar, nona Gita bisa menyusul dek Galuh langsung di kamarnya. " jawab Arin.


Gita menganggukkan kepalanya, ia berjalan menuju ke tangga, berjalan menuju ke kamar adik bungsunya, kemudian menghampiri bocah kecil yang terlihat sedang memejamkan matanya, wajah kemerahan serta tubuh yang tampak gelisah itu membuat Galuh tidak nyaman dengan keadaannya.


"Galuh. " panggil Gita.


Galuh membuka matanya, dengan mata yang ikut memerah itu kemudian menatap sayu ke arah Gita, dan terlihat ingin menggapai Gita.


"Kakak... " lirih Galuh.


Gita mendekat, Galuh berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya, di pinggir ranjang Gita memeluk bocah laki laki itu, terasa suhu tubuh Galuh memang tengah terserang demam, Gita mengelus rambut adiknya itu dengan lembut dan memegang kening hingga dagu bocah kecil itu.


"Panas sekali. " gumam Gita.


"Kakak, tenggorokkan Galuh sakit... "


Suara serak dan terbata bata itu dapat menjelaskan kondisi Galuh sekarang, bahwa bocah itu juga terkena radang tenggorokan juga, Gita yakin bahwa adiknya itu pasti memakan makanan yang membuat tenggorokkannya tidak nyaman.


"Galuh begini pasti makan sembarangan, iya kan? " tanya Gita.


Galuh menatap ke arah Gita, ia menggeleng pelan.


"Bohong, kakak tahu, kamu tidak akan seperti ini kalau tidak makan sembarangan. Hayo, sekarang ngaku, kamu makan eskrimnya banyak kan? " tanya Gita.


Galuh diam, akhirnya ia menganggukkan kepalanya, Gita tersenyum dan mengelus rambut Galuh.


"Sekarang, udah tahu kan efek setelah makan eskrim banyak banyak itu apa jadinya? " tanya Gita.


"Sakit tenggorokkan sama demam, sakit... "


Galuh meneteskan air matanya, sementara Gita meminta Galuh untuk tidak mengobrol lagi dengannya, sembari menunggu dokter anak yang telah dihubungi sebelumnya akan datang mengobati Galuh.


Tak lama setelahnya, baby sitter Arin bersama dengan dokter anak kemudian datang ke kamar Galuh, Arin menjelaskan keluhan yang tengah dialami oleh Galuh, kemudian dengan telaten dokter anak tersebut memeriksakan keluhan yang dialami oleh Galuh, terutama dengan tenggorokkan bocah laki laki itu yang selalu mengeluh kesakitan.


"Radang tenggorokan beserta batuk dan pilek, saya akan memberikan obat untuk adiknya. " ucap dokter anak tersebut.


"Nama kamu siapa, sayang? " tanya dokter anak tersebut kepada Galuh.


"Galuh Aditya Khairul Pratama... " jawab Galuh dengan lirih.


Dokter tersebut mencatat nama Galuh di kertas, kemudian dengan obat yang telah dibawakan oleh dokter tersebut, Arin mengambilnya dan mendengarkan penjelasan mengenai dosis dan aturan minum yang harus Galuh minum nantinya.


"Setelah ini, jangan jajan atau makan makanan serta minuman sembarangan ya, Galuh, karena sekarang banyak anak anak yang demam dan sakit tenggorokan. " ucap dokter anak tersebut.


"Iya dokter, Galuh mengerti... " jawab Galuh.


Dokter anak tersebut pamit untuk segera pulang setelah memeriksa keadaan Galuh, Arin menyiapkan obat yang akan diminum dengan Galuh nantinya, sedangkan Gita menemani adiknya itu yang akan minum obat.


"Dek Galuh, mohon diminum ya obatnya. "


Arin menyendokkan sesendok obat yang diberikan oleh dokter anak sebelumnya, Galuh menuruti perkataan baby sitternya, ia membuka mulutnya dan mulai meminum obatnya, reaksi wajahnya berubah begitu selesai ia meneguk obat yang diberikan oleh baby sitternya.


"Mbak Arin, rasanya pahit... " keluh Galuh.


"Tidak apa, dek Galuh, walaupun pahit, asalkan tenggorokan sama demam adek Galuh bisa sembuh. " jawab Arin.


"Kakak tanya sama kamu dek, memangnya kamu mau terus sakit tenggorokan seperti ini, Galuh? " tanya Gita.

__ADS_1


Galuh menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Galuh tidak mau minum obat pahit terus terusan... " jawab Galuh.


Arin menyendokkan air minum ke mulut Galuh, tiga sendok air minum itu diteguk oleh Galuh setelah bocah kecil itu meminum obat yang dirasa pahit olehnya, kemudian Galuh dibujuk untuk segera tidur oleh baby sitter serta kakaknya itu.


"Sekarang tidur ya, biar Galuh cepat sembuh, kakak juga mau istirahat. " ucap Gita.


Galuh menganggukkan kepalanya, Gita keluar dari kamar adik bungsunya, sementara Arin menyelimutkan tubuh bocah laki laki itu dengan selimut, kemudian membantunya untuk bisa tertidur.


Efek obat yang telah diminum membuat Galuh merasa mengantuk, suara dengkuran halus terdengar di telinga Arin, baby sitter itu kemudian menempelkan satu kompres panas khusus anak anak di kening Galuh, dan keluar dari kamar bocah laki laki itu untuk ikut beristirahat di kamar yang tak jauh dari kamar Galuh.


......................


Setelah beberapa hari berlalu, demam yang dialami oleh Galuh, terlihat bahwa bocah kecil itu kondisinya sudah membaik, sekarang terlihat bahwa Galuh begitu aktif dan ceria seperti sebelumnya.


"Dek Galuh, ayo sarapan di bawah. "


Arin yang membantu Galuh untuk bersiap siap ke sekolah kemudian mengajak bocah laki laki itu untuk sarapan terlebih dahulu, keduanya keluar dari kamar kemudian menuju ke bawah.


Di ruang makan, terlihat bahwa satu keluarga sudah berkumpul di ruang makan tersebut, Galuh yang sebelumnya merasa canggung kemudian teralihkan kepada kakaknya, Gita mengajaknya untuk duduk dan menikmati sarapan bersama.


"Sini dek. " ajak Gita.


Galuh menganggukkan kepalanya, dibantu oleh Arin, Galuh naik ke kursi dan makannya disiapkan oleh asisten dan pembantu yang berada di ruang makan tersebut.


Galuh sangat menikmati makanannya, dengan makanan kesukaannya yaitu sosis, Galuh begitu lahap memakannya hingga ia merasa bahwa makanannya masih kurang.


Gerak gerik dari Galuh tampak diperhatikan oleh Gita, gadis itu tahu bahwa adiknya itu masih ingin sosis lagi, ia berinisiatif untuk menawarkan sosis yang diambilnya untuk Galuh.


"Galuh mau sosis? " tanya Gita.


"Boleh, Galuh mau! " jawab Galuh bersemangat.


Tawa riang dari Galuh membuat Gita dan Gina ikut tersenyum dan tertawa, ketiga anak anak tersebut tampak bersemangat untuk mengobrol, sampai mereka tidak sadar ada pandangan lain yang tidak menyukai pemandangan tersebut yang dianggap sangat mengganggu.


Gusti menggebrak mejanya, ketiga anak itu terkejut ketika Gusti menggebrakkan meja makan, hanya Bella saja yang terlihat santai ketika suaminya itu menggebrak meja.


"Galuh, jika kamu tidak bisa tenang makannya, saya tidak segan menyuruh baby sittermu untuk mengajakmu makan di halaman belakang saja! " tegas Gusti.


Galuh yang awalnya riang kemudian langsung terdiam, wajah murung ketakutannya membuat bocah laki laki itu kembali memakan makanannya, dalam beberapa suapan, Galuh mengatakan bahwa ia sudah kenyang dan meminta baby sitternya untuk membantunya turun dari kursi.


"Dek Galuh sudah selesai? " tanya Arin.


......................


Tiba pukul 1 siang, itu adalah jadwal Galuh untuk pulang, Arin yang sudah menanti di gerbang sekolah Galuh kemudian membimbing bocah kecil itu naik ke mobil, kemudian supir mobil tersebut menjalankan mobilnya menuju ke rumah.


Sepanjang perjalanan, Galuh selalu saja bercerita tentang dirinya selama di sekolah, Arin begitu senang ketika tuan mudanya itu bercerita tentang keseharian anak sekolahan yang menyenangkan.


Sesampainya di kediaman keluarga Gusti, Galuh bersama Arin kemudian turun, bocah laki laki itu keluar dengan riang dari dalam mobil menuju ke dalam rumah, ia disambut oleh asisten rumah yang lewat.


"Selamat siang, tuan muda. "


Di ruang tengah, seorang yang sangat Galuh sayangi, yaitu Gita, terlihat tengah duduk bersama dengan Bella, tampak bahwa obrolannya sangat menyenangkan hingga kakaknya itu tersenyum.


"Kak Gita! "


Pandangan Gita dan Bella mengarah ke arah ruang utama, tentu saja respon dari keduanya berbeda, ditambah lagi dengan Galuh yang berlari ke arah mereka.


Gita menyambut adiknya dengan pelukan hangat, sembari mencium kepala Galuh, Gita juga merasa gemas dengan adiknya itu.


"Pulang sekolah? " tanya Gita.


"Iya! Tadi Galuh main sama teman teman, asyik sekali kak! "


Galuh begitu antusias menceritakan harinya kepada Gita, Gita begitu menyimak obrolan adiknya itu, sedangkan Bella tidak peduli dengan obrolan tersebut dan memalingkan wajahnya.


"Begitu kak, asyik kan? " tanya Galuh.


"Tentu saja, kakak juga pernah seperti Galuh, memang menyenangkan, kakak mau seperti itu lagi. " jawab Gita.


"Sudahlah Gita, masa kecilmu setidaknya jauh lebih baik daripada anak itu. Kamu adalah anak saya, sedangkan dia tidak tahu asal usulnya. " cibir Bella.


"Mama, jangan berbicara seperti itu di depan Galuh. Bukannya papa dan mama sendiri yang ingin merawat Galuh? Gita rasa, mama seharusnya menyayangi Galuh, karena Gita tahu, Galuh ini anak baik, buktinya saja dia tidak pernah nakal dan rewel, Galuh anak yang penurut, sama seperti kami berdua. "


Gita menjelaskan tentang Galuh kepada ibunya itu, walaupun ia tahu, bahwa Bella tidak akan peduli, namun ia terus saja berusaha meyakinkan Bella untuk bisa menyayangi adiknya sama halnya seperti menyayanginya dan


Gina.


"Jadi Gita mohon, mama jadilah ibu yang baik, bagaimanapun Galuh jadi anaknya mama juga kan? " tanya Gita.

__ADS_1


Ekspresi wajah Bella tampak tidak senang, Gita mengelengkan kepalanya kemudian beranjak dari sofa meninggalkan Galuh dan Bella.


Ketika Galuh ingin menyusul, secara tiba tiba lengannya ditahan, Galuh menatap ke belakang, Bella yang mengenggam lengannya, kemudian Bella menarik lengan Galuh dan beranjak dari kursi sofa.


Galuh sudah ketakutan, ia ditarik ke arah tangga menuju ke kamar oleh Bella, dan sesampainya di kamar, Bella melemparkan lengan Galuh dan menampar wajah kecil itu, alhasil Galuh langsung melirih kesakitan dan mengeluarkan air mata.


"Heh, kamu hasut apa kepada anak saya, sampai sampai dia menuduh saya kepada hal yang tidak benar?! "


Dengan nada suara yang tinggi, Bella melontarkan pertanyaan kepada Galuh, bocah laki laki itu dengan perasaan ketakutan tentu saja dirinya seketika gemetaran dan menggelengkan kepalanya.


"Galuh tidak menghasut kakak Gita, mama... " lirih Galuh.


"Kamu itu bukan anak saya! Berhentilah menghasut kedua anak saya untuk bisa menyayangimu, mengerti?! " bentak Bella.


Galuh dengan air matanya yang mengalir kemudian menganggukkan kepalanya, hanya karena Gita yang meminta Bella untuk bisa menyayanginya, alhasil Galuh terkena imbasnya.


Bella keluar dari kamar Galuh, dengan menutup pintu kamar itu dengan kasar, Galuh sendiri sampai ketakutan dibuatnya, tak lama setelahnya, Arin masuk ke kamar dan memeluk Galuh yang menangis ketakutan.


"Mbak Arin... "


"Dek Galuh tidak apa apa kan? " tanya Arin.


"Pipi Galuh sakit... " lirih Galuh.


Arin mengelus pelan pipi Galuh, dan memastikan bocah laki laki itu tidak lagi menangis.


Tiba waktu malam hari, setelah makan malam, Galuh bersama dengan Arin bermain bersama di ruang playground, seperti biasa Arin menemani Galuh hingga jam tidur tiba.


Sekarang Galuh sangat menyukai bola, selalu saja Galuh bermain bola hingga bola yang ditendangnya keluar dari ruang bermain, dan kali ini bola tersebut terlempar ke arah ruang kerja Gusti.


Galuh kehilangan bolanya, di ruangan playground, Arin terlihat sedang menyusun mainan yang diminta oleh Galuh, Galuh berinisiatif untuk keluar dari ruang bermain itu untuk mengambil bolanya.


Galuh berjalan ke arah ruang kerja Gusti, perlahan ia membuka pintu itu secara lebar, ruang kerja yang klasik itu membuat Galuh hampir hilang tujuan awalnya, ia mengambil bolanya dan melihat ruang kerja tersebut, bocah itu merasa kagum, karena berpikir bahwa ayahnya itu suka dengan ruang kerja itu hingga jarang sekali terlihat di ruangan lain rumah tersebut.


"Apa yang kamu lakukan! "


Nada suara bentakan terdengar menggema di ruangan tersebut, tentu saja bocah kecil yang bernama Galuh itu terkejut, ia tahu bahwa itu suara dari ayahnya, Gusti.


Galuh berbalik, sepasang kaki sudah berada di depannya, ia menatap ke atas, tatapan emosi Gusti sudah membuatnya ketakutan, tak lama setelahnya, telinga Galuh ditarik hingga bocah itu meringis kesakitan.


"Sakit papa! " teriak Galuh.


Gusti langsung melepaskan tarikan tersebut dengan kasar, sehingga Galuh sedikit terdorong ke samping.


"Anak bodoh! Beraninya kamu masuk ke ruangan saya! Kamu tahu bahwa saya sangat benci jika kamu masuk ke sini! Dasar anak tidak berguna, anak setan! "


Lontaran kata kata kasar itu hingga membuat Gita dan Arin memasuki ruangan tersebut, kedua wanita itu melihat Galuh yang sudah mengenang air matanya meminta bantuan, Arin langsung menghampiri bocah kecil itu, Galuh akhirnya menangis di depan baby sitternya, Arin mengendong Galuh menuju keluar ruangan, sedangkan Gita menatap tidak senang ke arah Gusti.


"Pah, kenapa papa kasar banget sama Galuh? " tanya Gita tidak senang.


"Anak itu membuat papa marah! Beraninya dia masuk ke ruangan dengan bola mainannya itu! " bentak Gusti.


"Cuma bola masuk ke dalam ruang kerja aja, papa sampai melontarkan kata kasar sama Galuh? " tanya Gita tidak percaya.


"Ya, tentu saja. Saya tidak senang anak itu memasuki ruang kerja milik saya! " tegas Gusti.


Gita tidak percaya dengan hal yang membuat Gusti kesal, papanya itu memaki adiknya dengan kata kata kasar hanya karena hal sepele, berupa bola milik Galuh yang tidak sengaja masuk ke dalam ruang kerja milik papanya.


"Pah, cuma bola yang masuk kemudian Galuh datang buat ambil aja loh, nggak sampai kan dia bikin kacau ruang kerja papa? " tanya Gita.


"Papa tahu itu, dia memang tidak mengacaukan ruang kerja milik papa, tapi tetap saja papa tidak suka dia masuk sembarangan ke ruang kerja milik papa! "


Gusti tampaknya masih membesarkan egonya, sementara Gita menghela nafasnya, ia tidak tahu lagi ingin berbuat apa dengan papanya itu.


"Pah, bisakah jangan selalu menyerang Galuh dengan kata kata kasar? Galuh itu hanya anak kecil, tidak sepantasnya Galuh diperlakukan seperti itu, papa tidak lain seperti mama saja sikapnya. " protes Gita.


Gusti berdecak kesal, ia sendiri juga tidak bisa menentang setiap pertanyaan yang selalu diajukan oleh anak sulungnya itu, dan selalu menyudutkannya untuk tidak terlalu mengambil pusing mengenai keputusan.


"Gita, memang tahu apa kamu tentang masa lalunya Galuh itu? " tanya Gusti.


Gita mengerutkan keningnya, ketika Gusti melontarkan sebuah pertanyaan mengenai adiknya itu, apalagi saat papanya bertanya tentang masa lalu adiknya yang kebetulan sebelumnya ingin ia ketahui.


"Papa menantang Gita untuk mengetahui tentang masa lalunya Galuh? " tanya Gita.


Gusti kali ini keceplosan, perkataannya barusan sama saja seperti menentang anaknya itu untuk mengetahui rahasia yang sebenarnya, dan juga bisa menjadi sebuah ancaman untuknya dan kehidupan masa lalunya, bisa bisa dirinya akan benar benar dicap sebagai laki laki pengecut.


"Lupakan, maafkan papa. "


Gusti meninggalkan ruang kerjanya, kemudian pergi tanpa berbicara.


Gita yang sudah ditantang kini semakin membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya, sehingga adiknya yang bernama Galuh itu sangat dibenci oleh kedua orangtuanya, padahal Gusti dan Bella lah yang membawa Galuh sendiri ke dalam rumah itu hingga 6 tahun berlalu.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang tampaknya disembunyikan selama ini tentang Galuh. "


...****************...


__ADS_2