Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 07: Handphone


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Dewi merasa bosan, bahkan ia ingin sesekali keluar dan berjalan di sekitaran kota, tetapi ia sangat takut jika berjalan sendirian di kota, apalagi jalanan dan lain lainnya begitu beragam macam kondisinya.


Dewi menghabiskan waktu liburnya hanya dengan bermain di kamar Eni, kebetulan juga Eni sedang mengerjakan sesuatu, maka ia membantu temannya itu untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Nanti kalau ada yang ngetuk pintu, tolong bukain ya, soalnya ada pesenan makanan buat kita makan barengan. " ucap Eni.


"Iya, akan saya bukakan nanti. "


Dewi melanjutkan tontonannya, aplikasi video online yang hanya digeser keatas dan bawah ia tonton satu persatu, bahkan konten yang baginya cukup menarik ia tonton.


"Orang orang zaman sekarang macam macam tingkah nya, ini saja kerjanya tukang rebut suami orang, otaknya sudah geser, astaga... " gumam Dewi.


Tak lama pintu kamar Eni diketuk dari luar, Dewi menatap ke arah pintu dan bangkit dari berbaring nya, ia berjalan ke arah pintu, mungkin itu adalah pesanan milik Eni yang sudah sampai.


"Sebentar... "


Dewi membuka pintu kamar, tak lama ia terdorong, beberapa gadis melihat Dewi terjatuh, mereka berjalan ke arah Dewi dan membantu Dewi untuk berdiri.


"Duh, maaf sebelumnya, kalian ini siapa ya? " tanya Dewi.


"Ada Eni nya nggak? " tanya salah satu gadis yang di depan pintu.


"Kalian mencari Eni? Sebentar, saya panggilkan terlebih dahulu di belakang. "


Dewi mempersilahkan beberapa gadis tersebut masuk ke dalam, sementara ia memanggil Eni yang ada di belakang.


"Ni, Eni... " panggil Dewi.


Eni yang selesai mandi kemudian keluar dari kamar mandi, ia menghampiri Dewi yang memanggilnya.


"Kenapa, Wi? " tanya Eni.


"Di depan ada beberapa gadis yang memanggilmu, ayo dihampiri dahulu. " ucap Dewi.


Eni dan Dewi keluar dari belakang, mereka kemudian dihampiri beberapa gadis tadi, dan lebih tepatnya mengarah kepada Eni.


"Eni, kami mau ngomong sama kamu, pliss. "


Kamar Eni dikunjungi oleh beberapa gadis, Dewi tidak tahu menahu soal datangnya beberapa gadis tersebut di kamar temannya.


"Ya, oke, sekarang lepasin aku. "


Gadis gadis tersebut melepaskan genggaman mereka ke lengan Eni, Eni menatap ke arah Dewi. "Dewi, kamu balik ke kamar kamu dulu gih. "


Dewi merasa bahwa ia diusir oleh Eni, tetapi bisa apa selain bisa menurutinya, sepertinya Eni mempunyai urusan lain dengan beberapa gadis yang datang ke kamarnya.


"Baik, kalau begitu saya permisi. "


Dewi mengambil handphone nya, ia beranjak pergi dari kamar Eni dan kembali ke kamarnya lagi.


"Kak Eni, gimana nih...? Salah satu temen kami hamil, kak... "


Eni menyuruh gadis gadis tersebut untuk diam, ia menaruh jari telunjuknya di bibir nya.


"Diam, jangan keras keras ngomong sama aku, di sebelahku, tepatnya yang tadi disini, itu adalah bagian dari kalian. Jangan sampai kita lagi ngobrol kayak gini, dia denger dari luar, aku nggak mau lagi kalau bagian dari kalian ada masalah lagi seperti Julia! " ucap Eni.


Gadis gadis tersebut diam, mereka menundukkan kepala di depan Eni, sedangkan Eni berdiri dan memikirkan sesuatu.


"Besok akan ku jadwalkan penerbangan ke luar negeri, aku bakal ajukan permintaan ab*rsi di rumah sakit yang biasa anggota kalian kunjungi. "


......................


Dewi merebahkan tubuhnya di kasur, ia mengambil handphone nya untuk melanjutkan menonton konten yang ia tonton tadi.


Tak lama handphone ketik milik Dewi berbunyi, ia melihat siapa yang menelponnya di handphone nya itu, ia melihat nomor milik tetangganya.


"Bu Sri telpon, ada apa ya? "

__ADS_1


Dewi mengambil handphone nya, ia mengangkat telpon tersebut dan mendekatkan nya ke telinga.


"Halo, ada apa, bu Sri? " tanya Dewi.


'Kamu sekarang sudah punya handphone kayak anak saya kan? Ini, bapak dan ibu kamu mau lihat wajah kamu dari handphone anak saya. '


Telepon tersebut mati, kemudian beralih ke ponsel miliknya, fitur video call dari ponsel miliknya berdering, Dewi mengangkat nomor tersebut.


'Halo Wi, apa kabar disana, nak? ' tanya Warsita.


Dewi menatap wajah ibu dan bapaknya dari telepon, menanyakan kabarnya selama di kota.


'Bagaimana kuliah kamu di kota, nak? ' tanya Taufik.


Dewi menjadi sedih, karena smartphone yang digunakan oleh bapaknya adalah handphone milik tetangga, yang kemudian digunakan untuk menelponnya pasti akan meminjam milik tetangganya, itupun pastinya dengan bayaran sesuai durasi telepon tersebut.


Kedua orangtuanya sengaja membayar biaya tersebut hanya untuk bisa menatap wajah Dewi saja, karena handphone yang dipunyai kedua orangtua Dewi itupun adalah handphone ketik yang sudah lama, dan tombol ketikannya saja sudah sebagian tidak bisa ditekan lagi.


"Baik, Dewi baik baik saja disini, ibu dan bapak—"


'Bu, aku mau main game...! '


Terdengar suara rengekan dari telepon, anak tetangganya itu meminta handphone yang sedang di gunakan oleh kedua orangtuanya, kemudian handphone tersebut terpaksa dikembalikan lagi oleh bu Sri.


'Ya sudah Dewi, saya matiin telponnya, anak saya sudah merengek ingin main handphone nya. '


Tanpa ucapan salam dan apapun, telpon tersebut dimatikan, Dewi menjadi tambah bersedih lagi ketika telpon yang baru sebentar itu dimatikan oleh pemilik handphone.


Dewi berpikir kembali, ia berniat ingin membelikan handphone untuk orangtuanya, agar keduanya tidak lagi meminjam handphone dengan tetangganya yang terkenal pelit dan perhitungan itu.


"Begitu pelitnya tetangga ku, aku akan belikan handphone untuk bapak dan ibuku di desa, kalau bisa melebihi handphone punya anaknya bu Sri! "


Dewi tampak memendam perasaan kesal, ia ingin membalasnya, tetapi ia kembali berpikir, apakah ia masih memiliki uang dan apakah ia bisa memilih tipe handphone yang pas untuk kedua orangtuanya, sementara handphone yang ia punyai saja itu pemberian dari Gusti.


"Tapi, apa aku bisa membelikan nya, sementara aku kurang mengerti soal handphone? "


Dewi bertanya-tanya dengan dirinya sendiri, ia ingin memberitahukan kepada Gusti, mungkin meminta pekerjaan untuk menemani lagi seperti sebelumnya.


"Wi, maaf ya tadi sempat ngusir, soalnya urusan mendadak dan penting banget. "


Eni menghampiri Dewi dan membawakan plastik, Dewi mempersilahkan Eni masuk ke kamarnya dan duduk bersama, Eni mengajaknya untuk makan bersama dengan makanan pesanan yang telah ia pesan.


"Dimakan dulu, udah aku pesenin tadi, tinggal kita makan bareng-bareng. " ajak Eni.


Dewi menyiapkan peralatan makan yang akan dibutuhkan, serta tak lupa juga air minum, dengan duduk di lantai yang beralaskan karpet beserta meja pendek, mereka menikmati makan bersama.


Dewi tampak tak bersemangat untuk makan, bahkan daging yang disukai sebelumnya ia mengunyah nya dengan pelan, hal itu diketahui oleh Eni.


"Wi, kamu kenapa makannya nggak kayak kemaren? Nggak enak kayak yang kemaren ya? " tanya Eni.


Dewi menggelengkan kepalanya.


"Tidak, ini enak sekali, Eni, saya malah suka rasa daging kali ini, saya hanya memakannya dengan perlahan saja, hehe. " jawab Dewi.


Komuk wajah tak bisa dibohongi, Eni sudah mengetahuinya, bahwa Dewi punya masalah.


"Masalah handphone ya? "


Dewi terkejut, bahkan daging yang ia telan tersangkut di tenggorokannya, Dewi tersedak.


"Minum dulu, Wi. " tawar Eni menyodorkan minuman.


Dewi meminumnya dengan perlahan, ia menghirup nafasnya dan melanjutkan makannya.


"Bagaimana kamu bisa tahu, bahwa saya mengatakan handphone? " tanya Dewi.


"Gimana bisa tau coba? Kamu aja ngomongnya keras banget, mungkin dari luar kamar kedengeran kamu ngomong apaan. " jawab Eni.


"Suara saya keras ya? Maaf sebelumnya. " ucap Dewi.


"Yaudah, masalah handphone nya kenapa? Handphone punya kamu rusak, Wi? " tanya Eni.

__ADS_1


Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak, handphone yang diberikan om Gusti ini sangat bagus, bahkan teman teman di kelas saya sampai kagum melihatnya. " jawab Dewi.


"Ya, terus ada apa, Wi? Masa sama temen sendiri nggak mau bagi cerita? " tanya Eni.


"Saya ingin beli handphone untuk kedua orangtua saya, Ni. "


"Handphone? Bukannya sekali kali orangtua kamu bisa video call sama kamu, Wi? Aku sering lihat kamu kadang-kadang loh. " tanya Eni.


"Tidak, handphone itu milik tetangga kami. Setiap bapak dan ibu saya ingin menghubungi saya untuk langsung bertatap wajah, mereka selalu meminjam handphone milik tetangga kami, dan itu bayar. " jawab Dewi.


Eni terkejut, bagaimana bisa hanya sekedar menelpon lewat handphone sudah seperti menelpon lewat telpon koin jaman dulu, ia tidak menyangka ada orang yang benar-benar pelit di dunia ini.


"Itu saja saya cuma sebentar bertatap wajah lewat telepon dengan kedua orangtua saya, kemudian diambil lagi oleh tetangga saya karena anaknya merengek untuk bermain game. Padahal kedua orangtua saya sudah bayar, itu sama saja seperti penipuan. " kesal Dewi.


"Pelit banget sih jadi orang, emang seberapa mahal sih handphone sama biaya internet nya dia? Kalau sama aku, udah ku tampar pake handphone punya aku! "


Eni ikut kesal, sedangkan Dewi tertawa melihat temannya yang ikutan kesal dengan apa yang dialaminya.


"Kenapa ketawa? " tanya Eni.


"Saya merasa lucu saja melihat kamu yang ikutan kesal karena cerita saya, Ni, setidaknya bercerita dengan kamu membuat saya sedikit lega. " jawab Dewi.


"Begitu dong, harus terbuka jadi orang, jadi kalau sharing cerita setidaknya nggak buat kamu pusing lagi. " ucap Eni.


"Saya ingin membelikan bapak dan ibu saya sebuah handphone, karena saya tidak ingin lagi mereka meminjam kembali handphone milik tetangga. " ucap Dewi.


"Good girl, dengan cara kayak gitu, aku yakin tetanggamu itu gigit jari, karena kamu bisa beliin handphone yang lebih daripada punya tetangga kamu. " ucap Eni.


"Kalau begitu, saya akan menemani om Gusti lagi, semoga saja saya bisa membeli handphone untuk kedua orangtua saya. Malam ini saya akan menuruti keinginan om Gusti. " ucap Dewi.


Eni yang kini tersedak, ia disodori minum oleh Dewi.


"Di minum, Ni! " panik Dewi.


Eni meminum air yang diberikan oleh Dewi, kemudian menaruh gelas yang kosong tersebut di atas meja.


'Semoga aja Gusti tidak to the point sama nih anak, bisa bisa kalau begitu, Dewi bakalan ngelapor, kan mampus aku. ' ucap Eni dalam hati.


......................


Malam harinya Dewi mendatangi sebuah club malam, itupun karena Gusti yang menyuruh ia menghampiri nya disana.


Penuh akan orang orang yang terlihat terbuka, bahkan tidak segan untuk menggeliat di depan banyak pria, tetapi tidak satupun terlihat penampilannya seperti Dewi yang masih malu malu.


Dewi melihat di dekat pojokan tepatnya kursi club, ia melihat Gusti yang sedang duduk dengan beberapa laki laki lain, sepertinya Gusti sedang bersama rekan kerjanya ke club malam, dan kebetulan Dewi menghampiri nya.


"Om Gusti... "


Gusti menatap ke depannya, ia terkejut melihat Dewi yang berdiri di depannya. "Maaf, saya mengenakan pakaian seperti ini. " ucap Dewi.


"Tidak apa apa, manis, kemari, duduk di sebelah saya. "


Gusti menepuk-nepukkan sofa, ia menyuruh Dewi untuk duduk di sebelah nya.


Saat ingin menduduki sofa, Gusti menarik lengan Dewi, alhasil Dewi duduk di pangkuan Gusti, Gusti dengan sigap memeluk pinggang Dewi.


"Tumben sekali kamu yang menghubungi saya, manis, tanpa dipanggil sudah mendekat sendiri, good girl! " puji Gusti sambil mengelus rambut Dewi.


Dewi menuruti apa yang dilakukan oleh Gusti, itupun hanya sekedar memeluknya ataupun mengambilkan minuman untuk Gusti.


"Katakan manis, apa maumu? " tanya Gusti.


Tanpa meminta sudah ditanya, Dewi merasa itu kesempatan nya untuk meminta bantuan Gusti.


"Om, bisa om bantu saya? " mohon Dewi.


"Ya, saya bisa bantu apa kamu untuk sekarang? " tanya Gusti.


"Saya minta tolong, om, temani saya membeli handphone. "


...****************...

__ADS_1


__ADS_2