Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 21 : Aku Tahu Selama Ini Kamu Berbohong, Dewina


__ADS_3

...Happy reading 🧡...


......................


"Bagaimana dengan makalahnya kemarin, Ni? "


Dewi bertanya seputar makalah yang sudah temannya kerjakan, sengaja Dewi alihkan pembicaraan dari Gusti, karena ia tidak ingin membahas Gusti untuk sementara.


"Kenapa Wi? Mau minta bayaran kah? " tanya Eni.


"Tidak, saya sekedar bertanya saja, Ni, saya juga perlu tahu dengan hasilnya. " jawab Dewi.


"Ya, hasilnya lumayan, bisa akhirnya diterima oleh dosen ku, makasih ya udah bantu aku sebelumnya. " ucap Eni.


"Begitu ya? Syukurlah, saya senang mendengarnya. " ucap Dewi.


Eni tampaknya belum puas, ia terus terusan akan terus bertanya seputar Gusti, namun Dewi sudah tahu bagaimana cara menghindari pertanyaan tersebut, hingga Eni merasa kalah dalam perdebatan tersebut.


"Yaudah, aku mau balik ke kamar aku dulu ya, udah jam segini juga, kamu mah enak kelas lagi libur. " ucap Eni.


"Iya, sebelumnya terimakasih sudah mampir ke kamarku ya, hati hati dijalan. " ucap Dewi.


Dewi mengantarkan Eni ke depan kamarnya, kemudian ia masuk ke dalam, menyiapkan beberapa berkas yang diperlukan untuk melamar pekerjaan.


Dua hari yang lalu, Dewi melihat lowongan pekerjaan di rumah makan dan restoran, walaupun itu hanya sebatas menjadi pelayan, setidaknya Dewi akan merasakan bekerja kembali.


Dengan cara seperti itu, Dewi dapat menghindari Gusti untuk sementara, karena ia tidak akan diganggu oleh Gusti sehingga ia akan fokus menjalani pendidikannya.


"Semuanya selesai, ya, besok akan aku kumpulkan. " ucap Dewi.


Dewi berencana untuk membersihkan dirinya, dan ia akan menyiapkan makan malam alakadarnya, karena ia tidak sempat membeli bahan makanan saat di luar rumah, ia sibuk membeli oleh oleh untuk Eni saja saat berada di perjalanan.


Selesai mandi, Dewi mendapat telpon, ia mengangkat telpon tersebut dan terhubung dengan kedua orang tuanya.


Seperti biasa, kedua orangtua Dewi hanya bertanya kabar dengan anaknya, dan Dewi menjawabnya dengan baik.


Hanya saja terus terusan, Dewi selalu ditanya kapan ia akan pulang, mungkin karena kesepian yang membuat kedua orang tuanya merindukannya saat sedang di luar desa.


Dewi juga merindukan kedua orang tuanya, tapi sayang, perkuliahan dan Gusti yang membuatnya sering menunda untuk pulang ke desa, sehingga ia tidak bisa pulang ke desa dengan alasan itu semua.


'Kalau bisa, pulang ya nak, kami benar-benar merindukanmu. Selama di desa, terus terusan saja pemuda disini bertanya tentang kamu yang berada di desa, kami tak tahu bagaimana lagi mengusir mereka agar tidak menggubris kamu terus terusan. '


"Dewi akan rencanakan secepatnya, ibu dan bapak tunggu saja Dewi untuk pulang ke rumah. Kalau begitu, Dewi matikan dahulu ya, soalnya Dewi ngantuk sekarang. " ucap Dewi.


Kedua orang tua Dewi memaklumi, mereka mengakhiri telpon tersebut, kemudian Dewi menaruh ponselnya di sebelah kasurnya, kemudian ia tertidur karena kelelahan.


......................


Keesokan harinya, Dewi terbangun dari tidurnya, ia berberes beres untuk segera berangkat ke kampus, bisa dibilang ia berangkat dari pagi pagi sekali, karena ia berencana untuk datang pagi hari ke kampus untuk menyiapkan keperluan yang ia butuhkan, seperti makalah dan dokumen yang akan ia antarkan ke restoran pada siang hari.


Selesai dari mata kuliah, Dewi berencana untuk segera datang ke rumah makan, karena dengan beberapa dokumen yang ia bawa, Dewi bersemangat untuk melamar pekerjaan di rumah makan tersebut.


Gerak gerik Dewi tampaknya dipantau oleh kakak tingkat dan Eni, dari kejauhan mereka menatap Dewi dengan tatapan yang tidak senang, gadis tersebut tamoak tanpa beban menjalani kehidupan tanpa terlihat kesusahan sama sekali.


'Dewi, nggak bisa dibiarkan, bagaimanapun dia adalah sugar baby yang paling menguntungkan, karena jarang sekali Gusti memberikan bonus dan tambahan lainnya sama aku karena Gusti puas dengan pelayanan Dewi selama ini! ' ucap Eni dalam hati.


Tempat makan tersebut tak jauh dari tempat kampus Dewi berada, bahkan tempat makan tersebut menjadi tempat makan yang sering didatangi mahasiswa beserta anak sekolahan lainnya, terkadang juga orang kantoran yang ikut makan di sana.


Dewi masuk, ia mendekati meja kasir dan bertanya ruangan tempat pemilik restoran itu berada, ia berjalan dan menemui pemilik restoran tersebut.


"Jadi benar ingin bekerja di sini? "


Dewi diinterview dengan pemilik restoran tersebut, dan juga ia menjawab setiap pertanyaan yang terus terusan ditanyakan olehnya.


"Benar pak, saya ingin bekerja di sini. Ini beberapa berkas yang sudah saya kumpulkan untuk memenuhi persyaratan yang sudah tertera di lowongan pekerjaan dua hari yang lalu. " jawab Dewi sambil menyodorkan map.


Baru melihat sekejap, pemilik restoran tersebut menganggukan kepalanya.


"Baik, langsung saja bekerja untuk hari ini, saya akan lihat kinerja kamu sampai waktu bekerja habis. " ucap pemilik restoran tersebut.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian pemilik restoran tersebut memanggil suruhannya untuk menunjukkan pekerjaan yang akan dilakukan.


Dewi ditujukan dengan piring piring kotor, ya, tugasnya sekarang membersihkan peralatan makan yang kotor.


Hal biasa bagi Dewi, Dewi mulai membereskan peralatan makan dan masak tersebut, walaupun banyak, tetapi Dewi melakukannya dengan baik.


......................


Tibalah saat waktu kerja habis, Dewi membereskan barang barangnya dan berencana untuk pulang.


"Hei kamu! "


Dewi menoleh ke belakang, pemilik restoran tersebut memanggilnya, Dewi mendekatinya dan bertanya balik.


"Ya pak, bapak memanggil saya? " tanya Dewi.


Pemilik restoran tersebut memberikan amplop kepada Dewi, Dewi menatapnya kemudian mulai bertanya.


"Apa ini, pak? " tanya Dewi.


"Bayaran pertama untukmu, ambil. " jawab pemilik restoran tersebut.


Dewi mengambil amplop tersebut, ia menerima amplop tersebut dan mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih sebelumnya, pak. "


Tak lama bahu Dewi dirangkul dari belakang, pemilik toko tersebut menatap Dewi dengan tatapan penuh n*fsu.

__ADS_1


"Kamu ini, cantik cantik begini kenapa ingin bekerja menjadi juru cuci piring? Mau saya naikkan jadi kasir nggak? Asal kamu mau aja, saya akan bantu, dengan syarat pastinya. "


Dewi merasa tidak nyaman, bahkan ia risih, Dewi melepaskan dirinya dari rangkulan pemilik restoran tersebut dan sedikit menjauhinya.


"Sudah malam pak, kalau begitu saya permisi dahulu. " pamit Dewi.


Dewi meninggalkan restoran tersebut, ia langsung ingin pergi dari restoran tersebut, karena pemilik restoran tersebut ingin berbuat mesum dengannya.


Dengan menggunakan taksi, Dewi pulang menuju ke kosannya, kebetulan malam itu tidak ada sama sekali angkot, karena minim akan ada angkot malam hari kecuali bus dan taksi.


Dewi membayar taksi yang ia tumpangi, kemudian ia berjalan menuju ke dalam kosannya, kebetulan tidak ada sama sekali satpam yang sedang berjaga, membuatnya tidak butuh waktu bertele-tele untuk berjalan menuju ke atas.


"Dewina. "


Seseorang memanggil Dewi, Dewi menoleh ke arah kamar yang berada di bawah, ia tidak jadi menaiki tangga dan memilih menghampiri orang yang memanggilnya.


"Nih, barusan ada yang nitip sama gua, entah apaan isinya itu. " ucap seseorang tersebut.


Dewi baru melihatnya, bahwa itu adalah kiriman dari desa, ia tampaknya mendapat kiriman dari desa berupa kotak, mungkin isinya adalah buah dan semacamnya.


"Terimakasih, sebelumnya, siapa yang mengantarkan barang ini? " tanya Dewi.


"Mana gua tau, yang jelas tadi cowok sih, ngakunya sepupu elo, terus dia nitip sama gua, alasannya sih karena terburu-buru buat pergi, nggak tau siapa dia. " ucap orang tersebut.


"Terimakasih, kalau begitu, saya lanjut ke atas dulu. " ucap Dewi.


Mengangkat kotak tersebut tidak terlalu susah, dan juga tidak terlalu ringan, Dewi mengangkat kotak tersebut ke atas dan membuka pintu kamarnya.


Di kamar sebelah, Eni baru saja ingin keluar, ia berpapasan dengan Dewi, seperti biasa, Dewi membalasnya dengan senyuman.


"Baru pulang kamu, Wi? " tanya Eni.


"Iya, sepertinya hampir kemalaman saya pulangnya, maaf kalau sampai menunggu. " jawab Dewi.


Eni tersorot ke arah kardus yang sedang dipegang Dewi, Dewi menyadarinya dan menaruh kardus yang lumayan besar tersebut ke bawah, kemudian membuka isinya.


"Ini, saya baru saja dapat kiriman dari desa, buah buah dan sayur-sayuran di desa sangat bagus dan segar, bagus untuk dimakan dan dimasak. " ucap Dewi.


Dewi memberikan sebagian buah serta sayur-sayuran yang ada di dalam kardus, siapa sangka bahwa Eni tertarik dengan buah dan sayuran yang dibawakan oleh Dewi.


"Sebagiannya untuk aku, nggak papa? " tanya Eni.


"Iya, ambil saja, Eni, saya masih punya banyak ini pastinya. " jawab Dewi.


Eni dengan senang mengambil sebagian sayur dan buah yang ada di dalam kardus tersebut, ia merangkul sebagian sayuran dan buah tersebut di lengannya.


"Makasih. " ucap Eni.


Dewi menganggukan kepalanya. "Ya, sama sama, Eni. "


"Dewi. "


"Ya, ada apa, Eni? " tanya Dewi.


"Kamu seharian sama om Gusti ya? Sampe malam begini baru pulang? " tanya Eni.


Dewi tersenyum, temannya menduga bahwa ia sedang bersama dengan Gusti, padahal Dewi bekerja di tempat kerja barunya, walaupun pekerjaannya sebagai pelayan dan juru cuci piring.


"Tidak, saya bekerja di restoran, tempatnya tak jauh dari kampus, kalau kamu makan siang disana, pasti kamu tahu dimana letaknya. " jawab Dewi.


Komuk wajah Eni tampaknya tidak senang, Eni tidak sesuai dengan ekspetasi nya, bahwa Dewi kembali menemani Gusti lagi, hingga ia akan mengatakan yang sebenarnya langsung pada Eni.


"Saya cukup merasa tenang, karena saya sama sekali tidak diganggu atau ditelpon oleh om Gusti, sepertinya om Gusti bisa melepas saya sejenak. " ucap Dewi.


"Begitu ternyata. "


"Iya, kalau begitu, saya permisi. "


Dewi memasuki kamarnya, di luar kamar terlihat Eni dengan wajahnya yang kesal, ia tidak menyangka bahwa Dewi lagi lagi menjauhi kliennya.


"Gimana sih mau bikin Dewi tuh betah sama Gusti? Kalau gini terus, bisa aja Gusti tuh bakalan bosen, terus bonus buat aku nggak bakalan ada lagi! " bisik Eni sambil kesal.


Di lain tempat, Gusti yang sedang mengendarai mobilnya kemudian memikirkan sesuatu, entah pekerjaannya yang melelahkan atau sesuatu yang membuatnya menjadi terpikir akan sesuatu.


"Dewina... "


Gusti berguman, bahkan ia menyebut nama Dewi, ditambah lagi suaranya yang berat saat menyebut nama Dewi, tampak sepertinya ia sedang berg*irah di ambang pikirannya.


"Rasanya kacau sekali, saya merindukan Dewina, saya merindukan tubuhnya, agh! " geram Gusti.


Keesokan harinya, Dewi kembali ke aktivitas nya, kali ini ia bekerja dengan baik, karena ia senang hati ketika mendapatkan pekerjaan sembari menjaga jarak dengan Gusti.


Dewi tampaknya menjadi perhatian, bahkan Dewi saja bingung, mengapa ia selalu diperhatikan oleh karyawan yang ada di restoran tersebut.


"Anak baru? "


Dewi yang sedang mencuci piring kemudian menatap ke sampingnya, salah satu pekerja lainnya, tepatnya pelayan tukang antar piring kotor, menyapanya dan bertanya.


"Ya, saya anak baru di sini, salam kenal. " jawab Dewi.


Gadis tersebut menganggukan kepalanya, kemudian bertanya sekali lagi sambil menatap dari atas sampai kaki Dewi.


"Kamu ini penampilannya kayak ginian, apa nggak gengsi kerja di tempat beginian kamu itu? "


"Tidak, selama saya bisa bekerja dengan baik, dan selama bisa mendapatkan bayaran, saya ingin bekerja walaupun di restoran sekalian. " jawab Dewi.


"Yaudah, nanti meja di depan ada tuh piring kotor, ambil terus langsung cuci ya. "

__ADS_1


"Terus, kamu ingin ke mana? " tanya Dewi.


"Istirahat bentar lah, capek bolak balik nganterin piring kotor, kamu kira enak bolak balik nggak ada yang ikut jaga shift beginian? " tanya gadis tersebut.


Dewi menggelengkan kepalanya, ia melepas celemek nya, kemudian berjalan ke luar dengan troli piring kotor yang ada di meja depan.


"Papa, makasih udah mau makan siang barengan sama Gita, papa jarang kayak gini soalnya. "


Gusti bersama anak gadis sulungnya tengah makan siang bersama, mereka selesai memakan makanan yang sudah dipesan, Gita sangat senang bisa makan siang bersama ayahnya yang terkenal sangat sibuk itu.


"Gita ke kamar mandi dulu ya, pah. "


Gita meninggalkan Gusti yang duduk, Gusti kembali menatap ponselnya, tak lama seseorang mendekatinya.


"Permisi, saya ambil piringnya. "


Gusti mengenal suara tersebut, bersamaan, Dewi dan Gusti saling bertatapan, keduanya terdiam dan saling menatap secara bersamaan.


"Dewina? "


Pertemuan yang sial, Dewi bertemu dengan Gusti, itu hal terburuk yang akan terjadi padanya.


Dewi hanya diam, tak lama tangannya dipegang oleh Gusti, Gusti menghentikan pergerakan Dewi.


"Kamu berpindah tempat kerja, sepertinya kamu belum puas sama sekali dengan pekerjaan mu, Dewi. " ucap Gusti.


Dewi berusaha melepaskan genggaman tersebut, kemudian melanjutkan membereskan piring piring kotor.


"Saya butuh uang, saya juga butuh pekerjaan, om. " jawab Dewi.


Dewi meninggalkan Gusti, ia dengan troli berisi piring piring kotor kemudian berjalan ke belakang, langkahnya diperhatikan oleh Gusti hingga sorot tubuh Dewi tak terlihat lagi.


"Dewina, saya merindukanmu. " gumam Gusti.


Waktu bekerja akhirnya habis, Dewi beserta karyawan-karyawan lainnya pulang, sebelumnya mereka menerima gaji yang setiap hari nya akan diberikan pada masing-masing sesuai dengan pekerjaannya.


Dewi menerima bayaran yang sudah ditentukan, kemudian ia memilih untuk segera pulang, karena ia tidak ingin kejadian kemarin petang terulang lagi, dimana pemilik restoran tersebut dengan lancang merangkulnya dan hampir melecehkan nya.


Dewi membawa barang barangnya, ia berjalan menuju ke halte, untuk menunggu taksi atau bus.


Dari kejauhan, Dewi melihat sebuah mobil yang menghampiri nya, tak lama mobil tersebut berhenti di depannya kemudian seseorang keluar dari dalam mobil tersebut.


Betapa terkejutnya Dewi, orang tersebut adalah Gusti, Dewi mencoba untuk lari, tetapi langkahnya terhenti, karena Gusti berhasil menahannya dan menariknya untuk masuk ke dalam mobil.


Saat berhasil ke dalam mobil, Gusti mengunci pintu mobilnya, ia membawa Dewi ke tempat yang menurut Gusti aman.


Gusti membawa Dewi ke Villa, tepatnya di parkiran, Dewi duduk di jok belakang dan mencoba untuk membuka pintu mobil Gusti, sayang pintunya masih terkunci.


"Mencoba kabur, manis? " tanya Gusti.


Gusti dari kursi jok depan kemudian menghampiri Dewi yang berada di belakang, Dewi terkejut dan.....


Grep!


Kedua tangan Dewi di genggam oleh Gusti, kali ini Gusti mulai mencoba untuk membuat Dewi terpancing, ia tahu bahwa Dewi selama ini tidak menikmatinya bersama.


"O—om.... "


"Saya akan berikan kamu pelajaran, karena kamu mengabaikan saya tadi siang, ditambah lagi 'aku tahu kalau kamu berbohong, Dewina'. "


Gusti mencoba menerobos pelindung, kemudian ia berhasil menyentuh barang yang berharga bagi Dewi, kemudian memainkannya sesuai keinginannya.


Dewi merasakan hal yang berbeda saat dirinya dipancing, rasa yang belum ia rasakan sebelumnya, bisa dibilang kenikmatan tiada tara hingga membuatnya kacau, Dewi meraung raung di sela pancingan tersebut.


"Kurang, ayo, lebihkan lagi, Dewina, saya ingin kamu merasakan puncak pertama semua ini, agar kamu kuat di puncak yang paling akhir bersama saya. " goda Gusti.


Dewi mengikuti alurnya, ia bahkan bingung ingin berbuat apa, selain tubuhnya yang mengendalikan dirinya, ditambah ritme yang dibuat Gusti yang mampu membuatnya terguncang hebat.


"Bagaimana? Apakah sudah merasakan yang sebenarnya? " tanya Gusti.


Dewi terus terusan mengembang kempiskan perut dan dadanya, ia mengambil nafas setelah merasa engap dengan pancingan tersebut, tak lama Gusti mulai melancarkan aksinya, Gusti yang sudah dari beberapa hari yang lalu menginginkan Dewi untuk ia nikmati.


Entah siapa yang jadi saksinya di Villa tersebut, tepatnya di mobil yang tengah terparkir, ditambah lagi pergerakan di dalam yang membuat mobil tersebut bergerak terus menerus.


Selesainya dengan semua itu, Gusti membenarkan dirinya, kemudian ia menatap ke arah Dewi yang terbaring.


"Dengan seperti tadi siang, kamu ingin pergi dari saya, Dewina? " tanya Gusti.


"Tidak om, hanya saja saya ingin beristirahat sejenak dari permainan ini, saya juga ingin berkuliah seraya saya bekerja dan melayani om sendiri. " jawab Dewi.


Gusti menganggukan kepalanya, ia mencium kening Dewi, Dewi memegang keningnya dan sedikit berdiri.


"Baik, saya mengerti. Tapi, saya tidak ingin kita tidak bertemu, saya sangat merindukan layananmu, Dewina. " ucap Gusti.


"Ta—tapi om.... "


"Saya akan terus terusan menerormu, jika kamu berusaha untuk pergi dari saya. " ucap Gusti.


Dewi hanya diam, ia akhirnya menganggukan kepalanya.


"Baik om, tetapi dengan syarat. "


"Baik, sebutkan itu, Dewina. " ucap Gusti.


"Saya ingin setiap pertemuan, om Gusti jangan langsung ingin menerkam saya, biarkan kita merencanakannya tanpa langsung pada poinnya, saya ingin kita berdiskusi sebelum melakukannya. " ucap Dewi.


Gusti menganggukan kepalanya, ia menyetujuinya, hal tersebut tentu membuat Dewi tersenyum.

__ADS_1


Sayangnya, perjanjian tersebut tidak sepenuhnya akan dipenuhi oleh Gusti dan hanya sebatas ucapan saja, karena selama n*fsunya masih berada di tubuhnya, maka pelampiasannya harus bisa menerima dan menampung n*fsu yang ada di tubuhnya itu.


...****************...


__ADS_2