Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 06 : Sandwich generation


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Beberapa hari berlalu, Dewi semakin terbiasa dengan suasana kota, walaupun begitu, ia akan tetap merindukan tanah kelahiran nya, yaitu desa tempat ia tinggal.


Dewi sudah bisa mengatur dirinya sendiri, termasuk dirinya yang sudah bisa menimba kebutuhan selama di kota, Dewi mengambil dua pekerjaan, yaitu menjadi pegawai di minimarket dan menjadi teman Gusti saat ada keperluan.


"Terimakasih sudah berbelanja. " ucap Dewi.


Sudah 3 hari tidak ada kabar mengenai Novi, bahkan karyawan lainnya juga bingung, biasanya si penindas itu selalu masuk kerja dan selalu menyerobot giliran untuk melayani pelanggan yang datang.


"Kak Novi udah beberapa hari nggak masuk kerja, kemana ya? " tanya karyawati lainnya.


"Iya, biasanya masuk, terus nindas orang ya, sekalinya nggak masuk beberapa hari jadinya aneh. "


"Itumah kangen, njim, gitu aja gengsi amat buat ngaku. "


Dewi hanya diam saja, ia meminum minuman bonus dari kepala minimarket yang sedang memberikan sampel produk minuman baru, ia tidak ingin ikut nimbrung dan memilih berdiri saja untuk menunggu pelanggan lainnya.


"Weh, baru lihat njir, nih info terbarunya. "


"Apa tuh? Lihat oi! "


Semua karyawan yang sedang duduk menatap ke arah salah satu karyawati lainnya, mereka melihat postingan yang ada di handphone tersebut.


"Nikah? Astaga, pantesan aja nggak masuk kerja lagi. "


Dewi menjadi tertarik, bahkan ia mulai mendekat ke arah karyawan lainnya, dan kehadirannya disambut oleh karyawan karyawati.


"Kepo juga lu, Wi? Kirain masih pendirian sama pilihan awal, berdiri di sono. " tanya karyawati lainnya.


"Iya, bagaimana? Kak Novi menikah? " tanya Dewi.


"Eh, wat da hel, ini faktanya njim...! "


"Humor internet jangan dibawa ke real life deh, Farel, omongan lu aneh, cringe! " tegur karyawan lainnya.


"Yaudah, apa itu faktanya? Kepo gua. "


"Kata Yuli, dia nikah karena MBA, wah nggak nyangka. " ucap Farel.


"Iya weh, nggak nyangka aja, padahal kelihatannya dia anak yang ganas gitu, nggak pedulian, ternyata suka main ular ularan sama kuda kudaan ya? "


"Permisi, MBA itu apa ya, teman teman? "


Dewi nyeletuk, baru kali ini ia akhirnya banyak bertanya, syukur saja yang lainnya tidak sewot ataupun judes, mereka juga ikut mengobrol dan memberitahukan seputar Novi.


"Berarti hamil diluar nikah ya? " tanya Dewi.


"Of course, Dewi. " ucap Mutia.


"Keknya kena karma nggak sih? Azab bully anak polos kayak Dewina ini, wih sabi betul karmanya. " puji Farel.


Semuanya dengan wajah gembira, hanya Dewi saja yang berbeda, ia merasa kasihan ketika mendengar berita tersebut.


"Kenapa raut wajah lu sedih, Wi? " tanya Mutia.


"Kasihan ya sama kak Novi, menikahnya terlalu cepat seperti itu , apalagi kalau kak Novi nya belum siap jadi seorang ibu, saya turut merasa prihatin. " jawab Dewi.


Semuanya berdecak secara bersamaan, Mutia mendekat dan menepuk bahu Dewi.


"Wi, dalam hidup tuh ada hukum tabur tuai tau, apalagi karma. Apa yang pernah kita buat, itu bakal kita petik dan bakal kita rasakan. Karma, apa yang kamu lakukan sama orang bakal balik terasa sama kamu sendiri. Jadi selama hidup jangan ngapa ngapain orang kayak si Farel atau Randi. " jelas Mutia.

__ADS_1


"Dih, kek lu nggak aja, Tia! " protes Farel dan Randi.


"Berarti saat kita berkumpul dan mengatakan tentang kak Novi, apa kita akan dapat hukum tabur tuai dan karma, teman teman? " tanya Dewi.


Celetukan Dewi lagi lagi membuat semuanya terkejut, mereka akhirnya diam, dan masing-masing melihat satu sama lain.


"Udah ah, kalau denger celetukan si Dewi, biasanya hati hati aja, khodam dia di desa bisa bekerja instan, udah ada contohnya kayak si Novi. " ucap Farel.


Semuanya bubar, akhirnya tersisa Dewi dan Randi yang mendapatkan shift di meja kasir, Dewi hanya terdiam, karena ucapannya membuat teman teman kerjanya bubar.


"Salah berucap sepertinya aku... " gumam Dewi.


Saat sedang melayani para pelanggan, Dewi mendapat pesan dari Eni, ia melihat handphone nya yang berdering, Dewi menjauh dari meja kasir dan mengangkat telepon tersebut.


"Halo Eni, ada apa sebelumnya? " tanya Dewi.


'Wi, kamu masih di minimarket kan? Aku titip sesuatu dong sebelum kamu pulang. ' mohon Eni dari telepon.


"Ya, kamu mau pesan apa, Ni? " tanya Dewi.


'Aku pesen pembalut ya? Kebetulan di kosan habis, mana lagi bulanan juga. '


Dewi diam, ia akhirnya mengiyakan permohonan Eni, dan ia akan membawanya setelah pulang bekerja.


"Ya, nanti akan saya bawa pulang, Eni. "


Dewi mematikan handphone nya, ia melanjutkan pekerjaannya sampai waktu kerjanya habis.


Waktu bekerja sudah habis, Dewi akhirnya pulang dengan pembalut yang sudah ia belikan untuk Eni, kebetulan juga hari itu Dewi mendapatkan potongan harga, itu adalah kesempatan bagi Dewi selama bekerja di minimarket mendapatkan potongan harga, dengan uang yang masih ia pegang tersebut ia belikan makanan, minuman dan pembalut untuk Eni saat bulanan.


......................


Tak butuh memakan waktu yang lama, Dewi telah sampai di depan gerbang kosannya, terlihat satpam kosannya dan beberapa bapak bapak lainnya sedang bermain domino, memang permainan terbaik bagi sebagian orang saat sedang ronda ataupun jaga malam di sekitar tempat yang perlu dijaga.


"Permisi, Eni... "


Tak lama pintu kamar dibuka, terlihat Eni yang wajahnya pucat, tampaknya sedang menahan datang bulannya yang sangat menyakitkan itu.


"Dewi, ternyata kamu. " ucap Eni.


"Ini, saya sudah belikan makanan, minuman pereda nyeri datang bulan, dan pembalut yang kamu pesan. Diterima ya, Ni. " ucap Dewi.


"Astaga, makasih ya, ini semua berapa? " tanya Eni.


Dewi menolak total pesanan tersebut, ia mengatakan bahwa itu sebagai tanda terimakasih, karena selama beberapa hari Eni selalu mentraktir dirinya, entah itu makan ataupun membeli sesuatu.


"Astaga, ini nggak papa aku nggak bayar? " tanya Eni.


"Iya, tidak apa apa, Eni. Terimakasih kasih selama beberapa hari saya tinggal di sini, kamu selalu membantu saya apapun itu. " jawab Dewi.


Kedua wanita itu saling menguntungkan, mereka saling membalas jasa yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu.


"Yasudah, kalau begitu saya balik ke kamar, mau langsung istirahat saja, takut besok terlambat. " pamit Dewi.


Dewi berjalan ke arah kamarnya, ia memutuskan untuk beristirahat, besok harinya ia akan kembali membereskan kamarnya yang berantakan itu.


......................


Keesokannya, Dewi terbangun dari tidurnya, ia selalu saja mengigau dengan laptop yang ia inginkan.


Dimana uang yang diberikan Gusti kemarin? Ternyata Dewi sudah mengirimkan sebagian uang tersebut untuk kedua orangtuanya di desa, padahal Taufik dan Warsita menolak uang tersebut karena tidak ingin merepotkan Dewi, tetapi Dewi memaksa kedua orangtuanya untuk mengambil uang tersebut sebagai hadiah, maka dengan hal itulah Dewi belum sama sekali membeli laptop.


Dewi adalah gadis yang gemar membaca, ia tidak mengikuti gaya hidup gadis di kampusnya yang gemar berselfie ria, walaupun handphone miliknya sempat dipuji oleh gadis lain di kampus dan terbilang handphone seri terbaru, tetapi sama sekali Dewi tidak memainkannya selain menelpon ataupun melihat barang barang yang ia inginkan.

__ADS_1


"Eh, nama lo Dewi kan? " tanya gadis tersebut.


Gadis yang sebelumnya pernah datang padanya, adalah senior di kampus tersebut, lagi lagi menyapanya kembali.


"Iya, nama saya Dewi, ada apa ya kak? " tanya Dewi.


"Gimana gadun lo? Baik kan? Apa aja yang udah lo beli dari uang yang dikasihin sama dia? " tanya gadis tersebut.


"Uang, kemarin saya diberikan tas mahal oleh si om, tapi uangnya saya simpan buat tabungan bapak sama ibu saya di desa. " jelas Dewi.


"Masih mikirin orangtua, terus ngasih uang hasil keringet lo sama ortu elo? Hellow, c'mon baby, it's not sandwich generation era, jadi jangan buang sia sia deh uang lo buat budi jasa your parents. It's me, Imelda, pemberantas sandwich generation ya, jangan sampai hasil keringet lo dikasih seenaknya sama yang bukan urusan lo, lo wajib nikmatin hasil keringet lo sendiri. "


Dewi merasa risih, urusan pribadinya diusik orang lain, apalagi sebatas kakak kampus yang tidak sama sekali ia kenal, datang hanya bertanya seputar pekerjaannya dengan Gusti.


"Mohon maaf, kak, sepertinya ini urusan saya sendiri. Saya pribadi meminta kepada kakak kakak sekalian, jangan usik keputusan saya, walaupun kakak kakak sekalian adalah kakak senior saya, saya mohon, jangan atur hidup saya, apalagi kita belum sepenuhnya mengenal. Jadi, jangan ikut campur keputusan saya, mengerti? "


Dewi terdengar menantang, bahkan para senior tersebut tertegun, mereka menggeram kesal dan pergi meninggalkan Dewi.


Mood Dewi menjadi buruk, ia memutuskan untuk langsung pulang, kepalanya menjadi pusing harus menghadapi para kakak senior yang suka ikut campur urusan orang.


......................


Sepanjang perjalanan dengan menggunakan angkot, Dewi bergumam dan mengumpat, ia kesal dengan ucapan para seniornya itu, mulai bertanya tentang Gusti, hingga merembet dengan jasa, baginya tidak butuh mendengar saran orang aneh seperti seniornya, Imelda.


Menaiki tangga, Dewi hampir menabrak penghuni kosan lain, ia berjalan menuju ke kamar Eni, berusaha memanggil Eni dengan mengetuk pintu kamarnya.


"Eni, permisi... "


Dewi mendengar suara, samar samar seperti suara yang tak asing, tanpa menguping saja ia sudah mendengar suara dari dalam, tampaknya Eni tengah sibuk di dalam kamar.


"Sepertinya Eni sedang sibuk, aku akan ke kamar saja. "


Dewi memutuskan untuk masuk ke kamarnya, nanti ia akan bercerita dengan Eni.


Sore harinya pintu kamar Dewi diketuk, Dewi yang sedang tidur tiduran berdiri dan menuju ke pintu kamarnya, ia membuka pintunya dan melihat Eni, tampak Eni baru saja mandi.


"Wi, tadi siang manggil aku ya? " tanya Eni.


"Iya Ni, saya ingin menceritakan sesuatu sama kamu. "


Eni memasuki kamar Dewi, bukan perempuan jika tidak penasaran dengan curhatan dari perempuan lainnya, ia siap untuk mendengar obrolan Dewi.


"Memangnya saya tidak diperbolehkan ya uang yang saya miliki saya kasih sama ibu dan bapak saya di desa? " tanya Dewi pada Eni.


"Ya, sebagian ucapan kakak senior tadi tuh ada benernya deh, Wi. Kamu kan yang udah kumpulin uang hasil keringet kamu sendiri, terus uang haram mau kamu kasih sama kedua orangtua kamu? Kamu nggak khawatir sama mereka? " tanya Eni meyakinkan.


"Tapi di desa kedua orangtua saya butuh, Ni, saya juga bisa bertahan di kota dengan seadanya. " bantah Dewi.


Eni hanya menggeleng kepalanya, baginya kota tak seindah yang dilihat, jika ingin hidup santai, maka siap siap saja akan ditinggalkan.


"Nggak bisa munafik juga sih, Wi, kebutuhan di kota tuh nggak sama kayak di desa. Semua rata rata gadis udah ngelakuin ini semua, termasuk kamu. " jelas Eni.


"Mungkin seperti itu saja, biarkan saya menggunakan uang dari om Gusti, sementara saya tetap akan mengirimkan uang kepada bapak dan ibu saya menggunakan uang hasil saya bekerja di minimarket. Saya sangat menyayangi mereka berdua, tanpa mereka saya yakin, saya tidak akan bisa berkuliah seperti sekarang. " ucap Dewi.


"Nggak heran kalau generasi kayak kita bisa jadi pahlawan keluarga, Wi. Keputusan ada di tangan kamu, Dewi. " ucap Eni.


Dewi mengambil handphone nya, ia menelpon kedua orangtuanya, tak lama telpon tersebut di angkat.


"Pak, bu, kalau kiriman uangnya sudah sampai, tolong kasih tau Dewi ya. "


Selesai menghubungi kedua orangtuanya, Dewi memutuskan untuk balik ke kamarnya, hari ini ia akan menyendiri terlebih dahulu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2