Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 59: Jenis kelamin


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Neng Dewi? "


Pertemuan yang terlalu mendadak, Dewi terkejut, karena ia bertemu secara langsung dengan sepupunya yang berasal dari desa, ia juga lupa bahwa sepupunya itu bekerja sebagai pelopor sayur dan buah buahan dari desa ke kota.


"Firdaus? "


"Wah, saya tidak menyangka bahwa saya melayani eneng Dewi, pantas saja suaranya bisa dikenali. " ucap Firdaus.


Dewi tersenyum dan nyengir. "Iya juga, saya juga tidak menyangka akan bertemu kamu, Fir. "


Firdaus menatap ke arah badan Dewi, tatapannya mengarah ke arah perut Dewi, ia baru pertama kali melihat sepupunya itu dengan tubuh yang berbeda setelah beberapa lama tidak bertemu.


"Neng, badannya sudah berubah ya? Sekarang sudah lebih berisi ya? " tanya Firdaus.


Dewi tidak terkejut, ia sudah biasa ditanya seperti itu, paling ia akan menutupi perutnya dan menegakkan posisi tubuhnya agar ia orang tidak lagi melihat ke arah perutnya.


"Ah, benarkah? " tanya balik Dewi.


"Neng, saya tidak bohong, memang berubah, neng Dewi jadi lebih berisi. " jawab Firdaus.


Dewi menjadi gugup, ia ingin lari rasanya dari tempat itu, siapa sangka jika ia akhirnya diperhatikan bagian tubuhnya setelah pembicaraan itu dimulai.


Dewi berusaha mencari alasan, dan akhirnya ia menemukannya.


"Ya, ini efek dari makanan di sini yang rasanya sangat lezat, makanya saya sekarang berisi. " ucap Dewi.


Tampaknya alasan tersebut masih kurang meyakinkan, Firdaus menatap Dewi dengan memicingkan matanya, Dewi tentu saja cemas dengan perilaku sepupunya yang seperti itu.


"Walaupun makanan di kota enak enak semua, jaga pola makannya ya, neng, makanan di kota walaupun enak semua tapi tidak sepenuhnya sehat. " ucap Firdaus.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Iya, saya mengerti. "


"Omong omong, saya badannya gendut seperti ini terlihat jelek ya? " tanya Dewi.


"Gendut saja masih cantik, malah lebih menggemaskan saja, saya yakin eneng Dewi pasti banyak laki laki yang ingin berkenalan selama di kota. Benar tidak? " tanya Firdaus balik.


"Bisa saja, saya biasa biasa saja di kota, saya juga tidak ingin berkenalan dengan laki-laki selama saya berkuliah, maklum ingin belajar dahulu. " jawab Dewi penuh alasan.


"Wah, bagus bagus, memang lebih baik kalau eneng lebih memilih untuk fokus belajar, ibu sama bapak neng Dewi pasti bangga. " puji Firdaus.


Dewi tersenyum, ia menghargai pujian dari sepupunya itu sendiri, walaupun kalau kebenaran terungkap, malah akan menjadi sebaliknya.


"Bisa saja. Oh iya, sebelumnya, berapa harga semuanya ini? " tanya Dewi.


"Neng, tidak usah bayar, saya kan keluarga neng Dewi sendiri, saya kasih saja untuk eneng. " tolak Firdaus.


"Jangan seperti itu, kamu kan jualan, kalau kamu kasih gratis dengan saya, yang ada tidak balik modal. " ucap Dewi.


"Tidak apa apa neng, sesekali kan di kota berjumpa dengan saya, dan juga memberikannya secara gratis dengan eneng Dewi, saya minta terima saja. " ucap Firdaus.


"Terimakasih. " ucap Dewi.


Firdaus memasukkan semua sayuran yang dipilih oleh Dewi ke dalam kantong plastik, kemudian ia memberikannya kepada Dewi.


"Ini ya, neng, terimakasih sudah berbelanja. "


"Sama sama. Ya sudah, kalau begitu, saya ingin kembali lagi, terimakasih sayuran nya. " ucap Dewi.


Dewi dan Firdaus akhirnya berpisah, Dewi berjalan dengan cepat menuju ke dalam gedung apartemen tersebut, ia terburu-buru untuk menjauh dari Firdaus.


Sesampainya di lobby apartemen, Dewi mengatur nafasnya dengan terburu-buru, ia memegang dadanya yang berdegup dengan kencang, antara panik dan terkejut karena ia bertemu dengan sepupunya sendiri saat ia mencoba isolasi dirinya di dalam apartemen milik Gusti.


"Lain kali kalau mau beli sayur perlu hati hati, agar tidak bertemu keluarga lagi seperti tadi. " ucap Dewi cemas.


Jelly menghampiri Dewi yang sedang bersandar di dinding, ia menggonggong, Dewi menatap ke arah anjingnya, dan tak lama seorang laki-laki berdiri di depannya.


"Darimana saja? Kenapa anjingmu ada di dekat tempat kursi tunggu apartemen ini? " tanya Gusti.


"Maaf om, saya baru saja berbelanja di luar, makanya sementara saya meninggalkan Jelly di sana selagi saya sedang berbelanja keperluan makanan. " jawab Dewi.


"Kalau itu alasanmu, sekarang bersiap siaplah, kita akan ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan kandungan kamu sekarang. "


Dewi menanggapi ajakan tersebut.


"Sekarang ini, om? " tanya Dewi.


"Tentu saja, untuk apa saya membuang waktu saya untuk hal yang sia sia? " tanya Gusti balik.


"Tapi, pakaian saya seperti ini, saya akan kembali ke kamar dulu. " ucap Dewi.


Gusti berdecak, ia menghela nafasnya dengan kasar dan menatap ke arah jam tangannya.


"Cepatlah, saya akan beri waktu 20 menit untuk kamu segera bersiap siap, saya akan tunggu di mobil. "


Dewi terkejut dengan waktu yang diberikan oleh Gusti, sementara ia hampir 10 menit akan menghabiskan waktunya menuju ke kamarnya, tetapi demi tidak membuang waktu sama sekali, ia segera bergegas ke lift dan membawa barang belanjaannya.


Jelly mengikuti Dewi, keduanya bergegas menuju ke kamar, sementara Gusti berjalan keluar dari gedung apartemen tersebut.


'Cepat, waktunya singkat sekali untuk kembali ke bawah. '


Tak lama pintu lift terbuka, Dewi berjalan dengan langkah besar menuju ke kamarnya, ia segera membuka pintu kamarnya dan masuk.


Memilih baju yang pantas, tak lupa membawa buku panduan, Dewi sudah menyiapkan dirinya, dan ia meminta Jelly untuk di kamar apartemen tersebut sembari menunggunya pulang setelah selesai dari rumah sakit.


"Jelly, kamu di kamar saja, aku akan pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi adik bayi ini, doakan adik bayinya sehat ya. " ucap Dewi pada Jelly.


Jelly menggonggong, kemudian ia duduk dan tidur di sofa, Dewi bergegas keluar kamar untuk mengejar waktunya kembali ke bawah dan menyusul Gusti yang sebelumnya akan menunggunya di mobil.


.


Di dalam mobil, Gusti melihat hitung mundur dari ponselnya, ia menghitung waktu yang ia berikan untuk gadis tersebut, sudah hampir semenit Dewi melewatkan waktunya untuk segera menghampirinya ke dalam mobil.


"Gadis lamban, dia tidak terlalu peduli akan waktu. " ucap Gusti.


Tak lama setelahnya, Dewi membuka pintu mobil tersebut, Gusti menatap gadis tersebut dengan tatapan serius, diiringi dengan dering waktu yang terdengar terlewatkan, Dewi yang menyadari itu hanya diam dan menghela nafas kecil.


"Maaf, saya terlambat. " ucap Dewi.


"Dua puluh dua menit, waktu tidak begitu berharga untukmu ya? " tanya Gusti.


Dewi menggelengkan kepalanya, sementara Gusti mulai menghidupkan mobil untuk segera pergi ke rumah sakit.


Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai di rumah sakit, Dewi dan Gusti akhirnya tiba di rumah sakit, keduanya berjalan menuju ke dalam gedung rumah sakit tersebut dan segera bergegas menuju ke ruang spesialis kandungan.


"Om, bukannya bulan lalu sudah sering periksa seperti ini? Apa ini tidak membahayakan bayinya? " tanya Dewi.


"Kali ini berbeda, saya dan Bella ingin melihat perkembangan janin kamu, dan juga ingin tahu jenis kelamin dari calon bayi kamu. " jawab Gusti.

__ADS_1


Dewi baru ingat, bahwasannya umur kandungannya sudah memasuki usia yang pas untuk melihat jenis kelamin dari calon bayinya, Dewi merasa deg degan, karena ia akan melihat hasil yang mungkin tidak bisa ia tebak, langsung saja ia merasa gugup dan takut ketika akan menunggu hasil jenis kelamin anaknya.


"Sudah, jangan buang waktu saya seperti ini, sekarang kita masuk. " ucap Gusti.


Dewi mengikuti Gusti dari belakang, ia memegang perutnya dengan erat dan mengikuti langkah laki laki tersebut.


"Ingin periksa kandungan lagi ya? " tanya dokter.


"Ya, sekalian ingin melihat jenis kelamin bayinya juga. " jawab Gusti.


"Boleh lihat buku panduannya? "


Dewi memberikan buku panduan kepada dokter, dokter mulai melihat laporan terakhir dan wajahnya terlihat sangat puas ketika melihat buku panduan tersebut.


"Timing yang pas, silahkan berbaring ke kasur. " arah dokter.


Dewi berjalan dan naik ke atas kasur rumah sakit kemudian berbaring, dokter dan Gusti mendekat, dengan alat USG dan sebelumnya perut Dewi dioleskan oleh gel, dokter mulai melihat perkembangan janin Dewi dari layar monitor USG tersebut.


"Perkembangannya baik seiring waktunya ya, gerakannya juga normal. " puji dokter.


Dewi tersenyum singkat, jantungnya berdetak dengan kencang, ia menanti pemeriksaan jenis kelamin calon bayinya.


"Detak jantung bayinya lumayan kuat, ibunya tegang sekarang ya? " tanya dokter.


"Eh, maaf dokter, saya hanya deg degan, tidak menyangka kalau bayinya ikut deg degan. " jawab Dewi.


"Tidak sabar ya, oke, sekarang kita mulai lihat jenis kelamin adik bayinya ya. "


Dewi menjadi bertambah tegang, dokter merasakan sesuatu yang aneh dengan Dewi, dan menatap tersenyum ke arah Dewi.


"Jangan terlalu tegang ya bumil, detaknya jadi kencang. " ucap dokter.


"Langsung saja, dok, saya jadi tambah deg degan kalau lama. " ucap Dewi.


Dokter mulai memeriksa kembali perut Dewi, dengan fokus dokter tersebut memeriksa janin Dewi, tak lama akhirnya menemukan sesuatu yang membuat dokter tersebut tersenyum.


"Sepertinya ini cewek ya calon bayinya. "


Dewi terkejut mendengar hasil tersebut, ia seketika cemas mendengar jenis kelamin calon anaknya adalah perempuan, padahal sebelumnya ia sudah menandatangani surat perjanjian untuk kesepakatan dengan Bella.


Dewi menatap ke arah Gusti, terlihat raut wajah Gusti yang ikut terkejut, dan laki laki itu memalingkan wajahnya seolah tidak ingin mendengar lagi hasil tersebut, Dewi merasa terjebak dalam situasi tersebut.


"Selamat ya bumil, dijaga dengan baik calon bayinya. " ucap dokter tersebut.


"Bisakah periksa sekali lagi dengan teliti? Mungkin dokter salah menentukan jenis kelamin anak saya. " pinta Dewi.


"Kenapa? Sebelumnya berencana ingin bayi laki laki? " tanya dokter pada Dewi.


Dewi diam, ia menganggukkan kepalanya, sedangkan dokter hanya menghela nafasnya dan tersenyum ke arah Dewi.


"Jangan terlalu terpaku dengan patriaki ya, bumil. Calon bayi perempuan atau laki laki itu sama saja, asalkan ibunya bisa menjaga kesehatan dan pola makannya untuk calon bayinya ya, mau apapun jenis kelaminnya, utamakan agar calon bayinya sehat dan sempurna ya bu. " jelas dokter tersebut dengan Dewi.


Hal yang membuat cemas dan panik Dewi adalah perjanjian yang sebelumnya sudah dibuat dan disepakati keduanya, bahwa ia harus melahirkan seorang bayi laki-laki, jika gagal, maka ia akan di penjara oleh Bella, karena sudah gagal menyepakati perjanjian yang sudah dibuat.


"Bapaknya juga harus berikan semangat untuk ibunya ya, mau laki laki atau perempuan asalkan bayinya sehat sampai lahir, dukungan ayah sangat dibutuhkan untuk ibu dan calon bayinya. " nasehat dokter mengarah pada Gusti.


Gusti menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya. "Baik dok, saya mengerti. "


Dewi dan Gusti diarahkan untuk kembali ke meja, sekaligus dokter memberikan vitamin dan buku panduan milik Dewi, mencatat apa saja yang dibutuhkan oleh Dewi dan memberikannya kepada Dewi.


"Ini sudah saya catat, ibunya tolong dijaga asupan makan dan selalu minum vitamin ya. " ucap dokter tersebut.


"Baik dok, saya mengerti. " jawab Dewi.


Tidak ada percakapan ataupun tegur sapa, benar benar sunyi, keadaan di dalam mobil hanya terdengar suara mobil tersebut berjalan melintas jalanan, dan Dewi merasa cemas akan hal tersebut.


"Om. "


Dewi memberanikan dirinya untuk memulai percakapan, sementara Gusti hanya menggumam merespon panggilannya.


"Ada apa? " tanya Gusti.


"Om, apa dengan hasil seperti ini, saya melanggar syarat yang sudah diberikan oleh bu Bella dengan saya? "


Tiba tiba Gusti menginjak rem secara mendadak, sehingga membuat Dewi hampir terdorong ke depan, Dewi berteriak ketakutan ketika mobil tersebut berhenti secara mendadak.


"Kamu pikirkan saja sendiri apa yang akan kamu terima, Dewina. " ucap Gusti.


"Tapi, ini juga akan menyangkut dengan om juga, jika saya gagal, maka om akan ikut terseret juga. " uca[ Dewi ketakutan.


Gusti tersenyum, kemudian ia mencekam tangan Dewi dengan erat, sehingga membuat Dewi meringis kesakitan akibat cekaman tersebut.


"Sakit om! " ringis Dewi.


"Kamu akhirnya tahu apa yang akan terjadi, karena kegagalan ini maka saya akan ikut terseret karena masalahmu ini, tampaknya kamu puas setelah apa yang saya lakukan padamu selama ini, Dewina? " tanya Gusti dengan nada mendalam.


"Tapi ini tidak kita ketahui, om, saya tidak tahu akan jadi seperti ini... " lirih Dewi.


Dewi ingin menangis, lirihnya tampak tidak berarti untuk Gusti, laki laki itu menatapnya dengan tatapan benci, seolah Gusti benar benar sangat dirugikan karena harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.


"Kamu membuat saya terseret akan kesulitan ini, Dewina! Dan sekarang kamu mengatakan tidak tahu? Hebat sekali kamu ingin memanipulasi saya, wanita j*lang! " bentak Gusti.


Gusti menghempaskan tangan Dewi, tangis Dewi akhirnya pecah, sehingga membuat kondisi di dalam mobil menjadi tidak kondusif, Gusti membawa mobil tersebut dengan kecepatan penuh tak peduli apapun yang dilewatinya.


Sesampainya di gedung apartemen, Gusti menurunkan Dewi jauh dari gedung apartemen miliknya berada, ia meninggalkan Dewi yang berdiri di trotoar sendirian dengan mata gadis tersebut yang sembab, dengan kecepatan penuh Gusti mengacu kecepatan mobilnya untuk pergi meninggalkan Dewi.


Dewi berjalan menuju ke gedung apartemen, ia berjalan menuju ke lift, kemudian memasuki lift tersebut untuk segera ke kamarnya, di dalam lift tersebut Dewi kembali menangis, antara cemas dan ketakutan tengah menelannya sekarang, ia gagal dan akan mendapatkan konsekuensi dari Bella.


.


"Nikmat sekali, ini yang kunantikan setelah pulang dari Thailand. "


Di ruang spa, tampak Bella yang sedang menikmati pijat spa pribadi tersebut, dengan telaten jasa spa tersebut melayani Bella yang menikmati relaksasi tersebut.


Tak lama seseorang membuka pintu, Bella terkejut, ia terbangun dari kasur spa tersebut dan menatap ke arah pintu ruangannya tersebut.


"Gustiawan, ternyata anda. "


"Kita butuh bicara, jangan ada orang di ruangan ini selain saya dan kamu. " ucap Gusti.


Bella berdecak dan menghela nafas kasar, ia meminta jasa spa tersebut keluar dari ruangannya, sementara hanya tersisa Bella dan Gusti di ruangan tersebut.


"Ada apa? Sepertinya tampak penting ingin membicarakan sesuatu dengan saya? " tanya Bella.


"Tentu saja, ini mengenai Dewina. "


Bella yang sedang menuang minuman di gelasnya kemudian terhenti, ia menatap Gusti dengan tatapan bertanya, seolah ia akan menantikan ucapan dari suaminya tersebut.


"Katakan, apa yang ingin anda sampaikan kepada saya tentang simpanan anda? " tanya Bella.


"Jenis kelamin bayinya perempuan, kamu harus tahu itu. " ucap Gusti.

__ADS_1


Bella yang sedang bersantai menatap ke arah suaminya, ia dengan senyum remeh dan tatapan mengejek, ia mampu membuat Gusti menatap kesal ke arahnya.


"Kenapa harus anda yang memberitahukannya? " tanya Bella.


"Karena saya yang menemaninya, dan saya juga diberitahu jenis kelamin calon anak itu. " jawab Gusti.


Bella tertawa, hal itu membuat Gusti mengerutkan keningnya, baginya gila secara tiba tiba wanita itu tertawa dengan jawabannya yang sama sekali tidak mengandung unsur lucu dalam perkataannya.


"Anda kira dengan anda menyampaikan ini dengan saya, saya akan percaya secepat itu, tuan Gustiawan? " tanya Bella.


Gusti mengeraskan rahangnya, dirinya benar benar diuji oleh wanita yang berada di depannya, ia seolah benar benar dipermainkan dengan wanita tersebut.


"Sialan! " tegas Gusti.


"Terserah anda ingin mengatakan apapun dengan saya, yang jelas saya ingin secara langsung dari mulut simpanan anda sendiri yang menjawabnya. Jika perkataan ini berasal dari mulut anda, berarti anda sama sekali ingin melarikan diri dari ini semua, bukan? " tanya Bella dengan nada mengejek.


Kesabaran Gusti habis, ia menggebrak meja dan meninggalkan Bella yang sedang bersantai di ruang spa.


Bella mengambil gelas berisi minuman yang terletak di atas meja, ia mengambil minumnya dan menatap ke arah cermin tegak yang ada di ruang spa tersebut, kemudian ia melemparkan gelas minuman tersebut ke arah kaca, hingga kedua benda dari kaca tersebut pecah bersamaan.


"Sialan! Sudah habis banyak biaya, masih saja dia membuat kesalahan lagi dengan mengandung anak perempuan?! Dasar tidak berguna! " umpat Bella.


Bella berdiri dari tempat tidurnya, ia mengumpat kesal dan melampiaskan emosinya dengan membuang barang barangnya yang berada di atas meja, hingga berhamburan sampai ke bawah.


"Tidak akan saya lepaskan kamu semudah itu, wanita j*lang! "


Bella keluar dari ruang spa tersebut, kemudian ia berjalan menuju ke tempat lain.


.


"Guk! "


Hampir seharian Dewi berada di atas kasur, meringkuk ditengah kesedihan yang ia alami, Jelly menggonggong ke arahnya dan duduk berhadapan dengannya.


"Jelly... "


Dewi memeluk tubuh anjing peliharaannya yang tengah duduk berdiri itu, Jelly masih menggonggong seolah bertanya dengannya apa yang sedang terjadi, sedangkan Dewi menangis tersedu sedu karena mengingat kegagalan yang sedang ia alami.


"Jelly, aku takut meninggalkanmu sendirian, aku tidak ingin jika aku dipenjara karena gagal menyepakati persyaratan dari istrinya om Gusti itu, aku takut kegagalan itu menjebakku. Aku takut itu terjadi padaku... " isak tangis Dewi.


Jelly mengeluarkan suaranya dengan sendu, ia seolah mengerti perasaan majikannya, hanya mengibaskan ekornya dan meletakkan tangannya di salah satu bahu Dewi.


Tak lama setelahnya, dering bel kamar apartemen tersebut berbunyi, Dewi menghentikan isak tangisnya dan mulai bangkit dari tempat tidur untuk melihat siapa yang membunyikan bel kamar apartemennya.


"Jelly, kamu tunggu disini. " ucap Dewi.


Dewi berjalan keluar dari kamar, sementara Jelly yang awalnya diperintahkan untuk diam tetapi akhirnya mengikuti Dewi dari belakang, ia melihat majikannya yang sedang membuka pintu kamar tersebut.


"Senang bertemu denganmu, Dewina simpanan suamiku. "


Dewi terkejut, tanpa diminta secara tiba tiba Bella datang ke apartemen tempat ia tinggal, dengan beberapa orang orang yang terlihat seperti penjaga Bella ikut berdiri di belakang Bella.


"Bu Bella? "


Bella berjalan mendekat ke arah Dewi, sementara Dewi berjalan mundur dari Bella, beberapa orang tersebut mengikuti Bella dan akhirnya masuk ke dalam kamar apartemen yang ditempati oleh Dewi.


"Bu Bella, kenapa datang secara tiba tiba? " tanya Dewi.


"Salah jika saya datang ke apartemen milik suami saya? Bukannya kamu cuma menumpang disini, sementara kamu tinggal disini karena alasan sedang hamil, bukan? " tanya Bella balik.


Dewi diam, perasaannya mulai tak enak, ia merasa bahwa Bella sudah mengetahui semuanya dari Gusti, tamatlah riwayatnya hari ini.


"Omong omong, kamu baru saja dari rumah sakit kan? Oh, dan saya dengar, bukankah kamu mengandung anak perempuan, sedangkan persyaratannya saya ingin anak laki laki, bukan? "


Nyali Dewi akhirnya menciut seketika, dirinya seketika gemetaran, tak lama ia berlutut di depan Bella dengan memohon ke arah wanita tersebut.


"Maafkan saya, bu, saya tidak tahu jika sampai saya akhirnya mengandung anak perempuan, saya tidak bisa memilih ingin menentukan jenis kelamin calon bayi saya ini. " mohon Dewi.


Dewi bersujud di depan Bella yang berdiri menatapnya, ia memohon kepada Bella untuk memberikannya keringanan, karena kesalahan itu saja sama sekali tidak ia inginkan.


"Ya, kamu tidak bisa memilih, kamu saja tidak becus mengandung benih suami saya, bukankah sebelumnya saya ingin kamu mengandung seorang bayi laki laki? " tanya Bella.


Dewi menangis, ia menganggukkan kepalanya dan berlutut di depan Bella, tentu saja hal tersebut sangat tidak disukai oleh Jelly, Jelly menggonggong ke arah Bella.


"Mungkin pengaruh ini bisa jadi ada pada anjingmu, kamu dan anjingmu sama saja, sama sama hama! " umpat Bella.


"Bawa saja dia! " perintah Bella.


Dewi langsung panik, ketika ajudan Bella mulai mendekat padanya, ia memohon dengan suara yang keras dan menangis histeris di depan Bella.


"Saya mohon bu, jangan penjarakan saya dalam keadaan hamil seperti ini! Saya mohon, bu! Berikan saya kesempatan, saya akan menuruti keinginan ibu, asalkan jangan penjarakan saya dalam kondisi hamil seperti ini, bu, kasihan calon bayi saya! " mohon Dewi.


Bella tersenyum, ia sangat puas dengan menatap gadis tersebut memohon dengan raungan, itu yang sangat ia inginkan untuk memberikan pelajaran dengan simpanan suaminya itu sendiri.


"Lepaskan dia. " perintah Bella.


Ajudan tersebut melepaskan Dewi, Dewi kembali tersungkur dan ia mengusap air matanya, kemudian Bella mendekat dan menatap ke arah Dewi.


"Apa saja? Kamu akan turuti apa saja keinginan saya? " tanya Bella.


"Iya bu, apa saja, saya akan turuti, demi calon bayi saya... " jawab Dewi sesenggukan.


"Baik, kalau itu yang kamu katakan, saya ingin meminta sesuatu darimu. "


Dewi menunggu apa yang diucapkan oleh Bella padanya, walaupun ia harus menanggung keinginan Bella yang mungkin berat untuknya.


"Berikan alamat tempat kedua orangtuamu tinggal. "


Kalimat tersebut tentu tidak diinginkan oleh Dewi, itu sama saja ia akan mencoret nama baik keluarganya, jika orangtuanya saja tahu hal tersebut, maka Dewi sama saja seperti mempermalukan kedua orangtuanya di depan orang orang sekitar.


"Jangan bu, saya mohon, jangan... " mohon Dewi dengan lirih.


"Kenapa jangan? Bukankah sebelumnya kamu akan menuruti keinginan saya? " tanya Bella.


"Tapi jangan untuk mempermalukan keluarga saya, bu, saya mohon, biarlah saya yang menanggung semuanya, jangan kedua orangtua saya, hanya itu saja bu, jangan membuat kedua orangtua saya tahu dan akan dipermalukan. " jawab Dewi.


Bella menjadi kesal sendiri, ia menggeram dan akhirnya memukul kepala Dewi, Dewi tersungkur dan memegang kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan tersebut.


"Kamu benar benar menguji kesabaran saya! Sudah tidak tahu malu, sekarang berani melanggar kesepakatan seperti ini, dasar tidak berguna! " teriak Bella.


Bella ingin memukul sekali lagi, namun ia terhenti karena ponselnya berdering, Bella menggeram dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya, kemudian ia mengangkat teleponnya.


"Halo, ada apa? "


Panggilan tersebut mengarah kepada bisnis, sedangkan Dewi duduk tidak berdaya, karena tenaganya sudah habis akibat meraung dan menangis, Bella mematikan ponselnya dan menatap ke arah Dewi dengan tatapan kesal.


"Saya ingin memukulimu habis habisan, tapi karena saya mendapat panggilan bisnis, beruntunglah jika kamu tidak saya buat babak belur! "


Bella merapikan pakaiannya, kemudian memerintahkan ajudannya untuk keluar, ia menatap lagi ke arah Dewi.


"Sampai jumpa dipenjara bersama anakmu untuk 4 bulan lagi. "

__ADS_1


Bella meninggalkan kamar apartemen tempat Dewi tinggal, Dewi bersandar di dinding dengan keadaan tidak berdaya, ia kembali menangisi dirinya karena ancaman tersebut akhirnya benar benar diambil serius dengan Bella, ia akan berada di penjara bersama dengan anaknya.


*


__ADS_2