Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
68: Ini bukan keajaiban


__ADS_3

"Om, benarkah kali ini om akan pergi ke luar kota? "


Dewi masih terlihat manja, ia memeluk pinggang Gusti dari belakang, sementara Gusti masih memperbaiki pakaiannya yang sedang ia kenakan, kemudian memakai dasinya.


"Kemari, saya pasangkan untuk om. " ucap Dewi.


Gusti memberikan dasi tersebut kepada Dewi, wanita itu perlu menaiki ranjangnya, karena tubuh Gusti yang sangat tinggi itu, perlahan dengan telaten ia memasangkannya untuk Gusti, Gusti memandang Dewi dengan tatapan mempesona seolah ia sangat menawan dimatanya.


"Sip, akhirnya sudah selesai. "


Gusti menganggukkan kepalanya, ia merasa puas dengan dasi yang diikatkan di lehernya itu, kemudian Gusti membantu Dewi untuk turun.


"Dewina, saya akan pergi, jaga dirimu baik baik disini, jika kamu mengalami sesuatu, hubungi saja asisten Gina yang ada di apartemen ini. " ucap Gusti.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Baik om, terimakasih sudah membantu saya. "


Gusti menganggukkan kepalanya, kemudian ia pamit dan pergi dari apartemen tersebut, Dewi mengantarkan Gusti hingga ke depan pintu, kemudian ia menutup pintunya kembali.


Di dalam kamar apartemen tersebut, Dewi terus mengingat bayang bayang dari Gusti, ia masih terus mengingat kejadian malam hari yang membuatnya sangat bahagia, ia juga menghirup aroma tubuhnya, parfum milik Gusti begitu melekat di tubuhnya, Dewi semakin terbawa perasaan dengan sikap lembut laki laki itu sekarang.


"Om, cepat pulang, aku akan merindukanmu. " lirih Dewi.


Dewi mengelus perutnya, saat ia berjalan menuju ke ruang utama, bunyi bel kamarnya yang ditekan berkali kali, hal tersebut membuat Dewi menjadi risih, Dewi kembali berjalan ke arah pintu utama tersebut untuk melihat siapa yang sedang membunyikan bel kamar apartemennya.


"Sebentar. " sahut Dewi.


Saat membuka pintu kamar apartemen, dari luar seseorang mendorong pintu utama tersebut hingga Dewi tersungkur, tak lama setelahnya lengannya ditarik dan ia melihat siapa pelaku tersebut, tak lain adalah Bella yang mendorong pintu tersebut yang membuat Dewi tersungkur.


Namun ada hal yang membuat Dewi menjadi takut, Bella datang dengan ekspresi wajah yang terlihat menahan amarah, lengannya ditarik dan sekarang Dewi berdiri di depan wanita itu dengan menatap ketakutan ke arah Bella.


"Saya sudah banyak menahan apa yang sudah kamu dan suami saya lakukan selama ini. Namun, hal ini bukannya menjadi ancaman untuk diri kamu, tetapi kamu menjadikannya sebagai peluang kamu untuk benar benar menjadi saingan saya! "


Suara nyaring menggelegar di ruang utama, Dewi hanya bisa mundur, ia baru sadar, mungkin saja Bella melihat perlakuannya bersama suami dari wanita yang berada di depannya, sekarang Bella mencekam kerah bajunya dan tatapannya benar benar langsung mengarah kepada Dewi.


"Kamu kira kamu pantas untuk menjadi pengganti saya? Berani sekali kamu menggoda suami saya, dan kamu mengajaknya untuk berhubungan! Sengaja kamu melakukan itu untuk menggodanya, dasar ******! " teriak Bella.


"Bu Bella, saya bisa menjelaskan yang sebenarnya... " ucap Dewi.


"Hentikan omong kosongmu! Saya tahu kamu benar benar ingin menjadi pelakor! Beraninya kamu menikmatinya bersama dengan suami saya di kamera pengawas! Kamu terlalu jauh menguji kesabaran saya untuk menghajar kamu habis habisan! "


Bella mencekik leher Dewi, ia mendorong tubuh Dewi hingga terbentur ke dinding, Bella memukul wajah Dewi dengan tas mahal yang sedang ia pegang, kekuatan Dewi tidak sekuat Bella, ia hanya bisa melindungi dirinya semampunya, sedangkan serangan bertubi tubi itu dapat ia rasakan hingga ia akhirnya terjatuh.


Bella bukannya berhenti, wanita itu semakin bertambah brutal, pukulan tersebut membuat Dewi berteriak kesakitan disela sela tangisannya memohon kepada wanita yang berkuasa itu untuk menghentikan tindakan kekerasan tersebut, hingga akhirnya Bella terhenti dan menatap Dewi dengan tatapan tajam.


"Bu, saya minta-- "


Bella kembali memukuli Dewi, bahkan tidak segan ia menendang perut Dewi, Dewi semakin berteriak kesakitan dan mencoba melindungi perutnya dari tendangan Bella.


Bukannya bisa terelakkan, Bella menarik tangan Dewi yang tengah melindungi perutnya, Bella juga mencekam rambut Dewi dan menyeretnya hingga ke dapur, Dewi berteriak kesakitan karena siksaan tersebut tidak henti hentinya menyerang dirinya.


"Bu Bella, ini menyakitkan! " teriak Dewi.


"Saya benci dengan kehadiran kamu! Saya jijik dengan kelakuan manjamu dengan suami saya! Saya benci kandunganmu! Saya akan bunuh kamu dan anakmu! "


Satu tendangan keras mendarat ke perut Dewi, Dewi memekik kesakitan, ditambah dengan air matanya yang menetes deras, Dewi berteriak kesakitan ketika perutnya ditendang layaknya sebuah samsak tinju.


"Nyonya! Nyonya, harap hentikan nyonya! "


Asisten Bella datang menghampiri Bella, tangan Bella ditahan oleh asisten pribadinya dan asisten Gusti yang bernama Gina sempat mendapat permohonan bantuan dari asisten Ella, mereka menahan Bella yang bertindak kekerasan dengan Dewi, hingga Dewi tersungkur tidak berdaya di dinding dapur tersebut.


"Kenapa kalian menghentikan saya? Apa kalian mendapat perintah dari suami saya untuk mengikuti pelakor ****** ini daripada saya?! " bentak Bella.


"Tidak nyonya, namun nyonya harus menahan emosi nyonya, jangan sampai nyonya berbuat sesuatu yang berbahaya. " ucap asisten Ella.


Kedua asisten itu berhasil menenangkan Bella, sedangkan suara lirih kesakitan dapat terdengar di telinga ketiga wanita yang berada di kamar apartemen tersebut.

__ADS_1


"Tolong saya... " lirih Dewi.


"Nona Dewi, anda-- "


Asisten Ella melotot ke arah Dewi, alangkah terkejutnya mereka melihat Dewi, selain melihat kondisi Dewi yang terlihat kacau, dari sela sela kaki Dewi mengeluarkan darah, disusul dengan cairan bening yang ikut keluar, sesuatu akhirnya terjadi pada Dewi.


"Asisten Gina, bantu saya untuk membawa nona Dewi. " teriak asisten Ella.


Asisten Gina kemudian mendekat, sementara Bella menatap tidak percaya, ia memilih untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut, kedua asisten tersebut membantu Dewi untuk berdiri, mereka memanggil nyonya mereka yang sebelumnya kabur meninggalkan tempat kejadian.


"Asisten Ella, sepertinya nona Dewi ingin melahirkan, tolong panggil satpam untuk mencarikan taksi secepatnya ke rumah sakit. " ucap asisten Gina.


"Baik, saya akan pangggilkan terlebih dahulu. "


Asisten Gina mencoba menenangkan Dewi yang meringis kesakitan, sedangkan asisten Ella mencoba untuk menghubungi satpam untuk mencarikan taksi menuju ke rumah sakit.


.


Dewi bersama dengan asisten Gina dan Ella menaiki taksi, perlu menunggu setengah jam untuk kedatangan taksi menuju ke rumah sakit, keadaan di dalam taksi begitu mencekam, karena melihat keadaan Dewi yang secara tiba tiba ingin melahirkan karena ulah Bella.


"Kemana nyonya Bella pergi? " tanya asisten Gina.


"Saya tidak tahu dimana nyonya setelah memukuli nona Dewina, tapi keadaan seperti ini nona Dewina sekarang, ini masa masa berbahaya. " jawab asisten Ella.


Saat mengarah ke samping, terlihat Dewi yang menyender di kursi penumpang, kedua asisten itu terlihat panik ketika Dewi terlihat pingsan.


"Nona Dewi, apa anda baik baik saja? "


Dewi kemudian membuka matanya, mata sayu itu menatap ke arah kedua asisten yang berada di sampingnya, ia menganggukkan kepalanya saat asisten Ella bertanya padanya.


"Saya baik baik saja, hanya, perut saya terasa sangat sakit... " ringis Dewi.


Dewi mengelus perutnya, air matanya kemudian menetes.


"Saya takut anak saya dalam bahaya, saya hanya ingin anak saya baik baik saja setelah saya mendapat tindakan kekerasan. Saya tidak ingin anak saya mati... "


Dewi menggelengkan kepalanya.


"Kenapa nona? " tanya asisten Gina.


"Nanti saja saat di rumah sakit, saya tidak kuat untuk sekarang, asisten Gina... " jawab Dewi.


Asisten Gina menganggukkan kepalanya, ia menuruti keinginan Dewi, dan juga ia menenangkan Dewi agar wanita itu tidak tertidur disaat saat kondisi darurat sekarang.


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam lamanya, akhirnya taksi yang ditumpangi oleh Dewi dan kedua asisten tersebut berhenti di rumah sakit, dengan sigap asisten Ella meminta suster untuk membawakan kursi roda, perlahan asisten Gina membantu Dewi untuk turun, Dewi kemudian duduk di kursi roda tersebut dan dirinya dibawa oleh suster menuju ke ruang bersalin.


"Asisten Gina, asisten Ella, terimakasih sudah membantu saya... "


Asisten Ella dan Gina kemudian menatap ke arah Dewi, disaat kondisi wanita itu ingin melahirkan, namun Dewi masih sempat mengucapkan terimakasih kepada keduanya, mereka tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seiring mereka mengikuti Dewi ke ruang bersalin dan berlari bersama suster yang membawa wanita itu.


"Masih pembukaan 6, agar lebih cepat, diperbolehkan banyak bergerak terlebih dahulu. " saran dokter tersebut.


"Baik dok, terimakasih. " ucap asisten Ella.


Dewi yang sekarang berada di atas kasur kemudian mencoba menghela nafasnya, sesekali ia mencari posisi yang membuatnya nyaman, namun itu mustahil, rasa sakitnya terasa sedikit demi sedikit.


"Asisten Gina... " panggil Dewi.


"Ya, dengan saya, ada apa, nona Dewina? " tanya asisten Gina.


"Bisakah asisten Gina menghubungi om Gusti? Saya ingin menelponnya untuk hal ini. " mohon Dewi.


Asisten Gina menganggukkan kepalanya, ia mengambil ponselnya dan mencari nomor majikannya itu untuk memberitahukan kondisi Dewi yang ingin segera melahirkan itu.


Lintasan jalan penuh akan kendaraan melaju, terlihat sebuah mobil milik Gusti melintasi perjalanan tersebut, hari itu ia akan pergi sendiri ke luar kota untuk urusan pekerjaannya, sedangkan asistennya yang bernama Ruben itu sudah berada di luar kota malam tadi untuk menyiapkan keperluan Gusti nantinya, hal tersebut yang membuat Gusti berangkat sendirian dengan mobil pribadinya menuju ke luar kota.

__ADS_1


Ponsel Gusti berdering, Gusti yang tengah mengendarai mobilnya itu kemudian meraih ponselnya yang terletak di kursi jok yang berada di sampingnya, dan mengangkat telepon tersebut.


"Halo Gina, ada apa menelpon saya sekarang? " tanya Gusti.


'Om, tolong, datanglah kemari, saya... Hari ini, anak ini ingin lahir... ' lirih Dewi.


Gusti yang terhubung dengan Dewi lewat ponsel, Gusti yang berada dalam perjalanan menuju ke luar kota kemudian memutuskan untuk segera kembali, karena Dewi yang mengatakan bahwa ia ingin melahirkan, sungguh hal tersebut diluar prediksi hari perkiraan lahir.


"Dewi, jangan bercanda, hari perkiraan lahirmu dua minggu lagi. Jangan main main dengan saya untuk sekarang. " ucap Gusti.


'Tidak, saya serius sekarang, saya... Sekarang saya berada di rumah sakit. Saya mohon, om datang ke rumah sakit sekarang... '


Dari telepon saja terdengar bahwa nada suara Dewi seperti mengeluh kesakitan, Gusti merasa bahwa hal itu benar benar terjadi, ia mencari tempat untuk berputar balik menuju ke arah rumah sakit yang berada di kotanya, dan akhirnya ia kembali ke jalur menuju ke kotanya kembali.


"Dewina, kamu tunggu saya, saya masih berada di perbatasan kota, saya akan-- "


Tiba tiba, telepon langsung dari layar mobilnya, Gusti begitu kesulitan untuk mengangkat kedua telepon di beda seluler tersebut. hingga fokusnya untuk mengendarai mobil seketika hilang.


"Ah, sial, telepon ini terus saja berdering. " umpat Gusti.


Gusti mencoba mematikan telepon mobilnya, ia kembali mengendarai mobilnya, dan kembali terhubung ke sambungan telepon pada Dewi yang sekarang melapor bahwa akan melahirkan hari itu juga.


"Dewina, kamu tenangkan dirimu sekarang, saya akan kembali, sekarang ada asisten Gina disana? " tanya Gusti.


'Benar om, sekarang asisten Gina bersama saya... Sakit... '


"Dewina, tahan, saya akan kesana secepatnya. Ah, telepon ini! "


Gusti merasa kelabakan sekarang, disaat kondisi darurat, sementara telepon perusahaan lain kembali menghubunginya, tak lama setelahnya, suara klakson terdengar sangat nyaring, Gusti menatap ke depan dan sebuah mobil mendekat dari arah berlawanan darinya, jelas Gusti langsung membanting setir mobilnya hingga melewati jalan, hingga mobilnya terbalik melewati jalur.


Suara benturan dan pecahan terdengar dari telepon, Dewi yang mendengar suara tersebut kemudian menjauhkan telinganya dari ponsel, matanya melotot seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Om, om Gusti....! "


Panggilan tersebut terputus, Dewi dengan wajah cemasnya kemudian menatap ke arah kedua asisten tersebut.


"Saya mendengar suara tabrakan... Om Gusti sepertinya kecelakaan... " cemas Dewi.


Asisten Gina dan Ella terkejut, kedua asisten tersebut tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, dengan segera, asisten Ella menghubungi Bella untuk memberitahukan hal tersebut kepada majikannya.


.


Dewi menanti waktunya untuk melahirkan, di ruangan bersalin, ia mendengar para ibu ibu lainnya yang sudah melahirkan menyambut suara tangisan sang bayi, ia menjadi kepikiran, setelah ia melahirkan, akankah ia bisa bertemu terus dengan anaknya, secara ia sendiri akan terpisah dari anaknya dan melanjutkan hidupnya menjadi seorang gadis serta mahasiswi kembali.


Dokter telah memeriksa keadaan pembukaan Dewi, dirasa pembukaan itu sudah mulai dekat, akhirnya dokter dan suster mengambil tindakan untuk persalinan kepada Dewi, ia dibawa menuju ke ruang bersalin.


Di ruang bersalin, Dewi bersama dengan dokter lainnya berada di ruangan tersebut, sebelumnya mereka memulai berdoa terlebih dahulu, dan mereka memulai persalinan tersebut.


Dewi berjuang sendirian di ruangan tersebut, dengan bantuan para perawat yang berada di ruang persalinan tersebut membantu Dewi, Dewi mengikuti prosedur persalinan yang diarahkan oleh dokter dan perawat yang berada di ruangan tersebut.


Rasa yang dapat Dewi terima saat ini adalah nyawanya terasa ingin tercabut, segala upaya Dewi dapat rasakan sekarang, kini gadis itu dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.


"Dorong terus, jangan teriak pokoknya. " arah perawat kepada Dewi.


Dengan sekuat tenaga, Dewi mengikuti arahan tersebut, nafasnya, tubuhnya, dan segala yang ia rasakan bercampur aduk sekarang, sekarang juga hanya satu yang Dewi inginkan, anaknya bisa lahir dengan selamat.


"Lagi, kepalanya sudah mau keluar. "


Satu helaan nafas Dewi kerahkan, tak lama berselang, akhirnya suara tangisan bayi terdengar di ruang bersalin tersebut, Dewi merasa lega ketika ia berhasil melahirkan anaknya, ia yang merasa lemas kemudian mencoba ingin melihat anaknya yang telah ia lahirkan.


"Selamat ya bu, anaknya lahir dalam keadaan sehat. " ucap dokter.


Dokter beserta perawat memberikan handuk kepada bayi yang baru lahir, dengan menunjukkan bayi tersebut kepada Dewi, Dewi dapat melihat rupa wajah anaknya yang baru saja ia lahirkan, ia tersenyum dan memeluk anaknya itu di dalam pelukannya, serta air matanya yang mengalir karena terharu sudah melahirkan anaknya dalam keadaan selamat.


Meskipun demikian, semua itu bukanlah sebuah keajaiban, semuanya adalah kesalahan yang terjadi, sehingga terpaksa Dewi harus melahirkan anaknya di luar prediksi jangka waktu kelahiran, namun ia berusaha tetap menerima semuanya, ia memilih anaknya selamat ketika dilahirkan.

__ADS_1


"Walaupun papamu tidak ada bersama bunda, biarkan bunda memberikanmu sebuah nama. Namamu adalah Galuh Aditya Khairul Pratama. Selamat datang ke dunia, Galuh. " ucap Dewi.


**********


__ADS_2