Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 67: Api cemburu


__ADS_3

Sudah 9 bulan, akhirnya tinggal menghitung minggu untuk Dewi menanti persalinannya, bermacam macam keluhan dari tubuhnya sekarang mulai terasa, ditambah lagi dengan dirinya yang sering buang air kecil, hal tersebut menjadi keluhan Dewi tersendiri karena kurang merasa nyaman melewati trimester akhir itu.


Walaupun bermacam keluhan yang ia rasakan sekarang, Dewi lebih memilih untuk waktunya lebih diperlama, karena perasaan sayangnya kepada anaknya yang membuat Dewi menjadi tidak ingin terpisah dari anaknya, ia sendiri sampai tidak bisa tidur di malam hari karena selalu memikirkan bagaimana caranya untuk tidak akan terpisah dari anaknya, lebih tepatnya ia ingin membawa anaknya kabur setelah dirinya melahirkan.


Sepanjang malam adalah waktu kecemasannya, selalu ia berpikir negatif tentang bagaimana dirinya jika tidak dapat menyelamatkan anaknya dari persyaratan yang sudah dibuat, ia ingin bayinya berada padanya, tidak ingin jatuh ditangan Gusti dan Bella.


Sebelumnya, Gusti dan Bella telah memberitahukan kepada Dewi, bahwasannya peralatan bayi dan sebagainya sudah mereka siapkan sebelum hari perkiraan lahir tiba, hal tersebut merupakan ancaman terbesar untuk Dewi, ia tidak dapat merelakan anaknya diambil oleh kedua pasangan itu.


"Galuh, sebentar lagi kamu akan lahir, semoga lancar lancar saja ya, nak. "


Dewi mengelus perutnya, ia sendiri tak bisa menenangkan dirinya, sementara pikirannya saja masih terus mengarah untuk mencoba membawa kabur anaknya itu.


"Dewina, jangan katakan bahwa semalam kamu begadang. "


Gusti menyadari bahwa Dewi yang tidak tidur nyenyak semalam, Dewi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ketika pria dewasa yang berada di depannya menyadari kondisinya sekarang.


"Saya susah untuk tidur sekarang, om, rasanya kurang nyaman saja untuk tidur sekarang. " ucap Dewi.


Gusti hanya diam, kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Saya tidak tahu bagaimana rasanya, tapi saya minta sebelum hari persalinan tiba, kamu harus jaga pola tidurmu, agar kamu tidak merasa kelelahan sebelum persiapan nantinya. " ucap Gusti.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Baik om, saya mengerti. "


Dewi tidak ingin memberitahukan isi hatinya yang sebenarnya kepada Gusti, selama ini ia resah karena akan melahirkan anaknya, bagaimana tidak, ketika selesai melahirkan, Dewi memang dibiayai kehidupan dan pendidikannya oleh Gusti dan Bella, namun ia tidak akan bisa bertemu dengan anaknya.


Kali ini Gusti menyempatkan dirinya untuk menemani Dewi memeriksakan kandungannya, ia tidak ingin meninggalkan Dewi untuk pemeriksaan sendiri, karena sebelumnya Dewi lengah akan berat badan dan janinnya yang tidak stabil, hal tersebut yang membuat Gusti ingin menemani wanita hamil itu saat melakukan pemeriksaan.


"Silahkan masuk. "


Dewi dan Gusti kemudian masuk ke dalam ruangan, keduanya memulai pemeriksaan bersama dengan dokter kandungan, tujuan mereka sekarang untuk melihat posisi dan sekalian ingin berkonsultasi dengan dokter kandungan tersebut mengenai posisi bayi dan persiapan yang harus disiapkan sebelum HPL.


"Mungkin dengan usia kehamilan yang sudah memasuki trimester 3 dan letak posisi bayi yang sudah mulai berubah, dianjurkan pada bapaknya untuk jenguk bayinya ya. " jelas dokter tersebut.


Raut wajah Gusti tampak terkejut mendengar penjelasan tersebut, sementara Dewi masih bingung dengan penjelasan yang dimaksud oleh dokter kandungannya kepadanya, penjelasan itu tidak terlalu menyangkut di pikirannya, sehingga Dewi tidak terlalu berekspresi seperti Gusti.


"Maksudnya apa ya, dokter? " tanya Dewi.


Gusti menghentikan dokter kandungan tersebut menjelaskannya, ia meminta dokter kandungan yang tengah memeriksakan kandungan Dewi untuk berhenti menjelaskannya kepada Dewi yang masih kebingungan.


"Tidak perlu dijelaskan, dokter, saya mengerti, biarkan saya yang memberitahukannya. " ucap Gusti.


Dokter kandungan tersebut hanya tersenyum, sedangkan Dewi yang masih kebingungan itu kemudian melihat kembali posisi kandungannya sekarang lewat layar monitor.


.


Selama berada di mobil, hanya sunyi tanpa obrolan yang terasa di mobil tersebut, Dewi menyadari situasi tersebut, ia menatap ke sebelahnya, Gusti terlihat dengan wajahnya yang memerah dan fokus mengendarai mobilnya.


"Om, bolehkah saya bertanya sesuatu? " tanya Dewi.


Gusti yang sedang fokus menyetir kemudian membalasnya dengan dengungan singkat, Dewi awalnya ragu, namun rasa penasarannya yang membuatnya ingin bertanya secara langsung dengan Gusti.


"Ya, kamu ingin bertanya apa dengan saya? " tanya Gusti.


"Om, saya kurang mengerti maksud dari dokter kandungan tadi soal menjenguk. Memangnya bayi dalam kandungan bisa om jenguk? "


Pertanyaan Dewi membuat Gusti sedikit tidak fokus saat berkendara, ia juga tidak ingin secara spontan menjelaskannya kepada gadis itu, perlu sekali ia memperhalus bahasanya agar Dewi tidak terkejut ketika mendengar penjelasannya.


"Om, ini masih di jalan, kenapa berhenti? " tanya Dewi.


"Maaf, saya akan mencari tempat untuk memberitahukan hal ini kepada kamu. Tampaknya kamu sangat penasaran dengan maksud dari dokter kandungan kamu tadi. " jawab Gusti.


Setelah menemukan tempat yang cocok untuk menjadi pemberhentian, Gusti kemudian mendekat kepada Dewi, ia membisikkan sesuatu di telinga Dewi, dan Dewi mendengar bisikan tersebut dengan menyimaknya.


Dewi terkejut mendengar penjelasan Gusti, ia menjauhkan telinganya dari Gusti, tatapan Dewi tak bisa dibohongi, bahwa ia merasa takut dan terkejut mendengar maksud dari menjenguk anaknya.


"Om, memangnya harus? " tanya Dewi.


"Kembali pada kamu, saya tidak akan memaksakannya, lagipula keputusan kembali ke tanganmu. Saya tidak ingin lagi kamu berteriak di wajah saja dan menyebut saya pria brengsek. " jawab Gusti.

__ADS_1


Dewi hanya diam, keputusan kini ada di tangannya, Gusti kembali menjalankan mobilnya kembali untuk mengantarkan Dewi hingga ke apartemen, karena laki laki itu harus segera kembali ke perusahaannya untuk bekerja.


"Saya akan pergi dulu, jaga tidurmu untuk malam ini. " ucap Gusti.


Dewi menganggukkan kepalanya, ia menutup pintu mobil Gusti, kemudian mobil tersebut pergi meninggalkannya, Dewi masuk ke dalam lobby gedung apartemen dan menuju ke kamarnya dengan menggunakan lift.


Pikiran Dewi masih tak jauh dari ucapan Gusti tadi siang,, sepanjang ia sering melamun, pikirannya selalu mengarah pada pemikiran yang jorok, tak lain ia akan selalu mengingat kelakuan sebelumnya dengan Gusti, terkadang ia masih mencoba mengingat rasanya yang sudah hampir ia lupakan, tak lama setelah mengingatnya, Dewi akhirnya merasa geli sendiri.


‘Aku lupa akan rasanya, tapi setelah ini mungkin aku akan kembali merasakannya. Akankah rasanya masih sama seperti dulu? ‘


Dewi menutup wajahnya dengan bantal, ia masih merasa malu ketika mengingat hal tersebut, semua gerakan dan sebagainya yang pernah ia lakukan dengan Gusti, membuatnya susah untuk menghapus dari seluruh memorinya yang akan terus membekas dalam pikirannya itu, akibatnya sampai ia tertidur saja, ia akan mengigau untuk


mengingat apa yang sudah ia rasakan sebelumnya.


.


Hamparan kota malam terlihat gemerlap, cahaya lampu dari gedung gedung yang ada di hilir kota terlihat menyinari langit malam, sebuah mobil mewah bersama dengan mobil lainnya melintas dengan cepat di jalan kota yang terkenal padat, mobil tersebut melaju kencang mengikuti arah arus kendaraan lainnya yang berada di jalan.


“Tuan, malam ini tuan tidak banyak pekerjaan yang harus tuan kerjakan, apakah tuan akan memilih untuk pulang ke rumah, sebelum esok hari tuan akan berangkat ke luar kota? “


Di mobil mewah tersebut, Gusti terlihat duduk di kursi penumpang dan melamun melihat ke arah jendela mobil, menatap jalanan saat ia ditanya oleh asistennya, Ruben menatap ke arah kaca spion dan melihat majikannya itu sedang melamun.


“Tuan, apakah—“


“Bawa saya ke apartemen, Ruben. “ perintah Gusti.


Ruben mengangguk paham, ia menuruti perintah majikannya itu, sebelumnya Gusti meminta asistennya itu untuk berhenti di toko roti, karena ia ingin membeli roti kesukaan Dewi.


“Baik tuan, kita akan ke sana. “ ucap Ruben.


Pemikiran Gusti dan Dewi kali ini sedang sama, hari itu mereka seperti tengah bertelepati, fokus pemikiran keduanya hanya mengarah pada saran yang dokter kandungan anjurkan kepada mereka tadi siang, sementara dari keduanya saja sudah mulai canggung, apalagi sudah lama Gusti tidak bertindak agresif dengan gadis yang


sedang hamil itu.


“Jangan om, jangan~ “


“Syukurlah, itu hanya sebuah mimpi saja. “


Dewi mencoba untuk duduk, ia menghela nafas lega, di dalam mimpinya itu, Dewi bersama dengan Gusti, namun Dewi menolak ajakan Gusti untuk bermain, alhasil Gusti secara tiba tiba naik pitam dan menyerang Dewi dengan mencakar wajahnya, Dewi mencoba untuk menyelamatkan dirinya dengan berlari ke arah sofa yang berada di ruang utama, namun ia tersandung sehingga ia tersungkur ke sofa.


“Om Gusti tidak sekejam itu, itu hanya mimpi. “ ucap Dewi.


Bel kamar apartemen Dewi berbunyi, Dewi yang sedang duduk dan menghela nafasnya kemudian berdiri, ia berjalan menuju pintu utama kamar apartemennya, sebelumnya ia melihat ke kaca kecil yang ada di pintunya, dan terlihat dari luar seorang laki laki yang ia kenal, itu adalah Gusti.


“Om Gusti? “


“Dewina, saya bawakan roti kesukaanmu, ambillah. “


Gusti memberikan kantong kertas yang berisi roti kesukaan Dewi, Dewi menerimanya dengan canggung dan mempersilahkan Gusti untuk masuk.


Malam itu terasa sangat canggung, Dewi dan Gusti tidak seperti biasanya, mereka terlihat asing dan sering memalingkan wajah, mungkin masih merasa ragu untuk mengingat sesuatu yang akan mereka lakukan malam itu.


Karena pemikiran mereka yang sama, alhasil Dewi yang sedang memakan roti kesukaannya melahap roti tersebut tidak seperti biasanya, bahkan wanita tersebut susah untuk bisa menelan roti yang tengah ia kunyah itu menuju ke tenggorokan, entah mengapa untuk menelan makanan saja ia seperti sedang terkena radang tenggorokan.


“Om, apa om juga mau? “ tawar Dewi.


Gusti menggelengkan kepalanya. “Tidak, saya sudah kenyang. “


Dewi kembali melanjutkan makannya, Gusti memperhatikan Dewi yang sedang melahap roti tersebut, kemudian disela bibir Dewi, Dewi memakan roti itu hingga krim yang ada di roti tersebut membuat bibirnya belepotan.


“Pelan pelan saja makannya, Dewina. “


Gusti mengusap krim yang ada di sela bibir Dewi, krim tersebut ia kecup di bibirnya, Dewi yang melihat hal tersebut antara terkejut dan tersipu malu, karena Gusti mengusap bibirnya dan tangan laki laki itu menyentuh bibirnya sangat halus.


Entah mungkin masih merasa tertarik, selanjutnya Dewi memakan roti tersebut dengan lahap, hingga bibirnya sangat belepotan tidak seperti di awal, tampak sekali Dewi sedang memancing Gusti untuk kembali melakukan hal yang sebelumnya Gusti lakukan padanya.


“Om, apakah om ingin membersihkannya seperti tadi? “ tanya Dewi.


Gusti merasa sangat tertarik, ia mengerti permainan Dewi barusan, Gusti dengan tatapan sayu menggoda itu menatap Dewi dan tersenyum ke arah wanita itu, permainan tampaknya akan mereka mulai sekarang.

__ADS_1


Dengan tenaga yang dimiliki oleh Gusti, laki laki itu mampu mengangkat Dewi, mereka tampaknya akan larut dalam sebuah permainan yang mereka lakukan nantinya di sebuah ruangan yang sangat khas itu.


Tatapan keduanyatampak menggoda, sahutan nafas mereka berirama, ditambah dengan kecupan yang ikut bersuara seiring nafas yang saling menggebu.


“Dewina... “


Suara nan syahdu itu mengitari indra pendengaran Dewi, Gusti melirih di telinga wanita itu, dengan menyebut nama tersebut di telinga sang pemilik nama itu, Dewi mengikuti alur permainan yang dimulai oleh Gusti, mereka larut akan alur permainan yang mereka buat itu, hingga setiap suara yang beradu menciptakan irama yang begitu menggebu di ruangan tersebut.


Namun sesuatu hal yang tidak disadari oleh Gusti dan Dewi, mereka melupakan sesuatu yang akan membahayakan keduanya, bahwa kamera pengawas yang berada di kamar yang tengah mereka tempati untuk bermain itu tengah menyala, dan menunjukkan bahwa kamera pengawas tersebut sedang dipantau dari kejauhan untuk melihat aktivitas apa yang terjadi di kamar tersebut.


.


Suara alarm yang menggema di telinga, sebuah tangan kekar tengah mematikan alarm yang membangunkan


sang pemilik tangan kekar tersebut, Gusti yang tengah mematikan alarm itu kemudian menarik nafas panjang untuk sadar dari alam mimpinya dan meraih ponselnya yang berada di atas meja dekat ranjang tempat tidur itu berada.


“Sudah pagi ternyata. “


Suara laki laki itu terdengar serak karena terbangun dari tidurnya, matanya terbuka dan menatap langit langit kamar, ia mencoba meraba di sampingnya dan menemukan sesuatu, Gusti menatap ke sebelahnya dan melihat seorang wanita tidur dengan lelap di sampingnya.


“Dewina. “


Tangan Gusti meraih ke atas kepala Dewi, Dewi kemudian terbangun dari tidurnya dengan matanya yang berusaha membuka, kedua netra tersebut saling bertemu, Gusti dan Dewi saling bertatapan, tak lama setelahnya mereka saling tersenyum.


“Apa mimpimu indah, Dewina? “ tanya Gusti.


Dewi tersenyum, ia meraih tangan kekar Gusti dan menciumnya dengan lembut.


“Mimpi saya terasa indah, om, apalagi saat orang yang saya jumpai di dalam mimpi itu kini sedang ada di samping saya. “ jawab Dewi.


Gusti tersenyum, ia mengecup kening Dewi, Dewi yang merasa sangat istimewa itu kemudian memeluk Gusti dengan erat, ia menjatuhkan kepalanya di dada Gusti.


“Terimakasih om. “ ucap Dewi.


“Untuk? “ tanya Gusti.


“Untuk permainannya, ternyata masih terasa sama, tapi kali ini sangat istimewa. “ jawab Dewi.


Gusti menatap ke arah Dewi, keduanya kemudian saling melemparkan senyuman, kemudian Gusti mengecup kening Dewi kembali.


“Saya senang ketika kamu tersenyum seperti ini, Dewina. “ ucap Gusti.


Dewi tersenyum lebih lebar, tak lama setelahnya, Gusti melepas pelukan Dewi dengan perlahan, ia meraih kain putih dan pergi keluar kamar, sementara Dewi masih tergulung di dalam selimutnya dan merenung sambil tersenyum.


Di sisi lain, terlihat seorang pengawas dan asisten wanita tengah panik di dalam ruang pengawas, kedua orang tersebut baru saja melihat sesuatu di monitor kamera pengawas tersebut.


“Doni, segera hapus, jangan sampai nyonya melihat hal ini! “


“Sebentar, akan saya lakukan. “ ucap pengawas tersebut.


Pintu ruang pengawas tersebut terbuka, seorang wanita yang gelarnya sangat dihormati di kediaman tersebut memasuki ruangan tersebut, asisten dan pengawas di ruangan pengawas terkejut ketika mendapati seorang yang harus mereka waspadai dapat melihat apa yang terjadi, yaitu Bella.


“Apa yang kalian lakukan di ruangan ini tanpa saya? “ tanya Bella.


Wajah cemas asisten wanita tersebut membuat Bella curiga, bahkan pengawas yang tadi mendapat tugas memantau monitor tersebut terkaku, Bella kemudian mendekat dan melihat apa yang dilakukan oleh kedua pekerjanya itu.


Sial, belum sempat menghapus video yang ada di monitor tersebut, hal itu dilihat secara langsung oleh Bella, asisten dan pengawas tersebut hanya bisa terdiam setelah nyonya mereka melihat secara langsung apa yang terjadi.


Setiap pergerakan, dan peserta yang berada di monitor tersebut membuat sebuah bara api kecil itu lama lama semakin membesar, tak lama setelahnya, Bella menggebrak meja monitor tersebut dengan keras, sehingga hiasan meja tersebut terjatuh ke bawah dan pecah.


“Gadis desa sialan! “


Bella yang berteriak itu kemudian melempar monitor tersebut, sementara asisten dan pengawas Bella hanya bisa menahan amarah yang dilayangkan majikannya itu, monitor yang seharusnya menjadi pengawas itu akhirnya rusak karena emosi Bella yang melihat pemandangan yang seharusnya tidak boleh ia lihat mengenai suaminya sendiri itu.


“Saya akan habisi kamu, Dewina! “


Bella berlari meninggalkan ruang pengawas tersebut, asisten Bella terkejut ketika melihat majikannya itu berteriak dan berlari dari ruangan tersebut dengan melayangkan kata kata ancaman, karena kalau majikannya itu sedang mengamuk, maka semua hal yang dilakukan akan terasa halal untuk dilakukan, walaupun akan sanggup untuk membunuh orang yang sudah menjadi sasarannya.


*********

__ADS_1


__ADS_2