
...Happy reading š§”...
......................
Beberapa hari berlalu, semuanya berjalan seperti biasanya, bahkan Dewi merasa senang, bahwa makalah yang sebelumnya ditolak akhirnya diterima oleh dosennya, itupun karena joki pembuat skripsi dan tugas makalah kuliah yang membantunya menyelesaikan makalah tersebut.
"Ternyata semudah itu, padahal sebelumnya tidak diterima sama sekali. " ucap Dewi.
Dewi tersenyum, kemudian ia pergi meninggalkan ruangan jurusan tempat ia berada, tujuannya ingin mengarah ke restoran dan langsung bekerja di restoran tersebut.
Berjalan sambil melihat sebagian orang orang yang sibuk dan sebentar lagi waktu makan siang telah tiba, Dewi berjalan cepat menuju ke restoran.
Suasananya tak jauh berbeda dari sebelumnya, bahkan sekarang pelanggan sudah mulai ramai, segera Dewi menuju ke ruang belakang dan mengganti bajunya untuk segera bekerja membersihkan piring yang menumpuk.
"Syukur udah dateng lo, cepat sono, cuci piring piring sama yang lain lain, tau sendiri kalau siang begini pada rame semua pelanggan datang. "
Cantika yang datang dari ruang dapur meminta agar Dewi mempercepat pekerjaannya, karena pengunjung yang mulai ramai karena waktu makan siang tiba.
Tanpa gangguan, Dewi menyelesaikan masalahnya, ia mencuci berbagai piring dan yang lainnya untuk dicuci, karena akan segera digunakan untuk menyiapkan hidangan masakan lainnya.
......................
"Ya, handle urusan pihak ke dua, saya akan menjumpai pihak ke lima dan menemui pihak pertama. "
Terlihat seorang laki laki pekerja keras, yaitu Gusti, tampak ia sangat sibuk dengan pekerjaannya sekarang, tidak heran jika ia jarang terlihat kecuali sedang bermain dengan Dewi.
Baru kali ini akhirnya Gusti berada di rumah, walaupun hanya sebentar karena pekerjaan, namun ia masih sempat menemani kedua anak gadisnya untuk berkumpul bersama.
Kali ini Gusti bekerja bukan karena alasan apapun, ia benar benar memiliki pekerjaan yang berpengaruh pada investasi sahamnya, maka beberapa pihak sementara ia tunda dan memilah beberapa pihak yang baginya penting di awalannya.
"Oh, tampaknya ada yang sedang sibuk, bolehkah saya tahu, tujuan anda kali ini apa, Gustiawan? "
Gusti menghela nafasnya, baru saja ia bernafas lega namun ia tidak bisa kali ini, karena Bella yang sudah mengeluarkan kata kata pertama untuk bertanya kemana perginya Gusti.
"Urusan bisnis, apakah kamu tahu bahwa selama ini saya selalu berkutat dengan bisnis saya? " tanya Gusti.
"Urusan bisnis seperti apa, pah? "
Baru kali itu Gita bertanya, setelah lama selalu Bella yang bertanya dengan Gusti, dan akhirnya anak gadisnya sendiri lah yang bertanya padanya.
"Sayang, kamu tahu sendiri bahwa papa selalu bekerja, dan terkadang papa sadar bahwa papa jarang bertemu dengan kamu dan adikmu. Apakah tidak boleh papa mengurus bisnis papa sendiri? " tanya Gusti pada anaknya.
"Alasan saja, bilang saja papa tidak betah dirumah karena mama kan? "
Gusti mengusap wajahnya, ia harus bersabar dengan anaknya yang mulai posesif itu.
"Sayangku, bisnis ini sangat penting, bahkan untuk membelikan 12 tas mahal milik mamamu itu sendiri, bisnis ini hampir setara dengan itu semua. " jawab Gusti.
"Tapi mama bekerja dan membeli tas dan keperluannya sendiri, dia tidak campur tangan dengan papa. "
Gusti menghela nafasnya dengan kasar dan menatap kesal ke arah Bella.
"Kamu menghasut anakku ya? " tunjuk Gusti ke arah Bella.
Bella menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua bahunya, di iringi dengan bibir dan kedua tangannya yang mengangkat ke atas.
"Tidak, tentu saja anak saya berinisiatif bertanya sendiri, karena dia tahu kalau anda sebagai ayahnya jarang menghabiskan waktu di rumah. " jawab Bella.
"Tidak mungkin, saya tahu anak saya sendiri, jangan kira saya bodoh karena dia berinisiatif bertanya sendiri. Anak saya tahu bahwa saya sibuk, berbeda dengan wanita cerewet dan kekanak-kanakan seperti mu. "
"Hei, anda kenapaā"
"Dan ingat juga, jangan sampai saya mengetahui bahwa kamulah yang mempengaruhi Gita dan Gina, atau kamu akan dapat akibatnya. " ancam Gusti.
Gusti meninggalkan Bella yang terdiam, ia menaiki tangga menuju ke atas, ia tidak mempedulikan istrinya yang memantaunya dari bawah.
"Kamu ini, aktingmu jelek sekali! Lihat, papamu menyalahkan mama, agh! "
Bella meninggalkan anaknya yang tengah berdiri di ruang utama, Gita hanya berdiri sendirian di sana, ia merasakan kesepian dan tidak berguna, karena tidak bisa membantu kedua orangtuanya untuk berbaikan, harapan keluarga yang hangat dan bahagia seperti dulu, kini sudah sirna begitu saja.
......................
"Duh, banyak sekali lalat disini! "
Dewi dan Cantika tengah menikmati makan siang mereka, mereka duduk di dekat dapur dan memakan makan siang mereka, sebagian makanannya dari bekal buatan sendiri dan juga lauk tambahan dari restoran.
Makan siang mereka terganggu, karena di sekitar mereka ada lalat yang menghampiri, membuat makan siang mereka menjadi kerusuhan karena serangga tersebut.
"Biasa aja kalik, namanya nih dapur belum diasap asapin, makanya nggak heran kalau banyak laler nya. Sekalian aja makan aja tuh laler, mayan vitamin tambahan. " ucap Cantika.
"Jorok sekali, saya tidak suka. " ucap Dewi.
"Hahaha, bercanda. " tawa Cantika.
Keduanya melanjutkan makanannya, kemudian mengobrol bersama.
"Wi, Dewi... "
"Ya, ada apa, Can? " tanya Dewi merespon panggilan Cantika.
"Wi, lo udah punya pacar nggak? Tunangan atau apa gitu? " tanya Cantika.
Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak, saya tidak punya pacar atau apapun, karena saya ingin menimba ilmu dahulu. "
"Preeet! Nggak mungkin jaman sekarang cewek kayak lo nggak punya pacar, bilang aja lo privasiin hubungan lo, iya kan? " tanya Cantika.
Dewi tetap menggelengkan kepalanya, tetapi itu tak membuat Cantika berhenti bertanya tentang hubungan Dewi.
"Kalo nggak keduanya, apa lo pernah jadi simpanan laki orang?! "
Dewi terkejut, ia tersedak, bertepatan dengan ia yang sedang memakan makanan pedas, tentu saja itu membuatnya tersedak dan lehernya panas, Dewi batuk dengan keras karena rasa pedasnya yang menjulur ke telinga.
"Dewi! "
Segera Cantika membawa Dewi menuju ke kamar mandi restoran, ia menyuruh Dewi membuka mulutnya seraya Cantika menyemprotkan air ke mulut Dewi.
"Sambil batuk, Wi, biar keluar rasa pedasnya! " perintah Cantika.
Dewi mengikuti instruksi Cantika, kemudian ia merasa lega dan menjauhkan semprotan air tersebut dari mulutnya.
"Udah? " tanya Cantika.
Dewi menganggukan kepalanya, Cantika keluar dari kamar mandi untuk mengambil air minum, kemudian ia memberikan air minum kepada Dewi.
"Gimana? Legaan sekarang? " tanya Cantika.
"Lebih baik dari sebelumnya, walaupun rasanya cukup menyiksa tenggorokan saya. Benar benar, rasa pedasnya menjulur hingga ke telinga. " ucap Dewi.
__ADS_1
Dewi dan Cantika kembali ke tempat duduk mereka semula, Dewi yang tadinya tersedak makanannya kemudian menyimpan bekalnya, karena sehabis tersedak ia tidak nafsu makan lagi.
"Saya sudahi dahulu makannya, selera makan saya hilang karena tersedak. "
Cantika melanjutkan makannya, menatap Dewi dengan sangat intens.
"Kalau aja gua cowok, lo mau sama gua, Wi? "
Dewi yang sedang minum air seketika terkejut, bagaimana tidak, Cantika, rekan kerjanya, mengakui akan menyukai dirinya jikalau Cantika adalah seorang laki-laki.
"Jangan berbicara yang aneh aneh, Can, wanita tetaplah wanita, kodratnya tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. " jawab Dewi.
"Ya, itu kan istilahnya doang, kalau beneran terjadi, lo mau sama gua, Wi? " tanya Cantika sekali lagi.
"Sepertinya saya akan memilih yang lain, seperti pria tua tepatnya. " ucap Dewi.
Cantika berdecak, di pilihannya tidak sama sekali Dewi tertarik memilihnya, hanya alasan saja yang ia dengar sedari tadi.
"Ck! Kenapa ya, cewek cewek jaman sekarang tuh pada suka cowok yang udah tua? Apa karena matre ya?! "
"Sebelumnya kamu bilang bahwa itu pilihan, maka pilihan saya hanya itu saja, Cantika. " jawab Dewi.
"Duh, jadi gemas sama lo, Wi, jawabannya biasa aja sama pertanyaan gua barusan. Udahlah, badmood gua. "
Cantika berdiri dari tempat duduknya, bersamaan dengan Dewi yang ingin kembali bekerja, mereka berdua akhirnya melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya tertunda karena makan siang.
"Dewina! "
Dewi berbalik ke belakang, kemudian ia melihat pemilik restoran yang memanggilnya, tentu saja Dewi langsung menghampiri bosnya tersebut.
"Ya, ada apa, pak? " tanya Dewi.
"Ada yang mencarimu di luar, katanya mereka ingin bertemu dengan kamu secepatnya. " jawab pemilik restoran tersebut.
Dewi mengikuti pemilik restoran tersebut, ia penasaran dengan siapa orang yang mencarinya.
Saat keluar, Dewi melihat siapa yang mencarinya, ternyata yang mencarinya adalah teman teman kerjanya saat di minimarket, 4 orang tersebut mencari dirinya.
"Surprise, Dewi! "
Dewi terkejut dan terharu, teman temannya yang dulu bekerja bersamanya saat di minimarket berjumpa dan ingin bertemu dengannya, tentu saja hal tersebut membuat Dewi senang bahkan rasa rindunya kini kembali terobati.
"Kalian, ternyata kalian menghampiri saya disini, saya sangat rindu kalian semua. " ucap Dewi.
"Iya dong, kami juga kangen sama kamu, sekalian mau kasih kejutan buat kamu, Wi...! " ucap Mutia.
Dewi mengangkat alisnya. "Kejutan untuk saya? Apa itu? " tanya Dewi.
Farel dan Randi mengeluarkan kue dari bawah meja, kemudian diikuti oleh Mita yang membawa lilin, mereka mendekat dengan Dewi dan menghidupkan lilin tersebut, nyanyian selamat ulang tahun terdengar jelas di restoran tersebut.
"Selamat ulang tahun.... "
"Selamat ulang tahun.... "
"Selamat ulang tahun, Dewi, semoga panjang umur.... "
Tentu saja hal sekecil itu sangat istimewa untuk Dewi, Dewi terharu dan meneteskan air matanya, bahwasannya ia benar benar terharu dengan dirayakannya hari ulang tahunnya yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan, bahkan mengingat hari lahirnya sendiri kadang lupa.
"Bagaimana kalian bisa tahu, bahwa hari ini saya berulang tahun? Bahkan saya sendiri saja lupa dengan hari kelahiran saya sendiri? " tanya Dewi.
"Gunanya sosial media tuh ada, Wi, bahkan akun sosmed kamu sendiri yang kasih peringatan, bahwa hari ini kamu tuh lagi ulang tahun. " jawab Mutia.
Dewi menangis, teman temannya ingin memeluk Dewi, tetapi Mita menyingkirkan Randi untuk tidak memeluk Dewi.
"Apasih, Ta? Kan aku juga mau meluk Dewi? " tanya Randi dengan nada kesal.
"Meluk sih meluk, tapi meluk kamu tuh mengambil kesempatan dalam kesempitan, jadi cowok kok cabul amat? "
"Pikirannya kotor mulu sih kamu, Ta? Noh, si Farel aja nggak papa meluk Dewi, masa giliran aku nggak? " tanya Randi tidak terima.
Dewi tersenyum, dan ia menyambut Randi untuk ikut ia peluk.
"Sini, saya peluk kamu. " tawar Dewi.
Tentu saja Randi tidak menolaknya, bahkan ia langsung memeluk Dewi dengan erat, pelukan pertamanya dengan wanita cantik seperti Dewi yang paling ia tunggu tunggu sedari dulu.
"Yes, ini adalah pelukan pertama, siap siap, Wi! "
Langsung saja, Randi mengangkat Dewi, semua teman teman Dewi berteriak karena Randi yang spontan langsung menggendong Dewi dan mengangkat Dewi naik ke bahu.
"Ini hari untuk Dewi! Sorak gembira untuk Dewi, teman teman! " teriak Randi.
Semua pengunjung restoran terhibur dengan kehebohan yang ada di meja tengah, bahkan juga ikut tertawa dan bernyanyi bersama untuk hari ulang tahun Dewi, Dewi merasa bahwa hari ini seperti mimpi, karena ia secara langsung dirayakan oleh orang lain yang hanya sebentar ia kenal.
"Abadikan nggak sih ini? Nanti hasil fotonya kita kasih sama Dewi, sebagiannya kita post di sosmed. " saran Farel.
"Boleh banget tuh, Ran, fotoinnya pake ponsel kamu ya? "
Randi cepat merespon, karena ia juga ikut merasa senang hari itu, dan dengan cepat ia memberikan ponsel tersebut untuk menjadi tempat memotret kejadian hari ini, dibantu dengan salah satu pengunjung yang berbaik hati memotret 5 kawanan tersebut.
"Nih, tolong fotoin ya, mbak. " ucap Mutia.
Semuanya mengambil posisi, kemudian sudah sejajar dengan urutan masing masing, berbeda dengan Randi, ia masih menggendong Dewi di bahunya dan meminta hal tersebut diabadikan.
"Siap ya, satu, dua, tiga.... "
......................
Waktu bekerja telah berakhir hari ini, Dewi pulang awal hari ini, karena pekerjaannya sebagian dibantu oleh karyawan restoran, itu sebagai bonus bahwa Dewi yang tengah berulangtahun pada hari ini.
Di dalam mobil milik Randi, kelima orang tersebut pulang bersamaan, itu juga langsung dengan mengantarkan Dewi menuju ke kosan milik Dewi.
Beberapa hadiah yang dibeli oleh 4 orang tersebut untuk Dewi, Dewi menerimanya dengan baik, walaupun teman temannya mengatakan bahwa hadiah yang diberikan tidak sebagus yang diinginkan.
"Sebelumnya, saya berterimakasih kepada kalian semua, kalian memang benar benar baik kepada saya, saya sangat bersyukur bisa mengenal kalian semua, teman teman. " ucap Dewi.
"Duh manisnya, yaudah, kita langsung pulang dulu ya, udah keburu malam juga soalnya. " pamit Mutia.
"Oh iya, hati hati dijalan ya, teman teman. Randi, bawa mobilnya jangan cepat cepat ya, ingat keselamatan berkendara. " pesan Dewi.
"Siap deh, apalagi demi kamu aku siap turutin apapun itu, Wi. " ucap Randi.
"Yeee, giliran cewek aja lu gini, Ran, sokap amat jadi cowok. " ucap Mita sambil menendang jok pengemudi dari belakang.
"Yasudah, kalau begitu saya masuk dulu, hati hati dijalan ya, teman teman. "
"Iya, dadah Wi, kapan kapan jumpa lagi ya, kami bakalan rindu sama kamu. "
__ADS_1
Dewi tersenyum, ia melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan, mobil Randi menjauh dari kosan Dewi, dan akhirnya Dewi masuk ke dalam kosannya untuk segera membersihkan diri dan beristirahat.
Saat menaiki tangga, dari kamar terlihat Eni yang menanti kedatangan Dewi, Dewi melihat temannya dan menghampiri Eni yang menunggu di depan pintu kamarnya.
"Dewi, akhirnya kamu pulang! "
Eni mendekat, ia memeluk Dewi dan mengucapkan meminta maaf, hal tersebut membuat Dewi heran.
"Wi, maaf ya, maaf banget...! "
"Ada apa sebelumnya, Eni? " tanya Dewi.
"Yaampun, Wi, kok aku bisa lupa sih sama ulang tahun kamu? Duh, jadi sedih nggak bisa ngucapinnya duluan sama kamu, malah temen temen kerja kamu dulu yang ngucapin ulangtahun kamu duluan, dih! "
Eni kesal sendiri, sedangkan Dewi hanya tersenyum melihat temannya yang kesal sendiri, karena Eni yang kesal dengan tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuk Dewi.
"Tidak mengapa, Ni, selagi kamu ingat dengan hari kelahiran saya saja sudah merasa senang, terimakasih sudah mengucapkannya. " ucap Dewi.
"Yaudah, gantinya apa nih? Aku beliin hadiahnya kayak gimana? Mau ditraktir apa sama aku, buat rayain ulang tahun kamu, Wi? " tanya Eni.
Dewi berpikir terlebih dahulu, kemudian ia mengingat makanan yang ingin ia makan.
"Kalau begitu, saya ingin hotpot saja, Ni, makanan kesukaan saya. " jawab Dewi.
"Simpel amat permintaan, tapi kamu yang minta, yaudah aku beliin. " ucap Eni.
"Hadiahnya apa aja nggak papa kan, Wi? Soalnya mendadak banget baru tahu hari ulang tahun kamu ya? " tanya Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, Eni kemudian mengajak Dewi untuk masuk ke kamarnya seraya menunggu makanan pesannya sampai.
Sejam menunggu, akhirnya pesanan Eni telah sampai, tentu saja itu membuat Dewi senang, karena makanan kesukaannya sampai dan itu merupakan makanan yang menjadi favorit nya saat sedang bersama dengan Eni.
"Seperti biasa, ini nikmat, tapi bedanya sudah mulai pedas. " ucap Dewi.
"Gimana nggak pedas? Orang-orang yang sok sokan lambungnya kuat pada ngisi petisi buat bikin nih Hotpot jadi lebih pedas, giliran pedas minta pedasnya di kurangin. " ucap Eni.
"Yah, namanya manusia, tidak heran jika mereka kurang puas dengan sebelumnya. " ucap Dewi.
Saat sedang menikmati makanannya, Eni terpikir sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Dewi.
"Wi, sebelumnya kamu udah ngasih tau om Gusti belum kalau hari ini kamu tuh ulangtahun? Kan lumayan tuh, nanti kamu bisa dibeliin hadiah sama dia. " tanya Eni.
Dewi ikut berpikir, kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya tidak usah, Ni, lagipula hal sepele seperti ini dapat mengganggu pekerjaanya, apalagi om Gusti tuh lagi sibuk sibuknya sekarang. " jawab Dewi.
"Ah masa? Masa sering ketemuan gitu sekarang malah sibuk? Alesan kamu aja sih ini. " tanya Eni.
"Tidak, saya tidak ingin mengganggu om Gusti, lagipula alat bermain saya juga ingin beristirahat, karena di Paris kemarin hampir setiap malam om Gusti ingin terus bermain dengan saya. " jawab Dewi.
Eni mengangkat kedua bahunya, dan ia melanjutkan makannya.
Ponsel Dewi seketika berdering, Dewi langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya, kemudian ia mengambil ponselnya dan terkejut siapa yang menelponnya.
"Panjang umur, om Gusti menelpon! " ucap Dewi heboh.
"Angkat Wi, aku bakal diem. " balas Eni.
Dewi mengangkat telpon dari Gusti, ia menghela nafasnya.
"Halo, ada apa, om? " tanya Dewi.
'Dewina, saya ingin kamu menjadi asisten saya malam ini, saya akan adakan pertemuan dengan klien saya. '
Dewi tertegun, ia menatap ke arah Eni, sementara Eni menguping pembicaraan dari ponsel tersebut.
"Malam ini, om? " tanya Dewi.
'Tentu saja, jika tidak, tidak mungkin saya akan menghubungimu, Dewina. Sekarang, bersiaplah, saya akan menjemputmu 30 menit lagi, dan jangan mengecewakan saya. ' ucap Gusti.
Dewi memejamkan matanya. "Baik om, saya akan bersiap siap terlebih dahulu. "
'Bagus, bersiap siaplah, saya akan ke sana. '
Panggilan berakhir, tak lama Dewi langsung bangkit, ia mulai kelabakan dengan dirinya yang belum sama sekali bersiap siap, bahkan mandi saja belum.
"Eni, saya terburu-buru! "
"Yaudah, kamu mandi sana, baju sama yang lainnya biar aku yang urus, nanti kamu tinggal siap aja. " ucap Eni.
Dewi berlari ke belakang, ia mulai bersiap siap dengan terburu buru, itupun dengan bantuan Eni pastinya.
30 menit lamanya, akhirnya Dewi sudah siap, dengan cepat ia berjalan ke bawah untuk menunggu Gusti di depan gerbang, bertepatan dengan dirinya yang sudah di depan gerbang dan Gusti yang sudah sampai.
"Masuklah. " perintah Gusti.
Dewi memasuki mobil Gusti, ia memakai sabuk pengaman, kemudian mobil berjalan melintasi gelapnya malam.
......................
"Tinggal yang satu ini, kemudian akan saya tanda tangani. "
Perbincangan bisnis antar dua pihak, Gusti dan partner kerjanya mengusulkan beberapa tanggapan dan revisi atas bisnis yang sedang mereka kerjakan, sementara Dewi duduk diam dan melihat Gusti yang sedang bekerja.
"Ambilkan map itu, Dewina. " perintah Gusti.
Tampaknya pihak bisnis Gusti tertarik dengan Dewi, hingga terbesik di pikirannya, ia sampai menerka-nerka tentang Dewi.
"Gustiawan, wanita ini sepertinya baru saja ku lihat, ini siapa? "
Gusti menatap ke Dewi dan mengangguk sedikit. "Dia adalah asisten saya, namanya Dewina. " kenal Gusti.
"Asisten apanya ini, Gustiawan, apa dia simpananmu? "
Dewi terkejut, namun beda hal dengan Gusti, ia memilih untuk tenang dan tidak bertindak seperti Dewi.
"Boleh saya injak kepalamu sampai otakmu keluar? Bukankah dia terlihat seperti asisten saya, lihatlah, sedaritadi ia terus terusan menuruti perintah ku. Akankah simpanan bisa semenurut asisten? " tanya Gusti.
"Yah, kamu tahu sekarang, bahwa simpanan juga bisa nurut seperti asisten, terutama saat diranjang. Itu benar kan, Gustiawan? "
Gusti cepat sekali panas, ia menatap tajam ke arah partnernya, sementara partnernya tertawa sambil menandatangani kontrak yang ada di berkas tersebut.
"Saya berharap permainanmu dengan wanita lain di luar dihentikan saja, Gusti. Ingatlah, bahwa istrimu, Bella, adalah wanita cerdas. Tak lama perilakumu ini akan tercium olehnya, jadi, berhati-hatilah. "
Selesai membicarakan bisnis, partner kerja Gusti sambil tersenyum ia melayangkan senyum ejekan, sementara Gusti menahan emosinya, ia meninggalkan ruangan dan hanya tertinggal Dewi yang kebingungan.
"Om, tunggu! "
__ADS_1
...****************...