Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
73: Rindu


__ADS_3

"Silahkan masuk. "


Di sebuah ruangan yang berada di rumah sakit, tampak seorang wanita dewasa yang berprofesi menjadi seorang dokter sedang sibuk melihat berkas berkas yang ada, perhatiannya teralihkan dengan seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.


"Maaf mengganggu waktunya, dokter Dewina. " ucap perawat.


Wanita dewasa itu bernama Dewina, tentu saja gadis yang sebelumnya menjadi mahasiswi jurusan kedokteran itu akhirnya mencapai cita citanya yang sudah 2 tahun dilaluinya, dan sekarang ia menjadi seorang dokter spesialis anak di rumah sakit yang tak jauh dari kota.


"Tidak apa, sepertinya kamu masuk karena ada perlu, bukan? " tanya Dewi.


"Benar, ini ada surat kunjungan yang meminta dokter Dewina untuk berkunjung ke panti asuhan. " jawab perawat tersebut.


Dewi mengambil surat tersebut dari perawat, ia membuka surat itu dan membacanya, letak panti asuhan yang dituju cukup jauh, namun hal yang disampaikan dari surat itu memintanya untuk melakukan kunjungan bersama dokter spesialis anak lainnya, entah itu dokter gizi maupun dokter kandungan yang akan pergi bersamanya.


"Ini kapan akan saya tepati bersama dokter dokter lain? " tanya Dewi.


"Kalau bisa besok hari, karena hari ini mungkin pihak panti belum melakukan persiapan. " jawab perawat tersebut.


Dewi menganggukkan kepalanya, kemudian melipat kembali surat tersebut.


"Baik, sebelumnya terimakasih sudah mengantarkan surat ini untuk saya. " ucap Dewi.


"Kalau begitu, saya permisi, dokter Dewina. "


Perawat tersebut keluar meninggalkan ruangan milik Dewi, saat pintu tertutup, Dewi kembali melihat surat yang diberikan, ia kembali membacanya dan melihat betapa sedihnya nanti dirinya untuk bisa menahan rasa emosionalnya ketika nanti bertemu dengan anak anak panti asuhan.


Dewi melihat ponselnya, sebuah wallpaper ponselnya adalah foto seorang bayi laki laki yang tak lain adalah anaknya, Galuh.


Dewi begitu sangat merindukan anaknya, bagaimana tidak, hampir 6 tahun dirinya dipisah secara paksa dari anaknya yang baru ia lahirkan dan ia berikan nama, harapannya dahulu untuk membawa kabur Galuh setelah dilahirkan karena ia tidak rela memberikan Galuh kepada Gusti dan Bella.


Pikiran dan kenangan pahit itu masih melekat di pikirannya, mau bagaimanapun caranya untuk bisa melupakan semua hal yang sudah terjadi pada dirinya, Dewi tidak bisa menghapus dan melupakannya, hatinya belum sembuh dari luka batin beserta fisik yang sudah dilakukan oleh kedua pasangan bejat itu kepadanya dan anaknya.


'Akankah aku kuat bertemu dengan anak anak panti, sementara jarakku dan anakku begitu jauh dipisahkan? '


Air mata Dewi ingin menetes, namun segera Dewi menghapusnya, ia tidak ingin menangis sekarang, karena jam kerjanya masih berlanjut yang membuatnya harus profesional dalam bekerja.


"Tidak, jangan menangis sekarang, aku harus kuat. " gumam Dewi.


Dewi melanjutkan pekerjaannya dan mengambil berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk memantau pasien anak anak lainnya di rumah sakit, ia meletakkan surat tersebut di dalam laci, beranjak dari kursinya, kemudian keluar dari ruangannya sendiri.


.


"Dek Galuh, makan eskrimnya jangan kebanyakan, nanti bisa batuk. "


Galuh yang sedang duduk di rumput halaman belakang rumah sambil menikmati eskrimnya kemudian menatap ke arah baby sitternya, sambil tersenyum dengan mulut yang belepotan, bocah laki laki itu sangat menyukai eskrim yang dimakannya sendiri.


"Galuh suka, ini diberi sama kakak Gita untuk Galuh. " ucap Galuh.


Arin menggelengkan kepalanya.


"Dek Galuh, makannya dikit saja, jangan banyak, mbak takut nanti adek Galuh sakit. " ucap Arin sekali lagi.


Galuh menggelengkan kepalanya, Arin sudah menyerah, akhirnya ia memilih untuk duduk di samping bocah laki laki itu sambil membersihkan mulut Galuh yang belepotan eskrim.


"Mbak Arin, ini wadahnya. " ucap Galuh.


Arin membawa wadah eskrim yang sebelumnya digunakan oleh Galuh, ia membawanya menuju ke dalam untuk diletakkan di wastafel.


Galuh mengikuti Arin dari belakang, sambil memegang baju baby sitternya dari belakang, ia juga tertarik kembali mengambil eskrim yang ada di kulkas lagi, namun Arin begitu cepat mencegahnya sebelum Galuh menemukannya.


"Dek Galuh, makan eskrimnya sudah cukup ya, mbak takut nanti dek Galuh bisa sakit karena makan es krim. " ucap Arin.


Galuh akhirnya kalah, ia tidak bisa melewati hadangan yang dibuat oleh baby sitternya, dan ia memilih untuk bermain saja di ruangan atas dan berharap menunggu kakaknya pulang, agar ia bisa memakan eskrim lewat kakak-kakaknya sendiri.


"Mbak Arin, Galuh ke atas dulu ya. " ucap Galuh.


"Iya dek Galuh, nanti mbak susul ke kamar. " ucap Arin.


.


Tujuan Dewi bersama dokter dokter lainnya akhirnya tiba, mereka mengunjungi panti asuhan yang sebelumnya mendapat undangan untuk datang ke panti asuhan yang dituju itu.


"Setiap pertahun, jumlah anak di panti asuhan ini terus bertambah. " ucap dokter lainnya.


Dewi menoleh ke arah dokter tersebut, ia kembali menatap ke arah panti asuhan, hatinya begitu tersahutkan dengan suasana panti yang akan ia datangi nantinya.


"Kadang saya merasa miris, karena dari data yang ada, banyak sekali anak anak yang berada di panti ini adalah anak anak yang dibuang oleh ibunya sehari atau beberapa jam mereka dilahirkan, entah itu kondisinya hipotermia, kadang setengah nyawanya masih berjuang untuk hidup. "


Kata kata miris yang diucapkan oleh dokter lain membuat Dewi merasa bersalah, secara ia yang tidak mengalami dan melakukan hal itu tetap saja ia merasa bersalah, apalagi saat mengingat masa lalunya yang berpisah dengan anaknya setelah sehari ia lahirkan.


"Yasudah, ayo kita langsung masuk, nanti anak anak panti lama menunggu kita. " ajak dokter Yudha.


"Yasudah, ayo. "

__ADS_1


Dewi dengan beberapa dokter tersebut masuk ke dalam panti asuhan, mereka disambut baik oleh pengurus panti, tak lupa juga anak anak panti yang pastinya sangat bersemangat ketika mereka dikunjungi oleh para dokter anak.


"Terimakasih sudah datang ke panti kami, bapak dan ibu dokter sekalian, kedatangan kalian sangat dinanti anak anak panti ini. " sambut pengurus panti tersebut.


Para dokter anak tersebut sangat senang, mereka juga disambut dengan baik dengan anak anak panti, mereka diiringi ke gedung panti dan menghadiri acara yang diadakan di panti tersebut.


Anak anak panti terlihat sangat antusias, dimulai saat dokter anak yang berada di gedung itu menjelaskan edukasi, permainan maupun pemberian hadiah, mereka tampak begitu memperhatikan dokter yang ada di panggung mini gedung tersebut.


Dewi begitu sangat disorot dengan anak anak panti asuhan, entah mengapa auranya seakan terpancar indah di mata anak anak panti asuhan itu, hingga dokter anak lainnya juga ikut mengatakan bahwa aura Dewi memancarkan aura keibuan kepada anak anak panti di sana.


Saat tengah melihat anak anak panti yang mendekat, Dewi terarahkan kepada anak yang ada di dekat kursi, terlihat bahwa diam namun gelisah, hal tersebut membuat Dewi menjadi tertarik.


"Anak anak, dokter Dewi ke sana dulu ya. " pamit Dewi.


"Baik dokter Dewi. " jawab anak anak panti.


Dewi mendekat, seorang anak laki laki itu terlihat gelisah, Dewi menghampirinya dan berjongkok di depan anak laki laki tersebut.


"Halo, kamu kenapa disini? "


Dewi bertanya dengan anak laki laki itu, anak laki laki tersebut awalnya merasa ketakutan dan berbalik, sementara Dewi belum menyerah, tak lama setelahnya, pengurus panti kemudian mendekat ke arah Dewi.


"Ada apa, bu dokter Dewina? " tanya pengurus tersebut.


"Siapa nama anak ini, bu? " tanya Dewi.


Pengurus panti tersebut melihat ke arah anak laki laki tersebut, kemudian menganggukkan kepalanya dan mengajak Dewi untuk menjauh sementara dari anak laki laki tersebut.


"Ada apa, bu? " tanya Dewi.


"Bu dokter tampaknya tertarik dengan anak itu ya? " tanya pengurus.


Dewi menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya anak itu sangat takut untuk berinteraksi, bu dokter, mungkin karena trauma masa lalunya. " jawab pengurus tersebut.


Dewi mengerutkan keningnya. "Maksudnya bagaimana ya, bu? "


Pengurus panti itu mempersilahkan Dewi duduk, tampak pembicaraan yang akan dibicarakan oleh kedua orang itu seperti serius.


"Anak itu bernama Dion, baru beberapa bulan dia berada di sini bu dokter, tidak heran ketika berinteraksi dengan orang, dia selalu ketakutan dan memalingkan wajahnya. Dia dititipkan disini setelah kedua orangtua adopsinya ditangkap karena melakukan eksploitasi dan kekerasan kepada Dion. " jelas pengurus panti.


Hal tersebut membuat Dewi semakin tertarik, beserta hatinya juga gundah ketika mendengar penjelasan tersebut, namun ia masih penasaran dengan cerita Dion.


Penjelasan panjang lebar itu terbawa hingga ke perasaan Dewi, hal tersebut membuatnya semakin teringat dan khawatir dengan keadaan anaknya yang sekarang bersama dengan Gusti dan Bella, ia sekarang menjadi bertambah khawatir dengan keadaan Galuh yang berada jauh dipisahkan darinya.


"Saya minta maaf jika Dion membuat bu dokter jadi tidak nyaman, kami juga berusaha untuk Dion bisa bersemangat seperti anak anak panti lainnya, namun perlu proses yang lama untuk Dion bisa sembuh dari rasa traumanya. " ucap pengurus panti tersebut.


Dewi menganggukkan kepalanya, ia mengerti dengan penjelasan dari pengurus panti tersebut, namun ia juga akan berusaha untuk bisa berkenalan dengan anak laki laki yang bernama Dion tersebut.


"Saya hampiri lagi, boleh kan bu? " tanya Dewi.


"Selama Dion tidak memberontak, silahkan saja, bu dokter. " jawab pengurus panti.


Dewi bangkit dari tempat duduknya, ia kembali menghampiri Dion.


"Halo Dion. "


Anak laki laki yang bernama Dion itu menunjukkan respon seperti diawal, namun Dewi tidak habis akal, ia mengingat hadiah yang sebelumnya dibagikan oleh anak anak panti lainnya, dan masih bersisa beberapa buah lagi, dan ia merasa bahwa Dion belum kebagian hadiah tersebut.


"Ah, tunggu sebentar. "


Ucapan Dewi barusan akhirnya membuat Dion tertarik, sementara Dewi mengambil hadiah yang dimaksud oleh Dewi, tak lama Dewi kembali dengan kantong hadiah yang sebelumnya dibagikan untuk anak anak panti.


"Karena Dion katanya anak baik, ini, ibu dokter berikan hadiah untuk Dion. " ucap Dewi.


Hadiah begitu menarik untuk anak anak, Dion juga sangat tertarik dengan hadiah tersebut, terlihat senyum kecil dari Dion ketika menerima hadiah tersebut.


"Ini untuk Dion? " tanya anak laki laki bernama Dion itu.


Suara pertama yang begitu dinanti Dewi, Dewi menganggukkan kepalanya, Dion dengan sumringah mengambil hadiah tersebut dan menatap dengan senyuman ke arah Dewi.


"Dion kan anak baik, dan juga ini hadiahnya sudah bu dokter kasih nih. Kalau boleh, Dion mau tidak bergabung dengan teman teman Dion lainnya? " tawar Dewi.


Mendengar tawaran tersebut, Dion merasa agak ragu, namun Dewi tidak habis akal, ia menadahkan tangannya ke arah bocah laki laki itu.


"Sama bu dokter saja pergi ke sananya, bu dokter akan temani Dion ke sana kok. " ucap Dewi.


Dion akhirnya setuju, ia mengikuti Dewi kemudian mengenggam tangan Dewi menuju ke perkumpulan anak anak panti lainnya.


Berbagai acara yang sudah dilewati, akhirnya waktu untuk berpisah, para dokter kemudian menanti surat surat kecil yang akan diberikan oleh anak panti asuhan tersebut, entah apa isinya, namun akan begitu berarti untuk mereka.


Masing masing dokter anak mendapat beberapa surat, namun Dewi akan tetap menjadi sorotan utama, banyak surat yang ia terima dari anak anak panti asuhan tersebut.

__ADS_1


Dewi menanti sebuah surat dari seorang anak yang ia tunggu, yaitu Dion, tampak Dewi sangat menantinya hingga waktu sudah habis.


"Dokter Dewi, ayo kita siap siap untuk pulang. "


Dewi menatap dokter Farah, ia meminta beberapa menit lagi sebelum pergi, karena ia menanti surat dari Dion.


"Bu dokter, sedang menunggu Dion? "


Pengurus panti tersebut mendekat ke arah Dewi, Dewi menganggukkan kepalanya.


"Bu dokter langsung saja, Dion mungkin tidak menulis surat, karena kemampuan menulisnya masih kecil prosesnya. " ucap pengurus panti.


Dewi mengerti, ia menganggukkan kepalanya kembali, kemudian berbalik untuk menyusul para dokter anak yang pergi.


"Dokter Dewina! "


Dewi berbalik ke belakang, yang dinantinya akhirnya tiba, Dion dengan selembar kertas berlari ke arah Dewi, tak lupa juga beberapa anak panti yang tertinggal itu juga berlari ke arahnya kemudian memberikannya kepada Dewi, Dewi menerima surat tersebut dan melihat senyum para anak panti ke arahnya.


"Terimakasih dokter Dewina. " ucap anak panti bersahutan.


Dewi yang mendengar hal tersebut kemudian menganggukkan kepalanya, terutama dengan si anak laki laki pemalu itu yang bernama Dion ikut mengucapkan terimakasih, hal tersebut membuat Dewi terharu dan hatinya akhirnya tidak kuat menahan rasa sedihnya.


Dewi menarik nafasnya, ia akhirnya pamit pergi ke luar ruangan panti, dan berjalan ke lorong untuk menjauh dari ruangan tersebut karena berencana untuk pulang.


Tampaknya Dewi tidak menahannya, di antara para dokter anak yang tengah berjalan, Dewi menepi dan meluapkan perasaan yang sebelumnya ia tahan, akhirnya ia menangis sejadi jadinya.


"Dokter Dewina, ada apa? Kenapa anda menangis? " tanya dokter Yudha.


"Saya hanya sedih saja, kehidupan panti asuhan ternyata seperti ini ya? Mereka yang kekurangan gizi saja masih terlihat lincah dan berusaha bahagia, apalagi saat mereka menemukan keluarga yang ingin mengadopsi mereka. " jawab Dewi.


Para dokter anak yang berada di lorong tersebut mengerti, mereka menenangkan Dewi yang menangis, sembari sambil mencoba menghibur perasaan Dewi yang terasa kalut itu.


.


"Tenggorokan Galuh sakit... "


Suara Galuh terputus putus karena radang tenggorokan, begitu susahnya ia menelan air liurnya, saat berusaha meneguknya saja ia melirih kesakitan, radang begitu menyiksanya.


"Galuh mau air hangat? Mbak Arin akan ambilkan. " tawar Arin.


Dengan demam yang terasa, beserta suara nafas yang tersumbat oleh pilek dan batuk, membuat sakit yang dialami oleh Galuh semakin menyiksanya, Galuh saja sampai merengek kesakitan karena sakit itu menyiksa tubuhnya, Arin mencoba menenangkan Galuh, tadi sudah beberapa obat diberikan kepada Galuh dan kini menunggu mereda.


Tampaknya suara tangisan dan rengekan Galuh memancing datangnya Gusti dan Bella, mereka menghampiri kamar Galuh dan membuka pintu kamar tersebut dengan kasar.


"Ada apa malam malam seperti ini ribut? Bukannya dia sudah anak anak, bukan seorang bayi?! " tegas Bella.


"Nyonya, tuan, dek Galuh sakit, tadinya dia hanya sakit tenggorokan, sekarang sudah menyebar menjadi demam. "


Arin membuat laporan kepada kedua majikannya, tanggapan yang diberikan kedua pasangan itu berbeda beda, Bella tampak tidak peduli, sementara Gusti terlihat sedikit gelisah dengan apa yang terjadi pada bocah laki laki itu.


"Mama, Galuh sakit... " rengek Galuh.


Galuh mencoba mencari perhatian kepada Bella, ia ingin merasakan sekali diperhatikan kedua orangtuanya, namun apa yang terjadi?


"Anak bandel sepertimu memang pantas mendapatkan ini, bukannya berhenti untuk memakan eskrim, malah senang sekali memakan makanan itu. Dasar anak rakus. "


Bella menunjukkan kebenciannya sekarang kepada Galuh, Galuh yang mendengarnya kemudian terdiam, rasanya begitu tega ibunya mencoba mengabaikannya sebagai seorang anak.


"Mama... "


Galuh memanggil Bella dengan nada lirih, namun Bella membalikkan tubuh dan pergi seolah tak peduli, bahkan baby sitter dan kedua gadis yang berada di kamar Galuh tak percaya apa yang mereka lihat, hanya tersisa Gusti saja yang berada di kamar milik Galuh itu.


"Papa, tenggorokkan Galuh sakit.... "


Galuh tetap merengek untuk mencari perhatian orangtuanya, Gusti juga terlihat agak gelisah, ia menghela nafasnya dan mengusap wajahnya.


"Telepon dokter anak, saya tidak tahu harus berbuat apa dengan dia. " ucap Gusti.


Arin merasa bahwa itu sebuah perintah, tanpa campurtangan Gusti, majikannya itu memerintahkannya untuk menghubungi dokter, sementara Gusti keluar kamar dan pergi.


"Mbak Arin... " lirih Galuh.


"Sabar ya, dek Galuh, mbak hubungi dahulu dokternya. " ucap Arin.


Galuh mencoba untuk tenang, sementara Arin menelpon dokter anak, setelah menghubungi dokter tersebut, Arin menghampiri Galuh dan mengelus rambut bocah kecil itu.


"Mbak Arin... "


"Sabar ya, dokternya akan kesini, sementara menunggu, dek Galuh coba tidur dulu ya untuk bisa tahan rasa sakitnya. " bujuk Arin.


Galuh mengangguk patuh, ia mencoba memejamkan matanya, sementara tubuhnya terlihat terasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut.


'Tuan Gusti terlihat gelisah, jarang sekali tuan bertindak seperti itu. ' gumam Arin dalam hati.

__ADS_1


*************


__ADS_2