
...Happy reading š§”...
......................
"Selesai, akhirnya selesai. "
Raut wajah yang kutunggu, yaitu raut wajah kekalahan dari suamiku, tidak ada perlawanan darinya selain hanya diam dan merenung seperti orang sakit saja.
Aku Bella, ya aku adalah karakter yang mungkin tidak disukai dalam cerita ini, tapi ini adalah ceritaku, akan kuceritakan kisah hidupku dari awal dan bisa seperti ini pada akhirnya.
Aku terlahir di keluarga pengusaha, bisa dibilang aku termasuk anak konglomerat dari bisnis saham dan investasi, walaupun begitu, banyak sekali peraturan dalam keluargaku, terutama attitude, pekerjaan maupun jodoh.
"Bella, seperti yang sudah menjadi peraturan di keluarga kita, papi akan jodohkan kamu dengan anak dari partner kerja papi, papi harap kamu menerima perjodohan ini. "
Lagi lagi aku akan dijodohkan dengan anak pengusaha lainnya, kadang itu yang membuatku lelah, tipeku terkadang tidak ada sama sekali yang bisa dicocokkan dengan mereka, bisa dikatakan dijodohkan tapi tak sejodoh dari hati dan pemikiran.
"Pih, Bella minta, perjodohan yang terakhir ini jangan sampai membuat Bella tidak suka, Bella tidak ingin orang orang seperti yang sebelumnya. Jika masih sama, maka biarkan Bella ke luar negeri untuk mencari jodoh Bella sendiri. "
Aku telah menegaskan, bahwa aku akan bertindak sendiri ketika dirasa tidak akan cocok bagiku, tetapi entahlah papiku, ia masih saja tetap meyakinkan jodohku kali ini akan lebih baik dari sebelumnya.
Tentu saja perjodohan ini didasari oleh kerja sama, agar kerjasama perusahaan jauh lebih baik dari sebelumnya.
Aku dipertemukan dengan laki laki yang dimaksudkan oleh papiku, awal aku melihatnya aku terpana, siapa yang tidak ingin laki laki tampan seperti yang sedang menjadi jodohku kali ini, jarang sekali aku mengakui pihak lawanku kalau mereka menawan.
"Bagaimana? Pilihan papi tidak salah, bukan? "
Aku menganggukan kepalaku, pilihan papi kali ini tidak salah, aku sudah terpikat dengannya.
Namanya adalah Khairul Gustiawan, jarak kami hanya 6 tahun saja, namun ia sangat menawan, dimulai dari wajah yang terlihat bahwa ia memiliki darah campuran, bisa dibilang percampuran darah Turki melekat pada dirinya, tinggi badan yang atletis, bisa dibilang calon jodohku kali ini sangat sempurna untukku.
Mungkin juga peraturan keluarga yang ikut mendukung jalannya perjodohan, tak butuh waktu yang lama, akhirnya aku dan Gusti menikah, pernikahan yang diatasnamakan perjodohan dan bisnis sudah kami laksanakan, dan sekarang kami mulai berhak mengurus rumahtangga kami.
Gusti bisa terbilang dia adalah laki laki yang pekerja keras dan cuek, tidak heran jika dia tidak akan memulai percakapan ketika aku yang memulainya.
Kadang kami bisa saling canggung di satu rumah, karena kami yang menikah tanpa ada dasar cinta bisa sebingung ini, aku dan Gusti saja hampir tidak saling berteguran karena hal itu.
"Gusti. "
Laki laki yang kusapa kemudian menatapku, aku terpana dengan tatapannya yang begitu menawan, aku sangat beruntung mendapatkan hasil perjodohan kali ini.
"Ya, ada apa? "
"Bisakah kita memulai hubungan kita dengan baik? Maksud saya seperti kita yang memulai hubungan baru. "
Nampaknya ucapanku barusan tidak dimengerti oleh Gusti, aku juga yang masih berbelit belit menjelaskan ucapanku kepada laki laki berumur 27 tahun itu.
"Bisakah kamu menjelaskannya dengan baik, Bella? "
Aku mengungkapkan isi hatiku, kemudian menghela nafasku untuk mengatakan sesuatu padanya.
"Berusahalah mencintai saya, Gusti, untuk sekali saja. "
Bukan ekspresi aneh, ekspresi Gusti seperti sedang malu malu, dengan wajah merahnya dan menggaruk kepalanya.
"Saya tidak bisa, saya begitu canggung. " ucap Gusti.
Aku sangat gemas dengan ekspresi suamiku, ternyata ia selama ini tidak bersikap peduli dan selalu cuek karena ia yang canggung dengan memulai hubungan kami sebagai suami dan istri.
"Ternyata itu penyebabnya, saya kira anda tidak ingin bersama dengan saya, Gustiawan. " ucapku sambil tersenyum.
Kami berdua tersenyum bersama, dan juga tertawa, mungkin ini awal yang bagus untuk kami memulai cerita rumahtangga kami.
"Baik, jika kamu ingin seperti itu, maka kita mulai hari ini untuk bisa menjalani rumahtangga kita. Saya rasa bagus jika kita memulai hubungan ini, lagipula kita sudah sah menjadi suami dan istri. "
Aku berbinar, benar benar laki laki yang sudah lama kudambakan akhirnya bisa terwujud, dengan jodohku yang sangat sesuai kuinginkan, aku akan mengucapkan ribuan terimakasih untuk papiku yang sudah mempertemukanku dengan laki laki seperti Gustiawan ini.
Kehidupan rumahtangga kami memang biasa saja, tetapi kami saling melengkapi layaknya memang saling mencintai, kami bisa dibilang sibuk, tetapi terkadang meluangkan waktu seperti bermain tenis di ruang gym rumah kami, berjalan jalan di lapangan rumah kami, ataupun menghabiskan waktu di dalam perpustakaan, walaupun terdengar membosankan percayalah, kami sangat menikmati waktu itu bersama.
Tidak ada pemikiran apapun selain pekerjaan dan rumahtangga, alhasil secara tiba tiba saja tubuhku menjadi melemah, jarang sekali aku merasa sakit ataupun cepat lelah, baru kali ini aku merasakan hal seperti ini.
"Bella, wajahmu begitu pucat, apa kamu ingin ke rumah sakit? " tawar Gusti padaku.
Aku tidak ingin berleha leha dengan sakitku, apalagi bersikap manja dengan sakit yang sedang diidap.
__ADS_1
"Selamat ya pak, ibunya ternyata sedang hamil. "
Sebuah kejutan untuknya, kalau aku sedang mengandung anak pertama, ini adalah hasil cinta kami setelah setahun saling mengenal, tetapi kewajibanku melayaninya sebagai suami ku tak akan kulewatkan.
"Benarkah? Istri saya sedang hamil?! "
Aku terkesan dengan dirinya yang menyebutku sebagai istrinya, tampaknya kami sudah mulai dekat, tentu saja, sudah satu tahun saling mengenal, mungkin ada perasaan di hati kami masing masing walaupun aku yang masih belum bisa beradaptasi, tetapi akan terus kucoba, apalagi sekarang aku akan menjadi seorang ibu untuk anaknya.
"Benar, dijaga ya pak kehamilan istrinya, nanti setiap bulan periksa kembali perkembangan janinnya, kalau ada keluhan, bisa konsultasi ke sini ya pak. "
"Baik, terimakasih dokter. "
Wajah sumringah Gusti yang selalu aku lihat, dia sangat telaten memperhatikanku dan kehamilanku kali ini, bahkan ia yang lebih sibuk mengurusiku, dia memanglah suami yang amat perhatian dengan keadaanku.
Keluarga sangat mendukung kehamilanku, sampai sampai mereka menghadiahkan calon anak kami sebuah perusahaan dan sebuah villa hanya untuk calon anak kami yang belum sama sekali lahir.
"Gusti, anda ingin anak anda berjenis kelamin apa? " tanyaku.
"Terserah, ingin laki laki ataupun perempuan, aku akan menerimanya, asalkan dia lahir dengan sehat saja sudah cukup, sayangku. "
Kata yang terakhir itu membuatku tersipu, Gusti menyebutku dengan panggilan sayang, baru pertama kalinya akhirnya aku mendengar secara langsung ia memanggilku dengan panggilan sayang.
"Anda menyebut saya dengan panggilan sayang? "
"Tentu saja, kamu adalah istriku, aku sangat mencintaimu, makanya aku memanggilmu dengan panggilan sayang, Bella. " jawab Gusti.
Cinta yang bertahap sudah aku lewati bersama, jika sekarang ia mengatakan bahwa ia tidak mencintaiku, itu semua bohong, malah Gusti sendirilah yang mengungkapkan cintanya terlebih dahulu padaku.
Lahirnya anak kami setelah penantian, seorang anak perempuan yang cantik dan manis lahir dari rahimku, kami beri namanya Anggita Yolanda Gustiawan, anak pertama kami yang sudah kami tunggu tunggu dari pernikahan kami.
"Mirip sekali seperti Gusti, siapa namanya? "
"Namanya Anggita Yolanda Gustiawan, disisipkan nama papanya agar dia bisa mengikuti jejak karier papanya. "
Keluarga sangat senang menyambut anak kami, walaupun mereka tidak percaya bahwa kami akhirnya bisa memiliki anak, yang berasal dari perjodohan bisa seperti ini sekarang.
Walaupun aku dan Gusti sibuk, tapi kami tetap saja meluangkan waktu seperti saat awal kami menikah, terutama Gita yang sudah mulai aktif setelah setahun umurnya bertambah.
Kejutan selanjutnya datang setelah setahun berlalu, tepatnya di kota cinta, aku lagi lagi memberikan kejutan untuk Gusti dan anakku Gita, akan memberikan kejutan mereka dengan tambahan keluarga, aku hamil lagi.
Gita sudah fasih berbicara sejak usianya sudah mulai 3 tahun, tentu saja itu karena papanya alias Gusti yang memperhatikan nutrisi dan makanan yang selalu dimakan oleh Gita, Gusti malah lebih pintar dariku untuk mengurusi anak.
"Benar, sayang, ini adik kamu. Nanti kalau sudah lahir, Gita sayangi dia ya? "
Kebahagiaan bertambah, ditambah lagi dengan Gusti yang berhasil dalam perusahaan maupun membeli properti yang ia inginkan, kesuksesan yang ia raih akhirnya dapat ia miliki.
Sudah hampir 16 tahun pernikahan kami, rasa yang sudah kami jalani sebagai suami istri terkadang terombang ambing layaknya kapal, nahkoda yang berusaha mengatur semuanya yaitu suamiku, ia sangat bagus untuk menjadi nahkoda keluarga, hanya saja ia berbeda untuk kali ini, ia lebih sibuk bekerja dan kadang kadang saja kami akan menikmati waktu bersama sebagai suami dan istri, malah kami jarang sekali untuk berkumpul karena bisnis yang kami jalani sedang subur suburnya.
Hal itu membuatku bosan, ditambah lagi sekarang bahwa aku sudah tidak terbiasa untuk dicueki, memang aku sekarang lebih bebas, tapi aku memerlukan kasih cinta dan sayangnya seperti saat awal awal menikah.
Anak anakku memanglah sangat pintar sekarang, mereka juga remaja, bisa dibilang sekarang bisa menjadi temanku disaat suamiku sibuk bekerja.
Aku bosan, aku menginginkan kasih sayang lagi, karena aku yang tidak terbiasa dengan sikap suamiku yang tidak lagi hangat, kuakui bahwa ia masih tetap memperhatikanku, sayangnya ia tidak lagi sehangat sebelumnya.
Entah angin darimana, manager Gusti dengan iseng memperhatikanku, aku awalnya merasa risih, tetapi aku tidak berpikiran untuk ikut membalas dirinya yang mencoba menggodaku.
"Kamu tahu, bahwa saya sangat menyukai anda, nyonya. "
Aku digoda secara terang terangan, awalnya aku masih mengabaikannya, tetapi seiring waktu berjalan, aku mulai ingin menanggapinya, rupanya ia yang sudah sangat lama menginginkanku untuk bisa bersama dengannya dikala sibuknya Gusti, aku juga bodoh, aku menanggapinya hingga aku akhirnya berselingkuh dari Gusti.
Aku merasa nyaman dengan bawahan Gusti, ia bahkan mengingatkanku kembali dengan Gusti dahulu, romantisa cintanya hampir sama, sehingga aku juga ikut nyaman dengan dirinya.
Aku merasa seperti waktu muda, hanya saja anak anakku yang sangat pintar bingung dengan kelakuanku, syukur saja mereka tidak tahu bahwa aku tengah berselingkuh.
"Ma, siapa laki laki yang sering main ke rumah? Tidak biasanya mama menyuruh oranglain masuk. "
Anak keduaku, Gina, secara terang terangan ia mengatakannya saat tengah makan malam bersama, tepat di depan suamiku.
"Apa? Kamu bawa siapa ke rumah, sayang? " tanya Gusti padaku.
Aku tentu terkejut, dan menggelengkan kepalaku, aku tidak ingin mengaku secepat itu, karena aku tidak ingin jika Gusti mengetahuinya.
Tapi entah mengapa aku cepat bosan, mungkin aku sudah terpikat dengan Gusti, itu yang membuatku tidak bisa berlama lama untuk selingkuh dari Gusti.
__ADS_1
"Saya minta kita hentikan sampai sini saja, saya tidak betah ingin bersama anda. "
Kuputuskan untuk mengakhiri perselingkuhan ini, karena aku tidak ingin jika lagi lagi anakku bertanya, dan akhirnya Gusti mengetahuinya.
"Tapi, tapi saya sudah menyiapkan rencana lamaran saya untuk anda, nyonya, saya sudah mengatur rencana untuk nyonya bisa melepas diri dari tuan Gusti, bukankah nyonya menginginkan kasih sayang dan cinta kasih? Saya bisa memenuhinya, nyonya. "
Namun, manager Gusti ini sudah gila, ia benar benar terobsesi denganku, sehingga aku susah untuk terlepas dari dirinya.
Secara tiba tiba pintu dibuka, tanpa ada pelayan yang menyambut, pintu rumah yang termasuk besar itu dibuka dengan sekali dorong, dan aku terkejut siapa yang mendorongnya, tentu saja itu suamiku sendiri, Gusti.
"Apa apaan semua ini?! Kurang ajar! "
Akhirnya keributan terjadi, dengan suamiku yang memergokiku dengan managernya, dan anak anakku yang menatapku dengan tatapan benci, aku kacau dalam sehari.
"Katakan, apa benar kalian berselingkuh?! " teriak Gusti padaku.
Aku tidak bisa mengelak, dan aku mengakuinya.
"Ya, saya selingkuh darimu dan saya mengakuinya. "
Aku selingkuh, mungkin karena aku tidak mendapatkan layanan seorang suami, dia sangat sibuk ketika bekerja, hingga aku tidak sama sekali mendapatkan kasih sayangnya lagi, entah godaan puber kedua yang membuatku akhirnya terlena, berselingkuh dengan laki-laki yang sebelumnya menjadi manager di perusahaannya Gusti sendiri.
Setelah semuanya terjadi, aku benar benar terasa asing sekarang, kebodohan menelan diriku hingga habis, rumahtanggaku hancur berantakan.
Gusti mengajukan perceraian, dan meminta semua keluargaku untuk menerimaku kembali karena aku yang akan ditalak dan akan dikembalikan oleh keluarga, sayangnya keluargaku dan keluarga Gusti menolak, hingga kami batal bercerai, keluarga meminta kami untuk berpikir sekali lagi, dan Gusti tidak terima karena kami yang akan berbaikan lagi.
Pernikahan yang diatur dari perjodohan, itu yang membuat kami susah terlepas, itu juga yang membuat Gusti benar benar akhirnya membenci diriku, termasuk anak anakku yang mulai menjauh dariku, aku diasingkan oleh rumahtanggaku sendiri.
Meminta maaf berkali kali tidak membuat Gusti luluh, ia tidak peduli mau bagaimanapun caraku untuk meminta maaf, ia tetap saja melayangkan kata perceraian di depan wajahku, aku sampai gila dibuatnya.
Aku sudah merasa bahwa mentalku sudah kena, aku tidak bisa berpikir jernih, karena kesalahan yang kubuat membuatku yang akhirnya memakan senjata sendiri, aku sendiri yang bodoh.
Hari hariku begitu suram, tidak ada lagi cinta diantara kami, dan Gusti yang memutuskan untuk pisah ranjang, bercerai tidak bisa, ingin memisah tempat tinggal tidak bisa, alhasil Gusti akhirnya bertindak sesukanya tanpa ingin mendengarkanku lagi.
"Hentikan, jangan paksa saya untuk mencintai anda! Ingat, bahwa kita hasil perjodohan! "
Kata kata menyakitkan itu dilontarkan oleh suamiku, ia mengungkit awal pertemuan itu, padahal dahulu sudah sepakat akan melupakan perjodohan itu dan menganggap pernikahan yang sudah dilaksanakan menjadi pernikahan yang murni karena saling mencintai.
Kalau dikira aku kuat melawannya saat berdebat, itu salah besar, karena aku akan menangis setelahnya, aku berusaha tegar di depannya agar aku tidak terlihat lemah, aku benci terlihat lemah di depannya, memastikan bahwa aku benar benar bisa melawannya.
Terkadang aku merasa salah dengan anak anakku, karena ulahku, mereka jadi kena imbasnya, selalu kumarahi, menjadi bahan pelampiasan, ini bukan yang aku inginkan, karena dari awal tidak pernah aku memperlakukan kedua anakku seperti itu sebelum peristiwa ini terjadi.
"Maafkan mama, anak anak, mama seperti ini karena mama yang membuat semua ini, mama ingin mengembalikan keadaan seperti sebelumnya. Ini untuk kalian. "
Setiap tidur, kedua anakku selalu kubisikkan di telinga mereka, bahwa aku minta maaf dan aku sangat menyayangi mereka berdua, karena mereka adalah hasil cintaku dan Gusti.
Gusti sudah terlihat mencurigakan disaat ia mulai tidak pulang ataupun menemui anak anak, jarang sekali ia seperti itu, dan aku menebak dengan pemikiran negatifku, mungkin saja Gusti juga sudah mulai berselingkuh sekarang.
Kecurigaanku mengarah dengan partner kerja yang Gusti kenalkan denganku saat kami semuanya diajak berlibur ke luar negeri, penampilan dari partner kerjanya saja sudah dibilang tidak meyakinkan, gayanya sudah lain, dan ekspresinya bertemu denganku seolah bahwa aku ingin memakannya.
"Perkenalkan, namanya Dewina. "
Gusti saja memperkenalkannya dengan tidak yakin, aku bertanya berkali kali hingga terus terusan alasan itu terus digunakan olehnya.
Kecurigaanku semakin pekat, karena sikap Gusti yang berbeda dari sebelumnya, ia cepat panas ketika aku terus terusan bertanya tentang Dewi, memang apa salahnya aku yang bertanya dengannya seputar klien ataupun temannya, toh dulunya ia suka berbagi cerita dan sekarang mudah sekali panas ketika ditanya.
Hatiku mulai panas, disaat suamiku yang dengan santai ingin meninggalkanku dan bisnisnya bersamaku, ia meninggalkan semuanya demi berlibur ke Paris, jarang sekali Gusti akan berlibur kecuali bersama Gita dan Gina.
Keributan sekain menjadi, aku sudah semakin kelewatan, dengan Gusti yang juga ikut melewati batasnya, ia juga mulai main tangan denganku, kami benar benar di ujung tanduk.
Tapi entah mengapa aku tidak ingin rumahtanggaku di ujung tanduk hingga berakhir perceraian, aku masih memutar otak, dengan tangisku dan semua perjuanganku, aku perjuangkan rumahtanggaku untuk tidak retak begitu saja, aku sedih ketika mendengar tangisan kedua anakku yang selalu berdo'a, agar kami tidak terpisah.
Aku memutar otak, semakin Gusti cepat panas, maka akan mudah menjebaknya, aku menghasut asistennya untuk sekali berkhianat dengan Gusti.
"Jika benar bukan kamu, kenapa kamu tidak ingin bekerjasama dengan saya? Apa kamu benar benar mendukung suami saya untuk berselingkuh? "
Dengan bantuan asisten suamiku, aku berhasil untuk merencanakan semua itu.
Hingga akhirnya aku mendapatkan jalan petunjuk, Tuhan tidak selamanya ingin menghukum hambanya yang pernah berbuat salah, buktinya saja aku akhirnya mendapatkan selingkuhan suami ku yang sedang dalam keadaan mengandung anak suami ku sendiri.
Ku akui, permainan mereka berdua kurang cerdas, karena selingkuhannya juga tidak mengerti apa apa tentang menjadi simpanan dan pemuas, buktinya saja dia kebobolan, itupun karena aku yang memberikan obat kepada asisten suami ku untuk diefekkan kepada makanan dan minuman, secara Gusti bisa menjadi tambah liar ketika ia mengonsumsi obat kuat.
Dan sekarang aku harus tahan banting lagi, untuk bisa membalas rasa sakit ini, aku harus menampung simpanan suamiku yang tengah hamil untuk kuambil anaknya, dan aku jadikan anaknya sebagai tampungan dosa suamiku, agar dia kapok, bahwa ia berselingkuh dengan membawa hasil.
__ADS_1
Ah, mungkin akan menyenangkan, melihat semua ini dengan alur permainanku, aku melakukannya demi diriku untuk sekarang, aku akan lakukan demi diriku sendiri, lihat saja.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*