Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 56: Celaka


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Dewi pagi pagi sudah menyiapkan barang barang serta surat surat yang diperlukan, tujuannya ia ingin mengajukan pekerjaan yang sebelumnya ia ingin ajukan.


Bekerja di rumah setidaknya tidak membuat Dewi bosan, hanya saja waktu istirahat nya mungkin akan terkuras, karena ia pastinya akan menghabiskan waktunya di depan laptopnya dan pastinya tidak banyak bergerak.


"Surat ini sepertinya sangat dibutuhkan, akan kubawa saja. " ucap Dewi.


Dewi memasukkan surat yang ia pegang, kemudian ia menaruh surat tersebut di dalam sebuah map yang akan ia gunakan untuk mengajukan pekerjaan.


"Jelly, aku akan pergi mengajukan lamaran pekerjaan, jika om Gusti datang ke dalam kamar apartemen ini, berpura puralah untuk tidur dan jangan meladeninya. Kita sama sama saling kerjasama ya, Jelly? " ucap Dewi.


Jelly menggonggong, ia dan Dewi merencanakan kerjasama yang baik untuk mereka lakukan, dan sekarang Dewi aman, ia bersiap siap dan berencana untuk pergi ke tempat yang dituju.


Dewi menghela dan menarik nafasnya, ia mencoba menenangkan dirinya dan sesekali berdoa pada dirinya, untuk keselamatan dirinya dan apapun itu yang terjadi pada dirinya.


"Aku bisa, tidak mungkin secepat itu om Gusti akan segera pulang. " ucap Dewi.


Dewi membuka pintunya, ia yang tidak melihat Gusti berdiri di depan pintu kemudian ingin membuka pintu kamar apartemen tersebut, Dewi memejamkan matanya seolah tidak sedang melihat seseorang di depannya.


"Kenapa kamu bersikap seperti itu? Seolah kamu sedang sengaja membutakan mata kamu? " tanya Gusti.


Dewi hanya tersenyum. "Tidak, saya hanya ingin mencoba berkedip saja, bukan berarti saya tidak ingin melihat om, hanya itu saja. "


Gusti menatap gadis tersebut dengan tatapan datar, kemudian ia mencubit hidung Dewi sampai memerah, sekilas saja cubitan tersebut membuat hidung Dewi memerah, Dewi merintih kesakitan akibat cubitan tersebut.


"Sakit sekali, om. "


"Sekarang saya bertanya dengan kamu, kenapa sekarang pakaianmu sangat rapi? Apa kamu sudah tahu jadwal pemeriksaan sebelumnya ini? " tanya Gusti.


Dewi diam, ia hanya menganggukan kepalanya saja, walaupun ia panik ketika ingin mencari alasan dengan laki laki tersebut.


"Ya, sepertinya hari yang bagus, saya rencananya akan pergi ke kampus segera mungkin, makanya kebetulan sekali saya sudah rapi seperti ini. " ucap Dewi.


Alasan Dewi diterima baik oleh Gusti, Gusti menganggukan kepalanya, Dewi menghela nafas lega.


"Baik, sebelum kamu berangkat ke kampus, saya ingin mengajak kamu untuk memeriksa kembali kandungan kamu, sudah hampir beberapa kali kamu menghindar pemeriksaan kembali, bukan? " tanya Gusti.


Dewi merasa bahwa ia melupakan hal tersebut, sehingga ia seolah tidak mengingat sesuatu yang sebelumnya ia ingat.


"Berhenti beralasan, sekarang kamu ikut saya. " ucap Gusti.


Dewi akhirnya mengikuti Gusti, sebelumnya ia meminta Jelly untuk bangun, karena rencana mereka berdua sama sekali tidak bisa dilaksanakan.


"Jelly, bangunlah, tidak jadi. "


"Kalian merencanakan sesuatu? " tanya Gusti.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak om, saya hanya meminta Jelly untuk bangun tidur saja. "


"Sudah, jangan habiskan waktu disini, atau kita berdua akan terlambat pergi ke kantor atau kampus. "


Gusti mendahului langkahnya, ia meninggalkan Dewi, sedangkan Dewi dengan cepat menyusul laki laki tersebut.


......................


Menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya keduanya tiba di rumah sakit, seperti biasa tujuan mereka adalah memeriksakan kandungan, Dewi sebenarnya sudah resah untuk mengejar waktunya mengajukan pekerjaannya ke perusahaan yang sebelumnya ia ajukan.


"Pemeriksaannya sebentar lagi, silahkan menunggu dahulu disini. "


Dewi duduk di kasur, ia menunggu dokter yang akan memeriksa dirinya, tak lama dokter kandungan tersebut masuk dan mulai melakukan pemeriksaan dengan Dewi, berbagai pemeriksaan sudah Dewi lakukan, dan banyak kejanggalan yang di dapatkan oleh dokter kandungan tersebut, sehingga ekspresinya tidak terlihat bagus.


"Bagaimana dengan pemeriksaannya kali ini? " tanya Gusti.


Dokter tersebut melihat hasil sebelumnya, sedangkan Dewi diam menatap dokter yang sedang melihat hasil laporan pemeriksaan tersebut.


"Ini ibunya malas minum susu ya? "


Dewi hanya diam, sedangkan Gusti menatapnya dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak mengerti bisa bagaimana memberitahukan nya, jarang sekali dia ingin meminum susu yang sudah dianjurkan. " ucap Gusti.


Dokter kandungan tersebut menatap ke arah Dewi.


"Bisa dijelaskan kenapa ibunya tidak ingin meminum susu yang sudah dianjurkan? Apa sering terasa mual saat meminumnya? " tanya dokter tersebut.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Ya, saya sering merasa mual sehabis meminumnya. " ucap Dewi.


Dokter tersebut menganggukkan kepalanya, kemudian mencatat secarik kertas yang berisikan anjuran dari dokter kandungan untuk Dewi.


"Pola makan, minum susu dan vitaminnya tolong diperhatikan ya, bumil, karena kalau sudah cuek diawal kehamilan akan berdampak pada perkembangan janinnya, mohon bapaknya mengarahkan ibunya untuk bisa mengonsumsi kebutuhan selama kehamilannya ya. "


Dewi menerima secarik kertas tersebut, ia tidak berani ketika melihat ekspresi wajah Gusti yang mengarah padanya, tatapan mengancam tersebut seperti sedang merenggut nyawanya.


"Baik, terimakasih sudah meluangkan waktunya. "


Gusti dan Dewi berjalan keluar dari ruangan tersebut, keduanya berencana untuk segera pergi dari rumah sakit, dan menuju ke tempat yang ingin dituju.


"Kamu dengar sendiri bukan? Kamu terlalu semena mena dengan kandunganmu, haruskah saya meminta Bella untuk mengawasimu? " tanya Gusti.


Dewi menatap ke arah Gusti. "Harusnya saya tidak perlu melewati masa sulit seperti ini, om, harusnya ini masa saya untuk kuliah dan bekerja, kehamilan mendadak dan tidak disengaja ini tidak bisa saya atur, karena saya masih butuh kebebasan untuk sekarang. "


"Jadi kamu kembali ingin menyalahkan saya lagi, Dewina? " tanya Gusti.


"Tentu saja, jangan sampai jika saya akan benar benar berbuat apa yang om larang. " jawab Dewi.


"Dewina, jangan berbuat nekat, atau saya dan kamu yang akan kena imbasnya. "


"Saya tidak tahu apa yang akan selanjutnya terjadi dengan saya, saya tidak berharap akan mendapatkan kesusahan lagi diantara kita. " ucap Dewi.


Gusti menghela nafasnya. "Terserah padamu. "


Gusti meninggalkan Dewi, tidak ada tawaran untuk tumpangan bagi gadis tersebut, tetapi cara tersebut membuat Dewi bisa pergi ke perusahaan tempat pengajuan pekerjaan tersebut dilakukan, tetapi ia memastikan agar Gusti memang benar benar pergi dari rumah sakit.


Setelah lama menunggu, tidak ada tanda tanda satupun kehadiran Gusti, hal tersebut membuat Dewi akhirnya bisa pergi secara langsung ke perusahaan tempat ia mengajukan pekerjaan sebelumnya.


Dewi melihat taksi yang berhenti, ia menaiki nya dan meminta untuk menuju ke arah tempat perusahaan tersebut berada, ia duduk dan menatap sekitaran kota yang sangat padat dan jelas dengan beberapa bangunan tinggi berada di sana.


Butuh waktu untuk segera tiba di gedung perusahaan tersebut, Dewi melihat sebuah ruko yang terlihat sangat bagus, layak memang menjadi tempat perusahaan, ia turun dan membayar biaya taksi, kemudian ia memasuki ruko tersebut dengan penuh keyakinan.


Dewi masuk, disekelilingnya terlihat bahwa isi dari ruko tersebut tidak jauh berbeda dari pemandangan di luar, sangat bagus dan estetik.

__ADS_1


Tempat kerja tersebut tepatnya seperti penjualan kosmetik, makanan dan produk bahan mentah, tetapi Dewi bingung dengan kejelasan tempat tersebut, ia memasuki tempat tersebut dan menuju ke belakang.


"Permisi, apakah saya bisa bertemu dengan pemilik perusahaan ini? " tanya Dewi dengan salah satu karyawan.


"Silahkan, dia ada di dalam, nanti ada ruangan pintu warna krem, masuk saja ke sana. " ucap salah satu karyawan.


"Begitu ya, sebelumnya terimakasih. "


Dewi membawa map miliknya, ia kemudian berjalan menuju ruangan yang sebelumnya sudah ditunjukkan, dan sekarang ia memegang kumpulan surat di dalam map untuk ia tunjukkan kepada pemilik perusahaan.


Sebelum memasuki ruangan tersebut, Dewi mengetuk pintu ruangan tersebut, dan sekarang ia dipersilahkan untuk masuk ke dalam, Dewi sebelumnya mengatur nafas dan membuangnya dengan lega, akhirnya Dewi masuk dan mengucapkan permisi.


"Permisi. "


"Silahkan masuk. "


Pertemuan yang tak di duga, Dewi bertemu dengan Daniel secara langsung, sekian lama keduanya akhirnya bertemu dan sekarang langsung bertatapan seperti biasanya.


"Daniel? "


"Dewi, apa yang kamu lakukan di kantorku? " tanya Daniel.


Dewi menggelengkan kepalanya, ia berusaha untuk fokus menjelaskan apa yang terjadi, tanpa basa basi ia menyerahkan map yang berisi surat ajuan pekerjaan yang sebelumnya sudah ia daftarkan.


"Saya ingin mendaftarkan diri saya, sebelumnya saya sudah mengajukannya lewat online dan mendapat email perusahaan, bahwasannya saya harus langsung ke perusahaan untuk memberikan data lengkap secara langsung dengan perusahaan yang sudah diajukan. " ucap Dewi.


Daniel melihat seluruh surat yang Dewi berikan, sebagiannya ia lihat dan juga ia ambil, sebagiannya ia letakkan saja di atas mejanya.


"Keahlian dan semacamnya bukan karangan semata untuk menjadi admin halaman perusahaan ini kan? " tanya Daniel.


"Benar, tidak ada karangan atau semacamnya, itu memang murni dari keahlian yang saya punya. " jawab Dewi.


Daniel memperhatikan kembali, kemudian ia benar benar yakin, ia menaruh lagi map tersebut dan mulai menatap ke arah Dewi.


"Ya, kamu saya terima, bisa hari ini dan besok kamu untuk bekerja disini, nanti akan saya panggil asisten saya untuk memberikan kata sandi halaman perusahaan ini, selamat, kamu saya terima. " ucap Daniel.


Dewi tersenyum dan mengucapkan terimakasih dengan Daniel.


"Terimakasih, saya akan bekerja hari ini. " ucap Dewi.


Daniel menganggukan kepalanya, kemudian Dewi mulai bekerja, ia dapat melakukan pekerjaannya hari ini hanya di apartemennya saja tanpa keluar, dan akan keluar jika ia ada keperluan di perusahaan milik Daniel, terlihat santai namun akan menguras waktu istirahatnya untuk mengatur dan melihat jumlah barang yang masuk dan keluar setiap malamnya, pekerjaan tersebut akan selesai sekitar pukul 11 malam.


Cukup panjang perjalanan Dewi hari ini, dan sekarang ia kembali ke apartemennya, Dewi dengan perasaan bahagia ia kembali menuju ke apartemen, tak sabar ia ingin menceritakan apa yang terjadi hari ini dengannya kepada peliharaannya, karena ia yang berhasil diterima bekerja di perusahaan yang bisa bekerja hanya di rumah saja.


Dewi membawa kantong kertas yang terlihat seperti makanan, ia membuka pintu akses kamar apartemennya dan masuk ke kamarnya, seperti biasa Jelly selalu setia menunggu kepulangan Dewi yang berada di luar rumah, dan sekarang ia duduk menyambut Dewi yang sudah pulang.


"Jelly, aku membawa berita bagus! "


Dewi mendekat, dan ia memegang wajah anjing peliharaannya, tak lupa raut wajah bahagia Dewi pancarkan pada anjing peliharaannya.


"Aku diterima kerja, Jelly! "


Dewi bersorak kegirangan, ditambah dengan ia yang mengajak anjing peliharaannya melompat bersama, ia kegirangan dengan keberhasilan yang ia dapatkan sekarang.


"Jelly, kita kembali kerjasama lagi ya, perjalanan tidak habis sampai sini saja. " ucap Dewi.


Jelly menggonggong, Dewi mengelus kepala peliharaannya tersebut dan keduanya berjalan menuju ke belakang.


......................


Hari ke tiga pekerjaan yang Dewi lalui, terkadang ia merasa sedikit lelah karena pekerjaannya yang larut malam, terkadang juga badannya terasa ngilu, tapi akan terasa baik ketika ia meminum teh atau kopi dipagi hari.


"Jelly, aku akan pergi ke kantor nanti, jadi aku minta dengan kamu, kamu harus berpura pura tidur agar om Gusti yang akan pulang ke sini tidak curiga aku pergi ke mana. Oke? "


Jelly menggonggong, Dewi sangat terbantu dengan peliharaannya yang begitu penurut, hingga kerjasama keduanya berhasil begitu saja ketika ada Gusti yang selalu memantau keadaan Dewi.


"Jelly, aku pergi dulu ya. "


Jelly menggonggong, kemudian Dewi menutup pintu dan pergi dari apartemen, sekarang ia berencana untuk segera pergi ke kantor.


Sebenarnya perasaan pada perut Dewi terasa aneh, ia mengoleskan minyak urut di bawah perutnya, berharap nyeri yang ia rasakan tidak terasa lagi.


Tetapi karena semangat yang tinggi, Dewi berusaha menahannya, walaupun perutnya terasa sakit, ia sendiri bingung dengan apa yang terjadi pada tubuhnya sehingga terasa seperti sekarang.


Butuh sejam lebih untuk sampai ke kantor perusahaan, Dewi sampai dan berjalan menuju ke dalam, ia membawa laporan hasil penjualan yang sudah ia kumpulkan selama tiga hari bekerja.


"Ini, sudah saya susun berdasarkan laporan yang kamu minta, Daniel. "


Daniel menerima laporan tersebut, kemudian ia membaca perkembangan pada laporan pekerjaan yang sudah Dewi kumpulkan, dan sekarang ia menaruhnya di dalam laci.


"Sudah, terimakasih. " ucap Daniel.


"Sama sama, Daniel. " ucap Dewi.


Dewi berbalik, ia menyusun barang barangnya, kemudian ia berjalan keluar, namun sorot mata Daniel mengarah padanya.


"Dewina. "


Langkah Dewi terhenti, ia menatap ke arah Daniel, dan juga ia menatap ke arah Daniel.


"Ya, ada apa sebelumnya? " tanya Dewi.


"Bagaimana dengan pekerjaan ini, Dewi? " tanya Daniel.


Dewi tersenyum. "Saya sangat menerimanya dengan baik, dan juga pekerjaannya cukup santai, saya menyukainya. " jawab Dewi.


Daniel menganggukan kepalanya.


"Mungkin ini adalah pertemuan yang tidak kuinginkan, tapi karena kamu kreatif, mungkin bakal lebih bagus jika aku tetap menerima kamu sebagai admin halaman perusahaan yang kupunyai, setidaknya jangan membuat aku kecewa kali ini, Dewi. " ucap Daniel.


"Baik, saya akan laksanakan, Daniel. "


"Dan satu lagi, jika kamu sedang bekerja denganku, jangan panggil namaku, gunakan etikamu dalam memanggil namaku sesuai dengan perusahaan lainnya biasa memanggil nama pemilik perusahaan. " ucap Daniel.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Baik pak, saya mengerti. "


"Sudah, silahkan kembali bekerja. " ucap Daniel.


Dewi keluar dari ruangan, perasaannya campur aduk sekarang, dan juga rasa nyeri pada perutnya semakin menjadi, alhasil Dewi ingin segera pulang saja.


Butuh perjuangan untuk Dewi bisa dengan cepat sampai ke apartemen, dengan perutnya yang terasa nyeri itu ia berusaha untuk segera pulang dari kantor perusahaan menuju ke apartemennya.


Dewi pulang dari tempat ia bekerja, ia merasa bahwa perutnya terasa sakit, dan juga rasanya seperti lain sebelumnya, bahwa rasa nyeri tersebut perlahan semakin tajam.

__ADS_1


Saat ingin membuka pintu, Dewi melihat seseorang masuk ke dalam kamarnya, ia mulai merasa curiga, mungkin saja itu adalah Gusti yang kembali ke kamarnya.


'Sial, bagaimana bisa beralasan dengan om Gusti? Sedangkan dia saja sangat berpengalaman dan pintar, bisa jadi aku akan diinterogasi olehnya. ' ucap Dewi dalam hati.


Tak lama pintu terbuka, Dewi terdiam, di depannya adalah Gusti yang terlihat ingin menginterogasi nya.


"Om Gusti, hai... " sapa Dewi.


Gusti mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu berperilaku aneh seperti ini? Dan juga, kenapa anjingmu seharian tidur saja di sofa, apa dia tidak merasa kelaparan di siang hari seperti sekarang? " tanya Gusti.


"Saya tidak tahu, om, jarang sekali Jelly seperti itu, mungkin saja karena ia benar benar mengantuk. " jawab Dewi.


Gusti menganggukkan kepalanya, kemudian keduanya masuk ke dalam kamar apartemen tersebut, kemudian Jelly bangun dari tidurnya dan menyambut majikannya yang pulang.


Dewi menggeleng kepalanya, kadang rasa sakit di perutnya terasa lagi, sehingga ia meminta Jelly untuk menjauh darinya.


"Jelly, sementara ini kamu jangan tidur di dekat perutku, rasanya sakit secara tiba tiba saja perut ini. " ucap Dewi pada peliharaannya.


Jelly menatap ke arah Dewi, sebenarnya ia bingung mengapa secara tiba tiba majikannya sedang tidak ingin bersama dengannya seperti biasanya, dan sekarang Dewi memintanya untuk menjauhinya sementara.


"Ada apa? Apa yang sedang terjadi dengan kamu? Kenapa secara tiba-tiba seperti ini? " tanya Gusti.


Dewi menggelengkan kepalanya, ia meminta Gusti untuk menjauh terlebih dahulu dengannya, ia ingin segera beristirahat saja.


"Tidak, saya sepertinya kecapaian, makanya sekarang saya ingin beristirahat terlebih dahulu, nanti saya akan keluar dari kamar jika saya sudah merasa baikan. " jawab Dewi.


Sebelumnya Dewi akan pergi ke kamar mandi, Jelly yang berada di sofa kemudian berjalan santai ke arah pintu kamar mandi, sedangkan Gusti kembali ke ruang kerjanya untuk bekerja.


Dewi merasa bahwa perutnya terasa masih sakit, dan terasa sedikit mulas, ia memegang ujung wastafel dan tergelincir, hingga suara berisik dari kamar mandi terdengar hingga ke luar.


"Ugghh... " lirih Dewi.


Dewi terkejut, secara tiba tiba darah mengalir dari kakinya, ia merasa gemetaran dan ingin mencari bantuan, tak lama Jelly melihat Dewi dan ia menggonggong dengan suara yang keras.


Mendengar suara gonggongan anjing dari luar ruangan, Gusti beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangannya, ia melihat Jelly yang menggonggong ke arahnya dari dalam kamar mandi.


"Jelly, apa yang terjadi? "


Gusti melihat Dewi yang terduduk, dengan darah yang terlihat mengalir dari paha Dewi, ia menatap tidak percaya dan berlari ke arah Dewi untuk mengangkat gadis tersebut.


"Om, tolong... " lirih Dewi.


"Sabar Dewina, saya akan bawa kamu segera ke rumah sakit! "


Gusti menggendong Dewi, beserta Jelly ketiganya keluar dari kamar apartemen tersebut untuk segera ke rumah sakit.


......................


Sesampainya di rumah sakit, Dewi dibawa hingga ke ruangan gawat darurat, sedangkan Gusti dan Jelly menunggu di luar, sebelumnya Gusti telah menghubungi Bella untuk segera datang ke rumah sakit karena hal tersebut.


"Dewina, jangan sampai terjadi apapun dengan kamu. " gumam Gusti.


Gusti merasa cemas dengan keadaan Dewi, terlihat dari raut wajahnya yang terlihat panik, hingga ia mengusap wajahnya dengan kasar karena mengkhawatirkan kondisi gadis tersebut, ia takut jika hal buruk terjadi.


"Gustiawan! "


Gusti melihat Bella yang berlari kecil ke arahnya, istrinya bersama asistennya berjalan ke arahnya.


"Bagaimana? " tanya Bella.


"Saya belum tahu, bagaimana saya bisa tahu jika saya belum sama sekali masuk ke ruangan ini? " tanya Gusti balik.


Bella menggelengkan kepalanya, tak lama pintu ruangan tersebut dibuka, pastinya Gusti yang terlebih dahulu bangkit dan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan tempat Dewi berada.


"Bagaimana dokter? Apa terjadi sesuatu pada kandungannya? " tanya Gusti.


"Tidak apa apa, ibunya hanya kecapekan saja, tapi jangan sepelekan hal ini, ini hampir saja beresiko keguguran. " jawab dokter tersebut.


"Apa boleh kami menjenguk pasien di ruangan ini? " tanya Bella.


"Silahkan, pasiennya boleh dijenguk. "


Gusti dan Bella masuk ke ruangan tempat Dewi dirawat, keduanya melihat gadis tersebut sedang menatap ke arah jendela, dengan tangannya yang sedang diinfus.


"Lucu bukan? Kelakuanmu kali ini sangat lucu, bukan? " tanya Bella.


Bella mendekat, ia menggenggam tangan Dewi dengan erat, sehingga Dewi terkejut dan meringis kesakitan, Gusti tidak tinggal diam melihat keributan tersebut.


"Bella, hentikan, jangan berbuat kasar disini! " tegas Gusti.


"Sudah saya duga, bahwa kamu ingin mencelakainya! Tidak usah berusaha mengelak, bahwa kamu sengaja melakukannya, bukan?! " bentak Bella.


"Tidak bu, saya serius, saya ceroboh karena sudah bekerja tak memikirkan diri sendiri. " ucap Dewi.


"Apa? Kamu bekerja? " tanya Gusti.


Dewi terkena jebakan, kedua orang yang berada di depannya kemudian menginterogasinya, ia sendiri yang bodoh, karena berbuat nekat dan membocorkan kebodohannya kepada kedua orang tersebut.


"Kamu ingin mencelakai kandungan kamu? Siapa yang menghasut kamu untuk berbuat nekat seperti ini? " tanya Bella.


Dewi menggelengkan kepalanya, ia tidak menjawab sama sekali pertanyaan tersebut.


"Apa yang menghasutmu Gusti atau Eni yang berada di penjara? Katakan! " tegas Bella.


"Kenapa kamu menyalahkan saya, sementara ini semua adalah kesalahannya sendiri?! " tegas Gusti tidak menerima.


"Tentu saja saya menyalahkan anda, karena selama ini andalah yang selalu bersama dengan Dewi! Jangan berusaha mengelaknya, Gustiawan! "


"Terserah apa katamu, saya mengaku bahwa bukan saya yang membuatnya seperti ini, mengerti?! "


Gusti meninggalkan ruang inap tersebut, tinggal tersisa Dewi dan Bella yang berada di ruangan tersebut, Bella menatap sinis ke arah Dewi.


"Kalau bukan karena kamu, mungkin saya tidak seperti ini dengan suami saya! " bentak Bella.


Dewi hanya diam, ia tidak berani melawan, ia memilih untuk diam saja tanpa menjawab ataupun menatap Bella, Bella keluar dari ruangan dan menutup pintu ruangan tersebut dengan kuat.


Dewi menatap perutnya, sesekali ia mengelusnya dan menatap sedih ke arah perutnya.


"Kenapa kamu tidak pergi saja, nak? Tidak ada yang menginginkanmu dan menerimamu dengan tulus, termasuk aku. " ucap Dewi.


Dewi merasa bersalah, disisi lain ia merasa kasihan dengan calon anaknya, dan sisi lainnya juga ia lebih merasa kasihan jika calon anaknya akan terus bertahan di perutnya, ia tidak ingin calon manusia yang sedang ia kandung harus merasakan kesusahan dari orang orang disekitarnya, namun bagaimana lagi, sedangkan bayi dalam kandungannya sangat kuat untuk bertahan, dan ingin hidup sampai nantinya akan dilahirkan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2