Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 19 : Bertemunya Simpanan dan Sang Nyonya


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Pagi harinya, Dewi dan Gusti terbangun bersama, kali ini ekspresi Dewi tidak seperti diawal, ia tersenyum ketika melihat Gusti, yang pastinya itu setelah bayaran yang sudah diberikan oleh Gusti padanya.


"Terimakasih, om, saya sangat menyukainya. " ucap Dewi.


Gusti menganggukan kepalanya, kemudian ia berjalan ke kamar mandi, sedangkan Dewi memakai kimono nya kemudian berjalan ke arah balkon Villa, pemandangan pagi yang tak jauh berbeda saat sedang berada didesa.


Tiba tiba tubuhnya dipeluk dari belakang, Dewi melihat tangan yang melingkar di pinggangnya dan diam.


"Om Gusti, ada apa? " tanya Dewi.


Saat melihat ke belakang, Dewi tidak melihat siapapun, ia bergidik ngeri, karena mengingat tangan siapa yang memeluknya dari belakang, hingga wajahnya berubah menjadi pucat.


'Sepertinya Villa om Gusti ini angker, hiiiiii. '


Dewi segera mengetuk kamar mandi Villa tersebut, ia disahut dari dalam oleh Gusti dan Gusti membalasnya dari dalam.


'Tunggu sebentar, Dewina, sebentar lagi saya selesai. ' sahut Gusti dari dalam kamar mandi.


......................


Selesai berkemas, Dewi diantar pulang oleh Gusti, di depan gerbangnya sudah ada satpam yang biasanya menjaga gerbang tersebut.


"Sebelumnya terimakasih ya, om, sudah mengantarkan saya sampai ke kosan. " ucap Dewi.


"Ya, kalau begitu, nanti sore bersiap siap, kamu akan berangkat malam hari. "


Dewi terkejut, secepat itukah ia harus berangkat ke luar negeri, bahkan ia sampai bengong dengan rencana Gusti yang terkesan mendadak.


"Tenang saja, esok hari saya beserta keluarga akan berangkat, jadi tidak bersamaan dengan saya dan keluarga saya. Sore nanti kamu yang akan berangkat ke Singapura. " ucap Gusti.


"Tapi om, saya tidak mengerti dengan keadaan di luar negeri, saya juga tidak mengerti bahasa orang orang disana. " ucap Dewi.


"Tenang saja, saya sudah sewakan translator di sana, jadi saat kamu di sana dan ingin berkeliling di sana, kamu tidak akan merasa buta bahasa saat disana. " ucap Gusti.


Dewi merasa bimbang, tetapi Gusti meyakinkannya.


"Sudah, turuti saja, saya tidak akan menelantarkan kamu ke negeri orang, saya tidak sekejam itu dengan orang, apalagi dengan wanita. " ucap Gusti.


"Baik om, kalau begitu saya permisi. "


Dewi menutup pintu mobil Gusti, kemudian Gusti pergi dari kosan Dewi.


"Neng, darimana aja baru pulang pagi pagi begini? " tanya satpam tersebut.


Dewi terdiam, ia berusaha mencari alasan, walaupun jantungnya berdegup kencang.


"Saya barusan pulang dari rumah teman saya, pak, makanya baru saja saya pulang pagi ini. " ucap Dewi.


Satpam tersebut menganggukan kepalanya, kemudian ia membuka gerbang kosannya dan menyuruh Dewi untuk masuk.


Dewi segera masuk ke kamarnya, ia langsung berbaring dan merenung, kemudian berpikiran untuk membereskan barang barangnya.


"Bereskan saja semua barang barangku kalau begitu. " gumam Dewi.


Dewi bangkit, kemudian ia mulai mengambil tas besarnya dan mengambil beberapa barang barangnya.


Suara berisiknya terdengar hingga ke kamar sebelah, entah pendengaran yang tajam atau tembok kosannya yang terlalu tipis, Eni mendengar suara tersebut dan mulai mencaritahu untuk menghampiri kamar Dewi.


Dari dalam kamar, pintu kamar Dewi diketuk dari luar, Dewi yang sedang membereskan barang barangnya kemudian membuka pintu kamarnya.


"Wi, ada ribut ribut apa di kamar? Suaranya kedengaran sampai ke kamarku loh. " tanya Eni.


"Kedengaran sampai ke kamar kamu ya? Maaf jika sampai mengganggu kamu, Eni. " jawab Dewi.


"Oh ya, btw kamu mau kemana sih? Kok sampai beres beres segala? " tanya Eni.


"Saya lupa, saya ingin berangkat ke Singapura sore ini, Ni. " jawab Dewi.


Eni menganga, bagaimana bisa secara tiba tiba orang seperti Dewi ingin segera berangkat ke luar negeri, apalagi dengan negara berbahasa asing, sedangkan Dewi itu sendiri tidak fasih berbahasa Inggris.


"Mimpi apaan semalam, Wi? Singapura? Bahasa Inggris aja kamu nggak hapal, Wi. " tanya Eni keheranan.


"Kamu sepertinya meremehkan saya saja, Ni. " ucap Dewi tersinggung.


Eni menggelengkan kepalanya.


"Nggak ah, cuma nanya doang aku mah, sensi amat sekarang kamu, Wi. " ucap Eni.


"Iya, maaf deh, jadinya saya ikut buat kamu tersinggung juga. " ucap Dewi sambil tertawa.


Eni menggelengkan kepalanya, kemudian ia menawarkan bantuan pada Dewi, mereka berdua akhirnya membereskan barang barang milik Dewi.


......................


Sore harinya, Dewi diantar oleh supir yang sudah diarahkan oleh Gusti, Eni yang menunggu diluar gerbang untuk mengantarkan temannya itu berangkat ke bandara untuk menuju ke Singapura.


Perasaan Dewi lain di dalam mobil tersebut, karena sebelumnya belum pernah ia dijemput menggunakan mobil beserta supir selain bersama dengan Gusti, ia duduk dan menatap di sekitarnya, gedung gedung yang besar itu seakan berderet mengiringi langkahnya untuk segera pergi menuju ke bandara.

__ADS_1


"Anda wanita baru ya? "


Dari sekian lama berada di dalam mobil, baru kali itu akhirnya Dewi diitanya oleh supir yang berada di dalam mobil tersebut, Dewi kebingungan harus menjawab apalagi selain menganggukan kepalanya.


"Saya adalah teman Gustiawan, saya bukan wanita baru. " bantah Dewi.


Supir itu hanya teersenyum, ia tahu bahwa Dewi berusaha untuk berbohong, karena ia sudah tahu bagaimana tuannya itu sendiri saat di luar rumah.


"Tidak mengapa, tuan Gusti memang selalu punya wanita simpanan saat diluar rumah. Jadi, jangan sungkan untuk mengaku saja kepada saya. " ucap supir tersebut.


Dewi akhirnya diam, ia ingin segera sampai di luar negeri sebelum Gusti dan keluarganya sudah sampai di Singapura.


Baru pertama kali Dewi menaiki pesawat, itupun dalam perjalanan jauh, tepatnya ke luar negeri, Dewi pastinya akan menemukan tempat yang baru yang belum pernah ia kunjungi.


Dewi juga dibantu oleh supir yang sudah mengantarkannya, memesan tiket kemudian menuju ke arah tempat para penumpang akan berangkat, sebelumnya ia mengucapkan terimakasih kepada supir tersebut.


Kali ini Dewi beruntung, karena ia mendapat bagian di dekat jendela kaca pesawat, yang pastinya ia akan melihat langsung pemandangan dari luar kaca.


"Terlalu mendadak, anda tidak jelas, Gustiawan. " cibir Bella.


Dengan beberapa anggota keluarga, Gusti menjadwalkan penerbangan menuju ke luar negeri untuk sore hari ini, entah apa yang membuatnya secara mendadak menjadwalkan penerbangan ke luar negeri.


Pastinya Gusti memilih First Class, ia mengutamakan kenyamanan dan privasi untuk bisa menikmati penerbangan menuju ke luar negeri.


"Tidak, mah, pilihan papa tepat sekali untuk kita. Gita dan Gina selalu menunggu momen seperti ini untuk 4 tahun yang lalu. " jawab Gita.


"Selalu saja kau membela ayahmu itu, seperti tidak ada cacatnya sama sekali dia. " cibir Bella kembali.


"Mereka di pihak saya, awas saja kamu akan terancam. " ucap Gusti.


......................


Cuacanya telah berbeda dari sebelumnya, terasa bahwa musim disana dingin, mungkin musim hujan yang mengguyur negara tersebut, mungkin juga ada faktor lainnya yang membuatnya menjadi lumayan dingin.


Dewi disambut oleh seseorang, ia mengaku sebagai pemandu dewi, barusaja ia ingat, bahwa pagi sebelumnya Gusti mengatakan padanya bahwa akan ada seseorang yang memandunya selama ia akan menunggu kedatangan Gusti di negara tersebut.


"Hello miss, were you previously named Dewina? " tanya orang tersebut.


Dewi tentunya bingung, dan juga kaget, bagaimana ia akan membalas ucapan tersebut, dikala ia tidak mengerti sama sekali bahasa yang tengah digunakan.


"Oh maaf, kamu kebingungan ternyata. "


Dewi merasa seperti diolok olok, tetapi ia hanya diam tak membalas, jika membalas, mungkin orang tersebut akan enggan membantunya saat di luar negeri.


"Saya tidak salah kan sebelumnya dalam penyebutan nama anda, nona? "


"Tidak, sesuai, terimakasih. " ucap Dewi.


"Yosh! Akhirnya sampai juga! "


Keluarga Gusti akhirnya telah sampai, dengan salah satu babysitter yang Gusti bawa, itupun mendapat tugas untuk mengasuh kedua anaknya.


Gusti masih memperlakukan kedua anaknya seperti anak kecil, padahal anak anaknya sudah menuju remaja dan ia masih memperlakukannya seperti seorang bayi.


"Pah, bagaimana dengan jalan jalan bersama sama? Apa papa mau kita jalan jalan sekarang? " tanya Gita.


Saat sedang ditanya, entah kemana saja pikiran gusti sampai ia tidak merespon pertanyaan anaknya, menunggu hingga Gina menarik baju Gusti, Gusti baru akan sadar dengan panggilan tersebut.


"Sepertinya esok hari saja ya, papa yakin kita semua merasa lelah sehabis sampai ke sini. " bujuk Gusti.


"Tapi kami sudah nggak sabar, papa, kita mau malam ini kita jalan jalan . "


"Tidak, sayangku, kalian belum merasakan efek lelahnya. Coba rasakan sat berbaring, papa yakin kalian akan benar benar merasakan lelah. " ucap Gusti.


Gita dan Gina berpikir, cepat sekali Gusti dapat menghipnotis anaknya untuk menuruti ucapannya, akhirnya kedua anak gadis tersebut beranjak kekamar mereka yang sebelumnya.


Bella sibuk dengan pemandangan di kota, hingga sibuk berencana mencari tempat hunting untuk membeli tas branded baru yang tidak ada di negaranya.


"Dimana anak anak? " tanya Bella.


Sekian lama menatap dan memikirkan tempat untuk mencari barang barang branded, Bella baru ngeh jika anak anaknya tidak berada di ruang utama.


"Mereka ingin tidur, mereka pastinya kelelahan setelah beberapa jam berada di pesawat. " jawab Gusti.


"Terus, anda ingin kemana dengan jaket tebal itu? " tanya Bella.


Gusti berdecak, ia kemudian menatap dengan tatapan kesal.


"Apa salahnya jika saya mencari udara segar di luar? Kamu terlalu cerewet menjadi seorang wanita. " kesal Gusti.


"Anda ini bagaimana? Anda sendiri bilang, bahwa anda mengajak saya dan anak anak untuk berlibur bersama walaupun ada bisnis lain di sini. Tapi lihatlah, bahkan malam hari anda pergi entah kemana dengan alasan mencari udara segar malam hari, seperti anda ingin melarikan diri saja! " cibir Bella.


"Cukup! Jangan sampai kamu dan saya buat keributan di dalam hotel ini, saya tidak ingin jika anak anak saya dengar kamu membentak atau berkelahi dengan saya! " tegas Gusti.


Gusti memilih untuk pergi, tanpa memperdulikan Bella yang mengumpatnya dari belakang, ia memilih untuk keluar dari kamar apartemen yang ia tempati sekeluarga.


"B*jingan kau, Gustiawan! "


Diluar apartemen, udara dingin dapat dirasakan, Gusti dijemput oleh supir pribadi miliknya yang berada di luar negeri, ia menaiki mobil tersebut dan supir melajukan mobil tersebut.


'Aku lupa, bahwa Dewi tidak dapat dihubungi saat diluar negeri. ' gumam Gusti.

__ADS_1


......................


Dewi hampir tertidur, ia menatap jam yang berada di dekatnya, sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan ia merasakan kantuk hanya karena ia menunggu kedatangan Gusti yang sudah diberitahukan oleh translator yang mendampinginya tadi siang.


Pintu terasa dibunyikan belnya dari dalam, Dewi beranjak menuju ke pintu kamar apartemennya, ternyata orang yang ia tunggu akhirnya datang juga ke apartemen yang ia tempati.


"Om Gusti. " panggil Dewi.


"Apakah orang yang kusewakan itu sudah memakan sebagian uang untuk bayar sewa tempat tinggal untukmu, Dewi? " tanya Gusti.


"Saya tidak tahu, om, saya hanya mengikutinya saja tanpa tahu tempat yang akan saya tinggali sementara. " jawab Dewi.


Gusti mendekati Dewi, ia memeluk pinggang Dewi, waktu yang sempurna untuk ia bersama dengam Dewi di apartemen biasa tersebut.


"Waktu yang sempurna, Dewina. " bisik Gusti.


"Apakah saya bisa meminta akses internet di sini, om? " tanya Dewi.


Gusti melepaskan pelukan tersebut, ia baru ingat bahwa Dewi tidak akan bisa ia hubungi, jika tidak ada akses internet yang menyambung pada ponselnya.


"Besok akan saya perintahkan asisten saya untuk membeli kartu internet khusus negara ini, saya tidak ingin kita sampai tidak tahu kabar di negara orang " ucap Gusti.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia diangkat dari belakang oleh Gusti, tampaknya Gusti sudah tidak sabar untuk menyantapnya dengan lahap malam itu di negeri orang.


"Bersiap siaplah, Dewina, saya akan melahapmu untuk malam ini. " ucap Gusti.


Kedua orang itu menikmati malam bersama, dengan cuaca yang dingin menjadi pendukung semangatnya Gusti melakukan hal tersebut bersama Dewi.


......................


Keesokan harinya, Dewi terbangun dengan rambutnya yang kusut, ia mencari keberadaan ponselnya dan melihat ponselnya, sudah ada akses internet di ponselnya, dan beberapa panggilan dari Eni.


"Ternyata om Gusti menepati janjinya semalam. "


Dewi menelpon balik Eni, tak lama telponnya diangkat.


'Halo Wi, akhirnya diangkat juga. '


"Maaf saya baru bisa menghubungi kamu, Eni. " ucap Dewi.


'Nggak papa, Wi, eh btw gimana liburan sama om Gusti? Asyik nggak diajak ke Singapura? ' tanya Eni penasaran.


"Begitulah, benar kata kamu kemarin, Eni, bahwa laki-laki tidak pernah puas akan menikmati seorang wanita. Hampir beberapa malam di sini saya hanya melayani om Gusti saja, hampir beberapa jejak sudah ditinggalkan nya di tubuh saya. " ucap Dewi.


'Nggak papa, namanya juga lagi muasin pelanggan, semangat ya, Wi, fighting! '


Dewi mematikan ponselnya, kemudian ia mengambil handuk yang tak jauh dari posisinya, ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Papa, semalam papa kemana? "


Gusti yang barusaja pulang kemudian membersihkan diri ditanya oleh anak sulungnya, ia mulai mencari alasan untuk diberikan kepada anak gadisnya.


"Selain berliburan dengan kalian, papa juga kan ada bisnis disini, sayang. " ucap Gusti.


Bella masih curiga dengan suaminya, bahkan ia tahu bahwa klien yang berada di negara ini sedang tidak bertemu dengan suaminya itu.


"Pantas saja, jadi, apa kita akan jalan jalan, pah? " tanya Gita.


"Tentu saja, sekarang bersiaplah, papa akan ajak kalian untuk bersama sama berkeliling di negara ini. " jawab Gusti.


Kedua anaknya tampak girang, dengan semangat mereka membereskan diri, dengan babysitter yang membantu mereka membereskan apa yang diperlukan.


"Terlalu bersemangat sekali, padahal kalian sudah bolak balik beberapa kali di negara ini. "


"Jangan patahkan semangat mereka untuk bisa bersama kita di negara ini. Ayo, saya juga yakin jika kamu akan mencari barang barang branded disini secara langsung. " ajak Gusti.


Entah mengapa, ajakan tersebut terkesan membuat Bella menjadi salah tingkah, karena tatapan dan gaya bicara suaminya itu yang paling membuat jantungnya berdegup kencang, suaminya mulai sedikit peduli padanya walaupun mereka sering berkelahi karena hal sepele.


"Baik, tunggu saya sekejap. " ucap Bella.


Bella bersiap siap, sedangkan Gusti memberi kabar kepada Dewi, ia ingin Dewi ikut bersama dengan keluarganya untuk sekedar berkeliling di negara tersebut.


'Bersiap siaplah, Dewina, saya akan mengajak kamu berkeliling ke negara ini. ' pesan Gusti.


Tentu saja Dewi yang mendapat pesan tersebut menjadi senang, karena ia tidak akan berdiam diri di negara tersebut, ia juga akan ikut berkeliling bersama dengan keluarga Gusti.


Sebelumnya Dewi sudah menyiapkan apa yang ia butuhkan sebelum keluar apartemen, dengan beberapa barang barangnya, ia beranjak ke luar kamarnya untuk segera pergi ke luar apartemen.


Dewi diperintahkan untuk berjalan kaki menuju ke arah taman kota, dengan patung singa yang menjadi ikonik negeri tersebut, Dewi mengabadikan pemandangan yang berada di dekat patung tersebut dengan memotret menggunakan ponselnya.


'Dewi...! '


Suara dari kejauhan, Dewi berbalik arah, ia terkejut siapa yang memanggilnya dari belakang.


Gusti, dengan wanita yang merangkul tangannya, penampilan wanita tersebut terlihat sangat glamour bahkan apa yang dikenakan tampak mahal, Dewi yakin bahwa wanita itu adalah istrinya Gusti.


"Perkenalkan, ini adalah teman saya di Singapura, saya yakin kamu pasti penasaran. " ucap Gusti.


Dewi baru kali ini bertemu dengan istrinya Gusti, bahkan ia gugup, bagaimana ia bisa berhadapan dengan pasangan dari sugar daddy nya langsung.


'Bagaimana ini? Ini secara langsung bertemu dengan pasangan om Gusti? '

__ADS_1


...****************...


__ADS_2