Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 17: Perkelahian Suami Istri


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Aku pulang. "


"Papa, akhirnya papa sudah pulang! "


Kedua gadis remaja mendekati Gusti, mereka adalah anak perempuan Gusti, keduanya menyambut Gusti yang pulang, Gusti mencium kepala kedua anaknya dan mengelus rambut kedua anaknya.


"Kalian sedang belajar? " tanya Gusti.


"Ya, sebenarnya Gita bantuin Gina ngerjain PR aja sih, nggak ada kerjaan lain juga. Barusan mama juga ke atas, dia baru beli tas lagi. " jawab Gita.


"Biarkan saja, memang seperti itu dia dari dulu. " ucap Gusti.


"Oh, sudah pulang? "


Dari atas, terlihat Bella dengan beberapa totebag yang ia pegang, ia turun menuju ke bawah untuk menghampiri keluarganya.


"Ya, saya sudah pulang, ada apa memangnya? " tanya Gusti.


"Ya, hanya bertanya saja, saya kira anda tidak ingat rumah. " jawab Bella.


Gusti cepat sekali panas, ia terpancing emosi dengan ucapan Bella yang terkesan mengajaknya untuk ribut.


"Cerewet! Saya pulang salah, saya tidak pulang juga salah, mau apa kamu sebenarnya, hah?! " tanya Gusti dengan nada kesal. "Baru sekali saya bertanya saja respon anda sudah seperti ini, hiperbola! " balas Bella.


Keduanya memicu api perkelahian, di depan kedua anak gadisnya, Gusti dan Bella adu debat, hal sepele dapat membuat mereka ribut seperti sekarang.


Gina menutup telinganya, sedangkan Gita membawa adiknya untuk menjauh dari kedua orangtua mereka, mereka memilih untuk pergi daripada masih menetap di sekitar orang yang sedang berkelahi.


"Kakak, kenapa mama dan papa selalu ribut terus? Perasaan setahun yang lalu nggak pernah mereka ribut-ribut kayak gini? " tanya Gina.


"Udah dek, kita baiknya diem aja ya, nanti mereka reda sendiri kok. "


Gita melindungi adiknya, Gina selalu menutup telinganya, karena Gina sering terkena panic attack yang membuatnya sering ketakutan ketika melihat keributan di sekitarnya, termasuk kedua orangtuanya yang sering berkelahi.


Keduanya menangis, tidak ada ketenangan dan tawa canda seperti dulu saat sedang di rumah, apalagi kata kata uang sering dilontarkan oleh kedua orangtua mereka adalah perceraian, Gita dan Gina tidak lagi melihat hubungan kedua orangtuanya romantis seperti setahun yang lalu, semua sirna dalam sekejap.


......................


"Makanannya enak sekali, kamu pintar memilih tempat makan. "


Dewi dan Eni makan di tempat makan yang dipilih oleh Eni, Dewi dengan sebagian uang yang diberikan oleh Gusti, ia mentraktir Eni untuk makan bersama, tetapi Dewi meminta agar Eni yang mencari tempat makan yang enak.


"Wi, boleh nanya nggak nih? "


"Ya, ingin bertanya tentang apa? " tanya Dewi balik.


"Berapa sih ukuran itu-nya om Gusti? Rasanya mantap nggak? "


Dewi masih bingung, ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Eni, bertanya hal seperti itu pastinya membuatnya tidak ngeh sama sekali maksudnya.


"Itu-nya apa? Apa maksudnya? " tanya Dewi kebingungan.


Eni menggeram, ia mendekat dan berbisik di telinga Dewi, tentu saja bisikan tersebut membuat Dewi terkejut.


"Hei! Pertanyaannya tidak pantas sekali, mesum! " teriak Dewi.


Eni langsung menutup mulut Dewi.


"Ngomongnya jangan keras keras dong, malu kalau sampai di dengar sama orang. " tegur Eni.


"Maaf, saya keceplosan. " ucap Dewi.


"Gimana? Mantap nggak? " tanya Eni penasaran.


"Saya tidak tahu, yang jelas aneh saja rasanya, saya saja tidak menikmatinya, mata saya saja sengaja saya tutup. " jawab Dewi.


"Ah, masa? Bukannya keenakan? "


"Tidak tahu, rasanya aneh saja bagi saya, mana ada rasa enaknya? Yang enak itu makan, makan seperti sekarang kita makan sama sama. " jawab Dewi.


"Nggak seru banget kamu, Wi, bilang aja malu buat ngakuin kalau rasanya enak. " ucap Eni.


Dewi tersenyum, ia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan makannya, makan malamnya sangat nikmat sehingga ia lahap untuk bisa menghabiskan makanannya itu.


......................


"Jika pulang menjadi alasan hanya untuk bertemu dengan anak anak, bagaimana dengan saya?! "


Tampaknya perkelahian Gusti dan Bella belum selesai, hingga larut malam mereka berkelahi dan Bella melemparkan piring makan yang belum dibereskan oleh para pelayan, semua berhamburan hingga hampir menjadi lautan pecahan piring.


"Kekanak-kanakan! Apa salahnya aku pulang hanya untuk bertemu dengan anak anak saya sendiri?! Kamu sudah gila ternyata, dasar gila! " bentak Gusti.


"Hei, saya istrimu, tidak salah jika saya menuntut anda untuk selalu pulang kerumah bukan hanya bertemu dengan anak anak saja, tetapi saya juga! " bentak Bella sambil melemparkan piring ke bawah.


"Sudahlah, gila jika mengobrol dengan orang stress seperti kamu! "

__ADS_1


Gusti ingin mengakhiri perkelahian nya dengan Bella, tetapi tampaknya Bella tidak ingin cepat berakhir, hingga ia ingin melemparkan piring yang ia pegang ke arah Gusti.


"Ini masih kurang ya, anda seenaknya nyelonong seperti ini?! Pengecut! "


"Kurang apalagi?! Kurang durasi untuk berkelahi?! Sudah puas kamu membuat saya terlihat seperti orang yang brengsek di depan anak anak saya tadi?! " teriak Gusti.


Gita berlari, kemudian ia memegang lengan Gusti, sambil menangis dan memohon.


"Papa, mama, jangan kayak gini terus dong, kasihan Gina, dia takut loh dengar suara teriakan kalian berdua... " mohon Gita.


"Anak kurang ajar! Untuk apa kamu datang menyelip perkelahian papa dan mamamu, hah?! "


"Jangan bentak anak saya, jika kamu sedang berurusan dengan saya! " lawan Gusti.


"Ya, dan anak anda sendiri memang kurang ajar, karena anda adalah bapaknya sendiri! "


"Sudah, saya muak berhadapan dengan mu! "


Gusti pergi, dengan merangkul Gita menuju ke atas untuk bisa menenangkan anaknya itu.


Di dalam kamar, terlihat salah satu anak gadisnya lagi, sedang duduk dengan menutup telinga, karena panic attack sedang menyerang Gina, sampai sampai Gina menangis ketika mendengar keributan tersebut.


"Papa.... "


Gusti mendekat, ia memeluk anaknya dan mengelus rambut anaknya.


"Maaf ya sayang, kalau papa dan mama bikin kamu ketakutan seperti sekarang. "


"Papa dan mama jangan berkelahi lagi, Gina takut kalau papa dan mama ribut-ribut terus... " lirih Gina.


Gusti menenangkan anaknya, ia menyuruh anak sulungnya untuk menenangkan sang adik kemudian menyuruh keduanya untuk tidur, ia berjanji tidak akan ribut lagi dengan ibu dari anak anaknya.


Setelah kedua anak anaknya tidur, Gusti menarik selimut anaknya hingga sampai ke bahu, kedua anaknya telah tertidur pulas walaupun masih tersisa isak tangis.


Gusti menutup pintu kamar anaknya, kemudian menelpon seseorang.


......................


"Ambil aja sisanya, Wi. "


Dewi dan Eni tampaknya sedang sibuk, mereka sedang mengerjakan tugas makalah dan Dewi kekurangan kertas untuk mencetak hasil makalah yang sudah mereka kerjakan.


Tiba-tiba ponsel Dewi berdering, di bawah kakinya ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon.


"Om Gusti, Wi? " tanya Eni.


"Halo, ada apa om? " tanya Dewi.


'Saya butuh kamu, saya akan jemput kamu untuk ke apartemen. ' ucap Gusti.


"Ba—baik om, saya akan kesana. "


'Kartu akses cadangan masih ada sama kamu kan? ' tanya Gusti.


"Iya om, masih ada sama saya, kalau begitu saya duluan saja. " ucap Dewi.


'Tidak, saya akan jemput kamu di luar kosan, kamu jangan sendirian keluar malam malam. ' larang Gusti dari telepon.


"Baik, saya tunggu di luar gerbang saja ya, om. " ucap Dewi.


Dewi mematikan telpon, kemudian ia bangkit dan merenggangkan badannya yang terasa sangat pegal.


"Saya titip laptop saya disini dahulu ya, Ni. " ucap Dewi.


"Oke, siap madam. "


Dewi keluar dari kamar, ia kembali ke kamarnya untuk bersiap siap, jam menunjukkan pukul 11 malam, terlalu malam sekali untuk ketemuan, tetapi itu atas kehendak Gusti sendiri dan Gusti akan menjemputnya di depan kosannya.


Saat keluar, ia melihat satpam yang tengah berjaga dan berkeliling di depan masing-masing kamar kosan, pas sekali berpapasan dengannya.


"Mau kemana malam malam begini, neng? " tanya satpam tersebut.


"Saya ada urusan di luar, pak, maaf kalau malam malam seperti ini mengganggu. " jawab Dewi dengan gugup.


"Begitu ya? Hati-hati dijalan ya, neng, malam begini rawan buat anak gadis keluar rumah. " pesan satpam.


Dewi menganggukan kepalanya, ia berjalan dan turun ke bawah tangga menuju ke dekat gerbang.


Menunggu beberapa menit, akhirnya mobil Gusti sampai, Dewi menaiki mobilnya dan ia dibawa pergi oleh Gusti.


"Maaf jika terlalu malam, Dewina. " ucap Gusti.


"Tidak apa apa, om. " ucap Dewi.


"Ambil totebag yang ada di jok belakang. "


Dewi mengambil totebag tersebut, ia mengambil totebag tersebut dan menaruhnya di tengah-tengah.


"It's for u, Dewina, take that. " ucap Gusti.

__ADS_1


Dewi mengambil totebag tersebut, ia mengintip apa yang ada di dalam totebag tersebut dan menyentuhnya sedikit.


"Itu baju, saya minta kamu memakainya nanti ketika sampai di apartemen. "


"Baik om. " ucap Dewi.


......................


Sesampainya di apartemen, Dewi dan Gusti telah sampai, Gusti disambut baik oleh para pelayan dan resepsionis yang berada di apartemen tersebut, mereka langsung menaiki lift menuju ke kamar.


Sesampainya di kamar, Dewi langsung menuju ke kamar mandi, sementara Gusti sudah masuk ke dalam.


Di dalam kamar mandi, Dewi melihat baju yang diberikan oleh Gusti, betapa terkejutnya ia ketika melihat motif dan bentuk dari gaun tersebut, terlalu terbuka bahkan bahannya terlihat tipis, bagaimana jika nanti akan dipakai olehnya dan harus ditunjukkan di depan Gusti.


Tetapi Dewi berpikir kembali, dan ia mengingat pesan dari Eni, bahwa ia harus bisa membuat Gusti bangga, dan bayaran akan ia dapatkan bahkan bonus yang begitu banyak ketika ia berhasil menyenangkan Gusti.


"Demi uang! "


Dewi memakai baju tersebut, sebelumnya baju yang sebelumnya ia pakai ia taruh di dalam totebag, dan ia terkejut ketika melihat dirinya di depan kaca, terlalu terbuka.


'Malu, tapi harus ditunjukkan. ' ucap Dewi dalam hati.


Dewi keluar dari kamar mandi, ia berjalan perlahan menuju ke dalam kamar apartemen, dari pinggir ranjang terlihat Gusti yang tengah menunggu dirinya.


Sesuai dugaan, bahwa Gusti sangat terpana dengan penampilan nya, tetapi juga tatapan Gusti seolah ingin memangsanya.


"Come on, honey... " panggil Gusti.


Dewi mendekat perlahan, kemudian lengannya ditarik oleh Gusti, di pangkuan Dewi hampir terguling, tetapi ia memegang baju Gusti. "Dewina, kenapa kamu mempesona sekali di mata saya? " tanya Gusti seraya memuji.


Dewi yang tengah memakai baju yang diberikan oleh Gusti kemudian menunjukkan dirinya dan lekuk tubuhnya di depan Gusti, pandangan Gusti tak jauh dari penampilan nya itu sendiri.


Tak butuh waktu lama, Gusti merobohkan Dewi, ia tampaknya terlalu terpesona dengan Dewi hingga langsung merobohkan Dewi dalam sekejap.


Saat sedang melakukan bersama, bayangan Gusti mengarah pada Bella, ia mulai bersikap kasar kepada Dewi, karena rasanya terlalu kurang jika tidak di lampiaskan.


"Dewina...! "


Dewi terkejut, secara tiba-tiba Gusti berteriak, tak lama bokongnya dipukul oleh Gusti terlalu keras, hingga membuat Dewi terkejut dan roboh.


"Om, jangan pukul saya lagi, om... " mohon Dewi.


"Saya suka dirimu, Dewi, teriaklah dengan menyebut namaku...! "


Gusti lagi lagi memukul Dewi dengan pecutan, Dewi sama sekali tidak menikmatinya, bukan disana saja, memang dari awal ia tidak menikmati nya, hanya ia akan pasrah saja dengan Gusti.


......................


Pagi hari telah tiba, Dewi terbangun di sela sela tubuhnya yang kesakitan, karena secara tiba-tiba Gusti berbuat kasar padanya, padahal sebelumnya tidak sama sekali Gusti berbuat kasar padanya.


Dewi bangkit, ia melihat tubuhnya di depan cermin, banyak sekali lebam di tubuhnya, terutama di dekat paha.


Rencananya Dewi akan segera pulang, ia sudah merasa kelelahan, mengambil baju kemudian keluar dari kamar apartemen.


Sesampainya di kosan, Dewi mengetuk pintu kamar Eni, kebetulan juga Eni barusan pulang dari luar kosannya.


"Wi, ngapain berdiri di depan kamar aku? " tanya Eni.


"Saya butuh pertolongan kamu sekarang, Ni. " jawab Dewi.


Dari suaranya saja Eni bisa tahu, Dewi gemetaran, sepertinya antara kedinginan atau sesuatu hal lainnya.


"Aku bantu olesin ya. "


Eni menawarkan bantuan, Dewi tanpa ragu menunjukkan dimana rasa sakitnya terasa.


"Badan saya terutama di pantat, sepertinya lebam. " keluh Dewi.


"Sini, biar aku bantu oles. " tawar Eni.


Dewi awalnya malu malu, tapi karena Eni ingin membantunya, akhirnya Dewi siap untuk dibantu badannya diolesi krim untuk menghilangkan lebam. Selesai mengoleskan krim, Dewi membenarkan pakaiannya, ia duduk di lantai dan menghela nafasnya.


"Barusan ditrobos, Wi? " tanya Eni.


Dewi menganggukan kepalanya.


"Sakit sekali, tiba-tiba om Gusti main kasar sama saya, saya terkejut, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. " jawab Dewi.


Dewi mengingat sesuatu, ia mengambil tasnya dan mengambil ponselnya, ia menelpon kedua orangtuanya dan akhirnya diangkat.


"Buk, pak, uang dari hasil kerja Dewi diterima ya, Dewi harap kalian dapat memakainya bersama. "


'Nak, harusnya uang kerja kamu untuk kamu sendiri, kami bisa mencarinya sendiri. Kamu kan butuh uang ini, apalagi saat ini kami belum bisa mengirimkan uang untuk kamu di sana. ' ucap Warsita.


"Tidak apa, Dewi masih bisa cari disini, pokoknya kalian harus terima ya, anggap saja Dewi kasih hadiah untuk bapak dan ibu disana. " ucap Dewi.


Dewi mematikan telponnya, ia meminum air yang sudah dibuat oleh Eni, mereka saling bercerita dan juga melanjutkan makalah yang sebelumnya belum selesai tadi malam.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2