Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
70: Bayang bayangmu


__ADS_3

Perasaan Dewi sekarang tidak dapat dibohongi, sudah hampir dua minggu ia berada di apartemen tersebut, selalu saja ia terus terusan merasa kesepian ketika terus terusan mengingat anaknya yang kini berada bersama dengan Gusti, Dewi sangat menginginkan Galuh untuk kembali ke pelukannya.


Asisten Gina membantu Dewi untuk membereskan barang barang yang ada, walaupun hanya sendirian mengerjakannya, namun ia tidak sama sekali protes dengan wanita yang kini sedang merenung di balkon, ia mengerti rasanya kehilangan seperti yang kini sedang dialami oleh Dewi.


"Nona Dewina, saya taruh di sebelah sini ya. " ucap asisten Gina.


Dewi berbalik, ia menganggukkan kepalanya, sedangkan asisten Gina menaruh barang yang tadi ia tanyakan kepada Dewi.


Selesai membereskan barang barangnya, asisten Gina menghela nafas lega, pekerjaannya akhirnya selesai, ia juga menatap ke arah balkon, masih terlihat Dewi yang kini masih merenung di balkon, asisten Gina berniat untuk mendekati Dewi dan menghampirinya.


"Nona Dewina. " panggil asisten Gina.


Dewi berbalik arah ke belakang, asisten Gina mendekatinya, kemudian ia menyenderkan tubuhnya di dinding dan merenung kembali ke arah balkon.


Asisten Gina berdiri di samping Dewi, ia melihat hamparan pemandangan kota, di bawah penuh akan kendaraan yang macet, dan berbagai aktivitas lainnya yang kini sedang dilakukan oleh orang orang di pinggir jalan, ia dapat merasakan apa yang dilihat oleh Dewi, apalagi dari gedung apartemen yang berada di seberang jalan terlihat seorang ibu yang menggendong bayinya di balkon.


"Saya ingin seperti itu, saya ingin Galuh berada di pelukan saya. "


Asisten Gina hanya diam, ia menyimak ucapan Dewi, sebab ia tidak bisa berbuat banyak ketika kedua majikannya yang bertindak.


"Asisten Gina, setelah ini, saya benar benar harus melupakan Galuh, bukan? " tanya Dewi.


Asisten Gina merasa kasihan dengan Dewi, karena perasaan sesama seorang wanita, akhirnya asisten Gina melepas formalitasnya di depan Dewi untuk kali ini.


"Saya tidak bisa banyak membantu anda, nona, tapi sebenarnya saya kasihan jika Galuh jatuh ditangan tuan Gusti dan nyonya Bella. "


Dewi menatap ke arah asisten Gina.


"Maksud anda, apa itu asisten Gina? " tanya Dewi.


"Saya melihat tuan Gusti dan nyonya Bella kurang akan perhatian mereka nantinya kepada Galuh, saya juga mendapat kabar dari asisten Ella bahwa nyonya Bella tidak serius sama sekali mengurus Galuh, bahkan saat menangispun Galuh diberikan kepada asisten Ella untuk ditenangkan, sementara nyonya Bella dan tuan Gusti kembali berkelahi. " jelas asisten Gina.


Mendengar hal tersebut, hati Dewi mulai gelisah, wajahnya tidak bisa berbohong, sekarang ia merasa khawatir dengan keadaan anaknya yang sekarang berada di tangan Gusti.


"Saya tidak bisa berbuat banyak, nona Dewina, saya juga hanya pesuruh mereka. Jika saya memberontak, saya tidak akan lagi bisa bekerja, secara saya ini adalah tulang punggung keluarga. Jadi, saya minta maaf sebanyak banyaknya, apalagi membuat anda khawatir seperti sekarang. " ucap asisten Gina.


Dewi juga mengerti, ia tidak ingin membuat asisten Gina menjadi kesusahan, apalagi ia tahu bahwa asisten tersebut tidak bisa berbuat banyak karena tidak ingin pekerjaannya terancam secara pesuruh tersebut merupakan tulang punggung keluarga.


"Walaupun begitu, saya akan usahakan untuk bisa terus mengirimkan kabar tentang Galuh kepada anda, nona Dewina. "


Dewi merasa bahwa hal tersebut sangat membantu, ia dengan penuh harap memegang kedua tangan aisten Gina, dan tersenyum sambil mengeluarkan air matanya ketika mendapat jalan dan harapan lewat asisten Gina.


"Tidak apa apa, saya mendengar kabar anak saya nantinya saja saya akan senang, asisten Gina, saya benar benar berharap dengan anda sekarang, asisten Gina. Mohon bantuan dan informasinya, asisten Gina. " ucap Dewi.


Asisten Gina menganggukkan kepalanya, ia memegang kedua tanga Dewi dan menganggukkan kepalanya.


"Baik, nona Dewina. Tapi walaupun begitu, anda harus tetap fokus dengan perkuliahan anda nantinya, nona, Galuh akan menunggu anda menjadi dokter yang sesungguhnya. " ucap asisten Gina.


"Baik, saya akan usahakan. "

__ADS_1


Dewi dan asisten Gina membuat kesepakatan, setelahnya Dewi merasa bahwa ia harus pergi sekarang, karena angkutan kota keberangkatannya menuju ke desa sebentar lagi akan tiba, ia mulai bersiap siap untuk berangkat.


.


"Jadwal adek Galuh minum susu. "


Baby sitter mulai bersiap siap untuk membuat susu, ini adalah minggu kedua baby sitter yang bernama Arin mengurusi Galuh, dan sekarang ia ingin membuat susu untuk Galuh.


Belum sempat memberikan susu, Galuh sudah mengeluarkan tangisannya, alhasil Arin berlari ke arah atas menuju ke kamar Galuh, kemudian menggendong Galuh.


Tangisan bayi kini terdengar di kediaman Gusti, semua pembantu, pekerja dan termasuk kedua anak Gusti mendengar suara tersebut di dalam rumah, terutama Gita dan Gina, kedua anak Gusti itu tampak mencari sumber suara tersebut berasal darimana.


"Dek, apa kakak tidak salah, ini bau minyak telon bayi. " ucap Gita.


"Iya kak, bau ini seperti bau minyak telon bayi. " jawab Gina.


Selama hampir dua minggu di luar negeri, Gita dan Gina tidak mengetahui bahwa di rumah mereka sudah ada kedatangan anak bayi, mereka juga menyusuri ruangan yang aromanya tercium sangat menyengat itu.


Dari tangga, terlihat baby sitter Arin berjalan menuju ke atas dengan membawa Galuh, kedua gadis yang berada di lantai atas itu tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, apalagi dengan baby sitter yang baru mereka lihat kali itu.


"Permisi, maaf, sebelumnya anda siapa ya? " tanya Gita.


Baby sitter itu menatap ke arah Gita dan Gina, ia tahu bahwa mereka berdua adalah anak dari majikannya yang sebelumnya berada di luar negeri, kali itu adalah kesempatannya untuk mengenalkan dirinya kepada kedua anak majikannya itu.


"Halo, nona Gita dan nona Gina, perkenalkan saya Arin, saya adalah baby sitternya Galuh. Oh iya, tidak lupa juga, ini adalah adik kalian, namanya dek Galuh. " ucap Arin.


Gita dan Gina terkejut ketika baby sitter itu mengenalkan mereka dengan anak bayi yang bernama Galuh itu kepada mereka, dan juga ternyata Galuh adalah adik mereka yang sudah lahir.


Gita baru ingat, sebelumnya ia pernah berdiskusi dengan Gusti, bahwa papanya itu mengatakan bahwa akan mengadopsi seorang anak bayi, hal tersebut tidak membuat Gita terkejut, hanya adiknya saja yang belum mengetahui bahwa Galuh adalah anak adopsi.


"Benar, papa dulu pernah bicara dengan kakak, bahwa papa ingin mengadopsi anak bayi. " jawab Gita.


Gina mengangguk paham, remaja berumur 13 tahun itu mendekat ke arah baby sitter dan melihat anak bayi yang bernama Galuh itu, ia kagum dengan penampilan bayi itu yang sangat imut itu.


"Kak, adek bayinya imut. " puji Gina.


"Nona Gita dan nona Gina ingin ke halaman belakang bersama tuan Gusti? Saya ingin membawa adek Galuh ke sana untuk berjemur. " tanya Arin.


"Boleh saja, mbak Arin. " ucap Gita.


Baby sitter Arin beserta kedua gadis yang bernama Gita dan Gina itu turun ke bawah, dengan Galuh yang dibawa oleh mereka, mereka berjalan menuju ke bawah.


Di halaman belakang, terlihat seorang laki laki yang tengah berdiri menatap ke arah taman belakang rumahnya, dari belakang, suara bayi mulai terdengar, hal tersebut membuat laki laki yang bernama Gusti itu berbalik arah dan melihat baby sitter yang membawa Galuh, beserta kedua anak gadisnya yang baru saja pulang dari luar negeri.


"Papa, tumben sekarang di belakang rumah? " tanya Gita.


"Hanya saja papa ingin melihat halaman belakang, kalian baru pulang? " tanya Gusti.


"Iya, kami pulang, papa. " jawab Gina.

__ADS_1


"Silahkan tuan. "


Baby sitter tersebut memberikan Galuh kepada Gusti, Gusti kemudian meraih tubuh bayi mungil itu, ia ikut berjemur dan menatap wajah bayi itu yang sedang menikmati sinar matahari pagi.


"Papa, boleh kami ajak main Galuh? " tanya Gina.


Gusti diam, ia menjawab hanya dengan dehaman dan anggukan singkat kepalanya, hal tersebut membuat Gita dan Gina melihat Galuh dengan sumringah.


Saat melihat wajah Galuh, Gusti diam sebentar, ia melihat wajah anaknya itu, setiap wajahnya itu membuat Gusti terbayang akan seseorang yang dekat dengan Galuh, Galuh begitu mirip dengan wajah Dewi, hal tersebut membuat Gusti menjadi kesal dan memanggil baby sitter untuk meraih Galuh kembali.


"Mbak Arin, ambil Galuh kembali. " ucap Gusti.


Baby sitter Arin tersebut mendekat ke arah Gusti, ia meraih kembali tubuh mungil Galuh dan melanjutkan untuk menggendong Galuh berjemur di luar, Gita dan Gina merasa heran ketika ayahnya itu pergi secara tiba tiba dengan wajah yang terlihat sangat kesal.


"Sus Arin, boleh saya gendong adik bayi saya? " tanya Gita.


"Apa nona Gita bisa menggendong Galuh? Jika tidak bisa, biarkan saya saja. " jawab baby sitter tersebut.


"Saya ingin coba menggendong adik saya, kemarikan Galuhnya. " ucap Gita.


.


Di ruangan lain, tepatnya di ruang kerja apartemen, Gusti memasuki ruang kerjanya, ia menutup pintu ruang kerjanya kemudian mengunci ruangan tersebut, dengan menghela nafas kasarnya kemudian ia duduk di kursinya sambil mer*mas ubun ubun rambutnya.


Gusti menyenderkan tubuhnya di kursi, ia menatap langit langit ruang kerjanya, semua barang barang yang kini berada di apartemen itu sudah mulai berkurang dan kembali ke miliknya semula, Gusti yakin Dewi sudah berangkat dari awal pagi untuk kembali ke desa.


"Kalau saja dulu aku bisa mengajakmu untuk ab*rsi ke luar negeri, mungkin saja kita tidak akan mengalami hal serumit ini, Dewina. "


Gusti yang berada di ruangan bekerja, tepatnya apartemen yang sebelumnya Dewi tumpangi, laki laki itu berhayal tentang waktu yang dapat diulang kembali, ia masih terus memikirkan kesialan dirinya ketika Dewi hamil dan berhasil melahirkan anak laki laki untuk menebus persyaratan yang diberikan oleh istrinya sendiri, sehingga sekarang ia harus terpikat dalam jebakan milik Bella.


Seharian penuh waktu yang Dewi luangkan untuk pulang ke desanya, ia yang sekarang duduk di dekat jendela angkot menatap sehilir jalan menuju ke rumahnya, sudah lama sekali ia tidak kembali ke desanya semenjak ia menyembunyikan kehamilannya, dan setelah dua minggu melahirkan baru kali itu ia berani memutuskan untuk pulang, tujuannya untuk melepaskan rasa rindunya dengan kedua orangtuanya.


Sesampainya di depan rumah kedua orangtuanya, Dewi dibantu menurunkan semua barang barangnya oleh pemilik angkot tersebut, kemudian supir angkot tersebut melihat perubahan Dewi dari sebelum berangkat dan sekarang ia kembali ke desa.


"Neng Dewi, sekarang sudah berisi ya semenjak pergi ke kota? " tanya supir angkot tersebut.


Dewi hanya tersenyum, ia tahu bahwa pertanyaan tersebut akan dilayangkan padanya, namun ia menjawabnya dengan alasan yang masuk akal, sehingga supir tersebut mengerti.


Saat menapakkan kaki di teras rumahnya, Dewi dengan nafasnya yang mendalam kemudian mencoba ingin masuk ke dalam rumah kedua orangtuanya, tak perlu menunggu waktu yang lama, kedua orangtua Dewi sudah menunggu di ruang tamu, mereka sangat menanti kedatangan anaknya yang mengabarkan ingin pulang ke desa.


"Dewina. "


"Ibu, bapak, Dewina pulang. "


Raut wajah sedih terlihat dari kedua wajah orangtua Dewi, Warsita dan Taufik menyambut kedatangan anaknya yang sudah beberapa bulan tidak pernah menghampiri mereka, rasa rindu itu terbayar sudah, kedua pasangan tua itu akhirnya bertemu kembali dengan anak mereka.


"Maafkan Dewina, pak, bu, Dewi tidak bermaksud untuk kabur, hanya saja Dewi memiliki kesibukan di luar sana. " ucap Dewi.


"Tidak apa, nak, memang saatnya kami tidak selalu menuntut kamu untuk selalu bersama kami. Kami tahu, ini adalah tahapan untuk kamu menjadi orang dewasa yang sesungguhnya, setelah ini kami tidak akan menuntut kamu untuk pulang berjumpa dengan kami, kami akan berharap kamu bisa mengejar cita citamu di kota sana. " ucap Warsita.

__ADS_1


Hari itu menjadi hari yang sangat Dewi rindukan, dikala ia merasa sedih karena terpisah dari anaknya, namun ia dapat mengobati rasa rindunya kepada orangtuanya, karena sudah beberapa bulan ia sangat merindukan kedua orangtuanya, ia juga merasa malu jika harus mengatakan yang sejujurnya kepada kedua orangtuanya, ia tidak ingin kedua orangtuanya mengetahui kondisinya dan memilih untuk menghadapinya sendirian saja.


**************


__ADS_2