Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 22 : Pengalaman Baru


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Dewi dan Gusti membereskan diri mereka masing masing, karena di dalam mobil yang sempit itu mereka harus pintar membagi ruang untuk membereskan diri mereka masing masing sebelum pulang.


"Terimakasih layanannya, Dewina, baru kali ini akhirnya saya memiliki permainan baru, tepatnya saya melakukannya bersama dirimu, " ucap Gusti.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia beranjak ke jok depan bersama dengan Gusti, keduanya memutuskan untuk segera pulang karena waktu yang sudah menunjukkan malam hari.


"Apakah saya tidak terlihat kacau, om? " tanya Dewi.


Gusti menoleh, dan ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak sama sekali, kamu tidak terlihat kacau, hanya saja rambutmu yang kacau, " jawab Gusti.


Gusti membantu merapikan rambut Dewi, Dewi menatap di kaca dan akhirnya rambutnya kembali rapi.


Keduanya memutuskan untuk pulang, karena sudah malam hari, ditambah lagi ada yang memantau mobil mereka, walaupun hanya sekilas.


Dewi dibayar, ia juga dibelikan sebuah tas mewah lagi oleh Gusti, sebagai hadiah untuk pengalaman baru berhubungan di mobil.


"Terimakasih om, sudah membelikan saya tas lagi, saya yakin, harganya pasti mahal, " ucap Dewi.


Gusti menganggukan kepalanya, ia menutup pintu mobilnya dan menjalankan mobilnya.


Dewi melewati gerbang, sebelumnya baunya terlalu menyengat, karena parfum yang digunakan oleh Gusti menempel di badan dan bajunya, tetapi ia menyukai bau yang maskulin dan mewah itu di tubuhnya.


Dewi menatap di sekeliling kosan, terlihat bahwa penghuni kosan rata rata baru pulang dari luar, entah darimana saja, tetapi terlihat wajah lesu dan lelah.


"Dewi! "


Dewi menatap ke atas, Eni yang memantaunya dari atas, Dewi menyahuti panggilan tersebut dan menyusul ke atas.


"Tas baru lagi? " tanya Eni.


Dewi hanya menganggukan kepalanya.


"Kan, apa kubilang, pasti kamu tuh bakal balik sama om Gusti, udah tau kalau dia tuh cocok buat di deketin, apalagi uangnya banyak, " ucap Eni.


"Tidak, itu hanya kebetulan saja, itupun melakukannya di mobil, "


Eni tercengang, ia mendekati Dewi dan berteriak girang.


"Luar biasa! Gimana, pengalaman baru nggak nyoba di mobil bareng om Gusti? " tanya Eni penasaran.


"Entahlah, saya kacau saat di dalam mobil, entah, tiba-tiba saya benar-benar mengikuti permainan om Gusti, terasa aneh, tidak seperti sebelumnya, " jawab Dewi.


Eni merasa senang, bahkan ia bersorak girang, siapa yang melakukan siapa juga yang senang, seperti mendapat sebuah kejutan yang ditunggu tunggu.


"Karena ini kemenangan yang baik, gimana kalau kita makan makan bareng? Kan lumayan bisa makan barengan, " tawar Eni.


"Tapi saya lelah, Ni, saya ingin beristirahat sejenak, rasanya sangat melelahkan, " tolak Dewi.


Eni mengerti, ia menganggukan kepalanya dan melepas rangkulan bahunya dengan Dewi.


"It's okay, aku tau madam Dewina ini sangat kelelahan digempur dua pekerjaan. Yaudah, kalau gitu, besok aja yok makan makannya, " ucap Eni.


Dewi hanya menganggukan kepalanya, ia beranjak ke kamar dengan barang barang yang ia bawa.


......................


Keesokan harinya, waktu Dewi bekerja kembali ke restoran tempat ia bekerja, tatapan para pelanggan tak jauh dari dirinya yang tengah membereskan piring piring kotor yang berada di meja para pelanggan makan sebelumnya, bahkan pemilik restoran yang tengah memantau situasi dari kasir tak jauh pandangannya dari Dewi, setiap inci tubuh Dewi sepertinya ia lihat dan terawang, pemikiran orang mesum tak jauh dari benda privasi.


"Pelanggan hari ini lumayan banyak, saya saja sampai bolak balik dari depan sampai belakang, " ucap Dewi.


"Segitu aja baru lo ngeluh, gimana gua yang notabenenya tiap hari beres beres ruang depan? " tanya gadis yang merupakan pelayan di restoran tersebut.


"Eh, nama lo siapa sih sebelumnya? Bosen gua tiap ketemu sama elo selalu manggilnya lo elo-an mulu, " tanya gadis tersebut.


"Saya Dewina, pekerja baru disini. " jawab Dewi.


"Gitu ya? Yaudah, kenalin, gua Cantika, nama sesuai penampilan. " ucap gadis tersebut.


Tanpa dipuji, cantika sudah kepedean mengakui dirinya yang bagus sesuai dengan namanya, tetapi Dewi juga gadis yang terlalu baik, ia tersenyum seraya memuji gadis yang bernama Cantika tersebut, entah senyum dan pujian itu benar atau tidak, atau sekedar pelindung dibalik ejekan dan sarkas.


"Tinggal dimana kamu? " tanya Cantika.


"Saya tinggal di kosan, tempatnya lumayan jauh dari restoran ini. Kalau berkenan mampir, mampir ya. " jawab Dewi.


"Kosan? Yah, ogah gua mau mampir, makasih duluan gua sama elo Wi ketimbang udah datang duluan ke kosan elo. "

__ADS_1


Ucapan yang cukup membuat Dewi agak tersinggung, tetapi ia hanya bisa tersenyum dengan ucapan tersebut.


"Woi, ngapain ngobrol pas kerja? Balik kerja sono, lo berdua mau dimarahin bos? "


Dewi dan Cantika ditegur oleh pengawas dapur, mereka melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda akibat obrolan mereka sendiri.


"Oi Wi, gua mau nanya nih sebelumnya sama elo. "


Dewi menatap ke arah Cantika, dan mulai bertanya kembali.


"Ya, mau bertanya soal apa, Cantika? " tanya Dewi balik.


"Semalam siapa yang narik tangan lo sampai masuk mobil? Lo mau diculik ya kemaren? " tanya Cantika.


Dewi tertegun, ternyata karyawan di restoran, tepatnya pelayan restoran yang menjadi rekan kerjanya, melihatnya ditarik ke dalam mobil oleh Gusti.


Dewi bingung, ia ingin menjawab apa untuk bisa meyakinkan, bahwa ia tidak apa apa.


"Tidak, mungkin kamu salah lihat, Cantika, lihat, buktinya saja saya masih bekerja disini. Masa, jika saya di culik, saya bisa kembali bekerja di restoran ini, itu bukannya aneh, kan? " tanya Dewi.


Cantika sebenarnya tidak sepenuhnya percaya, ia masih berjaga jaga agar tidak tertipu dengan ucapan Dewi.


Tentu saja Dewi merasa panik, ternyata rekan kerjanya terlihat tidak yakin atas jawaban dan penjelasannya, bahkan menatapnya dengan tatapan curiga.


"Tapi bener juga ya, kalau kamu diculik, pastinya nggak bakalan kerja hari ini di restoran sambil nyuci piring juga. Yaudahlah, aku mau balik ngerjain piring yang ada di depan kalo gitu, yang ada nanti pengawas pada ngomelin kita lagi. "


Cantika meninggalkan Dewi yang berdiri di dekat wastafel, Dewi menatap rekannya yang pergi meninggalkannya, kemudian ia bernafas lega, akhirnya alasannya diterima baik oleh rekannya.


......................


Waktu kerja sudah habis, Dewi memilih untuk pulang ke kosannya, sebelumnya ia menunggu di dekat halte untuk menunggu bus atau taksi yang lewat dengan membawa penumpang.


"Nungguin bus? "


Dewi terkejut, ia berbalik untuk melihat siapa yang bertanya padanya.


"Cantika? Saya kira siapa tadi yang memanggil saya barusan. " ucap Dewi.


Cantika, gadis itu menaiki motor maticnya, seraya bertanya dengan Dewi yang terlihat sedang menunggu bus.


"Jelaslah ini gua, kan barusan kita ketemuan tadi, masa nggak kenal sama suara gua, Wi? " tanya Cantika.


"Ya, saya sedang menunggu bus atau taksi lewat, sepertinya akan lama. " jawab Dewi sambil menyingkapkan tasnya hingga ke bahunya.


Dewi terkejut, pantas saja Gusti mengetahui keberadaannya, ternyata tempat tersebut adalah tempat yang lumayan berbahaya untuk ditempati.


"Bercanda, serius amat sih mukanya. "


Cantika tertawa, karena ia berhasil mengelabui Dewi dengan ucapannya, bahwa Dewi terlalu mengambil serius dengan ucapannya barusan.


Beda dengan Dewi, ia masih menanggapi serius dengan ucapan Cantika barusan, walaupun sebagiannya sudah dijelaskan bahwa itu hanya lawakan semata.


"Yaudah, malem ginian minim ketemu bus sama taksi di halte beginian. Yok, sini naik, barengan aja sama gua. " tawar Cantika.


Dewi menoleh. "Benarkah? Kamu memberikan tumpangan untuk saya? " tanya Dewi meyakinkan.


"Ya, kalau nggak mau nggak papa sih, resiko ditanggung sendiri. " jawab Cantika cuek.


"Eh, saya mau, iya, saya ingin menumpang dengan kamu. " ucap Dewi.


Cantika memberikan helm cadangannya untuk Dewi, ia selalu siap sedia untuk mengemudi motornya itu, walaupun ia terkesan suka ngebut ngebutan di jalan.


Sepanjang perjalanan, kedua gadis tersebut mengobrol, walaupun Dewi selalu dikerjai oleh Cantika, seperti obrolan yang terkesan menakutkan, padahal itu adalah akal akalan Cantika sendiri.


Sesampainya di depan gerbang kosan, Dewi diturunkan di depan gerbang oleh cantika, ia melepaskan helm yang ia gunakan dan menyerahkannya dengan Cantika.


"Terimakasih sebelumnya, Cantika, sudah mengantarkan saya sampai ke kosan, mampir kalau bisa. " ucap Dewi.


"Nggak ah, nggak ingat gua ngomong apaan tadi siang? " tanya Cantika.


Dewi merasa itu hinaan, tetapi dari raut wajah Cantika sudah menunjukkan bahwa ia bercanda dengan ucapannya.


"Nggak lah, lainkali aja gua kemari, soalnya udah malem, bokap sama nyokap nyariin gua mulu pastinya. " jawab Cantika cengengesan.


Dewi berdecak sebal, kemudian pamit.


"Dewi! "


Dewi menoleh ke belakang, ia menatap Cantika yang memanggilnya.


"Ya, ada apa, Can? " tanya Dewi.

__ADS_1


"Kalau lo pulangnya kayak tadi, barengan aja terus sama gua ya, cewek cantik kek lo bikin gua nggak tega buat ninggalin lo sendirian di halte. "


Dewi terbelalak, ia terkejut dengan ucapan Cantika barusan, bahkan ingin mencerna kembali sepertinya tidak akan bisa, bersamaan dengan wajah Cantika yang tiba tiba memerah.


"Yaudah, kalo gitu, gua cabs yap. "


Cantika menancapkan gasnya, dengan kecepatan penuh ia hingga tak terlihat di mata Dewi.


Seketika Dewi langsung bergidik ngeri dengan ucapan Cantika, bahwa rekan kerjanya memujinya seperti tadi, jarang sekali sesama wanita terlalu memuji seperti tadi, bukannya wanita akan menjadi saingan ketika salah satu dari mereka adalah unggulan?


Dewi beranjak, ia berjalan dan menaiki tangga, tak lama pesan masuk di ponselnya, itu adalah Gusti, pesan yang berisi ajakan untuk bertemu yang membuatnya menjadi deg degan, bahwa ia sebelumnya sudah memiliki kesepakatan dengan Gusti.


Sekarang Dewi bingung, bagaimana pertemuan perjanjian tersebut bisa dijadikan momen yang istimewa, sementara ia saja tidak mengerti bagaimana cara untuk memuaskan seorang laki laki.


Dari tangga, terdengar jelas seseorang bernyanyi dan suaranya mendekat, Dewi mengenal suara tersebut.


"Eni! "


Orang yang dipanggil itu sendiri saja menatap ke arah Dewi, ia yang sedang membawa totebag kemudian mendekati Dewi.


"Tumben manggil duluan, ada apa apa nih biasanya. " tebak Eni.


Dewi mengangguka kepalanya, kemudian menarik tangan Eni untuk mengikutinya ke dalam kamar.


Dewi menutup pintu kamarnya, tak lupa juga jendela kamarnya ia tutup tirainya, Dewi menatap ke sekitar kemudian menatap ke arah Eni dengan tatapan serius bahkan menyeramkan.


"Ngapain sih, Wi? Mukamu itu loh, nggak ramah lingkungan. " tanya Eni ketakutan.


Dewi mendekat, bahkan jaraknya dan Eni sudah hampir tak berjarak, hal itu pastinya membuat Eni ketakutan bahkan hanya bisa terdiam sambil ikut melotot.


"Bagaimana cara memuaskan laki-laki, Eni? "


Eni tercekat, itu sebuah kejutan baginya, karena baru kali ini Dewi bertanya soal memuaskan pria.


Bahkan Eni mendekat, ia memegang pipi Dewi, dan melotot ke arah Dewi.


"Wi, semalam kesambet apaan? Kok tumben tumbenan nanya begituan sama aku? Ini kamu beneran nggak sih? " tanya Eni.


"Ini benar saya sendiri, Ni, saya butuh jawaban kamu untuk secepatnya, kalau bisa sekarang. "


Eni pastinya bersemangat, satu persatu ia ajarkan untuk Dewi, Dewi menyimaknya dengan baik bahkan hampir mencatat keseluruhan penjelasan dari Eni.


......................


Malam harinya, Dewi dan Gusti saling bertemu, sesuai perjanjian tersendiri, mereka akan merencanakan permainan ketika keduanya saling siap, dan kebetulan Dewi sangat siap sedia untuk melayani Gusti.


Kali ini di tempat yang berbeda, Dewi dan Gusti merencanakan permainan mereka di hotel, berbeda dari biasanya, karena Gusti ingin menikmati sensasi permainan yang berbeda dari sebelumnya.


Satu ruangan telah dipesan oleh Gusti, tinggal sekarang Gusti mengatur permainannya bersama dengan Dewi, kali ini Dewi yang mendapat giliran untuknya menjadi komando dalam permainan tersebut.


"Kemarilah, my goodboy. " ucap Dewi.


Gusti terkejut, bagaimana bisa Dewi seperti itu, sebuah keajaiban baginya karena Dewi yang bisa menggodanya seperti itu.


"Tunggu apalagi? Kemarilah... " ucap Dewi.


Gusti dengan senyumannya mendekati Dewi, tak lama dirinya ditarik oleh Dewi hingga dia berbaring di atas kasur, kemudian Dewi menaikinya.


"Kali ini saya komandan, mengerti? " tanya Dewi.


Gusti tersenyum, ia menganggukan kepalanya, Dewi memulai permainan yang ia kehendaki, berujung akhirnya mereka memulai permainan.


Selesai melakukan permainan, keduanya sibuk dengan urusan masing masing, Gusti membereskan dirinya, sementara Dewi berbaring di kasur.


"Bayaran untukmu, manis. "


Gusti memberikan uang yang begitu banyak, hingga membuat Dewi melongo kaget melihat uang yang begitu banyak diberikan.


"Banyak sekali, om. " ucap Dewi kagum.


"Tidak mengapa, saya rasa uang itu cukup untuk kamu sekarang, Dewina, " ucap Gusti.


Dewi memeluk Gusti dari belakang, bahkan mencium leher Gusti, jarang sekali Dewi akan seperti itu.


"Terimakasih untuk om, sudah baik dengan saya, saya suka dengan cara om selama ini dengan saya, "


"Bagaimana dengan krim itu, om? "


"Saya bisa ganti, kamu tidak usah khawatir, berapa saja bisa saya beli, " ucap Gusti.


Dewi bernafas lega, kemudian keduanya membereskan diri masing masing, memutuskan untuk segera pulang setelah bermain.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2