
...Happy reading š§”...
......................
"Tidak ada sama sekali, tuan. Sepertinya penghuni yang tuan cari tidak berada di kamera pengawas gedung apartemen ini. "
Gusti menggebrak meja, tidak ada satupun tanda tanda bahwa Dewi berjalan keluar lewat lobby apartemen.
"Sepertinya lewat pintu darurat, tuan ada apa mencari penghuni apartemen yang sebelumnya tinggal di kamar milik tuan? " tanya penjaga CCTV tersebut.
Gusti menggelengkan kepalanya dan tersenyum singkat.
"Tidak, saya memerlukan informasi penghuni tersebut, terimakasih atas bantuannya. " jawab Gusti.
Gusti pergi dari ruang kamera pengawas, ia berjalan menuju ke pintu darurat yang dimaksudkan oleh penjaga, ia ingin memeriksa keadaan pintu gedung apartemen miliknya.
Melewati tangga darurat, Gusti berjalan dengan cepat, hingga akhirnya ia menemukan pintu keluar tangga darurat tersebut, ia melihat bahwa pintu tersebut sudah dibuka oleh orang lain, membuatnya menjadi yakin, bahwa Dewi memang kabur lewat pintu keluar tangga darurat tersebut.
"Niat sekali kamu kabur dari apartemen ini, Dewina, hingga saya tidak mengetahui keberadaan kamu di gedung apartemen ini. "
Gusti meninggalkan tangga darurat tersebut, kemudian ia berjalan kembali ke lobby apartemen, ia mempunyai rencana sendiri untuk mencari keberadaan Dewi yang kabur dari apartemennya.
"Darimana saja anda, Gustiawan?! "
Pertemuan yang tidak ingin Gusti temui, yaitu bertemu dengan istrinya sendiri, ia berdecak dan memutar mata malasnya, ia paling malas untuk meladeni Bella.
"Ada apa lagi? " tanya Gusti.
"Heh, saya bertanya jangan anda balik bertanya, darimana saja anda, Gustiawan? "
"Bella, saya paling malas jika terus berurusan dengan kamu ya, selalu kamu bertanya hanya ingin memancing keributan dengan saya. Jika kamu ingin membuat keributan, akan saya ladeni jika sampai di rumah, jangan lakukan di tempat umum, kamu sama saja membuat image saya di depan orang lain buruk, kamu tahu itu. " ucap Gusti.
Bella mengerutkan keningnya, terlalu cepat Gusti menilainya untuk mengacaukan suasana, padahal ia bertanya biasa saja dan tanpa ingin membuat keributan dengan suaminya itu.
"Saya tidak ingin membuat keributan, saya hanya bertanya dengan anda saja, mengapa terlalu cepat anda menilai saya seperti itu, Gusti? " tanya Bella.
"Ini waktunya bukan drama, saya masih ada keperluan lainnya lagi, jika ingin dinilai baik oleh saya, kunci mulutmu itu, dan jangan terus bertanya hal yang tidak penting seperti ini dengan saya, karena saya tidak perlu pertanyaan dan ucapan dari kamu. " jawab Gusti.
Bella menatap Gusti dengan tatapan kesal, laki laki itu dengan sengaja meninggalkannya, hingga pada akhirnya ia tidak bisa menahannya dan meneteskan air matanya, dengan menahan isak tangis yang keluar dari mulutnya karena mengingat perlakuan Gusti padanya.
"Sesusah ini kita ingin kembali seperti semula, suamiku? " gumam Bella.
Bella menghapus air matanya, ia memutuskan untuk pergi dari gedung apartemen milik suaminya, kemudian memilih untuk kembali ke kantornya untuk bekerja kembali.
......................
Di lain tempat, terlihat Dewi yang sedang membereskan barang barangnya, tempat tinggal sementaranya untuk kali ini adalah sebuah kontrakan bedengan yang ia pilih sebelumnya, walaupun harga sewanya relatif murah, tetapi baginya lebih baik untuk menjadi tempat persembunyiannya sementara saat ini.
Fasilitas yang disediakan hanya sebuah kasur dan karpet yang berada di luar ruangan, Dewi tahu bahwa tempat tersebut tidak sebagus seperti kosan dan apartemen yang sebelumnya ia tempati, tetapi lebih bagus lagi jika ia tidak lagi berada di lingkungan orang orang beracun seperti Gusti dan Bella.
"Selesai, tinggal memasang sprai untuk di kasur ini. "
Dewi meletakkan kopernya dan tas miliknya di dekat lemari, ia memutuskan untuk menjumpai anjing peliharaannya yang berada di ruang tengah, tempat ruangan awal yang ia jumpai dan tempat tersebut tidak lebih dari tempat yang kosong, mungkin akan digunakan menjadi ruangan tempat menaruh meja dan barang barang lainnya untuk diletakkan di tempat tersebut.
Tetapi Dewi berpikir, ia akan bingung sendiri ketika akan mengisi sebuah ruangan yang kosong, dan juga ia bingung darimana akan mendapatkan barang barang ketika ia tidak sedang memegang uang.
"Tapi, jika ingin membelinya, aku tidak punya uang sama sekali. " ucap Dewi.
Dewi membuka tasnya, ia merogoh isi tasnya dan mengambil dompetnya untuk memeriksa sisa uangnya, tak lama sebuah kartu jatuh dari dompetnya, ia langsung mengambil kartu berwarna emas tersebut, kemudian melihat jenis kartu tersebut, ternyata adalah kartu debit yang sebelumnya diberikan oleh Gusti untuknya.
"Khairul Gustiawan, kartu ini kan milik om Gusti yang sebelumnya ia berikan untukku? "
Melihat kartu tersebut membuat Dewi berpikiran lain, ia seperti merencanakan sesuatu, yaitu bagusnya jika ia menggunakan uang yang ada di dalam kartu tersebut untuk membeli peralatan kontrakan barunya.
'Kalau bisa kartu ini yang menjawab semuanya, maka akan kugunakan saja untuk membeli barang keperluan kontrakan ku ini. Anggap saja ini sebagai balas dendam dengan om Gusti, dia tidak memikirkan bagaimana perasaanku kemarin setelah ia bentak dan usir. ' ucap Dewi dalam hati.
Dewi membuka layar ponselnya, ia beralih di aplikasi belanja online, memesan beberapa barang dan juga memasukkan nomor pin maupun nomor seri kartu tersebut sebagai transaksi pembelian barang barang yang telah ia pesan.
Beberapa barang akhirnya telah dikemas, tinggal menunggu waktu untuk barang barang yang ia pesan itu sampai di kontrakannya, ia menatap ke arah Jelly yang sedang duduk melihat ruangan kosong itu.
Jelly menggonggong ke arah Dewi, Dewi berjongkok dan mengelus kepala anjing tersebut.
"Jelly, sementara kamu harus pintar pintar untuk bisa mengenal tempat baru seperti ini lagi. " ucap Dewi.
Jelly membalasnya dengan gonggongannya, Dewi merasa bahwa Jelly mengerti, kemudian ia memutuskan untuk membuka pintu kontrakannya, terlihat tetangga tetangga lainnya yang sedang berkumpul di depan bedengan kontrakan tersebut, hanya Dewi saja yang tidak ikut bergabung dengan yang lainnya karena ia merasa bahwa masih baru di kontrakan tersebut.
"Tetangga baru nih, kamu melihara anjing di dalam kontrakan? "
Dewi terkejut, bagaimana bisa tetangga barunya tersebut bisa mengetahui bahwa ia memelihara anjing, padahal belum sama sekali seorangpun mengetahui keberadaan dirinya dan anjingnya, karena Dewi memilih untuk menempati kontrakan tersebut saat malam hari sebelumnya.
"Bagaimana ibunya bisa tahu? " tanya Dewi.
"Itu, dia keluar dari dalam, nggak mungkin kan anjing tiba tiba masuk ke dalam kontrakan, kecuali situ yang melihara? " tanya salah satu penghuni kontrakan tersebut.
"Anjingnya anjing peliharaan, kan? "
Dewi menganggukan kepalanya.
"Ya, tetapi anjing saya bukan anjing liar, memang dikhususkan untuk jadi anjing peliharaan, tenang saja, dia tidak rabies atau semacamnya, karena sudah divaksin dan diberikan obat rabies untuk anjing saya dari dokternya. " ucap Dewi menjelaskan.
Beberapa penghuni kontrakan tersebut menganggukan kepalanya, tak lama anak anak datang menghampiri kediaman kontrakan Dewi, mereka menghampiri Jelly yang tampak sedang duduk dan menggonggong ramah ke arah anak anak tersebut.
"Anjingnya besar! "
Teriakan anak anak tersebut membuat Jelly semakin bersemangat untuk bermain dengan mereka semua, walaupun Dewi yang merasa takut jika Jelly yang secara tiba tiba akan bermain berpura pura menggigit, bisa bisa ia akan digertak oleh kaum ibu ibu yang berada di sekitar kontrakannya itu.
'Jelly, kamu boleh ramah ya, tapi ramahnya jangan berlebihan dengan anak anaknya, bisa bahaya untuk keselamatan kita berdua. '
__ADS_1
......................
"Saya tidak peduli, saya yakin gadis itu tidak jauh kaburnya dari kota ini, cari sampai dapat. "
Gusti mematikan panggilan dan meletakkan ponselnya di atas meja, seharian ia tidak bisa fokus bekerja, karena pikirannya bercabang dan terpusat dengan gadis yang bernama Dewina itu.
Gusti juga merasa bodoh, ucapannya tidak ia jaga sebelumnya, membuat gadis yang ia dan Bella tahan karena sedang mengandung itu sekarang kabur dari apartemen tanpa satu jejak pun ditemukan, hanya ia akan bergerak mencari keberadaan gadis tersebut, walaupun ia dan Bella akan terus berseteru karena hal sepele seperti sekarang.
Satu persatu ide dipikirkan oleh Gusti, ia mencari cara untuk bisa menemukan keberadaan Dewi, ia akan bergerak sendiri terlebih dahulu.
"Kalau kamu bisa kabur, maka saya bisa menemukanmu bagaimanapun caranya, Dewina. " ucap Gusti.
Gusti mengingat sesuatu, ia mencari sesuatu yang terasa kurang pada barang yang ia miliki, dan sekarang ia memeriksa nya di dompet miliknya, benar, ia seperti kehilangan sebuah kartu kredit yang ia miliki.
"Ruben! "
Gusti memanggil asistennya yang tak jauh dari ruangannya, tak lama Ruben sang asisten memasuki ruangan milik Gusti, tampaknya sebuah perintah yang akan dikerahkan oleh Gusti untuknya.
"Ya, saya datang, ada apa, tuan? " tanya Ruben.
"Apa sebelumnya kamu melihat kartu milik saya? Ya, kartu debit saya sepertinya, warna nya emas dan tidak salah saya lupa menaruhnya dimana, huh, efek tua memang seperti ini. " tanya Gusti.
"Maaf tuan, bukankah sebelumnya tuan pernah berkata dengan saya, bahwa tuan sebelumnya memberikan kartu debit tuan satunya lagi untuk nona Dewina? "
Gusti mengingatnya, ia baru ingat bahwa sebelumnya pernah memberikan kartunya untuk Dewi gunakan, tujuannya sebagai pegangan Dewi untuk uang keperluan sehari hari gadis tersebut.
Gusti juga merasa yakin, bahwa dengan kartu tersebut dipegang oleh Dewi, kemungkinan besar gadis tersebut akan menggunakan saldo yang ada di kartu tersebut, hal tersebut bisa menjadi petunjuk untuk Gusti agar bisa menemukan gadis tersebut.
"Bagus...! "
"Apanya yang bagus, tuan? " tanya Ruben.
"Segera antarkan saya ke bank, saya butuh proses pemblokiran kartu tersebut. " ucap Gusti.
Ruben merasa aneh dengan tuannya, terkadang ucapannya sering mendadak, apalagi sekarang tuannya yang memintanya untuk mengantarkan tuannya ke bank untuk memblokir kartu debit yang sebelumnya diberikan untuk simpanan tuannya sendiri, dan tidakkah Gusti merasa rugi jika memblokir kartu yang masih berisi saldo yang lumayan banyak itu dalam sekali keputusan saja?
"Jangan melamun, saya tidak butuh lamunanmu. " tegur Gusti.
Ruben menundukkan kepalanya, bersamaan dengan Gusti, keduanya keluar dari ruangan dan sekarang berjalan menuju ke luar untuk segera pergi ke bank untuk mengurus kartu debit tersebut.
Tak butuh waktu yang lama, akhirnya keduanya telah sampai di bank, Gusti turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam kantor bank tersebut.
"Selamat siang, pak, ada yang bisa dibantu? " sambut karyawan bank.
"Selamat siang, sebelumnya, saya ingin memeriksa aktivasi kartu debit saya. "
"Boleh tau atas nama siapa? "
"Khairul Gustiawan. " ucap Gusti.
Menunggu proses tersebut, cukup memakan waktu yang lumayan lama untuk menunggu aktivasi kartu, dan kemudian hasil tersebut keluar.
"Transfer terakhir di daerah utara, pak, sekarang terdapat transfer lainnya untuk pengiriman ke virtual account. " jelas karyawan bank.
"Bekukan, kartu saya dicuri oleh seseorang yang tidak bertanggungjawab. " ucap Gusti.
"Boleh meminta data diri lengkap untuk verifikasi? "
Gusti memberikan beberapa surat dan keterangan data dirinya, kemudian karyawan bank tersebut mulai memproses terlebih dahulu pemblokiran tersebut.
Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu penting Gusti lakukan dan biasanya Ruben yang akan mengurusinya, tetapi hal ini menyangkut tentang Dewi, yang kabur dengan membawa kartu debit miliknya.
Tak masalah bagi Gusti jika saldo di kartu tersebut digunakan oleh Dewi, tapi ia tidak suka jika Dewi yang kabur dari apartemen tanpa ada jejak sedikitpun.
Tapi karena hal tersebut, Gusti akhirnya dengan mudah mengetahui keberadaan Dewi yang tidak jauh dari kota, dan lokasinya dapat ia kenali, tinggal memberikan informasi dengan suruhannya untuk mencari tempat tinggal Dewi yang tidak jauh dari tempat terakhir kali gadis tersebut melakukan transaksi menggunakan kartu debitnya.
......................
"Makanan sudah siap. "
Dewi memberi makan untuk Jelly, Jelly memakan makanan tersebut dengan lahap, kemudian ia juga ikut memakan masakan yang sebelumnya sudah ia buat, Dewi menikmatinya di kursi plastik dan mengarah ke arah belakang kontrakannya.
Dewi mencintai kebebasan yang ia rasakan, dan sekarang ia terbebas dari jerat Gusti, walaupun ia tahu bahwa ia sedang mengandung anak dari pria tersebut, tapi tidak peduli baginya, selama ia bisa bertahan dengan uang yang ada di kartu debit yang ia pegang, itu dapat memenuhi kebutuhannya dan calon anaknya.
Dewi pernah terpikir, ia lebih baik tinggal menjauh dari semuanya, dan akan terfokuskan dengan calon anaknya nanti apabila sudah lahir, ia akan bertanggungjawab sendiri dengan calon anaknya.
Sambil makan, Dewi mencari peluang usaha untuk ia bekerja, setelah lama ia tidak diizinkan untuk bekerja, dan sekarang ia akan melakukan apa yang ia mau, termasuk bekerja kembali.
Dewi tersorot oleh tawaran kerja, dan juga pekerjaan tersebut bisa dilakukan hanya di rumah, sangat memudahkannya untuk bisa bersembunyi dari Gusti.
Sebenarnya Dewi merasa curiga dengan orang yang memantau kontrakannya, hampir beberapa kali orang yang memantau kontrakannya bolak balik melihat ke arah kontrakannya, alhasil Dewi merasa takut dan memilih untuk mengurung diri saat berada di dalam kontrakan.
Dewi menyiapkan data dirinya secara lengkap untuk dikirimkan secara online, dan sekarang ia sudah selesai mengurusi pendaftaran kerja untuk dirinya.
Selesai dengan hal tersebut, Dewi melihat jam yang ada di ponselnya, sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan sekarang sudah hampir ingin mendekati makan malam.
Dewi teringat, bahwa bahan bahan makanan belum ada sama sekali di kontrakan tersebut, mustahil jika ia akan makan mie lagi, dan itu bisa membahayakan kandungannya sendiri.
"Baik, kalau begitu, kita akan berbelanja ke minimarket di depan gang kontrakan ini. " ucap Dewi.
Dewi bersiap siap terlebih dahulu, tak lupa dengan dompet yang ia bawa, berisi kartu dan sisa uang cash yang ia miliki terakhir diberikan oleh Gusti untuknya.
"Jelly, kamu tunggu disini dulu, aku ingin berbelanja bahan makanan di minimarket. " ucap Dewi pada Jelly.
Dewi bersiap siap untuk pergi, dengan menggunakan sendal, ia berjalan menuju ke minimarket, dengan melihat beberapa orang yang sedang menghabiskan waktu sore mereka sebelum malam hari tiba.
Sesampainya di minimarket, Dewi merasa lega dengan suhu minimarket tersebut yang terbilang sangat sejuk, kemudian ia mulai mencari bahan makanan yang sebelumnya ia catat.
__ADS_1
Memilih beberapa bahan makanan, kemudian Dewi membawanya menuju ke kasir, ia juga mengambil kartu yang sebelumnya digunakan untuk berbelanja, dan sekarang ia akan membayarnya dengan kartu tersebut.
"Pakai kartu atau tunai? " tanya kasir.
"Kartu saja. " jawab Dewi.
Dewi memberikan kartu debit nya, ia menunggu total belanjaannya, ekspresi wajah kasir tersebut tampak kebingungan, karena kartu tersebut tidak berfungsi.
"Mbak, ini kartunya dibekukan ya? "
Dewi tidak ngeh dengan pertanyaan tersebut.
"Dibekukan? Maksudnya kartunya dibekukan itu apa ya? " tanya Dewi.
"Mbak, kartunya ini diblokir, jadi pembayaran nggak bisa dipakai kalau kartunya dibekukan. Bisa dipakai tunai aja mbak, kartunya nggak bisa dipakai soalnya. " jelas kasir tersebut.
Dewi mengambil kartu tersebut, beberapa barang tidak bisa ia beli, karena uang tunai yang ia gunakan, karena kasir minimarket tersebut menjelaskan bahwa kartunya diblokir.
Dewi merasa bahwa Gusti yang memblokir kartu yang ia gunakan, karena laki-laki itu tahu bahwa ia yang menggunakan kartu tersebut, alhasil ia tidak bisa membayar belanjaannya dengan kartu tersebut, akhirnya sebagian barang ia singkirkan dan menunjuk ke arah barang yang bisa ia bayar menggunakan sisa uangnya.
"Ini saja, sebagiannya tidak jadi. " ucap Dewi.
Wajah kasir tersebut terlihat kesal, mengambil banyak barang kemudian hanya beberapa saja yang dipilih, siapa yang tidak kesal jika mengambil barang sebanyak mungkin dan tidak mampu membayar semua barang yang dipilihnya.
Selesai berbelanja, Dewi membawa sebagian belanjaannya yang ia pilih, ia cukup kecewa membawa sedikit belanjaannya yang ia pilih.
"Apa mungkin orang-orang yang memantau ku tadi siang, itu adalah orang suruhan dari om Gusti? " gumam Dewi bertanya pada dirinya.
Tak lama sebuah mobil hitam besar berhenti di depan gang, tepatnya berhenti di depan Dewi, beberapa orang keluar dari mobil dan menahan Dewi, hal tersebut membuat Dewi terkejut dan meronta meminta dilepaskan.
"Siapa kalian? Lepaskan saya! " teriak Dewi.
Seseorang keluar dari mobil, kemudian memerintahkan orang-orang yang menahan Dewi untuk melepaskan gadis tersebut.
"Lepaskan dia. "
Dewi dilepas, ia menyadari suara tersebut sangat familiar di telinganya, ia melihat siapa yang turun dari mobil tersebut, dan itu ternyata Gusti.
"Om? "
"Ya, ini saya. " ucap Gusti.
Wajah Dewi tampak kesal, Gusti mengerti, dan ia memerintahkan anak buahnya untuk kembali ke mobil.
"Kalian semua kembali lah ke mobil, saya akan berbicara sebentar dengan gadis ini. " perintah Gusti.
Semua orang-orang tersebut masuk kembali ke mobil, sedangkan Gusti dan Dewi bertatapan secara langsung.
"Kenapa? " tanya Gusti.
"Tidak ada, saya hanya ingin diam saja. " jawab Dewi dengan nada ketus.
Gusti menggelengkan kepalanya.
"Saya ingin bertemu dengan kamu saja, Dewina. " ucap Gusti.
Dewi berdecak.
"Untuk apa menemui saya kembali? Bukankah om sendiri yang mengusir saya dari apartemen? "
Gusti mengerti, kemarin ia tersulut emosi, sehingga ia tidak sengaja mengusir Dewi dan ucapannya ditanggapi dengan serius oleh gadis tersebut.
"Maaf, maafkan saya. "
Dewi menatap sinis ke arah Gusti. "Sebatas itu saja, om? " tanya Dewi.
"Ya terus maumu apa, Dewi? "
Dewi merasa bahwa Gusti tidak mengerti sama sekali, ia meninggalkan Gusti yang tadi berdiri di depannya, dan ia kembali ke kontrakannya.
Gusti berdecak kesal, lagi lagi ia harus membujuk seorang gadis yang merajuk dengannya, dan juga sekarang ia harus menyusul Dewi yang meninggalkannya di depan gang kontrakan tempat Dewi berada.
"Dewina, saya tidak pandai menghibur orang, katakan, apa maumu? "
Gusti mengejar Dewi yang berjalan cepat meninggalkannya, ia menahan Dewi dengan memegang lengan gadis tersebut.
"Baik, kalau ingin saya pulang, saya ingin satu permintaan saya om turuti. " ucap Dewi.
"Baik, selama itu tidak aneh, akan saya turuti. "
"Saya ingin bekerja kembali seperti sebelumnya, hanya itu saja. "
Gusti mengerutkan keningnya. "Tidak untuk satu itu, kepala batu. "
Secara tiba-tiba Gusti mengangkat Dewi, badan kecil itu ia angkat, sehingga Dewi meronta untuk minta dilepaskan dari gendongan tersebut.
"Lepaskan saya, om! Saya tidak mau jika saya tidak diizinkan kerja sama sekali! " teriak Dewi.
"Terimakasih sekali atas kerasnya kepala kamu, Dewina, tapi saya tidak akan mengizinkan kamu sama sekali untuk bekerja, kamu tahu sendiri bahwa saya tidak akan mengizinkan kamu yang sedang mengandung untuk bekerja. " ucap Gusti.
"Bagaimana dengan Jelly? Dia masih disana, om? " tanya Dewi.
"Biarkan, akan Ruben jemput dia, kamu tidak usah khawatir, terutama biaya perabotan yang kamu beli dari online itupun tidak usah kamu khawatirkan, anggap saja hadiah untuk kontrakanmu itu! " jawab Gusti.
Dewi akhirnya kalah, karena pemikirannya tidak secerdas lelaki tua itu, mungkin karena berpengalaman yang membuat Gusti bisa menemukan nya, tidak heran jika dengan mudah ia ditemukan.
...****************...
__ADS_1