Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 60: Tekanan


__ADS_3

Peringatan⚠


cerita ini mengandung unsur kejahatan verbal/mental yang membuat traumatis pada para pembaca, diharapkan bijak dalam membacanya!


...Happy reading 🧔...


......................


Dewi berusaha bangkit dari dirinya yang tidak berdaya, kemudian ia menatap ke arah pintu, terpampang bahwa Bella pergi dengan arogan dari kamar apartemennya tanpa meninggalkan kesan baik di kamar tersebut, hanya sebuah tindakan kekerasan pada dirinya.


Bella memukul kepalanya lumayan keras, membuat Dewi menjadi sempoyongan untuk berusaha berdiri untuk bangkit dari tempat ia tersungkur dan sekarang Jelly datang menghampiri nya dan menggonggong ke arah Dewi.


"Tidak apa, Jelly, aku bisa berdiri, sebentar, aku akan menutup pintu dulu. "


Dewi berjalan ke arah pintu kamar apartemen nya, ia menutup pintu tersebut kemudian berjalan menuju ke kamarnya kembali, Jelly mengikutinya dari belakang dan duduk di depan Dewi yang duduk di tepi ranjang sambil memegang kepala nya yang masih terasa sakit.


Tak lama setelahnya, Dewi mengeluarkan air matanya kembali, ia menangis tersedu sedu, entah karena kepalanya yang masih terasa sakit atau mengingat sesuatu yang membuatnya menjadi sedih sampai sekarang.


Jelly tidak bisa berbuat apa apa selain menggonggong kearah Dewi seolah sedang bertanya, namun Dewi masih menghargai tindakan Jelly walaupun ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh anjingnya itu.


Dewi layaknya sebatang kara, ingin mengobrol dan mengungkapkan isi hatinya tak tahu dengan siapa selain dengan anjing peliharaannya, jika saja ia memberitahukan masalahnya kepada orang lain, yang ada mungkin akan menjadi senjata baginya.


Hidupnya hampa, hanya dikurung, diperlakukan seenaknya, bahkan ingin mengungkapkan isi hatinya yang terasa menggebu kesal saja tidak bisa, ia tidak bisa melawan kedua orang yang sangat berkuasa baginya, yang ada jika ia berani bertindak melawan keduanya, maka Dewi akan kalah.


Dewi ingin menyalahkan semuanya karena Gusti, semua masalah datang karena Gusti yang membuatnya menjadi berbelit-belit seperti sekarang, tapi apa, Gusti tidak ingin semua yang terjadi itu adalah karena semua kesalahan dan perbuatannya, laki-laki itu tetap saja akan menyalahkan Dewi apapun caranya, dan cara tersebut pula yang bisa membuat Dewi tidak bisa melawan Gusti.


Dengan istri Gusti, Bella, Dewi diperlakukan layaknya sebuah eksperimen, menyuruhnya mempertahankan janinnya, dan akan membebaskannya jika Dewi berhasil memenuhi persyaratan untuk melahirkan seorang bayi laki-laki, namun ia saja sekarang gagal, Dewi akan dijatuhkan pilihan kedua, ia akan dipenjarakan dengan tuntutan penggelapan uang dan penipuan, itupun Bella yang mendakwa nya sendiri.


Jauh dari orangtua, dan sekarang ia bermasalah di kota, Dewi memilih untuk mengatasi semuanya sendiri dengan menjauh dari keduanya, Dewi berusaha untuk tidak memberitahu kondisinya di kota sekarang.


Dewi tahu bahwa semua itu adalah kebodohannya, ia bodoh ingin mengikuti saran dari orang yang baru saja ia kenal saat ia pertama kali berada di kota, tergiur akan upah yang sangat banyak, namun ia sendiri tidak tahu apa yang akan ia kerjakan, menjadi teman untuk laki laki tua dan akan membayarnya, namun ternyata harga dirinya diambil dan dibeli oleh laki laki yang sekarang sudah membuatnya kesulitan sekarang.


Sekarang ia sedang hamil, anak berjenis kelamin perempuan tengah ia kandung sekarang, Dewi memiliki rasa bimbang saat tengah mengandung anaknya yang belum lahir itu, benturan batin baginya terlalu kuat, antara ia yang mengasihani anaknya dan juga merasa gagal karena tidak bisa memenuhi persyaratan, Dewi kasihan dengan nasib anaknya kedepannya.


"Jika saja bunuh diri itu tidak dilarang, mungkin aku akan memilih jalan itu. "


Jelly kembali menggonggong, Dewi melihat ke arah anjing peliharaannya, guratan senyum dari bibirnya yang terlihat terpaksa itu mengarah ke arah anjing peliharaannya tersebut.


"Jelly, terimakasih atas semua usahamu, tapi itu belum bisa membuatku lega. " ucap Dewi.


Dewi membaringkan tubuhnya di kasurnya, kembali ia meringkuk dengan tetes air matanya, mengingat kejadian yang tadi ia alami, sehingga ia menjadi sedih untuk sekarang.


"Besok saya minta kamu memanggil notaris keluarga saya, ada hal yang perlu saya sampaikan. "


'Baik nyonya, akan saya laksanakan. '


Bella mematikan ponselnya, ia memantau kembali pekerjaannya di dalam mobil, sementara dari kursi depan, Ruben melihat majikannya yang terlihat bahagia, tidak seperti biasanya wanita itu tersenyum sambil bekerja.


"Nyonya, ada apa nyonya datang ke apartemen milik tuan tadi? "


Bella menatap ke arah supirnya, tepatnya asisten suaminya, ia menatap ke arah kaca spion mobil dan tersenyum.


"Sebuah urusan lain, kenapa? Kamu ingin buat laporan pada suami saya? " tanya Bella.


Ruben menggelengkan kepalanya. "Tidak nyonya, kebetulan saja saya bertanya. "


Bella tersenyum dan melipat kedua tangannya.


"Ternyata benar orang bilang, kalau kita bisa membalas kekesalan kita dengan orang yang sudah berbuat onar dengan kita, rasanya sangat melegakan. Fyuh, hatiku sangat puas. " ucap Bella.


"Memang nyonya sudah berbuat apa? " tanya Ruben.


"Tidak perlu tahu, saya tahu kamu akan membuat laporan kepada Gustiawan, jangan sampai kamu berani mengatakan sesuatu pada dia! " tegas Bella.


Ruben hanya diam, ia tidak berani berkata apa lagi dengan majikannya, yang ada malah Bella akan memukulinya jika banyak bertanya.


Memakan waktu hampir setengah jam, Bella akhirnya telah sampai di kediamannya, Ruben keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk majikannya, Bella menenteng tasnya ke dalam dan disambut dengan beberapa pelayan yang ada.


"Darimana saja? "


Bella yang masuk ke dalam rumahnya kemudian terkejut, secara tiba-tiba Gusti duduk di kursi ruang tamu dengan posisi menyilangkan kakinya dan menatap secara langsung ke arahnya.


"Anda mengejutkan saya, saya kira siapa yang duduk di sana. " ucap Bella.


"Terlalu melebih lebihkan, kamu tahu bahwa klienmu sempat berjumpa dengan saya dan menanyakan proyek kerjamu dengan klienmu? Kemana saja kamu? " tanya Gusti.


Bella meneguk liurnya, ia tidak mungkin akan mengatakan pergi ke apartemen milik suaminya itu dan menemui Dewi, kemudian menyiksa simpanan suaminya itu.


"Tidak, saya pergi ke store tempat saya membeli tas, untuk mencari tas keluaran terbaru saja di store langganan saya. " jawab Bella.


Gusti hanya diam, kemudian ia mengambil jasnya dan beberapa barang miliknya, Bella yang melihat hal itu merasa aneh, tidak biasanya reaksi suaminya seperti biasanya.


"Hei, kenapa anda tidak seperti biasanya? " tanya Bella.


Gusti mengerutkan keningnya. "Seperti biasa apanya? "


"Biasanya anda akan mengajak saya untuk ribut, kenapa hari ini lain? " tanya Bella.


"Masih banyak pekerjaan lain yang harus saya lakukan, mengajakmu untuk ribut hanya tas sepertinya terlalu sepele, lebih baik saya bekerja saja. " jawab Gusti santai.


Gusti meninggalkan Bella yang berdiri menghadap nya, Bella yang melihat hal tersebut tidak percaya, namun hatinya terasa lega ketika kebohongan nya tidak diketahui oleh suaminya.


"Untung saja hanya bertanya kemana aku pergi, tidak terlalu detail pertanyaannya. " ucap Bella.


Bella meninggalkan ruang tamu nya, ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya setelah ia selesai mengotori tangannya.


.


Dering suara ponsel berbunyi terlalu kuat, sehingga Dewi dan Jelly terbangun dari tidurnya, Dewi meraih tangannya ke arah meja yang tak jauh dari kasurnya berada.


Dewi mengangkat teleponnya, ia yang masih mengantuk kemudian mengangkat teleponnya, tanpa ia sadari siapa yang tengah meneleponnya kini.


"Halo, dengan siapa? "


'Dewina, dimana kamu sekarang? Kenapa hari ini tidak ada laporan data marketing dari kamu? '


Dewi tersenyak, ia kemudian membenarkan dirinya dan duduk menyimak ucapan dari orang yang menelponnya, itu adalah Daniel, bos dari perusahaan tempat ia bekerja.


'Laporan kenapa belum dikirim? Saya sudah menunggu dari tadi sore, saya kira kamu sudah membuatnya untuk dikirim sore ini. ' tanya Daniel.


"Maaf Pak, saya sempat ketiduran karena kecapekan, sampai-sampai saya tidak ingat ada laporan yang harus dikirim, segera setelah ini saya akan mengirimkan laporan untuk bapak. " jawab Dewi.


'Baik, saya akan tunggu, tapi ingat, jika kamu sampai mengulang seperti ini sekali lagi, kamu akan mendapat konsekuensi dari saya, mengerti? ' ucap Daniel.


Dewi menghela nafasnya dengan pelan. "Baik Pak, saya mengerti. "


Panggilan berakhir, Dewi merenggangkan tubuhnya, ia melihat jam dinding yang ada di kamarnya, sudah menunjukkan pukul 7 malam dan sekarang ia baru terbangun dari tidurnya karena merasa kelelahan.

__ADS_1


Dewi merenung, ia kembali menangisi dirinya karena masih mengingat ancaman dari Bella, ancaman itu membuat masa depan Dewi bersama calon anaknya akan terancam, ia tidak ingin jika nasib anaknya nanti akan menderita karena imbas dari kegagalannya sebagai seorang ibu.


"Jelly, aku akan bekerja, kamu bisa temani aku di ruang utama kan? " tanya Dewi.


Jelly menggonggong, kemudian keduanya berjalan ke luar untuk bekerja, sebelumnya keduanya akan mengisi tenaga masing masing dengan makan, kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan pekerjaan, Jelly hanya tidur disamping Dewi yang sedang bekerja.


Sebenarnya Dewi merasa lelah, tapi ia yakin dapat mengerjakannya secepatnya, ia tidak ingin melewatkan libur kuliah dan menunggu hari persalinannya dengan bersantai, karena ia tahu bahwa hari hari itu nantinya akan berakhir di penjara.


Menghabiskan waktu semalaman untuk menyelesaikan laporan, Dewi segera mengirimkannya lewat pesan secara online, dan akhirnya dengan cepat direspon oleh Daniel, membuat pekerjaannya selesai secepat itu.


Dewi merenggangkan tubuhnya, ia merasa perutnya sakit karena lama duduk di kursi, Dewi bangkit dari kursinya dan segera pindah ke dalam kamar, ia juga merasakan kantuknya sekarang.


"Kenapa susah sekali untuk tidur? "


Dewi bergumam, kemudian ia menatap layar ponselnya, ia mencari sesuatu di ponselnya, tepatnya cara ia ingin mengusir rasa cemas dan khawatir, ia melakukan cara tersebut karena tidak ingin rasa khawatirnya dapat dirasakan oleh calon anaknya.


"Mendengarkan lagu adalah cara yang bagus untuk menghilangkan rasa cemas dan khawatir, akan kucoba. "


Dewi mengikuti saran yang ada di pencarian website, ia mulai memutarkan lagu, dan mendengarkannya dengan menghayati setiap lantunan lagunya, tak lama setelahnya Dewi tertidur karena lagu yang diputarnya.


.


Keesokkan harinya, Dewi terbangun karena suara gonggongan anjingnya, ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya, rencananya ia akan melihat mengapa anjing peliharaannya menggonggong secara tiba tiba di pagi hari.


"Jelly, ada apa? " tanya Dewi.


"Bangun selalu siang, apa kamu selalu begini? "


Dewi mengucek matanya, kemudian ia menatap ke depannya, seseorang yang ia kenal tengah berdiri di depannya, itu adalah Gusti.


"Om, kenapa sampai disini? " tanya Dewi.


"Saya mengantarkan makanan untukmu, kamu sarapan dahulu, anjingmu sudah saya kasih makan. Kamu tidak sadar kalau anjingmu sudah berdiri di depan pintu sambil menggonggong? " tanya Gusti.


"Maafkan saya, om, saya tertidur terlalu lelap, makanya tidak sadar kalau ada om masuk ke apartemen ini. " jawab Dewi.


"Memang apa yang kamu lakukan, sehingga sekarang sampai mengantuk seperti sekarang ini? " tanya Gusti.


Dewi terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Gusti, yang jelas ia akan dimarahi jika beralasan bahwa ia begadang semalaman, entah dalam hal apapun itu sangat tidak dibenarkan baginya untuk begadang.


"Saya susah tidur tadi malam, om, makanya sekarang saya merasa sangat mengantuk, sehingga tidak sadar kalau sudah bangun kesiangan. " ucap Dewi.


Gusti melipat kedua lengannya, kemudian mengelus kepala Jelly dan beralih ke ruang tempatnya bekerja, sementara Dewi berinisiatif untuk membersihkan diri.


"Dewina, kamu dimana? "


Dewi yang berada di kamar mandi kemudian mengambil handuk, ia yang baru saja berencana untuk mandi kemudian mendengar Gusti yang memanggilnya dari luar kamar mandi, dan ia memilih untuk menghampiri Gusti meski hanya akan menongolkan kepalanya.


"Saya ingin mandi dulu, om, kenapa? " tanya Dewi.


Gusti yang terlihat rapi kemudian menatap ke arah pintu kamar mandi, ia baru sadar bahwa gadis yang ia cari sekarang berada di kamar mandi.


"Kamu sedang mandi, ya, maaf sudah memanggil. " ucap Gusti.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Tidak apa, om. Kalau begitu, saya minta setelah keluar, tolong tutup pintunya. "


Dewi kembali masuk kekamar mandi, sementara Gusti memakai sepatunya dan mulai bersiap untuk pergi ke kantor, tanpa ada pertanyaan itulah yang membuat Dewi merasa aman nantinya untuk pergi ke kantor, ada urusan lainnya yang akan ia urus dengan perusahaan.


Waktu yang diperlukan untuk mandi dan bersiap siap sampai 1 jam, Dewi menghabiskan waktunya sangat lama, karena ia memanjakan dirinya di kamar mandi.


Jelly menggonggong, kemudian ia kembali ke sofa dan tertidur, sedangkan Dewi keluar untuk segera bersiap siap dan memakai sepatunya, tak lama ia keluar dan menutup pintunya.


Jarak waktu untuk pergi ke perusahaan membutuhkan waktu setengah jam, Dewi akhirnya turun dari taksi dan mulai berjalan menuju ke perusahaan milik Daniel.


Dewi memakai jaket, ia sengaja memakai jaket karena ingin menutupi perutnya yang terlihat besar, Dewi tahu itu konyol, mushtahil jika orang tidak menyadari perutnya yang membesar itu tidak seperti sebelumnya.


"Tidak apa, hanya sebentar, kemudian akan berhenti dari sini. " gumam Dewi.


Dewi membawa surat laporan dan surat pengunduran diri, ia yakin bahwa dirinya sudah tercium oleh Gusti, ia bekerja secara diam diam, hanya saja Gusti belum bertindak tegas pada dirinya.


"Dewina, kenapa jarang ke kantor? "


Dewi disapa oleh salah satu karyawan, ia ikut tersenyum, kemudian disambut ramah oleh karyawan tersebut.


"Maaf sebelumnya, soalnya ada kesibukan lain, makanya saya sering lewat pesan online saja mengirimkan hasil laporan data perusahaan ini. " jawab Dewi.


"Begitu ya? Wah, sekarang kamu terlihat lebih berisi dari sebelumnya ya? Bagus, Dewi. " puji karyawan tersebut.


Dugaan sebelumnya benar, akhirnya Dewi ditanyakan soal badannya, Dewi memilih tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, setelah ia menaruh laporan dan surat yang ia pegang sebelumnya, Dewi langsung berlari keluar.


"Wi, Dewina...! "


Dewi berlari meninggalkan perusahaan tersebut, ia memilih menjauh dan tidak ingin kembali lagi, karena akan banyak pertanyaan lainnya lagi dari karyawan lainnya yang baru saja melihatnya hari ini.


"Hampir saja. "


Secara tiba tiba, Dewi merasa bahwa tangannya ditarik dari belakang, ia terkejut dan melihat seseorang di belakangnya, tak lama matanya seketika melebar ketika melihat siapa yang menariknya.


"Om, om Gusti? " ucap Dewi gelagapan.


"Dapat juga kamu akhirnya, ternyata seperti ini yang membuatmu tidak tidur semalam? "


Dewi terdiam, sementara Gusti langsung menjewernya dengan singkat, sehingga telinganya terasa panas karena hal tersebut.


"Kenapa kamu sangat susah diatur, Dewina?! Bukankah kamu pernah mencelakakan kandungan kamu sendiri karena kamu yang sangat keras kepala ini, bekerja tanpa memikirkan kondisi kamu sendiri, hah?! " bentak Gusti.


Setelah sekian lama, akhirnya Dewi melihat Gusti berani membentaknya di depan umum, sehingga nyali Dewi menjadi ciut dan ia merasa seperti dipermalukan di depan umum.


"Saya tidak sama sekali bekerja, om. " jawab Dewi.


"Terus, baru saja saya lihat kamu keluar dari perusahaan itu apa namanya? Kerja kan? "


Gusti terus saja mengintimidasi Dewi, hingga Dewi susah untuk beralasan, dan sekarang ia mengatakan hal yang mungkin bisa membuat Gusti percaya.


"Saya hanya bertemu dengan bos saya saja untuk menerima gaji sebelumnya, tidak sama sekali saya berbuat nekat. " ucap Dewi lirih.


"Baik, kamu berani beralasan dengan berbohong seperti ini dengan saya? Kemari, kamu ikut saya sekarang. " ucap Gusti.


Dewi ditarik untuk mengikuti Gusti, ia tidak bisa melawan laki laki itu yang menekannya untuk pulang, Gusti menarik tangan Dewi hingga ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Dewi tidak berani menatap Gusti, laki laki itu terlihat sangat marah dengannya, dan juga sekarang bukan waktu yang tepat Dewi memulai obrolan dengan Gusti.


Mobil melaju terlalu kencang, Dewi memegang pegangan mobil sangat erat, ia merasa ketakutan saat Gusti sudah melajukan kecepatan, ditambah lagi sedang emosi dengan dirinya.


"Om, jangan terlalu cepat, saya takut. " mohon Dewi.


"Tidak usah mengatur saya, mau saya ajak kamu untuk mati itu urusan saya, berhenti mengatur saya atau saya akan lempar kamu dari mobil yang melaju kencang ini! " tegas Gusti.

__ADS_1


Dewi berhadapan dengan orang gila sekarang, ia memilih untuk pasrah, sambil mengelus pelan perutnya dan berdoa agar senantiasa selamat walaupun kondisinya sekarang sedang tidak baik baik saja.


Tak butuh waktu yang lama, akhirnya Dewi telah sampai di gedung apartemen, ia tidak akan turun sebelum ia mendapat perintah dari Gusti.


"Keluarlah, jangan buang waktu saya. " perintah Gusti.


Dewi membuka pintu mobilnya, sebelumnya ia ingin melepaskan seatbelt yang begitu susah dilepas, hingga akhirnya Gusti mengambil alih dan melepaskannya secara paksa, alhasil Dewi merasa kesakitan dan akhirnya sabuk pengaman itu terlepas, ia segera keluar dari mobil dan menutup pintu mobil itu dengan perlahan.


Gusti melajukan mobilnya, ia meninggalkan Dewi yang memandanginya dari jauh.


Dewi sebenarnya masih terasa sedih untuk hari ini, hatinya masih meringis sedih, ia merasa lelah selalu menghadapi kehidupan yang menjebak seperti sekarang ia alami.


Saat ingin menaiki lift, Dewi mendapatkan panggilan dari kedua orangtuanya, ia mengatur nafasnya dan mulai mengangkat telepon tersebut.


"Halo, ada apa, pak, bu? " tanya Dewi.


'Nak, bagaimana kabar kamu di sana? Kamu sekarang sedang tidak sibuk kan? ' tanya Warsita.


"Maaf bu, ini bukan berarti Dewi bisa pulang ke sana, Dewi sedang sibuk di kota. " jawab Dewi.


'Nak, kamu kenapa sering menghindar dari kami? Bulan sebelumnya kami ingin mengunjungi mu, tapi kamu beralasan tidak bisa karena sibuk. Kami tahu bahwa kamu sedang berlibur, tetapi setidaknya temuilah kami sekali nak, walaupun kamu sekarang sudah betah berada di kota. '


Dewi merasa sangat sedih, tetapi ia terpaksa untuk menolaknya, daripada orangtuanya malu, ia memilih dirinya saja yang menanggung malu demi kedua orangtuanya.


"Maafkan Dewi, bu, lainkali saja Dewi akan bertemu dengan bapak dan ibu, sekarang biarkan Dewi untuk sendirian terlebih dahulu, Dewi punya dunia Dewi sendiri. " ucap Dewi.


Dewi mematikan panggilannya, air matanya mengalir, tak tega ia ingin memisah diri dari kedua orangtuanya, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghadapinya sendiri.


.


Butuh beberapa menit untuk sampai di lantai tempat kamarnya berada, Dewi keluar dan berjalan menuju ke kamarnya, ia mengambil kartu aksesnya dan masuk kedalam.


Saat memasuki kamarnya, Dewi terkejut ketika melihat seseorang sedang menaiki sebuah tangga, Dewi melihat ke dalam dan ternyata itu adalah orang yang menyiksanya kemarin, Bella.


"Bu Bella? Ada apa datang ke dalam kamar apartemen ini? " tanya Dewi.


"Kenapa memangnya? Saya masih punya hak untuk keluar masuk kamar ini, ini adalah kamar apartemen milik suami saya, sedangkan kamu hanya orang lain di sini! " tegas Bella.


Dewi hanya diam, tidak salah ucapan Bella barusan, karena Bella punya hak atas kamar tersebut, apapun maunya di kamar itu merupakan pilihannya sendiri.


"Bu, kalau ibu mau periksa kamera pengawas, saya panggilkan saja tukang dibawah. " tawar Dewi.


Bella menatap Dewi dari atas tangga, dengan tatapan sinis ia menatap kesal ke arah Dewi.


"Tidak perlu, biarkan saya sendiri yang bekerja! "


Dewi hanya diam, ia memantau dari bawah.


Perasaan Dewi sepertinya tidak bagus, ia melihat tangga yang dinaiki oleh Bella terlihat sangat berbahaya, tangga tersebut sudah terlihat goyang, sangat berbahaya jika menaikinya sampai ujung.


"Bu, ayo turun, tangga ini berbahaya. "


"Tidak usah cerewet! Berhenti untuk menyabotase saya! " bentak Bella.


Tangga semakin tidak bagus untuk dinaiki, terlihat bahwa goyangannya semakin kuat, Dewi langsung memegang tangga tersebut untuk menahan agar tidak goyang lagi.


"Bu Bella, hati hati! "


Tangga tersebut akhirnya mulai terjatuh, Bella yang berada di atas dan ingin turun akhirnya bersamaan dengan tangga tersebut ia mulai terjatuh, membuat suara berisik akibat tangga yang jatuh beserta Bella yang ikut jatuh dari tangga tersebut.


"Bu Bella, apakah ibu baik baik saja? " tanya Dewi khawatir.


Bella yang meringis kesakitan karena tangannya terluka kemudian menatap ke arah Dewi, dengan cepat ia segera mencekam rambut Dewi dan menarik lengan Dewi.


Dewi berteriak, karena Bella yang mendorongnya dengan menarik lengannya dan melemparnya ke sofa.


"Sudah tidak becus memberikan anak laki-laki, sekarang malah berbuat lancang dengan saya! Kamu kira saya tidak tahu, bahwa kamu tadi ingin mencelakai saya?! " bentak Bella.


"Saya tidak ada niatan untuk mencelakai ibu, saya mencoba memegang tangga saja, bu, karena tangga yang ibu naiki itu sudah terlihat tidak aman untuk ibu naiki. Saya bersumpah, bu. " ucap Dewi memohon.


"Banyak alasan! Sudah untung saya menampung kamu karena saya tidak ingin suami saya mencelakai orang, kalau tidak, mungkin kamu saya bunuh! "


Bella memukuli Dewi, sedangkan Dewi tidak bisa melawan, wanita tersebut memukuli Dewi dan menampar Dewi, tangannya sangat ringan hanya untuk memukuli Dewi.


Jelly menggonggong ke arah Bella, ia tidak ingin ketika seseorang menyakiti Dewi, Bella menendang tubuh Jelly hingga Jelly terdorong hingga ke meja.


"Mati saja kau! Mati saja kau, gadis desa j*lang! Pelakor murahan! " umpat Bella.


Pukulan semakin keras, diiringi dengan tangisan Dewi yang bergema sangat kuat, Bella memukuli hidung Dewi hingga berdarah, sehingga tetesan darah di lantai dan ditangan Bella terlihat dengan jelas, penyiksaan terjadi begitu saja.


Bella mengakhiri kekerasan tersebut, ia merasa puas ketika melihat Dewi yang babak belur karenanya, ditambah puas karena darah dari hidung Dewi menempel di punggung tangannya.


"Ini baru awalan, j*lang, siap siap saja kamu akan mati dengan saya! " ancam Bella.


Bella meninggalkan Dewi yang babak belur, sedangkan Dewi pingsan di lantai, tidak ada yang bisa membantunya dan hanya Jelly yang menggonggong meminta Dewi untuk bangun.


.


Hampir dua jam lamanya, Dewi terbaring tak berdaya di lantai, bersamaan dengan Jelly yang menggoyangkan lengannya, sepertinya anjing tersebut sudah lama menunggu dirinya yang pingsan itu.


Dewi berusaha bangkit, ia melihat hidungnya yang berdarah, sehingga ia meringis kesakitan akibat pukulan yang diberikan oleh Bella.


"Tuhan, aku lelah seperti ini... "


Dewi menangisi dirinya, ia merenung di ruang utama, karena seharian ia mengalami tekanan batin, hidupnya terlalu kejam sekarang, sehingga ia mengeluh dan menangis kesakitan mengadu pada Tuhan.


"Dunia, kenapa hukum alam mu terlalu kejam untuk diriku? Apa karena kebodohan ini yang membuatku harus menderita? Aku tidak sanggup seperti ini... " keluh Dewi.


Jelly menggonggong kecil dan bersuara layaknya sedih, ia bersandar di bahu Dewi, sementara Dewi meringkuk menangis tersedu-sedu.


Dewi tidak punya pilihan lain, ia serasa sudah mati rasa, pikirannya sudah bebas tanpa batas, memudahkan setan untuk menghasut nya ke jalan yang salah, Dewi ingin bunuh diri di kamar itu.


Dewi beranjak dari tempat duduk nya, ia mencari sesuatu yang cocok untuk ia bisa mengakhiri hidupnya, Dewi berpikir jika ia menemukan tali, maka ia akan gantung diri, jika menemukan racun, maka ia akan sekaligus membawa calon anaknya untuk pergi, jika ia menemukan pisau, maka ia akan menyayat urat nadinya hingga putus.


Jelly melihat Dewi yang berbuat nekat kemudian menggonggong keras, ia menarik baju yang dikenakan oleh Dewi, sayangnya, Dewi tidak menghiraukan Jelly seperti biasanya, ia sudah terhipnotis untuk mengakhiri hidupnya.


Dewi berusaha untuk bisa, ia memejamkan matanya dan mencoba tenang, dengan pisau yang ia pegang, ia akan menghadapi kesakitan sementara sebelum nantinya ia benar-benar akan mati.


"Selamat tinggal, Jelly, selamat tinggal, dunia. " ucap Dewi.


Saat ingin menyayat pisau tersebut, secara tiba-tiba tangan Dewi ditarik, sehingga Dewi terkejut dengan reaksi tiba-tiba itu.


"Siapa yang menyuruh kamu untuk mencoba bunuh diri? "


Gusti memegang dan mengangkat salah satu tangan Dewi, tepatnya tangan Dewi yang memegang sebuah pisau dan mencoba untuk bunuh diri, Dewi menatap Gusti dengan tatapan kecewa beriringan dengan air matanya yang mengalir.


********

__ADS_1


__ADS_2